• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUS TRANS MAMMINASATA KORID - Universitas Bosowa

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BUS TRANS MAMMINASATA KORID - Universitas Bosowa"

Copied!
269
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

55 Tahun 2011 dimana salah satu strategi peningkatan aksesibilitas antar wilayah dan pemerataan cakupan pelayanan sistem jaringan infrastruktur di Kawasan Perkotaan Mamminasata adalah dengan meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan sistem jaringan transportasi perkotaan yang seimbang dan merata. Kota Makassar sendiri merupakan kawasan perkotaan inti yang menghubungkan kawasan perkotaan Maro, Sungguminasa, Gowa dan Takalar.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Aspek Keilmuan
  • Aspek Gunalaksana

Dari aspek implementasi, penelitian ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah agar dapat diimplementasikan secara efektif untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa angkutan umum Koridor 3 di wilayah Mamminasata.

Lingkup Penelitian

  • Lingkup Wilayah
  • Lingkup Pembahasan

LANDASAN TEORI

Kebijakan Publik

  • Sistem Kebijakan Publik
  • Tahap – Tahap Kebijakan
  • Implementasi Kebijakan

Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan suatu program yang diarahkan untuk memecahkan masalah yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Implementasi kebijakan publik akan sangat sulit jika tidak ada dukungan yang cukup terhadap kebijakan tersebut.

Transportasi

  • Sistem Transportasi
  • Model Pemilihan Moda
  • Metoda pemilihan rute
  • Sarana dan Prasarana Transportasi
  • Permintaan (Demand) dan penawaran (Supply) transportasi

Kendaraan pribadi (Private transport), yaitu : Suatu moda transportasi yang diperuntukkan bagi orang pribadi dan orang tersebut bebas menggunakannya kemanapun, dimanapun dan kapanpun dia mau, bahkan mungkin dia tidak menggunakannya sama sekali (mobilnya disimpan di garasi). Jalan arteri adalah jalan yang melayani angkutan umum utama dengan karakteristik perjalanan jarak jauh, kecepatan tinggi dan jumlah akses jalan yang efektif membatasi.

Gambar 2.1 Hubungan Sistem Transportasi
Gambar 2.1 Hubungan Sistem Transportasi

Hubungan Transportasi dengan Tata Ruang Kota

  • Transportasi Perkotaan
  • Struktur Ruang Kota

Dalam teori ini disebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan tempat utama perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Teori sejarah (Alonso, 1964) Dalam teori ini, DPK atau CBD merupakan pusat dari segala fasilitas kota dan merupakan kawasan dengan daya tarik tersendiri dan aksesibilitas yang tinggi. G).

Gambar 2.2 Interaksi Transportasi dan Tata Ruang
Gambar 2.2 Interaksi Transportasi dan Tata Ruang

Kinerja Pelayanan

  • Teori kinerja
  • Teori Pelayanan Publik
  • Teori Kepuasan

Perspektif pengguna yang sesuai dengan kebutuhannya adalah: cepat, nyaman, jadwal tetap, tingkat kemajuan yang sesuai. Perspektif bagi operator untuk menyesuaikan kebutuhan mereka adalah: frekuensi perjalanan, kapasitas, biaya operasi dan sistem perencanaan.

Efektifitas Kebijakan Transportasi Perkotaan

  • Efektifitas
  • Kebijakan Transportasi
  • Tujuan Kebijakan Transportasi
  • Kuantitas Pelayanan
  • Kualitas pelayanan

Pengembangan manajemen transportasi perkotaan untuk mencapai efisiensi dan kualitas layanan yang lebih tinggi dengan. Kualitas pelayanan merupakan penilaian terhadap tingkat pelayanan yang diterima terhadap harapan yang dirasakan, sedangkan menurut Suwithi dalam Anwar (2002:84) Kualitas pelayanan adalah kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal berdasarkan prosedur standar pelayanan.

Bus Rapid Transit (BRT)

  • Bus Trans Mamminasata
  • BRT di Indonesia

Jalan Raya Jalan yang digunakan oleh sistem BRT adalah jalan raya, umumnya satu atau dua jalur (tergantung kondisi jalan yang ada) digunakan sebagai jalur khusus untuk sistem BRT, yang tidak boleh diakses oleh kendaraan lain. Keberhasilan di Bogota adalah contoh di Indonesia untuk menerapkan desain dan sistem BRT ini, BRT di Indonesia mulai beroperasi pada tahun 2004 di kota Jakarta, yang dikenal dengan Bus Trans Jakarta, di jalur khusus. Dengan demikian, program pemerintah tersebut menjadi contoh di kota-kota besar di Indonesia dengan sistem dan desain yang mengikuti kondisi fisik berbagai sarana dan prasarana perkotaan.

Implementasi sistem BRT di wilayah Mamminasata sudah direncanakan oleh walikota saat itu sejak tahun 2007, namun tidak dapat terealisasi, sehingga Bus Trans Mamminasata pertama kali beroperasi pada Maret 2014. Penggunaan Bus Rapid Transit (BRT) di Indonesia dimulai di kota Jakarta sebagai solusi transportasi massal, cara nyata dan efisien untuk mengatasi masalah transportasi di ibu kota. Transjakarta merupakan sarana transportasi menuju masyarakat Jakarta yang tertib dan disiplin, dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai dan dipatuhi oleh seluruh masyarakat.

Namun bila digunakan dengan sarana dan prasarana yang berbeda di setiap kota, hal ini tergantung dari tata ruang kota itu sendiri.

Tabel 2.1 Koridor Bus Trans Mamminasata
Tabel 2.1 Koridor Bus Trans Mamminasata

Penelitian Terdahulu

Roadmap Penelitian

  • Kerangka Pikir

Angkutan umum perkotaan yaitu penyelenggaraan kegiatan pelayanan angkutan perkotaan yang efektif dan efisien, dalam arti lancar, aman, mempunyai daya tampung yang cukup, menyeluruh, bertanggung jawab, terjangkau oleh daya beli masyarakat dan nyaman, merupakan salah satu fungsi utamanya. perkotaan (Adisasmita, 2011; 74). Dalam elemen yang memegang peranan penting tersebut, pemerintah sebagai regulator harus mampu menyelenggarakan pelayanan transportasi nasional secara efektif dan efisien (Adisasmita, 2011; 57). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa jasa transportasi merupakan suatu kegiatan di bidang transportasi yang menguntungkan dalam suatu kelompok (organisasi) dan memberikan kepuasan kepada pelanggan (masyarakat).

Sistem pergerakan transportasi menurut Kusbiantoro, dkk. 2005) mengungkapkan bahwa semakin tinggi kuantitas dan kualitas penduduk di suatu wilayah tertentu. Maka penelitian ini mencari pengaruh kinerja pelayanan terhadap sistem pergerakan transportasi berdasarkan karakteristik pengguna, tujuan pergerakan, asal dan tujuan perjalanan, waktu tempuh, jarak tempuh, perpindahan moda dan pilihan moda. Penyelenggaraan kegiatan pelayanan transportasi secara nasional dan sektoral diselenggarakan secara sistemik, yang berfungsi untuk meningkatkan terciptanya kelancaran transportasi orang, barang, dan jasa serta membantu mendukung pembangunan suatu wilayah (Adisasmita, 2011; 63).

Sehingga kebijakan transportasi disebut efektif apabila tujuan tersebut dapat dicapai dengan menyediakan pelayanan transportasi yang efektif, efisien dan ekonomis.

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
    • Lokasi
    • Waktu Penelitian
  • Populasi dan Sampel
    • Populasi
    • Sampel
  • Instrumen Penelitian
  • Vaiabel Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknis Analisis Data
    • Analisis Deskriptif
    • Regresi Linear Berganda
    • Definisi operasional

Analisis kinerja pelayanan menurut perspektif operator (penyedia layanan) dan perspektif pengguna Bus Trans Mamminasata Koridor 3 diperoleh dari hasil survei analisis dan analisis data. Data waktu antar kendaraan diperoleh dari hasil survei statis di halte yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Data waktu sirkulasi diperoleh dari hasil survei dinamis yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Data frekuensi yang diperoleh dari hasil survei statis di halte dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Data tingkat ketersediaan diperoleh dari hasil survei statis sehingga diperoleh hasil pada tabel di bawah ini. Data hasil karakteristik pengguna diperoleh dari hasil wawancara dengan 100 pengguna Bus Trans Mamminasata Koridor 3, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.

Data jarak tempuh diperoleh dari hasil wawancara dengan 100 pengguna Bus Trans Mamminasata yang melayani Koridor 3, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.

Gambar 3.1 Rute Koridor 3
Gambar 3.1 Rute Koridor 3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  • Gambaran Umum Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Gambaran Umum Perusahaan Umum (Perum) Damri Kota Makassar
  • Struktur Ruang Kawasan Mamminasata
  • Kinerja Operasi BRT Mamminasata pada Koridor 3
  • Kinerja Pelayanan Bus Trans Mamminasata pada Koridor 3

Kajian ini berfokus pada Koridor 3 dengan hasil penelitian penyediaan layanan transportasi perkotaan yaitu bus Trans Mamminasata di Wilayah Mamminasata. Hasil survei yang diperoleh meliputi kinerja operasional bus Trans Mamminasata koridor 3 yaitu load factor, waktu antar kendaraan, waktu berhenti kendaraan, waktu tempuh, kecepatan perjalanan, waktu sirkulasi, frekuensi, jarak antar halte, ketersediaan level, waktu pelayanan, umur kendaraan dan biaya operasional kendaraan. Koordinasi, pemantauan, pengendalian dan evaluasi kebijakan teknis sarana, prasarana dan keselamatan jalan di wilayah Mamminasata.

Data dari survei dinamis adalah data yang diperoleh dari hasil survei di dalam kendaraan untuk menentukan jumlah penumpang, waktu berhenti kendaraan, waktu tempuh setiap pemberhentian, waktu tempuh, kecepatan perjalanan, waktu sirkulasi dan kapasitas kendaraan. Data wawancara pengemudi merupakan data yang diperoleh dari wawancara dengan pengemudi bus Trans Mamminasata yang melayani Koridor 3 untuk mendapatkan kinerja operasional Bus Trans Mamminasata seperti data jumlah penumpang pada hari kerja dan hari libur, waktu kendaraan berhenti.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi UPT Transportasi Mamminasata
Gambar 4.1 Struktur Organisasi UPT Transportasi Mamminasata

Hasil Penelitian

  • Deskripsi Hasil Kinerja Pelayanan Bus Trans Mamminasata
  • Deskripsi Hasil Sistem Pergerakan

Tabel di atas menunjukkan bahwa waktu berhenti kendaraan tertinggi pada hari libur (Minggu) adalah 1 menit 28 detik dan terendah pada hari biasa (Senin) adalah 32 detik dengan rata-rata waktu berhenti 54 detik. Waktu tempuh per halte diperoleh dari hasil kajian dinamik dengan mengukur waktu tempuh dari satu halte ke halte berikutnya, sehingga rata-rata waktu tempuh per halte dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel di atas menunjukkan bahwa waktu tempuh tertinggi pada hari kerja (Kamis) adalah 1 jam 45 menit 19 detik dan terendah pada hari libur (Minggu) adalah 1 jam 29 menit 38 detik dengan rata-rata waktu tempuh 1 jam 39 menit 5 detik.

Dari tabel di atas diketahui bahwa kecepatan tempuh rata-rata tertinggi pada hari libur (Minggu) adalah 24 km per jam dan terendah pada hari kerja (Kamis) adalah 21 km per jam dengan kecepatan tempuh rata-rata 22 km per jam. Data rata-rata jumlah armada yang diperoleh dari hasil survei statis adalah 7 unit dengan rata-rata kapasitas moda 100 tempat duduk. Dari tabel di atas diketahui bahwa rata-rata load factor tertinggi adalah pada hari libur kerja sebesar 25%, sedangkan rata-rata load factor terendah adalah pada hari kerja.

Dari tabel di atas terlihat bahwa masing-masing pengemudi memiliki downtime rata-rata antara lalu lintas normal dan lalu lintas padat yaitu 97 detik, sehingga downtime tersebut menunjukkan operasi yang kurang efisien dibandingkan Standarisasi Sarana dan Prasarana BRT tahun 2012 yaitu 20 -40 detik. detik. Tabel di atas menunjukkan bahwa kecepatan perjalanan tertinggi pada lalu lintas normal adalah 47 km/jam, sedangkan kecepatan perjalanan terendah pada lalu lintas padat adalah 30 km/jam dengan kecepatan perjalanan rata-rata 38 km/jam. Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata usia bus Trans Mamminasat yang beroperasi di koridor tersebut adalah 3,4 tahun.

Tabel 4.43 Waktu Henti Kendaraan
Tabel 4.43 Waktu Henti Kendaraan

Hasil Pengujian Hipotesis

  • Pengujian Persyaratan Analisis
  • Pengaruh Kinerja Pelayanan terhadap Sistem Pergerakan

Besar kecilnya hubungan dan pengaruh kinerja pelayanan terhadap sistem pergerakan dapat dilihat secara parsial (sendiri-sendiri) berdasarkan hasil uji-t, sedangkan hubungan variabel secara simultan (bersama-sama) dilihat berdasarkan hasil uji F. Om untuk melihat pengaruh antara variabel kinerja pelayanan terhadap karakteristik pengguna berdasarkan hasil uji regresi, sedangkan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Selanjutnya kesimpulan pengaruh variabel kinerja pelayanan terhadap karakteristik pengguna berdasarkan hasil uji-t dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Dari hasil uji F di atas diketahui pengaruh variabel bebas (8 indikator) menunjukkan nilai Fhitung sebesar 1,256 < Ftabel sebesar 2,04 dengan nilai signifikansi gt; 0,05, maka dari 8 indikator kinerja pelayanan tidak ada pengaruh secara simultan terhadap karakteristik pengguna. Sedangkan untuk melihat pengaruh antara variabel kinerja pelayanan terhadap niat berwisata berdasarkan hasil uji regresi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dari hasil analisis di atas diketahui bahwa nilai signifikansi dari 8 indikator menunjukkan nilai > 0,05 dan thitung < tabel sebesar 1,98638 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh variabel kinerja pelayanan (X) terhadap tujuan dengan perjalanan (Y2).

Selanjutnya kesimpulan mengenai pengaruh variabel kinerja pelayanan terhadap niat berwisata berdasarkan hasil uji t dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Pembahasan Hasil Penelitian

  • Kinerja Pelayanan Bus Trans Mamminasata pada Koridor 3
  • Efektifitas Implementasi Kebijakan Bus Trans Mamminasata pada Koridor

Sintesis Hasil Penelitian

  • Kinerja Pelayanan Bus Trans Mamminasata dan pengaruhnya terhadap
  • Efektifitas Implementasi Kebijakan Transportasi Publik Perkotaan

Temuan Penelitian

PENUTUP

KESIMPULAN

Hasil pengolahan data kinerja pelayanan bus Trans Mmminasata diperoleh dari hasil wawancara tertutup dengan 100 responden dengan rincian sebagai berikut. Data waktu halte diperoleh dari hasil survei dinamis di setiap halte. Data kecepatan perjalanan diperoleh dari hasil survey dinamis berdasarkan waktu tempuh dibagi dengan jarak tempuh, sehingga hasilnya ditampilkan pada tabel di bawah ini.

Dengan demikian, rasio pengoperasian Bus Trans Mamminasata di Koridor 3 menunjukkan kinerja yang kurang efektif menurut standar Bank Dunia (1986), yaitu. Data waktu tempuh berdasarkan lalu lintas normal dan lalu lintas padat yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pengemudi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Data waktu sirkulasi berdasarkan lalu lintas normal dan lalu lintas padat diperoleh dari hasil wawancara dengan pengemudi seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Sehingga kondisi pengoperasian bus Trans Mamminasata Koridor 3 menunjukkan kinerja yang kurang efisien sesuai standar Bank Dunia tahun 1986 yaitu. Data keteraturan pelayanan berdasarkan jumlah hari mengemudi, ketepatan jadwal keberangkatan dan ketepatan jadwal kedatangan diperoleh dari hasil wawancara dengan 6 pengemudi bus Trans Mamminasata yang melayani koridor 3, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut. Data ekstensif telah diperoleh dari wawancara dengan 100 responden, yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Data asal dan tujuan berdasarkan kelurahan diperoleh dari hasil wawancara dengan 100 pengguna bus Trans Mamminasat koridor 3 dari bandara ke terminal Palangga dan sebaliknya dari terminal Palangga ke bandara, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut. Data pemilihan moda berdasarkan pilihan pengguna sebelum atau sesudah menggunakan Bus Trans Mamminasata diperoleh dari hasil wawancara.

Tabel 2.4 Tabel Roadmap Penelitian
Tabel 2.4 Tabel Roadmap Penelitian

SARAN

Gambar

Lampiran 5. Tabel distrubusi t dan distribusi F
Gambar 2.2 Interaksi Transportasi dan Tata Ruang
Tabel 2.4 Tabel Roadmap Penelitian
Gambar 3.1 Rute Koridor 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan metode wawancara terhadap 10 responden mahasiswa sarjana keperawatan, didapatkan data 4 dari responden mengatakan

Dari hasil wawancara terhadap 75 responden didapatkan data bahwa 75 orang (100%) berpendapat bahwa faktor pelayanan kesehatan sudah baik.Dalam penelitian ini

Dari tabel di bawah dapat diketahui bahwa 4,2% responden memberikan penilaian kurang puas terhadap Kemudahan mendapatkan informasi Kegiatan Penulisan dan Peluncuran Buku

Dari tabel diatas dijelaskan bahwa dominan responden menjawap setuju bergabung dengan facebook dapat menambah wawasan dengan berbagai informasi yang disaji sebanyak

Dari hasil uji tingkat pengetahuan pada Tabel 4.4, didapatkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, yaitu 65 orang (85,5%) artinya mayoritas responden

Dari hasil wawancara terhadap 75 responden didapatkan data bahwa 75 orang (100%) berpendapat bahwa faktor pelayanan kesehatan sudah baik.Dalam penelitian ini

45 Berdasarkan Tabel 14, dapat diketahui bahwa besarnya jumlah produksi yang didapatkan petani responden dari usahatani jagung hibrida lahan kering di Desa Timbuseng Kecamatan

59 Dari tabel diatas dominan responden menjawab sangat bagus yaitu sebanyak 18 responden 60%, yang menjawab bagus yaitu sebanyak 4 responden 13,3%, yang menjawab cukup bagus yaitu