BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Penelitian
3. Perilaku Kelompok Sasaran (target grup behavior
Perilaku kelompok sasaran (target grup behavior) yang tidak hanya memberi pengaruh pada efek/dampak kebijkan, tetapi juga mempengaruhi kinerja birokrat/aparat tingkat bawah. Dimensinya mencakup respon positif dan negatif masyarakat dalam mendukung atau tidak mendukung kebijakan.
Variabel perilaku target grup dalam implementasi kebijakan publik adalah sekelompok orang, organisasi, atau individu penerimaa jasa yang berperan bukan hanya dari sisi dampak kebijakan, tetapi juga dalam mempengaruhi kinerja implementasi program memalui tindakan positif dan negatif (Winter:2003). Dengan demikian, kinerja implementasi program sangat dipengaruhi oleh karakteristik partisispasi yakni mendukung atau menolak.
Model ini merupakan kerangka kerja yang menyajikan mekanisme dan menjadi faktor kunci yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari suatu implementasi.
Tentang siapa kelompok sasaran yang akan dipengaruhi perilakunya oleh kebijakan, dan seberapa jauh dapat mematuhi atau menyesuaikan diri terhadap kebijakan yang diimplementasikan, sangat tergantung kepada kesesuaian isi kebijakan (program) dengan harapan mereka. Hal yang tak kalah pentingnya
44
adalah faktor komunikasi, ikut berpengaruh terhadap penerimaan kebijakan oleh sekelompok sasaran. Terjadinya „error‟ dan „distorsi‟ atau proses komunikasi menjadi titik lemah dalam mencapai evektivitas pelaksanaan kebijakan (Parawangi,2011).
Tingkat kegagalan suatu implementasi kebijakan, sangat berbeda-beda satu sama lain. Berdasarkan model implementasi kebijakan Winter di atas, maka kelebihan yang dimilki adalah kemampuan menginterasikan dan menyederhanakan bebrapa model implementasi menjadi stau model yang tidak rumit terutama pada aringan organisasi. Kelemahannya adalah tidak menjelaskan lebih rinci pengertian perilaku dan mengidentifikasi faktor-faktor yang ikut berpengaruh dalam proses implementasi kebijakan.
C. Pengembangan Komoditas
pengembangan kawasan strategi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan penting antara lain adalah kesesuaian lahan dan keragaman sifat lahan yang akan sangat menentukan jenis komoditas yang dapat diusahakan serta tingkat produktivitasnya. Hal ini disebabkan setiap jenis komoditas membutuhkan persyaratan sifat wilayah/kawasan yang spesifik untuk berkembang (Djaenudin, 2014). Keragaman sifat lahan ini merupakan modal dasar yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan pewilayahan komoditas. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah aspek manajemen dalam pengelolaan lahan yang didasarkan pada sifat lahan untuk mencapai produktivitas yang berkelanjutan.
Pengembangan komoditas ini penting untuk dilakukan dengan selalu mengutamakan potensi yang dimiliki, dan yang menjadi langkah awalnya yaitu
45
dengan melalui pewilayahan komoditas. Pewilayahan komoditas harus sesuai berdasarkan dengan daya dukung lahan yang diartikan agar produktivitas yang diusahakan dapat berjalan dengan optimal. rencana pembangunan yang didasari oleh pewilayahan akan dapat mengurangurngi terjadinya persaingan baik jenis maupun produksi komoditas antar wilayah sehingga peluang pasar akan semakin terjamin. Untuk mendukung pengembangan potensi tersebut dibutuhkan suatu analisis yang menyeluruh yang meliputi berbagai aspek penting, seperti (1) menentukan komoditas unggulan yang tepat, sesuai dengan data-data hasil produksi yang ada; (2) mengetahui komoditas apakah yang sesungguhnya paling disukai oleh stakeholder selaku pelaku, sehingga dapat ditentukan kebijakan yang dapat mendukung keberhasilan program pengembangan komoditas; dan (3) analisis tentang kesesuaian lahan terhadap komoditas yang ada, upaya ini penting untuk dapat memetakan dengan jelas daya dukung dan lingkungan yang ada.
Menurut Badan Litban pertanian (2003) komoditas unggulan merupakan komoditas andalan yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan disuatu wilayah yang penetapannya didasarkan pada berbagai pertimbangan baik secara teknis (kondisi tanah dan iklim) maupun social ekonomi dan kelembagaan (penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya, manusia, infrastruktur dan kondisi social budaya setempat).
Penetapan komoditas unggulan disuatu wilayah menjadi suatu keharusan dengan pertimbangan bahwa komoditas-komoditas yang mampu bersaing secara berkelanjutan dengan komoditas yang sama di wilayah yang lain adalah komoditas diusahakan secara efesien dari sisi teknologi dan social ekonomi serta
46
memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Selain itu kemampuan suatu wilayah untuk memproduksi dan memasarkan komoditas yang sesuai kondisi lahan dan iklim diwilayah tertentu juga sangat terbatas.
Komoditas unggulan merupakan suatu bentuk yang memiliki potensi yang dipandang sebagai cara untuk dipersaingkan dengan produk sejenis di daerah lain, karena selain memiliki keunggulan komparatif juga memiliki efesiensi usaha yang tinggi (Tambunan dalam nadira, 2004).
Komoditas unggulan merupakan hasil usaha masyarakat yang mempunyai tingkat peluang pemasaran tinggi dan sehingga dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat. Kenggulan suatu komoditas juga masih dapat dibagi menjadi dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang dimiliki dengan dasar potensi yang ada sehingga dapat membedakannya dengan daerah yang lain. Keunggulan komparatif dapat berupa sumber daya alam, sumber daya manusia. Sedangkan keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat bersaing dengan daerah lain.
Berdasarkan pendapat diatas tentang wilayah komoditas maka dipandang perlu untuk pengembangan wilayah komoditas dikabupaten dalam rangka meningktkan taraf hidup petani.
D. Kerangka Pikir
Kerangka pikir mengacu kepada teori model implementasi dari Soren C.Winter. 2004: 207) menyatakan implementasi kebijakan Program pengembangan komoditas meliputi input formulasi kebijakan sesuai isu dan
47
masalah yang dihadapi. Proses implementasi kebijakan pengembangan meliputi perilaku organisasi dan antar organisasi, level bawah dan kelompok sasaran untuk mencapai tujuan keberhasilan program, dalam hal ini Implementasi Kebijakan program pengembangan komoditas pada kawasan strategi kabupaten di Kabupaten Bone. Lebih jelasnya digambarkan kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar 2. 6 Kerangka Pikir
E. Fokus penelitian
Fokus penelitian ini yaitu implementasi kebijakan program pengembangan komoditas pada Kawasan strategi kabupaten di Kabupaten bone. Implementasi kebijakan pengembangan komoditas di liat dari perilaku organisasi dan antar organisasi, perilaku birokrasi level bawah dan perilaku kelompok sasaran pada Kawasan strategi kabupaten khususnya di Kec.Palakka, Kec. Awangpone dan Kec.Barebbo.
Implementasi Kebijakan Program Pengembangan Komoditas Pada Kawasan Strategi Kabupaten Di Kabupaten Bone
Perilaku Organisasi dan Antar Organisasi
Perilaku Level Bawah
Perilaku Kelompok Sasaran.
Pengembangan Komoditas Unggulan Pada Kawasan Strategi Kabupaten di Kabupaten Bone - Komitmen
- Koordinasi
- Diskresi - Respon Positif - Respon Negatif
48 F. Deskripsi fokus penelitian
Deskripsi fokus penelitian merupakan penjelasan atau uraian masing-masing dari fokus yang diamati untuk memberikan kemudahan dan kejelasan tentang pengamatan. Lebih jelasnya yaitu diuraikan sebagai berikut:
1. Implementasi Kebijakan program pengembangan komoditas pelaksanaan kebijakan Program pengembangan komoditas yang diterapkan pada Kawasan strategi kabupaten di Kabupaten Bone. Implementasi kebijakan Program Pengembangan berdasarkan pada model implementasi Soren C.
Winter sebagai berikut:
a. Perilaku organisasi dan antar organisasi dimensinya komitmen dan koordinasi. Komitmen organisai yaitu kesepakatan bersama dengan instansi terkait dalam menjaga stabilitas organisasi dan jaringan antarorganisasi yang ada, dalam kaitannya dengan pelaksanaan program pengembangan komoditas pada kawasan startegi kabupaten di Kabupaten Bone. adapun kawasan startegi kabupaten yang dimaksud disini yaitu Kecamatan Palakka, Awanagpone, Barebbo. Sedangkan Koordinasi dilakukan,baik dalam hal pengambilan keputusan terutama dalam penyediaan data dan informasi maupun dalam hal pelaksanaan kegiatan.
b. Perilaku birokrasi level bawah adalah sikap dan tindakan yang ditunjukkan dalam implementasi kebijakan program pengembangan komoditas pada kawasan strategi kabupaten pada tingkat level bawah, perilaku birokrasi level bawah dimensinya yaitu Diskresi. Birokrasi
49
level bawah sebagai jabatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
c. Perilaku kelompok sasaran dimensinya Respon positif dan Respon negatif sikap dan tindakan yang ditunjukkan dalam implementasi kebijakan program pengembangan komoditas pada Kawasan strategi kabupaten yang ditunjukkan kepada kelompok sasaran yaitu Kelompok Tani/masyarakat petani
2. Kawasan strategi kabupaten merupkan wilayah yang memiliki penataan ruang yang juga diperioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota untuk keberhasilan implementasi kebijakan pengembangan komoditas.
50 BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian dilakukan selama dua bulan mulai dari bulan November sampai dengan Januari 2020. Lokasi penelitian yang menjadi tempat meneliti yaitu pada Kawasan Strategi Kabupaten Tepatnya di Kecamatan Palakka, Kecamatan Awangpone dan Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian adalah untuk memberikan gambaran mengenai implementasi kebijakan program perkembangan komoditas pada kawasan strategi kabupaten di Kabupaten bone. Khusunya di Kec.Palakka, Kec.Awangpone dan Kec.Barebbo. maka penelitian ini harus dapat menilai secara langsung bagaimana perkembangan komoditas unggulan di wilayah KSK. Sehingga peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian adalah deskriptif. peneliti bermaksud untuk memberikan suatu gambaran mengenai masalah-masalah yang ada yang berkaitan dengan implementasi kebijakan program pengembangan komoditas pada kawasan strategi kabupaten di Kabupaten Bone. Khususnya di Kec.Palakka, Kec. Awangpone, dan Kec.Barebbo.
51 C. Sumber Data
Dalam pengumpulan data digunakan prosedur data yang terdiri dari:
1. Data primer
Data primer yaitu untuk mencari data yang akurat dalam pengembangan komoditas pada kawasan strategi kabuapten di kabuapten bone, khususnya di Kec. Palakka, Kec.Awangpone dan Kec.Barebbo.
2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh oleh peneliti secara tidak langsung, yang berupa dokumen-dokumen dan berbagai dokumentasi.
D. Informan Penelitian
Informan penelitian adalah orang yang memahami tentang informasi dari obyek penelitian dan teknik pemilihan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive penentuan informan secara sengaja, teknik penentuan informan dengan pertimbangan tertentu yang menurut sumber datanya adalah orang yang ahli tentang bidang tersebut. Adapun informan yang di maksud adalah:
1. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultur dan Perkebunan 2. Dinas Kelautan dan perikanan
3. Camat Kec.Palakka, Kec.Awangpone dan Kec.Barebbo 4. penyuluh
5. Kelompok tani/masyarakat petani
52 Tabel 3.1
Daftar Nama-Nama Informan
No Nama Inisial Jabatan Ket
1. A. Zainal, A.Z Kabid
infrastruktur dan pengembangan wilayah
Bapeda
2. Musliadi MS Kasi produksi dan tanaman pangan
Dinas pertanian tanaman pangan, Holtikultura dan Perkebunan
3. Sukmawati SW Kasi produksi
perkebunan
Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan 4. Muhammad Amin MA Kabid
Pengelolaan Pembudidayaan Ikan
Dinas Kelautan dan Perikanan 5. H.Arlandy HA Sekertaris camat Kantor
Kec.Palakka 6. Hj.Faidah HF Sekertaris camat Kantor
Kec.Awangpone 7. Andi Asman Sulaiman AS Camat Kantor
Kec.Barebbo
8 Ari AR Masyarakat Awangpone
9 Faisal FA Masyarakat Barebbo
10 Rustang RU Masyarakat Palakka
11 Suradi SR Masyarakat Palakka
12 Risman RS Masyarakat Awangpone
13 Akifa Aksa AA Penyuluh Palakka
14 Darmawati DA Penyuluh Awangpone
15 Abdullah AB Penyuluh Barebbo
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan faktor yang penting untuk mensukseskan penelitian. Hal ini berkaitan dengan cara mengupulkan data, siapa sumbernya dan alat yang digunakan. Sehingga untuk memperoleh data yang benar
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data secara kualitatif dimana peneliti terjun langsung kelapangan untuk memperoleh data radi awal hingga akhir penelitian. Kemudian data yang telah didapat diolah secara sistematis dan logis, yaitu dengan menggambarkan kenyataan dan keadaan yang terjadi pada objek penelitian secara apa adanya, yang diperoleh baik dari subyek
54
peneliti maupun informasi penelitian untuk mendapatkan kesimpulan. Adapun tahap dalam analisis data penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Reduksi Data (data reduction)
Mereduksi data, yaitu dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, peneliti merekam semua data yang diperoleh dan kemudian memilih hal-hal yamg pokok dan memfokuskan sesuai dengan fokus penelitian. Dengan demikian, data yang telah direduksi dapat memberikan suatu gambaran yang lebih jelas mengenai pengembangan komoditas pada kawasan stratgi kabupaten di kabupaten bone. Khusunya di Kec. Palakka, Kec. Awangpone dan Kec. Barebbo.
2. Penyajikan Data (data display)
Setelah data dirangkum peneliti akan menyajikan data dalam bentuk suatu uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori dan jenisnya, sehingga peneliti akan lebih muda menjelaskan mengenai hal yang telah diteliti dan dapat menarik sebuah kesimpulan.
3. Penarikan Kesimpulan (conclution drawing and verification)
Langkah ketiga dari analisis dalam penelitian ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Yaitu dari hasil penelitian ini, peneliti memberikan gambaran mengenai pengembangan komoditas pada kawasan strategi kabupaten di Kabupaten Bone. Khusunya di Kec.Palakka, Kec.
Awangpone dan Kec. Barebbo.
55 G. Pengabsahan Data
Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan trianggulasi. Dimana triangulasi bermakna saling dengan mengadakan pengecekan akan keberadaan data yang dikumpulkan dari sumber data menggunakan teknik pengumpulan data yang lain dan melakukan pengecekan pada waktu yang berbeda.
1. Triangulasi Sumber
Teriangulasi sumber dalam hal ini peneliti melakukan triangulasi sumber dengan cara mencari informasi dari sumber lain atas informasi yang didapat dari informasi sebelumnya.
2. Triangulasi Metode
Triangulasi metode untuk menguji akuratnya sebuah data maka peneliti menggunakan trianggulasi metode menggunakan teknik yang berbeda dengan teknik yang digunakan sebelumnya.
3. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data penelitian.
1. Profil Kabupaten Bone
Kabupaten Bone adalah salah satu Daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak dikota Watampone. Dengan berpegang motto sumange’ teallara’ (teguh dalam keyakinan kukuh dalam kebersamaan), Kabupaten Bone akan menjadi pemerintah dan masyarakat yang mampu menghadapi segala tantangan sehingga dapat bersaing di era globalisasi.
Kabupaten Bone juga sebagai salah satu daerah yang berada di pesisir timur Sulawesi selatan yang memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di kawasan Indonesia Timur. Kabupaten Bone memiliki luas 4.559 km² dengan rincian lahan sebagai berikut:
Tabel 4.1: Rincian Lahan
No Nama Lahan Luas Lahan
1 Persawahan 88.449 Ha
2 Ladang 120.525 Ha
3 Tambak 11.148 Ha
4 Perkebunan Negara/Swasta 43.052,97 Ha
5 Hutan 145.037 Ha
6 Padang rumput dan lainnya 10.503, 48 Ha
57 a. Administrasi Pemerintah
Kabupaten Bone memiliki warisan budaya dan kaya dengan pesan moral.
Pesan kemanusian yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone pada masa lalu dalam menghadapi kehidupan, dan menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Secara Administratif kabupaten ini terletak 174 km kearah timur Kota Makassar, berada pada posisi 4013‟-5006‟ Lintang Selatan dan antara 119042'-12040‟ Bujur Timur, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Soppeng 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa 3) Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone
4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru.
58 b. Pembagian Administratif
Berdasarkan data Kabupaten Bone dalam Angka Tahun 2018 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone, jumlah penduduk Kabupaten Bone sekitar 738.515 jiwa, terdiri dari 27 Kecamatan dan 372 Desa/Kelurahan. Adapun rinciannya sebagai berikut:
Tabel 4.2: Nama, Luas Wilayah Per-Kecamatan dan Jumlah Kelurahan Kabupaten Bone 2018
Kecamatan
Jumlah Kelurahan/
Desa
Luas Wilayah
Administrasi Terbangun
(km2)
(%) Terhadap
Total
(Ha)
(%) Terhadap
Total
Bontocani 11 46,335 10.16 241.82 2.24
Kahu 20 18,950 4.16 595.85 5.52
Kajuara 18 12,413 2.72 491.11 4.55
Salomekko 8 84,91 1.86 222.22 2.06
Tonra 10 20,032 4.39 187.31 1.73
Patimpeng 11 13,047 2.86 244.93 2.72
Libureng 20 34,425 7.55 482.59 4.47
Mare 18 26,350 5.78 367.62 3.42
Sibulue 20 15,580 3.42 273.42 4.38
Cina 12 14,750 3.24 395.14 3.66
Barebbo 18 11,420 2.50 387.82 3.59
Ponre 9 29,300 6.43 203.02 1.88
Lappariaja 9 13,800 3.03 362.60 3.36
Lamuru 12 20,800 4.56 395.87 3.66
Tellu limpoe 11 31,810 6.98 210.08 1.94
Bengo 9 16,400 3.60 395.80 3.66
Ulaweng 15 16,167 3.55 380.69 3.52
59
Palakka 15 11,532 2.53 341.22 3.16
Awangpone 18 11,070 2.43 421.41 3.90
Tellu siattinge 17 15,930 3.49 591.76 5.48
Amali 15 11,913 2.61 326.77 3.03
Dua Boccoe 22 13,900 3.05 421.61 3.90
Ajangale 12 14,490 3.18 454.87 4.21
Cenrana 16 14,360 3.15 339.09 3.14
T.Riattang Barat 8 5,368 1.18 637.56 5.90
Tanete Riattang 8 2,379 0.52 701.38 6.49
T.Riattang Timur 8 4,888 1.07 528.53 4.89
Jumlah 372 455,900 100 10,082 100
Sumber: BPS, Kabupaten Bone dalam Angka 2018
c. Jumlah Penduduk
Penduduk Kabupaten Bone berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2018 sebanyak 754.894 jiwa yang terdiri atas 360.971 jiwa penduduk laki-laki dan 393.923 jiwa penduduk perempuan. Dibadingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2017, penduduk Bone mengalami pertumbuhan sebesar 0,52 persen. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2018 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 91,63.
Kepadatan penduduk di Kabupaten Bone tahun 2018 mencapai 166 jiwa/km2 kepadatan penduduk di 27 Kecamatan cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kecamatan Tanete Riattang dengan kepadatan sebesar 2,235 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan bontocani sebesar 34 jiwa/km2 d. Visi Misi Kabupaten Bone
1) Visi Kabupaten Bone adalah “Masyarakat Bone yang Mandiri, Berdaya Saing, dan Sejahtera”. Mandiri yaitu kemampuan nyata pemerintah daerah
60
dan masyarakatnya dalam mengatur dan mengurus kepentingan daerah/rumah tangganya sendiri menurut prakarsa dan aspirasi masyarakatnya termasuk didalamnya upaya yang sungguh-sungguh secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan terhadap pihak-pihak lain namun tetap melakukan kerja sama dengan daerah-daerah lain yang saling menguntungkan. Berdaya saing yaitu mengandung makna terwujudnya kemampuan masyarakat Kabupaten Bone untuk memanfaatkan keunggulan inovasi, komparatif dan kompetitif yang berbasis sumber daya lokal dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga mampu besaing secara regional, nasional bahkan internasional. Sejahtera yaitu mengandung makna semakin masyarakat dalam memenuhi kebetuhan dasar yang berkelanjutan dalam aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, sosial budaya, lingkungan hidup yang dilingkupi dengan suasana kehiupan yang religius, aman dan kondusif serta didukung infrastruktur dan tata kelolah pemerintah yang baik.
2) Misi, dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka ditetapkan misi sebagai berikut:
a) Meningkatkan tata kelolah pemerintah yang baik, bersih dan bebas korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN).
b) Mengembangkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
c) Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan dan sosial dasar lainnya.
61
d) Mengoptimalkan akselerasi pembangunan daerah berbasisi desa dan kawasan pedesaan.
e) Mendorong penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk pengembangan usaha dan mengembangkan inovasi daerah dalam peningkatan pelayanan public.
f) Meningkatkan budaya politik, penegakan hukum, dan seni budaya dalam kemajemukan masyarakat.
62
BT dengan ketinggian rata-rata 114 Mdpl. sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Awangpone dan Kecamatan Tellu Siattingnge, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Barebbo dan Kecamatan Ponre, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanete Riattang Barat, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ulaweng.
2. Profil Kecamatan Awangpone
Kecamatan Awangpone merupakan Ibukota dari Kabupaten Bone dan salah satu dari 27 Kecamatan yang berada di Kabupaten Bone. Kata Awangpone mulanya terdiri dari beberapa wanua yang pada awal terbentuknya kerajaan Bone (1330) bernama Tanete Riawang yang artinya suatu “Lompo” atau padang yang luas terletak disebelah Utara Bone sehingga menjadi sebuah Kecamatan yang saat ini bernama Kecamatan Awangpone yang Ibukota Kecamatan Terletak di Lappoase dengan arti Lumbung padi.
a) Keadaan Geografis dan Topografi
Keadaan topografi Kecamatan Awangpone merupakan daerah berbentuk dataran yang mempunyai jarak tempuh 7 Km2 dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten. Secara administratif Kecamatan Awangpone terdiri dari 18 Desa/Kelurahan. Luas Kecamatan Awangpone memiliki luas wilayah 11,070 km2 dengan kordinat Geografis berada pada 4028‟36” LS dan 120018‟01” BT dengan ketinggian rata-rata 40 Mdpl. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan TelluSiatinge, Kecamatan Amali dan Kecamatan Cenrana, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Palakka, Kecamatan Tanete Riattang, Kecamatan Tanete Riattang Timur,
63
dan Kecamatan Tanete Riattang Barat, sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tanete Riattang Barat.
3. Profil Kecamatan Barebbo
Kecamatan Barebbo merupakan Ibukota dari Kabupaten Bone dan salah satu dari 27 Kecamatan yang berada di Kabupten Bone. Dikatakan Barebbo karena terkenal dengan panen padinya pada musim rendengan (Bare) karena apabila panenya berhasil dapat mencukupi kebetuhan seluruh Kabupaten Bone khususnya padi, yang akhirnya menjadi sebuah Kecamatan yang saat ini bernama Kecamatan Barebbo, yang Ibukota Kecamatan terletak di desa Apala.
a) Keadaan Geografis dan Topografi
Keadaan topografi Kecamatan Barebbo merupakan Kategori Lokasi Pesisir yang mempunyai jarak tempuh 10 Km2 dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten. Secara administratif Kecamatan Barebbo terdiri dari 18 Desa/Kelurahan. Luas Kecamatan Barebbo memiliki luas wilayah 11,420 Km2 dengan kordinat geografisnya berada pada 40 36‟33” LS dan 1200 18‟53” BT dengan ketinggian rata-rata 40 Mdpl. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tanete Riattang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Kecamatan Palakka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sibulue dan Kecamatan Cina, sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ponre.
64
65
5 Cinnong 5,50 Maccope 11,06 Usa 9,33
6 Lampoko 6,00 Mallari 7,57 Ureng 4,66
7 Wollangi 7,46 Kading 7,71 Mico 10,57
8 Kajaolaliddong 4,70 Cakke Bone 3,90 Bainag 4,97
9 Samaelo 3,98 Lappoase 5,36 Passipo 6,88
10 Parippung 7,51 Cumpiga 4,50 Tanah
Tengah
7,10
11 Mario 8,70 Awalogading 3,90 Tirong 3,32
12 Sugiale 7,00 Jaling 6,44 Panyili 6,54
13 Kampunon 7,33 Mapolo Ulaweng
5,50 Matbua 6,01
14 Corowalie 7,31 Unra 6,60 Maduri 5,81
15 Talungeng 6,80 Kajuara 4,75 Melle 9,88
16 Barebbo 10,10 Carigading 4,50
17 Watu 5,66 Matuju 8,58
18 Kading 7,40 Latekko 9,34
Jumlah 114,28 110,70 115,32
Sumber: Kabupaten Bone Dalam Angka Tahun 2019
1. Penggunaan Lahan
Sumberdaya lahan merupakan salah satu saran produksi yang sangat penting. Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang mempengaruhi besar kecilnya hasil produksi. Lahan yang luas disertai sistem garapan yang baik, akan mendatangkan hasil yang maksimal yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu, setiap lahan sedapat mungkin digarap dan dimanfaatkan secara omptimal utamanya disektor pertanian dengan memperhatikan kelestarian sumber daya alam. Tidaklah heran, sekiranya lahan
66
yang tersedia petani senantiasa berupaya melakukan pola garapan ekstensifikasi dan intensifikasi.
Lahan sawah yang paling luas adalah di Kecamatan Awangpone yaitu 5.659 Ha, yang terdiri dari lahan sawah irigasi teknis seluas 2.130 Ha, irigasi sederhana 0 Ha dan sawah tanda hujan 3.529 Ha sedangkan irigasi ½ teknis dan irigasi non PU tidak ada. Selanjutnya lahan sawah Dikecamatan Barebbo dengan luas 5.428 Ha, yang terdiri dari sawah irigasi 3.787 Ha, lahan sawah irigasi ½ teknis seluas 0 Ha, irigasi sederhana 0 Ha, sawah tadah hujan seluas 1.461 Ha dan tidak ada irigasi non PU.
Sedangkan luas lahan sawah yang terendah adalah di Kecamatan Palakka 2.654 Ha, dimana ketersediaan sarana pengairan yang dimilki masih relative rendah yaitu hanya memiliki pengairan irigasi teknis seluas 587 Ha, dan sawah tadah hujan seluas 2.067 Ha sebagian lainnya berupa irigasi sederhana, irigasi ½ teknis dan irigasi non PU, masing-masing 0 Ha.
Tabel 4.4: Pengairan Irigasi
NO Kecamatan Irigasi Teknis
Irigasi
½Teknis
Irigasi sederhana
Irigasi Non PU
Tadah Hujan
Jumlah
1 Palakka 587 0 0 0 2.067 2.654
2 Awangpon
e 2.130 0 0 0 3.529 5.659
3 Barebbo 3.787 0 0 0 1.461 5.248
Jumlah 6.504 0 0 0 7.057 113.561
Sumber: Kabupaten Bone Dalam Angka 2018
Secara umum pengairan lahan sawah pada KSK masih perlu mendapat perhatian dalam pembangunannya. Perhatian tersebut terutama diharapkan dalam