• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisa Data

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik Analisa Data

analisis empirik sehingga dapat dirumuskan formulasi hubungan antar parameter yang dihasilkan dari pengolahan data hasil penelitian. Korelasi parameter yang ingin dilihat dalam penelitian ini, antara lain:

1. Hubungan frekuensi hujan dengan fluktuasi muka air tanah, yang diamati sesaat setelah dihujani sampai mencapai kondisi stabil,

2. Hubungan frekuensi hujan dengan kedalaman infiltrasi, yang diamati sesaat setelah dihujani sampai mencapai kondisi stabil,

3. Hubungan frekuensi hujan dengan peningkatan tekanan kapiler, yang diamati sesaat setelah dihujani sampai mencapai kondisi stabil.

Gambar 6. Bagan alir penelitian

BAGAN ALIR PENELITIAN

m

Mulai

Kejut Kapiler Pembuatan Alat Uji

Coba

Pemilihan Jenis Tanah (Lempung Berlanau Berpasir)

Setting Alat

Pemeriksaan Karakteristik

Tanah

Pembuatan Sampel dalam Bak Uji Running Simulasi

Rainfall Entry Data Pengelolahan Data Analisis dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran Tidak

Ya

Selesai

Kalibrasi Tidak

Ya

41

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan dengan menggunakan alat simulasi hujan buatan pada laboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Makassar, didapatkan hasil berupa turunnya muka air tanah pada awal musim penghujan (beginning of rainy season) di sebut kejut kapiler, yang disebabkan meningkatnya tekanan kapiler akibat mengecilnya pori pada tanah. Penelitian ini juga di lakukan untuk mengetahui kemampuan reaksi kejut kapiler pada tanah Lanau Berlempung Berpasir (Sandy Clayey Silt).

A. HASIL PENGAMATAN 1. Karakteristik Tanah

Dari hasil pengamatan sampel tanah pada Laboratorium Teknik Sipil Universitas Bosowa, didapatkan hasil pengujian dengan jenis tanah Lanau Berlempung Berpasir. Dalam penelitian ini digunakan sistem klasifikasi AASHTO tipe A-6 berdasarkan data hasil pengujian batas cair (LL) 31,61%

dan Indeks Plastisitas (PI) 12,78% hasil analisa saringan dan hidrometer dirangkum pada tabel berikut :

Tabel 5. Hasil pengujian analisa saringan

Tabel 6. Hasil Uji Hidrometer

Hasil pengujian analisa saringan dan hidrometer yang terdapat pada tabel 4 dan 5 menunjukkan bahwa :

a. Pada saringan nomor 4 berat tertahan sama dengan 0, karena yang tertahan disaringan nomor 4 dikategorikan sebagai kerikil.

Berat tanah kering oven

Berat tanah kering tertahan sar. 200 sesudah dicuci Berat tanah lolos saringan 200 setelah dicuci Saringan Diameter

No. (mm) Tertahan Lolos

4 4.75 0.00 100.00

10 2.00 0.02 99.98

18 0.85 0.04 99.96

40 0.43 1.38 98.62

60 0.25 2.00 98.00

80 0.18 6.04 93.96

100 0.15 14.16 85.84

200 0.075 17.90 82.10

Pan - 100.00 0.00

Berat total W1 500

40.6 70.8

18.7 89.5

410.5 500

6.7 6.9

3.1 10.0

20.2 30.2

0.0 0.0

0.1 0.1

0.1 0.2

Berat (gram) 500.00

195.9

(gram) (gram)

304.10 Berat Tertahan Berat Kumulatif Persen (%)

Waktu T % Butiran halus L

(menit) (°C) a.Rcp/Ws x 100% ( cm )

0.25 29 39 41 83.55 39 11.1 0.01240 0.08263

0.5 29 25 27 55.06 25 12.0 0.01240 0.06075

1 29 18 20 40.81 18 13.2 0.01240 0.04505

2 29 17 19 38.77 17 13.3 0.01240 0.03198

4 29 14 16 32.67 14 13.8 0.01240 0.02303

8 29 13 15 30.63 13 14.0 0.01240 0.01640

15 29 12 14 28.60 12 14.2 0.01240 0.01206

30 29 11 13 26.56 11 14.3 0.01240 0.00856

60 29 10 12 24.53 10 14.5 0.01240 0.00610

90 29 10 12 24.53 10 14.5 0.01240 0.00498

120 29 10 12 24.53 10 14.5 0.01240 0.00431

240 29 7 9 18.42 7 15.0 0.01240 0.00310

1440 29 6 8 16.39 6 15.2 0.01240 0.00127

R Rcp Rcl K D=K (L/t)0,5

b. Pada tanah yang lolos saringan nomor 10 dan yang tertahan pada saringan nomor 200 dikategorikan sebagai pasir (sand) dengan persentasi lolos 17,90% dari total sampel pengamatan.

c. Pada tanah yang lolos saringan nomor 200 dikategorikan sebagai lanau (silt) dan lempung dengan persentase lolos 82,10%. Adapun pengujian hidroneter untuk memisahkan ukruan butiran tanah lanau dan lempung dengan persentase lolos lanau 57,57% dan lempung 24,53%.

Gambar 7. Grafik Gabungan Analisa Saringan dan Analisa Hidrometer Dari hasil pengujian analisa saringan dengan hidrometer yang terdapat pada grafik menunjukkan bahwa jumlah persentase lanau dengan ukuran

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

0.001 0.01 0.1 1 10

Persen Lolos (%)

Ukuran Butir (mm)

butir dari 0,075 mm – 0,005 mm yaitu 57,57% dan lempung dengan ukuran butir lebih kecil dari 0,005 mm yaitu 24,53% sedangkan pasir dengan ukuran butir dari 2,0 mm sampai 0,075 mm yaitu 17,90%. Dengan menggunkan uji hidrometer dapat mengetahui ukuran butir yang lolos ayakan 200.

Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Kadar Air, Pemeriksaan Berat Isi dan Berat Jenis

Tabel 8. Hasil Pemeriksaan Batas- Batas Atterberg

Dari hasil pengujian karakteristik tanah maka digunakan sistem klasifikasi AASHTO tipe A-6 berdasarkan data hasil pengujian batas cair (LL) 31,61% dan Indeks Plastis (PI) 12,78%.

2. Hasil Pengamatan Uji Laboratorium

Hasil pengamatan dengan menggunakan desain alat simulasi kejut kapiler pada laboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Makassar,Intensitas curah hujan yang digunakan adalah (I5) = 246,841 mm/jam, dengan periode 9 kali hujan dalam waktu secara bertahap.

1 Pemeriksaan kadar air mula-mula %

2

g/cm³

% g/cm³

%

%

%

%

3 Pengujian berat jenis (Specifik Gravity (GS)). -

3. Wet Density ( γ wet ) 4. Voit Ratio

No Parameter

2. Kadar Air (Water Content) Pemeriksaan Berat Isi

1. Dry Density (γd) 1.30

14.58 1.49 1.01

NILAI Satuan

21.73

5. Porositas (n)

6.Derajat Kejenuhan (sr)

50.23 37.72 2.62

No Parameter Nilai Satuan

1 Pengujian batas - batas atterberg

1. Batas Cair ( LL ) 31.61 %

2. Batas Plastis (PL) 18.82 %

3. Indeks Plastisitas (PI) 12.78 %

4. Activity 0.64 %

a. Fluktuasi Muka Air Tanah

Analisis fluktuasi muka air tanah dilakukan dengan simulasi frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan ke sembilan, waktu setiap penghujan selama 15 menit, uraian mengenai hasil fluktuasi muka air tanah dapat dijelaskan pada tabel berikut

Tabel 9. Hasil Pengamatan Fluktuasi Muka Air Tanah

Dari tabel di bawah fluktuasi muka air tanah mengalami penurunan dari frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan kelima dan pada frekuensi hujan selanjutnya mengalami kenaikan hingga mencapai maksimum pada frekuensi hujan kesembilan.

Duration after rain

(minutes) Hujan 1 Hujan 2 Hujan 3 Hujan 4 Hujan 5 Hujan 6 Hujan 7 Hujan 8 Hujan 9

0' 173 122 68 49 30 104 269 434 588

1' 173 122 68 49 30 104 269 434 589

2' 173 122 68 49 30 104 269 436 591

3' 172 122 68 49 30 104 269 437 593

4' 172 122 68 49 30 104 269 439 595

5' 171 122 68 49 30 104 269 440 596

7' 171 122 68 49 30 104 269 443 605

10' 171 121 68 48 30 104 269 446 632

15' 169 120 68 48 31 105 270 452 640

20' 168 119 67 48 31 105 271 458 649

25' 167 119 66 47 31 105 273 464 654

30' 165 119 66 47 31 105 270 470 660

45' 160.5 119 65 47 31 107 290 485 675

60' 157 118 64 46 31 112 303 501 687

90' 154 117 62 46 31 119 335 528 711

120' 151 114 61 45 39 134 369 558 734

Fluktuasi Muka Air Tanah (mm/menit)

Gambar 8. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Pertama

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 173 mm dan pada menit ke 20 semakin menurun yaitu 168 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 157 mm selanjutnya pada menit ke 120 mencapai 151 mm.

Gambar 9. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Kedua

145 150 155 160 165 170 175

0 20 40 60 80 100 120 140

Grounwater level(mm)

Waktu (menit)

113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 122 mm dan pada menit ke 20 menurun yaitu 119 mm kemudian pada menit ke 60 yaitu 118 mm selanjutnya pada menit ke 120 mencapai 114 mm.

Gambar 10. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Ketiga

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 68 mm dan pada menit ke 20 menurun yaitu 67 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 64 mm selanjutnya pada menit ke 120 mencapai 61 mm.

60 61 62 63 64 65 66 67 68 69

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

Gambar 11. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Keempat

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 49 mm dan pada menit ke 20 menurun menjadi 48 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 46 mm selanjutnya pada menit ke 120 mencapai 45 mm.

Gambar 12. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Kelima

44.5 45 45.5 46 46.5 47 47.5 48 48.5 49 49.5

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU ( menit )

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 30 mm dan konstan hingga menit ke 10 selanjutnya pada menit ke 15 mulai mengalami kenaikan yaitu 31 mm dan konstan hingga menit ke 90 kemudian pada menit 120 mencapai 39 mm.

Gambar 13. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Keenam

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 104 mm dan konstan hingga menit ke 10 selanjutnya pada menit ke 15 mengalami kenaikan yaitu 105 mm namun konstan hingga menit ke 30 kemudian pada menit ke 60 mengalami kenaikan hingga 112 mm dan pada menit 120 mencapai 134 mm.

0 20 40 60 80 100 120 140 160

0 20 40 60 80 100 120 140

GW LEVEL (mm)

WAKTU (menit)

Grafik Hub. Waktu Hujan VS Fluktuasi Muka Air Tanah (Hujan Keenam)

Gambar 14. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Ketujuh

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 269 mm dan konstan hingga menit ke 10 kemudian pada menit ke 20 mencapai 271 mm selanjutnya pada menit ke 90 terus mengalami peningkatan yaitu 335 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 369 mm.

Gambar 15. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Kedelapan

0 50 100 150 200 250 300 350 400

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

0 100 200 300 400 500 600

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 434 mm dan pada menit ke 20 mengalami peningkatan menjadi 458 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 501 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 558 mm.

Gambar 16. Fluktuasi Muka Air Tanah Hujan Kesembilan

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah pada menit pertama mencapai 588 mm dan pada menit ke 20 mengalami peningkatan menjadi 649 mm kemudian terus meningkat pada menit ke 60 mencapai 687 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 734 mm.

0 100 200 300 400 500 600 700 800

0 20 40 60 80 100 120 140

Groundwater level(mm)

WAKTU (menit)

Gambar 17. Grafik Gabungan Fluktuasi Muka Air Tanah

Berdasarkan grafik di atas fluktuasi muka air tanah pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan kelima pada menit ke 15 mengalami penurunan. Sedangkan pada frekuensi hujan kelima menit ke 20 air tanah mengalami kenaikan hingga mencapai titik maksimum pada frekuensi hujan kesembilan.

b. Kedalaman Infiltrasi

Tabel 10. Hasil Pengamatan Kedalaman Infiltrasi

500 100150 200250 300350 400450 500550 600650 700750

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

FLUKTUASI(mm)

WAKTU (menit)

Rekap fuluktuasi muka air tanah Poly. (Rekap fuluktuasi muka air tanah)

Hujan 1 Hujan 2 Hujan 3 Hujan 4

(minutes) (75 mm) (101 mm) (55 mm) (17,5 mm)

0' 77 197.5 325.5 414

1' 77 198.5 325.5 414

2' 78 203.5 325.5 414

3' 82.5 204.5 325.5 414

4' 84.5 206.5 325.5 414

5' 93 207.5 325.5 414

7' 97 216 325.5 414.5

10' 98 218.5 326 414.5

15' 103.5 230.5 326.5 414.5

20' 109 236 326.5 414.5

25' 120.5 237.5 326.5 415

30' 123.5 244 326.5 415.5

45' 128 258.5 334 415.5

60' 146.5 265 345.5 417.5

90' 150 288.5 359 417.5

120' 152 298.5 380.5 431.5

Duration after rain Kedalaman Infiltrasi (mm)

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa kedalaman infiltrasi pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan keempat mengalami kenaikan.

Gambar 18. Grafik Kedalaman Infiltrasi Hujan Pertama

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa kedalaman infiltrasi pada menit pertama mencapai 720 mm dan pada menit ke 20 menjadi 690 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 653,5mm hingga pada menit ke 120 mencapai 648 mm.

Gambar 19. Grafik Kedalaman Infiltrasi Hujan Kedua

640 650 660 670 680 690 700 710 720 730

0 20 40 60 80 100 120 140

INFILTRASI (mm)

WAKTU (menit)

0 100 200 300 400 500 600 700

0 20 40 60 80 100 120 140

INFILTRASI

WAKTU (menit)

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa kedalaman infiltrasi pada menit pertama mencapai 603 mm dan pada menit ke 20 menjadi 564 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 535 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 501,5 mm.

Gambar 20. Grafik Kedalaman Infiltrasi Hujan Ketiga

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa kedalaman infiltrasi pada menit pertama mencapai 474,5 mm dan pada menit ke 20 menjadi 473,5 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 454,5 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 419,5 mm.

410 420 430 440 450 460 470 480

0 20 40 60 80 100 120 140

INFILTRASI (mm)

WAKTU (menit)

Gambar 21. Grafik Kedalaman Infiltrasi Hujan Keempat

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa kedalaman infiltrasi pada menit pertama mencapai 386mm dan pada menit ke 20 menjadi 385,5 mm kemudian pada menit ke 60 mencapai 382,5 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 368,5 mm.

Gambar 22. Grafik Gabungan Kedalaman Infiltrasi

366 368 370 372 374 376 378 380 382 384 386 388

0 20 40 60 80 100 120 140

INFILTRASI (mm)

WAKTU (menit)

370 420 470 520 570 620 670 720

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400

Kedalaman Infiltrasi (mm)

WAKTU (menit)

Rekap kedalaman infiltrasi Poly. (Rekap kedalaman infiltrasi)

Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa pengamatan kedalaman infiltrasi pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan keempat rembesan air dari atas ke bawah yaitu mencapai 354,5 mm.

c. Peningkatan Tekanan Kapiler

Tabel 11. Hasil Pengamatan Tekanan Kapiler

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa peningkatan tekanan kapiler pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan keempat mengalami kenaikan.

Hujan 1 Hujan 2 Hujan 3 Hujan 4 (minutes) (3.5 mm) (1 mm) ( 7.5 mm) (2.5 mm)

0' 310 316.5 338.5 358

1' 310 316.5 338.5 358

2' 310 316.5 338.5 358

3' 310 316.5 338.5 358

4' 310 316.5 338.5 358

5' 310 316.5 339 358

7' 310 316.5 339 358

10' 310 316.5 339 358

15' 310 317 341.5 358

20' 310 317.5 341.5 358

25' 310 317.5 341.5 358.5

30' 310 317.5 341.5 358.5

45' 311.5 317.5 343 360.5

60' 313.5 317.5 344.5 360.5

90' 313.5 317.5 345.5 360.5

120' 313.5 317.5 346 360.5

Duration after rain Tekanan Kapiler (mm)

Gambar 23. Grafik Peningkatan Tekanan Kapiler Hujan Pertama Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa peningkatan tekanan kapiler pada menit pertama mencapai 310 mm dan konstan hingga menit ke 30 kemudian pada menit ke 45 mengalami kenaikan yaitu 311,5 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 313,5 mm.

Gambar 24. Grafik Peningkatan Tekanan Kapiler Hujan Kedua Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa peningkatan tekanan kapiler pada menit pertama mencapai 316,5 mm dan konstan hingga menit

309 310 311 312 313 314 315

0 20 40 60 80 100 120 140

Tekanan kapiler (mm)

WAKTU (menit)

316.2 316.4 316.6 316.8 317 317.2 317.4 317.6 317.8

0 20 40 60 80 100 120 140

Tekanan Kapiler(mm)

WAKTU (menit)

ke 10 kemudian pada menit ke 15 mengalami kenaikan menjadi 317 mm selanjutnya pada menit ke 20 menjadi 317,5 mm dan konstan hingga menit ke 120.

Gambar 25. Grafik Peningkatan Tekanan Kapiler Hujan Ketiga Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa peningkatan tekanan kapiler pada menit pertama mencapai 338,5 mm dan konstan hingga menit ke 4 kemudian pada menit ke 5 mengalami kenaikan yaitu 339 mm dan konstan hingga menit ke 10. Selanjutnya pada menit ke 15 mengalami kenaikan hingga 341,5 mm dan konstan hingga menit ke 30 kemudian pada menit ke 45 mencapai 343 mm hingga menit ke 120 mencapai 346 mm.

337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347

0 20 40 60 80 100 120 140

Tekanan Kapiler (mm)

WAKTU (menit)

Gambar 26. Grafik Peningkatan Tekanan Kapiler Hujan Keempat Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa peningkatan tekanan kapiler pada menit pertama mencapai 358 dan konstan hingga menit ke 20 kemudian mengalami kenaikan pada menit ke 25 yaitu 358,5 mm hingga pada menit ke 120 mencapai 360,5 mm.

Gambar 27. Grafik Gabungan Peningkatan Tekanan Kapiler

357.5 358 358.5 359 359.5 360 360.5 361

0 20 40 60 80 100 120 140

Tekanan Kapiler (mm)

WAKTU (menit)

300 310 320 330 340 350 360 370

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400

Tekanan Kapiler (mm)

WAKTU (menit)

Tekanan Kapiler Poly. (Tekanan Kapiler)

Berdasarkan hasil pengamatan peningkatan tekanan kapiler mengalami kenaikan pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan keempat mencapai 50,5 mm.

B. Pembahasan

1. Fluktuasi Muka Air Tanah

Fluktuasi muka air tanah adalah naik turunnya muka air tanah. Media yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis tanah lanau berlempung berpasir yang dihujani Selama 15 menit dengan volume air 61,62 liter.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa fluktuasi muka air tanah yang terjadi pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan kesembilan mengalami penurunan pada awal hujan namun setelah dihujani hingga frekuensi hujan kesembilan mengalami kenaikan hingga mencapai maksimum setara dengan permukaan tanah. Pada frekuensi hujan pertama hingga hujan kelima mengalami penurunan karena pori- pori tanah mengecil sehingga tekanan kapiler mengalami kenaikan. Pada frekuensi hujan keenam sampai frekuensi hujan kesembilan mengalami kenaikan karena tanah mulai jenuh sehingga peningkatan tekanan kapiler sudah tidak terlihat.

2. Kedalaman Infiltrasi

Kedalaman infiltrasi adalah kedalaman air yang masuk ke dalam tanah.

Pada jenis tanah lanau berlempung berpasir kedalaman infiltrasi yang terjadi ketika frekuensi hujan pertama dengan periode 15 menit baru menembus

sebagian kedalaman lapisan tanah karena keadaan tanah dalam keadaan kering sehingga pori tanah membesar dan mudah untuk meloloskan air namun pada periode hujan selanjutnya air permukaan mulai tergenang dan membutuhkan waktu untuk meloloskan air. Pada frekuensi hujan ketiga kemampuan tanah dalam meloloskan air semakin sulit karena gaya adhesi yang lebih tinggi sehingga mengecilkan pori tanah. Pada frekuensi hujan keempat genangan di permukaan tanah semakin tinggi dan kedalaman infiltrasi semakin lambat. Kemudian pada frekuensi hujan selanjutnya kedalaman infiltrasi yang bergerak dari atas ke bawah bertemu dengan peningkatan tekanan kapiler yang bergerak dari bawah ke atas sehingga pengamatan kedalaman infitrasi sudah tidak terlihat.

3. Peningkatan Tekanan Kapiler

Berdasarkan hasil pengamatan peningkatan tekanan kapiler mengalami kenaikan karena air tanah tertarik ke atas ke zona tidak jenuh sehingga air tanah mengalami penurunan. Tekanan kapiler meningkat dan air tanah semakin menurun. Air tanah menurun ketika tekanan kapiler masih berlangsung namun saat air infiltrasi dan tekanan kapiler bertemu air tanah mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium fenomena kejut kapiler pada tanah lanau berlempung berpasir terjadi ketika penurunan muka air tanah pada awal musim hujan dikarenakan hujan yang masuk ke dalam tanah menutup pori-pori tanah sehingga tekanan kapiler naik. Penurunan tersebut

terlihat jelas pada periode hujan pertama sampai hujan kelima sedangkan pada frekuensi hujan selanjutnya air tanah mulai naik dikarenakan kedalaman infiltrasi dan peningkatan tekanan kapiler bertemu dan air dalam tanah mulai jenuh. Laju infiltrasi pada media tanah lanau berlempung berpasir relatif lambat karena pori tanah tersebut kecil dan sulit meloloskan air.

63

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Dari uraian pada bagian pembahasan hasil penelitian, selanjutnya dapat dikemukakan beberapa hal yang menjadi kesimpulan sebagai berikut :

1. Hubungan frekuensi hujan dengan fluktuasi muka air tanah saat frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan kelima terjadi penurunan kemudian mengalami kenaikan saat frekuensi hujan kelima pada menit ke 15 dan terus meningkat sampai menit ke 120.

2. Hubungan frekuensi hujan dengan kedalaman infiltrasi mulai pada frekuensi hujan pertama sampai frekuensi hujan keempat terus bertambah, namun pada awal frekuensi hujan kelima kedalaman infiltrasi sudah tidak dapat diamati. Hal ini disebabkan karena rembesan air dari infiltrasi telah bertemu dengan air kapiler yang bergerak dari bawah ke atas.

3. Hubungan frekuensi hujan dengan penigkatan tekanan kapiler, pada frekuensi hujan pertama mengalami kenaikan sampai frekuensi hujan ketiga, kemudian frekuensi hujan keempat mengalami stagnan pada menit pertama sampai menit ke 20 dan pada frekuensi hujan kelima

sudah tidak terbaca karena bertemunya air kapiler dengan air yang terinfiltrasi dari atas ke bawah.

4. Air tanah mengalami penurunan karena adanya tekanan kapiler namun ketika tanah jenuh maka air tanah mulai meningkat.

B. SARAN

1) Dalam penelitian ini menggunakan dinding kaca dengan tebal 12 mm sebaiknya pada penelitian selanjutnya diharapkan untuk tidak menggunakan kaca karena rentan pecah sebaiknya menggunakan fiber.

2) Diharapkan pada penelitian selanjutnya perlu memperhatikan parameter-parameter yang berpengaruh di lapangan dan kemudian diperhitungkan dalam simulasi laboratorium seperti kondisional lingkungan yaitu suhu ruangan karena sangat berpengaruh dengan penguapan tanah dan mengenai hujan yang diatur konstan perlu dikaji lebih lanjut dan perlu adanya perbedaan warna pergerakan air kapiler dengan air infiltrasi sehingga dapat diamati lebih jelas pergerakan air tersebut.

Bambang Triatmodjo,2008.hidrologi Terapan.Yogyakarta:Beta Offset.

Baver, L.D.1961. Soil physics. John Wiley & Sons Inc. New York.

Bouwer Herman,2002.Artificial recharge of groundwater:hydrogeology and engineering.Hydrogeology Journal, (2002)10:121-142

Bowles, J.E. 1989. Sifat-sifat fisis dan Geoteknis Tanah. Erlangga. Jakarta.

BR, Sri Harto.(1993). Analisis Hidrologi Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

BR, Sri Harto. 2000. Hidrologi, Teori-Masalah-Penyelesaian.Yogyakarta:

Nafiri Offset.

Darwis dkk.2017 dan 2018.Pemodelan formasi sumur resapan untuk recovery air tanah dan pencagahan intrusi air laut ke dalam lapisan tanah pada lahan pertanian palawija di daerah pesisir pantai kabupaten Takalar. Laporan penelitian Hibah Bersaing Kegiatan Tahun I dan Tahun II. DP3M,Dikti.

Darwis et al, 2014 Pengaruh Jumlah Bambu-Rongga Sebagai Alat Pengimbuh Terhadap Durasi Kejut Kapiler Dan Waktu Pemulihan Muka Air Tanah Pada Periode Awal Musim Penghujan https;//tekniksipilunibos.ac.id/wpcontent/upload/2108/04/2017_PR OSIDING DARWIS_archive.pdf

Darwis, (2017a).Teknologi Konservasi Air Tanah Dangkal berbasis Potensi Lokal dengan Bambu sebagai Alat Pengimbuh Laporan Hasil Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT), Oktober 2017 Darwis, 2018. Kejut Kapiler Prngaruh Jumlah Bambu-Rongga Sebagai Alat

Pengimbuh Terhadap Durasi Kejut Kapiler Dan Waktu Pemulihan Muka Air Tanah Pada Periode Awal Musim Penghujan https;//www.reseaerchgate.net/publication/323616784

Das, Braja.M.,1998. Mekanika Tanah (prinsip - Prinsip Rekayasa Geoteknis) jilid 1 Erlangga, Jakarta.

Fakhli.2014.”pengertiandanklasifikasigradasi”.https;//www.kumpulenginee r.com/2014/05/pengertian-dan-klasifikasigradasi.html (diakses pada tanggal 13 oktober 2018)

Hansbo,S.1975.Soil Material Science. Swedish:AWE/Gebers, Stockholm.

Hardiyatmo,H.C.,1999, Mekanika Tanah I, PT.Gramedia Pustaka Umum Jakarta.

Hardiyatmo,H.C.,2002. Mekanika Tanah I, Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Hardjowigeno,S. 1987.Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Holtz,W.G. and Gibbs, H.J., 1956, “Engineering Properties of Expansive Clay Transaction”.ASCE.

Horton. R.E. 1939.Drainage Basins Characteristics. Trans. Am. Geophics.

Joerson. 1987. Banjir Rencana untuk bangunan Air. Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Bandung.

Kartasapoetra, A.G. 1989. Kerusakan Tanah Pertanian dan usaha untuk merehabilitasinya. Bina Aksara.Jakarta.

Lee. R. 1990. Hidrologi Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Pettijohn, F.J. 1987. Metode Penelitian Kuantitaif kualitatif. ALFABETA.

Bandung.

Terzaghi, K., and Peck, R.B., 1948, Soil Mechanics in Engineering Practice, John Wiley and Sons, New York; Chapman and Hall, London.

Terzaghi, K., Peck, R.B. 1987. Mekanika Tanah Dalam Praktek Reakayasa.

Penerbit Erlangga. Jakarta.

Verhoef, PNW. 1994. Geologi Untuk Teknik Sipil. Erlangga. Jakarta

2018).

Wilson, E.M. 1993. Hidrologi Teknik. Institut Teknologi Bandung.

: 2. Nita Anugrah Jupriadi

Laboratorium : Laboratorium Mekanika Tanah Jurusan Sipil Univ. Bosowa

1 Pemeriksaan kadar air mula-mula %

2

g/cm³

% g/cm³

%

%

%

%

3 Pengujian berat jenis (Specifik Gravity (GS)). -

4 pengujian batas-batas atterberg

1. Batas Cair (LL) %

2. Batas Plastis (PL) %

3. Indeks Plastisitas (PI) %

4. Activity %

Pengujian analisa saringan dan Hidrometer

%

%

%

%

%

%

%

%

Gravel %

Pasir %

Lempung dan Lanau %

Lanau %

Lempung %

1. Dry Density (γd)

Pengujian Sifat Fisis Tanah

Satuan 21.73

1.30 14.58 1.49 1.01 NILAI

3. Wet Density ( γ wet ) 4. Voit Ratio

No Parameter

2. Kadar Air (Water Content) Pemeriksaan Berat Isi

31.61 18.82 12.78 5. Porositas (n)

6.Derajat Kejenuhan (sr)

50.23 37.72 2.62

5

Makassar, Desember 2018

#100 (0,15 mm)

#200 (0,075 mm)

#20 (0,85 mm)

#80 (0,180 mm)

99.96

#40 (0,43 mm) 98.62

#60 (0,25 mm) 98.00

#4 (4,75 mm) 100

#10 (2,00 mm)

0.64

0.00

57.57 24.53 93.96

17.90 82.10

Diperiksa Oleh :

Hasrullah,ST Asisten Lab 85.84

82.10 99.98

Judul tugas Akhir

Lokasi : Tanah Asli (Taeng 1) Tanggal Percobaan : 30 November 2018

Laboratorium : Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Bosowa Dikerjakan Oleh :1. Andi Alfian Nur

2. Nita Anugrah Jupriadi

gram gram gram gram gram

%

%

Diperiksa Oleh :

Asisten Lab

: Analisis Tingkat "Kejut Kapiler" Muka Air Tanah Pada Lanau Berlempung Berpasir Dengan Metode Simulasi (Uji Laboratorium)

PEMERIKSAAN KADAR AIR SNI 1965 : 2008

No.Container 1 2

Berat Cawan (W1) 6.60 6.40

Berat Cawan + Tanah Basah (W2) 45.00 35.30

Berat Air (Ww = W2-W3) 6.80 5.20

Kadar Air (Ww/Wd*100%) 21.52 21.94

Berat Cawan + Tanah Kering (W3) 38.20 30.10 Berat Tanah Kering (Wd = W3-W1) 31.60 23.70

Makassar, november 2018 Dikerjakan Oleh :

Kadar Air Rata-rata 21.73

Hasrullah,ST

Judul tugas Akhir

Lokasi : Tanah Asli ( Taeng 1 )

Tanggal Percobaan : 30 November 2018

Laboratorium : Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Bosowa Dikerjakan Oleh :1. Andi Alfian Nur

2. Nita Anugrah Jupriadi

- I II

gram 42.50 50.40

gram 101.10 113.20 gram 116.70 128.60

gram 25 25

⁰C 29 29

0.99598 0.99598 2.65 2.59

Tabel Pembagian Jenis Tanah Berdasarkan Berat Jenis Temperatur

(C°) 4 16 17 18 19 20

(Sumber : Hardiayatmo, 1992) 21

22 23 24 25 26 28 29 30

0.99598 0.99568 0.99757 0.99733 0.99708 0.99682 0.99267

Gambut 1,27 - 1,80 0.99823

0.99802 0.99870

Lempung Tak organik 2,68 - 2,75 0.99862

Humus 1,37 0.99844

Lanau Tak organik 2,62 - 2,68 0.99897

Lempung Organik 2,58 - 2,65 0.99880

2,65 - 2,68 Water

Pasir 2,65 - 2,68 1

(SNI 1964:2008) SPECIFIC GRAVITY (Gs)

:Analisis Tingkat Kejut Kapiler pada tanah Lanau Berlempung Berpasir Dengan Metode Simulasi

Sampel

Berat Piknometer, (W1) Berat Piknometer + Air, (W2)

Berat Piknometer + Air + Tanah, (W3) Berat Tanah Kering, (Ws)

Temperatur

Faktor Koreksi, α = γT/γ20 Berat Jenis (Gs)

Berat Jenis rata-rata 2.621

Jenis Tanah Berat Jenis (Gs) Unit Weight of Kerikil

Lokasi : Tanah Asli ( Taeng 1 ) Tanggal Percobaan : 01 Desember 2018

Laboratorium : Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Bosowa Dikerjakan Oleh :1. Andi Alfian Nur

2. Nita Anugrah Jupriadi

Bore Hole No. -

Sample -

Sample Depth (Meter) m

Ring/Container Number - 1

Berar Ring ( W1 ) gram 66.80

Berat Cawan ( W2 ) gram 26.00

Berat Ring+Berat Cawan+Tanah Basah ( W3 ) gram 166.00

Tanah Basah ( W4 ) = W3-W2-W1 gram 73.20

Volume of Soil ( 5 ) cm3 52.16

Berat Ring+Berat Cawan+Tanah Kering ( W6 ) gram 161.10 Berat Tanah Kering ( W7 ) = W6-W1-W2 gram 68.30

Berat Air ( W8 ) = W4-W7 gram 4.90

Berat Jenis, Gs - 2.62

Volume of Dry Soil (9) = (7)/Gs cm3 26.06

Volume of Pore (10) = (5)-(9) cm3 26.10

Wet Density, gwet = (4)/(5) gr/cm3 1.40

Kadar Air w = ( W8 )/( W7 )*100% % 7.17

Dry Density, gdry = gwet/(1+w) gr/cm3 1.31

Porositas, n = ( W10 )/( W5 )*100% % 50.05

Derajat Kejenuhan Sr = ( W8 )/( W10 )*100% % 18.77 PENGUJIAN BERAT ISI (TEST RESULTS OF GENERAL PROPERTIES)

(SNI 1996:2008)

Hand Bor -1 1 Berlempung Berpasir Dengan Metode Simulasi (Uji

Laboratorium)

0.00 - 1.00

Dokumen terkait