• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METABOLISME NUTRIEN

B. METABOLISME MIKRO NUTRIEN (VITAMIN DAN MINERAL)

II. Mineral

7) Sulfur (S)

Magnesium merupakan kation nomor dua paling banyak setelah natrium di dalam cairan intraselular. Magnesium terlibat dalam berbagai proses metabolisme.

Metabolisme Magnesium

Di dalam darah sebagian besar magnesium terdapat dalam bentuk ion bebas, atau dalam bentuk molekul kompleks hingga molekul kecil.

Keseimbangan magnesium di dalam tubuh terjadi melalui penyesuaian ekskresi magnesium melalui urin.

Magnesium merupakan aktivaktor enzim peptidase dan enzim lain yang kerjanya memecah dan memindahkan gugus fosfat (fosfatase).

Magnesium diserap di luar usus kecil, dan di duga hanya sepertiga dari yang tercerna akan diserap. (Winarno, 2002).

Gangguan Metabolisme Magnesium Bagi Kesehatan

Kekurangan magnesium akan menyebabkan hypomagnesema dengan gejala denyut jantung tidak teratur, insomnia, lemah otot, kejang kaki, serta telapak kaki dan tangan gementar. Pemberian magnesium sulfat kepada pasien yang kekurangan magnesium dapat membantu mengurangi getaran otot seperti terlihat dari hasil percobaan tanda tangan pasien sebelum dan sesudah diberi pengobatan MgSO4.

7) Sulfur (S) Prinsip

Sulfur (S) merupakan komponen penting protein pada semua jaringan tubuh. Pada ruminansia 0,15% komponen jaringan tubuh terdiri atas unsur S, sedangkan pada air susu sebesar 0,03%. Pada hewan ruminansia terjadi sintesis asam-asam amino yang mengandung mineral S dengan vitamin B oleh mikroba di dalam rumen. Terdapat dua macam mekanisme metabolisme mineral S pada hewan ruminansia, yaitu mekanisme yang menyerupai mekanisme mineral S pada hewan-hewan monogastrik dan mekanisme yang dihubungkan dengan aktivitas mikroorganisme dalam rumen (Piliang, 2002).

Kandungan mineral S pada tanaman hijauan dapat berkisar dari 0,04% sampai melebihi 0,3%. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi akan mengandung kadar mineral S yang tinggi pula (Piliang, 2002).

Metabolisme Sulfur

Sulfur diabsorpsi sebagai bagaian dari asam amino atau sebagai sulfat anorganik. Selain sebagai bagian dari asam amino metiomin, sestein, sulfur juga merupakan bagian dari enzim glutation serta berbagai koenzim dan

vitamin termasuk koenzim vitamin A. Dalam bentuk teroksidasi sulfur dihubungkan dengan mukopolisakarida yang berperan dalam melarutkan sisa metabolisme sehingga bisa dikeluarkan melalui urin.

Sulfur sebagian besar diekskresi melaui urin sebagai ion bebas SO4=. Sulfur juga merupakan salah satu elektrolit intraselular yang terdapat di dalam plasma dalam konsentrasi rendah.

Gangguan Metabolisme Sulfur Bagi Kesehatan

Kecukupan sehari sulfur tidak ditetapkan dan hingga sekarang belum diketahui adanya kekurangan sulfur. Kita tidak akan kekurangan sulfur bila makanan cukup mengandung protein.

b. Mikro Mineral

Terdapat lima belas mineral mikro dan mineral unsur jarang (trace mineral) yang mencakup Fe (Fe), Yodium (I), Seng (Zn), Kobalt (Co), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibdenum (Mo), Selenium (Se), Kromium (Cr), Vanadium (V), Flourin (F), Silikon (Si), Nikel (Ni), dan Arsen (As). Alumunium (Al), Timbal (Pb), Rubidium (Ru) hanya bersifat menguntungkan dalam beberapa kondisi (Underwood dan Suttle, 2001).

1) Ferum ( Fe ) Prinsip

Fe merupakan mineral mikro essensial yang sangat dibutuhkan oleh setiap sel manusia, karena perannya pada pembentukan hemoglobin. Logam transisi dengan nomor atom 26 dan berat atom 55,85 ini, dapat berperan sebagai pembawa oksigen dan elektron serta sebagai katalisator untuk oksigenisasi, hidroksilasi dan proses metabolik lainnya (Soeida, 2008).

Tubuh telah mengatur Fe yang beredar mulai dari fase penyerapan, transportasi, penyimpanan dan utilisasi Fe tubuh melalui proses metabolisme Fe yang berimbang. Meskipun demikian, kemungkinan gangguan metabolism Fe tubuh seperti kekurangan maupun kelebihan Fe tetap terjadi (Ani, 2011;

Saito, 2012, 2014).

Peranan Fe dalam tubuh

Fe (Fe) adalah unsur mineral yang paling penting dibutuhkan oleh tubuh karena perannya pada pembentukan hemoglobin. Senyawa ini bertindak sebagai pembawa oksigen dalam darah, dan juga berperan dalam transfer CO2 dan H positif pada rangkaian trasport elektron yang diatur oleh fosfat organik (Soeida, 2008).

Peran Fe berhubungan dengan kemampuannya dalam reaksi oksidasi dan reduksi. Secara kimia, Fe merupakan unsur yang sangat reaktif sehingga mampu berinteraksi dengan oksigen. Dalam keadaan tereduksi, Fe kehilangan dua elektron sehingga memiliki dua sisa muatan positif (Fe2+/fero). Adapun dalam keadaan teroksidasi, Fe kehilangan tiga elektron sehingga memiliki tiga sisa muatan positif (Fe3+/feri). Karena dapat berada dalam dua bentuk ion ini, Fe berperan dalam proses respirasi sel, yaitu sebagai kofaktor bagi enzim- enzim yang terlibat dalam reaksi oksidasi-reduksi (Medicine, 2001; Almatsier, 2006)

Distribusi dan fungsi Fe

Total Fe pada tubuh orang dewasa laki-laki rata-rata 3000-4000 mg, dan pada orang dewasa wanita hanya memiliki 2000-3000 mg Fe dalam tubuhnya. Perbedaan ini mungkin disebabkan cadangan Fe jauh lebih kecil pada wanita, konsentrasi haemoglobin lebih rendah dan volume vaskular yang lebih kecil dibandingkan laki-laki (Arora & Kapoor, 2012).

Fe dalam tubuh didistribusikan dalam enam kompartemen, yaitu: 1).

Fe fungsional, berupa haemoglobin, berfungsi mengangkut oksigen untuk keperluan metabolisme; 2). Fe cadangan berupa feritin dan hemosiderin, dipersiapkan sebagai cadangan bila asupan Fe diet berkurang; 3). Fe transport, berupa transferin yaitu Fe yang berikatan dengan protein tertentu untuk mengangkut Fe dari satu bagian ke bagian lainya; 4). Fe parenkhim seperti mioglobin, adalah Fe dan protein pengikat oksigen yang ditemukan dalam jaringan otot vertebrata pada umumnya dan di hampir semua mamalia;

5). Berbagai jenis enzim antara lain sitokrom, katalase, dan peroksidase, yang berfungsi sebagai katalisator pada proses metabolisme dalam tubuh; 6). Pool Fe labil. penumpukan ion Fe, disebut pool Fe labil (LIP) yang merupakan persimpangan jalur metabolisme yang senyawa yang mengandung Fe, terlokalisir secara berbeda dalam sitoplasma sel, terikat ligan dengan afinitas rendah (Arora & Kapoor, 2012). Jumlah Fe yang terdapat pada masing-masing kompartemen terlihat pada tabel …

Tabel …Jumlah Fe dalam berbagai Kompartemen

Kompartemen Jumlah Fe

(Mg) % Fe

1. Hemoglobin (+ 800 g) 2. Cadangan (Feritin,

hemosiderin + 3 g 3. Mioglobin (+ 40 g) 4. Pool labil

5. Enzim yang mengandung Fe (sitokrom/katalase +5,8 g) 6. Transpor Fe (transferin + 7,5 g)

2000 – 2500 1000 – 1500

130 80 8 2,5 – 3

67 27 3,5 2,2 0,2 0,08

Jumlah Fe + 4000 100

Tabel ….ini menjelaskan bahwa sebagian besar Fe terikat dalam hemoglobin yang berfungsi khusus mengangkut oksigen untuk keperluan metabolisme dalam jaringan-jaringan. Sebagian lain dari Fe terikat dalam sistem retikuloendotelial (RES) di hepar dan sumsum tulang sebagai depot Fe (cadangan). Sebagian kecil dari Fe dijumpai dalam transporting iron binding protein (transferin), sedangkan sebagian kecil sekali didapati dalam enzim- enzim yang berfungsi sebagai katalisator pada proses metabolisme dalam tubuh. Fungsi-fungsi tersebut diatas akan terganggu pada penderita anemia defisiensi Fe (Ani, 2011; Arora & Kapoor, 2012).

Metabolisme Fe

Secara garis besar metabolisme Fe dalam tubuh terdiri dari proses penyerapan, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan, dan pengeluaran.

Fe dari makanan di serap ke usus halus kemudian masuk kedalam plasma darah, selain itu ada sejumlah Fe yang keluar dari tubuh melalui tinja. Didalam plasma berlangsung proses turn over, yaitu sel-sel darah yang lama di ganti dengan sel-sel yang baru (Gambar ..). Jumlah Fe yang mengalami turn over setiap hari berkisar 35 mg, berasal dari makanan, hemoglobin, dan perusakan sel-sel darah merah yang sudah tua yang diproses oleh tubuh agar dapat di pergunakan lagi (Wirakusumah,1999).

Gambar ….: Metabolisme Fe

Fe yang ada dalam tubuh berasal dari tiga sumber yaitu Fe yang diperoleh dari hasil perusakan sel-sel darah merah (hemolisis), Fe yang diambil dari penyimpanan dalam badan, dan Fe yang diserap dari saluran pencernaan. Dari ketiga sumber tersebut Fe hasil hemolisis merupakan sumber utama. Pada manusia yang normal kira-kira 20-25 mg Fe perhari

berasal dari Fe hemolisis dan hanya sekitar 1 mg berasal dari makanan (Winarno F. G.,2004)

Fe yang berasal dari bahan makanan adalah Fe elemen dalam bentuk feri (Fe+++), didalam saluran pencernaan mengalami reduksi sehingga mudah diserap usus halus menjadi bentuk fero (Fe++).

Proses reduksi dibantu oleh adanya vitamin C dan asam amino.

Tubuh memiliki suatu cara yang tepat untuk mengatur masuknya Fe dalam tubuh. Fe hanya dapat masuk ke dalam mukosa apabila ia dapat bersenyawa dengan apoferritin. Jumlah apoferritin yang ada dalam mukosa usus tergantung pada kadar Fe tubuh. Bila Fe dalam tubuh sudah cukup maka semua apoferritin yang ada dalam mukosa usus terikat oleh Fe menjadi Ferritin. Dengan demikian tidak ada lagi apoferitin yang bebas sehingga tidak ada Fe yang dapat masuk ke dalam mukosa (Ani, 2011; Saito, 2012, 2014)

Dalam mukosa usus Fe hanya dapat masuk ke dalam darah bila ia berikatan dengan β-globulin yang ada dalam plasma. Gabungan Fe dengan β- globulin disebut ferritin. Apabila semua β-globulin dalam plasma sudah terikat Fe, (menjadi feritin) maka Fe++ yang terdapat dalam mukosa usus tidak dapat masuk ke dalam plasma dan turut lepas ke dalam lumen usus, sel mukosa usus lepas dan diganti dengan sel baru. Hanya Fe++ yang terdapat dalam transferrin dapat digunakan dalam eritropoesis, karena sel eritoblas dalam sum-sum tulang hanya memiliki reseptor untuk ferritin (Arora & Kapoor, 2012;

Erdman, Macdonald, & Zeisel, 2012).

Kelebihan Fe yang tidak digunakan disimpan dalam stroma sum-sum tulang sebagai ferritin. Fe yang terikat pada β-globulin selain berasal dari mukosa usus juga berasal dari limpa, tempat eritrosit yang sudah tua masuk ke dalam jaringan limpa untuk kemudian terikat pada β-globulin (menjadi transferin) dan kemudian ikut aliran darah ke sum-sum tulang untuk digunakan eritoblas membentuk hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh, oleh karena itu apabila terjadi kekurangan hemoglobin mengakibatkan anemi sehingga aktivitas tubuh terutama daya berpikir akan menurun (Kuntarti, 2009)

Proses metabolisme Fe digunakan untuk biosintesa hemoglobin, dimana Fe digunakan secara terus- menerus. Sebagian besar Fe yang bebas dalam tubuh akan dimanfaatkan kembali (reutilization), dan hanya sebagian kecil sekali yang diekskresikan melalui air kemih, feses dan keringat. Fe yang telah dibebaskan dari endosom akan masuk kedalam mitokondria untuk diproses menjadi hem setelah bergabung dengan protoporfirin, sisanya tersimpan dalam bentuk feritin. Sejalan dengan maturasi eritrosit baik reseptor transferin maupun feritin akan dilepas kedalam peredaran darah.

Feritin segera difagositosis makrofag di sumsum tulang dan setelah proses hemoglobinisasi selesai akan memasuki eritrosit (Saito, 2014).

Gambar ... Absorpsi Fe. Sumber: Andrews NC,New Engl J Med. 341:1986- 1995, Copyright © 1999

Fe yang diserap dari usus disimpan sebagai feritin di epitel usus atau dibawa dalam transferin plasma. Progenitor erythroid mendapatkan Fe untuk sintesis hemoglobin dari transferin plasma yang berasal dari usus atau dari daur ulang eritrosit tua oleh makrofag di sumsum tulang, limpa dan hati.

Kelebihan dari Fe yang diperlukan untuk produksi hemoglobin disimpan dalam makrofag sebagai ferritin. Kelebihan Fe kompleks dengan fosfat dan hidroksida untuk membentuk hemosiderin. Cadangan ini dapat dilepaskan dari makrofag pada saat dibutuhkan (eritropoiesis meningkat), dengan ferritin menjadi lebih mudah larut dan tersedia dibandingkan dengan hemosiderin larut (Saito, 2014).

Mekanisme Molekuler dari Pengambilan Fe Seluler

Ambilan Fe sel melalui transferrin reseptor terjadi melalui proses endositosis. Jalur utama peran transferin, reseptor transferin dan feritin dalam penyimpanan dan penyediaan Fe seluler ditunjukkan secara sistematik pada gambar.

Distribusi Fe ke sel secara skematik yang dimulai dengan terikatnya satu atau dua molekul transferin mono atau diferik pada reseptor transferin dan proses ini tergantung energy dan suhu serta selesai dalam waktu 2-3 menit. Pada PH plasma netral, kompleks transferin-Fe jauh lebih stabil dengan mengikatkan transferin pada reseptor transferin baik untuk transferin monoferik maupun diferik. Efisiensi dari distribusi Fe ke sel tergantung pada jumlah transferin plasma mono dan diferik yang ada. Pada keadaan erytropoesis normal dan saturasi transferin normal yaitu sekitar 33%, afinitas tertinggi dari reseptor untuk transferin diferik menghasilkan aliran Fe yang banyak ke sel, dengan dilengkapi empat atom Fe pada tiap sikslusnya. Saat

saturasi transferin sekitar 19%, Fe dalam jumlah sama dihantarkan melalui transferin mono atau diferik, sementara pada saturasi yang rendah, kebanyakan Fe dihantarkan dari bentuk monoferik (Beutler, at al. 2000).

Peranan Reseptor Transferin dalam Melepaskan Fe dari Transferin di Endosome Reseptor transferin memainkan peran penting dalam pelepasan Fe dari kedua transferring pada saat endosom berada dalam pH asam (Beutler at al, 2000). Pada saat pH 5,6 Fe akan terlepas dari sisi N-terminal transferin.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada sel eritroid, dimana Fe terlepas dari kedua sisi transferin dalam waktu 2-3 menit. Tampaknya interaksi antara reseptor transferin dengan transferin mempengaruhi pelepasan Fe. Pada pH 5,6 Fe dilepaskan dari transferrin monoferik dan bentuk N-terminal (FeNTf) 3 kali lebih cepat daripada C-terminal (FeCTf). Ikatan dengan reseptor transferin sedikit mempengaruhi pelepasan FeN Tf namun terjadi peningkatan pada sisi C-terminal. Reseptor transferin yang terikat transferin dalam endosomal mempengaruhi jumlah Fe yang dilepaskan dari transferin dalam sel eritroid, selain itu juga meminimalkan perbedaan antara sisi C-terminal dan N-terminal (Beutler at al, 2000).

Transport Fe Melewati Membran Endosom Melalui Nramp 2

Setelah dilepaskan Fe harus ditransportasikan melewati membrane endosomal. Pergerakan Fe keluar endosom dan absobsinya di usus, diperantarai oleh Nramp2 (Natural resistance-assosiated macrophage protein 2) yaitu protein pengangkut Fe transmembran (Beutler at al, 2000; Hoffman, 200O).

Mekanisme Kembalinya Komplek Reseptor Transferin-transferin ke Permukaan sel.

Keasamaan dalam endosom meningkatkan afinitas apotranferrin terhadap reseptor transferin sehingga menghasilkan kompleks apotransferinreseptor transferin dan selanjudnya dihantarkan ke permukaan sel endosom. Paparan dengan pH plasma menyebabkan apotransferin kehilangan afinitasnya terhadap reseptor transferin sehingga terlepas dari membrane endosom. Hal ini memungkinkan apotransferin dan reseptor transferin bisa digunakan kembali (Beutler at al, 2000; Hoffman, 2000).

Pengaturan, Penyimpanan dan Pengambilan Fe Seluler

Di dalam sel, IRP-1 dan IRP-2 tersedia untuk mengatur penyimpanan dan ambilan Fe melalui pengontrolan tranlasi untuk sintesis reseptor transferin dan feritin. Sintesis reseptor transferin disesuaikan dengan jumlah citoplasmic transferin reseptor mRNA. Regio 3’ yang tidak ditranslasikan 3; UTR) dari reseptor transferin reseptor transferin mRNA mengandung 5 IRE. Ikatan IRP dengan IRE pada 3’ UTR memperlambat degredasi dan meningkatkan konsentrasi cytoplasmic transferrin receptor mRNA serta jumlah reseptor sel, ambilan meningkat. Sintesis ferritin dikontrol (tanpa mengubah jumlah ferritin yang ada) dengan menekan translasi ferritin mRNA. Regio 5’ yang tidak

ditranslasikan (5’ UTR) dari ferritin mRNA mengandung IRE tunggal. Ikatan IRP-IRE menghentikan translasi ferritin mRNA sehingga sedikit ferritin yang diproduksi dan sekuester Fe dikurangi. Pengaturan Fe intransel dilakukan oleh IRP sehingga menghasilkan efek yang berlawanan terhadap sintesis reseptor transferring dan ferritin. Penurunan Fe intraseluler menyebabkan peninggkatan proporsi tingginya afinis IRP. Peningkatan IRP-IRE meningkatkan produksi reseptor transferin tapi menurunkan feritin.

Meningkatnya Fe intrasel menyebabkan terangkainya 4Fe-4S dengan kehilangan aktivitas binding IRP-1 dan untuk IRP-2 akan menyebabkan proteolisis yang spesifik. Sedikit IRP yang terkait IRE akan menurunkan reseptor transferin dan meningkatkan produksi ferritin. Keseimbangan dan efek berlawanan ini mengubah pengambilan dan penyimpanannya oleh IRP dalam rangka mempertahankan homeostasis Fe intraseluler tetap konstan dan dapat berrespon pada oksidatif stress serta inflamasi. IRP juga terikat pada Fuctional IRE pada 5’ UTR dari mRNA yang ada pada sintesis erytroidspecifik- d-amino levolinic acid (eALAS) dan mitokondrial aconitase serta menghambat sintesisnya dibawah kondisi kekurangan Fe, berkaitan dengan penggunaan Fe dan energy sel untuk mengatur homeostasis Fe (Beutler at al, 2000; Hoffman, 2000).

Sirkulasi fisiologis Fe dalam tubuh

Asupan Fe yang masuk ke dalam tubuh kita kira-kira 10 – 20 mg setiap harinya, tapi hanya 1 – 2 mg atau 10% saja yang di absorpsi oleh tubuh. 70%

dari Fe yang di absorpsi tadi di metabolisme oleh tubuh dengan proses eritropoesis menjadi hemoglobin, 10 - 20% di simpan dalam bentuk feritin dan sisanya 5 – 15% di gunakan oleh tubuh untuk proses lain. Fe Fe3+ yang disimpan di dalam ferritin bisa saja di lepaskan kembali bila ternyata tubuh membutuhkannya.

Kebutuhan harian Fe berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin dan status fisiologis seseorang. Meskipun Fe tidak diekskresikan dalam arti konvensional, sekitar 1 mg Fe hilang setiap hari melalui pengeluaran normal sel-sel epitel kulit dan sel-sel yang melapisi saluran pencernaan dan saluran kemih. Sejumlah kecil eritrosit hilang dalam urin dan feses (Andrews, 1999).

Gambar…: Skema sirkulasi fisiologis Fe dalam tubuh

Konsentrasi Fe tubuh normal adalah 40-50 mg Fe/Kg BB dimana laki- laki lebih besar dari perempuan. Kebanyakan Fe yang ada berupa senyawa dengan berkaitan pada protein tertentu, bukan dalam bentuk logam bebas.

Fe ditransport dalam bentuk ikatan dengan transferin plasma dan transferin cairan eksternal. Jumlah Fe sekitar 5-6 mg Fe/Kg BB pada wanita, 10-12 mg Fe/Kg BB pada laki-laki disimpan dalam bentuk feritin dan hemosiderin, dalam hepatosit, makrofag dihati, sumsum tulang, limfa dan otot sebagai persiapan saat kehilangan darah (Bakta, 2000). Fe diet yang diserap usus kemudian diikat oleh transferin plasma.

Keseimbangan Fe dalam Tubuh

Keseimbangan Fe ditentukan oleh perbedaan antara asupan Fe dan keluaran Fe dari tubuh. Jika persediaan Fe tubuh menurun maka absorpsinya meningkat, sebaliknya absorpsi akan meningkat jika persediaan Fe tubuh menurun. Fe yang diserap usus atau dikeluarkan setiap hari berkisar antara 1-2 mg. Fe heme dan nonheme diabsobsi melalui brush border pada usus kecil bagian atas. Absorpsi Fe yang terkandung dalam diet, ditentukan oleh jumlah dan bentuk Fe, komposisi diet dan faktor gastro intestinal (GI tract). Fe heme biasanya terkandung sedikit dalam diet namun absorpsinya sekitar 20-30%.

Kebanyakan Fe yang terkandung dalam diet berupa Fe non heme yaitu sekitar 90% dan absorpsinya dipengaruhi oleh keseimbangan antara inhibitor a tphytate, tanat, fosfat dan ditingkatkan oleh asam amino dan asam askorbat.

Biasanya kurang 5% Fe non heme yang terabsorpsi. Ketersediaan Fe juga

dipengaruhi oleh faktor gastrointestinal seperti sekresi gaster, gerakan usus dan akibat dari operasi atau penyakit usus.

Penyimpanan Fe

Sebahagian besar transperin darah membawa Fe ke sum-sum tulang dan bagian tubuh lain. Di dalam sum-sum tulang Fe digunakan untuk membuat haemoglobin bagian sel darah merah. Sisanya di bawa ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Kelebihan Fe yang bisa mencapai 200 hingga 1500 mg. disimpan sebagai protein feritin dan hemosiderin di dalam hati (30%).

sum-sum tulang belakang (30%) dan selebihnya dalam limfa dan otot. Dari simpanan Fe tersebut hingga 50 mg sehari dapat dimobilisasi untuk keperluan tubuh seperti pembentukan hemoglobin. Feritin yang bersirkulasi didalam darah mencerminkan simpanan Fe didalam tubuh. Pengukuran feritin di dalam serum merupakan indikator penting dalam menilai status Fe.

Menggunakan suplemen Fe dosis tinggi untuk jangka waktu panjang atau sering mendapat transfusi dapat menimbulkan penimbunan Fe secara berlebihan di dalam hati (Almatsier, 2002). Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi penyerapan Fe oleh tubuh, yaitu ketersediaan Fe dalam tubuh, bioavailabilitas Fe, dan adanya faktor penghambat penyerapan Fe. Apabila jumlah Fe yang berada dalam tubuh menurun maka penyerapan Fe akan meningkat. Pada laki-laki penyerapan Fe akan meningkat setelah pertumbuhan terhenti dan akan memasuki masa dewasa. Sebaliknya pada wanita justru setelah masa manopouse cadangan Fe dalam tubuh meningkat dan penyerapan justru menurun karena tidak mengalami mentruasi lagi (Wirakusumah,1999).

Tubuh yang kekurangan Fe akan mengatur agar kebutuhan Fe untuk pembentukan sel-sel darah merah tetap dapat terpenuhi. Oleh karena itu,sumsum tulang bekerja lebih aktif serta semua kegiatan pencernaan dan absorpsi berlangsung lebih efisien. Fe yang terdapat dalam bahan makanan berasal dari hewan maupun tumbuhan. Zat yang berasal dari tumbuh- tumbuhan memiliki daya serap antara 1-6%, lebih rendah di banding Fe yang berasal dari hewan yang mempunyai daya serap 7-22% (Wirakusumah,1999).

Jumlah Fe dalam tubuh terutama diatur oleh penyerapan yang bervariasi. Apabila penyerapan Fe dalam tubuh berkurang maka penyerapan akan meningkat. Mekanisme kompensasi haemoestatic ini merupakan proteksi terhadap kemungkinan berkembangnya kurang Fe karena konsumsi makanan yang berkurang mengandung Fe. Kemungkinan kurangnya Fe karena rendahnya Fe dalam makanan, infestasi parasit dan mentruasi pada wanita (Suhardjo,1992).

Gangguan Metabolisme Bagi Kesehatan

Anemia defisiensi Fe dapat diketahui dari kadar hemoglobin seseorang. Kadar hemoglobin normal pada pria dewasa 13 g/ 100 ml dan untuk wanita yang tidak sedang mengandung 12 g/ 100 ml. kekurangan Fe banyak dialami bayi dibawah usia 2 tahun serta para ibu yang sedang

mengandung, yang biasanya juga diikuti oleh kekurangan gizi yang lain.

Pada wanita yang sedang haid atau menyusui, Fe yang diperoleh dari konsumsi makanan sehari-hari biasanya tidak mencukupi, sedangkan kekurangan Fe pada pria dewasa lebih jarang terjadi. Kekurangan Fe dapat pula terjadi pada pasien yang terserang cacing pita. Cacing ini mengisap darah dari saluran darah di bawah mukosa alat pencernaan penderita (Winarno, 2002).

Anemia diakibatkan oleh karena berkurangnya penyediaan Fe atau gangguan utilisasi Fe dalam sumsum tulang. Anemia hipokromik mikrositer dengan gangguan metabolisme Fe merupakan penyebab anemia paling sering dijumpai baik dalam praktek klinik maupun di lapangan (Bakta, 2000).

Salah satu anemia yang termasuk dalam anemia ini adalah anemia defisiensi Fe. Patogenesis anemia defisiensi Fe diawali dengan adanya perdarahan menahun. Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan Fe sehingga cadangan Fe menurun. Jika cadangan kosong maka keadaan ini disebut iron depleted state. Apabila kekurangan Fe berlanjud terus maka penyediaan Fe untuk eritpoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi atau sering disebut iron deficient erythopoiesis. Selanjudnya muncul anemia hipokromik mikrositer yang disebut anemia kurang Fe atau iron deficiency anemia (Bakta, 2000).

Anemia kurang Fe terjadi atas beberapa tingkatan, dimana masing- masing tingkatan berkaitan dengan ketidaknormalan indikator hematologis tertentu. Dimana banyaknya cadangan Fe (Iron Stores) berkurang di bawah normal namun Fe dalam sel darah merah dan jaringan masih tetap normal.

Tingkat kedua anemia kurang Fe dini (Early Iron Defisiency Anemi) dimana penurunan Fe cadangan terus berlangsung sampai habis atau hampir habis, tetapi Fe dalam sel darah merah dan jaringan masih tetap belum berkurang.

Tingkat ketiga anemia kurang Fe lanjut (Late Iron Defisiency Anemi) merupakan perkembangan lanjut dari anemia kurang Fe dini, dimana Fe dalam sel darah merah sudah mengalami penurunan, namun Fe dalam jaringan belum berkurang.

Tingkat keempat kurang Fe jaringan (Iron tissue defisiency) terjadi setelah Fe dalam jaringan berkurang. Dengan demikian pada tingkatan ini semua komponen Fe dalam tubuh telah terganggu (Dallman dalam Suhardjo, 1992).

Defisiensi Fe terjadi karena : (1) Konsumsi Sumber Fe yang berasal dari makanan yang tingkat absorpsinya rendah dan adanya penghambat /inhibitor. (2) Asupan makanan sumber Fe kurang. (3) Meningkatnya kebutuhan Fe misalnya pada keadaan hamil dan pada saat pertumbuhan cepat terutama pada anak-anak. (4) Kehilangan darah misalnya, menstrusi, adanya parasit kecacingan (Depkes RI, 1996).

Status Fe tergantung keseimbangan Fe dari konsumsi dan eksresinya pada waktu yang lama konsumsi Fe dapat berasal dari makanan atau melalui fortifikasi atau suplementasi. Ketidakseimbangan Fe

Dalam dokumen BUKU METABOLISME ZAT GIZI YENNI EVA (Halaman 87-129)

Dokumen terkait