• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Teknik dan Sistematika Penulisan

Teknik penulisan laporan dalam penelitian ini akan merujuk pada buku yang disusun oleh Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo. MA, et al. Yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta, cetakan kedua, tahun 2017.14

Sistematika penulisan adalah penjelasan tentang bagian-bagian yang akan ditulis di dalam penelitian secara sistematis. Bagian ini berisi logika struktur bab yang berisi nama judul bab dan sub bab.

BAB I PENDAHULUAN, Pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, Teknik dan Sistematika Penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI, Bab ini meliputi: pertama, tentang dasar teori multiple intelligences, antara lain pengertian inteligensi, latar belakang konsep multiple intelligences, macam-macam multiple intelligences. Kedua, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), mengenai definisi, tujuan, ruang lingkup dan komponen pembelajaran pendidikan agama islam (PAI).

Ketiga, multiple intelligences dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), meliputi penggunaan teori multiple intelligences dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

13Lihat Selengkapnya di Jurnal Nurul Hidayati Rofiah yang berjudul “Menerapkan Multiple Intelligences dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar”

14 Huzaemah T. Yanggo, et al, Petunjuk Teknis Penulisan Proposal dan Skripsi, (Tangerang: LPPI IIQ Jakarta, 2017)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Bab ini berisi uraian yang menjelaskan secara rinci bagaimana tahapan suatu penelitian dilakukan (metodologi penelitian). Yakni mencakup tentang Jenis dan Pendekatan Penelitian, Waktu dan Tempat Penelitian, Fokus Penelitian, Sumber Penelitian, Teknik Pengumpulan Data (Observasi, Interview/Wawancara, Dokumentasi), Teknik Pengolahan dan Analisis Data.

BAB IV HASIL PENELITIAN, Bab ini menguraikan hasil penelitian secara rinci meliputi Deskriptif Data, Dokumen Pribadi, Catatan Lapangan, Ucapan dan Tindakan Responden, dan lain-lain.

BAB V PENUTUP, Bab ini menguraikan kesimpulan yang meliputi:

Kesimpulan dan Saran.

15

KAJIAN TEORITIS

A. Dasar Teori Multiple Intelligences 1. Pengertian Inteligensi

Sebelum mempelajari berbagai kecerdasan manusia yang termasuk dalam kecerdasan majemuk, ada baiknya kita mempelajari terlebih dahulu mengenai konsep definitif tentang kecerdasan itu sendiri. Ada banyak definisi kecerdasan atau inteligensi, yang sampai saat ini dipahami secara beragam oleh para ahli. Keragaman tersebut diciptakan melalui penelitian dan dengan menggunakan perspektifnya masing-masing. Meskipun para ahli merasa sulit mendefinisikannya, kecerdasan dapat dilihat dari berbagai pendekatan, yakni pendekatan teori belajar, pendekatan teori neurobiologis, pendekatan teori psikometri, dan pendekatan teori perkembangan.1

Menurut pendekatan teori belajar, kecerdasan dipandang sebagai kualitas hasil belajar, di mana pendekatan ini lebih menekankan pada perilaku yang tampak dari setiap individu. Sebagaimana menurut Cattell perilaku yang inteligen adalah yang berisi proses belajar pada fungsional tingkat tinggi.2 Hal ini berarti kecerdasan jika dipahami dengan pendekatan teori belajar, tidak ditekankan pada pengertian mengenai konsep mental dari kecerdasan, dan berarti bahwa kecerdasan bukan merupakan sifat kepribadian.

Selanjutnya, menurut pendekatan neurobiologis, kecerdasan memiliki dasar anatomis dan biologis. Hal ini berarti bahwa kecerdasan

1 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017) h. 115

2 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 115

merupakan perilaku yang dapat ditelusuri dari dasar-dasar neuro-anatomis dan proses neurofisiologisnya. Dengan menggunakan pendekatan ini, dapat diketahui perbandingan antara otak orang biasa dengan otak orang cerdas. Jika diberi satu sampel untuk membandingkan antara kedua otak tersebut. Maka, hasilnya dapat ditemukan bahwa ada “brain efficiency”, yaitu otak yang efisien memiliki banyak asosiasi antara neuron satu dengan yang lain, mengalami pemangkasan pada cabang-cabang neuron yang tidak diperlukan, juga aksonnya lebih besar dan mielin yang melapisinya lebih tebal.3

Sedangkan, menurut pendekatan psikometri, kecerdasan dipandang sebagai suatu konstruk hipotesis dan memiliki sifat psikologis yang berbeda pada setiap individu. Pendekatan inilah yang melahirkan tes-tes psikologi yang dikembangkan oleh tokoh pengukuran inteligensi, Alferd Binet. Maka dengan pendekatan ini pula, kecerdasan dirumuskan sebagai kemampuan umum terutama yang berkaitan dengan ingatan dan penalaran dalam mempelajari dan menghadapi masalah.4

Pendekatan selanjutnya, yaitu pendekatan perkembangan.

Pendekatan ini lebih menekankan perkembangan kecerdasan secara kualitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. Salah satu tokoh dalam pendekatan ini adalah Piaget. Ia melihat adanya perbedaan kualitatif dalam cara berpikir anak pada masing-masing kelompok usia. Menurutnya, seiring bertambahnya usia seseorang, maka semakin bertambah atau meningkat kecerdasannya.5

Beberapa pendekatan di atas yang telah diuraikan satu per satu, berdampak pada perumusan makna kecerdasan menurut para ahli, mulai

3 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 116

4 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 116

5 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 116

dari Spearman, Piaget, Alferd Binet, sampai Howard Gardner. Berikut ini adalah beberapa pengertian dari kecerdasan menurut para ahli:

Menurut Spearman (yang terkenal dengan teori Spearman), ada dua faktor pada kecerdasan, yaitu faktor umum (g) dan faktor spesifik (s).

Faktor “g” mendasari hampir setiap tingkah laku mental individu, sedang faktor “s” berfungsi dalam tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan.6

Inteligensi menurut Piaget lain lagi. Pandangan ahli perkembangan ini melihat inteligensi secara kualitatif, berdasarkan aspek isi, struktur, dan fungsinya. Untuk menjelaskan ketiga aspek tersebut, Piaget mengaitkan inteligensi dengan periodisasi perkembangan biologis, meliputi sensorimotorik, praoperasional, konkret operasional, dan abstrak operasional. Pembagian ini dimaksudkan juga sebagai periode perkembangan kognitif. Di dalam perkembangan tersebut terkandung konsep kecerdasan atau inteligensi anak.7

Alferd Binet (1857-1911) menggambarkan kecerdasan sebagai penilaian, atau disebut juga akal yang baik (good sense), berpikir praktis (practical sense), inisiatif, kemampuan diri untuk menyesuaikan diri kepada keadaan, dan kritik pada diri sendiri (auto critique).8

Definisi lain tentang inteligensi dikemukakan oleh Howard Gardner, Gardner menjelaskan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan karya yang dihadiri dalam satu kebudayaan atau lebih.9 Gardner meyakini bahwa semua kemampuan tersebut dimiliki oleh semua manusia, meskipun manusia memiliki cara

6 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), h. 144

7 Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 154

8 Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, h. 154

9 Munif Chatib, Semua Anak Bintang, (Bandung: Penerbit Kaifa, 2017), h. 5

yang berbeda untuk menunjukan dan mengembangkannya. Definisi kecerdasan menurut Gardner ini sekaligus menentang anggapan “cerdas”

dari sisi IQ (Intelligence Quotient) Binet.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan itu merupakan kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk memecahkan suatu masalah. Karena inteligensi bersifat adaptif, yakni dapat digunakan secara fleksibel untuk merespon berbagai situasi dan masalah yang dihadapi. Istilah inteligensi juga berkaitan dengan kemampuan belajar dan pengetahuan. Seseorang yang inteligen dapat mempelajari informasi-informasi dan perilaku-perilaku baru secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan dengan orang yang kurang inteligen.10

2. Latar Belakang Konsep Multiple Intelligences

Multiple intelligences merupakan sebuah teori yang di temukan oleh Dr. Howard Gardner pada awal tahun 1980-an.11 Sebelum teori kecerdasan multiple intelligences ini muncul, kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan tes IQ (Intelligence Quetient) yang berhasil dikembangkan oleh Alferd Binet pada tahun 1900,12 tes inteligensi ini seringkali melibatkan perpaduan tugas-tugas verbal dan visual yang kemudian hasil tes itu diubah menjadi angka standar kecerdasan.13

Semakin tinggi tes IQ seseorang, maka dia dikatakan memiliki kualitas kecerdasan intelektual yang tinggi, dan kemudian orang tersebut dipuji-puji sebagai orang "pintar" dan bahkan "brilian". Begitu pula

10 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 117

11 Howard Gardner, Multiple Intelligences, h. 18

12 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 124

13 Eva Latipah, Psikologi Dasar Bagi Guru, h. 125

sebaliknya, semakin rendah tes IQ seseorang, semakin rendah pula derajat kecerdasan intelektualnya, dan kemudian dia dicap sebagai orang bodoh.

Pandangan tersebut tentu berbeda dengan dasar pemikiran dalam Islam bahwa setiap manusia diberi akal untuk berfikir. Namun, manusia memiliki keterbatasan dan hanya sedikit ilmu yang diketahui oleh manusia, disamping itu setiap manusia memiliki kemampuan berbeda- beda.

Gardner diakui telah berhasil melakukan kritik terhadap definisi kecerdasan manusia yang diwakili oleh angka-angka yang statis.

Berdasarkan definisi inteligensi menurut Gardner, tes IQ yang selama ini banyak dipercaya, tidak lagi cukup mewakilinya. Sebab IQ hanya mewakili kecerdasan linguistik dan logis-matematis saja sedangkan yang lain tidak. Dalam studinya tentang kecerdasan manusia ditemukan bahwa pada hakikatnya setiap manusia memiliki tujuh (yang kemudian ditambahkan dua menjadi sembilan) spektrum kecerdasan yang berbeda- beda. Semua kecerdasan dapat dikembangkan oleh setiap orang hingga mencapai suatu tingkat yang memadai.14

Gardner bersama rekan-rekannya melakukan penelitian untuk mengembangkan konsep multiple intelligences, agar kecerdasan setiap anak tidak hanya dinilai dengan cara menguji kemahiran seseorang memahami dan menyelesaikan soal-soal logika-matematika (sebagaimana yang dilakukan dalam tes IQ). Bersama tim, Gardner mengembangkan cara-cara mengukur kemampuan individu untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu.15

14 Howard Gardner, Multiple Intelligences, h. 36

15 Nurul Hidayati Rofiah, “Menerapkan Multiple Intelligences dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar”, dalam Jurnal Dinamika Pendidikan Dasar, Vol. 8 No.1 Maret 2016, h.

70

Gardner dengan cerdas memberi label “multiple” pada luasnya makna kecerdasan. Penggunaan kata “multiple” dimaksudkan karena akan terjadinya kemungkinan bahwa ranah kecerdasan yang ditemukan terus berkembang, mulai dari tujuh kecerdasan ketika pertama kali muncul hingga saat ini menjadi sembilan kecerdasan. Pada bukunya Frames of Mind (1983) Gardner pada awalnya menemukan tujuh kecerdasan. Setelah itu, berdasarkan kriteria karakteristik konsep kecerdasan yang ia buat, Gardner menemukan kecerdasan yang kedelapan, yakni Naturalis. Dan terakhir Gardner memunculkan adanya kecerdasan yang kesembilan, yaitu kecerdasan eksistensial.16

Dengan adanya kemungkinan bahwa kecerdasan ini dapat terus berkembang dan bertambah, gardner memiliki kriteria-kriteria tertentu untuk memenuhi syarat dalam menentukan jenis kecerdasan. Kriteria- kriteria yang dirumuskan oleh Gardner merupakan hasil penelitiannya terhadap otak manusia dan mewawancarai para korban stroke, prodigies, dan individu dengan autisme. Kriteria-kriteria tersebut diantaranya adalah:

1) Letak dalam Otak

Gardner mengamati bahwa dalam otak manusia yang ditemukan memiliki potensi yang terisolasi akibat kerusakan otak, bisa disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit tertentu mempengaruhi wilayah otak tertentu pula. Cedera ini mengganggu kecerdasan tertentu, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi kecerdasan yang lain.

Orang yang mengalami cidera di wilayah broca (lobus kiri depan) misalnya, akan mengalamai kesulitan memproduksi ujaran, tetapi masih dapat mengerjakan soal matematika, menari, mengekspresikan perasaan, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ini berarti setiap kecerdasan memiliki sistem otak yang relatif otonom, dan terdapat

16 Howard Gardner, Multiple Intelligences, h. 43

struktur otak dalam setiap kecerdasan. Tabel di bawah ini akan menjelaskan sistem neurologis dalam otak yang merupakan wilayah primer tiap jenis kecerdasan:

Tabel 1.

Sistem Neurologis Dalam Otak Yang Merupakan Wilayah Primer Tiap Jenis Kecerdasan

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak Linguistik Lobus temporal kiri

dan lobus bagian depan (termasuk Broca & Wernicke)

Spasial Bagian belakang hemisfer kanan

Musikal Lobus temporal kanan

Intrapersonal Lobus bagian depan, lobus parietal, sistem limbik

Matematis- Logis

Lobus bagian depan kiri dan parietal kanan

Kinestetik Serebelum, basal ganglia, motor korteks

Interpersonal Lobus bagian depan, lobus temporal (terutama hemisfer kanan), sistem limbik

Naturalis Wilayah-wilayah lobus parietal kiri yang penting untuk membedakan

“makhluk hidup”

dengan “benda mati”

2) Adanya Bukti Personalitas

Gardner menemukan ada orang-orang genius dan syndrom savant yaitu orang-orang yang sangat menonjol pada satu jenis kecerdasan tertentu, tetapi rendah dalam kecerdasan lain.

3) Tiap Kecerdasan Memiliki Waktu Kemunculan dan Perkembangan Gardner menemukan adanya riwayat perkembangan khusus dan kinerja kondisi puncak bertaraf ahli yang khas. Hal ini berarti, terbentuk melalui keterlibatan anak dalam kegiatan dan setiap kecerdasan memiliki waktu kemunculan tertentu. Tabel 2 di bawah ini merupakan kemunculan perkembangan pada tiap jenis kecerdesan:

Tabel 2.

Kemunculan Perkembangan pada Tiap Jenis Kecerdesan.

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak Verbal-

Linguistik

Meledak pada masa anak-anak terus berlanjut hingga usia lanjut

Visual- Spasial

Usia 9-10 tahun dan peka artistik sampai tua

Musikal Berkembang paling awal, si genius kadang mengalami krisis

perkembangan

Intrapersonal Pembentukan batas diri dan orang lain masa 3 tahun pertama

Matematis Logis

Memuncak pada masa remaja dan awal dewasa, menurun setelah 40

Kinestetik Bervariasi,

bergantung pada komponen kekuatan , fleksibilitas,

tahun domain gimnastik Interpersonal Masa kritis tiga

tahun pertama

Naturalis Muncul secara dramatis pada sebagian anak, dapat dikembangkan melalui sekolah/

pengalaman

4) Sejarah Evolusioner dan Kenyataan Logis Evolusioner

Tiap jenis kecerdasan memiliki bukti historis. Hal ini berarti, kecerdasan ada pada setiap kurun waktu, meskipun peran dari setiap kecerdasan tidak sama. Seperti irama terbang serangga waktu mencari bunga, musikal melalui instrumen musik purba, dan sebagainya.

5) Dukungan Temuan Psikometrik

Hasil dari beberapa tes psikologi standar meyakini bahwa inteligensi yang ditemukan Gardner benar. Tes standar untuk menilai kecerdasan dengan cara yang terkontekstualisasikan (memanfaatkan skala kecerdasan Wechsler untuk linguistik, matematis logis, spasial, kinsetetik; dll). Saat ini juga telah dibuat tes psikometri untuk kecerdasan majemuk.

6) Dukungan Penelitian Psikologi Eksperimental

Dari tugas-tugas psikologi yang diberikan tampak bahwa inteligensi bekerja saling terisolasi. Hal ini menunjukan bahwa manusia memiliki kemampuan yang terkotak-kotak, dan setiap kemampuan kognitif berlaku khusus untuk satu kecerdasan. Misalnya yang kuat membaca belum tentu kuat dalam matematika.

7) Tiap Kecerdasan memiliki Rangkaian Cara kerja Dasar

Setiap kecerdasan membutuhkan cara kerja tertentu yang berperan menggerakkan kegiatan yang khas atau spesifik pada setiap kecerdasan. Cara kerja dasar kinestetik misalnya, bercara dasar kerja : mampu menirukan gerakan fisik, mampu menguasai gerak rutin motorik halus dalam menyusun bangunan.

8) Kemudahan Menyandikannya ke dalam sistem simbol

Setiap kecerdasan memiliki simbol sendiri-sendiri yang khas. Seperti dalam tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3.

Sistem Simbol pada Tiap Jenis Kecerdesan.

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak

Jenis Kecerdasan

Wilayah Primer dalam Otak Verbal-

Linguistik

Simbol Fonetis/mis Visual- Spasial

Simbol Ideografis (tulisan cina) Musikal Notasi musik, kode

morse

Intrapersonal Simbol diri (dalam mimpi & karya seni)

Matematis- Logis

Simbol matematis Kinestetik Bahasa Isyarat, Braille

Interpersonal Simbol sosial, ekspresi, gerak isyarat

Naturalis Klasifikasi, peta habitat

Kriteria-kriteria tersebutlah yang digunakan untuk mengidentifikasi kecerdasan majemuk secara terpisah. Selain itu, menurut teori multiple intelligences, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan

karakteristik konsep kecerdasan multiple intelligences yang berbeda dengan karakteristik konsep kecerdasan terdahulu. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Setiap orang memiliki kesembilan kecerdasan dalam kadar yang tidak persis sama. Ada yang tinggi pada semua jenis kecerdasan ada pula yang hanya rata-rata dan tinggi pada dua atau tiga jenis kecerdasan.

2) Orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai; Kecerdasan dapat dieksplorasi, ditumbuhkan dan distimulasi sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan yang baik, dan pengajaran.

3) Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks, semua kecerdasan yang berbeda-beda tersebut akan saling bekerja sama untuk mewujudkan aktivitas yang diperbuat manusia. Dalam aktivitas sehari-hari, kecerdasan saling berkaitan dalam satu rangkain: menendang bola (kinestetik), orientasi diri di lapangan (spasial), mengajukan protes ke wasit (linguistik dan interpersonal).

4) Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori.

Misalnya seseorang yang cerdas linguistik mungkin tidak pandai menulis, tetapi pandai bercerita dan berbicara secara memukau.17

3. Macam-macam Multiple Intelligences

Gardner menemukan setidaknya ada sembilan inteligensi yang dimiliki peserta didik, yaitu:

17 Nurul Hidayati Rofiah, “Menerapkan Multiple Intelligences dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar”, dalam Jurnal Dinamika Pendidikan Dasar, Vol. 8 No.1 Maret 2016, h.

70-73

1) Kecerdasan Verbal-Linguistik (verbal-linguistic intelligence) Kecerdasan verbal-linguistik atau dikenal dengan istilah pintar kata adalah kemampuan dalam menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan, termasuk dalam memahami bahasa ibu dan bahasa-bahasa asing dalam mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya. Menggunakan kata merupakan cara utama dalam berpikir dan menyelesaikan masalah bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan ini, mereka juga pandai dalam memahami orang lain.18 Kemampuan ini pernah diperlihatkan oleh Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16.

Anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis, membuat puisi, menyusun kata-kata, dan sebagainya.19 Maka tidak heran jika anak- anak dengan kecenderengun kecerdasan ini senang membaca semua bentuk bacaan, memiliki kemampuan menulis lebih baik dari teman seusianya, dan menyukai permainan kata seperti teka-teki silang.20 Selain itu, peserta didik seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama orang, istilah-istilah baru, termasuk dalam hal-hal yang sifatnya detail.

Gaya belajar terbaik bagi anak-anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan linguistik adalah belajar dengan cara membaca, menulis, bercerita, merekam, mendengar, menghafal dan

18 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: Prenamedia Group, 2016), cet. ke-2, h. 13

19 Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h. 12

20 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 46

bertanya mengenai huruf, kata, dan kalimat.21 Oleh karena itu, ajak anak-anak ke toko buku, beri kesempatan berbicara, sediakan banyak buku-buku, rekaman, serta menciptakan peluang mereka untuk menulis.

2) Kecerdasan Matematis-logis (logical-mathematical intelligence) Kecerdasan matematik disebut juga dengan kecerdasan logis, karena kecerdasan ini merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari sistem kausal atau dapat memanipulasi bilangan, kuantitas, dan operasi.22 Kecerdasan logis-matematis disebut juga dengan istilah cerdas angka termasuk juga di dalamya kemampuan ilmiah (scientific) yang sering disebut dengan berpikir jumlah kritis. Salah satu tokoh dalam kecerdasan ini adalah Albert Einstein.

Kecerdasan ini ditandai dengan kepekaan pada pola-pola logis dan memiliki kemampuan mencerna pola-pola tersebut, termasuk juga numerik serta mampu mengolah alur pemikiran yang panjang.23 Seseorang yang memiliki kecerdasan ini cenderung menyukai dan efektif dalam hal: menghitung dan menganilisis hitungan, memperkirakan, memprediksi, bereksperimen, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah. Menurut Smith, orang dengan kecerdasan ini cenderung melakukan sesuatu dengan data untuk melihat pola-pola dan hubungan.24 Cara belajar terbaik bagi anak- anak yang cerdas matematis-logis adalah melalui angka, pola-pola

21 Munif Chatib, Semua Anak Bintang, h. 33

22 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 14

23 Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, h. 49

24 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 63

tertentu yang terstruktur, berpikir logika, soal cerita atau problem nyata, bereksperimen dan membuat hipotesis/ perkiraan.25

3) Kecerdasan Visual-spasial (visual-spatial intelligence)

Kecerdasan visual-spasial atau disebut kecerdasan visual adalah kemampuan dalam memahami gambar-gambar dan bentuk, termasuk kemampuan untuk menginterpretasi dimensi ruang yang tidak dapat dilihat.26 Maka tidak heran bila kecerdasan ini dikaitkan dengan bakat seni, khusunya seni lukis dan arsitektur. Orang dengan kecerdasan visual tinggi cenderung berpikir dengan gambar dan sangat baik ketika belajar melalui presentasi visual seperti gambar, video, dan demonstrasi dengan menggunakan alat peraga.

Anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kemampuan menggambar ide-ide menarik, mahir membaca peta dan denah, mampu menciptakan karya seni dengan menggunakan berbagai macam media. Oleh karena itu, karier yang sesuai dengan orang yang memiliki kecerdasan visual-spasial agar kemampuannya dapat berkembang dengan baik diantaranya menjadi seorang arsitektur, penjahit, seniman, pemahat, dan sebagainya. Salah satu kemampuan ini dimiliki oleh Louis Henri Sullivan, salah satu arsitek paling berpengaruh dunia.27

Untuk mengembangkan kecerdasan visual-spasial yang dimiliki peserta didik, cara belajar terbaik yang dapat diterapkan pada peserta didik, diantaranya ialah:

a) Belajar dengan gambar

b) Belajar dengan kolaborasi warna

25 Munif Chatib, Semua Anak Bintang, h. 33

26 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 83

27 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan

Jamak, h. 15

c) Belajar dengan membuat suatu bangunan d) Belajar dengan film

e) Belajar dengan peta konsep.28

4) Kecerdasan Kinestetik (kinesthetik intelligence)

Menurut Sonawat & Gogri, yang dikutip oleh Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim: “Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu. Kecerdasan ini mencakup keterampilan khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, fleksibelitas dan kecepatan. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan untuk mengontrol gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan untuk memanipulasi objek.”29

Dalam arti bahwa kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan untuk menggunakan seluruh bagian badan secara fisik seperti menggunakan tangan, jari-jari, lengan, dan berbagai kegiatan fisik lain. Maka orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya memproses informasi melalui perasaan yang dirasakan melalui aspek badaniah atau jasmaniah. Mereka juga cenderung mempunyai perasaan yang kuat dan kesadaran mendalam tentang gerakan-gerakan fisik. Mampu berkomunikasi dengan baik melalui bahsa tubuh dan sikap dalam bentuk fisik lainnya.30

Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengelola objek, respons dan refleks.31

28 Munif Chatib, Semua Anak Bintang, h. 34

29 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 16

30 Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak, h. 99

31 Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, h. 49

Dokumen terkait