• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Transportasi

BAB II LANDASAN TEORI

B. Transportasi

1. Sistem Transportasi

Transportasi tidak berjalan secara efektif tanpa adanya sistem transportasi, Sistem transportasi merupakan sistem yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Sistem transportasi dari suatu wilayah dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari sarana dan prasarana dan sistem pelayanan yang memungkinkan adanya pergerakan keseluruh wilayah (Andriansyah, 2015). Sistem yang yang mempengaruhi sistem transportasi adalah sistem pergerakan, sistem jaringan, dan sistem aktifitas. Selain itu sistem kelembagaan yang berfungsi sebagai penunjang keberhasilan sistem lainnya juga dapat mempengaruhi sistem transportasi.

Sistem pergerakan dapat dijelaskan bahwa sistem yang muncul akibat adanya aktifitas dan didukung dengan adanya fasilitas infrastruktur yang berupa sistem jaringan (Kusbiantoro ,dkk., 2005).

Sistem kegiatan merupakan perwujudan dari ruang dan isinya, terutama manusia dengan segala aktifitasnya yang dilakukan disuatu guna lahan (Zacky, 2005). Untuk memenuhi aktifitasnya tersebut manusia membutuhkan perjalanan dengan menggunakan sistem transportasi. Makin tinggi kuantitas dan kualitas penduduk disuatu wilayah dengan segala kegiatannya makin tinggi juga pergerakan yang dilakukan, baik dari segi volume, frekuensi, jarak, moda maupun tingkat pemusatan temporal dan spasial (Kusbiantoro, dkk. 2005).

Sistem jaringan merupakan sarana dan prasarana transportasi yang mendukung terjadinya sistem pergerakan. Sistem jaringan infrastruktur meliputi jalan, raya, rel kereta api, terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara, serta pelayanan transportasi seperti pelayanan angkutan umum, angkutan paratransit, dan berbagai moda lainnya. Makin tinggi kuantitas dan kualitas jaringan infrastruktur dan pelayanan transportasi makin tinggi juga kuantitas dan kualitas pergerakan yang dilakukan (Kusbiantoro, dkk. 2005).

Sistem kelembagaan merupakan penunjang keberhasilan sistem lainnya dengan tujuan untuk menciptakan sistem pergerakan yang aman, nyaman, cepat, murah dan sesuai lingkungan.

Hubungan antara sistem pergerakan, kegiatan, dan aktifitas dalam sistem transportasi dapat dinyatakan dengan kualitas dan kuantitas dari sistem kegiatan dan sistem jaringan akan menimbulkan tingginya kualitas dan kuantitas pada

sistem pergerakan, begitu juga sistem pergerakan akan meningkat maka akan menimbulkan dampak terhadap sistem jaringan dan sistem kegiatan meningkat (Kusbiantoro, 2004).

Gambar 2.1 Hubungan Sistem Transportasi

Sumber : Kusbiantoro, 2005

Dampak yang ditimbulkan terhadap sistem kegiatan antara lain tumbuhnya guna lahan dan tingginya nilai lahan disepanjang jaringan jalan baru dan jalan lama yang mengalami peningkatan kualitas. Sedangkan dampak yang ditimbulkan terhadap sistem jaringan sehubungan dengan meningkatnya sistem pergerakan adalah berkurangnya tingkat pelayanan transportasi seperti kemacetan, kerusakan jalan akibat intensitas pergerakan yang meningkat. Menurut Kusbiantoro, dkk (1996), bahwa sistem pergerakan terkait dengan besarnya volume pergerakan, maksud pergerakan, asal dan tujuan, waktu pergerakan, jarak, kecepatan, frekuensi pergerakan, dan moda yang digunakan.

Menurut Tamin (2008;49) mengatakan bahwa ciri pergerakan dibagi dalam dua bagian yaitu:

1). Ciri pergerakan tidak spasial (tanpa batas ruang) yaitu semua ciri pergerakan yang berkaitan dengan aspek tidak spasial seperti :

a). Sebab terjadinya pergerakan, dapat dikelompokkan berdasarkan maksud perjalanan yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, agama, rumah.

b). Waktu terjadinya pergerakan, sangat tergantung pada kapan seseorang melakukan aktifitasnya sehari-hari, dengan demikian waktu perjalanan sangat tergantung pada maksud perjalanannya.

c). Jenis sarana angkutan yang digunakan, dalam melakukan perjalanan orang biasanya dihadapkan pada pilihan jenis angkutan seperti mobil, angkutan umum, pesawat atau kereta api. Dalam menentukan pilihan jenis angkutan orang mempertimbangkan beberapa faktor yaitu maksud perjalanan, jarak tempuh, biaya dan tingkat kenyamanan.

2). Ciri pergerakan spasial (dengan batas ruang), perjalanan terjadi karena manusia melakukan aktifitasnya ditempat yang berbeda dengan daerah tempat tinggal mereka. Artinya keterkaitan antar wilayah ruang sangatlah berperan dalam menciptakan perjalanan. Konsep dasarnya adalah suatu perjalanan dilakukan untuk melakukan kegiatan tertentu dilokasi yang dituju, dan lokasi kegiatan tersebut ditentukan oleh pola tata guna lahan kota tersebut.

Beberapa ciri perjalanan spasial sebagai berikut :

a). Pola perjalanan orang, perjalanan terbentuk karena adanya aktifitas yang dilakukan bukan ditempat tinggal sehingga pola sebaran tata guna lahan suatu kota akan sangat mempengaruhi pola perjalanan orang. Dalam hal ini pola

perjalanan orang yang berperan adalah sebaran spasial dari daerah industri, perkantoran, dan permukiman, serta pertokoan dan pendidikan walaupun porsi kedua nya tidak begitu signifikan.

b). Pola perjalanan angkutan barang, sangat dipengaruhi oleh aktifitas produksi dan konsumsi, yang tergantung pada sebaran pola tata guna lahan permukiman (konsumsi), serta industri dan pertanian (produksi). Selain itu pola perjalanan barang sangat dipengaruhi oleh pola rantai distribusi yang menghubungkan pusat produksi ke daerah konsumsi.

Pergerakan yang dilakukan oleh pelaku pengguna jalan bermacam macam tergantung dari jenis kegiatannya. Willumsen, 1990 (dalam krismiyati, 2002) menjelaskan bahwa pergerakan dapat digolongkan menjadi :

a). Karakteristik orang/ pelaku pergerakan, pergerakan sangat dipengaruhi oleh prilaku pergerakan (individu), perilaku ini dipengaruhi oleh karakteristik sosil ekonomi (pendapatan, kepemilikan kendaraan, dan lain lain).

b). Maksud pergerakan, ind4idu melakukan pergerakan berdasarkan maksud, seperti bekerja, ke sekolah, belanja, sosial, rekreasi dan lain lain. Dimana bekerja dan sekolah merupakan pergerakan utama

c). Waktu pergerakan, pergerakan dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu, pergerakan yang terjadi pada waktu puncak (Peak) dan bukan puncak (off peak).

Dalam memilih moda angkutan umum penumpang, ada dua kelompok pelaku pergerakan atau perjalanan yaitu kelompok choice, yaitu kelompok yang memiliki pilihan dalam melakukan mobilitasnya dan memiliki akses kendaraan

pribadi. Sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok Captive, yaitu kelompok yang tergantung pada angkutan umum untuk melakukan mobilitasnya, merupakan sebagian penduduk kota khususnya yang berpenghasilan menengah ke bawah.

Menurut Adisasmita (2011;50) bahwa hubungan dasar antara sistem kegiatan, sistem jaringan, dan sistem pergerakan dapat disatukan dalam beberapa urutan tahapan, yang biasanya dilakukan secara berurutan sebagai berikut.

a). Aksesibilitas dan mobilitas, Ukuran potensial atau kesempatan untuk melakukan perjalanan. Tahapan ini bersifat lebih abstrak jika dibandingkan dengan empat tahapan berikut, digunakan untuk mengalokasikan masalah yang terdapat dalam sistem transportasi dan mengevaluasi pemecahan alternatif.

b). Pembangkit lalu lintas, Bagaimana perjalanan dapat bangkit dari suatu tata guna lahan atau dapat tertarik ke suatu tata guna lahan.

c). Sebaran penduduk, Bagaimana perjalanan tersebut disebarkan secara geografis di dalam daerah perkotaan (daerah kajian).

d). Pemilihan moda transportasi, Menentukan faktor yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi untuk tujuan perjalanan tertentu.

e). Pemilihan rute, Menentukan faktor yang mempengaruhi pemilihan rute dari setiap zona asal dan ke setiap zona tujuan.

Dokumen terkait