BAB VI SUMBER NORMA EKONOMI ISLAM
B. Al-Qur’an
Norma dasar ekonomi Islam merupakan aneka nilai yang sudah diyakini dengan totalitas, yang selanjutnya dijadikan sebagai standar cara pandang ekonomi Islam.16
12 QS. al-Hasyr: 6-10.
13 Alqur’an sebagai rujukan dalam aspek ekonomi, dapat dicontohkan dalam aspek muamalah yang pada umumnya memberikan pedoman yang bersifat global, misalnya membenarkan dalam memperoleh rezki melalui perdagangan, mencegah riba, menghalang menghambaurkan harta, perintah bekerja dalam rangka menuntut kecukupan nafkah.
Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan. Studi tentang Peraturan dalam Konstituante, (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 15.
14 Hadis atau sunah mengetengahkan penjabaran rincian, misalnya mendesain tatalaksana perniagaaan yang dibolehkan dan diharamkan, menjelaskan varian model riba yang terlarang pada Alqur’an, menjelaskan prihal disahkan dan dilarang menuntut rezeki. M.Kamal Hijaz, Jurnal Prinsip-Prinsip Hukum Ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPUP Makassar: AL-FIKR Volume 15 Nomor 1 Tahun 2010, hlm. 181.
15 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh II, Cet.IV, (Jakarta: Kencana Permada Media Group, 2008), hlm. 223. lihat juga Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam, jilid 2 (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2001), hlm.183.
16 Ruslan Abdul Ghofur Noor, Konsep Distribusi dalam Ekonomi Islam dan Format Keadilan Ekonomi di Indonesia, Cet. I, (Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 87.
82
Adapun berupa nilai dasar yang dimaksud di antaranya berlandaskan Al-Qur’an. Al-Qur’an dijadikan sebagai samber pokok hukum Islam pada skala proritas dan paling urgen.
Sekaligus menjadi sumber dari segala sumber hukum Islam.17 Paradigma Al-Qur’an pada kekayaan dan aktivitas ekonomi dapat dijelaskan pada lima kondisi sebagai berikut:
Pertama, Allah Swt merupakan kepemilikan semata pada sesuatu yang terdapat di muka bumi, dalam hal ini juga harta benda. Adapun kepemilikan yang terdapat pada manusia bersifat relatif, terbatas hanya melaksanakan titipan (amanah) untuk mengolah dan mengambil manfaat sejalan dengan yang sudah menjadi aturan dan ketetapan yang bersumber dari Allah Swt.18
Kedua, melalui aspek legalitas harta dalam paradigma Islam, ada empat kondisi, yaitu: harta dijadikan sebatas titipan Allah Swt; harta hanya aksesioris kehidupan yang bisa saja manusia dapat merasakan kenikmatan dengann elegan namun dilarang secara mubazir; harta sebagai cobaan keimanan; dan harta sebagai modal untuk beribadah.
Ketiga, harta yang didapat boleh dilaksanakan, di antaranya melalui usaha atau pekerjaan yang halal dan berkesesuaian dengan koridor yang ditetapkan Allah Swt, dengan serius dan dilarang bersikap prustasi. Dan keempat, kondisi dalam memperoleh harta, tidak dibenarkan melalui jalan dan usaha yang dilarang, misalnya melalui usaha yang terlarang dan berlaku zhalim kepada orang lain,19 riba,20 peraktik judi, memperjualbelikan sesutu yang terlarang atau haram,21 mencuri, merampok, ghasab, penipuan, saling menyuap, dzalim pada ukuran timbangan.22 Kelima, harta dari perolehan dimanfaatkan dan dialokasikan dengan jalan adil dan seimbang, tidak pelit juga tidak pula bersikap mengahamburkan, proritas utama kaum kerabat, dan ketika
17 Atang Abdul Hakim, loc. cit.
18 Akhmad Mujahidin, op. cit., hlm. 175.
19 QS. al-Baqarah: 188.
20 QS. al-Baqarah: 273-281.
21 QS. al-Maidah: 90-91.
22 QS. al-Muthaffifin: 1-6.
83
berinfak tidak boleh disertai dengan ejekan, hinaan terhadap orang yang menerima.23
Pada hakikatnya dalam tata aturan ekonomi Islam, semua berpanduan Al-Qur’an, yang sudah dititahkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk. Sementara manusia hanya mampu sebatas melaksanakan segala sesuatu yang sudah tertitah dalam Al-Qur’an, sebatas yang sifatnya relatif, hanya pada pengelolaan dan pemanfaatan berdasarkan pada aturan yang sudah diatur oleh Allah Swt.24 Secara jelas ayat tersebut memberi peringatan bahwa selama manusia mengaplikasikan Islam dengan persial, maka mereka akan mendapatkan kerugian dunia dan akhirat. Sebab selama Islam terbatas pada yang diwujudkan dalam tataran ritualisme ibadah semata dengan aktivitas ritual harian lainnya, sementara aspek yang lain secara ekonomi dimarginalkan (tidak menjadi skala prioritas) misalnya dunia perbankan, pasar modal, asuransi, pembiayaan proyek dan jual beli ekspor-impor diabaikan. Maka dengan sendirinya kalangan umat sudah mengubur Islam dan ajaran ekonominya terpuruk dalam tangannya sendiri.25
Nilai etik dan agama dalam sistem ekonomi Islam sesungguhnya memiliki keberpihakan pada sumber etika.26 Hal ini selanjutnya membuat tidak serupa di antara ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lain, seperti kapitalis dan sosialis. Dalam arti, ekonomi Islam memiliki keterpautan pada teori etik yakni perintah Tuhan, dimana ekonomi Islam berfungsi sebagai awal dalam memberi arah tujuan operasionalisasi sistem ekonomi. Dalam bahasa lain, bahwa etika ekonomi Islam menjadikan suatu usaha kajian analitik secara sistematis seputar perilaku, sikap terhadap apa yang dianggap benar, termasuk aspek syariat tentang ekonomi yang berdasarkan Al-Qur’an.
23 Lajnah Pentathasihan Mushaf Al-Quran, Tafsir Al-Quran Tematik, Pembangunan Ekonomi Umat, (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI, 2012), hlm. 129.
24 QS. al-Baqarah: 85.
25 Muhammad Syafi’i Antonio, Islamic Banking ‘Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2011), hlm. 8.
26 Tim Penulis FSEI, Filsafat Ekonomi Islam, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2008), hlm. 186.
84
Sistem ekonomi Islam berupa ilmu ekonomi yang tidak hanya mempraktikan kemauan manusia semata, namun dibimbing oleh asas syariah.27 Dapat dicontohkan pada proses konsumsi, dalam aspek konsumsi agar umat Islam tidak menggunakannya secara berlebihan yang merugikan individu, tidak mengakses harta dengan maksud untuk melakukan keburukan.28 Sebab secara substansi, sebagian dari kepemilikan harta adalah ada hak kepemilikan pihak lain, sebagaimana dalam firman Allah Swt:
اًريِذْبَ ت ْرِ ذَبُ ت َلََو ِليِبهسلٱ َنْبٱَو َينِكْسِمْلٱَو ۥُههقَح َٰبَْرُقْلٱ اَذ ِتاَءَو
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. al-Isra: 26).29