BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
4. Teknologi Komunikasi dan Pembelajaran Sosial
Teknologi Komunikasi sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan manusia.
Komunikasi adalah proses sistematik bertukar informasi antar pihak melalui sistem symbol biasa. Komunikasi juga merupakan disiplin ilmu yang mempelajari komunikasi yang secara ilmiah memiliki arti proses penyampaian pesan atau informasi dari pengirim (komunikator/ sender) kepada penerima (komunikan/receiver) dengan menggunakan symbol atau lambang tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung (menggunakan media) untuk mendapatkan umpan balik (feedback). Manusia saling bertukar informasi melalui berkomunikasi kepada masing-masing individu yang dituju. Budaya berkomunikasi akan berpengaruh terhadap cara manusia melakukannya.
Komunikasi itu sendiri dapat mengubah budaya dalam masyarakat. Dunia semakin cepat berubah, dalam dua dasawarsa terakhir perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya memberikan damapaknya yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Salah satu hal yang berkembang sangat peat dan menjadi pemicu dari perkembangan yang ada adalah komunikasi. Dalam perkembangan terakhir di mana dunia informasi menjadi sangat penting dalam aspek kehidupan manusia, maka komunikasi pun akhirnya tidak dapat ditawar lagi dan menjadi bagian yang sangat penting dalam melengkapi kehidupan manusia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perkembangan zaman memberikan kontribusi dalam berkomunikasi, apabila pada saat dahulu kala sebelum berkembangnya teknologi
komunikasi, manusia dapat melakukan komunikasi kepada orang secara tatap muka. Namun seiring berkembangnya zaman serta teknologi komunikasi, proses komunikasi dapat dilakukan tanpa batasan waktu, jarak dan tempat.
Perkembangan teknologi komunikasi kini sudah sangat pesat, serta perkembangan teknologi dalam beberapa aspek sudah mengubah pola kehidupan masyarakat. Contoh nyata hasil perkembangan teknologi komunikasi ialah munculnya smartphone pada masa saat ini penggunaan telepon genggam bukanlah hal aneh karena hampir penduduk Indonesia sudah menggunakan telepon genggam dalam kesehariannya. Namun alat komunikasi jarak jauh tersebut juga mengalami kemajuan teknologi yang sangat pesat. Telepon genggam sudah beralih fungsi dari alat komunikasi jarak jauh menjadi sebuah benda yang sangat pintar yang dapat digunakan berbagai macam hal oleh si penggunanya.
Dalam era masa kini telepon genggam disebut menjadi smartphone, alat yang dapat digunakan banyak hal selain untuk berbicara jarak jauh maupun mengirim pesan singkat.
Smartphone dapat digunakan untuk menjadi asisten pribadi, dikarenakan alat ini dapat menyimpan data-data penting untuk perihal bisnis maupun menjadi sebagai pengingat apa yang harus dilakukan selanjutnya oleh si penggunanya.
Smartphone dapat masukan berbagai aplikasi untuk keperluan chat, email, telepon, media sosial, dan hiburan. Kemajuan teknologi ini disambut baik oleh kalangan masyarat Indonesia, khususnya masyarakat Bone yang memang hampir semua masyarkat golongan A, B, dan C sudah menggunakan smatphone.
Berbagai jenis dan tipe smartphone dari mulai harga termurah hingga harga termahal sekalipun banyak diminati masyarakat Jakarta. Besarnya minat masyarakat akan smartphone sangatlah besar, dan daya beli dari berbagai elemen masyarakat juga sangat tinggi. Sebut saja seorang pekerja buruh bangunan mewakili masyarakat dari golongan C saat ini sudah dapat mengunakan smartphone dengan berbagai macam kebutuhan. Sedangkan pada kalangan masyarakat golongan A dan B smartphone menjadi suatu barang untuk mendongkrak kelas strata mereka di kalangan masyarakat sehingga menyimpang dari dasar kebutuhan alat itu sendiri. Tidak heran masyarakat Ulaweng Kabupaten Bone sangat konsumtif dalam kehidupannya. Hal ini jelas sudah mempengaruhi budaya Masyrakat Ulaweng Kabupaten Bone, alat komunikasi yang pada awalnya hanya untuk telepon dan mengirim pesan singkat namun sekarang menjadi barang mewah dan menjadi keharusan untuk memakai smartphone. Disamping itu smartphone mampu memudahkan pengguna dalam bertukar informasi kepada masing-masing individu.
Dengan kemajuan teknologi ini juga mempengaruhi pola hidup manusia dalam mendapatkan informasi. Saat ini semua informasi yang ada dari belahan dunia manapun dapat dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan adanya teknologi jaringan, era digital yang menggunakan sistem internet yang dapat membuat manusia dengan mudah dan cepat memperoleh informasi.
a) Perkembangan Teknologi Dan Media Pembelajaran
Kemajuan zaman membuat masyarakat menjadi semakin dinamis, ilmu pengetahuan berkembang semakin pesat dan berdampak pada berkembangnya
teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi juga memberi arti bagi dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran khususnya dalam penggunaan media pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran sangat membantu dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, terutama membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Arif S. Sadiman Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman,2009:7).
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat mempengaruhi perkembamgan media pembelajaran, menjadi lebih menarik dengan menggabungkan unsur grafis, audio, video dan animasi atau yang sering disebut dengan multimedia. Smartphone adalah alat elektronik yang termasuk kategori multimedia karena smartphone menurut Arsyad mampu melibatkan berbagai indera dan organ tubuh, seperti telinga (audio), mata (visual), dan tangan (kinetik), yang dengan perlibatan ini dimungkinkan informasi atau pesannya mudah dimengerti (Munadi,2010:148). Dengan menggunakan smartphone sebagai mana mestinya dapat mengembangkan media pembelajaran yang menarik.
b) Perkembangan Teknologi Dalam Proses Pembelajaran
Perkembangan teknologi infomasi dan komunikasi sangat berperan dalam proses pembelajaran dengan hadirnya media pembelajaran yang interaktif dan
menarik. Dengan adanya media pembelajaran yang interaktif dan menarik dapat membantu guru dalam menyampaikan pesan yang berupa materi pelajaran dengan baik dan jelas sehingga siswa mudah menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan dapat membangkitkan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran, dengan demikian dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu fungsi dari media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
5. Perubahan Sosial, Nilai Sosial , Ekstasi Permainan a. Pengertian perubahan sosial
Atkinson, dan Brooten, dalam (Nurhidiyah,2003:1), menyatakan defenisi perubahan yaitu:
“Merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya, maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna”.
Perubahan sosial juga menyangkut nilai sosial dalam aspek kehidupan masyarakat atau meliputi semua fenomena sosial dalam tiga demensi yaitu:
sktuktural, kultural, dan internasional. Jadi perubahan sosial merupakan sebagai suatu perubahan penting dalam struktur-sosial, pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya nilai, dan fenomena cultural More, dalam (Nawoko, 2004:342). Sedangkan Herbert blumer dalam (Narwoko 2004:342) melihat suatu perubahan sosial sebagai usaha koletif untuk menegakkan terciptanya tata kehidupan baru.
Lebih lanjut Soekanto, (1990:301) mengatakan bahwa perubahan sosial itu merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan.
Menurut Gillin dan Gillin dalam (Soekanto, 1990:304) mengatakan bahwa:
“Perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samuel Koenig (Soekanto 1990:305) mengatakatan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kihidupan manusia, modifikasi-modifikasi itu terjadi karena sebab-sebab intern maupun sebab-sebab ektren”.
Defenisi lain dari Selo Soemarjan dalam (Soekanto 1990:305) dalam rumusan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalm suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dala masyarakat.
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas maka, dapat disimpulkan bahwa pengertian perubahan sosial adalah merupakan suatu Perubahan yang selalu terjadi setiap saat secara terus menerus baik yang diiginkan maupun sebagai
dampak dari perubahan yang terkait langsung dengan masalah sosial, Perubahan itu sendiri dapat menjadi tujuan dan sekaligus sebagai alat untuk mencapai tujuan.
1) Bentuk-bentuk perubahan sosial
Bentuk-bentuk perubahan sosial dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk yaitu:
a) Perubahan lambat dan perubahan cepat.
Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil saling mengekuti dengan lambat, dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu.
Tahapan perubahan itu biasanya berlangsung siklus dan berulang-ulang, sehingga sampai pada tahapan tertentu, sementara struktur. Menurut Pitirim A. Sorokin dalam (Soekanto, 1990:312) menjelaskan bahwa masyarakat berkembang melalui tahap-tahap yang masing-masing didasarkan pada suatu sistem kebenaran. Dalam tahap pertama dasarnya kepercayaan, tahap kedua dasarnya indera manusia, dan tahap ketiga dasarya adalah kebenaran.
”Secara sosiologis. perubahan revolusi dapai diartikan sebagai perubahan- perubahan sosial dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi karena sudah ada perencanaan sebelumnya atau mungkin tidak sama sekali (Soekanto, 1990:313)”.
Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi- kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut tidak sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.
Sementara itu perubahan-perubahan sosial berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok dalam kehidupan masyarakat yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan.
b) Perubahan kecil dan perubahan besar
Menurut Wilbert E. Moore dalam ( Soekanto 1990:314), bahwa perubahan- perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.
Perubahan model pakaian misalnya, tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya, karena tidak mengakibatkan perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebaliknya, suatu proses industralisasi yang berlangsung masyarakat agraris, misalnya perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan ikut terpengaruh, misalnya hubungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.
c) Perubahan yang dikehendaki
(intended-change) atau perubahan yang direncanakan (planned-change) dan perubahan yang tidak dikehendaki (unintended- change) atau perubahan yang direncanakan (implanned-change).
Menurut Selo Sumardjan dalam (Soekanto 1990: 315) Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak ynag menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat
kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah system sosial.
Sejalan dengan pendapat Thomas dan Znaniecki dalam ( Soekanto 1990:
317) mengatakan bahwa:
“Perubahan yang dikendaki merupakan suatu proses yang berupa perintah dan larangan, atrinya menetralisasikan suatu keadaan krisis dengan suatu akomodasi (khususnya arbitrasi) untuk melegalisikan hilangnya keadaan yang tidak dikehendaki”.
Dalam melaksanakannya, Agent of change langsung bersangkutan dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarkatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki atau direncanakan selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan Agent of change tersebut.
Lebih lanjut Soekanto (1990: 316) mengatakan bahwa:
“Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan, merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat”.
Dengan demikian keadaan tersebut tidak mungkin diubah tanpa mendapatkan halangan-halangan masyarakat itu sendiri. Atau dengan kata lain, perubahan yang dikehendaki diterima oleh masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. Atau dengan cara membentuk yang baru.
Faktor-faktor yang menyebakan perubahan sosial pada umunya perubahan-perubahan sosial itu terjadi karena anggota masyrakat pada waktu tertentu merasa tidak puas lagi terhadap keadaan kehidupannya yang lama.
Mungkin saja karena adanya faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi untuk penyesuaian. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial anatara lain: bertambahnya atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan (konflik) masyarakat.
d) Bertambahnya atau berkurangnya penduduk
Menurut Soekanto (1990:318) dalam pendapatnya mengatakan bahwa:
“Pertambahan penduduk yang sangat cepat misalnya di pulau jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam stuktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatan, misalnya orang lantas mengenal hak millik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya yang sebelumnya tidak dikenal”.
Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain ( misalnya trasmigrasi), perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya dalam bidang pembagian kerja dan stratifikasi sosial yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.
e) Penemuan-penemuan baru
Penemuan-penemuan baru sebagai suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Proses sebab terjadinya perubahan-perubahan dapat di bedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Menurut Koentjaraningrat (Soekanto, 1990:319) "discovery"
adalah:
“Penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa adat, atau pun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang/individu atau serangkaian ciptaan oleh beberapa orang (beberapa individu). Sedangkan invention adalah penemuan baru yang sudah diakui, diterima serta ditetapkan oleh masyarakat”.
Beberapa faktor-faktor pendorong individu melakukan suatu penemuan baru antara lain, kesadaran individu-individu akan kekurangan dalam kebudayaannya, kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaannya, peransang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.
f) Pertentangan (konflik) masyarakat.
Pertentangan yang terjadi dalam masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan.pertentangan-pertengtangan terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok
Menurut Soekonto (1990: 323), bahwa:
“Umunya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif, yang artinya segala kegiatan berdasarkan pada kepentingan individu walaupun diakui, tapi mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentingan invidu dengan kepetingan kelompoknya dalam hal-hal tertentu yang dapat menimbulkan suatu perubahan”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pertentangan yang terjadi antar kelompok di dalam masyarakat mungkin terjadi antara generasi tua dengan generasi muda.
Pertentangan-pertentangan yang demikian itu, kerap kali terjadi, apalagi pada masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisioanl ke tahap modern.
2) Proses-proses perubahan sosial
Proses-proses perubahan sosial terdiri daripenyesuaian masyarakat terhadap perubahan, saluran-saluran perubahan sosial dan kebudayaan, disorganisasi (disintegrasi) dan reorganisasi (reintegrasi).
a) Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan
Keserasian atau harmoni dalam masyrakat (sosial equilibrium) merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat. Dengan keserasian masyarakat dimasukkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam keadaan yang demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman, karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai.
Setiap kali terjadi gangguan terhadap keadaan keserasian, maka masyarakat dapat menolaknya atau menggubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan maksud menerima unsur yang baru.
Akan tetapi kadangkala unsur baru dipaksakkan maksudnya oleh suatu kekuatan. Apabila masyarakat tidak dapat menolaknya karena unsur baru tersebut tidak menimbulkan kegoncangan, pengaruhnya tetap ada, akan tetapi sifatnya dangkal dan hanya terbatas pada bentuk luarnya. Norma-norma dan nilai-nilai sosial tidak akan terpengaruh olehnyaa dan dapat berfungsi secara wajar.
b) Saluran-saluran perubahan sosial dan kebudayaan
Saluran-saluran perubahan sosial dan kebudayaan (avenue or channel of change) merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan.
Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi dan seterusnya.
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pada suatu waktu mendapatkan penilaian yang tinggi dari masyarakat yang cenderung untuk menjadi saluran
utama perubahan sosial dan kebudayaan. Perubahan lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawaakibat pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya, karena lembaga-lembaga kemasyarakatan merupakan suatu system sosial.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa saluran tersebut dapat berfungsi agar suatu peruubahan dikenal, diterima, diakui, serta digunakan oleh khalayak ramai, atau dengan singkat, mengalami suatu proses instituonalzatioan (pelembagaan).
c) Disorganisasi (disintragasi) dan Reorganisasi (reintegrasi)
Organisai merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan satu kesatuan fungsional. Tubuh manusia misalnya, terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing mempunyai fungsi dalam rangka hidupnya seluruh tubuh manusia menjadi suatu kesatuan.
Masalah lain yang sering timbul adalah dalam masyarakat acapkali dihubungkan dengan moral yaitu anggapan-anggapan tentang apa yang baik dan apa yang buruk.
Suatu disorganisasi atau disintgrasi mungkin dapat dirumuskan sebagai suatu proses berpudarnya norma dan nilai dalam masyarakat, karena perubahan- perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sedangnkan reoganisasi atau reintgrasi adalah suatu proses pembentukan norma dan nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalammi perubahan.
b. Pengertian Nilai Sosial
Menurut Horton dan Hunt dalam(Narwoko, 2004:35), bahwa:
“Nilai sisoal berarti atau tidak. Nilai pada merupakan gagasan mengenai apakah suatu pengalaman ituberarti atau tidak. Nilai sosial pada hakekatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang, tetapi ia tidak menghakimi apakah sebuah perilaku tertentu itu salah atau tidak”.
Jadi nilai sosial merupakan bagian dari kebudayaan, dimana suatu tindakan dapat dianggap sah apabila secara moral dapat diterima dan harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijujung tinggi oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan. Di dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai sosial senantiasa akan ikut berubah. Pergeseran nilai sosial dalam banyak hal juga akan mempengaruhi perubahan.
c. Tengglamnya remaja di dalam ekstasi permainan
Tak ada kegiatan di dalam masyarakat kontemporer yang dapat membangkitkan gelora ekstasi massa selain dari olah raga. Kegairahan olahraga dalam bentuknya yang sekarang-disebutkan sifat tontonannya yang melibatkan massa, baik secara langsung maupun lewat media (televisi), telah menjadiknnya seakan-akan gravitasi baru yang semua mata, pikiran dan jiwa, bahkan totalitas hidup berpusat dan patuh terhadap hukum-hukumnya.
Pertandingan sepak bola Piala Dunia 1994 di Amerika mampu menghipnotis sekitar 1 miliar manusia dalam ekstasi tontonan; mampu menenggelamkan sejutaan rakyat rumania dalam ekstasi penyambutan bagi sang bintang seak bola dunia, Hagi, sambil sejenak melecehkan dan tak mengacuhkan presiden mereka sendiri; mampu menggerakkan sekitar 500 orang Bangladesh berdemonstrasi membela Maradona, sementara melupakan masalah kekurangan
pangan dan bencana alam yang melanda negeri itu, bahkan mampu membuat seorang penonton di Malaysia bunuh diri gara-gara kecewa.
Joging marato di New York sama saja. Maraton ini bisa menyedot sejutaan orang orang turun ke jalan dalam kegairahan menguras energi yang berlebihan dalam diri, sampai pada satu titik ia mencapai kelelahan puncak, kalau tidak garis finish. Kenapa olahraga dapat menjadi layaknya satelit, yang berjuta-juta orang patuh mengelilingi orbitnya, dan terbuai oleh rayuan-rayunanya ? menurut Antii Karisto, seorag penulis Finlandia, olahraga adalah cara mencapai keadaan ekstasi melalui escetisism- melalui keletihan puncak. Olahraga adalha satu cara mengisi kehampaan kehidupan modern dengan cara mendekatkan diri pada pengalaman puncak dan menentang bahaya. Dengan mengeluarkan seluruh energi yang berlebihan di dalam dri, sampai pada titik puncak kelelahan, di sanalah di peroleh pengalaman ekstasi.
Christoper Lasch, seorang penulis Amerika, mengatakan, bahwa olahraga merupakan candu masyarakat konsumer, yang mampu mengalihkan massa dari masalah-masalah nyata mereka menuju dunia mimpi glamour dan kegairahan ekstasi. Sepak bila, misalnya, dapat melupakan orang sejenak dari kemiskinan, kesusahan, kelaparan, bencana alam, bahkan perang.
Holiganisme adalah satu bentuk lain ekstasi sepak bola : ” saya rela mati demi sepak bola!” maka 6 orang mati sia-sia di stadion Senayan demi idola. Yang dicari para penonton boligan bukanlah keindahan sebuah gol, melainkan puncak kegembiraan dan sekaligus kekecewaan. Sebagaimana halnya suntkan ekstasi, kegembiraan dan kekecewaan, yang ekstrim dapat menghasilakn pengalaman
puncak berupa erusakan, pelemparan, pemukulan, perkelahian. Sepak bola sebagai tontonan, juga mempunyai kekuasaan untuk mengatur jadwal kehidupan manusia-”karena dini hari ada seak bola, besok saya tak masuk kantor”
Olahraga dalam wujud tontonan massa yang terorganisasi sekarang ini- menjelma menjadi semacam perangkat terapi personal dan sosial masyarakat konsumer. Di dalam masyarakat yang dikuasai oleh produksi dan monsumsi citraan, tak ada satu sisi kehidupan pun-termasuk olahraga-yang luput dari penjajahan tontonan, dan tontonan yang berwujud komoditi ini menjadi semacam obat penenang di tenga-tengah berbagai penyakit psikis masyarakat konsumer.
Apa yang segera tampak dari penyelenggaran olahraga yang berdasarkan pada hukum komoditi adalah proses demistifikasi, yaitu lenyapnya nilai ritual, dan menjelmanya olahraga menjadi citraan murni.
Seperti halmya sepak bola, kini maraton, menurut Jean Baudrillard, menjadi simbol internasionl pertunjukan fetisisme; keriangan yang di hasilkan oleh prestasi yang tak menghasilkan dampak apa-apa kecuali lenyapnya energi berlebihan. ”saya melakukan maraton NewYork saya berhasil !”. Berlari mengelilingi kota adalah untuk membuktikan bahwa Anda mampu mengeluarkan setiap tetes energi dari dalam diri, untuk membuktikn bahwa Anda berhasil mencapai garis finish. Ini tentunya tak slalah.
Akan tetapi, kegirahan dan pemujaan terhadap prestasi semu yang ektrim, akan menenggelamkan manusia ke dalam ekstasi pengalam puncak. Saya berhasil berjalan mundur dari jakarta ke timur jawa, saya mencapai rekor dunia. Namun, rekor untuk apa ? ”saya berhasil menarik truk dengan rambut saya ” ”saya sukses