PENDAHULUAN
Latar Belakang
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
- Glukosa Darah
- Hormon Yang Mempengaruhi Glukosa Darah
- Faktor Yang Mempengaruhi Glukosa Darah
- Jenis Pemeriksaan Glukosa
- Metode Pemeriksaan Glukosa Darah
- Tahapan Kendali Mutu Glukosa Darah
- Nilai Rujukan Glukosa Darah
- Sistem Kerja Bergilir
- Kerangka Teori
- Hipotesis
Jika terjadi penurunan glukosa atau keadaan kadar glukosa turun drastis, maka secara tiba-tiba akan menimbulkan kejang karena kurangnya pasokan glukosa ke otak. Hormon insulin diproduksi di sel β pankreas untuk membantu pengambilan glukosa ke dalam sel, sehingga akan meningkatkan penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen sehingga insulin dapat menurunkan kadar glukosa darah. Insulin juga dapat meningkatkan pembentukan protein dan asam lemak serta membantu memecah protein menjadi asam amino dan jaringan adiposa menjadi asam lemak bebas.(16) Insulin memiliki peran penting dalam mengatur glukosa darah.
Hormon ini diproduksi oleh medula adrenal yang akan meningkatkan glukosa darah karena meningkatkan pelepasan glukosa dari glikogen dan juga meningkatkan pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa (16). Hormon kortisol bekerja dengan cara meningkatkan sintesis glukosa dari asam amino dan menghambat penggunaan glukosa dalam sel, sehingga jika berlebihan menyebabkan kadar glukosa meningkat. Hipoglikemia adalah suatu kondisi dimana kadar glukosa rendah atau lebih rendah dari nilai normal, sedangkan hiperglikemia adalah suatu kondisi ketika kadar glukosa darah lebih tinggi dari nilai normal.
Terdapat hubungan antara obesitas dengan glukosa, apabila derajat obesitas dengan BMI > 23 maka akan menyebabkan peningkatan glukosa darah hingga 200 mg% (9). Stres baik yang disebabkan oleh beban kerja maupun lingkungan akan menyebabkan hormon kortisol meningkat sehingga menyebabkan tubuh menghentikan aktivitas insulin sehingga kadar glukosa darah meningkat (18). Glukosa darah puasa merupakan suatu kondisi dimana pasien diharuskan berpuasa selama 8-12 jam sebelum pengambilan sampel.
Pengukuran glukosa darah PP 2 jam artinya kadar gula darah pasien akan diukur 2 jam setelah makan. Glukosa Darah Intermiten adalah tes glukosa darah tanpa persiapan, yang berarti Anda dapat memeriksa gula darah Anda secara instan kapan saja dan tidak dibatasi satu jam atau waktu setelah makan. Glukometer adalah perangkat sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah Anda di mana saja dan kapan saja.
Analisis yang dilakukan oleh Siti Zaetun dkk. menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan bila hasil glukosa darah selama POCT dibandingkan dengan fotometer dan autoanalyzer (20). Untuk memperoleh hasil pemeriksaan kadar glukosa darah secara akurat dan menyeluruh, perlu memperhatikan tahapan pengendalian mutu seperti pra analitis, analitis, dan pasca analitis. Jika ditemukan kadar gula darah melebihi nilai normal atau acuan maka disebut hiperglikemia, dan bila nilainya di bawah nilai normal disebut hipoglikemia.
METODE PENELITIAN
- Desain Penelitian
- Kerangka Konsep
- Definisi Operasional
- Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
- Populasi Penelitian
- Sampel Penelitian
- Teknik Pengambilan Sampel
- Variabel Penelitian
- Teknik Pengambilan Data
- Teknik Pengolahan Data
- Prosedur Pemeriksaan Glukosa Darah Sewaktu Alat Autocheck
Data masukan berupa data kadar glukosa sebelum shift malam hari pertama dan setelah bekerja pada shift malam hari kedua, diolah menggunakan SPSS. Berdasarkan Tabel 4.2, rata-rata skor shift malam sebelum kerja pada laki-laki adalah 96,25 mg/dL dan pasca kerja 93,91 mg/dL. Pada wanita, rerata kadar glukosa darah sebelum bekerja shift malam adalah 93,11 mg/dL dan setelah bekerja 87,38 mg/dL.
Berdasarkan Tabel 4.3 hasil pengendalian kadar glukosa darah pada beban kerja ringan sebelum bekerja shift malam sebesar 96,66 mg/dL dan setelah bekerja shift malam sebesar 86,66 mg/dL. Berdasarkan hasil Tabel 4.4, rerata kadar glukosa sebelum bekerja shift malam untuk karakteristik subjek yang tidak tidur adalah sebesar 91,23 mg/dL dan setelah bekerja shift malam masing-masing sebesar 92,92 mg/dL. Pada subjek yang tidur lebih dari 3 jam sebelum bekerja shift malam sebesar 78 mg/dL dan setelahnya menjadi 89 mg/dL.
Penelitian dilakukan terhadap 30 karyawan shift malam dengan rincian 12 karyawan laki-laki (40%) dan 18 karyawan perempuan (60%). Rerata umur sampel merupakan selisih kadar glukosa darah sebelum dan sesudah bekerja pada 30 subjek pegawai shift malam di IGD RS Bhayangkara TK.I R. Penelitian ini merupakan penelitian yang membandingkan glukosa darah sebelum dan sesudah bekerja pada karyawan shift malam.
Berdasarkan hasil uji beda diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,201 lebih besar dari 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah bekerja pada pekerja shift malam. Aktivitas yang terus-menerus meningkatkan kebutuhan energi, sehingga terjadi sedikit penurunan kadar glukosa darah saat pekerja bekerja shift malam. Rata-rata kadar gula darah sebelum kerja pada pekerja shift malam adalah 94,37 mg/dl.
Rata-rata kadar glukosa darah setelah bekerja pada karyawan shift malam adalah 90,00 mg/dL. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar glukosa darah sebelum dan sesudah bekerja pada karyawan shift malam dengan p-value = 0,201 (>0,05). Perbedaan kadar glukosa darah kapiler puasa antara pekerja shift pagi dan shift malam pada pekerja bagian maintenance mesin di PT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan tabel 4.1, jumlah sampel penelitian adalah pegawai shift malam sebanyak 30 orang yaitu 12 laki-laki (40%) dan 18 perempuan (60%) dengan rata-rata usia 28,63 tahun. Apabila subjek tidur kurang dari 3 jam maka hasil sebelum bekerja shift malam sebesar 97,93 mg/dL dan setelah bekerja shift malam sebesar 87,68 mg/dL. Untuk mengetahui adanya perubahan kadar glukosa darah yang signifikan setelah shift malam dilakukan uji statistik yang diawali dengan distribusi data UHI.
Pembahasan
Pada hari pertama sebelum kerja, hasilnya 66 mg/dL (nilai minimal) satu kali, karena sebelum ujian pegawai belum makan 2 jam sebelum ujian, dan hasilnya meningkat setelah bekerja menjadi 86 mg/dL karena pada saat itu. shift malam karyawan tersebut makan makanan berat. Ketika kadar glukosa darah tinggi, karyawan makan pada saat shift dan ketika kadar glukosa darah rendah, karyawan tidak makan selama shift. Dilihat dari faktor usia yang turut mempengaruhi kadar glukosa, pada pekerja usia 40 tahun hasil glukosa tetap berada pada angka 98 mg/dL.
Pekerja berusia 54 tahun memiliki kadar glukosa yang tinggi yaitu 84 mg/dl hingga 95 mg/dl. Ada juga pekerja yang mengonsumsi obat diet sehingga kadar glukosanya turun dari 93 mg/dl menjadi 76 mg/dl. Rerata hasil glukosa darah total sebelum bekerja sebesar 94,37 dan rerata setelah bekerja sebesar 90,00. Penelitian ini menemukan bahwa pada hari pertama pekerja dimasukkan pada jadwal shift malam, setelah seminggu yang lalu dimasukkan pada jadwal shift malam, terdapat 4 orang (26,7%) yang kadar glukosanya meningkat dan 11 orang (73,3%) yang mengalami peningkatan kadar glukosa. kadar glukosa turun. .
Dibandingkan dengan karyawan yang mendapat jadwal shift malam pada hari sebelumnya, terdapat 8 orang (53,3%) dengan kadar glukosa tinggi dan 7 orang (46,7%) dengan kadar glukosa tinggi. Jarak antara seseorang bekerja shift malam maka dapat mempengaruhi kadar glukosa seseorang, semakin banyak karyawan tersebut mempunyai shift malam maka kemungkinan besar kadar glukosanya akan meningkat. Dalam penelitian Vetter et al pada tahun 2018, jika seorang karyawan terlalu sering menerima shift malam dalam sebulan, hal ini cenderung meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2 atau peningkatan glukosa darah (8).
Jika seseorang sering bekerja shift malam dalam waktu lama, dikhawatirkan akan mengganggu ritme sirkadian dan menimbulkan gangguan kesehatan. Metode pengendalian glukosa darah menggunakan darah kapiler juga harus menggunakan standar GLP (Good Laboratory Practice) yang meliputi prosedur pra analitis, analitis, dan pasca analitis. Sukanto mengatakan untuk tetap mengonsumsi makanan berkalori tinggi sebagai sumber energi saat bekerja di malam hari.
Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah pada pekerja shift malam dalam jangka waktu yang lebih panjang dengan variabel pengambilan sampel yang lebih bervariasi dan berdasarkan beban kerja yang diukur menggunakan indikator standar. Hubungan shift kerja dengan IMT, tekanan darah dan kadar glukosa darah, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Deskripsi kadar glukosa darah menggunakan metode GOD-PAP (Glucose Oxsidase – Peroxidase Aminoantipyrin) untuk sampel serum dan plasma EDTA (Ethylene Diamine Terta Acetate) [Internet].
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Beban Kerja
Hasil Rerata Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Durasi Tidur
Dari survei diketahui sebanyak 24 orang perawat tidak tidur dan hanya tidur kurang dari 3 jam karena banyaknya pasien yang membutuhkan pengobatan, 2 orang analis medis tidak tidur karena banyaknya sampel yang masuk, 2 orang perawat OB tidur kurang lebih 3 jam, bagian administrasi tidak tidur, begitu pula pihak security yang membutuhkan penjagaan selama shift.