• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKERTARIS DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Dalam dokumen biografi - Repository Universitas Tadulako (Halaman 124-144)

A. Pengantar: Biografi sebagai Justifikasi

Penulisan biografi secara ilmiah oleh sarjana sejarah Indonesia belum banyak dilakukan. Padahal sejarah konon adalah penjumlahan biografi para tokoh.1 Tokoh atau actor (intelektual), sebagaimana pendapat Arnold Toynbee, penting artinya sebagai kekuatan penggerak dalam suatu kurung waktu.2

Indonesia mempunyai tingkat partikularitas yang sangat tinggi. Fenomena heterogen yang senantiasa dikemukakan sebagai tafsir (cultural) atas suatu kondisi masyarakat Indonesia adalah suku, agama, ras, dan antar golongan, belum lagi bila diteruskan dalam tingkatan individu.

Kadar idiosyncracy sejarah Indonesia yang begitu beragam menempatkan kajian individual actor menjadi penting dan tidak terelakkan. Dalam kajian poitik Indonesia misalnya, William Liddle melalui “The Relative Autonomy of Third World

1 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 203.2

Peradaban menurutnya adalah hasil pencapaian dari satu lanskap territorial yang diisi oleh praktek-praktek politik dan karakter agama.

Peradaban diisi oleh tiga agent sejarah, creative minority (elite intelektual), internal proletar (mayoritas), dan external proletar (kaum barbarian diluar unit). Uraian didapat dari Ronald H. Nash, Ideas of History, Vol. I, (New York: E. P. Dutton & Co. Inc, 1969), hlm. 175-219.

- 112 -

Politician: Soeharto and Indonesian Economic Development in Copmparative Pertspective” menunjukkan bahwa secara khusus, keberadaan Sueharto sebagai presiden bukanlah sosok yang kultur politiknya anti Barat, namun demikian ia menampilkan diri sebagai Negara itu sendiri melalui adopsi kebijakan ekonomi neo-klasik yang diterapkan pada tahun 1968, 1975, dan 1983. Dengan ini Liddle ingin menunjukkan bahwa kultur politik dan kebijakan ekonomi Indonesia bersifat relatif, tidak bisa dimengerti (dan digeneralisir) tanpa dibingkai dengan waktu dan siapa yang mengambil peranan.

Demikian pula Bernard Dahm, sarjana Jerman yang mengkaji Sukarno dengan member perhatian sisi kulturalnya sebagai

“manusia Jawa”; konsistensi Sukarno akan keyakinannya tentang nasionalisme, komunisme, dan agama yang bisa lebur (akulturatif) dalam suatu arasy pemikiran adalah bagian dari kejawaannya, selain tentu saja penjelasan politik.3 Dari sinilah studi biografi menjadi penting.

Pada biografi sesungguhnya ditemukan unsur sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman

3 Angus McIntyre, Foreign Biographical Studies of Indonesian Subjects: Obstacle and Shortcomings, (Australia: Aristoc Press, 1993), hlm.

292.

- 113 -

tentang seseorang secara personal dan mendalam, melainkan sosok pribadi yang dikaji menempatkan se- bagai pelaku yang secara langsung mempersepsi, men- jalani, merasakan kekecewaan atau bahagia terhadap kehidupan.4 Pada merekalah guratan- guratan artefak kehidupan terefleksikan, sehingga pertanyaan apakah ia menjadi kekuatan penggerak, actor utama, partisipan, atau pesorak-sorai sebuah karnaval sejarah men- jadi tidak penting. Si-apa yang paling bertanggungjawab terhadap dunia ini, apakah Sukarno satu-satu-nya penggerak revolusi Indonesia, benarkah Sri Sultan Hamengku Buwana IX menjadi penyelamat Yogyakarta atau agresi militer Belanda menjadi blessing in disguise terhadap “eksistensi Mataram” hingga kini, ataukah waktu yang menjadi algojo dalam mengeksekusi persoalan-persoalan di atas dunia ini?

Pertanyaan-pertanyaan tolol bila hanya mengambil salah satu dari komleksitas itu. Berdasarkan justifi-kasi di atas, biografi ini ditulis.5

B. Sekilas tentang Taslim DM. Lasupu

Taslim DM. Lasupu, SP., MT, lahir di Poso pada 18 November 1968, anak ketiga dari empat bersaudara, masing- masing bernama: (1) Muhammad Nur DM. Lasupu (Kadis

4 M. Nursam, Pergumulan Seorang Intelektual Biografi Soedjatmoko, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm.9.

5 Ahmad Nashih Luthfi, Manusia Ulang Alik: Biografi Umar Kayam, (Yogyakarta: Eja Publisher kerjasama dengan Sains Sajogyo Inside, 2007), hlm. 1-4.

- 114 -

Perhubungan Tojo Una-Una); (2) Zahra DM. Lasupu (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah); (3) Taslim DM. Lasupu; dan (4) Nurlaila DM. Lasupu (PNS/Guru di Tojo Una-Una). Taslim adalah putra pasangan DM. Lasupu (Alm.) dan Salma Modjo. Beliau menikah dengan Nuraini Haluwi, SE, seorang gadis berdarah Bugis asal Palopo. Dari pernihannya, di dikaruniai dua orang anak yang bernama;

(a) Khalil Fitrawansyah lahir pada tanggal 3 Januari tahun 2000. Khalil sekaran menempu pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Provinsi Sulawesi Tenga yakni Universitas Tadulako, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkata 2018. (b) Alfathania Fighi Cahyani lahir pada tangga 11 Juni tahun 2003, sekarang mengenyang pendidikan di Madrasah Aliah Insan Cendekia Palu, Sulawesi Tengah.

Pendidikan dasar Taslim diselesaikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri Uekuli pada tahun 1982. Selanjutnya, Pendidikan Menengah Atas di selesaikan di SMP Negeri Uekuli pada tahun 1985. Kemudian pada tahun yang sama, Taslim melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di SPMA Gowa di Palu dan selesai pada tahun 1988. Pada tahun 1988 dia tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Pertanian di Universitas Tadulako Palu dan menyelesaikan studi di 1996. Selama kurang lebih delapan tahun sebagai mahasiswa, tentunya beliau mempunyai suka duka menjadi seorang mahasiswa sejak masuk kuliah hingga penyelesaian tugas akhir (skripsi).

Dengan demikian, pahit manisnya kehidupan kampus seorang Taslim sudah pasti dilaluinya.

Setelah berhasil menyelesaikan studinya (S1), Taslim menyandang gelar sebagai Sarjana Pertanian (SP). Sebagai seorang sarjana, tentunya itu merupakan suatu kebanggaan bagi keluarganya kala itu karena langkah untuk meraih kesuksesan sudah dilaluinya. Selama kurang lebih satu tahun pasca selesai studi yakni tahun 1996 hingga 1997, Taslim mulai bekerja di perusahaan. Satu tahun kemudian, pada 1998 Taslim diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan

- 115 -

ditugaskan di BAPPEDA Poso. Selama lima tahun berprofesi sebagai Pegawai, Taslim kemudian memiliki keinginan untuk kembali memperdalam ilmunya. Olehnya itu, pada tahun 2002 Taslim melanjutkan studinya (S-2) di Program Pascasarjana Unuversitas Gadjahmada dengan memusatkan perhatiannya pada “Perencanaan Kota dan Wilayah”. Taslim menempuh pendidikannya di Yogyakarata selama kurang lebih dua tahun.

Dia berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 2004 dengan gelar Magister (MT) di Universitas tersebut.

C. Memupuk Disiplin Lewat Belajar

Sebagai karya sejarah yang berbentuk biografi, tulisan ini ingin menelusuri kesejarahan Taslim DM. Lasupu mulai dari kelahirannya, 18 November 1968, masa kecil yang berada di Poso, masa remaja yang dihabiskan di Kota Kaledo (Palu), dan sekarang tinggal di Tojo Una-Una. Biografi tentu saja tidak bermaksud menulis semua aspek kehidupan seorang tokoh.

Persoalan waktu yang demikian panjang akan dibingkai dalam satu tinjauan cultural, yakni sisi ketokohan Taslim DM. Lasupu.

Tinjauan itu berusaha menjawab pertanyaan mendasar,

- 116 -

seperti apa sosok Taslim? Pertanyaan kedua adalah ingin mengetahui posisi, sikap, dan pendirian sebagai birikrat ingin dikaji dalam penelitian ini.

Tepat tanggal 18 November 1968, Taslim lahir di Poso sebagai anak ketiga dari DM. Lasupu (alm.) dan Salma Modjo. Ketika duduk di bangku sekolah, bimbingan nyata sudah dirasakan Taslim dari kedua orang tuanya. Ayahnya yang berlatar belakan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara sang ibu hanya bekerja dirumah sebagai URT saja. Meskipun latar belakan pekerjaan kedua orang tuanya berbeda, namun mereka mampu menanamkan kedisiplinan dan semangat bekerja yang tinggi pada anak-anaknya. Taslim mengenang cara mendidik orang tuanya membiasakan anak- anak mereka untuk tertib belajar. Hal ini dilakukan sang orang tua dengan harapan kedisiplinan dapat dijadikan sebagai kunci untuk meraih kesuksesan anak-anaknya dimasa mendatang.

Hampir tidak ada waktu bagi Taslim untuk berleha- leha seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Belajar disiplin dijadikan sebagai menu wajib santapannya. Hal itu bukan berarti kerasnya orang tua (ayah atau ibu), tetapi demi kebaikan sang anak untuk mencapai sebuah kesuksesan

“tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terpuruk, keinginan orang tua adalah bagaimana seorang anak bisa menjadi lebih baik dari mereka, dan selalu menginginkan yang

“terbaik” untuk anak-anaknya”.

D. Menjadi Sarjana Pertanian di Bumi Tadulako

Setamat SMA, Taslim memiliki hasrat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada tahun 1988 dia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian di Universitas Tadulako. Keberadaan perguruan tinggi ini di Sulawesi Tengah merupakan cikal-bakal Universitas Tadulako6 yang melewati 3

6 Pemberian nama Tadulako bagi Universitas ini dimaksudkan oleh para pendirinya agar Universitas Tadulako menjadi lembaga pendidikan Tinggi yang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang memiliki sifat-sifat keutamaan. Tadulako secara kongkrit berarti Pemimpin, dan menurut

- 117 -

(tiga) tahap perjalanan sejarah, yakni: tahap pertama tahun 1963-1966 dengan status swasta, tahap kedua tahun 1966- 1981 berstatus Cabang. Kemudian pada tahap ketiga di tahun 1981-sekarang, Universitas Tadulako telah menjadi Perguruan Tinggi Negeri yang berdiri sendiri.

Universitas Tadulako berdiri sebagai perguruan tinggi swasta pada tahun 1963-1966, tumbuh dan berkembangnya murni dukungan dana dari swadaya masyarakat Sulawesi Tengah, saat itu Sulawesi Tengah belum berstatus sebagai Daerah Tingkat I. Tekat dan keinginan kuat dari para pemuka masyarakat yang bekerja keras menuju terciptanya lembaga dan masyarakat ilmiah. Melalui pembentukan sebuah Universitas yang dimulai pada tanggal 8 Mei 1963, Universitas Tadulako berhasil didirikan dengan status swasta dengan Rektor pertama bernama Drh. Nasri Gayur. Melalui berbagai usaha untuk meningkatkan status dan peran Universitas Tadulako, pada tanggal 12 September 1964 statusnya mulai ditingkatkan menjadi “Terdaftar” sesuai Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor:

94/B-SWT/P/64 yang terdiri dari empat fakultas, masing- masing: 1) Fakultas Sosial Politik. 2) Fakultas Ekonomi.

3) Fakultas Peternakan, 4) Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan, Jurusan Ilmu Hayat dan Ilmu Pendidikan.

Kemudian menyusul Fakultas Hukum sebagai tambahan, sehingga secara keseluruhan menjadi lima fakultas.

Perkembangan selanjutnya di tahun 1966-1981, Universitas Tadulako kembali diupayakan oleh para pemuka masyarakat menjadikannya Perguruan Tinggi Negeri dengan status cabang, yakni: Universitas Tadulako cabang Universitas Hasanuddin (UNHAS) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) nomor 1 tahun 1966 tanggal 1 Januari 1966, terdiri dari 4 (empat) fakultas, antara lain: 1) Fakultas Peternakan, 2) Fakultas sifatnya, Tadulako berarti Keutamaan. Dengan demikian Tadulako adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat keutamaan (adil, bijaksana, jujur, cerdas, berani, bersemangat, pengayom, pembela kebenaran).

- 118 -

Ekonomi, 3) Fakultas Hukum, dan 4) Fakultas Sosial Politik.

Sedangkan Universitas Tadulako cabang Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) nomor 2 tahun 1966 tanggal 1 Januari 1966, terdiri dari 3 (tiga) fakultas, yakni: 1) Fakultas Ilmu Pendidikan, 2) Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, dan 3) Fakultas Keguruan Ilmu Eksata. Dari sinilah Universitas Tadulako mulai ditentukan oleh masing-masing induknya, khususnya pada penyelenggaraan pendidikan, pengadaan tenaga akademik dan administrasi.

Selain itu, peran perguruan tinggi Universitas Kasanuddi (Unhas) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang, Pemerintah Daerah serta para pemuka masyarakat di Sulawesi Tengah juga ikut menentukan perkembangan ini menjadi perguruan tinggi dengan status cabang.

Selama kurang lebih lima belas tahun, Universitas Tadulako berdiri sendiri sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 1981. Berbagai pengalaman dan penyesuaian sisten pendidikan tinggi nasional dapat terlaksana dengan komitmen peningkatan status pembentukan satu wadah Universitas Negeri yang berdiri sendiri. Hal tersebut dapat terpenuhi dengan adanya dukungan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), Universitas Tadulako cabang Unhas dan IKIP Ujung Pandang cabang Palu yang masing- masing berupaya menata akademik, administrasi dan penyediaan sarana-prasarana yang dibutuhkan. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah menfasilitasi pembentukan Koordinatorium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah (PTST) yang oleh Gubernur Sulawesi Tengah (sebagai ketua) dengan enam orang wakil ketua, masing-masing 3 orang dari Untad cabang UNHAS dan 3 orang dari IKIP Ujung Pandang cabang Palu.

Penyatuan kedua perguruan tinggi cabang di Sulawesi Tengah ini merupakan dasar kokohnya pendirian Universitas

- 119 -

Negeri. Dukungan dan upaya dari masyarakat Sulawesi Tengah, Pemerintah Daerah, Rektor UNHAS, Rektor IKIP Ujung Pandang serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, status kedua cabang tersebut menjadi Universitas Negeri yang berdiri sendiri. Universitas Tadulako disingkat dengan UNTAD berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 tahun 1981 tanggal 14 Agustus 1981, terdiri dari 5 (lima) Fakultas, antara lain: 1) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 3) Fakultas Ekonomi, 4) Fakultas Pertanian, dan 5) Fakultas Hukum.

Kemudian menyusul Fakultas Teknik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 0378/0/1993 tanggal 21 Oktober tahun 1993, sehingga secara keseluruhan menjadi enam fakultas.

Kalau dirunut kebelakang, keberadaan Taslim mengenyam pendidikan di perguruan tinggi ini, Universitas Tadulako sudah berusia kurang lebih 25 tahun sejak pendiriannya mulai dari status swasta hingga perguruan tinggi negeri yang berdiri sendiri. Selama duapuluh lima tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Sementara Fakultas tempat dimana Taslim duduk dibangku kuliah menimbah ilmu mulai

- 120 -

dibuka tahun 1981 sebagai fakultas ke-4 dari lima fakultas lainnya. Usia Fakultas Pertanian kala itu masih berumur kurang lebih 7 tahun ketika Taslim terdaftar sebagai mahasiswa pertanian Universitas Tadulako pada tahun 1988.

Perkembangan Kampus Bumi Tadulako mulai kelihatan nampak di tahun 2005. Pada tahun ini, Universitas Tadulako telah membuka Program Pascasarjana dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Tadulako Nomor: 3494. A / J28 / KL 2005 tanggal 8 September 2005 tentang pembukaan Program Pascasarjana UNTAD dan Fakultas MIPA dengan SK Rektor Universitas Tadulako Nomor: 2958 / H28 / KP / 2007 tentang Pembukaan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Tadulako. Selanjunya, tahun 2007/2008, UNTAD mengelolah tujuh Fakultas, 20 (dua puluh) Jurusan dan 53 (lima puluh tiga) Program Studi yang terdiri atas 36 (tiga puluh enam) program studi Pendidikan S1, enam Program Studi Pendidikan Pascasarjana (S2) dan 11 (sebelas) Program Studi Pendidikan Vokasi dengan jumlah mahasiswa sebanyak ± 15.585 orang. Pada tahun yang sama, untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan pelayanan Tri Dharma Perguruan Tinggi, UNTAD memiliki sebanyak 1.133 orang dosen yang memiliki kualifikasi pendidikan Doktor (S3) sebanyak 112 orang (9,89%) termasuk 31 orang Guru Besar, 699 orang (61,69%) pendidikan S2, 322 orang (28,4%) berpendidikan S1 serta staff administrasi sebanyak 579 orang. Pada saat itu Rektor dijabat oleh Drs. Sahabuddin Mustafa, M. Si.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejak berdiri sendiri sebagai perguruan tinggi negeri, Universitas Tadulako secara komitmen telah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah serta mendapat kepercayaan yang semakin kuat dari masyarakat Indonesia, khususnya di berbagai lapisan masyarakat Sulawesi Tengah. Dengan demikian, tidak diragukan lagi apabila dalam perkembangannya di jajaran perguruan tinggi

- 121 -

negeri se Indonesia, posisi Universitas Tadulako menjadi perguruan tinggi negeri yang diperhitungkan dengan mutunya.

Kekokohan itulah yang menempatkan Universitas Tadulako menjadi salah satu dari The Fifty Promising Universities in Indonesia versi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Indonesia 2007 diantara 2.680 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Universitas Tadulako satu-satunya Perguruan Tinggi di Sulawesi dan termausuk tiga diantara Perguruan Tinggi Kawasan Timur Indonesia.

Selama menimba ilmu di Bumi Tadulako, Taslim tinggal di Kota Kaledo sebagai anak rantau. Hal ini adalah anak kampung asal Uekuli Kabupaten Tojo Una-Una memiliki kesadaran tentang pentingnya pendidikan. Bagi kedua orang tuanya, tidak apa-apa membanting tulang bekerja asalkan anak-anak dapat disekolahkan hingga jenjang pendidikan tinggi. Bahkan, orang tuanya selalu menanamkan petuah,

“jika kalian tidak bekerja keras, tidak belajar secara serius dan tidak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, niscaya kalian akan nasib sama seperti orang yang mengandalkan fisik untuk mencari nafkah”. Petuah sang ayah menjadi pelecut semangat untuk tetap berusaha keras menyelesaikan studi di tengah berbagai tantangan. Setiap bulan ia mendapat kiriman beras dan ikan, bahkan Rupiah pun menyertainya sebagai “kiriman” orang tua. Meskipun kiriman logistik dan uang terhitung lancar, tetapi tidak jarang Taslim kehabisan stok makanan, sebagaimana layaknya mahasiswa hidup di perantauan.

Taslim menyadari beban orang tua sangat berat karena menjadi penyandang dana meskipun sang ayah memiliki latar belakang sebagai Pegawa Negeri Sipil, tetapi Taslim bukanlah anak satu-satunya. Ia memiliki dua orang kakak dan satu orang adik yang masih menjadi tanggung jawab penuh dari sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Taslim kemudian mengambil cuti akademi setelah beban kuliah berhasil dirampungkan. Taslim mengatakan bahwa “waktu itu

- 122 -

saya lambat selesai karna persoalan Judul Skiripsi yang tak kunjung di ACC oleh dosen, sehingga saya memilih jalan yang tepat ialah cuti. Alasan dosen saya tidak ACC judul Skripsiku karena belum ada yang menulis tentang itu, jadinya lama dan tidak selesai-selesai nanti”.

Meskipun Taslim cuti waktu itu, dia tetap bersih keras untuk mempertahankan judul skripsi yang ia ajukan sebelunya.

Keberuntungan ternyata kembali memihak Taslim. Pada saat cuti, ia bertemu dengan salah satu dosennya – dan mendukun dia untuk tetap melanjutkan skripsinya dengan judul yang sudah ia siapkan sebelumnya. Taslim pun sangat senang dan bertanya kepada dosennya “Bisa tidak Pak kalau sementara cuti saya konsultasi (bimbingan)?, dosennya pun menjawab boleh”. Puji Syukur itu muncul seketika dalam benak Taslim. Ia sangat gembira mendengar dukungan dan dorongan dari sang dosen untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Taslim kemudian menyusun kembali skripsinya yang sempat tertunda hingga mengajukan cuti selama beberapa semester. Kesabaran dan ketekunannya, akhirnya berbuah manis setelah kurang lebih delapan (8) tahun berstatus sebagai mahasiswa, akhirnya gelar Sarjana Pertanian (SP) berhasil disandangnya pada tahun 1996 dan wisuda di tahun 2006.

E. Meniti Karir dengan Kerja Keras

Pada bagian ini membidik peranan Taslim DM. Lasupu dalam bidang pemerintahan. Di tahun 1996, Taslim berhasil menyelesaikan kuliahya dan menggodol gelar sarjana pertania, kembali ke kampung halaman dan bekerja di Perusahaan. Tidak lama berselang, dibuka formasi PNS, dan akhirnya pada tahun 1998 Taslin diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditugaskan di BAPPEDA Poso. Selama lima tahun jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pada tahun 2007 Taslim dilantik menjadi Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Tojo Una-Una sampai dengan tahun 2010.

- 123 -

Kurang lebih empat tahun menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, tahun 2010, Taslim mendapatkan tugas baru dan dilantik menjadi Kepala Dinas Pertanian Tojo Una-Una hingga tahun 2013. Tanggal 23 Agustus 2013, Taslim mengundurkan diri dari jabatanya sebagai Kepala Dinas Pertanian Tojo Una-Una. Dalam pengunduran dirinya itu, pada tahun yang sama secara otomatis ia tercatat sebagai staf di kantor Sekretariat Kabupaten Tojo Una-Una. Keberadaan Taslim di Sekretariat Daerah Kabupaten Tojo Una-Una merupakan salah satu langkah yang ditempuh sebagai seorang birokrat.

Selanjutnya, tahun 2015 Taslim mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan tugas baru. Taslim mendapatkan tugas baru dan dilantik menjadi Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tojo Una-Una, meskipun jabatan tersebut hanya berlangsung selama satu tahun. Taslim kemudian kembali mendapat kepercayaan di akhir tahun 2016. Ia mendapatkan kepercayaan itu karena dianggap mampu untuk menjalankan tugas.

Pada tanggal 7 Desember 2016, Taslim dilantik menjadi Sekretari Daerah (SEKDA) Kabupaten Tojo Una-Una. Taslim dilantik dan diabil sumpah jabatan oleh Bupati Kabupaten Tojo Una-Una Mohammad Lahay, SE di Gedung Auditorium Kantor Bupati. Mohammad Lahay melantik dua pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una , yaitu Taslim DM. Lasupu, SP., MT (SEKDA) dan Drs.

Syaiful B. Laborahima (Staf Ahli Bidang Pemerintahan Daerah Kabupaten Tojo Una-Una). Acara ini dihadiri oleh mantan Bupati Tojo Una-Una, Drs. Damsik Ladjalani, Wakil Bupati, Admin AS. Lasimpala, Ketua DPRD, Gusnar A. Suleman, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), para Asisten, Staf Ahli, Kepala SKPD, Kepala Bagian dan ratusan ASN serta Rohaniawan dari Kementrian Agama Kabupaten Tojo Una-Una.

Pelantikan Taslim DM. Lasupu mengacu pada surat Badan Kepegawaian Daerah (SK) Tojo Una-Una, tentang pengangkatan Sekretaris Daerah Kabupaten Tojo Una-Una

- 124 -

yang sebelumnya direkomendasikan oleh Panitia Seleksi (Pansel) tahun 2016. Bupati mengatakan “Pelantikan sekretaris daerah sangatlah penting dalam membantunya menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Tojo Una- Una. Dengan demikian, menjadi seorang Sekda haruslah memiliki tanggung jawab dan loyalitas yang tinggi dan juga harus memiliki kepedulian dalam menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik agar dapat dirasakan oleh masyarakat”.

Selain itu, Bupati dalam sambutannya berharap, “Semoga dengan banyak pengalaman ini dapat dijadikan modal bagi Sekda yang baru untuk membangun sumberdaya aparatur di Pememerintah Kabupaten Tojo Una-Una karena tugas kita kedepan sangat banyak dan berat”.

Setelah dilantik, Taslim mengatakan dirinya siap menjalankan amanah dan tangung jawab serta meningkatkan kinerja dan disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada dalam lingkup pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una. Selain itu, “Saya akan mendukung program dan visi-misi Bupati untuk mengejar ketertinggalan daerah, dibandingkan Kabupaten lain”. Hal yang sama Taslim sampaikan kepada seluruh Pegawai Negeri Sipil agar supaya dapat bekerja sama dalam mendukung visi- misi pemerintah daerah, jangan ada yang membangun sekat- sekat dan berpolitik.

Jabatan dalam karirnya berawal ketika menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Tojo Una-Una pada tahun 2007-2010. Dari situlah, karirnya sebagai abdi Negara terus melesat tidak terkendali. Iya dinilai sukses mengemban amanah, kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi Kepala Dinas Pertanian Tojo Una-Una pada tahun 2010- 2013. Kedua jabatan ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mudah ditampuk oleh semua orang umumnya. Dengan demikian, prestasi-prestasi semacam ini, tidak heran jika Taslim dekat dan dicintai oleh masyarakat. Meskipun Taslim mundur dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Pertanian Tojo Una-Una tanggal 23 Agustus 2013, karirnya tetap berlanjut

Dalam dokumen biografi - Repository Universitas Tadulako (Halaman 124-144)

Dokumen terkait