• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pembelajaran Pondok Pesantren

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Pondok Pesantren

4. Sistem Pembelajaran Pondok Pesantren

Berdasarkan uraian di atras dapat disimpulkan bahwa pada intinya tujuan khusus pesantren ialah mencetak insanulkamil yang bisa memposisikan dirinya sebagai hamba Allah dan khalifatullah, fungsi pesantren pada awal berdirinya sampai dengan kurun sekarang telah mengalami perkembangan visi, posisi, dan persepsinya terhadap dunia luar, tujuan umum pesantren ialah membina warga Negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran agama Islam, mendidik santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan.

proses kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan, pemanfaatan setiap komponen dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana mengetahui keberhasilan tersebut.89 Tidak terkecuali pesantren yang merupakan lembaga pendidikan juga memiliki sistem pembelajaran. Meskipun dalam waktu yang cukup panjang pesantren secara seragam memakai sistem pembelajaran yang biasa disebut dengan sorogan dan bandongan atau wetonan. Namun seiring perkembangan zaman sistem pembelajaran di pesantren mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan penemuan metode yang lebih efektif untuk mengajarkan berbagai macam cabang ilmu pengetahuan.

Pondok pesantren telah memiliki memiliki pola pembelajaran yang khas, yang terbukti cukup efektif, berorientasi pada pembelajran individual, pembelajaran bersifat afektif, serta dilandasi pendidikan moral yang kuat. Pembelajaran yang dilakukan denagn cara-cara sederhana, akan tetapi dapat menyentuh pada persoalan riil yang dihadapi masyarakat.

Pola pembelajaran yang demikian itu dikenal dengan pembelajaran sistem sorogan. Pembelajaran sorogan memang menjadi ciri khas hampir semua pondok pesantren salafiah. Pembelajaran ini terbukti cukup efektif, namun membutuhkan waktu yang cukup panjang.90

Sistem pendidikan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren pada umumnya menggunakan sistem klasikal atau madrasah. Jenjang pendidikan yang diselenggarakan adalah Madrasah Diniyah

89Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2006 ) h. 49

90 Sulthon, Moh. Khusnuridlo. Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global, (Yogyakarta: LakesBang, 2006) h. 161

Tajhizi,Madrasah Diniyah Wustha (MDW) dan Madrasah Diniyah Ulya (MDU)” 91

Madrasah diniyah awaliyah yaitu satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarkan pendidikan agama Islam tingkat dasar, dengan masa belajar 4 tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.

Madrasah diniyah wustha yaitu satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarkan pendidikan agama Islam tingkat menengah pertama sebagai pengembangan yang diperoleh pada madrasah diniyah awaliyah dengan masa belajar 2 tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.

Madrasah diniyah ulya yaitu satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarkan pendidikan agama Islam tingkat menengah atas sebagai pengembangan yang diperoleh pada madrasah diniyah wustha masa belajar 2 tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.92

Sistem pembelajaran di pondok pesantren salafiah ada yang bersifat tradisional, yaitu sistem pembelajaran yang diselenggarakan menurut kebiasaan yang telah lama dilaksanakan pada pesantren atau dapat juga disebut sebagai sistem pembelajaran asli (original) pondok pesantren. Di samping itu ada pula sistem pembelajaran modern (tajdid). Metode atau sistem pembelajaran modern merupakan metode atau sistem pembelajaran hasil pembaharuan kalangan pondok pesantren dengan memasukkan

91Departemen Agama RI, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Direktori Pondok Pesantren 3, (Jakarta: 2002), h. 182-183

92Zakiah Daradjat, Ilmu Pdnidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), Cet Ke-4, h. 104

metode yang berkembang pada masyarakat modern, walaupun tidak selalu diikuti dengan menerapkan sistem modern, yaitu sistem madrasah.

Pondok salafiah sebenarnya telah pula menyerap sistem klasikal, tetapitidak dengan batas fisik yang tegas sebagaimana sistem klasikal pada persekolahan modern. Beberapa sistem pembelajaran tradisional yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren salafiah:

a. Metode Sorogan

Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kiai atau pemabantunya (badal atau asisten kiai).

Sistem sorogan termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai, dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran.93

Metode pembelajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri membaca dihadapan kyai. Dan kalau ada salahnya kesalahan itu langsung dihadapi oleh kyai.94

Disinilah seorang santri bisa dilihat kemahirannya dalam membaca kitab kuning dan menafsirkannya

b. Metode wetonan atau bendongan

Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu

93 Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya h. 38

94 Azyumardi Azra, Surau Ditengah Krisis, dalam Rahardjo, Pergulatan Dunia Pesantren, h.

161

tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardlu.

Metode weton merupakan metode kuliah, para santri-santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kiai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan di Jawa Barat disebut dengan bandongan.95

Metode pembelajaran dengan wetonan dilaksanakan dengan jalan kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri dengan membawa kitab yang sama mendengarkan dan menyimak bacaan kyai.

Dalam metode semacam ini tidak dikenal absensinya. Artinya, santri boleh datang, juga tidak ada ujian.96

c. Metode Hafalan

Metode hafalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu di abwah bimbingan dan penngawasan kiai atau ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghapal bacaan- bacaan dalam jangka waktu tertentu.

Hapalan yang dimiliki santri kemudian dihapalkan dihadapan kiai atau ustadz secara periodik atau incidental tergantung kepada petunjuk kiai atau ustadz yang bersangkutan. Titik tekan metode ini santri mampu mengucapkan atau melafadkan kalimat tertentu secara lancar tanpa teks. Pengucapan tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok.97

d. Metode Demonstrasi (praktek ibadah)

Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemonstrasikan) suatu ketrampilan pelaksanaan

95 Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya h. 40

96 Dhofier, Tradisi Pesantren, h. 28

97 Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 47

ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok di bawah petunjuk dan bimbingan kyai atau ustadz, dengan kegiatan:

1) Para santri mendapatkan penjelasan atau teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betulbetul memahaminya.

2) Para santri berdasarkan bimbingan kyai mempersiapkan segala peralatan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek.

3) Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk menerima penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang akan dilakukan serat pembagian tugas kepada para santri berkenaan denagn pelaksanaan praktek.

4) Para santri secara bergiliran memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh kiai sampai benar-benar sesuai tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya.

5) Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi kesempatan mempertanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.98

Uraian di atas dapat di jelaskan bahwa sistem pembelajaran pondok pesantren proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen, sistem pembelajaran tradisional yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren salafiah, sistem sorogan termasuk belajar secara individual, wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, metode hafalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal.