BAB VII................................................................................................................ 31
C. Teori Behavorisme
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku manusia., Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus- stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya,manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrolstimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan,
33
1997). Behavorisme merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dalam pandangan Slavin seseorang dianggap telah belajar sesuatujika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya, (Allyn &Bacon.Wadsworth; 1989).
Hanya pada hal-hal yang dapat diobservasi secara kasat mata, maka teori ini memandang proses belajar yang dialami oleh manusia ditentukan oleh kondisi stimulus (S) dan respon (R) (Braungart, 2007). Teori behaviorisme ini mengasumsikan bahwa tingkah laku siswa pada hakikatnya merupakan suatu responsterhadap lingkungan yang lalu dan sekarang, dan semua tingkah laku yang dipelajari (Sri Esti Wuryani Djiwandono, 1989).
Teori belajar behaviorisme meruapan teori belajar yang menekankan pada perubahan tingkah laku dengan unsur utama stimulus respons. Namun demikian teori ini telah memberaikan landasan bagi lahirnya desain pembelajaran, setidaknya ada area yang mendemonstrasikan damapak teori behaviorisme terhadap pembelajaran (Seattler dalam Smith, 2009). Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain, mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut (Desmita; 2009)
2) Implikasi Teori Behavoristik
Teori behavioristik yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar (Budiningsih:2005). Dalam hal ini, guru harus banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif. Apalagi jika diikuti dengan adanya reaward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang
34
telah ditunjukkan). Oleh karena teori ini berawal dari adanya percobaan sang tokoh behavioristik terhadap binatang, maka dalam konteks pembelajaran ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan. Prinsip tersebut adalah : a. Teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku.
Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu. b. Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respons. c.
Reinforcement , yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respons , merupakan faktor penting dalam belajar. Respons akan semakin kuat apabila reinforcement (baik positif maupun negatif) ditambah. (Iskandarwasid; 2011).
Teori belajar behavioristik menekankan terbentuknya perilaku terlihat sebagai hasil belajar.Teori belajar behavioristik dengan model hubungan stimulus respons, menekankan siswa yang belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku siswa yang kuat apabila diberikan penguatan dan akanmenghilang jika dikenai hukuman (Nasution, 2006). Penerapan teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa komponen seperti: tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik siswa, media, fasilitas pembelajaran, lingkungan, dan penguatan (Sugandi, 2007)
3) Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan Teori Belajar Behavioristik Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behaviourisme terdapat beberapa kelebihan di antaranya : a.
Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
b. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur- unsur seperti:
kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya. c. Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.
Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan. d.
Teori ini cocok diterapkan untuk melatih e. anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka
35
meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Kekurangan Teori Belajar Behavioristik adalah;
a. Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalu gejalanya.
b. Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga, dengan kemampuan ini, manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
c. Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit diterima, mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antara hewan dan manusia.
4) Ciri-Ciri Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik melihat semua tingkah laku manusia dapat ditelusuri dari bentuk refleks. Dalam psikologi teori belajar behavioristik disebut juga dengan teori pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisian lingkungan. Pengkondisian terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Hal ini dilihat secara sistematis dapat diamati dengan tidak mempertimbangkan keseluruhan keadaan mental.
Teori belajar behavioristik mempunyai ciri-ciri, yaitu. Pertama, aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman pengalaman batin di kesampingkan serta gerak-gerak pada badan yang dipelajari. Oleh sebab itu, behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa. Kedua, segala perbuatan dikembalikan kepada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan refleks.
36
Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu pengarang. Manusia dianggap sesuatu yang kompleks refleks atau suatu mesin. Ketiga, behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi reflek keinginan hati (Ahmadi; 2003).
5) Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik 1. John B. Watson
behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878- 1958), seorang ahli psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif behavioristik berfokus pada peran dari belajar dan menjelaskan tingkah laku manusia.Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan yang diramalkan dan dikendalikan.Menurut Watson dan para ahli lainnya meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional.
Tingkah laku dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak rasional.Hal ini didasari dari hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan memanipulasi tingkah laku (Desmita; 2009), 2. Ivan P. Pavlov
Paradigma kondisioning klasik merupakan karya besar Ivan P. Pavlov (1849-1936), ilmuan Rusia yang mengembangkan teori perilaku melalui percobaan tentang anjing dan air liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov, karena perangsang yang asli dan netral atau rangsangan biasanya secara berulang-ulang dipasangkan dengan unsur penguat yang menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral disebut perangsang bersyarat atau terkondisionir, yang disingkat dengan CS (conditioned stimulus). Penguatnya adalah
37
perangsang tidak bersyarat atau US (unconditioned stimulus).
Reaksi alami atau reaksi yang tidak dipelajari disebut reaksi bersyarat atau CR (conditioned response). Pavlov mengaplikasikan istilah-istilah tersebut sebagai suatu penguat.Maksudnya setiap agen seperti makanan, yang mengurangi sebagaian dari suatu kebutuhan (Desmita, 2009)
3. B.F. Skinner Skinner
Seorang psikolog dari Harvard yang telah berjasa mengembangkan teori perilaku Watson. Pandangannya tentang kepribadian disebut dengan behaviorisme radikal. Behaviorisme menekankan studi ilmiah tentang respon perilaku yang dapat diamati dan determinan lingkungan.Dalam behaviorisme Skinner, pikiran, sadar atau tidak sadar, tidak diperlukan untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan. Menurut Skinner, perkembangan adalah perilaku. Oleh karena itu para behavioris yakin bahwa perkembangan dipelajari dan sering berubah sesuai dengan pengalaman penglaman lingkungan. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku yang tidak sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya respons yang diterima seseorang tidak sesederhana demikian, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus tersebut yang mempengaruhi respons yang dihasilkan. Respons yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi tersebut nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000).
38