• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PERALATAN PROSES DAN INSTRUMENTASI

5.6. Stasiun Putaran dan Penyelesaian

8. Continous vacuum pan

Jumlah :1 buah

Kapasitas :48 m3/jam

D. badan :4980 mm

Panjang (inside and plate) :17.310 mm calandria

Tebal dinding :16 mm

D. manhole :600 mm (2buah)

D. Tube :100 mm

Panjang tube :1500 mm

Tap capcity :6 ton/batch

Ketelitian :+/- 0,3%

Fungsi :Menimbang tetes (final molasses)

3. HGP – TSK

Tipe :fully automatic centrifugal

Diameter basket :1350 mm

Tinggi basket :1000 mm

Kecepatan putaran basket :1200 rpm Ukuran lubang ayakan :1,88 mesh

Kapasitas :1300 kg

Power :380 volt

Fungsi :Memisahkan antara gula produk

dengan stroop A (molasses A)

Prinsip kerja :Masakan A masuk dalam HGF – TSK dan diputar dengan kecepatan yang telah diatur dengan bantuan air dan steam untuk membersihkan stroop A.

4. LGF – BMA

Tipe :BMA – K 1300

Kapasitas :8 – 12 ton/jam

Diameter basket :2150 mm

Tinggi basket :1340 mm

Kecepatan putaran basket :2000 rpm Ukuran lubang ayakan :1,88 mesh

Power :380 V

Fungsi :Memisahkan antara gula C dengan

stroop C

Prinsip kerja :Masakan B masuk dalam LGF – BMA dan diputar dengan kecepatan

yang telah diatur dengan bantuan air dan vacuum untuk membersihkan stroop C.

5. LGF – BMA

Tipe :Hein Lehmann 10 DC

Diameter basket :1,04 m

Tinggi basket :550 mm

Kecepatan putaran basket :1600 rpm Ukuran lubang ayakan :0,06 mm

Power :55 KW

Prinsip kerja :Gula D dipisahkan dari tetes dengan cara memutar basket, dimana basket tersebut berbentuk miring sehingga masakan D akan naik secara otomatis ke atas dan gula akan turun ke bak penampung sedangkan tets akan keluar menuju tangki penampungan.

6. Sugar Elevator

Jumlah :1 buah

Tipe :vertikal

Kapasitas :25 ton/jam

Panjang antara sprocket :9 m

Motor :5,5 KW

Fungsi :Mengangkut gula menuju ke sugar

cooler

7. Sugar cooler

Jumlah :1 buah

Tipe :CBM

Lebar :1000 mm

Panjang :14.000 mm Suhu udara pendingin :29oC – 30oC Tekanan udara pendingin :100 mm H2O

8. Sugar dryer

Jumlah :1 buah

Tipe :Vibrating tray

Kapasitas :30 ton gula/jam

Lebar :1.000 mm

Panjang :15.000 mm

9. Vibrating screen

Jumlah :1 buah

Tipe :Vibrating sleve

Kapasitas :30 ton gula/jam

Material screen :stainless steel

Ukuran screen :9 mesh – 20 mesh

Motor :5,5 KW

Fungsi :Mengayak gula

10. Sugar Weighter

Jumlah :3 buah

Weighting value :50 kg

Kapasitas pengepakan :800 karung/jam (50 kg/karung)

Ketelitian :+/- 1/1.000

Fungsi :Menimbang gula produk yang akan

dikemas dalam karung

11. Sugar Conveyor

Jumlah :2 buah

Kapasitas :@25 ton/jam

Lebar :600 mm

Panjang :18.500 mm

Motor :2,2 KW

Fungsi :Mengangkut gula produk menuju ke

sugar Bin 12. Sugar Bin

Jumlah :3 buah

Kapasitas :2 buah @200 ton dan 1 buah @100

ton

Fungsi :Penyimpanan gula

BAB VI

PRODUK DAN PENGENDALIAN MUTU

6.1. Produk

PT. Buma Cima Nusantara Pabrik Gula Bungamayang menghasilkan dua jenis produk yaitu produk utama dan produk samping. Produk utama yang dihasilkan adalah kristal gula sedangkan produk sampingnya berupa molasses atau tetes tebu, ampas tebu, ampas dan blotong.

6.1.1. Produk Utama

Produk utama dari PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang adalah gula dengan jenis Gula Kristal Putih (GKP) dengan kadar pol sekitar 99,98 % dan besar butiran kristal antara 0,8 mm sampai 1,2 mm.

6.1.2. Produk Samping

PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang menghasilkan produk samping yang memiliki daya guna yang sangat tinggi dan ramah lingkungan antara lain: tetes (molasses), ampas tebu (bagasse),abu dan blotong (filter cake).

1. Tetes (molasses)

Tetes yang masih mengandung sukrosa sekitar 30-35% sangat potensial bagi industri yang memproduksi etanol dan penyedap rasa (MSG). Karena itulah, produk samping ini sangat mudah dipasarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Karakteristiknya diuraikan pada tabel 11 dan 12 berikut :

Tabel 11. Komposisi Kimia Tetes

Komponen Prosentase (%)

Air 17-25

Sukrosa 30-40

Dextrose (Glukosa) 4-9

Levulose (Fruktosa) 5-12

Kadar reduksi lainnya 1-5

Karbohidrat lainnya 2-5

Kadar abu 7-12

Senyawa-senyawa nitrogen 2-6 Asam-asam non nitrogen 2-8 Wax, sterols dan phospholipids 0,1-1 Sumber: Vademecum Tanaman Tebu, 1999

Tabel 12. Kandungan Abu dalam Tetes

Komponen Prosentase (%)

Basa

a. K2O b. CaO c. MgO d. Na2O

e. Fe2O3/ Al2O3

4,8 1,2 0,98 0,10 0,12

Asam

a. SO3

b. Cl c. P2O5

d. SiO2 dan zat tak terlarut

1,8 1,8 0,6 0,6 Sumber: Vademecum Tanaman Tebu, 1999

2. Ampas Tebu (Bagasse)

Ampas tebu PT Perkebunan Nusantara VII Pabrik Gula Bungamayang dimanfaatkan untuk bahan bakar ketel uap sebagai pembangkit tenaga listrik yang dapat memenuhi kebutuhan listrik seluruh bagian yang ada

di PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang. Prosentase ampas tebu dapat dilihat pada tabel 6.3.

Tabel 13. Persentase Komponen Tebu Setelah Diekstraksi Komposisi Prosentase (%)

Ampas tebu 30-33

Blotong 1,2-1,5

Tetes 3,5

Kadar gula 7-12

Kadar air 45-60

Sumber: PTPN7 Bungamayang

3. Abu

Abu yang dihasilkan dari pembakaran ampas tebu di ketel uap(boiler) oleh PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dapat membantu pertumbuhan tebu karena masih mengandung unsur hara. Dalam penggunaannya sebagai pupuk tanaman, abu ini dikombinasikan (dicampur) dengan ampas tebu dan blotong.

4. Blotong

Blotong mengandung unsur hara yang cukup tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang sangat membantu pertumbuhan tebu. Blotong ini merupakan sebagian hasil yang diperoleh dari proses yang terjadi di rotary vaccum filter. Komposisi blotong yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 6.4.

Tabel 14. Komposisi Blotong

Komponen % Bahan kering

Lilin dan lemak (lipids) 5 – 12

Fibre 15 – 30

Gula 5 – 15

Komponen % Bahan kering

Protein 5 – 15

Total Abu 9 – 20

SiO2 4 – 10

CaO 1 – 4

P2O5 1 – 3

MgO 0,5 – 1,5

Sumber : Sugiarto, Yan. 1986

6.2. Pengendalian Mutu

Salah satu cara yang dilakukan PT Perkebunan Nusantara VII untuk meningkatkan kualitas produknya adalah dengan melakukan pemeriksaan pada bahan dasar, bahan antara dan produk.

6.2.1. Pemeriksaan Bahan Dasar

Pemeriksaan bahan dasar tebu dimulai dari pasca pemanenan tebu.

Pada pemeriksaan bahan dasar parameter yang dianalisa adalah brix, pol, trash (kadar kotoran), persen fiber, kesegaran tebu, dan rendemen. Hasil analisa dibandingkan dengan nilai standar yang digunakan oleh perusahaan agar dapat diketahui mutu dari tebu yang dipanen. Nilai standar yang digunakan dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel 15. Nilai Standard Pemeriksaan Bahan Dasar Nilai Standard Tahun 2010 Kadar kotoran (trash) <5%

Kadar serat (fiber) <14,5 % First Exp. Juice (dex/brix) <10%

Mixed juice (dex/brix) <10%

Retensi tebu <24 jam

Sumber: Hasil analisis laboratorium PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang 2010.

6.2.2. Pemeriksaan Bahan Proses

Pemeriksaan bahan merupakan salah satu faktor untuk mengetahui kualitas dari produk yang dilakukan dilaboratorium. Pemeriksaan ini meliputi beberapa unit proses, yaitu:

a. Pemeriksaan di stasiun diffuser and mill, meliputi:

- Nira mentah (Mixed Juice) analisa yang dilakukan anatara lain pol, brix, pH, kadar gula reduksi, dan kadar pospat.

- Nira perahan pertama DD Mill(First Expressed Juice), dimana yang dianalisa meliputi pol, brix, pH, dan kadar gula reduksi.

- Nira gilingan terakhir (Last Expressed Juice) dianalisa adalah pol, brix, dan pH.

- Ampas Tebu, yang dianalisa adalah pol ampas dan zat kering ampas.

b. Pemeriksaan di unit pemurnian, meliputi :

- Filter Cake (blotong) yaitu menganalisa pol, kadar air, dan kadar abu.

- Nira encer (Clear Juice) yang dianalisa antara lain pol, brix, pH, kadar gula reduksi, kadar CaO, kadar pospat, dan warna.

- Nira kotor (mud), filtrat kotor (Heavy Filtrat), dan filtrat jernih (Light Filtrat) analisa yang dilakukan yaitu pol, brix, dan pH.

c. Pemeriksaan di stasiun masakan, meliputi:

- Masakan A, C, dan D, yang dianalisa adalah pol, dan brix larutan.

- Pemeriksaan terhadap jumlah material yang tersedia

Pemeriksaan ini berkaitan erat dengan waktu dan cara pemasakan yang digunakan, dengan tujuan akhir agar tidak terjadi kelebihan jumlah bahan tertentu untuk jenis material tertentu dan kekurangan bahan untuk jenis material yang lain.

d. Pemeriksaan pada stasiun putaran

Pada unit ini analisa dilakukan pada warna gula yang dihasilkan dan tebal tipisnya masakan yang harus dipisahkan atau diputar untuk masakan A, dan C serta jumlah air siraman yang diberikan. Tujuannya untuk mengetahui kadar gula yang hilang dan kandungan gula dalam tetes.

6.2.3. Pemeriksaan Produk

Dalam menentukan mutu produk dibutuhkan analisa laboratorium produk. Dimana gula produk dianalisa dengan nilai standar seperti yang ditunjukkan pada tabel 6.6

Tabel 16. Nilai standard pemeriksaan produk

Analysis Record PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang Nilai Standard Nilai standar

Pol >99,5 %

Moisture 0,1 %

Warna Larutan <300 Berat jenis 1,606 gr/cm3 Temperatur <40oC

Kadar SO2 <30ppm

BAB VII

UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH 7.1. Utilitas

Stasiun utilitas merupakan unit yang sangat berperan dalam kelancaran proses produksi. PTPN VII Distrik Bungamayang memiliki 4 stasiun utilitas, yaitu :

7.1.1. Stasiun Boiler (Ketel)

Stasiun pembangkit tenaga uap ini berfungsi sebagai pembangkit uap yang akan digunakan sebagai tenaga penggerak turbin-turbin yang ada di PG Bungamayang. Tekanan kerja operasional PG Bungamayang adalah 20 kg/cm2. Jenis boiler yang dipakai di PTPN VII Unit Usaha Bungamayang adalah ketel uap pipa Yoshimine Water Tube Boiler dengan spesifikasi sebagai berikut :

Tipe dan jumlah :H 1600 S x 2 unit :H 2200 S x 2 unit Kapasitas :60 ton/jam (2 unit)

:80 ton/jam (2 unit) Tekanan desain :24 kg/cm2

Tekanan kerja :20 – 21 kg/cm2

Bahan bakar yang umum digunakan adalah ampas tebu yang keluar dari gilingan terakhir. Jika sistem transportasi ampas terjadi gangguan, ampas habis, fluktuasi beban yang terlalu besar, ampas basah serta ampas mengandung pasir maka bahan bakar akan disuplay dari bagasse storage.

Di PTPN VII PG Bungamayang khususnya, dan pabrik gula pada umumnya air yang digunakan untuk pengisi ketel/boiler adalah air

yang berasal dari kondensat hasil dari kondensasi uap yang dipakai di stasiun penguapan dan masakan. Namun pada saat-saat tertentu, air sumur atau air sungai dipergunakan, dimana air tersebut sebelumnya telah melalui water treatment. Penggunaan air sumur atau air sungai yaitu saat awal giling, atau pada saat sistem pengaman penyaluran air kondensat mengalami gangguan dan terjadinya kekurangan air kondensat.

Pertama, air dari sumber alam disaring disaringan pasir (sand filter) yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran koloid. Kemudian air mengalami pelunakan air yang dilakukan di water softener yang bertujuan untuk menurunkan kesadahan air hingga menjadi 0.

Adapun standar air yang disyaratkan terdapat pada tabel 17.

Uap yang dihasilkan oleh boiler Yoshimine ini bertekanan 20 – 21 kg/cm2 dengan suhu 325oC. Sedangkan abu hasil pembakaran ditangkap oleh dust collector yang kemudian dikirim kelahan tebu

Tabel 17. Standar air yang disyaratkan boiler Yoshimine PG Bungamayang

Macam Analisis Air Pengisi

Air

Softener Air Ketel

Total hardness (ppm) 0,1 0,1 0,1

P. Alkalinity (ppm) 100 100 120

M. Alkalinity (ppm) 120 120 150

pH 8,5-9,0 7-9 10,5-11,0

Konduktivity (ppm) - - -

Kadar klorida (ppm) 50 50 <100

Kadar silikat (ppm) 25 25 <50

Kadar sulfit (ppm) - - 5-10

Kadar pospat (ppm) - - 5-15

Gula Negatif Negatif Negatif

Macam Analisis Air Pengisi

Air

Softener Air Ketel TDS (total disolved

solid) - - <700

Sumber: data operasi alat PTPN VII PG Buma

7.1.2. Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik (Power House)

Stasiun ini berfungsi sebagai pusat listrik yang memasok energi listrik ke berbagai komponen yang merupakan bagian dari PTPN VII PG Bungamayang. Stasiun ini membagi kerjanya dalam dua bagian yaitu :

a. Dalam Masa Giling

Pada saat operasi normal dalam masa giling (DMG), tenaga listrik yang digunakan dihasilkan dari turbin generator.

Sedangkan saat awal giling atau keadaan darurat tenaga listrik yang diperlukan diperoleh dari diesel generator. Kapasitas rata- rata penggunaan daya listrik saat DMG adalah sebesar 5300 kW.

Maka untuk memasok energi listrik sebesar itu, PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang tersedia 3 unit turbin generator yang mana turbin yang digunakan yaitu 2 buah turbin dengan kapasitas energi listrik masing-masing 4500 kVA dan 6000 kVA. Dimana turbin-turbin itu menggunakan steam yang berasal dari stasiun boiler sebagai penggerak motor listriknya dengan tekanan operasi 19- 20 kg/cm2 dan suhu operasi 400oC.

b. Luar Masa Giling

Saat di luar massa giling, sumber energi listrik dipasok dari 1 unit diesel generator dengan kapasitas 1100 kVA.

7.1.3. Stasiun Instrumentasi

Suatu proses produksi dapat berjalan sesuai dengan yang dikehendaki bila peralatan yang dipakai dapat berfungsi dengan baik. Dimana stasiun instrumentasi merupakan stasiun pendukung kelancaran operasional pabrik yang bertugas menyediakan dan melayani sistem pengendalian dan pengamanan bagi seluruh peralatan dan mesin maupun proses secara otomatis dan akurat.

Sistem instrumentasi yang digunakan meliputi sistem pneumatis, elektris, elektronis, dan hidrolis. Di PTPN VII PG Bungamayang sebagian besar menggunakan sistem pneumatis.

7.1.4. Stasiun Workshop

Stasiun Workshop merupakan stasiun pendukung yang menunjang operasional pabrik. Di PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang mempunyai unit yang bertugas untuk mengadakan pemeliharaan, perawatan, modifikasi hingga pembuatan peralatan dimana stasiun ini berfungsi dan bertugas dalam memberikan pelayanan perbaikan terhadap seluruh komponen peralatan utama maupun pendukung di pabrik, baik itu pada saat masa giling maupun diluar masa giling.

Stasiun ini juga berperan dalam pembuatan alat-alat yang spesifikasinya terjangkau dengan tujuan untuk mengurangi dana operasional pabrik seperti pipa, tangki, screw atau penggantian peralatan yang telah rusak. Selain itu, stasiun ini juga melayani pelayan umum seperti pembuatan papan plang atau simbol, dll.

Stasiun ini memiliki 3 pelayanan yaitu kerja mekanik, kerja mesin, las dan plat.

7.2. Sistem Penanganan Limbah

PTPN VII Pabrik Gula Bungamayang dalam proses produksinya menghasilkan produk utama dan produk samping. Produk sampingnya berupa limbah, dimana limbah yang dihasilkan oleh PTPN VII PG Bungamayang dapat dikelompokkan menjadi empat , yaitu limbah padat limbah cair, dan limbah udara/emisi udara.

7.2.1. Limbah Padat

Limbah padat yang dihasilkan adalah : - Ampas tebu = 30,35% ton tebu - Cake (blotong) = 1,05 % ton tebu - Abu boiler = 0,85% ton tebu

Limbah padat berupa ampas tebu sebanyak 28,5% digunakan sebagai bahan bakar boiler dan sisanya sekitar 1,85% ditampung di bagasse storage untuk cadangan bahan bakar jika terjadi kekurangan pasok tebu. Sedangkan limbah padat lain berupa blotong dan abu ketel dikomposkan kemudian digunakan sebagai pupuk organik untuk menambah zat hara atau memperbaiki struktur tanah.

7.2.2. Limbah Cair

Limbah cair yang dihasilkan merupakan limbah bahan organik dan bukan limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3).

Penanganan limbah cair Pabrik Gula Bungamayang mengutamakanpenggunaan Unit Pengolahan Limbah Cair (UPLC) dengan sistem :

- Lagoon

Logoon yaitu sistem pengurai (degradasi) bahan organik dengan tidak hanya mengandalkan pada jumlah mikroba, melainkan lebih bertumpu pada waktu tinggal (detention time).

Alasan menggunakan sistem ini karena PTPTN VII Pabrik Gula Bungamayang memiliki lahan yang cukup luas, pengawasannya lebih sederhana dan biaya perawatan yang relatif murah.

- Aerobic

Sistem ini bersifat mentransfer udara ke dalam air limbah dengan Turbo Jet Aerator.

- Anaerobic

Sistem ini digunakan untuk menguraikan limbah dengan kandungan polutan bahan organik tinggi. Kolam dirancang dengan kedalaman > 5 m untuk menguraikan bahan organik secara anaerob.

Tujuan Penanganan Limbah Cair

Tujuan utama penanganan dan pengolahan limbah cair adalah untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan polutan yang terdapat dalam air limbah, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan khususnya pada badan air.

a. Penanganan awal

Upaya yang dilakukan dalam penanganan awal yaitu dilakukan dengan penanganan sumber polutan di dalam pabrik yang lazim disebut dengan In-House Keeping (IHK), yaitu :

- Mencegah bocoran tumpahan nira tebu atau larutan gula dari peralatan

- Unit Oil Trapped (pemisah minyak), diletakkan pada daerah yang mana merupakan titik terdekat dengan pipa effluent polutan yang mengandung minyak pelumas agar dapat segera memisahkan minyak dari air sebelum minyak teremulasi ke dalamnya. Minyak pelumas yang terperangkap, diambil, dikumpulkan dan ditampung di TPS Limbah B-3.

b. Penanganan melalui Unit Pengolahan Limbah(UPL) I, II, dan III

- UPL I

Berfungsi sebagai persiapan air limbah agar dapat diproses secara biologis. UPL I terdiri dari kolam sedimentasi, cooling pond, kolam netralisasi dan equalisasi. Luas areal ± 0,8 Ha dengan kapasitas tampung 20.000 m3. Perlakuan di UPL I meliputi pemberian kapur, Ca(OH)2 dan aerasi menggunakan Turbo Jet Aerator. Lama waktu tinggal di UPL I yaitu sekitar 17 hari.

- UPL II

Berfungsi sebagai pengolah limbah secara anaerob, fakultatif, dan aerob dengan pengolahan secara anaerob dan luas areal yang dipakai ± 1,7 Ha. Kapasitas tampung 74.000 m3 dan lama waktu tinggal sekitar 62 hari.

- UPL III

Berfungsi sebagai penampung olahan limbah dengan luas areal ± 2,5 Ha. UPL III berupa lagoon dan memiliki kapasitas tampung 40.000 m3 serta waktu tinggal sekitar 40 hari. Pada UPL III air limbah yang sudah diproses digunakan kembali (re-use) melalui “Pompa Recycle” untuk kebutuhan air injeksi di dalam pabrik dan dipompa ke penampungan limbah di lokasi sekitar perkebunan tebu (lebung) sesuai Surat Izin Pembungan Limbah Cair Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Lampung Utara No. 660.1/439/31-LU/2009 tanggal 3 September 2009. Air hasil olahan juga digunakan sebagai cadangan air penyiraman tanaman tebu saat musim kemarau. Dengan demikian Unit Usaha Bungamayang tidak

membuang air limbah ke Badan sungai, sehingga tidak ada pencemaran pada aliran sungai “Zero Discharge”.

7.2.3. Limbah Gas

Limbah gas sebagian besar dihasilkan dari Stasiun Boiler, Stasiun Pemurnian, dan Stasiun Penguapan. Kandungan limbah gas yang terbanyak adalah SO2, CO2, dan amoniak, sebagai hasil pembakaran baggase atau sisa proses pengapuran dan sulfitasi. Di Stasiun Boiler limbah gas banyak mengandung SO2 dan CO2 yang berasal dari produk samping pembakaran ampas tebu, di Stasiun Pemurnian limbah gas mengandung amoniak, SO2, dan CO2 yang merupakan hasil flashing nira panas yang akan diendapkan di single tray clarifier, sedangkan di Stasiun Penguapan limbah gas mengandung amoniak, SO2, dan CO2 yang merupakan noncondensable gas yang dikeluarkan dari kalandria evaporator.

Sampai saat ini limbah gas PG Bungamayang belum diolah dengan optimal, perlakuan yang diberikan hanyalah dengan memasang dust collector di cerobong asap yang bertujuan menangkap debu yang ada dalam gas buang.

BAB VIII LOKASI PABRIK

8.1. Lokasi

PT. Perkebunan NusantaraVII Distrik Bungamayang merupakan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang perkebunan yang berada di kecamatan Bungamayang Kabupaten Lampung Utara. Tepatnya .pada 140o57’ bujur timur dan 4o22’ lintang selatan dengan ketinggian 10 – 50 meter dpl dengan topografi bergelombang dengan kemiringan 0o–8o. Sedangkan kantor Direksi PTPN VII Distrik Bungamayang berada di Bandar Lampung. Total luas wilayah yang dikelola sebelum era reformasi mencapai 19574,44 ha, dan sejak 1999 (era reformasi) luas kebun produksi dan bibit sekitar 7500 ha.

8.2. Kondisi Tanah dan Iklim

Tanah di wilayah kerja PT. Perkebunan Nusantara VII Distrik Bungamayang termasuk jenis tanah ultisol (podsolik merah kuning dan podsolik coklat kekuningan) dengan lapisan topsoil yang tipis antara 5 – 15 cm, kondisi pH tanah antara 4,5 – 5,0 dan kedalaman air tanah 40 –50 meter. Curah hujan antara+ 2500 mm per tahun dan kelembaban udara rata-rata 81 %. Musim tebang dan giling dilaksanakan pada bulan Mei – Oktober bersamaan dengan periode yang relative kering.

Secara fisik dan kimia tanahnya mengharuskan diterapkannya cara pengolahan tanah yang tepat guna disertai cara pengelolaan tanah yang tepat guna disertai upaya-upaya yang mengarah kepada perbaikan daya dukung lahan.

BAB IX

ORGANISASI DAN SEGI EKONOMI PERUSAHAAN

9.1. Struktur Organisasi

Suatu proses atau kegiatan akan berjalan dengan baik apabila dilengkapi dengan struktur organisasi yang tepat dan memadai. Struktur organisasi yang baik akan mempermudah dalam mengkoordinir setiap pekerjaan, dan keselarasan hubungan kerja. Struktur organisasi PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Bungamayang dapat dilihat pada lampiran.

9.2. Tugas dan Wewenang

Tugas dan wewenang dari masing-masing bagian adalah sebagai berikut :

a. General Manager

Merupakan pimpinan tertinggi PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Distrik Bungamayang yang berkedudukan di Distrik Bungamayang, Lampung Utara.

b. Manager Terdiri dari :

1. Manager Pabrik

Merupakan pemimpin tertinggi khusus di pabrik.

2. Manager Tanaman

Merupakan pemimpin tertinggi yang bertanggungjawab dengan perkebunan.

3. Asisten kepala

PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Bungamayang terdapat 8 Askep, yaitu :

- Askep Tanaman Tebu Sendiri (Tan TS) - Askep TMA

- Askep Pelayanan Teknik (Peltek) - Askep Tanaman Tebu Rakyat (Tan TR) - Masinis Kepala Teknik

- Masinis Kepala Pengolahan

- Askep Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) - Askep Tata Usaha dan Keuangan (TUK)

9.3. Ketenagakerjaan

PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Bungamayang mempunyai empat kriteria tenaga kerja yaitu :

1. Karyawan Tetap Staf (KTS) 2. Karyawan Tetap Bulanan (KTB) 3. Karyawan Tidak Tetap (KTH)

4. Karyawan Kontrak Waktu Tertentu (KKWT)

9.4. Pengaturan Jam Kerja

PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Distrik Bungamayang membagi waktu kerja menjadi 2, dimana setiap waktu kerja terdiri dari 40 jam dalam 1 minggu, 6 hari kerja dalam dalam 1 minggu. Adapun pembagian kerjanya adalah sebagai berikut :

1. Karyawan kantor

Karyawan kantor bekerja dari hari senin hingga sabtu, hari minggu libur.

Dalam 1 hari, waktu kerja dibagi menjadi :

• Jam 07.00 – 12.00 masuk

• Jam 12.00 – 14.00 istirahat

• Jam 14.00 – 16.00 masuk

2. Karyawan pabrik

Karyawan pabrik terdiri dari shift dan non shift.

• Shift

Karyawan pabrik dengan shift dibagi 3 kelompok dalam 3 shift, masing-masing kelompok dalam 1 hari bekerja 8 jam atau 1 shift selama 7 hari dan selanjutnya adalah sebagai berikut :

1. Shift 1 (pagi) jam 06.00 – 14.00 2. Shift II (siang) jam 14.00 – 22.00 3. Shift III (malam) jam 22.00 – 06.00

• Non Shift

Karyawan pabrik non shift bekerja selama 6 hari dalam 1 minggu dan libur pada hari minggu. Adapun pembagian jam kerjanya adalah sebagai berikut :

1. Jam 07.00 – 12.00 masuk 2. Jam 12.00 – 14.00 istirahat 3. Jam 14.00 – 16.00 masuk 4.

9.5. Fasilitas dan Kesejahteraan Karyawan

PT. BUMA CIMA Nusantara Pabrik Gula Distrik Bungamayang senantiasa berusaha untuk memenuhi kesejahteraan karyawannya dengan menyediakan berbagai fasilitas antara lain :

1. Gaji yang disesuaikan dengan UMR

2. Perumahan dengan beberapa tipe berdasarkan golongan (grade) 3. Poliklinik kesehatan untuk karyawan dengan cuma-cuma

4. Koperasi karyawan yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari