• Tidak ada hasil yang ditemukan

Subjektivitas Manfaat Hukum

Dalam dokumen NON DEROGABLE RIGHTS (Halaman 146-151)

BAB IV PERSPEKTIF FILSAFAT TERHADAP

D. Optik Aksiologis

1. Subjektivitas Manfaat Hukum

Hukum ada karena ia diciptakan, ia tidak jatuh dari langit begitu saja (taken for granted). Dengan kata lain, ia ada sebagai karya manusia yang mengkonstruksi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagai sebuah proses konstruksi, keberadannya

Kontekstual atas Tradisi Ahlulbait AS, Markaz l-Risalah, Jakarta, 2004. h. 12

277Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2000. (I), h.

17

tidak lepas dari berbagai peristiwa atau kenyataan sosial yang tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi saling berhubungan satu sama lain. Satjipto Rahardjo mengemukakan bahwa:

Hukum adalah karya manusia yang berupa norma-norma berisikan petunjuk-petunjuk tingkah laku. Ia merupakan pencerminan dari kehendak manusia tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu dibinda dan kemana harus diarahkan. Oleh karena itu pertama-tama hukum itu mengandung rekaman dari ide-ide yang dipilih oleh masyarakat tempat hukum itu diciptakan. Ide-ide ini adalah ide mengenai keadilan.278

Cita atau ide tentang keadilan ini jangan dikacaukan dengan cita atau ide keadilan oleh kaum skolastik (dengan tokohnya Thomas Aquinas, St. Bonaventura, St. Augustinus yang tergabung dalam mazhab hukum alam) yang mengidealkan keadilan sebagai keadilan Tuhan saja.279 Keadilan di sini adalah keadilan dalam koridor hukum ciptaan manusia. Seiring dengan perkembangan hukum modern untuk mengakomodasi kepentingan kaum kapitalis yang merebak sejak munculnya negara modern (dengan gerakan modernisme sebagai motor penggeraknya), masyarakat juga menginginkan peraturan- peraturan yang dapat menjamin kepastian dan kegunaan dalam hubungan mereka satu sama lain. Dengan demikian maka nilai dasar dari hukum adalah sebagaimana telah diintrodusir oleh Gustav Radbruch, yaitu keadilan, kegunaan dan kepastian.280

278Ibid, h. 23

279Tentang konsep teori hukum lihat: Otje Salman S.dan Anton F. Susanto, Teori Hukum; Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Refika Aditama, Jakarta, 2005.

280Dalam literatur hukum ada tiga teori tentang tujuan dari hukum. Pertama, Teori Etis. Teori ini memandang bahwa tujuan hukum semata-mata untuk keadilan.

Isi hukum ditentukan oleh keyakinan kita yang etis tentang yang adil dan tidak adil Dua macam keadilan yaitu Justitia distributive menuntut bahwa semua orang mendapat apa yang menjadi hak atau jatahnya. Justitia commutative memberika kepada setiap orang sama banyaknya. Kedua, Teori Utilistis Hukum menjamin kebahagiaan yang terbesar bagi manusia dalam jumlah yang yang sebanyak- banyaknya. Pada hakekatnya menurut teori ini tujuan hukum adalah manfaat dalam menghasilkan kesenangan atau kebahagiaan yang terbesar bagi jumlah orang yang

Pencarian untuk menemukan ketiga cita hukum tersebut sampai sekarang terus dilakukan baik yang terwujud dalam ruang-ruang peradilan (dalam lingkup criminal justice system) maupun di ruang lain yang memberikan kemungkinan muncul dan didapatkan cita hukum hukum itu.281 Banyak persoalan berkaitan dengan masalah hukum dapat dijawab dengan memuaskan apabila kita mempelajari hukum sebagai suatu fenomena sosial yang berwujud perilaku manusia, umumnya, norma-norma hukum secara nyata akan menentukan perilaku manusia di dalam masyarakat.282

Studi tentang hukum sebagai fenomena sosial tidak hanya studi tentang bagaimana perilaku individu-individu dalam merasakan, mengetahui dan memahami hukum, akan tetapi dipelajari pula bagaimana pandangan dan persepsi masyarakat dan individu terhadap hukum. Selain itu juga dipelajari apa tujuan aturan-aturan hukum digunakan dan dimanipulasi oleh individu-individu, atau dengan kata lain mengapa aturan-aturan hukum itu menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang pada tingkatan sederhana hukum itu menjadi aturan sosial.283

Studi hukum dengan mengguakan pendekatan normatif- dogmatis tak dapat menjangkau gambaran tersebut di atas karena pendekatan normatif-dogmatis pada hakekatnya menganggap apa yang tercantum dalam peraturan hukum sebagai deskripsi dari keadaan yang sebenarnya. Janganlah

terbanyak. Ketiga, Teori Campuran .Tujuan pokok dari hukum adalah ketertiban.

Kebutuhan akan ketertiban ini syarata pokok bagi adanya masyarakat manusia yang teratur. Disamping ketertiban tujuan lain dari hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya menurut masyarakat dan zamanny. Selain itu Prof. Subekti mengungkapkan bahwa hukum ini mengabdi pada tujuan negara yang pada pokoknya adalah mendatangkan kebahagiaan dan kemakmuran bagi rakyatnya”.

Sedangkan menurut L.J. Van Apeldoon hukum mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum menghendaki kedamaian .lihat: Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum; Suatu Pengantar, Liberty, Yogykarta, 2002. h. 74

281M. Sholehuddin, Criminal Justice System, Surabaya, Diktat, 2007. h. 6

282Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2001. h. 166

283Satjipto Rahardjo, Hukum, Masyarakat dan Pembangunan, Alumni, Bandung, 1980.(II), h. 11-17

peraturan-peraturan hukum itu diterima seabgai deskripsi dari kenyataan, kita sebaliknya mengamati kenyataan tentang bagaimana sesungguhnya pesan-pesan, janji-janji serta kemauan-kemauan hukum itu dijalankan.

Studi sosiologi terhadap fenomena-fenomena hukum yang spesifik dititik beratkan pada masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan legal relations, umpamanya court room, solicitor’s office. Selain itu adalah studi terhadap proses-proses interaksional, organizational socialization, typifikasi, abolisi dan konstruksi sosial. Studi demikian berarti akan melihat hukum sebagai suatu proses atau lebih tepatnya lagi adalah proses sosial.284

Salah satu proses sosial yang terlihat dalam dinamika hukum adalah apa yang terjadi di pengadilan. Untuk memahami proses sosial yang terjadi di sana, maka kita perlu memahami arsitektur pengadilan. Pengadilan tidak hanya terdiri dari gedung, hakim, peraturan ang lazim dikenal oleh ilmu hukum, melainkan merupakan suatu interaksi antara para pelaku yang terlibat dalam proses pengadilan. Bekerjanya pengadilan menggambarkan interaksi antara sistem hukum dan masyarakat.

Peraturan yang mengatur tata cara berperkara dikembangkan lebih lanjut (worked out) melalui perilaku berperkara para pihak yang terlibat dalam proses peradilan, khususnya hakim.

Jadi proses peradilan adalah jauh lebih kompleks dari pada yang dikira banyak orang, yaitu tidak sekadar menerapkan ketentuan dalam perundang-undangan. Perilaku para pejabat maupun pengguna jasa pengadilan menentukan arsitektur pengadilan. Proses peradilan juga tercermin dalam perilaku orang-orang yang berperkara atau perilaku dari pejabat pengadilan (court behavior). Mengadili tidak selalu berkualitas full adjudication, melainkan sering juga berlangsung in the shadow of law, di mana penyelesaian secara hukum hanya merupakan lambing di permukaan saja, sedang yang aktif

284Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 2003 (II), h. 99

berbuat adalah interaksi para pihak dalam mencari penyelesaian.

Hukum dipakai untuk mengemas proses-proses sosiologis dan kemudian memberinya legitimasi melalui ketukan palu hakim.

Dalam prakek penegakan hukum sehari-hari, praktek kekuasaan kehakiman berada pada pundak dan palu sang hakim. Kedudukan hakim memegang peranan yang penting sebab setiap kasus baik pidana, perdata maupun tata usaha negara akan bermuara pada pengadilan. Hal ini terjadi karena pengadilan merupakan instansi terakhir yang akan menerima, memeriksa dan mengadili perkara tersebut. Ini berarti kedudukan pengadilan menempati posisi sentral dalam penegakan hukum.Walaupun pengadilan terkadang menampakkan wajah kediktatorannya. 285

Melihat kenyataan itu, diharapkan pengadilan dapat memberikan keputusan yang adil, fair dan tidak memihak bagi para pencari keadilan. Pengadilan seringkali diharapkan dapat berkedudukan sebagai benteng terakhir bagi para pencari keadilan pada setiap permasalahan yang dihadapi. Masyarakat atau para pencari keadilan mengharapkan pengadilan dapat berkedudukan sebagai lembaga yang dapat memberikan keadilan.

Hukum yang berintikan keadilan tidak lain berisi ”janji- janji” kepada masyarakat yang terwujudkan melalui keputusan birokratis. Ini berarti lembaga pengadilan mempunyai kewajiban untuk memberikan dan menjaga terwujudnya janji- janji hukum dan keadilan melalui keputusan-keputusan yang meliputi segala aspek kehidupan seperti bidang ekonomi, perburuhan, hak asasi manusia, demokrasi, lingkungan hidup, kesejahteraan dan hak-hak sipil lainnya.

Lantas apa hubungannya dengan hak azasi manusia? Tentu saja hubungan itu sangat erat. Hukum merupakan instrumen penting dalam mewujudkan dan menjaga hak asasi manusia.

Bahkan pengakuan, pernghormatan dan jaminan hak asasi

285Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif, Kompas, Jakarta, 2006. (III) h. 37

manusia adalah hasil dari manfaat hukum -meski berlaku subyektif-.

Dalam dokumen NON DEROGABLE RIGHTS (Halaman 146-151)