BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS PENELITIAN
D. Tenaga Kerja dan Perindustrian
Penduduk usia kerja (PUK) merupakan penduduk yang berumur 15 (lima belas) tahun ke atas. Penduduk usia kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Mereka yang termasuk dalam angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lain.
Penduduk usia kerja di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2015 berjumlah 276 540 jiwa yang terdiri dari 126 438 laki-laki dan 150 102 perempuan. Penduduk usia kerja yang masuk angkatan kerja berjumlah 183 755 jiwa atau 66.45 persen dari seluruh penduduk usia kerja.
Penduduk Kabupaten Bulukumba dengan status mencari pekerjaan (Apply Job) tercatat 13 686 jiwa dari seluruh angkatan kerja. Dari angka tersebut tercatat tingkat pengangguran terbuka (rasio antara pencari kerja dan jumlah angkatan kerja) di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2015 sebesar 7.45 persen yang menunjukkan adanya peningkatan sekitar 1.74 persen dari 5.71 persen tahun 2014.
No Angkatan Kerja 2014 (Jiwa)
% 2015
(Jiwa)
% A
1 B
1 2
Status sedang bekerja Bekerja
Status mencari pekerjaan Pernah bekerja
Tidak pernah bekerja
184.544 184.544 11.178 2.529 8.649
94.29 94.29 5.71 1.29 4.42
170.869 170.869 13.686 3.084 10.602
92.55 92.55 7.45 1.68 5.77
Bulukumba 195.722 100 183.755 100
Penduduk angkatan kerja yang bekerja di lapangan usaha pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak baik pada tahun 2014 maupun 2015. Akan tetapi, pada tahun 2015 jumlah pekerja mengalami penurunan sebesar 10.58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sama halnya dengan lapangan usaha perdagangan, rumah makan dan hotel yang mengalami penurunan jumlah pekerja sebanyak 25 978 orang pada tahun 2014 menjadi 22 471 orang. Hanya lapangan usaha industri pengolahan yang mengalami peningkatan sebesar 32.67 persen.
No Lapangan Usaha Tahun2014
(orang)
Tahun2015 (orang) 1
2 3 4 5
Pertanian
Industri pengolahan
Perdagangan, rumah makan dan hotel Jasa kemasyarakatan
lainnya
121 971 9 195 25 978 13 351 14 149
109 070 12 199 22 471 12 726 13 603
Bulukumba 184 544 170 069
58
KONSUMTIF PEKERJA KANTORAN
A. Adanya Proses Stimulus
Online shop atau toko online merupakan sarana atau toko yang menawarkan barang dan jasa lewat internet. Konsumen pada online shop dapat melihat barang- barang secara langsung baik dalam bentuk gambar atau foto-foto dan dalam bentuk video. Biasanya, barang-barang yang dijual oleh online shop merupakan barang- barang yang limited edition serta biasa tidak ada di toko-toko atau pasaran. Sehingga, kondisi yang demikian ini semakin membuat orang tertarik untuk kemudian berbelanja online. Saat ini, media sosial berupa instagram, Facebook, line dan media sosial lainnya memang sedang menjadi trend dikalangan muda-mudi. Instargram maupun facebook dan media sosial lainnya merupakan media yang digunakan untuk share foto-foto maupun short video. Fungsi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengunggah foto-foto produk online shop dengan dilengkapi klasifikasi barang serta price dari produk tersebut. Hal ini membuat setiap orang yang sedang mengakses media sosial akan langsung dapat melihat produk yang dijual dalam online beserta klasifikasi dan harga produk tersebut. Hal tersebut akan semakin mempermudah konsumen untuk memilih produk yang disukai. Sebab, dalam media sosial seperti instagram dan facebook juga dapat diketahui beberapa produk dari
beberapa online shop dalam waktu yang bersamaan. Ini merupakan manfaat yang dapat diperoleh oleh konsumen dari online shop.
Berdasarkan wawancara dari informan bahwa pekerja kantoran merasa sangat mudah beebelanja dengan adanya online shop ini, seperti yang diungkapkan salah satu pekerja kantoran di pusat pelayanan masyarakat PKM Palangisang ibu Juliana (2016 : 26),
manfaat dari belanja melalui online shoping, online shoping memberikan kemudahan karena saya dapat memesan produk dalam waktu 24 jam sehari di manapun berada sehingga tidak perlu ribet, adanya kejelasan informasi karena saya dapat memperoleh beragam informasi yang jelas tentang perusahaan, produk dan pesaing tanpa meninggalkan pekerjaan yang saya lakukan; dan tidak ada keterpaksaan dalam membeli barang, karena saya tidak perlu menghadapi penjualnya secara langsung, seperti yang biasa terjadi di pasar-pasar.
Berdasarkaan pendapat diatas,maka manfaat dari online shoping lah yang membuat informan lebih memilih belanja di online shoping, bagaimana tidak pembelian pada online shoping tidak membuang tenaga sebagaimana ketiak berbelanja di pasar atau mall yang menuntut informan harus terjun langsung kelapang jika ingin mendapatkan barang dan transportasi yang kita gunakan saat berbelanja langsung yang dibayar, berbeda dengan online shoping yang hanya menunggu tanpa mengeluarkan biaya transportasi.
Online shoping juga tidak membuat informan harus meninggalkan pekerjaannya sehari-hari karena pemesanan yang dilakukan hanya berbekal internet serta banyak informasi yang kita dapatkan terkait prodik-produk baru.
Dari uraian diatas sudah pasti orang-orang akan lebih memilih online shoping ketimbang ke pasar atau ke mall.
Pendapat diatas hampir sama dengan yang diungkapkan ibu Inayati AS (2016 : 33) yang menyatakan bahwa,
“kalau belanja online itu mudah,murah,praktis dan yang paling penting dan privasi”
Hal diatas menguatkankan bahwa belanja online itu banyak manfaatnya serta privasi pembeli terjaga karena pembeli dan penjual hanya berhubungan melalui online sehingga privasi keduanya terjaga.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh salah satu informan yaitu ibu Hj.
Asiah (2016 : 35),
“alasan memutuskan untuk membeli melalui online shopping karena adanya tampilan barang yang menarik”.
Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara informan menyatakan pada saat akan melakukan online online shopping hal pertama yang dilihat yaitu tampilan gambar yang dipasarkan melalui situs online shopping fashion.dari tampilan gambar tersebut membuat informan memutuskan untuk langsung membeli barang yang yang diinginkan tanpa mempertimbangkan lebih matang. Selain dari tampilan gambit yang membuat informan tertarik untuk membeli barang melalui online shopping fashion hal kedua yang dilihat oleh informan yaitu bahan dari barang yang akan dibeli, kemudian harga yang ditawarkan.
Hadirnya beragam produk yang dapat diakses dalam media sosial ini, menyebabkan semakin mudah seseorang menemukan barang atau produk yang dinginkannya. Selain itu, barang-barang yang telah diposting pada media sosial juga mampu mempersuasif orang yang mengakses media sosial karena langsung terdapat klasifikasi yang detail dari barang atau produk tersebut. Maka konsumen dapat secara langsung mengetahui kualitas dari barang yang diposting di media sosial tersebut tersebut.
Hal ini merupakan proses stimulus yang dilakukan oleh pemilik online shop untuk menarik minat konsumen agar melakukan order terhadap produk tersebut.
stimulus yang digunakan untuk menjelaskan perilaku konsumtif merupakan stimulus baik dari dalam individu yang berupa kepribadian, sikap serta adanya pengaruh eksternal. Sedangkan barang-barang yang diposting di media sosial merupakan stimulus yang diberikan dari produk tersebut dan termasuk stimulus yang berasal dari pengaruh eksternal.
Dalam keseharian baik dirumah maupun di kantor, para pekerja kantoran tersebut juga dituntut untuk selalu tampil modis sesuai dengan zaman agar tidak terlihat tidak berkembang atau ketinggalan zaman. Tuntutan tersebut yang menjadikan pekerja kantoran untuk selalu merubah penampilannya sesuai dengan zaman dan perkembangan mode saat itu. Perubahan penampilan yang sangat mencolok terlihat adalah dari luar tubuh seperti tas, sepatu dan kosmetik yang menjadi pendukung penampilan setiap manusia. Oleh sebab itu, Tas, Sepatu dan
kosmetik menjadi produk terbanyak yang diorder oleh konsumen terutama oleh para pekerja kantoran.
B. Adanya Kelompok Referensi
Perilaku pekerja kantoran yang membeli produk tersebut berdasarkan perkembangan zaman dan perkembangan mode berpenampilan tersebut merupakan perilaku konsumtif yang memperoleh pengaruh yang berasal dari eksternal individu.
perilaku konsumtif muncul karena individu mengikuti mode yang beredar, ingin tampak berbeda dan cenderung tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Perilaku yang demikian itu karena adanya faktor eksternal yang mempengaruhinya yang berupa kelompok referensi.
Hadirnya pengaruh kelompok referensi ini, menjadikan pekerja kantoran untuk lebih menyesuaikan dengan adanya norma kelompok agar mendapatkan penerimaan dan tidak ditolak. Namun, perilaku konsumen dalam konsumsi produk online tersebut juga bisa digolongkan ke dalam pengaruh internal juga. Sebab dalam pengaruh internal terdapat faktor kepribadian, dimana menurut teori ini kepribadian setiap pekerja kantoran akan menentukan dan merefleksi bagaimana seseorang memberikan respon terhadap lingkungannya.
Jika lingkungan dari pekerja kantoran tersebut sedang mengalami perubahan gaya berpenampilan, maka secara otomatis pekerja kantoran tersebut sebagai anggota lingkungan tersebut akan menyesuaikan diri dengan juga melakukan perubahan terhadap gaya berpenampilannya sesuai dengan kepribadiannya secara psikologis.
Dalam proses penyesuaian inilaih kemudian pekerja kantoran berusaha untuk memperoleh berbagai perlengkapan penampilannya yang sesuai dengan kepribadiannya seperti membeli tas, sepatu, jam tangan, atau gelang sebagai aksesoris pendukung penampilan pekerja kantoran. Hal ini dilakukan oleh pekerja kantoran sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungannya dan agar dapat diterima dalam kelompok referensinya.
Proses pencarian produk-produk yang digunakan untuk mendukung penampilan pekerja kantoran inilah yang cukup sulit dilakukan oleh beberapa orang pekerja kantoran. Mengingat sebagai seorang pekerja kantoran tentunya memiliki banyak rutinitas yang cukup menyita waktu, sehingga para mahasiswi tidak memiliki waktu untuk berbelanja. Berbelanja secara online menjadi salah satu alternatif bagi para pekerja kantoran yang membutuhkan cara memperoleh produk seperti tas dan sepatu untuk mendukung penampilannya secara mudah.
Pada kemajuan teknologi saat ini, memang instagram dan facebook menjadi salah satu aplikasi media sosial yang paling digemari oleh pekerja kantoran dalam mengunggah foto-foto kesehariannya maupun foto-foto yang kemudian dapat mengundang orang lain untuk menyukai foto tersebut. Eksistensi media sosial ini juga didukung dengan semakin banyaknya pengguna aplikasi ini. Hal ini dikarenakan mudahnya akses menuju aplikasi ini dan lebih detailnya menampilkan gambar yang diunggah dalam media sosial menjadikan media sosial banyak peminatnya. Berbagai tampilan menarik dari produk-produk yang diunggah di media sosial membuat konsumen menjadi semakin tertarik untuk membeli produk tersebut.
Hal tersebut merupakan salah satu dari karakteristik perilaku konsumtif yang dimiliki oleh pekerja kantoran. ketika konsumen atau pekerja kantoran tertarik dengan gambar produk yang terdapat dalam media sosial yang kemudian menjadikan pekerja kantoran tersebut tertarik untuk membelinya, maka pembelian barang tersebut dapat dinyatakan karena adanya pengemasan produk yang menarik. Dengan tampilan produk yang menarik tersebut menjadikan pekerja kantoran tertarik untuk melakukan pembelian barang karena terdapat kemasan yang berbeda dari yang lainnya. Kemasan suatu barang yang menarik dan unik akan membuat seseorang membeli barang tersebut.
Terlebih lagi barang yang dijual di online shop pada umumnya merupakan barang yang limited dan pemasarannya pun tidak terlalu luas. Dengan demikian produk yang diposting di media sosial hanya ada dan dimiliki oleh online shop tersebut. Tidak jarang juga pekerja kantoran juga menjadi semakin konsumtif ketika produk yang dilihatnya ternyata diperagakan oleh endorse yang merupakan idola pekerja kantoran tersebut. Hal ini menjadikan pekerja kantoran tersebut membeli produk tersebut karena pengaruh model yang mengiklankan barang.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan yaitu ibu Fitrianti (2016 : 26)
“hal yang mempengaruhi saya untuk membeli melalui online shopping, karena adanya pengaruh-pengaruh lingkungan, teman, idola juga mempengaruhiuntuk membeli melalui online shopping”
Pembelian barang yang sama dengan idonya juga dilakukan informan dengan membeli pada situs online shopping milik idolanya. Dimana ketika
melakukan belanja melalui online shopping informan selalu melihat tampilan idolanya yang sedang trend saat ini, selain itu informan juga membeli barang yang diinginkan melalui situs online shopping milik idolanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarno (2002) yang menyatakan terdapat delapan ciri perilaku konsumtif salah satunya yaitu memakai sebuah barang karena pengaruh model yang mengiklankan barang. Individu memakai barang karena tertarik untuk bisa menjadi seperti model iklan tersebut adalah seorang idola dari pembeli.
Semakin bagusnya produk yang di posting di media sosial dan semakin besarnya tuntutan bagi pekerja kantoran untuk berpenampilan modis, maka akan semakin besar peluang pekerja kantoran tersebut untuk berperilaku konsumtif. Hal ini nantinya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi pekerja kantoran tersebut.
Sebab, dengan semakin konsumtifnya pekerja kantoran dalam berbelanja online akan secara otomatis mengurangi kesempatan pekerja kantoran untuk menabung. Hal ini dikarenakan, pekerja kantoran lebih cenderung banyak membelanjakan uangnya dibandingkan dengan menyisihkan uangnya untuk keperluan yang lain dan yang lebih dibutuhkan. Hal ini bisa saja bersifat boros, dengan perilaku boros ini akan memicu informan untuk berperilaku konsumtif dalam membeli barang melalui online shopping fashion seseorang rela mengeluarkan yang untuk ditabungnya untuk melakukan belanja melalui online shopping. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan yaitu ibu Nurhikmah (2016 :30),
“yang tadinya saya mau tabungki uang sebagian dari gajiku, untuk keperluan yang lain, tapi kalau ada lagi barang baru yang natawarkanki
para pedagang online disini (puskesmas palangisang), kalau disukaki barangnya dibeli lagi”.
Dari hasil wawancara dengan informan membuktikan juga bahwa online shopping ternyata membuat informan tergiur dengan tawaran-tawaran yang ada di online shopping sehingga membuat informan membeli barang yang ada di online shopping padahal uang yang dipakai belanja sebenarnya mau digunakan untuk keperluan lain.
Biasanya, pekerja kantoran yang lebih sering berbelanja melalui media sosial kebanyakan membeli produk yang dijual oleh online shop milik temannya.
kondisi yang demikian ini menggambarkan bahwa terkadang pekerja kantoran membeli suatu produk yang berasal dari online shop milik temannya karena faktor adanya rasa tidak enak hati terhadap temannya dan pekerja kantoran tersebut berbelanja atau membeli produk tersebut bukan berdasarkan kebutuhan tapi karena rasa tidak enak hati pada temannya. Namun, hal ini juga tidak baik bagi pekerja kantoran itu sendiri. Sebab, jika dibiarkan perasaan tersebut, maka dapat menjadikan pekerja kantoran tersebut menjadi seorang yang dikategorikan pemboros.
Dari wawancara diatas juga dapat disimupulkan alasan-alasan mengapa masyarakat lebih memilih berbelnja online,alasannya adalah sebagai berikut :
1. Menghemat waktu
Berbelanja online memang dijadikan pilihan bagi mereka yang tidak memiliki banyak waktu untuk berbelanja di pusat perbelanjaan, namun harus memenuhi setiap kebutuhan. Dengan belanja secara online, kita yang sibuk hampir 24 jam saja, bisa mendapatkan barang yang kita inginkan. Sekitar 72% masyarakat memberikan alasan ini saat ditanya mengapa mereka memilih berbelanja online daripada offline.
2. Tidak perlu keluar rumah
Saat kita diliputi rasa malas, tapi harus segera memenuhi kebutuhan atau mewujudkan keinginan, maka belanja online adalah pilihannya. Saat kita menginginkan sebuah barang yang jauh dari kota atau tempat kita tinggal dan tidak mampu kita jangkau dengan mudah, maka kita bisa membeli produk itu secara online.
66% orang beralasan ini saat mereka menjelaskan alasan mengapa dirinya berbelanja online.
3. Barang langsung diantar ke rumah
Malas pergi atau keluar rumah, juga membuat kita merasa malas untuk membawa barang banyak saat berada di pusat perbelanjaan kan? Membeli barang ini dan itu
tentu akan membuat kita kerepotan, dan saat kita berbelanja online, maka itu tidak akan terjadi.
Produk yang kita beli dari salah satu toko online akan diantar langsung ke alamat kita. Bisa melalui jasa pengiriman barang atau diantar langsung oleh penjualnya. 64% dari responden mengatakan bahwa barang yang diantar kerumah akan jauh lebih efisien ketimbang kita yang membawa barang dengan jumlah banyak.
4. Dapat membandingkan produk dengan mudah
Jika kita berbelanja produk yang kita inginkan di toko atau secara offline, tentu akan sangat kesulitan untuk membandinkan produk 1 dengan yang lainnya. Apalagi saat kita menemukan 1 produk di toko lain dengan harga yang lebih murah dari yang sudah kita dapatkan. Nah dengan berbelanja secara online, kita akan lebih mudah membandinkan lebih dari 1 produk dari beberapa toko online yang berbeda.
Biasanya masyarakat memang memanfaatkan toko online untuk mencari informasi seputar produk yang diinginkan. Entah pada akhirnya memutuskan berbelanja online ataupun offline. Sebanyak 61% dari jumlah responden memilih alasa ini ketika hendak berbelanja online.
5. Menemukan produk pasar dengan lebih mudah
Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa toko online sering kita manfaatkan untuk mencari informasi tentang produk tertentu. Ini biasanya kita lakukan saat kita tidak menemukan produk di toko fisik atau offline. Dan ternyata kita mendapatkannya di toko online. Beberapa produk memang jauh lebih mudah ditemukan di toko online ketimbang di toko fisik. Sehingga masyarakat memilih untuk berbelanja secara online ketimbang offline.
58% masyarakat yang mengikuti survey ini mencari produk yang tidak ada di pasaran melalui media online. Hingga akhirnya memutuskan untuk membeli produknya secara online.
6. Mendapat harga yang lebih murah
Selain menemukan produk yang tidak ada di pasaran, berbelanja secara online sering menjadi pilihan karena beberapa produk menawarkan harga yang jauh lebih murah daripada di toko fisik. Beberapa toko online memang saling beradu dan bersaing menjual produk dengan harga yang murah. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, sehingga membuat mereka memilih untuk membeli barang yang dibutuhkan secara online.
Sekalipun harus menambahkan beberapa rupiah untuk biaya kirim, konsumen tidak keberatan. Alasannya karena produk yang diinginkan sudah didapatkan, harga murah,
dan tidak repot untuk mencari dan membeli secara offline. Sebanyak 45% masyarakat memilih berbelanja online karena harga yang didapatkan jauh lebih murah daripada berbelanja langsung di toko.
7. Kualitas yang tidak kalah dari yang di toko
Seringkali kita khawatir jika membeli produk secara online akan mendapatkan kualitas produk yang lebih buruk daripada yang ada di toko offline. Tapi rumor itu segera terpecahkan ketika setidaknya 26% orang percaya bahwa produk yang dibeli secara online memiliki kualitas produk yang tidak kalah baik dari yang dibeli secara offline.
Sebagai konsumen kita juga harus bijak saat berbelanja online. Ketika kita masih ragu untuk membelanjakan uang untuk produk di toko online, coba saja cek testimonial pelanggan dari toko online itu. Lihatlah bagaimana pelanggan memberikan feed back atau tanggapan atas produk yang mereka beli. Dari situ kepercayaan memang akan terbentuk untuk membeli produk dari toko online tertentu.
Berdasarkan semua keterangan dari narasumber peneliti menarik kesimpulan bahwa, perilaku konsumtif melalui online shopping fashion dilakukan oleh informan karena aspek kesenangan pada saat melakukan pembelian barang melalui online shopping karena menurut informan berbelanja melalui online shopping itu memudahkan bahkan tidak membuat susah harus keluar rumah untuk mencari barang
yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa informan membeli barang melalui online shopping dilakukan informan dengan cara tiba-tiba tanpa memikirkan secara matang barang yang akan dibeli, ketika melihat suatu barang pada situs online shopping fashion yang menurut informan bagus dan menarik maka dengan segera informan membeli barang tersebut bahkan tidak mempertimbangkan barang tersebut akan berguna atau tidak. Berdasarkan hasil analisis data wawancara dapat diketahui bahwa dalam melakukan pembelian secara online informan membeli bukan karena mereka membutuhkan barang tersebut tetapi karena mereka mengoleksi barang yang dibeli. Informan membeli karena keinginan yang tidak terduga jadi ketika mereka melihat tampilan gambar dalam situs online shopping mereka langsung merasa ingin membeli tanpa memikirkan kegunaan barang tersebut bahkan informan tidak mengetahui alasan yang pasti kenapa membeli barang melalui online shopping menurut mereka membeli barang melalui online shopping hanya karena hasrat tanpa memikirkan hal apa yang terjadi nantinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Kharis (2011) menyebutkan bahwa impulsive buying atau biasa disebut juga unplanned purchase, adalah perilaku orang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanja.
72 A. Faktor Budaya
Faktor budaya ini merupakan salah satu yang mempengaruhi perilaku konsumtif, seperti yang kita ketahui budaya sangat lumrah dalam kehidupan masyarakat .Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasidengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.dengan lemahnya kebudayaan pada diri pekerja kantoran, maka akan terpengaruh dengan kebudayaan lain, contohnya budaya perilaku konsumtif. Budaya konsumtif yang mendarah daging khususnya di kecamatan Ujung Loe pada saat ini bisa jadi merupakan dampak jangka panjang dari kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh generasi sebelum kita, atau
mungkin juga terjadi akibat kurangnya rasa peduli sebagian besar pekerja kantoran terhadap akibat negatif yang ditimbulkan dari budaya tersebut. Dampak negatif dari mendarah dagingnya budaya konsumtif bisa dikatakan bercabang dan ikut mempengaruhi aspek-aspek lain dalam kehidupan pekerja kantoran. Seperti yang diungkapkan salah satu narasumber di lokasi penelitian yaitu ibu Risnawati (2016 : 26),
“Faktor budaya sangat ikut berperan dalam membeli barang online, karena adanya pengaruh budaya dari luar dalam bentuk style yang banyak dipasarkan dalam belanja online(inisial, wawancara agustus 2016)”
Seperti dari pernyataan informan budaya sangat berperan penting dalam kehidupan, apabila ada budaya lain yang dianggap lebih menarik dari budaya sendiri maka dengan mudah mereka terpengaruhi dengan budaya luar. Faktor budaya ini sangat berpengaruh dalam perilaku konsumtif belanja online.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat atau pekerja kantoran khususnya kaum wanita di kecamatan Ujung Loe terpengaruh oleh tuntutan jaman yang senantiasa mengikuti mode, sehingga arus modernisasi mengantarakan masyarakat di mau tidak mau mengikuti mode baik dari segi berpakayan, gaya hidup serta pergaulan sehari-hari.
Sehingga barang yang ditawarkan melalui online shop memiliki strategi yang menarik perhatian pembeli. Tampilan-tampilan menarik tersebut dengan cepat merambah di kalangan pekerja kantoran.