• Tidak ada hasil yang ditemukan

SINKRONISASI FORMULASI DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Dalam dokumen ISBN 978-979-011-827-0 - Repository Unpak (Halaman 188-193)

A bstrak

C. SINKRONISASI FORMULASI DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Secara konseptual kebijakan yang ditetapkan oleh para perumus kebijakan sudah mencakup akan prediksi dan proyeksi dalam implementasinya dan kapan evaluasi harus dilaksanakan. Secara factual cukup banyak suatu kebijakan yang dirumuskan dengan baik kurang terimplementasi dengan harapan kebijakan yang ditetapkan dan sangat jarang kebijakan yang kurang baik akan terimplementasi dengan baik.

Hal ini tercermin dalam kebijakan kurikulum 2013 sebagai salah satu upaya dalam merubah desain pemikiran yang mengharapkan kreativitas dan inovasi muncul dari anak didik untuk mengembangkan ide dan pemikiran yang konstruktif dan kondusif sesuai nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga akan terbangun kemampuan idealism yang berkarakter ke Indonesiaan. Secara formulasi kebijakan kurikulum 2013 merupakan terobosan Departemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan dalam menindaklanjuti UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 19 Tahun 2005, konsekwensi yang timbul adalah dalam implementasi yang kurang memperhatikan model-model implementasi yang tepat dalam kemajemukan yang dimiliki Bangsa Indonesia, disamping aspek politis dan ekonomi yang ikut merongrong.

Ketegasan dan kecermatan implementator pada semua level pemerintahan pada tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan UPTD Pendidikan di tingkat kecamatan harus mempunyai unity of coorps yang sama untuk pemahaman tujuan kebijakan kurikulum 2013 ini, sehingga menghindari priksi yang terjadi dalam pemerintahan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA Buku-buku

Anderson, James. E. 2003. Public Policy Making, Fifth Edition. USA: Houghton Mifflin Company.

Bardach. E. 1977. The Implementation Game. What Happen after a Bill Becomes a Law.

Cambridge, Mass: MIT Press.

Cochran, Charles L & Eloise F. Malone.1999. Public Policy, Perspectives and Choices, Second Edition. Boston: McGraw-Hill College.

175

Dunn, William.1981. Public Policy Analysis: An Introduction. United States of America : Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Dye, Thomas R. 1978. Understanding Public Policy. Printice Hall. Englewood Cliffs.

N.J.

Edwards III, George C. 1980. Implementing Public Policy. Congressional Quarterly Inc.

Washington D.C.

Grindle, Merillee .S (ed). 1980 . Politics and Policy Implementation and Public Policy in the third World. New Jersey: Princenton University Press.

Jones, Charles O. 1996. An Introduction To The Study of Public Policy, Claifornia.

Wadsworth. Inc.

Kasim, Azhar. 1993. Tinjauan Terhadap Tantangan dan Usaha Pengembangan Administrasi Publik, Makalah Seminar Pengembangan Sistem Manajemen Pemerintahan Yang Modern, FISIP-UT, Tanggal 22-23 Desember 1993.

Mazmanian, Daniel A & Paul Sabatier. 1983. Implementation and Public Policy. Illionis Foresman and Company Gleinview.

Pfiffner, John M and Presthus, Robert V. 1960. Public Administration. New York : The Ronald Press Company.

Presman, J & Wildavsky. A. 1979. Implementation. Berkeley. University of California Press.

Sabatier, Paul & Mazmanian. 1983. Implementation and Public Policy. USA : Scott, Foresman and Company.

Saefullah, H.A.Djadja. 2007. Pemikiran Kontreporer Administrasi Publik, Prespektif Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Era Desentralisasi. Bandung : LP3AN FISIP UNPAD.

Tachjan. 2006. Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: AIPI Bandung – Puslit KP2W Lemlit Unpad.

Van Meter, Donalds & Carl E Van Horn, 1975, “The policy Implementation Process: A Concetual Framework” Administration Society. Vol. 6 No. 4 February 1975.

Dokumen dan Peraturan Perundangan

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003,Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005,Tentang Guru dan Dosen.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan.

176

PENDIDIKAN POLITIK TERPADU BAGI MASYARAKAT MENUJU PEMILU 2014 SESUAI DENGAN PRINSIP TRANSPARANSI

DAN AKUNTABILITAS

Iqbal M. Mujtahid dan Hascaryo ([email protected])

Abstrak

Sebagai perwujudan bukti sebuah negara menerapkan sistem demokrasi ialah dengan menggelar perhelatan pemilihan umum. Sistem pemilihan umum merupakan salah satu sistem atau kelembagaan penting di dalam sistem demokrasi. Penerapan sistem pemilihan umum di Indonesia masih terbilang belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kehendak masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia pada umumnya telah mampu mengikuti proses pemilu dan menghormati hasil pemilu, namun pemilu di Indonesia masih banyak menghadapi kendala-kendala dalam pelaksanaannya.

Pemilu menjadi indikator yang paling mudah dalam menentukan sebuah negara tersebut demokratis atau tidak, karena Pemilu memberikan sebuah momentum kepada masyarakat untuk menentukan arah perkembangan sebuah negara. Momentum ini merupakan tugas pokok dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Salah satu tugas dan kewenangan KPU yaitu melaksanakan sosialisasi penyelenggaraan pemilu serta tugas dan kewenangan KPU kepada masyarakat. Pemilih merupakan ujung tombak untuk menentukan calon yang terpilih pada proses Pemilu. Oleh karena itu, banyak permasalahan yang muncul seperti; money politic, penggelembungan suara, pemilih ganda, pemalsuan daftar mata pilih, yang dilakukan oleh pihak penyelenggara Pemilu. Hal tersebut merupakan bentuk dari penyalahgunaan kekuasaan dalam Pemilu, yang seharusnya tidak dilakukan.

Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya suara mereka sebagai pemilih menimbulkan keprihatinan mendalam. Dimana masyarakat sekarang ini sudah menjadi masyarakat yang apatis terhadap pemerintah.

Sebuah tawaran bagi penyelesaian permasalahan dalam proses pemilu yaitu dengan pendidikan politik terpadu. Pendidikan politik terpadu merupakan jawaban intelektual dari persoalan pemilu yang semakin lama semakin tidak jelas arahnya dan semakin banyak penyimpangan yang terjadi. Pendidikan politik bagi pemilih perlu mendapatkan fokus yang jelas. Ini terkait dengan proses segmentasi pendidikan pemilih. Pemilih pemula merupakan segmentasi penting dalam upaya melakukan pendidikan bagi pemilih dan tentunya pendidikan bagi pemilih pemula ini tidak hanya dilakukan ketika masuk usia pilih. Kurangnya informasi penting mengenai proses pemilihan merupakan masalah yang harus ditangani secara serius karena hal ini harus dimengerti oleh masyarakat yang memilih dalam pemilu. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu diperlukan sumber informasi seperti brosur, iklan di media cetak/internet, surat-surat melalui pos, kampanye iklan di radio, poster, debat/dialog kandidat pemilu dan lain-lain.

Jika pemilih secara keseluruhan sudah memiliki pengetahuan mengenai politik dan pemilu, bukan tidak mungkin korupsi dapat dihindarkan bahkan dihilangkan. Karena masyarakat akan menjadi pengawas atas segala penyelenggaraan kegiatan negara, sesuai dengan kedaulatan berada ditangan rakyat.

Dalam makalah ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dimana akan menggunakan teknik pengumpulan data survei dengan wawancara mendalam terhadap beberapa masyarakat yang dianggap sudah masuk usia peserta pemilih, dan pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan pemilu.

177

Kata kunci: Pendidikan Politik Terpadu, Pemilu, Tugas dan Kewenangan KPU, Pemilih, Sistem Politik, Korupsi.

A. LATAR BELAKANG

Sebagai perwujudan bukti sebuah negara menerapkan sistem demokrasi ialah dengan menggelar perhelatan pemilihan umum. Pemilihan umum diharapkan mampu merefleksikan kedaulatan rakyat sepenuhnya, khususnya dalam penyaluran aspirasi dan pemenuhan hak politik bagi rakyat. Selanjutnya pemilihan umum dapat pula berfungsi sebagai sarana legitimasi politik, perwakilan atau representasi politik, mekanisme pergantian kekuasaan atau sirkulasi elit dan sebagai sarana pendidikan dan sosialisasi politik yang bersifat massal dan periodic. Disisi lain adanya kejelasan sistem pemilu sangat berpengaruh terhadap ketahanan nasional karena dapat mempengaruhi sistem partai, sistem kabinet pemerintahan, mekanisme hubungan kerja antar lembaga negara dan tertinggi negara, alat proses budaya politik yang berkembang di masyarakat.

Sistem pemilihan umum merupakan salah satu sistem atau kelembagaan penting di dalam sistem demokrasi. Pemilu merupakan sarana langsung bagi masyarakat yang cukup usia untuk berpartisipasi dalam mempengaruhi pengambilan keputusan. Tahapan proses pemilu antara lain: penetapan daftar pemilih, tahap pencalonan kandidat, tahap kampanye, tahap pemungutan serta penghitungan suara, dan hasil perolehan suara sehingga kita dapat menentukan kandidat yang terpilih.

Penerapan sistem pemilihan umum di Indonesia masih terbilang belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kehendak rakyat Indonesia. Pasca reformasi perubahan sistem pemilu yang sebelumnya menggunakan sistem pemilihan proporsional tertutup menjadi proporsional terbuka memang relevan bagi sosio-kondisi Indonesia sendiri dan tuntutan rakyat untuk menyelenggarakan pemilihan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Dengan kata lain sangat diharapkan adanya transparansi terhadap penyelenggaraan pemilihan umum.

Penilaian sistem pemilu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu kondisi sistem ekonomi, kondisi lembaga-lembaga politik, proses pemungutan suara, proses pemilihan kepala daerah, tatacar pemilihan, tingkah laku masyarakat dalam memilih, partisipasi perempuan dalam partai politik, pendapat masyarakat mengenai demokrasi, dan munculnya masalah-masalah baru dalam pemilu. Kandidat yang maju telah diseleksi sebelumnya karena harus memenuhi persyaratan dan sistem sesuai peraturan yang berlaku. Sistem pemilu saat ini merencanakan bayak pemilu kepala daerah sehingga dalam melakukan proses pemungutan suara diperlukan informasi dan tatacara pemilu yang efektif kepada masyarakat luas. Masyarakat Indonesia pada umumnya telah mampu mengikuti proses pemilu dan menghormati hasil pemilu, namun pemilu di Indonesia masih banyak menghadapi kendala-kendala-kendala dalam pelaksanaannya. Kendala utama dalam pemilu yaitu pemberian informasi kepada masyarakat mengenai proses- proses utama dalam pemilihan kepala daerah. Perlunya peningkatan informasi kepada masyarakat mengenai proses pemilu yang penting seperti informasi kepada masyarakat

178

mengenai proses pemilu yang penting seperti informasi pra kandidat, proses pencalonan kandidat, proses penghitungan suara sampai calon terpilh, kampanye pemilu yang dilakukan, cara masyarakat mendaftar diri sebagai pemilih, tata cara yang tepat memadai surat suara, dan dimana serta kapan harus memilih.

1. Pokok Permasalahan

Kurangnya informasi penting mengenai proses pemilihan merupakan masalah yang harus ditangani secara serius karena hal ini harus dimengerti oleh masyarakat yang memilih dalam pemilu. Maka yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu melakukan pendidikan dan pemberian informasi yang lengkap terhadap masyarakat sebagai pemilih.

Pemberian pendidikan proses pemilu harus memperhatikan latar belakang masyarakat yang bervariasi agar informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat Indonesia.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu diperlukan sumber informasi seperti brosur, iklan di media cetak/internet, surat-surat melalui pos, kampanye iklan di radio, poster, debat/dialog kandidat pemilu dan lain-lain. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang berwenang dalam proses pemilu merupakan sistem penting dalam pelaksanaan pemilu, sehingga diperlukan peran lembaga-lembaga pemilu yang efektif dan mampu menjaga nama baiknya. Tingkat kepercayaan masyarakat pula harus di dukung oleh anggota lembaga-lembaga pemilu yang memiliki keahlian mengatasi masalah-masalah pemilu dan mampu bersikap adil dengan tidak memihak salah satu partai politik.

Hal utama yang harus dilakukan pemilih yaitu memastikan namanya ada dalam daftar pemilih, namun pada umumnya telah ada petugas pemilu yang mendatangi tiap rumah untuk mendata. Daftar pemilih harus akurat sehingga masyarakat harus menunjukkan dokumen sah yaitu kartu pemilih dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) agar proses pemilu berjalan dengan efektif. Pada praktek pemilihan, masyarakat akan dihadapkan pada prosedur pemilihan yaitu cara melakukan pengecekan daftar pemilih, dan cara menandai kartu suara secara benar. Hal tersebut harus dimengerti oleh masyarakat, namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum paham dalam melakukan prosedur pemilihan. Masyarakat juga mengalami karena cara menandai surat suara selalu berubah dari satu pemilu ke pemilu yang lain dan kurangnya informasi mengenai perubahan tersebut. Maka lembaga-lembaga pemilu harus mulai memusatkan perhatian dalam pemberian informasi yang tepat terhadap masyarakat untuk menyelesaikan masalah prosedur pemilihan. Oleh karena itu makalah ini akan membahas mengenai bagaimana pendidikan politik terpadu bagi masyarakat menuju Pemilu 2014 sesuai dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas studi kasus di Kota Bengkulu?

2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:

a. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan pendidikan politik terpadu dimasyarakat, khususnya di wilayah Kota Bengkulu.

179

b. Untuk menerapkan sistem transparansi dan akuntabilitas dalam proses pemilu, sehingga tercipta pemilu yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dalam dokumen ISBN 978-979-011-827-0 - Repository Unpak (Halaman 188-193)