• Tidak ada hasil yang ditemukan

SYARIAT ISLAM DI INDONESIA

Syariah Islam, Sistem Hukum Dunia, dan Politik Hukum di Indonesia

SYARIAT Islam adalah sistem hukum yang paling lengkap dan sejak lama telah menjadi daya tarik bagi banyak pihak untuk meng­

kajinya. Tidak hanya dijadikan sebagai pedoman yang mengatur tata kehidupan, tapi juga telah menjadi bagian dari diskursus global dan tarik menarik ideologis. Saat ini, perhatian terhadap Syariat Islam menguat seiring lahirnya gerakan revivalisme Islam pada p a ruh abad ke­20, yang mengusung gagasan penerapan Syariat Is­

lam di banyak negeri Muslim,1 tak terkecuali Indonesia, di mana mun cul beragam kelompok masyarakat yang menaruh perhatian dan menyebarkan gagasan dan ajakan perlunya penerapan Syariat Islam.

Menurut Satjipto Rahardjo, dalam sistem hukum global, Syariat

1Baca M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2009.

Islam telah menempati posisi yang sejajar dengan dua sistem hukum lainnya, Roman Law2 dan Common Law,3 yang di antara keduanya sem pat bertemu dalam satu garis yang sama, yaitu sama­sama me nekankan akal, nalar, dan rasionalitas. Kalau akal, nalar, dan rasionalitas menjadi ciri dua sistem hukum tersebut, maka Syariah Islam selain logis, juga menambahkan kekhasan dengan unsur­

unsur immanent yang tidak sekedar berdiri sebagai sebuah sistem aturan kehidupan, tapi juga sebagai wahyu. Abraham Makdisi menyebut Syariat Islam memiliki kesamaan dengan Common Law, yaitu sama­sama terletak pada hukum nasional, keaslian, dan ber­

dasarkan pengalaman, antara lain berupa yurisprudensi hakim dengan sistem pengadilan juri dan saksi yang disumpah. Ini yang menjadikan hukum Islam lebih dekat dengan Common Law daripada Ro man Law. Perbedaan utama keduanya terletak pada wahyu

2Ciri utama Roman Law mendasarkan pada ketersusunan peraturan per­

undang­undangan dalam suatu kitab undang­undang tertulis. Sistem ini mu­

lai berkembang abad ke­12 dan 13 dan telah melahirkan sistem hukum di be­

berapa negara Eropa, seperti Prancis (French Civil Code/ Napoleon Code) 1804, Jerman (German Civil Code) abad ke­17, dan Italia (Italian Civil Code). Roman Law juga ikut melahirkan sistem hukum Belanda yang selama 3,5 abad diterapkan di Indonesia. Aksi kolonialisasi ini juga membawa sistem hukum Roman Law ke beberapa negara jajahan, seperti di benua Asia dan Afrika. Satjipto Rahardjo menyebut sistem hukum di Indonesia sebagai sistem Romawi­Jerman (Civil Law System). Lihat Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2000, hal. 15­17.

3Common Law mendasarkan pada ketentuan hukum yang lebih dulu (ju­

dicial precedent), yang berasal dari hukum tak tertulis. Sistem hukum ini mulai berkembang abad ke­11. Raja Henry II berperan melembagakan Common Law dalam unifikasi sistem hukum Common Law. Unifikasi sistem hukum Common Law dilakukan melalui dua cara, yaitu penggalian tradisi lokal menjadi aturan na sional; dan memberdayakan sistem juri pada kasus warga negara untuk menyelidiki tuduhan kriminal yang lebih realistis dan klaim publik. Sistem hukum ini digunakan di banyak negara lewat penjajahan dan ekspansi politik yang dilakukan Inggris, seperti negara­negara Persemakmuran Inggris Raya, seperti Wales, Irlandia Utara, Republik Irlandia, Malaysia, Brunei Darussalam, Hong Kong, Singapura, Australia, AS, dan banyak lagi. Ibid., hal. 17.

sebagai sumber utama hukum Islam dan logika pada Common Law dan Roman Law.4

Pengakuan Syariah Islam sebagai salah satu sistem hukum dunia bukan hal yang diada­adakan. Ketua Mahkamah Agung AS ke­14 (1953­1969) Earl Warren (1891­1974),5 pernah menjelaskan de­

ngan lugas di depan peserta pertemuan ahli­ahli hukum dunia ta­

hun 1963 di Athena Yunani bahwa:

“Di dinding ruang tempat kami menyidangkan perkara­perkara yang diputus oleh Mahkamah Agung, terpahat lukisan/lambang para tokoh pem­

bangun hukum dunia. Kami susun sedemikan rupa, sehingga di sebe lah ki­

ri dinding ada nama­nama seperti Menes (Mesir), Hammurabi (Baby­

lon), Musa dan Salomon (Israel), Lycurgus, Solon dan Draco (Yu nani), Con­ficius (Cina) dan Augustus (Roma) sebagai sembilan tokoh pem ba­

ngun hukum yang hidup sebelum masehi. Sedangkan nama­nama seperti Muhammad (Islam), Justisianus (Roma), Charlemagne (Jerman), King Jhon dan Black Stone (Inggris), Saint Louist dan Napoleon (Prancis), Hugo Grotius (Belanda) dan Marshall (Amerika Serikat) berada di sebelah kanannya yang diletakkan sebagai sembilan tokoh pembangun hukum dunia yang hidup sesudah masehi. Dan selalu setiap kami bersidang termasuk ke­

tika mendengarkan argumen­argumen pengacara dan memutuskan perkara­

perkara, tokoh­tokoh pembangun hukum dunia itu seakan­akan memandang ke bawah sedang memperhatikan kami dan tak jarang kami yang menengadah ke atas kepada mereka untuk mencari ilham dalam memutus perkara.”6

4http://www.questia.com/library/book/ibn­aqil­religion­and­culture­in­

classical­islam­by­george­makdisi.jsp

5Earl Warren adalah seorang Ketua Mahkamah Agung Amerika (Chief Jus­

tice) yang selama menjabat, sering berhadapan dengan kasus­kasus kon troversial terkait dengan hukum kewarganegaraan dan politik ketata negaraan. Lahir di Los Angeles dan dibesarkan di Bakersfield, California di mana ayahnya berprofesi sebagai mekanik kereta api. Bakersfield telah menjadi tempat belajar yang berharga bagi Warren. Warren menjadi penegak hukum Amerika yang sangat anti­rasisme terutama perlakuan orang Amerika terhadap orang Asia yang pada waktu itu sering terjadi di West Coast. http://www.landmarkcases.org/brown/warren.html

6Busthanul Arifin, Hukum Pidana (Islam) dalam Lintasan Sejarah, dalam Pida­

na Islam di Indonesia: Peluang, Prospek dan Tantangan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, hal. 34.

Disebutnya nama Muhammad saw. hanyalah penegasan akan pengakuan dunia terhadap keberadaan Syariat Islam. Bahwa hakim­

hakim di negara sekuler seperti Amerika pun dalam memutus per­

kara­perkara yang terkait dengan hukum kewarganegaraan dan politik kenegaraan merujuk pada banyak sumber hukum, salah satunya adalah Syariat Islam yang disimbolkan dengan Muhammad saw.

Dalam mengeksplorasi nilai­nilai yang hidup di masyarakat ke dalam sebuah tatanan hukum, ilmuwan­ilmuwan hukum di Barat tak jarang saling mengadopsi, bahkan “mencuri” konsep­konsep asli yang telah dirumuskan oleh tokoh lainnya, seperti yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte, ketika berekspedisi ke Mesir. Dengan segala taktik dan strateginya, Napoleon berhasil memboyong nas­

kah dan manuscript berbagai pengetahuan Islam, termasuk ilmu hukum yang tersimpan di Musium Iskandariah, untuk dipe la jari oleh para cendikiawan di Prancis. Oleh karenanya, paska kepu­

langan Napoleon dari Mesir, penguasa Prancis menerbitkan sebuah kitab kodifikasi hukum perdata yang kemudian disebutnya Code Napoleon.7 Karenanya tak berlebihan bila menyebut bahwa Code Na­

poleon sangat dipengaruhi oleh hukum Islam yang berlaku di Mesir saat itu.

Seakan juga ingin menegaskan apa yang telah dilakukan Na­

poleon, D. De Santillana menyebut bahwa beberapa sistem dan institusi dagang, seperti perkongsian terbatas yang dikembangkan oleh Islam telah memberikan kontribusi positif bagi sistem hukum dagang Barat. Kontribusi tersebut telah memberikan standar etika

7Untuk mengetahui lebih dalam tentang Code Napoleon bisa dilihat da­

lam E. A. Arnold, ed. and trans., A Documentary Survey of Napoleonic France, Lanham, MD: University Press of America, 1993, hal. 151­164, dan Laura Mason and Tracey Rizzo, eds., The French Revolution: A Document Collection, New York:

Houghton Mifflin, 1999, hal.340­347.

yang luhur bagi pengembangan konsep­konsep dagang yang mo­

dern. Semua itu merupakan sumbangsih hukum Islam terhadap hukum Eropa.8

Fakta ini setidaknya dapat menjelaskan bahwa Syariat Islam ada lah sistem hukum yang mendunia, bukan ansich diakui dan diterapkan di lingkup negara­negara Islam — tentu dengan segala variannya, tapi juga negara seperti AS pun Mahkamah Agung­

nya mengakui hukum Islam. Sehingga tak perlu jadi momok yang menakutkan bila Syariat Islam diterapkan menjadi hukum po sitif.

Syariat Islam sesungguhnya sama dengan hukum publik lain­

nya, termasuk KUHP Belanda yang sampai saat ini masih men­

jadi hukum positif, yang juga mencoba mengatur tertib hidup ma­

syarakat ke arah yang lebih baik. Bagi Indonesia, memang tidak menegaskan penerapan Syariat Islam dalam Konstitusinya,9 tapi ada jaminan kebebasan beragama.10

8Sebagaimana dikutip dalam Watt Montgomary, The Influence of Islam on Medieval Europe, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1987, hal. 210.

9Tentu yang dimaksud adalah Konstitusi pasca tanggal 18 Agustus 1945.

Sebab bila merujuk pada kesepakatan para pendiri bangsa terkait dasar negara yang tertuang dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, tegas disebutkan bahwa penerapan Syariat Islam yang diperuntukan bagi umat Islam, namun kesepakatan ini berubah total tanggal 18 Agustus 1945, seiring perubahan Sila Pertama Piagam Jakarta, yang berbunyi: “Ketuhanan dengan Kewajiban Men jalankan Syariat Islam bagi Pemeluk­pemeluknya” berubah menjadi:

“Ketuhanan Yang Maha Esa”.

10Lihat UUD 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan 2. Pasal­pasal ini merupakan jaminan ter hadap kebebasan beragama dan beribadat. Karenanya, segala bentuk atur­

an yang berada di bawahnya tidak boleh berlawanan dengan ketentuan ter­

sebut. Kata bebas memeluk agama (ayat 1) dan berhak atas kebebasan me­

yakini kepercayaan (ayat 2) eksplisit merupakan jaminan kepada setiap warga negara mempunyai otonomi untuk memeluk agama dan keyakinan, serta melaksanakannya. Pasal 29 Ayat 1 sebenarnya memberi tekanan pada negara, bukan warga negara. Kata negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukan bahwa negara mempunyai spirit keagamaan. Hal ini bagi sebagian kalangan dianggap aneh: Indonesia bukan negara sekuler dan pula negara agama, terutama bagi yang tidak memahami Indonesia.

Yusril Ihza Mahendara menyebut bahwa terdapat keinginan ku at dari para penyelenggara negara untuk membangun hukum sen diri yang bersifat nasional. Keinginan ini berjalan seiring tum­

buhnya berbagai kekuatan politik di negara kita, di samping tum­

buhnya lembaga­lembaga negara, serta struktur pemerintahan di daerah. Namun harus diakui bahwa pembangunan hukum di bidang pidana dan perdata, termasuk hukum ekonomi berjalan sangat lam­

ban. Baru di era Orde Baru, kita menyaksikan pembangunan nor­

ma­norma hukum berjalan relatif cepat. Kondisi ini berjalan lebih cepat lagi ketika memasuki era Reformasi.11

Salah satu buah reformasi adalah lahirnya Tap MPR RI Nomor 15 Tahun 1998,12 dan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah (Otda).13 Otda merupakan kebijakan yang dalam batas tertentu memberikan otoritas kepada daerah agar leluasa mengatur daerahnya menjadi lebih mandiri dan berkembang, sehingga

11Pasca amandemen UUD 1945, kekuasaan membentuk undang­undang yang semula ada di tangan Presiden dengan persetujuan DPR diubah menjadi sebaliknya, maka makin banyak norma hukum baru yang dilahirkan. KUH Perdata peninggalan Belanda telah banyak diubah dengan berbagai peraturan perundang­undangan nasional, apalagi ketentuan­ketentuan di bidang hukum dagang dan kepailitan, yang kini dikategorikan sebagai hukum ekonomi.

Berbagai norma hukum baru yang dikategorikan sebagai tindak pidana khusus juga telah dilahirkan, sejalan dengan pertumbuhan lembaga­lembaga penegakan hukum dan upaya memberantas berbagai kejahatan. Yusril Ihza Mahendra, ”Hukum Islam dan Pengaruhnya terhadap Hukum Nasional In­

do nesia”, dalam Makalah, Seminar tentang Hukum Islam di Asia Tenggara, Fa­

kultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 5 Desember 2007.

12Tap MPR RI ini menetapkan penyelenggaraan Otda dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggungjawab kepada daerah secara proposional sesuai prinsip demokrasi, peranserta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta potensi dan keberagaman daerah dalam kerangka NKRI.

13UU Nomor 22 Tahun 1999 ini kemudian “disempurnakan” menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang hal yang sama. Namun keduanya mempunyai substansi yang sama bahwa Otonomi Daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengurus urusan pemerintahannya sendiri ber­

dasarkan aspirasi dan kepentingan masyarakat setempat.

masyarakatnya menjadi lebih sejahtera. Pemda dianggap lebih me­

ngetahui permasalahan di daerahnya, sehingga diharapkan akan semakin meningkat terhadap tuntutan dari masyarakatnya. Menurut PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Ke­

wenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, disebutkan bahwa da­

lam bidang politik dalam negeri dan administrasi publik, Pemda me miliki kewajiban untuk memelihara ketentraman dan ketertiban umum. Untuk menciptakan ketentraman dan ketertiban umum, maka Pemda bersama­sama dengan DPRD mengeluarkan Perda.

Sementara dalam UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang­undangan Pasal 7 ayat (1) huruf e ditegaskan bahwa Perda masuk sebagai salah satu jenis dan hirarki peraturan perundang­undangan. Bahkan terkait ayat (1) huruf e masih dirinci lagi pada ayat (2) huruf a sampai c bahwa Perda dimaksud meliputi Perda Propinsi, Perda Kab./Kota dan Peraturan Desa. Pada Pasal 12 juga disebutkan: “Materi muatan Perda adalah seluruh materi muat an dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan tu­

gas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta per ja baran lebih lanjut peraturan perundang­undangan yang lebih ting gi.”14 Ketentuan­ketentuan perundang­undangan ini menjadi pembenar bagi masyarakat untuk membuat beragam Perda, termasuk Perda Syariat.

Syariat Islam Masa Kerajaan dan Kolonial

Menilik relasi Islam dan negara di era kerajaan, menarik

14Ketentuan­ketentuan pada UU Nomor 10 ini diperkuat dengan UU No­

mor 32 Tahun 2004 Pasal 25, yang menegaskan bahwa salah satu tugas dan wewenang kepala daerah adalah menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan DPRD. Pasal 136 ayat (3) UU Nomor 32 Pasal 136 ayat (3) me­

negaskan bahwa ”Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan per undang­undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas ma­

sing­masing daerah”.

pendekatan yang ditawarkan Taufik Abdullah dan Ahmad M. Se­

wang. Taufik15 membagi relasi Islam dan negara dalam empat mo­

del. Pertama, tumbuhnya kerajaan Islam dari kampung­kampung kecil, seperti di Perelak, dan Samudera Pasai. Di daerah ini awalnya tidak terdapat komunitas agama selain Islam. Di dalam kerajaan ini hukum kerajaan adalah hukum Islam, mengingat hukum Islam me mang sudah berlaku sebelumnya di kampung­kampung kecil.

Dengan demikian tidak terjadi konflik di antara keduanya. Kedua, pertarungan hukum Islam dengan hukum adat, seperti terjadi di Sumatera Barat. Penyebabnya, tidak adanya pusat kuasa atau ke­

rajaan besar yang bisa memenangkan adat atau syariah. Perang Paderi merupakan puncak pertarungan hukum Islam dan hukum adat. Di sini tampak ada permasalahan yang problematik, di mana hukum Islam hendak dijadikan hukum negara tetapi masyarakat menolak, mengingat mereka sudah mempunyai hukum adat ter­

sen diri. Akhirnya disepakati bahwa keduanya sama­sama diakui.

Kesepakatan ini terkenal dengan, “adat bersendi syara’ dan syara’

ber sendi Kitabullah”, di mana hukum adat diakui selama tidak ber­

tentangan dengan hukum atau Syariat Islam.16

Ketiga, model Kerajaan Gowa, di mana ada kerajaan kuat me­

makai adat istiadat dan hukum serta tata cara dan hukum pra­Islam.

Kemudian datang hukum Islam melalui pedagang, para ulama yang memasuki keraton secara bertahap, lewat perkawinan, dan aliansi­

aliansi ekonomi. Lalu timbul kerajaan­kerajaan yang diislamkan secara berangsur­angsur dengan tidak mematikan unsur pra­Islam

15Lihat Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Ja karta: LP3ES, 1987, hal 124­158. Dengan melakukan pembacaan yang sama atas karya Taufik Abdullah, baca juga dalam Abdurrahman Wahid, “Kebebasan Beragama dan Hegemoni Negara”, dalam Komaruddin Hidayat, Ahmad Gaus AF., (Ed.), Passing Over: Melintasi Batas Agama, Jakarta: Yayasan Paramadina­

Gramedia, 1998, hal. 159­169.

16Ibid., hal. 132

yang ada.17 Keempat, model di Kerajaan Jawa, ketika Panembahan Pa sopati secara sadar memberikan tempat kepada tradisi pra­Islam, yaitu Hindu­Budha yang digabung dengan sistem kepercayaan se­

belum Hindu datang. Jadi ada agama bayangan disamping aga ma formal (Islam). Di sini masyarakat tidak harus ikut­ikutan. Me­

reka jadi santri dipersilahkan dan berbeda dengan raja juga bu­

kan masalah. Tuntutannya sederhana, tunduk pada raja, asal dibo­

lehkan jadi Muslim yang santri dan raja mau pergi ke masjid dua kali dalam setahun dan sekatenan.18

Sementara Ahmad M. Sewang menemukan dua pola berbeda da lam hal penerimaan Islam di beberapa tempat di Nusantara. Per­

tama, pola bottom up, Islam diterima terlebih dahulu oleh masyarakat bawah, lalu berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas atau penguasa kerajaan. Kedua, pola top down, di mana Islam diterima secara langsung oleh penguasa kerajaan, kemudian disosialisasikan dan berkembang kepada masyarakat lapisan bawah.19

Model relasi Islam dan negara yang ditawarkan Taufik atau Se wang menggambarkan peran dan posisi Islam saat itu yang sig­

nifikan dalam relasinya dengan negara (mamlakah), yang setidaknya tergambar dari pemberlakuan hukum Islam sebagai hukum resmi kerajaan, tentu dengan segala varian penerapannya. Bahkan se­

akan ingin menunjukkan jatidiri keislamannya, raja­raja kerajaan Islam juga banyak menggunakan simbol­simbol keislaman yang ter gambar dari gelar­gelar yang disandangnya. Beberapa raja Islam di Jawa misalnya ada yang bergelar, “adipati ing alogo sayyidin pano- tomo”. Penggunaan simbol­simbol ini oleh Rifyal Ka’bah disebutnya

17Ibid., hal. 132

18Abdurrahman Wahid, “Kebebasan Beragama...Op. Cit., hal. 165

19Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai XVII, Ja­

kar ta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, hal. 86­87.

sebagai menegaskan tentang besarnya peranan Islam di dalam ke­

rajaan­kerajaan Islam.20

Sebuah riset tentang mistik Islam menyebutkan bahwa be­

berapa raja dan sultan di Nusantara berusaha memasyarakatkan Sya riat Islam. Hukum Islam pada masa itu merupakan fase penting dalam sejarah hukum Islam di Nusantara.21 Sebagian ahli sejarah me­

nyebut bahwa akar penerapan hukum Islam di Nusantara dimulai sejak Islam masuk di negeri ini pada abad pertama hijriyah atau abad ketujuh dan kedelapan masehi. Syariat Islam telah menjadi jalan hidup Muslim Nusantara.22 Dengan demikian, Syariat Islam me mang mempunyai dasar yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Jauh sebelum kedatangan Belanda, In­

donesia telah disatukan oleh hukum Islam.

Sumatera merupakan pintu masuk dan dijadikan sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang Muslim. Secara perlahan, ge­

rakan dakwah ini berhasil membentuk masyarakat Islam di Peu­

reulak Aceh Timur, yang kemudian diikuti dengan berdirinya kera­

jaan Islam pertama di Nusantara pada abad ketiga, yaitu Kerajaan Samudera Pasai, yang kemudian mengilhami berdirinya kerajaan Islam lainnya, seperti Kesultanan Malaka, Kesultanan Demak, Kesultanan Mataram dan Kesultanan Cirebon, Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate dan Tidore.23 Kesultanan­kesultanan ini telah me nerapkan hukum Islam secara menyeluruh.

Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam yang paling ketat menerapkan hukum Islam. Didapat kete­

20Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Universitas Yarsi, 1999, hal. 71­74.

21Ibid., hal. 72.

22Rifyal Ka’bah, Penerapan Syariat Islam di Indonesia antara Peluang dan Tan- tangan, Jakarta: Global Media, 2004, hal. 119­120.

23Ibid.

rangan, tahun 1292 M Marcopolo singgah di Peureulak, di mana di­

jumpai sebuah kerajaan dan rakyatnya telah melaksanakan Syariat Islam. Sultan Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam ke­

pada putranya Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam: Ki­

tab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda me­

wajibkan pelaksanaan salat lima waktu dan puasa secara ketat. Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pen curian senilai 1 gram emas telah dilakukan antara tahun 1651­

1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa.24

Kerajaan Demak sejak awal berdiri berencana mendirikan Kera­

jaan Islam, yang dirumuskan dalam tiga pokok pikiran, yaitu dasar negara Islam, pemegang kekuasaan negara Islam, dan terencana dan strategi mencapai negara Islam.25 Dasar negara Islam dapat di singkap dari berita Walisongo dan Babad Demak, yaitu tentang perdondi kiblat (perselisihan paham para Walisongo tentang arah kiblat) Masjid Demak. Beberapa ahli babad Jawa menyatakan bah­

wa masjid dalam cerita ini harus diartikan secara majazi (kiasan) bukan hakiki. Adapun yang dimaksud tak lain ialah negara Islam, sedang kiblat yang diperselisihkan itu bukan hakiki, tapi kiasan yang berarti pedoman atau dasar negara Islam. Sementara mustaka me lambangkan nilai luhur, suci dan tertinggi.26

24Lihat Abdul Qadir Djaelani, Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, Jakarta: Yayasan Pengkajian Islam Madinah al­Munawaroh, 1999, hal. 17.

25Atmodarminto, Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik KeIslaman dan Ke- aga maan, Jakarta: Milenium Publiser, 2000, hal. 45­62. Lihat juga Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo, Bandung: Mizan.

1995, hal. 127­130.

26Rekaman peristiwa itu mengandung isyarat, bahwa dasar negara me­

nurut konsepsi Walisongo ialah suatu negara yang berpegang pada ajaran Is­

lam murni (mustika Islam) yang terdapat di Makkah, yaitu al­Qur’an dan Ha­

dis. Akan tetapi tidak melupakan adat­istiadat asli yang baik (mustika nasional) se hingga dicapai perpaduan yang harmoni antara syariat dengan adat istiadat.

Dokumen terkait