• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

C. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PT. BANK SYARIAH MANDIRI CABANG GOWA

Gambar IV.1 : Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri Cabang Gowa

Kepala Cabang

Marketing Manager Operating manager KCP

Account Officer

Founding Officer

Custumer Service

Back Office Offifer Head Teller

Teller

BO Admin

Koordinator SDM/UMUM Admin

Driver

OB Operator

Security

Sekretaris

43

Job Description 1. Kepala Cabang

a. Mempimpin seluruh karyawan yang ada di cabang dan menciptakan berbagai macam kegiatan demi tercapainya target perusahaan.

b. Bertanggung jawab atas pencapaian target perusahaan secara keseluruhan.

c. Bertanggung jawab atas kegiatan pelaporan secara berkala ke Kantor Pusat Memberikan pelatihan dan melakukan pengarahan atas pelaksanaan rencana strategis perusahaan.

d. Memastikan seluruh karyawan di kantor cabang mematuhi seluruh aturan dan ketentuan perusahaan.

e. Memberikan pelatihan secara komperehensif

f. Memastikan seluruh karyawan di cabang bekerja secara profesional sesuai peraturan yang berlaku .

g. Memberikan informasi kepada manajemen mengenai keadaan pasar sekitar cabang mengenai perubahan dan perkembangan yang terjadi secara signifikan.

2. Sekretaris

tugas-tugas yang dikerjakan setiap hari tanpa perintah. Tugas ini meliputi:

a. Membuka surat.

b. Menerima dikte.

c. Menerima tamu.

d. Menerima telepon.

44

e. Menyimpan arsip/surat.

f. Menyusun dan membuat jadwal kegiatan pimpinan.

3. Marketing Manager

Marketing Manager (MM) mempunyai tugas khusus yaitu mengkoordinasikan dan mensupervisi teamwork dalam kegiatan pemasaran marketting cabang untuk mencapai target dan plan bank secara efektif dan efisien.

4. Operating Manager

Tugas Utama dari operating manager adalah

a. Merencanakan operasional di divisi sesuai dengan business plan yang disepakati.

b. Memastikan semua pelaksanaan operasional di bank secara efektif dan efisien sehingga menjadikan bank tersebut sebagai bank yang kompetitif dan eksis dalam persaingan global.

c. Mengontrol, mengevaluasi jalannya setiap langkah dan efektifitas yang ada dan mengambil tindakan preventif, antisipasi terhadap masalah – masalah yang ada dan melakukan tindakan perbaikan yang tepat dan tuntas.

5. Account Officer

a. Membantu pembuatan lampiran hasil kunjungan (call report), account officer.

b. Membantu menyiapkan dana dan memeriksa kembali kelengkapan data-data yang berkaitan dalam rangka pengajuan kredit bank,

45

perpanjangan maupun tambahan.

c. Menerima proposal kredit dari sekretaris komite untuk diteruskan kepada komite kredit.

d. Membantu proses perpanjangan asuransi dan biaya-biaya lainnya.

6. Founding Officer

a. Melakukan pencapaian target funding yang telah ditentukan atau ditetapkan.

b. Melakukan produk-produk dana pihak ketiga kepada nasabah atau calon debitur.

c. Membantu nasabah yang ingin membuka ataupun mencairkan rekening deposito, tabungan dan giro serta memberikan informasi yang lengkap mengenai persyaratan dan ketentuannya.

d. Melakukan customer call atau korespondensi nasabah dan calon nasabah.

7. Head Teller

a. Memberikan solusi apabila terjadi masalah di counter dan bila teller selisih melakukan balancing akhir hari.

b. Memberikan offer rate atas transaksi yang melebihi wewenang teller c. Melakukan verifikasi dan pencocokan atas balancing akhir hari d. Melakukan pemeriksaan cash box teller.

e. Memonitor secara aktif dan melakukan pengarahan langsung sesuai dengan wewenangnya atas seluruh jalannya transaksi yang

46

ditanganiteller (setoran, penarikan, pemindah bukuan) serta mengkoordinasi.

f. Menentukan pembukaan counter tambahan 8. Back Office Officer

a. Membuat Voucer Input transaksi ( debit / kredit ) b. Membuat laporan data transaksi.

c. Analisa kredit d. Accounting e. Controlling 9. Teller

a. Menerima setoran dari nasabah (baik tunai maupun non tunai), kemudian melakukan posting di sistem komputer bank.

b. Melakukan pembayaran tunai kepada nasabah yang bertransaksi tunai di counter bank, dan melakukan posting di sistem komputer bank.

c. Menjadi gerbang awal pengamanan bank dalam mencegah peredaran uang dan warkat (cek/bilyet giro) palsu.

d. Menjalankan fungsi tag on dalam cross selling produk2 perbankan.

e. Bertanggungjawab terhadap kesesuaian antara jumlah kas di sistem dengan kas di terminalnya.

10. Koordinator

a. Melakukan pemeriksaan dan monitoring absensi karyawan dari asli pencatatan yang dilaksanakan staff dan dilakukan checking.

b. Melakukan fungsi checking atas limitasi yang ditentukan

47

11. SDM/UMUM

a. Melakukan monitoring dalam pengadministrasian absensi karyawan b. Menerima pengajuan lembur dan restitusi pengobatan karyawan atau

karyawati yang telah disetujui manajemen.

c. Melakukan pengadministrasian dan up dating personal file.

12. Admin

a. Melaksanakan aktifitas penyiapan ruang kerja dan peralatan kantor untuk seluruh pegawai, untuk memastikan ketersediaan ruangan kerja dan peralatan kantor bagi setiap pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan dan jabatan.

b. Melaksanakan aktifitas renovasi gedung kantor/kerja, untuk memastikan semua gedung kantor selalu siap operasional.

c. Melaksanakan kegiatan surat-menyurat, dokumentasi dan pengarsipan, untuk memastikan dukungan administrasi bagi kelancaran kegiatan seluruh karyawan.

d. Membuat rencana dan mengevaluasi kerja harian dan bulanan untuk memastikan tercapainya kualitas target kerja yang dipersyaratkan dan sebagai bahan informasi kepada atasan.

13. Security

a. Mengawasi seluruh wilayah Bank mulai dari radius lokasi bank sampai dengan pintu masuk dan ruangan dalam bank.

b. Membuka pintu, menyambut dan memberi salam dengan ramah setiap nasabah yang akan masuk ke dalam bank.

48

c. Memeriksa bawaan nasabah jika mencurigakan atau sikap dan tindak- tanduk nasabah mencurigakan.

d. Menanyakan keperluan nasabah dan memberikan nomor antrian kepada nasabah sesuai dengan keperluan nasabah.

e. Memberikan petunjuk dan arahan dengan baik jika ada nasabah yang memerlukan pertanyaan dan informasi.

f. Memperhatikan seluruh kegiatan di dalam dan di luar bank, segera sigap bertindak jika ada sesuatu yang mencurigakan.

g. Melakukan tindakan yang cepat dengan mengedepankan keamanan dan keselamatan nasabah dan pegawai bank jika ada kejadian yang menjurus ke arah kriminal;

14. OB

a. Membersihkan dan merapikan meja, kursi, komputer dan perlengkapan lainnya.

b. Membersihkan/vacuum karpet/lantai c. Menyediakan minuman untuk karyawan.

d. Mengirim/mengambil dokumen antar Divisi/Bagian.

e. Melayani permintaan fotokopi/faksimili.

f. Membelikan dan menyiapkan makan siang karyawan.

g. Membereskan piring, gelas, & perlengkapan makan siang karyawan.

h. Mengambil & membereskan gelas minum & perlengkapan makan/minum karyawan.

i. Membuang sampah yang ada di ruang kerja dan areal tanggung

49

jawabnya.

j. Membersihkan/vacuum karpet/lantai.

k. Mencuci piring, gelas & perlengkapan makan/minum lain 15. Driver

a. Menunjang kelancaran transportasi yang diperlukan kantor.

b. Merawat dan mengurusi mobil agar tetap bersih dan siap pakai.

c. Melaporkan kerusakan mobil agar segera dilakukan perbaikan.

d. Bersama petugas kantor dan satpam membawa uang setoran dari kantor cabang pembantu ke kantor cabang utama atau sebaliknya.

50 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Produk – produk Pembiayaan PT. Bank Syariah Mandiri

Sistem pembiayaan PT. Bank syariah Mandiri bermitra dengan nasabah dalam berwirausaha, “PT. Bank syariah Mandiri menyediakan beberapa jenis pembiayaan yaitu: 1) piutang murabahah, 2) pembiayaan mudharabah, 3) pembiayaan musyarakah, 4) rahn (gadai emas syariah), 5) ijarah” (hasilwawancara dengan pihak bank). Semua skema pembiayaan tersebut untuk mendukung sector riil yang halal.

Piutang murabahah merupakan fasilitas penyaluran dana dengan sistem jual beli. Bank akan membelikan barang yang halal yang dibutuhkan nasabah kemudian dijual ke nasabah, dimana harga jualnya sama dengan harga pokok ditambah dengan keuntungan bagi pihak bank. Misalnya pembelian kendaraan bermotor.

Pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan dalam bentuk modal/dana yang diberikan oleh bank untuk dikelolah oleh nasabah dalam usaha yang telah disepakati bersama. Kemudian pembiayaan mudharabah ini akan berbagi hasil atas pendapatan antara nasabah dengan pihak bank. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak bank, kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolah, kelalaian dan penyimpangan oleh pihak nasabah.

51

Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama yang dilakukan antara pihak bank dengan nasabah dengan menggabungkan modal usaha dimana masing-masing pihak berdasarkan kesepakatan memberikan kontribusi sesuai kesepakatan bersama yang berdasarkan porsi dana yang ditanamkan.

Rahn (gadai emas) adalah penyerahan hak penguasaan secara fisik atas barang/harta berharga berupa emas dari nasabah ke bank sebagai jaminan atas pembiayaan Qard yang diterima oleh nasabah.

B. Produk Gadai Emas PT. Bank Syariah Mandiri

Gadai emas syariah pada PT. Bank syariah Mandiri atau disebut juga pembiayaan rahn merupakan penyerahan jaminan/hak penguasaan secara fisik atas barang berharga berupa emas (lantakan dan atau perhiasan beserta acsesorisnya) kepada bank sebagai jaminan atas pembiayaan (qard) yang diterima.

Sesuai dengan slogan yang dimiliki oleh pembiayaan gadai syariah yakni “Solusi Mudah Sesuai Kaidah” gadai emas syariah ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan dana jangka pendek dan keperluan yang mendesak. Misalnya menjelang tahun ajaran baru, hari raya, kebutuhan modal kerja jangka pendek dan sebagainya. Selain itu gadai emas pada PT. Bank syariah Mandiri memiliki beberapa keunggulan diantaranya:

 Proses menggadai yang sangat sederhana dan tidak berbelit-belit dengan persyaratan yang mudah sesuai dengan prinsip syariah.

 Mudah dan tariff dihitung secara harian.

52

 Jangka waktu 4 bulan dan dapat diperpanjang.

 Pembiayaan gadai diberikan sebesar 90% untuk emas lantakan dan 85%

untuk emas perhiasan.

 Barang agunan aman karena diasuransikan.

 Diberikan fasilitas kartu ATM yang dapat ditarik tunai diseluruh jaringan bank mandiri sehingga memudahkan para nasabah.

“Produk gadai gadai emas pada PT. Bank syariah Mandiri, saat ini sangat diminati oleh masyarakat baik dikalangan muslim maupun ono muslim yang juga tertarik akan pembiayaan gadai ini” (hasil wawancara dengan karyawan PT. Bank syariah Mandiri). Jadi siapapun tanpa terkecuali bisa melakukan gadai emas ini dengan tujuan yang baik. Pada PT. Bank syariah Mandiri untuk saat ini telah menetapkan bahwa emas yang digadaikan harus memiliki sertifikat yang menunjukkan surat bukti kepemilikan atau bukti pembelian yang dapat digadaikan. Hal ini dilakukan agar unsur kemaksiatan dalam proses penggadaian dapat dicegah.

Pihak PT. Bank syariah Mandiri menyatakan bahwa dalam produk gadai ini tidak mengambil manfaat dari marhun yang dijaminkan nasabah sehingga dapat dikatakan bahwa bank memberikan “pinjaman dengan jaminan” emas kepada nasabah. Adapun emas yang digadaikan adalah emas dengan kadar 16-24 karat dengan maksimum pinjaman 90% dari nilai taksiran serta biaya penitipan yang ditentukan oleh kantor pusat dan kemudian dikirim ke kantor cabang.

53

Adapula jangka waktu rahn yang ditetapkan adalah maksimum tiga bulan dan dapat diperpanjang untuk masa dua bulan mendatang atau seterusnya. Setiap kali perpanjangan rahn, nasabah wajib membayar biaya perawatan dan pemeliharaan sesuai tarif ujrah yang berlaku dan murtahin (bank) wajib melakukan hertaksasi (penaksiran) atas barang yang dijaminkan sesuai dengan harga pasar yang berlaku.

Biaya-biaya yang ditetapkan oleh pihak PT. Bank syariah Mandiri adalah sebagai berikut:

1) Biaya perawatan dan pemeliharaan

Biaya perawatan dan pemeliharaan sudah termasuk dalam biaya ujrah yaitu 1,4% dari keseluruhan total pinjaman pokok. Jadi kalau misalkan total nilai pinjaman 1 juta maka biaya perawatan dan pemeliharaan yang harus dibayarkan sebesar Rp. 14.000 / empat bulan.

2) Biaya materai Rp. 6.000,- (dibayar dimuka).

3) Biaya administrasi (dibayar dimuka)

 Taksiran barang s/d Rp. 5.000.000 sebesar Rp. 25.000

 Taksiran barang s/d Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000 sebesar Rp.

30.000.

 Taksiran barang Rp. 15.000.000 keatas sebesar Rp. 35.000.

C. Akad yang Digunakan dalam Pembiayaan Gadai Syariah

akad adalah perjanjian, yaitu perjanjian ijab dan qabul menurut cara- cara yang disyariatkan yang berpengaruh terhadap objek yang di akadkan dan

54

yang menimbulkan hak dan kewajiban dari masing-masing yang melaksanakan.

Akad yang digunakan dalam praktek gadai syariah di PT. Bank syariah Mandiri ada tiga yakni akad rahn, qard dan ijarah. Pemanfaatan marhun bih akan berpengaruh terhadap akad apa yang akan digunakan.

1) Akad Qard, adalah suatu akad pembiayaan dari murtahin (pihak yang berpiutang) kepada rahin dengan ketentuan bahwa rahin wajib mengembalikan dana yang diterinya kepada murtahin pada waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

2) Akad Rahn, adalah akad penyerahan barang/harta (marhun) dari nasabah kepada pihak bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

3) Akad Ijarah/Ujrah, adalah suatu akad pemindahan manfaat atas suatu barang atau jasa dalam jangka waktu tertentu melalui pembayaran upah/sewa tempat, tanpa diakui pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

D. Kontribusi Pembiayaan Gadai Emas Syariah di PT. Bank Syariah Mandiri

Pembiayaan gadai emas syariah yang dimasuki tahun ke tiga memberikan kontribusi sangat besar terhadap operasional Bank Syariah Mandiri. Pembiayaan gadai emas merupakan salah satu produk unggulan PT.

Bank syariah Mandiri yang bersaing diantara semua produk yang ada di Bank syariah Mandiri .

55

Pada tahun 2012-2013 pembiayaan gadai emas di PT. Bank syariah Mandiri ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu 120% dari tahun 2012-2013. Hal ini tentu meningkatkan jumlah jumlah nasabah serta pendapatan bank. Namun, penulis tidak bisa merincikan secara detail karena hal tersebut sangat rahasia bagi perusahaan PT. Bank syariah Mandiri. Gadai Bank syariah Mandiri selain untuk kebutuhan dana mendesak juga mendidik masyarakat untuk melindungi nilai assetnya malalui emas dengan memanfaatkan produk Gadai Bank Syariah Mandiri.

E. Penerapan PSAK 107 (Akad Ijarah) dan Perlakuan Akuntansi Gadai Syariah

1. Penerapan PSAK 107

Berikut ini penulis akan menguraikan hasil analisis dari penelitian yang telah dilakukan mengenai perlakuan akuntansi gadai syariah emas.

Uraian mengenai perlakuan akuntansi tersebut didasarkan pada akad ijarah (PSAK 107) yang meliputi:

1) Pengakuan dan pengukuran pembiayaan gadai syariah

2) Pengakuan pendapatan dan beban pembiayaan gadai syariah, dan

3) Penyajian dan pengungkapan pada laporan keuangan dengan tetap berpedoman pada Fatwa Dewan Syariah Nasional No.26/DSN- MUI/III/2002.

56

2. Perlakuan Akuntansi Gadai Syariah

Dalam gadai syariah emas penentuan biaya dan pendapatan sewa (ijarah) atau penyimpanan dilakukan berdasarkan akad pendamping dari gadai yaitu akad ijarah (PSAK 107) yang terkait dimana pengakuan dan pengukurannya serta pengungkapan dan penyajiannya adalah:

Pengakuan dan pengukuran

Terdapat beberapa ketentuan untuk pengakuan dan pengukuran yang dijelaskan dalam PASK 107, yakni:

1) Pinjaman/kas dinilai sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat terjadinya.

2) Pendapatan sewa selama masa akad diakui pada saat manfaat atas asset.

3) (sewa tempat) telah diserahkan kepada penyewa (rahin).

4) Pengakuan biaya penyimpanan diakui pada saat terjadinya.

Penyajian dan pengungkapan

Berdasarkan penjelasan yang terdapat dalam PSAK 107, penyajian dan pengungkapan meliputi:

1) Penyajian, pendapatan ijarah disajikan secara neto setelah dikurangi beban-beban yang terkait, misalnya beban pemeliharaan dan perbaikan, dan sebagainya.

2) Pengungkapan, murtahin mengungkapkan pada laporan terkait transaksi ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik.

57

a) Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:

- Keberadaan wa’ad pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan (jika ada wa’ad pengalihan kepemilikan).

- Pembatasan-pembatasan.

- Agunan yang digunakan.

b) Keberadaan transaksi jual dan ijrah (jika ada).

Ilustrasi jurnal

a. Pada saat bank menerima barang gadai tidak dijurnal tetapi hanya membuat tanda terima.

b. Pada saat bank membayarkan uang tunai kepada rahin.

i. Ketika nasabah minta tunai (tanpa rekening) Pembiayaan gadai 4.194.000

Rekening perantara 4.194.000 ii. Ketika bank langsung mentransfer ke rekening nasabah

Pembiayaan gadai 4.194.000

Rekening nasabah 4.194.000

c. Pada saat bank menerima uang untuk biaya sewa atas manfaat asset (sewa tempat) yang merupakan pendapatan sewa bagi bank.

Kas 58.716

Pendapatan sewa 58.716

58

d. Pada saat pelunasan uang pinjaman, barang gadai dikembalikan dengan membuat tanda serah terima barang.

i. Debet rekening

Rekening nasabah 4.252.716

Pembiayaan gadai 4.194.000 Pendapatan sewa 58.716 ii. Secara tunai

Rekening perantara 4.252.716

Pembiayaan gadai 4.194.000 Pendapatan sewa 58.716 e. Jika pada saat jatuh tempo utang rahin tidak dapat dilunasi dan

kemudia barang gadai dijual oleh pihak bank.

i. Penjualan barang gadai sama dengan piutang.

Kas 5.000.000

Pembiayaan gadai 5.000.000

ii. Jika lebih, maka sisa dari pembayaran utang dikembalikan kepada nasabah, setelah mengurangi biaya untuk penjualan barang gadai tersebut.

Pengakuan dan pengukuran Pembiayaan Gadai Syariah Emas

Menurut Suwardjono pengakuan merupakan suatu jumlah rupiah atau cost yang digunakan untuk mengakui asset apabila jumlah rupiah itu timbul akibat transaksi, kejadian atau keadaan tersebut.

Defenisi pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah yang harus

59

diletakkan pada suatu objek asset pada saat terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisik objek tersebut.

Pengakuan dan pengukuran

Terdapat beberapa ketentuan untuk pengakuan dan pengukuran yang dijelaskan dalam PSAK 107, yakni:

1) Pinjaman/kas dinilai sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat terjadinya.

2) Pendapatan sewa selama masa akad diakui pada saat asset (sewa tempat) telah diserahkan kepada penyewa (rahin).

3) Pengakuan biaya penyimpanan diakui pada saat terjadinya.

Untuk lebih mudah dipaham, berikut ini penulis akan memperlihatkan proses pembiayaan gadai emas beserta perlakuan akuntansinya yang diterapkan oleh PT. Bank Syariah Mandiri.

Contoh Kasus : Pembiayaan Gadai Emas Syariah

Ibu Fitri menggadaikan emasnya di Bank Syariah Mandiriuntuk keperluan mendesak yang harus dia penuhi. Emasnya yang berkadar 23 karat dengan berat 10 gram dan dengan nilai taksiran harga jual kembali pada tanggal 5 Mei 2014 per satu gram adalah sebesar Rp. 466.000 perhitungan besar biaya penelitian (sewa) yang harus dibayarkan Ibu Fitri dan jumlah pinjaman yang maksimum dapat dipinjam olehnya yaitu:

60

Ibu Fitri bisa mendapatkan pinjaman senilai Rp. 4.194.000 perhitungan biaya penitipan (ujrah) yang dilakukan pihak Bank Syariah Mandiri yaitu sebesar 1,4% dari total pinjaman yaitu sebesar :

“saat ini biaya administrasi pada Bank Syariah Mandiri tidak dikenakan oleh para nasabah untuk pembiayaan gadai syariah jadi nasabah hanya membayar biaya penitipan (ujrah)” (hasil wawancara dengan karyawan Bank Syariah Mandiri).

Berikut ini akan diuraikan tentang pengakuan dan pengukuran pembiayaan gadai emas syariah pada kejadian-kejadian penting sebagai berikut:

o Pada saat terjadinya akad pembiayaan gadai syariah

Bank syariah mandiri mengakui pembiayaan gadai syariah pada saat akad terjadi dan bank menyerahkan kas kepada nasabah yaitu saat bank menandatangani dan mencairkan dana sebesar pokok pembiayaan (pinjaman) sesuai dengan kesepakatan pihak Berat emas x nilai pasar emas saat itu = 10gram x Rp. 466.000

= Rp. 4.660.000

Maksimum pinjaman yang ditetapkan Bank Syariah Mandiri

= 90% x Rp. 4.660.000 = 4.194.000

Rp. 4.194.000 x 1,4% = Rp 58.716

61

bank dengan nasabah. Pengakuan tersebut sesuai dengan PSAK No. 107 part 1 yang menyatakan bahwa pembiayaan gadai emas dinilai sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat terjadinya.

Pada saat akad gadai syariah telah disetujui dan barang gadai telah diterima oleh pihak bank, maka pembiayaan gadai syariah diukur sebesar jumlah uang yang telah diberikan pada saat penyerahan pinjaman tersebut. Akan tetapi, jika ditinjau lebih dalam pada prakteknya, pencairan yang dilakukan bank konvensional diartika sebagai pemindahan saldo sebesar pokok kredit (pinjaman) dari rekening bank ke rekening nasabah. Nasabah belum menerima dalam bentuk uang tunai sehingga dapat diartikan bahwa pencairan tersebut hanya bersifat simbolis saja. Sedangkan, sesuai prinsip syariah bahwa pengakuan atas aktiva harus dilakukan ketika sesuatu hal telah benar-benar terjadi dan pengakuan, pancatatan baru dilakukan pada saat terjadinya perpindahan aktiva (baik berupa kas maupun non kas) dari pihak bank sebagai pemilik dana kepada nasabah. Hal ini dilakukan karena sesuai dengan muamalah, bank syariah cenderung menggunakan dasar cash basis dalam melakukan pencatatan akuntansinya karena merupakan cara yang paling manusiawi.

Berbeda dengan bank konvensional yang menggunakan dasar akrual (accrual basis). Penggadai juga dibebankan biaya

62

administrasi yang telah ditetapkan oleh pihak bank dan dibayarkan saat akad pembiayaan terjadi.

Untuk contoh kasus Ibu Fitri di atas, Bank Syariah Mandiri akan mengakui dan mengukur pembiayaan gadai syariah, pada saat bank menyerahkan pinjaman dan menerima barang gadai dengan jurnal sebagai berikut:

a) Pada saat bank menerima gadai tidak ada jurnal, tetapi bank hanya membuat tanda serah terima barang kepada rahin.

b) (1) pada saat terjadinya akad pembiayaan gadai syariah, nasabah tidak mempunyai rekening di bank. Akad pembiayaan terjadi pada tanggal 5 Mei 2014

Pembiayaan gadai Rp. 4.194.000

Rekening perantara Rp. 4.194.000 (2) jurnal pada saat pelunasan, nasabah tidak mempunyai rekening. Pada tanggal 16 Juni 2014 melunasi pinjamannya kepada bank

Rekening perantara Rp. 4.252.716

Pembiayaan gadai Rp. 4.194.000

Pendapatan sewa Rp. 58.716 c) (1) jurnal pada saat terjadi akad pembiayaan, nasabah

mempunyai rekening. Akad terjadi pada tanggal 5 Mei 2014 Pembiayaan gadai Rp. 4.194.000

Rek. Nasabah Ibu Fitri Rp. 4.194.000

63

(2) jurnal pada saat pelunasan, nasabah mempunyai rekening (debet rekening). Ada terjadi pada tanggal 16 Juni 2014

Rek. Ibu Fitri Rp. 4.252.716

Pembiayaan gadai Rp. 4.194.000

Pend. Sewa Rp. 58.716

o Pengakuan dan pengukuran pendapatan

Dalam PSAK 107 terdapat ketentuan untuk pengakuan dan pengukuran pendapatan dari sudut pandang murtahin yakni:

a) Pendapatan sewa selama masa akad diakui pada saat manfaat atas asset (sewa tempat) telah deiserahkan kepada penyewa (rahin).

b) Piutang atau kas diukur dan dinilai sebesar nilai yang dapat direalisasikan (NRV) pada akhir periode pelaporan.

Pada bank konvensional, pendapatan disini diartikan sebagai pendapatan bunga. Di Bank Syariah Mandiri yang berprinsip syariah, pendapatan yang dimaksud dalam pembiayaan gadai syariah khususnya adalah pendapatan sewa.

Seperti diketahui bahwa bank konvensional menggunakan sistem bunga yang besarnya telah ditentukan di awal perjanjian, sedangkan Bank Syariah Mandiri dalam produk pembiayaan gadai syariah menggunakan sistem biaya sewa yang diperhitungkan sesuai dengan berat emas yang digadaikan nasabah untuk dititip ke bank, bukan besarnya jumlah pinjaman yang diberikan.

64

Terdapatnya perbedaan tersebut tentu menimbulkan pengakuan berbeda antara keduanya.

Adapun syarat yang tentukan oleh Bank Syariah Mandiri dalam pengakuan pendapatan yang diperolehnya. Pertama, bank sudah memiliki hak untuk menerima pendapatan tersebut setelah penyerahan selesai dilakukan kepada nasabah. Kedua, kewajiban membayar atau memenuhi pendapatan tersebut sudah jelas siapa pihak yang bertanggung jawab yang dapat diwajibkan memenuhi kewajibannya kepada bank.

Bank Syariah Mandiri mengakui pendapatan sewa pada saat pendapatan tersebut diterima yaitu ketika nasabah membayar biaya sewa. Dasar pengakuan pendapatan adalah dasar kas (cash basis). Sebab ditinjau dari segi muamalahnya, dasar kas merupakan prinsip yang sudah seharusnya diterapkan dalam islam.

Berdasarkan pedoman tersebut, maka Bank Syariah Mandiri mengakui pendapatan dalam kegiatan pembiayaan gadai syariah hanya terdiri dari pendapatan sewa dan pendapatan dari biaya administrasi.

1) Pada saat perpanjangan gadai syariah.

Dalam proses pembiayaan gadai syariah dalam suatu kondisi nasabah tidak bisa melunasi kewajibannya dalam jangka waktu jatuh tempo maka akan diberikan perpanjangan masa pemayaran sesuai dengan kesepakatan nasabah.

Dokumen terkait