• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan ke Depan

Dalam dokumen bank & lembaga keuangan lainnya (Halaman 43-47)

Jasa keuangan adalah salah satu industri yang mengalami perubahan dan pertumbuhan paling cepat di banyak negara. Sesuatu yang dianggap ideal pada suatu saat bisa dengan cepat berubah pada waktu selanjutnya. Tantangan dalam dunia perbankan juga selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi dalam industri jasa keuangan secara umum. Diantara banyak tantangan yang saat ini paling dirasakan dalam dunia perbankan adalah tantangan untuk mengelola resiko dengan sebaik-baiknya. Bagi sistem perbankan di indonesia, pengelolaan resiko dengan baik masih merupakan sesuatu yang baru. Untuk mewujudkan perbankan indonesia yang lebih kokoh, perbaikan harus dilakukan di berbagai bidang, terutama untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi perbankan dalam beberapa tahun belakangan ini. Tantangan-tantangan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Pertumbuhan kredit perbankan yang masih rendah

Visi arsitektur perbankan indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memerlukan pertumbuhan kredit perbankan yang cukup besar. Sementara itu, kemampuan permodalan indonesia saat ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit yang cukup tinggi tersebut sulit dicapai jika perbankan nasional tidak memperbaiki permodalannya. Selain hambatan dalam hal permodalan bank, penyaluran kredit dalam banyak hal juga terhambat oleh keengganan sebagian bank unyuk menyalukan kredit karena kemampuan manajemen resiko dan keahlian pokok perbankan (core banking skills)yang relatif masih lemah, dan biaya operasional yang relatif tinggi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri terutama bagi masing- masing organisasi bank. Disamping karena penyaluran kredit merupakan sumber penerimaan yang penting bagi bank, pertumbuhan kredit menjadi penting juga karena ideal bank sebagai lembaga keuangan mempunyai peran sebagai perantara keuangan.

b. Stuktur perbankan yang belum optimal

Perkembangan jumlah bank dan struktur perbankan indonesia sejak tahun 1980-an bukanlah didasarkan pada suatu skema besar untuk mewujudkan struktur perbankan yang ideal.

Struktur yang berkembang pada waktu ersebut disebabkan oleh reaksi alamiah terhadap prubahan regulasi dalam iklim perekonomian. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan struktur perbankan yang muncul bukanlah struktur yang ideal bagi

penerapan prinsip kehati-hatian serta pemenuhan fungsi intermediasi. Belum optimalnya struktur perbankan di indonesia ditndai oleh terkonsentrasinya struktur perbankan hanya pada 11 bank besar (yan menguasai 75% aset perbankan Indonesia).

Bank – bank kecil dalam hal ini perlu mendapat perhatian karena selain jumlahnya relative banyak, bank – bank kecil tersebut juga memiliki cakupan usaha yang relatif sama dengan bank – bank besar namun dengan kemampuan operasional , manajemen risiko , dan corporate governance yang relatif lebih terbatas.

Demikian pula , dibandingkan dengan negara – negara lain , kepemilikan pemerintah Indonesia dalam perbankan tampak cukup tinggi, bahkan tertinggi di kawasan Asia.Hal ini juga merupakan persoalan tersendiri terhadap struktur perbankan karena dapat menimbulkan konflik kepentingan yang akan mengganggu efisiensi pasar .Itulah sebabnya baik dalam API maupun core basel principles struktur perbankan merupakan salah satu hal yang penting.

c. Pemenuhan Kebutuhan Layanan perbankan yang masih kurang

Sektor perbankan memang salah satu lembaga keuangan yang paling berkembang di Indonesia .Namun demikian , hal ini tidak berarti semua kebutuhan jasa keuangan masyarakat telah terpenuhi dengan baik .Masih lemahnya pemenuhan kebutuhan masyarakat atas pelayanan perbankan ditandai dengan seringnya terdengar keluhan dari masyarakat mengenai kurangnya aksses terhadap kredit dan tingginya suku bunga kredit serta masih banyaknya praktik penyediaan jasa keuangan informal. Pandangan masyarakat semacam ini cukup beralasan karena walaupun kredit korporasi dan UKM sudah mulai tumbuh, tingkat penetrasi kredit masih relatife rendah. Selain itu, meningkatnya kompleksitas jasa dan prosduk keuangan sebagai akibat dari globalisasi sektor keuangan juga memerlukan respons yang memadai dari berbagai pihak yang terkait . Sejalan dengan perubahan sosial dan politik pada masyarakat , hal ini semkain penting mengingat masyarakat pengguna jasa keuangan khususnya perbankan semakin menuntut kualitas pelayanan dan akses perbankan yang semakin tinggi dan berkualitas . Kualitas pelayanan tidak hanya menyangkut manfaat ekonomi dari pelayanan jasa keuangan tetapi juga antisipasi terhadap efek samping dari peningkatan peran jassa perbankan , seperti kejahatan dan penipuan.

d. Pengawasan Bank yang masih perlu ditingkatkan

Seperti telah menjadi fokus utama dari 25 Basel Core Principles, pengawasan bank juga merupakan bidang yang memerlukan peningkatan dan penyempurnaan . Hal ini disebabkan masih terdapatnya beberapa prinsip kehati-hatian yang belum diterapkan secara baik, koordinasi pengawasan yang masih perlu ditingkatkan , kemampuan SDM pengawasan yang belum optimal, pelaksanaan law enforcement pengawasan yang belum efektif, danmasih lemahnya pengawasan terkonsolidasi apalagi secara internasional . Mengingat pengawasan bank merupakan bidang yang sangat dinamis dan luas cakupannya , peningkatan kualitas pengawasan merupakan upaya yang patut dilaksanakan secara terus-menerus oleh bank Indonesia.Lembaga otoritas jasa keuangan(OJK) merupakan lembaga lain yang suatu saat diharapkan dapat mengefektifkan pengawasan tidak hanya pada perbankan tetapi juga kepada lembaga keuangan yang lain.

e. Kapabilitas perbankan yang masih lemah

Dari sisi internal, Corporate governance dan core banking skills merupakan ukuran yang dapat dijadikan pedoman untuk menyatakan masih lemahnya kapabilitas perbankan . Meskipun kapabilitas beberapa bank sudah cukup kuat, kapabilitas perbankan secara umum masih dibawah praktik internasional terbaik,terutama dalam hal mengantisipasi dan mengelola risiko operasional .Pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian, termasuk didalamnya pengelolaan risiko, semakin menunjukkan pentingnya penciptaan sistem pengendalian internal yang berkualitas dan tepat .

f. Profitabilitas dan efisiensi bank yang tidak mampu bertahan Semua menyadari bahwa perekonomian selalu mengalami fluktuasi . Siklus usaha ( business cycle ) tidak hanya dirasakan pada investasi disektor rill saja tetapi juga sangat erat kaitannya dengan sektor keuangan. Tingkat profitabilitas dan efisiensi operasional yang dicapai oleh perbankan pada umumnya bukan merupakan profitabilitas dan efisiensi yang tidak mampu bertahan ( Sustainable ) .Profitabilitas dan efisiensi yang berkesinambungan memungkinkan bank mampu bertahan dan bahkan berkembang dalam menghadapi siklus bisnis . Hal ini disebabkan oleh lemahnya struktur aktiva produktif bank – bank . Margin yang diperoleh bank – bank semakin mengecil karena adanya kecenderungan suku bunga yang menurun . Faktor lain dari profitabilitas dan efisiensi yang tidak mampu

bertahan ini adalah karena sebagian pendapatan perbankkan berasal dari aktivitas perdagangan yang fluktuatif serta rendahnya rasio asset per nasabah negara – negara lain .Meskipun demikian , masalah rasio asset per nasabah ini bukanlah masalah yang sederhana. Di satu sisi peningkatan asset memerlukan semakin banyak nasabah , dan di sisi lain peningkatan nasabah secara tidak proporsional berarti peningkatan biaya rata – rata.

g. Perlindungan Nasabah yang masih harus ditingkatkan Landasan dari kegiatan usaha perbankan , dan juga jasa lembaga keuangan secara umum ,adalah kepercayaan . Tanpa adanya kepercayaan fungsi intermediasi oleh bank tidak akan berjalan dengan lancer, dalam kaitannya dengan penciptaan kepercayaan, perlindungan terhadap nasabah merupakan tantangan perbankan yang berpengaruh secara langsung terhadap sebagian masyarakat kita . Oleh karena itu , menjadi tantangan yang sangat besar bagi perbankan dan bank Indonesia serta masyarakat luas untuk secara bersama – sama menciptakan standar yang jelas dalam membentuk mekanisme pengaduan nasabah dan transparansi informasi produk perbankan . Di samping itu , edukasi pada masyarakat mengenai jasa dan produk yang ditawarkan oleh perbankan perlu segera diupayakan sehingga masyarakat luas dapat memahami resiko dan keuntungan yang akan dihadapi dalam menggunakan jasa dan produk perbankan. Salah satu perwujudan dari upaya diatas adalah munculnya lembaga ombudsman yang mulai ada di masyarakat.

h. Perkembangan Teknologi Informasi

Risiko pengelolaan lembaga keuangan semakin bervariasi dengan addanya kemajuan teknologi informasi . Hal ini ikut menambah tantangan yang dihadapi oleh perbankan . Perkembangan teknologi informasi menyebabkan makin pesatnya perkembangan jenis dan kompleksitas produk dan jasa bank sehingga resiko – resiko yang muncul menjadi lebih besar dan bervariasi . Dengan adanya teknologi informasi , persaingan industri perbankan yang cenderung bersifat global juga menyebabkan persaingan antarbank menjadi semakin ketat sehingga baik bank nasional maupun bank berskala lebih kecil juga harus mampu beroperasi dengan lebih efisien.

Dalam dokumen bank & lembaga keuangan lainnya (Halaman 43-47)