• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengolahan Data

BAB III METODE PENELITIAN

3.10 Teknik Pengolahan Data

Memeriksa hasil kadar glukosa yang didapat dari pemeriksaan sampel sebelum dan sesudah bekerja. Data-data diproses editing adalah identitas sampel, kadar glukosa sebelum dan sesudah bekerja serta pengaruhnya.

2. Coding

Coding adalah proses untuk mengklasifikasikan variabel dari penelitian yang telah diteliti dengan memberikan kode pada setiap variabel.

1 = Pria 2 = Wanita 3. Tabulating

Hasil yang telah diperoleh seperti kadar glukosa sebelum dan sesudah bekerja disajikan dalam bentuk tabel.

4. Entry Data

Data dimasukan adalah data hasil kadar glukosa sebelum pada hari pertama shift malam dan sesudah bekerja pada hari kedua shift malam diolah dengan SPSS.

5. Analisis Statistik

Data diuji normalitas dengan Shapiro Wilk karena data pada penelitian ini memiliki jumlah <50 data. Data bivariat dianalisis menggunakan uji beda Paired T-test dengan nilai signifikan jika p=< 0,05.

20

Universitas Binawan

3.11 Prosedur Pemeriksaan Glukosa Darah Sewaktu dengan Alat Autocheck 3.11.1 Pra-Analitik

Pasien tidak perlu melakukan persiapan karena yang digunakan adalah glukosa darah sewaktu.

Prinsip : Alat Autocheck Glukosa Darah tes strip menggunakan elektrokimia biosensor. Sampel darah diambil oleh seluruh kapiler ke zona reaksi pada strip otomatis yang akan mencapai volume sampel yang stabil. Ketika glukosa dalam seluruh sampel darah bereaksi dengan reagen pada elektroda, maka akan terdeteksi oleh alat ketika menerapkan potensi tetap di elektroda serta akan diubah menjadi pembacaan konsentrasi glukosa.

Alat : 1. Autoclick

2. Alat glukometer (Autocheck) Bahan :

1. Sampel darah kapiler 2. Kapas alkohol swab 3. Larutan control 4. Jarum Lancet 5. Strip glukosa 6. Wadah Limbah 7. Sarung Tangan 8. Masker

3.11.2 Analitik Cara kerja :

1. Dicuci tangan terlebih dahulu serta menggunakan alat pelindung diri seperti gloves dan masker.

2. Disiapkan alat dan bahan.

3. Dipastikan alat glukometer yang akan digunakan telah dilakukan quality control sebelumnya.

Universitas Binawan

a. Jika menggunakan botol strip baru, pastikan strip kode sama dengan kode yang telah muncul pada layar.

b. Tombol ‘M’ ditekan selama 3 detik.

c. Masuk ke mode larutan pengendali atau pada layar muncul tampilan huruf ‘CL’.

d. Dihomogenkan larutan control.

e. Dibuang tiga tetesan pertama, diteteskan larutan control pada permukaan yang bersih.

f. Strip uji ditempelkan dengan larutan control.

g. Ditunggu hingga hasil keluar, kemudian bandingkan hasil yang tertera pada layar dengan yang tercantum pada botol strip.

4. Jarum lancet baru dimasukan kedalam autoclick.

5. Dimasukan strip glukosa kedalam alat Autocheck sesuai dengan tempatnya.

6. Dipilih jari kedua/ketiga/keempat pasien, lalu dibersihkan dengan menggunakan kapas alkohol lalu biarkan mengering.

7. Darah kapiler diambil dengan menusukan autoclick yang telah diisi dengan jarum lancet pada jari pasien.

8. Dihapus tetesan darah pertama, kemudian ditempelkan sampel darah dengan strip yang telah terpasang pada alat.

9. Jika sudah terdengar bunyi maka tunggu hingga hasil pengukuran ditampilkan pada layar alat. Dicatat hasil pengukuran.

10. Dicabut strip dari alat glukometer dan dibuang.

11. Dibuang jarum lancet dalam autoclick di tempat sampah infeksius.

3.11.3 Post Analitik

Hasil pengukuran dicatat sesuai dengan data diri pasien. Perlu diperhatikan nilai rujukan kadar glukosa. Jika hasil kadar glukosa darah menunjukan sangat atau rendah dan pasien tidak menunjukan

22

Universitas Binawan

adanya gejala maka diperlukan pemeriksaan ulang. Jika hasil tes tidak biasa atau konsisten, maka perhatikan hal seperti :

1. Pastikan strip tidak kadaluwarsa.

2. Pastikan alat telah dilakukan quality control.

3. Konfirmasi bahwa sampel memang telah masuk kedalam strip pemeriksaan.

23

Universitas Binawan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara TK.I R. Said Sukanto pada bagian IGD yang beralamat di Jalan Raya Bogor, RT.1/RW.5, Kramatjati, Kota Jakarta Timur memiliki 92 orang karyawan dan beberapa bagian seperti Triase, Resustasi, Area Kuning, Area Merah, Ruang Tindakan, dan Ruang Bedah Emergency. Terdapat pula disana Nurse Station sebagai tempat pusat informasi di ruangan IGD tersebut dan ada 80 tempat tidur yang tersedia untuk pasien. Pada malam hari karyawan yang bekerja shift ada kurang lebih 29 orang.

4.1.2 Karakteristik Penelitian

Analisis statistik dilakukan terhadap 30 subjek penelitian.

Karakteristik penelitian dijelaskan pada tabel 4.1 Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik Sampel Jumlah (%) Rata-rata

Total 30 (100%)

Usia 28.63

Jenis Kelamin

Laki-laki 12 (40%)

Perempuan 18 (60%)

Beban Kerja

Ringan (1) 3 (10%)

Berat (2) 27 (90%)

Durasi Tidur Selama Shift Malam

Tidak Tidur (0) 13 (43.4%)

Tidur <3 Jam (1) 16 (53.3%)

Tidur >3 Jam (2) 1 (3.3%)

24

Universitas Binawan

Berdasarkan tabel 4.1 Jumlah keseluruhan sampel dari penelitian adalah 30 karyawan shift malam yaitu jumlah laki-laki 12 orang (40%) dan perempuan 18 orang (60%) dengan rata-rata usia 28.63 tahun. Dengan frekuensi beban kerja 27 orang (90%) merasa berat dan 3 orang (10%) ringan. Durasi jam tidur dengan frekuensi 13 orang (43.3%) tidak tidur, tidur kurang dari 3 jam 16 orang (53.3%), dan tidur lebih dari 3 jam 1 orang (3.3%).

4.1.3 Kadar Glukosa Darah Sewaktu Sebelum dan Sesudah Berdasarkan Karakteristik

Berdasarkan karakteristik subjek dapat dilihat hasil rata-rata pada tabel dibawah.

4.2 Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Jenis Kelamin Sebelum Shift Malam Sesudah Shift Malam

Laki-laki 96.25 mg/dL 93.91 mg/dL

Perempuan 93.11 mg/dL 87.38 mg/dL

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan hasil rerata sebelum bekerja shift malam pada laki-laki adalah 96.25 mg/dL dan sesudah bekerja 93.91 mg/dL. Pada perempuan didapatkan hasil rata-rata kadar glukosa darah sebelum bekerja shift malam yaitu 93.11 mg/dL dan sesudah bekerja 87.38 mg/dL.

4.3 Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Beban Kerja Sebelum Shift Malam Sesudah Shift Malam

Ringan 96.66 mg/dL 86.66 mg/dL

Berat 94.11 mg/dL 90.37 mg/dL

Berdasarkan tabel 4.3 hasil dari pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu berdasarkan beban kerja ringan sebelum bekerja shift malam adalah 96.66 mg/dL dan sesudah bekerja shift malam 86.66 mg/dL. Pada beban kerja berat didapatkan hasil kadar glukosa darah sewaktu sebelum

Universitas Binawan

bekerja shift adalah 94.11 mg/dL dan sesudah bekerja shift adalah 90.37 mg/dL.

4.4 Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Durasi Tidur Sebelum Shift Malam Sesudah Shift Malam Tidak Tidur 91.23 mg/dL 92.92 mg/dL Tidur <3 Jam 97.93 mg/dL 87.68 mg/dL

Tidur >3 Jam 78 mg/dL 89 mg/dL

Berdasarkan hasil tabel 4.4 didapat hasil rerata kadar glukosa sebelum bekerja shift malam pada karakteristik subjek yang tidak tidur 91.23 mg/dL dan sesudah bekerja shift malam yaitu 92.92 mg/dL. Jika pada subjek yang tidur kurang dari 3 jam didapatkan hasil sebelum bekerja shift malam adalah 97.93 mg/dL dan sesudah bekerja shift malam adalah 87.68 mg/dL. Pada subjek yang tidur lebih dari 3 jam sebelum bekerja shift malam yaitu 78 mg/dL dan yang sesudah adalah 89 mg/dL.

4.1.4 Uji Paired T Test

Untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang signifikan dati kadar glukosa darah setelah shift malam dilakukan uji statistic yang didahlui dengan uhi distribusi data. uji normalitas dilakukan menggunakan Shapiro Wilk didapatkan data terdistribusi normal (p : 0.199 dan 0.073) uji beda dilakukan dengan uji parametik Paired T Test dengan hasil p value = 0.0201 hasil ini mempunyai makna bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum bekerja shift malam dan sesudah bekerja shift malam.

26

Universitas Binawan

4.2 Pembahasan

Penelitian dilakukan pada 30 orang karyawan shift malam dengan jumlah karyawan laki-laki 12 orang (40%) dan perempuan 18 orang (60%).

Rata-rata usia pada sampel adalah 28.63 (7.185) perbedaan kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah bekerja pada 30 subjek karyawan shift malam di IGD Rumah Sakit Bhayangkara TK.I R. Said Sukanto. Data didapatkan frekuensi sebanyak 13 (43.3%) tidak mendapat tidur, 16 (53.3%) mendapat tidur kurang dari 3 jam, dan 1 (3.3%) mendapat tidur lebih dari 3 jam serta 27 (27%) yang mendapat beban kerja cukup berat. Pada data konsumsi yang telah didapat rata-rata karyawan shift 15 orang dari 30 (50%) akan makan 2 jam kebelakang sebelum memulai shift dan 18 dari 30 orang (60%) akan mengkonsumsi makanan berat dari jam 1-3 pagi untuk membentuk kembali energi selama bekerja. Sebelum melakukan pemeriksaan pada jam 7 pagi karyawan tidak makan (93.3%). Proses glikolisis terjadi ketika tubuh membutuhkan energi untuk menghasilkan ATP yang berarti glukosa akan terus dipecah untuk tetap bisa beraktivitas selama shift malam. Semakin meningkatnya aktivitas maka kebutuhan kalori dan kebutuhan oksigen serta energi akan semakin meningkat.

Penelitian ini merupakan penelitian yang membandingkan glukosa darah sewaku sebelum dan sesudah bekerja pada karyawan shift malam.

Sedangkan pada penelitian Anggraini (2017) dalam penelitiannya membandingkan pekerja shift dengan pekerja non-shift memakai subjek pada rentang umur 30-55 tahun dan memiliki kelebihan berat badan sehingga memungkinkan karyawan cenderung memiliki kadar glukosa darah yang lebih tinggi (7). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar glukosa darah seperti usia, genetik, makanan, obesitas, hipertensi, alkohol, rokok, dan stres (9). Hormon yang mempengaruhi seperti insulin yang mempunyai fungsi untuk membanu penyerapan glukosa ke dalam sel, hormon tiroid, epinefrin, glukagon, ACTH, katekolamin, dan kortisol (16). Berbeda dengan penelitian ini yang pada subjek dengan umur paling banyak 22-24 tahun yang memungkinkan tidak memiliki permasalahan pada

Universitas Binawan

metabolisme dan pencernaan. Glukosa akan dimetabolisme untuk menjadi ATP yang digunakan sebagai sumber utama untuk kontraksi otot saat beraktivitas. Glukoagon yang disimpan sebanyak 90% dalam satu kali makan akan dimetabolisme ketika tidak adanya pasokan karbohidrat. Ketika tubuh mengalami hipoglikemia tubuh akan membentuk glukosa dari asam amino dan gliserol dalam proses glikoneogenesis (11).

Di IGD terdapat beberapa profesi seperti dokter, perawat, analis kesehatan, keamanan, office boy (OB) dan bagian administrasi, yang masing-masing memiliki tanggung jawab dan pekerjaan sendiri di unit IGD.

Pada setiap bagian memiliki beban kerja yang berbeda. Seperti dokter, perawat dan analis kesehatan yang bekerja untuk menangani pasien terutama dalam hal darurat tidak bisa mendapatkan tidur yang cukup atau memilih untuk tidur. Dari penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 perawat tidak tidur dan hanya mendapat tidur kurang dari 3 jam karena banyaknya pasien yang memerlukan penanganan, 2 orang analis kesehatan tidak tidur karena banyaknya sampel yang berdatangan, 2 orang OB memilik waktu tidur kurang lebih 3 jam, bagian administrasi tidak tidur, dan bagian keamanan yang mengharusakan berjaga selama shift juga tidak tidur. Tela disebutkan bahawa bagian IGD adalah unit yang diharuskan untuk memberikan pelayanan selama 24 jam secara berlanjut untuk masyarakat yang membutuhkan.

Pada data didapatkan bahwa 28 (93.3%) orang karyawan tidak dapat mencapai tidur dalam atau tidur pulas dan hasil pemeriksaan glukosa sewaktunya didapatkan meninggi sebanyak 11 (36.6%) orang. Selama shift tersebut yang kadar glukosa sewaktu meniggi akan memakan makanan berat. Di hari pertama sebelum bekerja didapatkan hasil 66 mg/dL (nilai minimum) pada satu karena sebelum pemeriksaan dilakukan karyawan tersebut tidak makan 2 jam kebelakang sebelum pemeriksaan dan hasilnya meningkat sesudah bekerja menjadi 86 mg/dL karena selama shift malam karyawan tersebut memakan makanan berat. Hari kedua pada pemeriksaan sebelum bekerja didapatkan hasil minimum yaitu 79 mg/dL yang

28

Universitas Binawan

sebelumnya karyawan tersebut makan makanan berat 2 jam sebelum pemeriksaan lalu selama shift juga memakan makan berat sehingga kadarnya naik menjadi 97 mg/dL.

Sebanyak 8 (26.6%) orang dari 13 (43.3%) karyawan yang tidak tidur kadar glukosanya meninggi sedangkan 5 (16.6%) orang menurun.

Pada kadar glukosa darah sewaktu yang meninggi tersebut karyawan makan selama shift dan pada yang kadarnya menurun karyawan tidak makan selama shift. Dilihat dari faktor usia turut mempengaruhi kadar glukosa, pada karyawan dengan umur 40 tahun hasil glukosanya bertahan pada angka 98 mg/dL. Karyawan dengan usia 54 tahun kadar glukosanya meninggi yaitu 84 mg/dL ke 95 mg/dL Ada pula karyawan yang sedang mengonsumsi obat diet sehingga kadar glukosanya menurun dari 93 mg/dL ke 76 mg/dL.

Rata-rata dari keseluruhan hasil glukosa darah sewaktu sebelum bekerja adalah 94.37 dan rerata dari sesudah bekerja adalah 90.00.

Berdasakan hasil dari uji beda didapatkan nilai signifikansi 0.201 lebih dari 0.05 sehingga tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah bekerja pada karyawan shift malam.

Dari tabel ujia beda didapatkan nilai t hitung 1.310 dengan derajat kebebasan (df) adalah 29, jika nilai t dilihat dengan tabel distribusi nilai t maka didapatkan hasil 2.045 yang artinya nilai t hitung kurang dari nilai t tabel sehingga Ho dapat diterima sedangkan Ha ditolak. Aktivitas terus- menerus menyebabkan kebutuhan energi semakin meningkat sehingga terdapat penurunan yang tidak signifikan pada kadar glukosa darah sewaktu karyawan shift malam. Kadar glukosa darah sewaktu karyawan shift malam masih dalam batas normal.

Penelitian ini mendapatkan di hari pertama karyawan tersebut mendapat jadwal shift malam setelah seminggu yang lalu mendapat jadwal jaga malam ada 4 orang (26.7%) yang kadar glukosanya meninggi dan 11 orang (73.3%) yang kadar glukosanya menurun. Dibandingkan dengan karyawan yang sehari sebelumnya mendapatkan jadwal jaga malam ada 8 orang (53.3%) kadar glukosa meninggi dan 7 orang (46.7%) yang kadar

Universitas Binawan

glukosanya menurun. Sehingga interval dari seseorang bekerja shift malam dapat mempengaruhi kadar glukosa seseorang, semakin banyak karyawan tersebut mendapatkan jadwal malam maka akan cenderung kadar glukosa tersebut naik. Maksimal karyawan bekerja shift malam di IGD Rumah Sakit Bhayangkara TK.I R. Said Sukanto dalam waktu satu bulan adalah 4 kali atau 2 kali dalam seminggu. Pada penelitian Vetter et al tahun 2018 jika seorang karyawan mendapat frekuensi shift malam dalam sebulan terlalu sering maka cenderung akan meningkatkan resiko penyakit diabetes mellitus tipe 2 atau kenaikan glukosa darah (8). Jika sering seseorang mendapatkan shift malam dalam waktu yang lama maka dikhawatirkan akan dapat merusak ritme sirkadian dan menimbulkan gangguan kesehatan.

Resiko untuk terkena diabetes akan naik 5% untuk setiap 5 tahun bekerja pada karyawan shift malam (23).

Cara pemeriksaan glukosa darah sewaktu dengan menggunakan darah kapiler pun harus menggunakan standar GLP (Good Laboratory Practice) yang secara prosedurnya pada pra-analitik, analitik dan post- analatik. Jika tidak mengikuti GLP mungkin saja terdapat hasil yang lebih tinggi atau lebih rendah. Seperti jika tidak menghapus darah pertama saat akan melakukan pemeriksaan maka bisa saja hasil yang didapat akan lebih tinggi karena adanya alkohol yang mempengaruhi (25).

30

Universitas Binawan

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

1. Rata-rata kadar glukosa darah sewaktu sebelum bekerja pada karyawan shift malam adalah 94.37 mg/dL.

2. Rata-rata kadar glukosa darah sewaktu setelah bekerja pada karyawan shift malam adalah 90.00 mg/dL.

3. Tidak ada perbedaan yang signifikan kadar glukosa dara sewaktu sebelum dan sesudah bekerja pada karyawan shift malam dengan p value = 0.201 (>0.05).

5.2 Saran

1. Untuk Rumah Sakit Bhayangkara TK.I R.Said Sukanto agar dapat memberikan konsumi yang seimabang sesuai standar gizi untuk para karyawan agar tetap terjaga masukan kalorinya. Serta tidak memberikan jadwal shift malam selama berturut dalam waktu yang berdekatan.

2. Untuk karyawan shift malam di IGD Rumah Sakit Bhayangkara TK.I R.

Said Sukanto agar tetap mengkonsumsi makanan berkalori untuk sumber energi selama bekerja pada malam hari.

3. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti mengenai perbedaan kadar glukosa darah sewaktu pada karyawan shift malam dalam jangka yang lebih panjang dengan variabel sampel yang lebih bervariasi dan berdasarkan beban kerja yang diukur menggunakan indikator baku.

Universitas Binawan

DAFTAR PUSTAKA

1. KEMENKES. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009

Tentang Kesehatan. In 2009. Available from:

http://downloads.esri.com/archydro/archydro/Doc/Overview of Arc Hydro terrain preprocessing workflows.pdf

2. KEMENPERIN. Undang - Undang RI No 13 tahun 2003. Ketenagakerjaan.

2003;(1).

3. Menteri Kesehatan. PERMENKES RI No.30 Tahun 2019. 2019;3:1–9.

4. Vetter C, Fischer D, Matera JL, Roenneberg T. Aligning work and circadian time in shift workers improves sleep and reduces circadian disruption. Vol.

25, Current Biology. Boston: Elsevier; 2015. p. 907–11.

5. Dewi W, Widya K. Pengaruh usia, stres, dan diet tinggi karbohidrat Terhadap kadar glukosa darah. Vol. 8, Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan. Sukoharjo: Poltekkes Bhakti Mulia; 2018. p. 2086–

628.

6. Siregar T, Wenehenubun F. Hubungan Shift Kerja Dengan Tingkat Kelelahan Kerja Perawat Di Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur Relationship Between Work Shift And Fatigue Level Of Nurses In The Emergency Room At Budhi Asih Hospital, East Jakarta [Internet]. Vol. 6, Jurnal Persada Husada Indonesia. Jakarta: Jurnal Persada Husada Indonesia; 2019. p. 1–8. Available from:

http://jurnal.stikesphi.ac.id/index.php/kesehatan

7. Anggraini M. Hubungan Antara Shift Kerja dengan IMT, Tekanan Darah dan Kadar Glukosa Darah Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang. Vol. 1, Jurnal Ilmu Kedokteran. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang; 2017. p. 1–5.

8. Vetter C, Dashti HS, Lane JM, Anderson SG, Schernhammer ES, Rutter MK, et al. Night shift work, genetic risk, and type 2 diabetes in the UK biobank.

Vol. 41, Diabetes Care. Boston: American Diabetes Association; 2018. p.

762–9.

9. Noor R. Diabetes Melitus Tipe 2. Vol. 4, Artikel Review. Lampung:

Universitas Lampung; 2015. p. 93–101.

10. Kementrian kesehatan republik indonesia. Tetap Produktif, Cegah Dan Atasi Diabetes Mellitus. pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI.

Jakarta: KEMENKES RI; 2020.

11. Ezekia K, Nada KW. Metabolisme. Bali: Universitas Udayana; 2017. 1–6 p.

32

Universitas Binawan

12. Irawan A. Glukosa & Metabolisme Energi. Vol. 1, Sport Science Brief.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2007. p. 6.

13. Sari MI. Reaksi-reaksi biokimia sebagai sumber glukosa darah. Medan:

Universitas Sumatera Utara; 2007.

14. Wahjuni S. Metabolisme Biokimia. Atmaja J, editor. Vol. 53, Journal of Chemical Information and Modeling. Denpasar: Udayana University Pers;

2013. 21–22 p.

15. Murray KR, Granner KD, Rodwell WV. Biokimia Harper. Toronto: Penerbit Buku Kedokteran : ECG; 2009.

16. Cahyaning Tyas L. Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah Yang Diperiksa Secara Langsung Dan Ditunda 24 Jam [Internet]. Jombang: STIKES ICME Jombang; 2015. Available from: http://repo.stikesicme- jbg.ac.id/4686/1/Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah.pdf

17. Wulandari YI, Mulyono. Analisis Kadar Glukosa Darah Pada Pekerja Shift Pagi dan Shift Malam di Sidoarjo. Dep Keselam dan Kesehat Kerja, Fak Kesehat Masyarakat, Univ Airlangga. 2019;2(2):128–37.

18. Fadhila N, Imanto M, Tjiptaningrum A, Telinga B, Lampung U. Perbedaan Kadar Glukosa Darah Puasa Pembuluh Kapiler Antara Pekerja Shift Pagi dan Shift Malam pada Pekerja Mesin Maintenance di PT . Tunas Baru Lampung The Difference Of Fasting Blood Glucose Levels Capillary Vessels Between Shift Workers in The Morning . 2019;9:38–42.

19. Subiyono, Martsiningsih MA, Gabrela D. Gambaran kadar glukosa darah metode GOD-PAP (Glucose Oxsidase – Peroxidase Aminoantypirin) sampel serum dan plasma EDTA (Ethylen Diamin Terta Acetat) [Internet]. Vol. 5, Jurnal Teknologi Laboratorium. Yogyakarta: Tekno Lab Jurnal; 2016. p. 45–

8. Available from:

https://www.teknolabjournal.com/index.php/Jtl/article/view/77

20. Siti et al. Analisis of Blood Glucose using Chemistry, Photometer, and Point of Care Testing (POCT). Mataram: Poltekkes Kemenkes Mataram; 2014. p.

633–8.

21. Siregar T M, Wulan S W, Setiawan D, Nuryati A. Kendali Mutu. Jakarta:

KEMENKES RI; 2018.

22. Perkeni. Konsensus Diabetes Mellitus [Internet]. Perkeni. Jakarta:

PERKENI; 2011. p. 1–27. Available from:

http://eprints.ums.ac.id/37501/6/BAB II.pdf

23. Mason IC, Qian J, Adler GK, Scheer FAJL. Impact of circadian disruption on glucose metabolism: implications for type 2 diabetes. Vol. 63,

Universitas Binawan

Diabetologia. Boston: Diabetologia; 2020. p. 462–72.

24. Faisal S, Mujianto B. Metodologi Penelitian dan Statistik. Jakarta:

KEMENKES RI; 2017.

25. Laisouw AJ, Anggaraini H, Ariyadi T, Semarang UM, Semarang UM.

Perbedaan Kadar Glukosa Darah Tanpa Dan Dengan Hapusan. Vol. 2030.

Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang; 2017. p. 661–5.

34

Universitas Binawan

LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Permohonan Penelitian

Universitas Binawan

Lampiran 2. Surat Permohonan Etik

36

Universitas Binawan

Lampiran 3. Formulir Permohonan Etik Penelitian Kesehatan

Universitas Binawan

38

Universitas Binawan

Universitas Binawan

40

Universitas Binawan

Lampiran 4. Surat Jawaban Permohonan Izin Penelitian

Universitas Binawan Lampiran 5. Formulir Laboratorium

42

Universitas Binawan

Lampiran 6. Surat Ethical Clearance

Universitas Binawan

Lampiran 7. Jadwal Penelitian

44

Universitas Binawan

Lampiran 8. Lembar Informasi Penelitian

Universitas Binawan

46

Universitas Binawan

Lampiran 9. Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Universitas Binawan

Lampiran 10. Kegiatan Penelitian

48

Universitas Binawan

Lampiran 11. SPSS Frequencies

Statistics

Usia

N Valid 30

Missing 0

Mean 28.63

Median 26.00

Mode 22

Usia

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 22 6 20.0 20.0 20.0

23 2 6.7 6.7 26.7

24 5 16.7 16.7 43.3

25 2 6.7 6.7 50.0

27 1 3.3 3.3 53.3

29 2 6.7 6.7 60.0

30 1 3.3 3.3 63.3

31 1 3.3 3.3 66.7

32 4 13.3 13.3 80.0

34 1 3.3 3.3 83.3

36 2 6.7 6.7 90.0

37 1 3.3 3.3 93.3

40 1 3.3 3.3 96.7

54 1 3.3 3.3 100.0

Total 30 100.0 100.0

Universitas Binawan Statistics

Jenis Kelamin

N Valid 30

Missing 0

Jenis Kelamin

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Laki-laki 12 40.0 40.0 40.0

Perempuan 18 60.0 60.0 100.0

Total 30 100.0 100.0

Statistics

Beban Kerja

N Valid 30

Missing 0

Beban Kerja

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Mencapai tidur dalam 3 10.0 10.0 10.0

Tidak mencapai tidur dalam 27 90.0 90.0 100.0

Total 30 100.0 100.0

50

Universitas Binawan Statistics

Durasi Tidur

N Valid 30

Missing 0

Durasi Tidur

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak Tidur 13 43.3 43.3 43.3

Tidur kurang dari 3 jam 16 53.3 53.3 96.7

Tidur lebih dari 3 jam 1 3.3 3.3 100.0

Total 30 100.0 100.0

Statistics

Hari Pertama Shift Malam

N Valid 15

Missing 0

Hari Pertama Shift Malam

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Meninggi 4 26.7 26.7 26.7

Menurun 11 73.3 73.3 100.0

Total 15 100.0 100.0

Universitas Binawan Statistics

Hari Kedua Shift Malam

N Valid 15

Missing 0

Hari Kedua Shift Malam

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Meninggi 8 53.3 53.3 53.3

Menurun 7 46.7 46.7 100.0

Total 15 100.0 100.0

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Sebelum Bekerja 30 100.0% 0 0.0% 30 100.0%

Sesudah Bekerja 30 100.0% 0 0.0% 30 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error

Sebelum Bekerja Mean 94.37 2.625

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 89.00 Upper Bound 99.73

5% Trimmed Mean 93.78

Median 93.50

Variance 206.654

Std. Deviation 14.375

Minimum 66

Maximum 130

Range 64

Interquartile Range 20

Skewness .706 .427

Kurtosis .689 .833

52

Universitas Binawan

Sesudah Bekerja Mean 90.00 1.681

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 86.56 Upper Bound 93.44

5% Trimmed Mean 89.52

Median 89.00

Variance 84.759

Std. Deviation 9.206

Minimum 76

Maximum 118

Range 42

Interquartile Range 16

Skewness .803 .427

Kurtosis 1.313 .833

Statistics

Kadar Glukosa Sebelum Bekerja Hari

Pertama

Kadar Glukosa Sesudah Bekerja Hari

Pertama

Kadar Glukosa Sebelum Bekerja Hari

Kedua

Kadar Glukosa Sesudah Bekerja Hari

Kedua

N Valid 15 15 15 15

Missing 0 0 0 0

Mean 97.0667 87.6000 91.6667 92.4000

Median 96.0000 88.0000 93.0000 96.0000

Mode 85.00a 89.00 84.00 96.00a

Minimum 66.00 80.00 79.00 76.00

Maximum 130.00 101.00 105.00 118.00

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Sebelum Bekerja .112 30 .200* .953 30 .199

Sesudah Bekerja .110 30 .200* .937 30 .073

*. This is a lower bound of the true significance.

a. Lilliefors Significance Correction

Dokumen terkait