A. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikannya
Lahir di Desa Dolong1 Pulau Togean2, tanggal 6
1 Desa Dolong terletak di Kecamatan Walea Kepulauan dengan jarak kurang lebih 66 mil dari kota Ampana. Desa ini adalah salah satu desa besar dengan pelabuhan laut yang berperan penting dalam mendorong perekonomian Kabupaten Tojo Una-Una secara umum. Salah satu komoditas ekonomi di Desa Dolong ialah cengkeh, yang lainnya adalah hasil laut, seperti tangkapan ikan dan lain-lain.
2Kata Togean adalah kata yang diberikan oleh Penjajah Belanda untuk menyebut nama Kerajaan Lebo Kintanah Togo Eang, karena memang orang Belanda agak kesulitan membahasakan Togo Eang, yang kemudian disebut dengan sebutan dialek Belanda ‘Togean’. Namun sebenarnya dalam sejarah tidak mengenal kata Togean melainkan Togo eang atau Kerajaan Lebo Kintanah Togo Eang yang secara etimologi dalam bahasa daerah berarti Kerajaan Lembah (daratan) tiga orang besar. Namun sejalan dengan perkembangan sejarah, Belanda lebih mempopulerkan nama Togean dari pada Lebo Kintanah Togo Eang. Hal ini dapat ditelusuri dalam berbagai arsip administrative Pemerintah Belanda, seolah-olah sebutan resmi yang diakui oleh Belanda adalah Togean.
Didasari atau tidak, dikaji dari istilah tersebut pemerintah Belanda telah memberi kontribusi terhadap pengaburan sejarah. Karena kata Togean yang telah popular hingga saat ini tidak lagi mencerminkan makna serta pengertian substansi yang jelas. Bahkan belakangan ini, terjadi lagi perdebatan perbedaan huruf “i” dan “e” (Togian atau Togean). Sekalipun kata Togean memiliki landasan bukti yang kuat, namun harus diakui perdebatan
- 94 -
September 1966.
Admin AS. Lasimpala lahir dari pasangan Anhar S. Lasimpala (ayah) dengan Aisya Kalui (Ibu).
Anhar S. Lasimpala dan Aisya Kalui di karunia tujuh (7) orang anak, masing- masing bernama: (1) Admin AS. Lasimpala, (2) Ismawati AS.
Lasimpala (Guru di sekolah Taman Kanak-kanak), (3) Mohammad Sakti AS.
Lasimpala (Inspektur di Kabupaten Parigi Moutong), (4) Nispawati AS. Lasimpala (Guru di SMA Negeri Kabupaten Tojo Una-Una), (5) Subhan AS. Lasimpala (Kepala Desa), tetapi berhenti karena maju Caleg pada Pemilihan Legislatif tahun 2019 mendatang, (6) Mohammad Taufik AS. Lasimpala (Konsultan Teknik), dan (7) Ainun AS. Lasimpala (Honorer di Walikota Palu).
Admin menghabiskan masa kecil dikampung halamannya yang terletak di gugusan Kepulauan Una-Una.
Sejak kecil Admin sudah berinteraksi dengan laut, bermain di laut berenang bersama teman-teman hingga mendayun perahu. Pada umur 7 tahun, yakni 1972 mulai masuk sekolah itu adalah perdebatan semu yang membenarkan pengaburan sejarah oleh Belanda dan tidak sedikitpun membantu untuk mengembalikan sejarah.
Hendaknya yang diperdebatkan adalah pengembalian nama “Togo Eang”
dari Togean. Baca: Amir Hi. Kani, “Realisasi Kecamatan Togean, Jangan Lupakan Sejarah” dalam harian Nuansa Pos, edisi 17 Juli 2002.
- 95 -
di Sekolah Dasar 2 Dolong dan tamat tahun 1977. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Una-Una pada tahun yang sama dan tamat tahun 1981. Setelah tamat SMP, beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Kabila Kabupaten Gorontalo tahun 1981 dengan alasan keterbatasan sarana pendidikan dan tamat 1984. Sekolah ini dipilih karena jarak antara kampungnya dan Gorontalo tidak terlalu jauh meskipun harus mengarungi lautan selama kurang lebih 10 jam.
Di Gorontalo, Admin mulai merasakan perjuangan hidupnya. Ia akui sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara bukanlah anak kesayangan orang tuanya. Ia juga bukanlah anak yang manja, meskipun dia tidak terbiasa dengan aktivitas merangkap banyak pekerjaan. Tetapi di Gorontalo berbeda, Admin kecil menjadi anak yang kuat dan penuh semangat meskipun harus tinggal jauh dari tanah kelahirannya.
Menjadi anak rantau itu bukan hal yang mudah, segalanya harus disadari karna tidak mungkin sebebas ketika tinggal dikampung halaman sendiri. Olehnya itu, pekerjaan rumah harus dia kerjakan, bangun pagi mencuci piring, menyapu dan memasak air sebelum ke sekolah. Hal itu sudah menjadi rutinitas wajib yang harus dijalankan seorang anak rantau.
Begitu pula ketika pulang dari sekolah, ia wajib menyelesaikan berbagai pekerjaan yang jarang atau bahkan tidak pernah dikerjakan sebelumnya. Tidak ada keluhan yang keluar apalagi terdengar rengekan. Justeru sebaliknya, berbagai aktivitas baru telah menemukan jati diri seorang anak rantau. Dalam berjuang tidak ada yang mudah, bermimpi saja seseorang butuh tidur untuk mewujudkannya, apalagi mencapai sebuah cita-cita.
Setelah melewati tiga tahun masa SMA Negeri Kabila di Kabupaten Gorontalo, Admin hijrah ke Manado mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa APDN (Diploma 3) antara bulan Agustus tahun 1986. Di Manado alur kehidupannya kembali berputar, sebab kini ia tinggal lebih jauh lagi dengan
- 96 -
orang tuanya. Namun, semangat mencari dan menelusuri ilmu pengetahuan mengantarkan Admin meraih prestasi. Ia membuktikan dirinya bahwa orang yang berasal dari kampung juga bisa bersaing. Perbedaan tidak terletak pada asal daerah, melainkan kemauan individu dalam meraih sebuah keberhasilan. Sikap ini yang dipegang teguh oleh Admin. Atas torekan prestasi yang cemerlang, Admin terpilih sebagai salah satu anak kampung yang tinggal di pulau untuk menjalani pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN).
Saat lulus atau dipilih, Admin sebenarnya sudah menyandang status sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang sering disebut dengan istilah “SK 80 persen”. Setelah mendapatkan mandat, Admin kemudian berangkat ke Manado untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN).
Harapan tinggal harapan, ternyata jiwa keingintahuan Admin sangat besar, sehingga pada saat dia di Manado, berpelisir ria dibalik riuhnya Kota Seribu Gereja. Keputusan yang diambil untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) untuk meraih cita-citanya.
Tantangan datang silih berganti, tetapi berbagai tantangan itu berhasil ia lalui. Selama kurang lebih lima tahun, pada tahun 1990 Admin berhasil menyelesaikan pendidikannya di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Manado.
Kembali ke Kampung Mengabdi Kepada Masyarakat
Setelah pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Manado berhasil di selesaikan, Admin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya
“Desa Dolong” kepulauan Togean Kabupaten Tojo Una-Una.
Admin mulai berinteraksi dengan masyarakat dan berusaha memberikan kontribusi untuk kemajuan kampungnya. Dia kembali bertuga sebagai staf di Kecamatan Walea. Pada tahun 1993, Admin AS. Lasipala menikah dengan Siti Sahra Bukusu.
Dari pernikan itu, Anmin dan Sahra dikarunia 3 (tiga) orang anak, masing-masing bernama: (1) Mohammad Abdi Harapan
- 97 -
(alm); (2) Mohammad Ikhlas Karunia; dan (3) Mohammad Ichwan Togean.
Tiga tahun pasca menikah, Admin melanjutkan studinya ke jenjang (S1) dan tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Gadjahmada (UGM) Yoyakarta tahun 1996.
Keputusan yang tepat kembali diambil dan memilih spesifikasi ilmu yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya sebagai Alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Manado.
Admin menjalani pendidikan di Universitas Gadjah Mada yang sekarang disebut sebagai Kota Istimewah Yogyakarta selama dua tahun. Akhirnya, ia pun berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1998 dengan gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.IP). Sekembalinya dari Yogyakarta pasca penyelesaian studi sarjana, Admin kemudian dipindah tugaskan dari Kecamatan Walea ke Dinas Pendapatan Daerah Poso di Kabupaten Poso. Satu tahun kemudian, ia mendapatkan kepercayaan dan dilantik menjadi Sekretaris Wilayah Kecamatan (Sekwilcam) Walea Kepulauan akhir tahun 1999. Sebagai Sekretaris Kecamatan yang biasanya disingkat sekarang Sekcam adalah pimpinan sekretariat Kecamatan
- 98 -
yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Camat.
Sebagai Sekretaris Camat, Atmin mempunyai tugas pokok, yakni: melaksanakan urusan umum, penyusunan perencanaan, pengelolaan administrasi keuangan dan kepegawaian. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, Sekretariat Kecamatan mempunyai fungsi, seperti: (1) Penyelenggaraan pengelolaan administrasi perkantoran, administrasi keuangan dan administrasi kepegawaian; (2) Penyelenggaraan urusan umum dan perlengkapan, keprotokolan dan hubungan masyarakat; (3) Penyelenggaraan ketatalaksanaan, kearsipan dan perpustakaan; (4) Pelaksanaan koordinasi, pembinaan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan unit kerja; dan (5) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Camat sesuai dengan tugas dan fungsinya. Hal ini sesuai dengan PP. Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah, jabatan Sekretaris Kecamatan3 merupakan jabatan struktural elison III/b yang membawahi sebanyak-banyaknya 3 sub bagian.
Selama kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai Sekwilcam, pada bula Februari 2002 Admin mengundurkan diri dari jabatannya karena mendapat tugas baru sebagai staf di PEMDA Poso Kabupaten Poso tahun 2002; pada tahun yang sama, tepatnya pertengahan tahun 2002 Admin dilantik dan menerima amanah sebagai Kepala Bidang di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Poso. Admin menjabat sebagai kepala bidang di Bappeda hanya berjalan kurang lebih satu tahun karena di tahun 2003, Admin dilantik menjadi Camat4 pertama di
3Sekretaris kecamatan (berdasarkan PP 41 Tahun 2007) diangkat dan diberhentikan oleh Bupati/Wali Kota atas usulan Camat melalui Sekretaris Daerah.
4 Sebagai unsur pimpinan kecamatan, Admin AS. Lasimpala mempunyai tugas pokok merumuskan program kerja sekaligus petunjuk kerja, mengkoordinasikan, membina dan mengarahkan kegiatan kecamatan, menetapkan program kerja kecamatan dan mengendalikan pelaksanaanya,
- 99 -
Kecamatan Togean tanggal 16 Februari 2003 (saat itu Tojo Una-Una masih dibawah pemerintahan Kabupaten Poso), Tojo Una-Una mekar tanggal 18 Desember 2003.5 Jabatan-jabatan itu tidak membuat Admin berbesar hati. Ia menyadari bahwa itu adalah sebuah amanah yang harus dijalankan. Sehingga dalam kamus Admin, tantangan harus diterima dengan lapang hati dan dibuktikan dengan tindakan nyata. Amanah adalah ejawantahan sikap moral dalam melaksanakan tantangan.
memantau, mengevaluasi perkembangan kegiatan kecamatan dan merumuskan serta melaksanakan kebijakan daerah diwilayah kecamatan.
Oleh karena itu, seorang Camat setidaknya mempunyai 7 tugas pokok, antara lain: 1) membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewenangan di wilayah Kecamatan; 2) memberikan data dan informasi mengenai pelayanan umum serta memberikan saran dan pertimbangan kepada Bupati sebagai bahan dalam mengambil keputusan; 3) memimpin, mengkoordinasikan, mengendalikan serta mengawasi semua kegiatan Kecamatan; 4) memberikan data dan informasi mengenai situasi Kecamatan serta pertimbangan kepada Bupati sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dan atau keputusan;
5) mengusulkan penetapan pegawai Kantor dalam jabatan tertentu di lingkungan Kantor berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 6) menjalin kerjasama dengan semua Dinas/Instansi untuk kepentingan dan kelancaran pelaksanaan tugas; dan 7) melaksanakan tugas lain yang diberikan Pimpinan sesuai dengan bidang tugas.
5 Pemekaran Kabupaten Tojo Unauna berdasarkan Undang- Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tojo Unauna di Provinsi Sulawesi Tengah.
- 100 -
Karir struktural Admin mengalami titik terang ketika ia kembali usai menyelesaikan studi sarjana di Universitas Gadjahmada Yogyakarta. Ia ditempatkan di Pemda Poso dengan jabatan Kepala Bidang di Bappeda Poso. Penempatan ini tidak salah, seperti ungkapan lawas “right man on the right place” (orang yang tepat di tempat yang tepat). Dengan latar pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) dan dilanjutkan pada Jurusan Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UGM. Dengan demikian, Admin memiliki kapasitas mumpuni di bidang pemerintahan. Admin mengatakan diposisi itulah ia menyadari bahwa pilihan kuliah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Manado tidak salah. Terbukti, kurang lebih 29 tahun berpetualang di bidang pemerintahan. Memang, Admin telah membuktikan kinerjanya di bidang pemerintahan. Silih berganti pimpinan menahkodai Kabupaten Poso dan Tojo Una-Una, namun Admin tetap dipercaya menempati posisi strategis.
B. Mundur dari PNS: Maju dalam Pilkada 2015
Demokrasi sebagai sarana menyalurkan aspirasi masyarakat memiliki akses yang beragam dalam perkembangannya. Salah satu wujud pelaksanaan demokrasi reformasi saat ini adalah pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat di daerah. Artinya, kedaulatan penuh berada ditangan rakyat, sebagaimana amanah Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa, “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.
Secara eksplisit, ketentuan tersebut dapat dimaknai bahwa rakyatlah yang harus diberikan mandat untuk menentukan masa depan Bangsa ini, termasuk dalam memilih pemimpinnya. Hal ini sejalan dengan Pasal 25 huruf b International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), berbunyi bahwa: “Setiap warga negara harus mempunyai hak dan kesempatan, tanpa pembedaan dan tanpa pembatasan
- 101 -
yang tidak layak, untuk memilih dan dipilih pada pemilihan umum berkala yang murni, dan dengan hak pilih yang universal dan sama serta dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia untuk menjamin kebebasan menyatakan keinginan dari para pemilih”.
Pilkada Langsung merupakan jaminan bagi setiap warga Negara untuk dapat menggunakan hak pilihannya dengan memilih kepala daerah secara langsung melalui pemilu seperti yang diamanatkan dalam Pasal 24 ayat (5) dan Pasal 56 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan UU No. 32 Tahun 2004 jo Pasal 1 angka 4 UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Pada bentuk ini pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi persyaratan dan pasangan calon perseorangan. Pasangan calon yang memenuhi persyaratan mengikuti kompetisi melalui pemilu untuk dipilih secara langsung oleh rakyat pemilih.
Pada tahun 2005 Sejak Pilkada Langsung diperkenalkan, banyak politisi yang mencoba membangun dinasti politik regional, salah satunya Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan, dimana ia memiliki garis keturunan politisi
- 102 -
yang meluas hingga rezim Orde Baru. Meskipun kebijakan sentralisasi Soeharto mencegah kepindahan kekuasaan secara langsung diantara anggota keluarga, bahkan lebih dari itu, Pilkada langsung telah menjadi ajang paling bergengsi dalam pertarungan politik orang-orang kuat, bukan sekedar arena untuk membangun dinasti yang saling mendukung dan melanggengkan kekuasaan politik, tetapi terbentuknya wajah baru dalam pertarungan politik familisme dan akhirnya muncul pertarungan sesama kerabat dalam konteks rivalitas politik untuk memperebutkan posisi sebagai orang nomor satu.
Politik familisme menjadi salah satu rias Pilkada Langsung yang menjadi pola baru pembangunan politik dinasti bagi kalangan kaum aristokrat di daerah, sebab sealot apapun rivalitas politik yang terjadi di antara mereka, tetapi peluang untuk kompromi dan saling memberikan back up politik pasca Pilkada tetap ada karena “hubungan darah”. Apalagi ketika salah satu di ataranya menjadi Pemenang Pilkada. Potret pertarungan politik antara kerabat ini dapat dilihat dalam pelaksanaan Pilkada serentak 9 Desember 2015.
Fenomena ini terjadi di tiga tempat, antara lain:
Pertama, di Sulawesi Selatan, pertarungan politik antara Yasin Limpo pada Pilkada Kabupaten Gowa yang melibatkan Tenri Olle Yasin Limpo duet dengan ponakannya Adnan Purictha Ichsan Yasin Limpo; Kedua, pertarungan kakak beradik terjadi di Sulawesi Tengah, yakni; di Kabupaten Tojo Una-Una tampil pertarungan kakak beradik Mohammad Lahay (kakak) versus Mahmud Lahay (adik); dan Ketiga, di Kabupaten Morowali Utara melibatkan Mahmud Ibrahim (kakak) versus Idham Ibrahim (adik). Kedua kakak beradik tesebut masing-masing menempati posisi sebagai Calon Bupati yang diusung oleh partai politik pendukung. Namun demikian, pada bagian ini yang menjadi sorotan adalah pertarungan pada Pilkada di Kabupaten Tojo Una-Una.6
6F. B. Abdul Barry “Pilkada Serentak 2015: Medan Pertarungan Politik Sedarah”, dalam http://fathanisme.blogspot.com/2016_01_20_archive.
- 103 - Tampil di Tengah-tengah Klan Lahay
Adagium politik tiada kawan atau lawan yang abadi yang ada hanya kepentingan abadi. atau Politik merupakan siapa mendapat apa, menegaskan bahwa dalam ranah politik tidak ada yang paling utama selain kepentingan, entah itu kepentingan untuk berkuasa atau kepentingan untuk memperoleh bagian dari hasil kompromi politik, sehingga dalam politik jangankan kawan, ayah, ibu, kakak dan adik kandung bisa saling menjadi lawan karena memiliki kepentingan yang berbeda dan memungkinkan untuk tidak dapat dikompromikan melalui consensus keluarga. Fenomena ini terjadi dalam pertarungan politik kakak beradik klan Lahay di Kabupaten Una-Una. Meskipun telah melalui rapat keluarga dan memutuskan salah satu dari mereka yang maju menjadi Calon Bupati pada Pilkada 2015 lalu, kenyataannya hasil rapat keluarga tersebut tidak mampu meredam sahwat pasang kakak beradik untuk bertarung memperebutkan kekuasaan, terlepas kemudian benar tidaknya indikasi adanya by design elit lokal baik dari pimpinan birokrasi dan partai politik lokal untuk memecah belah kekuatan basis kedua klan tersebut (metrotvnews.com).
Pelaksanaan Pilkada Kabupaten Tojo Una-Una di ikuti oleh lima pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Diantara kelima pasangan calon tersebut, Pasangan Calon Nomor Urut 2 yaitu Mohammad Lahay, SE (kakak) berpasangan dengan Admin AS Lasimpala, S. IP dan Pasangan Calon Nomor Urut 4 yaitu Mahmud Lahay, SE., M. Si (adik) berpasangan dengan Lucky Lasahido, SH. Pasangan nomor urut 2 Mohammad Lahay dan Admin AS. Lasimpala diusung oleh koalisi Partai Demokrat, PDIP, NasDem, PKS, dan PPP, sedangkan pasangan nomor urut 4 Mahmud Lahay dan Lucky Lasahido didukung oleh koalisi PAN, Hanura dan PBB.
Pasangan kakak beradik ini bertarung dengan tiga pasangan calon lainya yakni Syamsulfiqar Tanjumbulu dan html.
- 104 -
Ma’ruf Ansyar nomor urut 1, Mohammad Syarif Aljufri dan Fatimah Hi. Moh. Amin nomor urut 3, dan Basrin Mohammad dan Bahrun S. Mardani nomor urut 5. Latar belakang profesi keduanya, Mohammad Lahay merupakan Ketua DPC Partai NasDem Kabupaten Una-Una yang menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tojo Una-Una periode 2014-2015. Selain itu, Mohammad Lahay pernah menjadi kontestan politik pada Pilkada Tojo Una-Una tahun 2010, tetapi ia gagal karena pada Pilkada tersebut Damsik Ladjalani dan Jamal Juraejo unggul dengan perolehan suara terbanyak. Sedangkan Mahmud Lahay merupakan seorang birokrat yang mengundurkan dari sebagai Asisten II Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una untuk maju sebagai calon Bupati Kabupaten Tojo Una-Una Periode 2015-2020.
Ternyata hasil Real Count KPU Tojo Una-Una berdasarkan Hasil Hitung TPS (Form C1) pada Pilkada 9 Desember 2015 pasangan calon nomor urut 2 Mohammad Lahay, SE dan Admin AS Lasimpala, S. IP berhasil memenagkan Pilkada Langsung di Tojo Una-Una dengan peroleh suara 32.460 (42,21%) menang telak dari empat pasangan calon lainya termasuk Mahmud Lahay dan Lucky Lasahido yang berada pada urutan kedua dalam perolehan suara dibawah sang kakak dengan jumlah 22.274 (28,97%) suara.
Majunya kakak beradik sebagai rivalitas dalam perebutan kekuasaan pada Pilkada di daerah tersebut tidak lepas dari dua aspek penentu, yaitu: Pertama, budaya patronage masyarakat di wilayah itu masih percaya nama besar keturunan yang dibawah oleh kakak beradik. Menurut Suwardi Pantih, klan Lahay di Tojo Una-Una merupakan marga keturunan tokoh besar di daerah itu sehingga ada penilaian masyarakat yang berkembang bahwa keturunan mereka layak menjadi pemimpin di daerahnya (mediaindonesia.com). Hal inilah yang menjadi pertimbangan Partai Politik mendorong keturunan Lahay untuk maju pada Pilkada Tojo Una-Una tahun 2015. Meskipun terjadi duel politik sedarah, partai politik
- 105 -
tidak lagi mempertimbangkan diskonsolidasi keluarga besar Lahay secara internal yang terpenting bagi partai pengusung ada potensi kemenangan cukup besar apabila mengusung keturunan Lahay sebagai calon Bupati dalam Pilkada. Kedua, keinginan berkuasa atau menjadi penguasa di daerah mereka masih sangat kuat, sehingga kakak beradik tersebut tidak ada lagi kompromi yang bisa merubah keinginan masing- masin, meskipun sebelumnya sudah dilakukan rapat dalam keluarga untuk memediasi agar salah satu diantara mereka saja yang maju sebagai calon kepala daerah. Hal ini nampak ketika Mahmud Lahay memutuskan untuk mengorbankan pengabdiannya yang sisa 14 tahun sebagai PNS. Mahmud Lahay kemudian mendeklarasikan diri ikut Pilkada, padahal sebelumnya menyetujui keputusan keluarga dan menetapkan Mohammad Lahay (kaka) yang maju pada Pilkada Tojo Una- Una.
Pertarungan kakak beradik ini akhirnya dimenangkan oleh Mohammad Lahay dengan Admin AS. Lasimpala. Secara umum polarisasi kesolidan dukungan massa idilogis dari dinasti itu cukup kuat, hal ini nampak dari perolehan suara antara Mohammad Lahay sebagai pemenang dan Mahmud Lahay yang memperoleh suara terbanyak kedua unggul dari tiga pasangan lainnya. Sehingga secara khusus penyebab dari perbedaan hasil yang dicapai dari pasang calon kakak beradik ini adalah dari segi kaderisasi, dimana Mohammad Lahay menang pada Pilkada Kabupaten Tojo Una-Una unggul dari sang adik dan ketiga pasangan lainnya karena Mohammad Lahay adalah seorang politisi murni dari segi kaderisasi politik lebih matang dengan kekuatan dukungan yang cukup mengakar dan teruji. Karena pada Pilkada Kabupaten Tojo Una-Una tahun 2010 ia salah satu kontestan dan berada pada runner up suara terbanyak kedua dari pemenang Damsik Ladjalani. Selain itu, pada Pemilu Legislatif tahun 2014, Mohammad Lahay terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tojo Una-Una dengan perolehan suara terbanyak dari seluruh partai politik yang memiliki kursi di Legislatif Tojo Una-Una
- 106 -
Kemenangan Mohammad Lahay di Pilkada 2015, Admin mempunyai peran penting dalam perolehan suara terbanyak dan mengungguli keempat pasangan calon lainnya.
Apabila kita berkaca pada Pilkada Tojo Una-Una tahun 2010, Mohammad Lahay salah satu kontestan tetapi diungguli oleh Bupati terpilih Damsik Ladjalani. Pada Pilkada 2015, Mohammad Lahay kembali beratung dengan pasangannya Admin AS. Lasimpala dan akhirnya menang. Keberadaan Admin sebagai calon Wakil Bupati di Pilkada itu, turut menentukan.
Dengan demikian, Admin terhitung cukup berpengaruh dan dicintai oleh masyarakat karena memiliki sosok pemimpin yang dapat membangun dan membawa Kabupaten Tojo Una- Una menuju kearah lebih baik.
C. Membayangkan Masa Depan Tojo Una-Una
Dari kiprahnya terlihat jelas bahwa Admin AS.
Lasimpala adalah pekerja keras sekaligus pemikir ulung. Kerja keras menjaring dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, dilengkapi dengan visinya dalam melihat arah pembangunan Tojo Una-Una ke depan. Admin melihat potensi yang paling menjanjikan adalah pariwisata. Potensi ini, jika dapat dikelola dengan baik, manfaat yang dirasakan akan sangat signifikan.
Salah satu upaya pengembangan itu dengan mempersiapkan infrastruktur pendukung. Misalnya, pembangunan hotel yang memadai agar dapat menampung wisatawan dengan layak.
Pentingnya infrastruktur menjadi salah satu pertimbangan utama sehingga Sail Tomini belum dapat dilaksanakan lima tahun lalu, yakni tahun 2014. Meskipun Sail Tomini sudah dicanangkan sebagai salah satu ajang pormosi wisata yang tentunya dapat dibanjiri oleh para wisatawan-wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Persoalan yang muncul kemudian adalah kurangnya sarana perhotelan yang layak dan refresentatif di Kabupaten Tojo Una-Una, sehingga sangat penting untuk mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut, khususnya bagi pihak terkait.