ىُْلِفبَغْلا
B. Dinamika Perubahan Sosial Perilaku Keagamaan Masyarakat Lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid
3. Sinergi Adat-Agama dan Penguatan Perilaku Keagamaan
memiliki penghasilan. Saat ini wilayah-wilayah lingkar selatan secara faktual aman.304
Perubahan paradigma berpikir masyarakat tampak telah mendorong munculnya kesadaran tentang pendidikan yang tidak saja dipahami sebagai tempat menuntut ilmu pada tataran kognitif-konseptual-normatif tetapi juga sebagai wadah pembinaan aspek life skill masyarakat yang dapat dipergunakan untuk menunjang kehidupan mereka di tengah derasnya arus globalisasi yang sangat kompetitif. Fakta menunjukkan bahwa dunia kerja menjadi sasaran yang sangat jelas dari arah pendidikan masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Faktanya kelompok pemuda lebih tertarik untuk mencari pekerjaan dari pada melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi.305Sebagaimana dikemukakan Lalu Buzuburrahman bahwa:
Orientasi yang dapat dibaca dalam peta dinamika kehidupan masyarakat kaitannya dengan pendidikan dan dunia kerja adalah bagaimana dengan pendidikan yang dimiliki masyarakat dapat terserap dalam dunia kerja yang berujung dapat menjadi mata pencaharian yang mensejahterakan.306
Sejalan dengan itu ditemukan fakta pula bahwa keberadaan Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, destinasi wisata wilayah selatan Lombok Tengah, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan berbagai infrastruktur dan kelengkapan fasilitasnya seperti Rumah Sakit Internasional yang saat ini sudah mulai dibangun menjadi arah bidikan, orientasi, dan harapan masyarakat.307
Realitas adanya peluang kerja dan usaha sekaligus realitas tantangan- tantangan ekonomi yang secara faktual berada di hadapan masyarakat tampaknya juga telah membentuk pola pikir kemandirian di dalam menciptakan berbagai usaha. Sebagaimana di ceritakan lalu Baehaqi
Masyarakat saat ini berpandangan bahwa dengan pendidikan yang baik dapat membentuk cara berpikir yang baik pula sehingga pendidikan menjadi petunjuk arah yang jelas dan lurus tentang prediksi-prediksi masa depan terkait dunia usaha.308
teguh pada nilai-nilai adat. Adat merupakan bagian tidak terpisahkan dari praktik kehidupan sosial masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Hal ini disebabkan karena adat merupakan sistem nilai yang ikut membentuk dan mewarnai cara pandang, pola komunikasi, pola interaksi dan pola relasi antar masyarakat lingkar bandar udara baik dengan internal masyarakat setempat maupun masyarakat luar.
Eksistensi adat dalam praktik kehidupan penduduk asli lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid telah menjadi dimensi krusial dari keberadaan dan kebertahanan dimensi moral etik kehidupan masyarakat.
Secara faktual-emperis adat telah memberikan kontribusi sangat berarti bagi daya tahan nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat di tengah gempuran arus modernisasi dan globalisasi yang memang tidak seluruhnya baik dan sejalan dengan nilai-nilai lokal. Di saat orang banyak mengusung kebebasan berbicara, demokrasi kesetaraan, nilai-nilai adat tetap menjadi sistem kontrol yang membatasi dan memberikan jalan terbaik bagi keutuhan kehidupan bermasyarakat. Setiap orang bebas berpendapat, tetapi adat memberikan batasan moral-etis seperti sopan-santun dan tata krama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap orang atau kelompok masyarakat harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang atau komunitas masyarakat lain.
Dalam praktik kehidupan masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid nilai-nilai adat mengatur dan menuntun kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya adat mengatur kehidupan masyarakat sejak dari bagaimana masyarakat berbicara antar yang tua dan yang muda, berbagaul dan bebahasa antar masyarakat yang berbeda usia, dengan orang berilmu dan berkedudukan. Begitu juga halnya dengan bagaimana ketentuan bertamu, sampai pada persoalan perkawinan/pernikahan.
Dalam kaitannya dengan bahasa komunikasi masyarakat lingkar bandar udara diikat oleh sistem nilai berupa konsensus yang mengatur bagaimana seharusnya setiap masyarakat berbahasa dan berkomunikasi. Nilai-nilai adat setempat mengatur dan mengikat setiap warga dapat bersikap, berucap dan bertindak sesuai dengan ketentuan adat dan tradisi yang ada.
Sistem nilai tersebut yang kemudian menjadi tatanan kehidupan masyarakat, sehingga kelompok pemuda misalnya harus menaruh hormat kepada yang lebih tua, baik dalam berbahasa, bersikap dan berbuat. Nilai-nilai adat juga yang mengatur misalnya bagaimana seseorang duduk, berdiri, makan, minum, dan berbagai hal yang terkait dengan perilaku. Pada intinya nilai-nilai adat yang berkembang dan dipraktikkan masyarakat selalu merujuk pada sistem nilai adat yang telah disepakati dari generasi ke generasi.
Kuatnya eksistensi nila-nilai adat sebagai sistem yang mengatur dan menuntun perilaku sosial masyarakat lingkar Bandar Udara Internasioanl Zainuddin Abdul Madjid sehingga persoalan adat menjadi persoalan yang sangat sensitif. Pelanggaran terhadap nilai-nilai adat dalam pergaulan menjadi nilai yang amat buruk dalam pandangan masyarakat Lingkar Bandar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.
Seseorang yang disebut ―tidak tahu adat‖ merupakan satu istilah yang disebut untuk menggambarkan bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki adab, akhlak, sopan santun, dan tata krama dalam hidupnya. Menariknya, istilah tersebut bagi umumnya masyarakat Lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid memiliki kesan psikologis yang sangat dalam. Istilah ―tidak tahu adat‖, bukan hanya memberikan kesan bahwa seseorang tidak tahu nilai-nilai adat pada level pengetahuan, tetapi lebih jauh istilah tersebut sudah merupakan kecaman atas segala tindakan amoral, asusila, dan merupakan satu diksi yang menggambarkan cacat moral secara serius. Dapat dilihat dengan jelas bahwa masyarakat lingkar Bandar Udara Internasioanl Zainuddin Abdul Madjid sendiri sangat anti dengan istilah tersebut, sehingga hal-hal yang berpotensi menentang dan berlawanan dengan nilai-nilai adat akan sangat dijauhi.309
Masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid adalah masyarakat yang agamis. Sendi-sendi kehidupan sosial sangat kuat. Kehidupan masyarakat masih sangat kuat berpegang teguh pada nilai- nilai tradisi lokal dan tradisi keagamaan. Tata krama dan sopan santun yang memang melekat secara normatif pada nilai-nilai praksis adat menjadikan nilai-nilai religiusitas juga tampak kuat khususya pada dimensi moral dan akhlak.310
Praksis nilai-nilai moral dan akhlak sangat didukung oleh sistem adat yang berlaku di tengah-tengah masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Ketentuan-ketentuan normatif adat istiadat yang berlaku mengharuskan setiap masyarakat untuk tunduk dan patuh menerapkan konsesnsus nilai-nilai adat yang berlaku. Ketentuan adat istiadat sangat berperan di dalam mengatur pola interaksi antar masyarakat dalam berbagai level dan tingkat usia.311
Pada ranah dan dimensi moral-etik eksistensi adat yang berlaku pada masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid tampak berjalan sinergis dan kolaboratif dengan nilai-nilai ajaran agama khsusnya dalam mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang religius.
309Observasi, 28 Desember 2020
310Observasi, 28 Desember 2020
311Observasi, 28 Desember 2020
Namun demikian tampaknya memang harus diakui bahwa pada persoalan-persoalan tertentu praktik-praktik adat juga terkesan berbenturan dan kontra produktif terhadap nilai-nilai agama. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sistem perkawinan yang tidak setara tingkat kebangsawanannya.
Seorang perempuan bangsawan akan terbuang dari keluarganya jika dipersunting oleh laki-laki yang yang tidak setara dalam derajat kebangsawanannya. Paraktik ini sangat jelas melalui simbol-simbol adat yang diberlakukan pada saat perkawinan seperti itu terjadi. Sebagaimana dikemukakan H.Lalu Muaz bahwa:
Setelah wali diberikan oleh pihak perempuan bangsawan akan mengirimkan kain putih, benang stokel, dan linggis. Filosofinya adalah eksistensi wanita bangsawan tersebut hilang dari garis keturunan keluarganya. Ia dianggap telah meninggal dan tidak diingat oleh keluarganya yang dalam refrensi agama disebut sebagai putusnya sillaturrahmi.312
Konsekwensi lebih lanjut dari paksis adat seperti itu, anak yang dalam pandangan Islam masih memiliki hak-hak waris secara otomatis akan kehilangan hak-hak warisnya sebagai anak. Praktik seperti ini jelas tampak kontradiktif dengan nilai-nilai agama yang menempatkan semua manusia sama di hadapan Tuhan. Prinsip-prinsip agama menempatkan manusia secara egaliter dan hanya dibedakan dengan kualitas ketakwaannya kepada Tuhan.
Sebagai sebuah dinamika kehidupan masyarakat praktik-praktik tersebut pernah terjadi dan mewarnani dinamika kehidupan sosial masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Praktik-praktik seperti itu pada tingkat normatif adat masih membayangi horizon kehidupan masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.
Namun demikian perkembangan zaman menjadi ruang yang selalu memfasilitasi terjadinya pergeseran dan perubahan. Persandingan adat dan nila-nilai agama dalam mengawal kehidupan masyarakat bukan hanya diwarnai oleh peran-peran dua entitas dalam konteks saling memperkuat, tetapi juga secara kreatif mengupayakan komunikasi-komunikasi produktif sehingga antara peran adat dan agama tidak saja berjalan seiring-seirama, tetapi juga sinergis dan kolaboratif.
Praktik-praktik adat yang terkesan kontradiktif dengan nilai-nilai agama seperti dalam contoh persoalan di atas saat ini menemukan titik temu melalui solusi-solusi yang dikemuakan tokoh-tokoh adat yang saat ini sekaligus juga merupakan tokoh agama. Praktik-praktik perkawinan antar golongan yang tidak setara tingkat kebangsawanannya tidak lagi dihantui oleh kekhawatiran putusnya sillaturrahm sebagaimana praktik-praktik terdahulu,
312 H. Lalu Muaz, Tokoh Agama dan Masyarakat Desa Penujak, Wawancara, 8 Desember 2020
namun secara kreatif para tokoh agama dan tokoh adat saat ini memberikan solusi cerdas di mana adat memberikan ruang bagi terselamatkannya sillaturrahim dari praktik-praktik adat yang cenderung diskriminatif.
Saat ini praktik pernikahan yang tidak setara dapat berlangsung dan tetap menjadi media tersambungnya sillaturrahim karena prosesi penikahan dilaksanakan di pihak laki-laki meskipun dengan biaya yang murah. Pihak perempuan yang bangsawan akan hadir di tempat pihak mempelai laki-laki (bukan bangsawan) sehingga sillaturrahim tidak putus. Formalitas adat yang ketat dapat dilaksanakan dengan alternatif seperti itu untuk menghindari putusnya sillaturrahmi yang justru bertentangan dengan ajaran agama.
Alternatif seperti itu juga telah dapat diterima oleh masyarakat tidak lepas dari peran tokoh agama dan tokoh adat Ust. H.Lalu Muaz menjelaskan :
Praktik-praktik seperti itu merupakan salah satu bentuk sinergi tokoh agama dan tokoh masyarakat. Intinya sillaturrahmi yang terputus akibat ketatnya adat dan tradisi dapat diselesaikan dengan bersinerginya tokoh agama dan tokoh adat. 313
Hal ini di atas juga dipertegas oleh lalu Baehaqi :
Dulu pernikahan perempuan dengan yang tidak bangsawan akan menyebabkan seseraong akan terbuang dari keluarganya. Hal ini selanjutnya menyebabkan sillaturrahim putus dan menyebabkannya tidak mendapatkan hak-hak waris. Sekarang tidak lagi. Jika ada yang menikah seperti itu, maka prosesi adat dilaksanakan di pihak laki-laki, sementara pihak perempuan tidak menyelenggarakan prosesi sebagaimana biasanya, karena pihak perempuan akan hadir pada penyelenggaraan acara di pihak laki-laki. Hal ini menjadi solusi sehingga sillaturrahmi tidak putus dan hak-hak waris juga tidak hilang.314
Lalu Baehaqi juga mengatakan :
Tokoh adat mestinya merupakan tokoh agama, sehingga peran tokoh agama salah satunya adalah untuk menyelesaikan problem adat, sehingga adat dan agama dapat berjalan. Peran tokoh agama yang sekaligus tokoh adat sangat penting, solusi-solusi itu hanya akan dapat dikomunikasikan oleh tokoh agama.315
Fenomena pergeseran tersebut merupakan fakta sosial yang saat ini memang mulai tampak bukan hanya pada masyarakat lingkar bandar udara, tetapi umumnya masyarakat Lombok. Praktik-praktik pernikahan meskipun tetap mengedepankan adat, tetapi dimensi normatif keagamaannya menjadi
313 H. Lalu Muaz, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Desa Penujak, Wawamcara, 8 Desember 2020
314 Lalu Baehaqi, Tokoh Masyarakat Desa Tanak Awu, Wawancara, 21 Desember 2020
315 Lalu Baehaqi, Tokoh Masyarakat Desa Tanak Awu, Wawancara, 24 Desember 2020.
lebih kental dan menguat. Hal penting yang dapat dilihat secara empiris di tengah masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid adalah bahwa tokoh-tokoh pemandu adat saat ini sejatinya juga merupakan tokoh-tokoh agama, sehingga praktik pelaksanaan adat juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan praktik-praktik yang dilaksanakan masyarakat seperti keharusan sopan santun, mengucapkan salam, menghormati yang lebih tua, termasuk nuansa kehidupan keagamaan seperti ziukrullah dan doa yang dilaksanakan pada setiap acara pernikahan warga masyarakat.316
Data hasil observasi menunjukkan bahwa ketentuan-ketentuan adat yang berlaku seperti sopan santun dan bagaimana seseorang harus bergaul dan berkomunikasi dengan baik antar sesama berada pada garis yang berbanding lurus dengan tuntunan agama yang memang mengajarkan akhlak.
Sebagai masyarakat muslim masyarakat penduduk asli lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid tetap menjalankan ajaran-ajaran agamanya di samping ketentuan-ketentuan adat yang berlaku. Ketaatan pada nilai-nilai adat ikut memberikan dampak penguatan pada nilai-nilai agama, khususnya yang terkait dengan nilai-nilai sopan santun seperti bagaimana adab anak kepada orang tua, pemuda kepada yang dewasa, adab bertamu dan lain-lain. Dalam praktik keseharian masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid adat juga menuntun bagaimana saling menghormati sehingga setiap celah interaksi memiliki ketentuan-ketentuan yang secara substansial dimaksudkan agar komunikasi dan hubungan yang dibangun tidak menuai masalah. Hal tersebut di atas dapat dilihat dari fakta- fakta bahwa masyarakat yang taat melaksanakan adat sopan santun pada saat bersamnaan juga menerapkan akhlak yang diajarkan agama. Dapat disaksikan dengan jelas bahwa kalimat salam (asslamu „alaikum) yang merupakan ajaran agama, juga merupakan fakta riil yang mewarnai pelaksanaan adat seperti dalam tradisi adat mesejati/nyelabar maupun dalam tradisi bait wali.317
Dalam realitasnya meskipun sejumlah pergeseran telah mewarnai pola praktik pelaksanaan ketentuan-ketentuan adat, tetapi masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid merupakan masyarakat yang fanatik terhadap nilai-nilai adat. Kefanatikan masyarakat terhadap nilai- nilai adat hampir tidak dapat dipisahkan dengan kefanatikannya terhadap agama. Dimensi moral- etik dalam konteks adat seakan menjadi parameter dimensi ketaatan agama seseorang. Hal ini bukan hanya karena sebagian tokoh adat adalah tokoh agama, tetapi di antara nilai-nilai adat memang
316Observasi, 8 Agustus 2020
317Observas, 30 Nopember 2020
sangat relevan dengan nilai-nilai agama, sehingga melaksanakan adat sangat bermakna dan sekaligus mendukung penguatan-penguatan agama seperti dalam hal sopan santun dan saling menghormati. Relevansi adat dengan nilai-nilai agama dapat dilihat dari fakta-fakta seperti kebiasaan betabeq318 dalam kehidupan masyarakat, baik pada saat bertamu atau pada saat melewati posisi duduk orang tua, tokoh agama maupun tokoh masyarakat.319
Dapat diamati dengan jelas dalam praktik kehidupan masyarakat lingkar Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid bahwa anak- anak muda dan remaja senatiasa mnegepankan sopan santun dalam berinteraksi dengan orang tua, baik dalam hal bahasa maupun tata ncara dalam berbuat dan bertindak. Fakta menunjukkan bahwa anak-anak muda tampak membungkukkan badannya manakala berjalan di dekat atau di depan orang-orang dewasa atau orang tua. Anak-anak muda juga berkomunikasi dengan orang-orang tua menggunakan bahasa Sasak yang halus. Anak muda yang dalam pergaulan sebayanya menggunakan bahasa-bahasa biasa seperti kata isyarat ne (ini) atau no (itu) mereka menggunakan kata-kata isyarat yang lebih halus seperti niki (ini) atau nike (itu). Begitu juga dengan kata ganti kamu atau side yeng biasa digunakan sesama teman sebaya, pada saat berbicara dengan orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat mereka menggunakan kata pelinggih atau pelungguh.320