BAB III METODE PENELITIAN
G. TEKNIK ANALISIS DATA
Keterangan:
n = jumlah data fi = frekuensi
fki = frekuensi kumulatif z = (x-μ)/σ
Dtabel = D(n)51 b. Uji Linieritas
Uji linieritas yaitu uji kelinieran garis regresi. Uji linieritas digunakan pada analisis regresi liner sederhana maupun berganda. Uji linieritas dilakukan guna mengetahui apakah antara variabel terikat (Y) dan variabel bebas (X) mempunyai hubungan linier. Cara menguji kelinieran suatu data yaitu dengan mencari garis regresi dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Berdasarkan model garis regresi tersebut, kemudian dapat diuji linieritas garis regresinya.
Hipotesis:
H0 : garis regresi linier H1 : garis regresi non linier Statistika Uji (SPSS):
P-value = nilai signifikansi pada Deviation from Linearity α = Tingkat signifikansi yang dipilih; 0,05.
Keputusan:
H0 ditolak apabila P-value < α52
51 Andhitha Dessy Wulansari, Aplikasi Statistika Parametrik Dalam Penelitian, 1st ed. (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2016), 45.
52 Wulansari, 55.
c. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas yaitu suatu alat uji model regresi untuk menemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yangbaik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independent. Uji multikoliniertias dapat dilakukan dengan uji regresi, dengan nilai patokan VIF (Variance Inflation Factor) dan nilai Tolerance.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedasitas yaitu suatu pengujian data yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa varians variabel tidak sama untuk semua pengamatan. Jika varians variabel sama maka dapat disebut Homoskedastisitas dan jika variansnya berbeda disebut terjadi Heteroskodasitas. Uji regresi yang baik yaitu ketika tidak terjadi heterokedastisitas. Teknik yang dapat digunakan untuk melihat adanya problem adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).53
Metode pengoreksiannya yaitu menggunakan uji Glejser. Uji Glejser ini adalah uji yang sangat sering dijumpai, yaitu dengan melihat hubungan absolute residual dengan masing-masing variabel bebas dengan absolute residual lebih dari 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas.
Hipotesis:
H0 : Tidak terjadi heteroskedatisitas H1 : Terjadi heteroskedastisitas Statistik Uji:
P-value di tunjukkan oleh Sug. α = 0,05
53 Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perhitungan Manual DanAplikasi SPSS Versi 17, 153.
Keputusan:
Tolak H0 apabila P-value < α e. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi yaitu suatu alat uji model regresi yang berfungsi untuk mengetahui adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode tertentu dengan kesalahan pada periode sebelumnya. Uji autokorelasi dapat di lakukan dengan uji Durbin Watson (DW test), seperti tabel dibawah.
Tabel 3.10
Hipotesis Uji Durbin-Waston Hipotesis
Nilai Statistik Durbin- Waston (d)
Keputusan Uji H0 : P value = 0 (Tidak terjadi
autokorelasi positif yang signifikan)
Ha : P value > 0 (Terjasi autokorelasi positif yang signifikan)
0 < d < dL H0 ditolak
H0 : P value = 0 (Tidak terjadi autokorelasi positif yang signifikan)
Ha : P value > 0 (Terjasi autokorelasi positif yang signifikan)
𝑑𝐿 ≤ 𝑑 ≤ 𝑑𝑢 Ambigu, tidak menolak atau menerima H0
H0 : P value = 0 (Tidak terjadi autokorelasi positif yang signifikan)
4 − 𝑑𝐿 < 𝑑 < 4 H0 ditolak
Hipotesis
Nilai Statistik Durbin- Waston (d)
Keputusan Uji Ha : P value > 0 (Terjasi
autokorelasi positif yang signifikan)
H0 : P value = 0 (Tidak terjadi autokorelasi positif yang signifikan)
Ha : P value > 0 (Terjasi autokorelasi positif yang signifikan)
4 − 𝑑𝑈 ≤ 𝑑 ≤ 4 − 𝑑𝐿 Ambigu, tidak menolak atau menerima H0
H0 : P value = 0 (Tidak terjadi autokorelasi positif yang signifikan)
Ha : P value > 0 (Terjasi autokorelasi positif yang signifikan)
𝑑𝑈 < 𝑑 < 4 − 𝑑𝑈 H0 tidak ditolak
2. Uji Hipotesis
a. Uji Regresi Linier Sederhana
Uji regresi linier sederhana merupakan uji yang digunakan untuk satu variabel bebas (independent) dan satu variabel terikat (dependent). Uji regresi linier sederhana digunakan untuk mencari pola hubungan antar 1 variabel independen dan 1 variabel dependen, sedangkan untuk mengetahui pola hubungan antara 1 variabel dependen dengan variabel independent lebih dari satu yaitu dengan menggunakan analisis regresi berganda.54 Untuk mendapatkan model regresi linier sederhana, dimana x digunakan untuk memprediksi y yaitu:
54 Wulansari, Aplikasi Statistika Parametrik Dalam Penelitian, 122.
1) Langkah pertama mencari nilai b0 dan b1
2) Langkah kedua mengetahui variabel independen (x) terdapat pengaruhnya dengan variabel dependen (y) dengan menghitung nilai-nilai yang ada dalam tabel Anova (Analysis of Variance).
Tabel 3.11
ANOVA (Analysis of Variance) Sumber
Variasi df Sum of Square (SS) Mean Square (MS) Regresi 1 SS Regresi (SSR)
(𝑏0∑ 𝑦 + 𝑏1∑ 𝑥𝑦) −(∑ 𝑦)2 𝑛
MSR= 𝑆𝑆𝑅
𝑑𝑏
Error n-2 SS Error (SSE)
∑ 𝑦2− (𝑏0 ∑ 𝑦 + 𝑏1∑ 𝑥𝑦
MSE=𝑆𝑆𝐸
𝑑𝑏
Total n-1 SS Total
SST= ∑ 𝑦2−(∑ 𝑦)2
𝑛
3) Langkah selanjutnya menghitung koefisien determinasi.
b. Uji Regresi Linier Berganda
Uji regresi linier berganda digunakan untuk satu variabel terikat dan dua variabel bebas atau lebih. Uji regresi linier berganda digunakan untuk melihat beda antara variabel satu dengan yang lain. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk memprediksi besaran nilai variabel dependen yang dipengaruhi oleh variabel independent. Untuk mengetahui besar pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat yaitu dengan melihat output SPSS tabel Anova B.55
Adapun persamaan umum dari regresi linier berganda adalah sebagai berikut:
y = 𝑏0+ 𝑏1𝑥1+ 𝑏2𝑥2
55 Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perhitungan Manual DanAplikasi SPSS Versi 17, 379.
1) Langkah pertama mencari nilai b0, b1 dan b2.
2) Langkah kedua uji signifikansi untuk mengetahui variabel independen (X1 dan X2) terdapatnya pengaruh dengan variabel dependen (Y) dengan Hipotesis:
H0 : Variabel X1 dan X2 tidak berpengaruh terhadap variabel Y H1 : Variabel X1 dan X2 berpengaruh terhadap variabel Y.
3) Langkah ketiga menentukan statistik uji dengan tabel Anova (Analysis of Variance).
49 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. DESKRIPSI DATA
1. Deskripsi data tentang penerapan metode pembelajaran diskusi pada mata pelajaran PAI dikelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo.
Deskripsi data ini bertujuan untuk memberikan gambaran data penelitian pada variabel (X1) penerapan metode pembelajaran diskusi pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo, untuk mendapatkan data mengenai penerapan metode pembelajaran diskusi, peneliti menggunakan angket yang didistribusikan kepada responden yang berjumlah 80 responden dari siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo. Adapun hasil skor penerapan metode pembelajaran diskusi pada pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.1
Skor Jawaban Angket
Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi No Skor Penerapan Metode Pembelajaran
Diskusi Frekuensi Prosentase
1 74 1 1,25%
2 76 1 1,25%
3 79 2 2,5%
4 80 1 1,25%
5 81 7 8,75%
6 83 3 3,75%
7 84 4 5%
8 85 2 2,5%
9 86 2 2,5%
10 87 5 6,25%
11 88 3 3,75%
No Skor Penerapan Metode Pembelajaran
Diskusi Frekuensi Prosentase
12 89 1 1,25%
13 90 5 6,25%
14 91 3 3,75%
15 92 4 5%
16 93 1 1,25%
17 94 5 6,25%
18 95 4 5%
19 96 1 1,25%
20 97 5 6,25%
21 98 4 5%
22 99 3 3,75%
23 100 4 5%
24 101 1 1,25%
25 102 1 1,25%
26 103 3 3,75%
27 104 1 1,25%
28 106 2 2,5%
29 107 1 1,25%
Total 80 100%
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa skor tertinggi jawaban angket adalah 107 dengan frekuensi 1 orang, sedangkan skor terendah adalah 74 dengan frekuensi 1 orang. Langkah selanjutnya yaitu mencari Mean (MX1) dan Standar Deviasi (SDX1) dari data yang telah diperoleh. Dari data di atas, penerapan metode pembelajaran diskusi dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu: efektif, cukup efektif, dan kurang efektif. Untuk menentukan tiga kategori tersebut peneliti menggunakan bantuan SPSS versi 25.0 dengan mencari mean dan standar deviasi, berikut hasil perhitungannya:
Tabel 4.2
Deskripsi Statistik Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Pada Mata Pelajaran PAI
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation
Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi
80 91.3625 7.79523
Berdasarkan hasil output SPSS versi 25.0 diatas hasil perhitungan menunjukkan bahwa MX1 = 91,3625 dan SDX1 = 7,79523. Untuk mengetahui tingkatan penerapan metode pembelajaran diskusi pada mata pelajaran PAI tergolong efektif, cukup efektif dan kurang efektif maka dikelompokkan dengan rumus di bawah ini:
a. Skor lebih daru MX + 1.SDX adalah termasuk kategori tinggi.
b. Skor kurang dari MX – 1.SDX adalah termasuk kategori rendah.
c. Skor antara MX – 1.SDX adalah termasuk sedang.
Dari rumus yang dipaparkan dalam buku Anas Sudijono, peneliti merubah keterangan untuk disesuaikan dengan variabel X1. Adapun perhitungan untuk mengetahui tingkatan penerapan metode pembelajaran diskusi, yaitu sebagai berikut:
a. MX1 + SDX1 = 91,3625 + 1.7,79523
= 91,3625 + 7,79523
= 99,15773 (dibulatkan menjadi 99) b. MX1 – SDX1 = 91,3625 – 1.7,79523
= 91,3625 – 7,79523
= 83,56727 (dibulatkan menjadi 84)
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa skor lebih dari 99 dikategorikan penerapan metode pembelajaran diskusi efektif, apabila skor 84 sampai dengan skor 99 dikategorikan cukup efektif, dan apabila skor kurang dari 84
maka penerapan metode pembelajaran diskusi pada pelajaran PAI kurang efektif.
Untuk lebih jelas mengenai ketegori penerapan metode pembelajaran diskusi pada pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3
Prosentase dan Kategori Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi
No Skor Frekuensi Prosentase Kategori
1 Lebih dari 99 13 16,25% Efektif
2 84 sampai dengan 99 52 65% Cukup Efektif
3 Kurang dari 85 15 18,75% Kurang Efektif
Total 80 100% -
Dari tabel 4.3 yang sudah dikategorikan di atas, telah diketahui skor penerapan metode pembelajaran diskusi dengan kategori efektif memiliki frekuensi sebanyak 13 siswa dan prosentase sebesar 16,25% sedangkan dalam kategori cukup efektif memiliki frekuensi sebanyak 52 siswa dengan prosentase 65% dan kategori kurang efektif berfrekuensi 15 siswa dengan prosentase 18,75%. Dengan demikian, dapat ditetapkan bahwa penerapan metode pembelajaran diskusi pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022 berada dalam kategori cukup efektif.
2. Deskripsi data Kedisiplinan pada pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo
Untuk mencari data penelitian variabel X2 Kedisiplinan pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022, untuk mendapatkan data mengenai variabel kedisiplinan, peneliti menggunakan angket yang didistribusikan kepada responden yang berjumlah 80 responden dari siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo. Adapun hasil skor kedisiplinan pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4 Skor Jawaban Angket
Kedisiplinan Pada Mata Pelajaran PAI No Skor Kedisiplinan pada Mata
Pelajaran PAI Frekuensi Prosentase
1 76 1 1,25%
2 77 2 2,5%
3 79 1 1,25%
4 81 1 1,25%
5 83 2 2,5%
6 84 3 3,75%
7 85 4 5%
8 86 1 1,25%
9 87 4 5%
10 88 2 2,5%
11 89 2 2,5%
12 90 2 2,5%
13 91 1 1,25%
14 92 2 2,5%
15 93 4 5%
16 94 5 6,25%
17 95 2 2,5%
18 96 2 2,5%
19 97 2 2,5%
20 98 2 2,5%
21 99 3 3,75%
22 100 5 6,25%
23 101 1 1,25%
24 102 4 5%
25 103 4 5%
26 104 5 3,75%
27 105 3 3,75%
28 106 2 2,5%
No Skor Kedisiplinan pada Mata
Pelajaran PAI Frekuensi Prosentase
29 108 2 2,5%
30 109 2 2,5%
31 110 2 2,5%
32 111 1 1,25%
33 114 1 1,25%
Total 80 100%
Dari tabel 4.4 di atas, dapat diketahui skor tertinggi jawaban angket adalah 114 dengan frekuensi 1 siswa dan skor terendah jawaban angket adalah 76 dengan frekuensi 1 siswa. Setelah diketahui skor jawaban angket, maka tahap selanjutnya adalah mencari Mean (MX2) dan Standar Deviasi (SDX2) dengan data yang tersedia. Adapun cara unruk mencari Mean dan Standar Deviasi yaitu dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0 for windows. Berikut hasil perhitungannya:
Tabel 4.5
Deskripsi Statistik Kedisiplinan Pada Mata Pelajaran PAI Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation
Kedisiplinan Pada Mata Pelajaran
PAI
80 95.6125 9.08956
Berdasarkan tabel 4.5 di atas menggunakan aplikasi SPSS 25.0 maka diperoleh hasil MX2 = 95,6125 dan SDX2 = 9,08956. Untuk mengetahui tingkatan kedisiplinan pada mata pelajaran PAI tergolong tinggi, sedang dan rendah maka dikelompokkan dengan rumus di bawah ini:
a. Skor lebih daru MX + 1.SDX adalah termasuk kategori tinggi.
b. Skor kurang dari MX – 1.SDX adalah termasuk kategori rendah.
c. Skor antara MX – 1.SDX adalah termasuk sedang.
Adapun perhitungan untuk mengetahui tingkatan penerapan metode pembelajaran diskusi, yaitu sebagai berikut:
a. MX2 + SDX2 = 95,6125 + 1. 9,08956
= 95,6125 + 9,08956
= 104,70206 (dibulatkan menjadi 105) b. MX2 – SDX2 = 95,6125 – 1.9,08956
= 95,6125 – 9,08956
= 86,52294 (dibulatkan menjadi 87)
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa skor lebih dari 105 dikategorikan kedisiplinan pada mata pelajaran PAI tergolong tinggi, apabila skor 87 sampai dengan skor 105 dikategorikan kedisiplinan pada mata pelajaran PAI sedang, dan apabila skor kurang dari 87 maka kedisiplinan pada mata pelajaran PAI tergolong rendah. Untuk lebih jelas mengenai ketegori kedisiplinan pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6
Prosentase dan Kategori Kedisiplinan Pada Mata Pelajaran PAI No Skor Kedisiplinan Frekuensi Prosentase Kategori
1 Lebih dari 105 10 12,5% Tinggi
2 87 sampai dengan 105 55 68,75% Sedang
3 Kurang dari 87 15 18,75% Rendah
Total 80 100% -
Dari tabel 4.6 yang sudah dikategorikan di atas, telah diketahui skor kedisiplinan pada mata pelajaran PAI dengan kategori tinggi memiliki frekuensi sebanyak 10 siswa dan prosentase sebesar (12,5%) sedangkan dalam kategori sedang memiliki frekuensi
sebanyak 55 siswa dengan prosentase (68,75%) dan kategori rendah berfrekuensi 15 siswa dengan prosentase (18,75%). Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulas bahwa kedisiplinan pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022 berada dalam kategori sedang.
3. Deskripsi data prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo
Deskripsi data ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan data tentang variabel (Y) prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo, untuk mendapatkan data prestasi belajar siswa, peneliti menggunakan teknik dokumentasi berupa nilai Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo. Berikut skor dokumentasi prestasi belajar:
Tabel 4.7
Skor Dokumentasi Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran PAI
No Skor Prestasi Belajar Frekuensi Prosentase
1 72 2 2,5%
2 73 5 6,25%
3 74 5 6,25%
4 75 3 3,75%
5 76 1 1,25%
6 78 3 3,75%
7 79 3 3,75%
8 80 8 10%
9 81 1 1,25%
10 82 4 5%
11 83 6 7,5%
12 84 8 10%
13 85 5 6,25%
14 86 4 5%
15 87 1 1,25%
No Skor Prestasi Belajar Frekuensi Prosentase
16 88 8 10%
17 89 5 6,25%
18 90 6 7,5%
19 93 1 1,25%
20 94 1 1,25%
Total 80 100%
Dari tabel 4.7 maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa perolehan skor variabel (Y) prestasi belajar pada mata pelajaran PAI tertinggi adalah 94 dengan frekuensi 1 siswa dan skor terendah yaitu 72 dengan frekuensi 2 siswa. Dari hasil data di atas, prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu: tinggi, sedang, dan rendah. Untuk menentukan tingkat kategori tinggi, sedang, ataupun rendah, maka peneliti menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0 dengan mencari mean dan standar deviasi, berikut adalah tabel hasil kategori prestasi belajar pada mata pelajaran PAI:
Tabel 4.8
Deskripsi Statistik Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran PAI Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Prestasi Belajar PAI 80 72.00 94.00 82.5250 5.67913
Berdasarkan hasil output SPSSversi 25.0 di atas, maka dapat diketahui MY= 82,5250 sedangkan SDY = 5,67913. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo yang tergolong tinggi, sedang ataupun rendah, dibuat pengelompokan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Nilai MY + 1.SDY yaitu termasuk kategori tinggi
b. Nilai kurang dari MY – 1.SDY yaitu termasuk kategori rendah
c. Nilai antara MY - 1. SDY sampai dengan MY + 1.SDY ialah termasuk dalam kategori sedang.
Adapun perhitungannya yaitu sebagai berikut:
a. MY + 1.SDY = 82,5250 + 1. 5,67913
= 82,5250 + 5,67913
= 88,20413 (dibulatkan menjadi 88) b. MY – 1.SDY = 82,5250 – 1. 5,67913
= 82,5250 - 5,67913
= 76,84587 (dibulatkan menjadi 77)
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa skor prestasi belajar lebih dari 88 dikategorikan tinggi, sedangkan skor prestasi belajar 77 sampai dengan 88 dikategorikan sedang dan skor prestasi belajar pada mata pelajaran PAI kurang dari 77 dikategorikan rendah. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai kategori prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.9
Prosentase dan Kategori Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran PAI
No Nilai Frekuensi Prosentase Kategori
1 Lebih dari 88 13 16,25% Tinggi
2 77 sampai dengan 88 51 63,75% Sedang
3 Kurang dari 77 16 20% Rendah
Total 80 100% -
Berdasarkan kategori pada tabel 4.9, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 13 siswa dengan jumlah prosentase mencapai (16,25%), dalam kategori sedang memiliki frekuensi 51 siswa dengan prosentase (63,75%), dan
dalam kategori rendah yaitu memiliki frekuensi 16 dengan prosentase (20%). Dengan demikian secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo berada dalam kategori sedang dengan prosentase 63,75%.
B. ANALISIS DATA (PENGUJIAN HIPOTESIS) 1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Linieritas
Uji linieritas dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kedua variabel memiliki hubungan yang linier atau tidak. Kedua variabel dapat dikatakan linier apabila nilai P-value yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi pada Deviation from Liniarity <0,05. Untuk pengujian linieritas dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0 dan berikut hasil uji linieritas dapat dilihat pada tabel 4.10 dan 4.11 di bawah ini:
Tabel 4.10
Hasil Uji Linieritas Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Pada Mata Pelajaran PAI
ANOVA Table Sum of
Squares df Mean
Square F Sig.
Penerapan Metode Pembelajara n Diskusi
Bet wee n Gro ups
(Combined) 1044.326 28 37.297 1.265 .229 Linearity 431.222 1 431.222 14.626 .000 Deviation
from Linearity
613.105 27 22.708 .770 .766 Within Groups 1503.624 51 29.483
Total 2547.950 79 Hipotesis:
H04 : Terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar pada Mata
Pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo Tahun Ajaran 2021/2022.
H14 : Tidak terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo Tahun Ajaran 2021/2022.
Statistik Uji:
α = 0,05
P-value (Sig.) = 0,766 Keputusan:
Berdasarkan hasil output SPSS versi 25.0 tersebut, maka dapat diketahui bahwa nilai signifikansi Deviation from Linearity sebesar 0,766. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai signifikansi (0,766) > α (0,05), sehingga H04 diterima dan H14 ditolak yang artinya terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022.
Tabel 4.11
Hasil Uji Linieritas Kedisiplinan Pada Mata Pelajaran PAI ANOVA Table
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Kedisiplin an
Between Groups
(Combin
ed) 1412.633 32 44.145 1.828 .029 Linearity 521.686 1 521.597 21.597 .000
Deviatio n from Linearity
890.947 31 28.740 1.190 .290 Within Groups 1135.317 47 24.156
Total 2547.950 79
Hipotesis:
H05 : Terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel kedisiplinan terhadap prestasi belajar pada Mata Pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo Tahun Ajaran 2021/2022.
H15 : Tidak terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel kedisiplinan terhadap prestasi belajar pada Mata Pelajaran PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo Tahun Ajaran 2021/2022.
Statistika Uji:
α = 0,05
P-value (Sig.) = 0,290 Keputusan Uji:
Berdasarkan hasil output SPSS versi 25.0 tersebut, maka dapat diketahui bahwa nilai signifikansi Deviation from Linearity sebesar 0,290. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai signifikansi (0,290) > α (0,05), sehingga H05 diterima dan H15 ditolak yang artinya terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran PAI siswa SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022.
b. Uji Normalitas Residual
Guna menghindari kesalahan saat penyebaran data yang tidak 100% normal atau tidak normal sempurna, maka dalam menganalisis hasil penelitian ini perlu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan rumus uji Kolmogorov-Smirnov dan dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0, untuk penjabaran hasil dari uji normalitas dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.12
Hasil Uji Normalitas dengan Kologorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 80
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 5.05457786 Most Extreme
Differences
Absolute .069
Positive .068
Negative -.069
Test Statistic .069
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Hipotesis:
H0 : Residual berdistribusi normal H1 : Residual tidak bedistribusi normal Statistik Uji:
α = 0,05
P-value (Sig.) = 0,200 Keputusan:
Berdasarkan hasil pengolahan data dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0 di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai signifikansi Unstandardized Residual pada uji Kolmogorov-Smirnov yaitu sebesar 0,200. Dengan demikian, berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi P-value (0,200) > α (0,05) sehingga gagal tolak H0, yang berarti residual kedua variabel berdistribusi normal.
c. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan (korelasi) yang tinggi antara variabel- variabel independen dalam suatu model regresi linier berganda. Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas (independent). Apabila nilai VIF < dari 10 maka dapat disimpulkan tidak ada korelasi antar variabel bebas (independent). Dalam penelitian ini, peneliti dapat melakukan pengujian multikolinieritas dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.13 di bawah ini:
Tabel 4.13
Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1
(Constant) 53.815 6.810 7.903 .000 Penerapan
Metode Pembelajara
n Diskusi
.075 .137 .104 .549 .584 .290 3.454 Kedisiplinan .353 .070 .365 1.937 .056 .290 3.454 a. Dependent Variable: Prestasi Belajar PAI
Berdasarkan hasil output SPSS versi 25.0 yang telat terlampir pada tabel 4.13, jika dilihat dari VIF-nya yaitu (3,454) lebih kecil dari 10. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai VIF (3,454) < 10, maka variabel bebas (independen) termasuk dalam model regresi linier berganda yang tidak terjadi multikolinieritas.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual pada suatu pengamatan yang lain. Model regresi dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas apabila nilai P-value-nya lebih besar dari pada α (0,05). Metode pengujian heteroskedositas dalam penelitian ini yaitu menggunakan Uji Glejser dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0. Berikut hasil uji heteroskedastisitas dengan bantuan SPSS versi 25.0 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.14
Hasil Uji Heteroskedastisitas ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 19.388 2 9.694 1.128 .329b
Residual 661.880 77 8.596
Total 681.268 79
a. Dependent Variable: Abs_RES
b. Predictors: (Constant), Kedisiplinan, Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi
Hipotesis:
H0 : Tidak terjadi heteroskedastisitas H1 : Terjadi heteroskedastisitas Statistik Uji:
α = 0,05
P-value (Sig.) = 0,329 Keputusan:
Berdasarkan hasil output SPSS versi 25.0 pada tabel 4.14, maka dapat diketahui bahwa nilai P-value (Sig.) yaitu sebesar 0,329. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa nilai P-value (0,329) > α (0,05), sehingga H1 ditolak dan H0
diterima artinya kedua variabel tersebut tidak terjadi heteroskedositas.
e. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menguji apakah dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW) dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0. Untuk lebih jelasnya, hasil uji Durbin-Watson (DW) dapat dilihat pada tabel 4.15 di bawah:
Tabel 4.15 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .456a .208 .187 5.120 2.024
a. Predictors: (Constant), Kedisiplinan, Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi b. Dependent Variable: Prestasi Belajar
Hipotesis:
H0 : Tidak terjadi autokorelasi H1 : Terjadi autokorelasi Statistik Uji:
d = 2,024
du = 1,6882 (α = 0,05;k =2;80) Keputusan:
Berdasarkan hasil pengolahan data SPSS versi 25.0 di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 2,024. Kemudian nilai tersebut akan dibandingkan dengan nilai tabel DW dengan signifikansi 5%, jumlah sampel (N) sebesar 80 dan jumlah variabel independen (K) =2 (dalam tabel DW), sehingga diperoleh nilai du 1,6882, dan dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai DW (2,024) > du (1,6882), sehingga gagal tolak H0 yang berarti tidak terjadi autokorelasi.
2. Hipotesis
a. Analisis Data tentang Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Terhadap Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo Tahun Ajaran 2021/2022.
Guna mendapatkan informasi tentang ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan pada variabel penerapan metode pembelajaran diskusi terhadap prestasi belajar PAI siswa kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo tahun ajaran 2021/2022, maka penulis menggunakan teknik perhitungan analisis regresi linier sederhana dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 25.0.
Tahap-tahap yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan uji analisis regresi linier sederhana ini yakni dengan mencari persamaan regresi linier sederhana. Selanjutnya peneliti melakukan uji hipotesis, dan tahap terakhir ialah menghitung besarnya R Square (R2). Untuk mendapatkan data persamaan regresi linier sederhana, peneliti dibantu dengan aplikasi SPSS versi 25.0 untuk lebih detailnya dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah ini:
Tabel 4.16
Tabel coefficients Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Terhadap Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas XI SMAN 1 Balong Ponorogo TAhun
Ajaran 2021/2022 Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta 1
(Constant) 55.142 6.894 7.999 .000
Penerapan Metode
Pembelajaran Diskusi .300 .075 .411 3.986 .000 a. Dependent Variable: Prestasi Belajar PAI
Berdasarkan tabel coefficient di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai konstanta (b0) pada tabel B sebesar 55,142 sedangkan nilai penerapan metode