• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap NU dalam Beragama dan Bermasyarakat (Diniyah wal Ijtima’iyah)

Dalam dokumen Mozaik NU (Halaman 110-114)

باَسِْلحا

H. Sikap NU dalam Beragama dan Bermasyarakat (Diniyah wal Ijtima’iyah)

H. Sikap NU dalam Beragama dan Bermasyarakat (Diniyah wal

pengabdian kepada sesama manusia, serta kepada lingkungan hidupnya. Sikap tawazzun adalah sikap yang mencari cara atau jalan yang tepat mewujudkan pengabdian kepada Allah di dalam masyarakat yang sesuai dengan tuntutan zaman, yaitu dengan kata lain ”Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang”. keseimbangan hidup dunia dan akhirat, material dan spiritual.

5. Islahiyyah, yaitu pola pikir dan sikap reformatif yang berorientasi pada upaya-upaya perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (Al- Ishlah Ila Ma Huwa Al-Ashlah).

6. Tathawwuriyah, yaitu pola pikir dan sikap dinamis yang senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan yang muncul di tengah kehidupan masyarakat.

7. Manhajiyyah, yaitu pola pikir dan sikap metodologis yang senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj atau metode yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.

8. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar Sikap yang selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal-hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Proses Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang dipahami NU dilakukan dengan penuh hikmah kebijaksanaan, lemah lembut, dan kasih sayang.141

I. Sikap NU Di Bidang Politik

Sejak awal berdirinya, NU banyak terlibat dalam masalah politik, baik politik praktis maupun kultural. Pada masa awal kemerdekaan, banyak tokoh NU yang menduduki jabatan di pemerintahan. Bahkan, pada tahun 1952, lewat Muktamar NU ke-19, NU memutuskan untuk menjadi partai politik yang kemudian bubar saat Orde Baru berkuasa tahun 1973.

141Abdurrahman Wahid,, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia Dewasa ini, (Jakarta: Prisma, 1984), hlm. 194-195. Lihat juga Chalim, Asep Saifuddin, Membumikan ASWAJA Pegangan Para Guru NU, (Pasuruan: Mawan Pandaan, 2014), hlm. 13.

Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo menjadi satu titik penting dalam sejarah NU. Dalam Muktamar tersebut NU menegaskan dirinya sebagai organisasi keagamaan yang lebih banyak berkonsentrasi dalam masalah-masalah yang dihadapi umat Islam. Sebenarnya, wacana kembali ke Khittah NU tahun 1926 sudah lama disuarakan, namun baru menjadi diskusi dan perdebatan yang serius ketika Muktamar di Situbondo.

Dalam formulasi Khittah NU ditegaskan bahwa NU tidak terlibat dalam organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun.

Namun begitu, NU tidak melarang anggotanya untuk terlibat dalam urusan politik, karena hal tersebut bukanlah eksistensi dari Khittah.

Dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta (1989) dirumuskan 9 (sembilan) Pedoman Politik Warga NU, yaitu garis-garis pedoman untuk melangkah bagi kaum Nahdhiyin yang menerjuni dunia politik dengan tetap menjunjung tinggi Khitthah Nahdlatul Ulama.Di lingkungan NU juga dikenal istilah Politik Kebangsaan, Politik Kerakyatan dan Politik Kekuasaan. Berikut ini 9 Pedoman Politik Warga NU dimaksud antara lain:

1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir batin, dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.

4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.

6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

8. Perbedaan pandangan di antara aspiran-aspiran politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal batik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.142

Warga dan kiai NU yang ingin terjun ke dunia politik diperbolehkan asal mengerti ilmu politik dan piawai menjalankan strategi siyasah dengan tidak membawa label organisasi. Potensi politik kader NU juga hendaklah dikelola dengan profesional agar memberikan kontribusi bagi NU dan tidak sekadar “menjual” organisasi. Inilah pentingnya pemaknaan politik bagi kalangan Nadhiyin agar NU tidak menjadi korban ketika pesta demokrasi.143

142 Soelaeman Fadeli dan Muhammad Subhan, Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah, (Surabaya: Khalista, 2007). hlm. 99-100.

143 Khamami Zada dan A Fawaid Sjadzili (Ed), Nahdlatul Ulama: Dinamila Ideologi dan Politik

Dalam konteks ini, lebih jauh makna politik bagi NU adalah bahwa menghindarkan diri dari urusan politik dan pada saat yang sama menyerahkan urusan politik sepenuhnya kepada orang yang tidak kompeten justru akan membahayakan. Oleh karenanya, selain menghayati Khittah NU, paling tidak warga NU harus mengetahui rujukan SiyasahNahdliyah.

Dalam dokumen Mozaik NU (Halaman 110-114)