• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem pendidikan pada pondok pesantren

Dalam dokumen Skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 39-57)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Sistem pendidikan pada pondok pesantren

Sistem dapat diartikan sebagai suatu perangkat atau mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian dimana satu sama lain saling berhubungan dan saling memperkuat. Dengan demikian sistem adalah suatu sarana yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Bila penggunaan istilah sistem pendidikan pada Pondok Pesantren maka tak lain yang dimaksud ialah sarana yang berupa perangkat organisasi yang diciptakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang berlangsung dalam pondok pesantren itu. Oleh karena itu yang membedakan sekolah pendidikan nasional dan pendidikan pesantren yaitu:

a. Yayasa

Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan dalam mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota. Yayasan dapat mendirikan badan usaha yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan. Dalam Undang-Undang Nomor. 28 Tahun 2004 tentang yayasa:

Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.

b. Direktur ( pimpinan)

Merupakan seseorang yang ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga dan Tugas umum seorang pemimpin adalah bersama-sama pengikutnya sampai kepada tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan pemimpin pilihan yang mampu menggerakkan, memberi tuntunan dan binaan, memberikan teladan, dan menunjukkan jalan yang paling baik untuk sampai kepada tujuan tersebut.

Seorang pemimpin biasanya memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan pengikutnya, dengan kecerdasan yang luar biasa pemimpin dapat berpikir maju dan melihat lebih banyak dibandingkan pengikutnya. Tapi bisakah semua pemimpin yang cerdas itu dikatakan pemimpin yang baik, karena dalam makalah ini topik “Pemimpin yang baik” akan dibahas dari sudut pandang moral dan etika bukan dari intelegensia saja.

c. Kiyai

Kyai adalah Pendiri atau pemimpin sebuah pesantren, sebagai muslim

“terpelajar” yang telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Namun pada umumnya di masyarakat kata “kyai” disejajarkan pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam.

Abdurrahman Mas‟ud (2004, 236-237) memasukkan Kyai kedalam lima tipologi, yaitu:

1. Kyai (ulama) encyclopedi dan multidispliner yang mengonsentrasikan diri dalam dunia ilmu;belajar, mengajar, dan menulis, menghasilkan banyak kitab seperti Nawai Al-Bantani.

2. Kyai yang ahli dalam salah satu spesialisai bidang ilmu pengetahuan Islam. Karena keahlian meraka dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan pesantren, mereka terkadang dinamai sesuai dengan spesialisasi mreka, misalnya pesantren Al-quran.

3. Kyai Kharismatik, yang memperoleh karismanya dari ilmu pengetahuan keagaamaan, khususnya sufisme.

4. Kyai Dai Keliling, yang perhatian dan keterlibatannya lebih besar melalui ceramah dalam menyampaikan ilmunya sebagai bentuk interaksi dengan publik bersamaan dengan misi Sunnisme atau

Aswaja dengan bahasa retorika efektif.

5. Kyai Pergerakan, yakni karena peran dan skill kepemimpinannya

yang luar biasa, baik dalam masyarakat maupun organisasi yang didirikannya, sehingga menjadi pemimpin yang menonjol.

Hazbullah(1999:144) Istilah kiyai melainkan dari bahasa jawa dalam bahasa jawa, kiyai di pakai untuk gelar kehormatan dan gelar yang di berikan kepada masyarakat kepada orang akhli dalam agama islam yang memiliki ilmu pengtahuan yang sangat tinggi atau menjadi pimpinan pesantern dan mengajarkan kitab islam klasik kepada para santrinya.

d. Pembina ( Guru )

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat.

Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal saja tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di masjid, di surau/mushola, di rumah dan sebagainya.

Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus

memberikan tugas,mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi.

e. Santri (Siswa)

Santri merupakan unsur yang penting dalam perkembangan sebuah pesantren karena pertama dalam tahap-tahap pengembangan pesantren adalah bahwa harus ada murid yang dapat untuk belajar dari seorang yang alim. Santri biasanya terdiri dari dua kelompok yaitu santri kalog dan santri mukim. Santri kalog merupakan santri yang tidak menetap dalam pondok tetapi seteah mereka belajar mereka pulang ke rumah setelah mengikuti proses pembelajaran di pesantren sedangkan santri mukim yaitu santri yang menetap di pondok setelah proses pembelajaran di karenakan tempat tinggal mereka jauh dari pondok.

Rasullah SAW Bersabda:

اًقْ ي ِرَط َكَلَس ْنَمَو:َلَاق م.ص ِللها َلُوْسَر ٌنَا ُهْنَع ْللها َىِضَر َةَرْ يَرْه ِبَا ْنَع ور (.ِةٌنَجْا َلىِا اًقْ ي ِرَط ُهَل ُللها َلٌهَس اًمْلِع ِهْيِف ُسِئَتْلَ ي ١

ﻢلﺴم ﻩ

Terjemahnya: ”Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: barang siapa menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga”. (H.R. Muslim ).

Santri yang bermukim merupakan santri yang jauh dari tempat bermukim mereka sehingga mereka memiliki keistemewaan di banding dengan santri kalog. Santri yang bermukim harus memiliki cita-cita dan

memiliki keberanian yang cukup dan siap untuk menghadapi sendiri tantangan yang akan di alami di pesantren.

f. Kurikulum

Pada awalnya berdirinya, pesantren merupakan media pembelajaran yang sangat simple. Tidak ada klasifikasi kelas, tidak ada kurikulum, juga tidak ada aturan yang baku di dalamnya. Sebagai media pembelajaran keagamaan, tidak pernah ada kontrak atau permintaan santri kepada kiyai untuk mengkajikan sebuah kitab, apalagi mengatur secara terperinci materi- materi yang hendak diajarkan. Semuanya bergantung pada kiai sebagai poros sistem pembelajaran pesantren.

H. Amin Haedani,Dkk( 2004:80) Mulai dari jadwal, metode, bahkan kitabyang hendak diajarkan, semua merupakan wewenang seorang kiai secara penuh.

Dua model pembelajaran yang terkenal pada awal mula berdirinya pesantren adalah model sistem pembelajaran wetonan non klasikal dan sistem sorogan. Sistem wetonan/bandongan adalah pengajian yang dilakukan oleh seorang kiai yang diikuti oleh santrinya dengan tidak ada batas umur atau ukuran tingkat kecerdasan. Sistem pembelajaran model ini, kabarnya merupakan metode yang diambil dari pola pembelajaran ulama Arab. Sebuah kebiasaan pengajian yang dilakukan di lingkungan Masjid al- Haram. Dalam sistem ini, seorang kiai membacakan kitab, sementara para

santri masing-masing memegang kitab sendiri dengan mendengarkan keterangan guru untuk mengesahi atau memaknai Kitab Kuning.

Lain dengan pengajian wetonan, pengajian sorogan dilakukan satu persatu, dimana seorang santri maju satu persatu membaca kitab dihadapan kiai untuk dikoreksi kebenaannya. Pada pembelajaran sorogan ini, seorang santri memungkinkan untuk berdialo dengan kiai mengenai masalah-masalah yang diajarkan. Sayangnya banyak menguras waktu dan tidak efesien sehingga diajarkan pada santri-santri senior saja.

Pada abad ke tujuh belasan, materi pembelajaran pesantren didominasi olehmateri-materi ketahuidan. Memang pada waktu itu ajaran ketauhidan dan ketasaufan menduduki urutan yang paling dominant. Belakangan, sejalan dengan banyaknya para ulama yang berguru ketanah suci, materi yang diajarkannya pun bervariasi.

g. Sarana dan prasarana

Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan suatu pola interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau yang biasa dikenal dengan guru. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang dipahami sebelumnya, dapat melakukan atau menggunakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat digunakannya termasuk sikap tertentu yang mereka miliki. Sebaliknya seorang guru yang dikatakan telah mengajar apabila dia telah membantu siswa untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.

Untuk pencapaian tujuan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Upaya tersebut berupa pemberdayaan seluruh komponen yang dibutuhkan dalam pendidikan. Misalnya pembangunan sarana prasarna, pembuatan sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

Sarana dan prasarana yang lengkap merupakan syarat untuk kemajuan pendidikan di suatu sekolah. sarana dan prasarana pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan pendidikan karena akan menyangkut pemenuhan prasyarat pendidikan yang memadai. Seperti diketahui bersama bahwa sarana dan prasarana yang memadai tanpa dikelolah oleh sumber daya manusia yang handal dan berkualitas niscaya sarana dan prasarana tersebut tidak akan membawa kemajuan yang berarti dan bahkan hilang ditelan waktu.

1. Sistem Pendidikan pada Pondok Pesantren.

Sistem Pendidikan pada Pondok Pesantren yaitu sistem pendekatan independen.Pesantren memiliki karakter tertentu setidaknya karakter itu tidak dimiliki sistem pendidikan lainnya, tetapi Pesantren juga mengadopsi nilai- nilai yang berkembang di Masyarakat.Keadaan ini disebut subkultur. Ada tiga elemen yang mampu membentuk pesantren sebagai berikut:

a. Pola kepemimpinan pesantren yang mandiri; tidak terkooptasi oleh Negara.

b. Kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad.

c. Sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luar.

Sistem pendidikan pesantren terdiri dari berbagai unsur (subsistem) yang sebenarnya memiliki kaitanpungsional, tak terpisahkan untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Masing-masing unsur memiliki fungsi tertentu, yang tidak bisa diabaikan sama sekali.Kekurangan satu unsur saja akan menjadi kendala bagi proses pendidikan dan langsung berpengaruh pada pencapaian tujuannya.

Dengan demikian, sistem pendidikan yang dikembangkan pesantren dalam banyak hal merupakan hasil adaptasi dari pola-pola pendidikan yang telah ada di kalangan masyarakat Hindu Budha sebelumnya.Jika ini benar ada relevansinya dengan suatu statemen bahwa pesantren mendapat pengaruh dari tradisi lokal.

Sistem pendidikan yang melakukan kegiatan sepanjang adanya integrasi antara proses pembelajaran dengan kehidupan keseharian. Sistem pendidikan pesantren menggunakan pendekatan holistik.Para pengasuh pasantren memandang kegiatan belajar merupakan kesatupaduan atau lebur kedalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari.Akibatnya muncul sikap paling menjaga komitmen terutama dari pihak pengasuh baik kiyai maupun ustadz.Apa yang dianjurkan kyai maupun ustadz harus terlebih dahulu

terefleksikan dalam kehidupan keseharian mereka. Santri dapat mengamati prilaku kyai dan ustadznya secara leluasa seperti juga mereka secara leluasa memantau kegiatan para santri.

Sistem pendidikan pesantren memang menunjukkan sifat dan bentuk yang lebih dari pola pendidikan nasional.Maka pesantren menghadapi dilema untum mengintegrasikan.Sistem pendidikan yang dimiliki dengan sistem pendidikan nasional.Ditinjau dari awal mula sejarah berdirinya pesantren memang tidak dimaksudkan unutk meleburkan dalam sistem pendidikan nasional.

Sistem pendidikan pesantren masih belum memiliki kesamaan dasar di luar penggunaan buku-buku wajib.Keragaman ini timbul karena ketidaksamaan dalam sistem pendidikan ada pesantren yang menyelenggarakan pengajian tanpa sekolah madrasah, ada pesantren yang hanya menggunakan sistem pendidikan madrasah secara klasikal, dan ada pula pesantren yang menggabungkan sistem pengajian dan sistem madrasah secara non klasikal.Pada sistem madrasah non klasikal ini, materi pelajaran diberikan secara berurutan dari kitab-kitab lama yang sudah umum dipakai dalam pengajian.Maka tidak mungkin ada penyatuan kurikulum pesantren selama masih ada perbedaan-perbedaan cukup besar dalam sistem pendidikan yang dianut.

Dengan pengertian lain, pesantren mempunyai karakter plural, tidak seragam, dan tidak memiliki wajah tunggal. Pluralitas pesantren ditunjukkan

antara lain oleh tiadanya sebuah aturan pun baik menyangkut manajerial, administrasi, birokrasi struktur, budaya, kurikulum apalagi pemihakan politik yang dapat mendefinisikan pesantren menjadi tunggal, kecuali aturan itu datang dari pemahaman agama yang terekfleksikan dalamberbagai kitab kuning.

Kuatnya independensi tersebut menyebabkan pesantren memiliki kebebasan yang tidak harus mengikuti model buku yang ditetapkan pemerintah dalam menentukan pola kebijakan pendidikannya.Setiap tawaran pengembangan baik dari luar maupun dari dalam sendiri, tentunya melalui pertimbangan tata nilai yang berlaku di pesantren selama ini.Maka pesantren menggunakan prinsip kebebasan terpimpin dalam menjalankan kebijaksanaan pendidikannya.

Dalam sebuah hadits Rasullah SAW Bersabda:

ِللها ُلوُسَر َلاَق ُلوُقَ ي ٍدوُعْﺴَم َنْب ِللهاَدْبَع ُتْعَِسَ َلاَق ٍسْيَ ق ْنَع ِهْيَلَع ُللها ىى لَل

ِفِ ِهِتَكَلَه ىَلَع ُهَطى لَﺴَف ًلااَم ُهى للا ُﻩاَتآ ٌلُجَر ِْيَْ تَنْ ثا ِفِ ى لاِإ َدَﺴَح َلا َﻢى لَسَو قَْلْا ُﻩاَتآ ٌلُجَرَو ُهى للا

ًةَمْكِح وُهَ ف

ﻢلﺴم ﻩاور( .اَهُم لَعُ يَو اَِبِ ىِضْقَ ي ﹶ

Terjemahnya: Dari Qais berkata, ”Saya mendengar Abdillah bin Mas‟ud berkata, Rasulullah SAW bersabda : ”Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya atas pemusnahannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain”. (HR. Muslim).

2. Sistem Pendidikan Adaftif

Sistem pendidikan pesantren mengalami proses sejarah tertentu.

Awal abad ke-20 sistem pendidikan pondok pesantren mulai dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat.Pesantren terus berlangsung pada masa sesudahnya.Pada masa kemerdekaan pesantren memberikan respon terhadap ekspansi sistem pendidikan umum disebarkan pemerintah dengan memperluas cakupan pendidikan mereka.Sedikitnya ada dua cara yang dilakukan pesantren dalam merespon ekspansi tersebut yaitu:

a. Merevisi kurikulum dengan memasukkan semakin banyak mata pelajaran umum bahkan keterampilan umum

b. Membuka kelmbagaan dan fasilitas-fasilitas pendidikannya bagi kepentingan pendidikan umum.

Sistem pendidikan pesantren dikenal sebagai bentuk sistem pendidikan non sekolah yang muncul kemudian justru bentuk sistem pendidikan sekolah : mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiah, Madrasah Aliyah, SLTP/SLTA umum, Perguruan Tinggi Keagamaan bahkan Prguruan Tinggi Umum.

Pesantren di Indonesia telah mengadopsi sistem pendidikan formal seperti yang diselenggarakan pemerintah.Sistem pendidikan pesantren yang masih salafi murni tidak banyak lagi.Pesantren biasanya sudah berkembang menjadi pesantren khalafi, semacam perguruan yang memasukkan mata pelajaran umum sesuai dengan sistem nasional.

Perubahan sistem pendidikan pesantren melahirkan perubahan pada metode dan materi pengajarannya.Metode pengajaran telah banyak menempuh kurikulum campuran antara yang agama dan umum.Kurikulum campuran ini timbul dari tuntutan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan umum yang merupakan kebutuhan nyata yang harus dipenuhi para lulusan pesantren.Demikian juga sistem pelajaran yang berpusat pada kyai mulai ditinggalkan.

Santri-santri pesantren besar biasanya tidak hanya belajar kitab-kitab klasik asuhan kiyai.Mereka umumnya juga belajar di lembaga pendidikan formal.Ini menunjukkan bahwa mereka telah berhadapan dengan sistem pendidikan yang berbeda dalam satu kompleks pendidikan pesantren.

Abd. Rahman Wahid Menyatakan (2001:120) Sistem pendidikan di pondok pesantren masih belum memiliki kesamaan dasar di luar penggunaan buku-buku wajib (kutubul muqarrah) yang hampir bersamaan atau diluar materi pelajaran yang berdekatan. Keragaman ini timbul sebagai akibat dari ketidaksamaan dalam sistem pendidikannya, dimana ada pesantren dengan sistem pendidikan berupa tanpa sekolah atau madrasah, ada pesantren yang hanya meggunakan sistem pendidikan madrasah secara klasikal, dan ada pesantren yang menggabungkan antara sistem madrasah secara non klasikal.

Dalam mewujudkan tujuan pendidikan yakni membentuk manusia memiliki kesadaran bahwa ajaran Islam merupakan nilai dasar yang bersifat menyeluruh, diselenggarakan pengajian kitab, yang didalamnya terhimpun nilai dasar Islam sebagai tata nilai. Sejumlah kitab yang ditentukan untuk dipelajari di suatu pesantren dipandang sebagai kurikulumnya.

Pemahamankurikulum ini sejalan dengan pandangan Abuddin Nata(1997:123) yaitu sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh unutk mencapai suatu ijazah/gelar tertentu.

Sistem tradisional dengan sistem pendidikan formal tersebut dilihat dari perspektif tertentu masih menimbulkan kelemahan-kelemahan itu diperkirakan bahwa ilmu yang dipelajari bersumber pada sebagian besar literatur yang telah berabad-abad usianya, sehingga dirasakan kurang relevan dengan perkembangan dan situasi masa kini.

Sistem penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran makin lama makin berubah karena dipengaruhi perkembangan pendidikandi tanah air serta tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok pesantren itu sendiri, dan sebagian pondok lagi, tetap mempertahankan sistem pendidikan yang lama. Dalam hal ini pengajaran pondok pesantren dapat dibagi menjadi dua sistem yaitu:

1. Sistem Tradisional

a. Sorongan adalah sistem belajar di mana para santri yang membaca kitab di hadapan ustadz dan kiyai.

b. Wetonan adalah sistem belajar di mana sang kiyai yang membacakan kitab kepada para santri. Kemudian diikuti dan diperhatikan oleh santri.

c. Bandongan adalah kombinasi dari dua metode di atas.

2. Sistem Modern a. Sistem klasikal

b. Sistem kursus c. Sistem pelatihan

Menurut Departemen Agama RI (2001:9-10) Berpendapat dalam realitasnya, penyelenggaraan sistempendidikan pondok pesantren dewasa ini dapat digolongkan kepada tiga bentuk yaitu :

a. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara mengklasikal dimana seorang kiyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulus dalam bahasa Arab atau ulama-ulama besar sejak abad pertengahan sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.

b. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnyasama dengan pondok pesantren terrsebut di atas, tetapi para santrinya tidak disediakan pondok di kompleks pesantren,namun tinggal tersebar diseluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut, dimana cara dan metode pendidik an dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem wetonan yaitu santri datang berduyung-duyung pada waktu tertentu.

c. Pondok pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama islam dengan sistem bendongan. Sorongan

dan wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun santri kalongan, yang dalam istilah pendidikan modern memenuhi kriteria pendidikan non formal serta menyelenggarakan pula pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masing-masing.

Dengan demikian, sistem pendidikan pada Pondok pesantren dapat dilihat kedalam tiga bentuk. Ada Pesantren lengkap dengan pemondokan santri dengan sistem pendidikan 24 jam, ada juga pesantren yang tidak memiliki pemondokan, dengan sistem pendidikannya pada waktu-waktu tertentu, serta ada juga pesantren dengan corak agak modern yaitu santri tinggal di pondok dan muatan-muatan pelajaran umum di pesantren juga ada, serta dibukanya berbagai jurusan sesuai dengan kapasitas pesantren dan kebutuhan masyarakat.

Abd.Rahman Wahid(2001:121) Sistem pendidikan di Pondok pesantren masih belum memiliki kesamaan dasar di luar penggunaan buku-buku wajib (kulubul muqarrarah) yang hampir bersamaan atau di luar materi pelajaran yang berdekatan.

Keberagaman ini timbul sebagai akibat dari ketidaksamaandalam sistem pendidikannya, dimana ada pesantren dengan sistem pendidikan berupa tanpa sekolah atau madrasah, ada pesantren yang hanya menggunakan sistem pendidikan madrasah secara klasikal, dan ada pesantren yang menggabungkan antara sistem pengajian dan sistem madrasah secara non klasikal.

Pada sistem madrasah non klasikal ini, materi pelajaran diberikan secara berturut-turut dari kitab-kitab lama yang sudah umum terpakai dalam pengajian. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diselenggarakan pengajian kitab, yang di dalamnya terhimpun nilai dasarislam tersebut sebagai tata nilai. Sejumlah kitab yang ditentukan untuk dipelajari di suatu pesantren dipandang sebagai kurikulumnya.

Dengan demikian, kegiatan pembelajaran di Pesantren sebagian telah mengadopsi kurikulum nasional di samping masih konsistem terhadap kurikulum lokal yang menjadi ciri khas Pesantren kolaborasi dua disiplin ilmu (kurikulum nasional)yakni umum dan agama menjadi sebuah kekuatan (peluang) bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.

Dalam dunia pendidikan beberapa tokoh memberikan pengertian tentang kurikulum menurut persepsinya masing-masing, namun maksud dan tujuannya saling keterkaitan antara satu dengan yang lain.

Menurut H. Abd. Rahman (1993:28) pengertian kurikulum dapat dibatasi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Pengertian lama, kurikulum adalah seperangkat mata pelajaran yang disusun dan disajikan kepada murid oleh guru di Sekolah.

2. Pengertian baru, kurikulum adalah seperangkat pengalaman yang diberikan kepada murid di bawah tanggung jawab Sekolah, di dalam maupun di luar kelas.

Berangkat dari pengertian kurikulum lama dan baru Kurikulum lama berorientasi pada masa lampau, kurikulum berisikan pengalaman- pengalaman masa lampau. Sedangkan kurikulum baru berorientasi pada

masa sekarang dengan persiapan untuk masa yang akan datang. Pengajaran berdasarkan topik dari kehidupan masyarakat dan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

46

Dalam dokumen Skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 39-57)

Dokumen terkait