1
2
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puja dan puji syukur selalu kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kami beribu-ribu nikmat, yang salah satunya adalah nikmat kemudahan bagi kami semua sehingga kami dapat menyelesikan Buku yang berjudul Karakteristik Pendidikan Sekolah Dasar dan Pendidikan Inklusif. Dan juga dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu tanpa adanya kendala.
Adapun tujuan dibuatnya buku ini adalah untuk memenuhi tugas Prespektif Pendidikan .
Kami berterima kasih kepada orang tua yang telah memberikan dukungan serta semangat, lalu kepada teman-teman yang telah menyelesaikan buku ini dengan baik, kami juga berterimakasih kepada Ibu Dr. Rusi Rusmiati Aliyyah, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Prespektif Pendidikan.
Keberhasilan penyusunan buku ini tentunya bukan atas usaha kami saja sebagai penulis namun ada banyak pihak yang turut membantu dan memberikan dukungan untuk suksesnya penulisan buku ini. Untuk itu, kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada kami.
Besar harapan kami sebagai penulis agar Buku ini sedikit banyaknya dapat bermanfaat bagi pembaca maupun kami selaku penulis. Kamipun selaku penulis menyadari betul bahwa dengan adanya buku ini tentu bukan berarti ia sempurna dan lepas dari masukan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca semua sangat kami harapkan dan kami terbuka untuk itu.
Bogor, Juni 2021
Penulis
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR ... 1
A. Pengertian Pendidikan ... 1
B. Pengertian Sekolah Dasar ... 2
C. Manfaat Sekolah... 3
BAB II ... 4
KARAKTERISTIK ANAK SEKOLAH DASAR ... 4
A. Pengertian Karakteristik ... 4
B. Pengertian Anak ... 6
C. Karakteristik Perkembangan Anak ... 7
D. Pengertian Karakteristik Menurut Beberapa Tokoh ... 8
E. Karakteristik Kesulitan Belajar Membaca Anak... 9
F. Karakteristik Perkembangan Akademik ... 10
BAB III ... 15
TUNUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR ... 15
A. Tujuan Pendidikan Secara umum... 15
B. Tujuan Pendidikan Dasar ... 15
C. Tujuan Pendidikan Nasional ... 16
D. Tujuan Pendidikan Menurut Beberapa Tokoh ... 16
iii
BAB IV ... 18
FUNGSI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR ... 18
A. Fungsi Pendidikan Nasional ... 18
B. Fungsi Pendidikan Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sula ... 18
C. Fungsi Pendidikan Menurut Muhammad Ali ... 19
D. Fungsi dan Peran Guru SD ... 20
1. Guru Sebagai Pendidik ... 21
2. Guru Sebagai Pengajar ... 21
3. Guru Sebagai Pembimbing ... 21
4. Guru sebagai Pemimpin ... 22
5. Guru sebagai pengelola pembelajaran ... 22
6. Guru Sebagai Model dan Teladan ... 22
7. Sebagai anggota masyarakat... 22
8. Guru Sebagai Penasehat ... 22
BAB V ... 24
CIRI-CIRI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR ... 24
A. Ciri-ciri Pendidikan SD Secara Umum ... 24
B. Ciri-ciri Pendidikan SD Secara Khusus ... 25
BAB VI ... 26
BENTUK-BENTUK PENYELENGGARAAN PEDNDIDIKAN SEKOLAH DASAR ... 26
A. Penyelenggaraan Pendidikan Menurut Undang-Undang ... 26
B. Penyelenggaraan Pendidikan Formal ... 26
C. Penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal ... 27
D. Penyelenggaraan Pendidikan Informal ... 28
iv
BAB VII... 31
TEORI BELAJAR dan PEMBELAJARAN ... 31
A. Teori Belajar... 31
B. Teori Pembelajaran ... 32
C. Teori Behavorisme ... 32
1) Pengertian Behavoristik... 32
2) Implikasi Teori Behavoristik ... 33
3) Kelebihan dan Kekurangan ... 34
4) Ciri-Ciri Teori Belajar Behavioristik... 35
5) Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik ... 36
D. Teori Konstruktivisme ... 38
1) Pegertian Konstruktivisme ... 38
6) Implikasi Teori Konstruktivisme ... 39
7) Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivistik ... 41
8) Tokoh – Tokoh Konstruktivisme... 42
9) Ciri – ciri konstruktivisme ... 45
BAB VIII ... 46
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR ... 46
A. Faktor yang Mempengaruhi Belajar... 46
B. Faktor Internal ... 47
C. Faktor Eksternal ... 48
BAB IX ... 50
METODE-METODE PENDIDIKAN KARAKTER ... 50
A. Metode Pendidikan Karakter... 50
B. Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Karakter ... 54
v
C. Pelaksanaan Proses Pembelajaran Pendidikan Karakter ... 58
D. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Karakter ... 62
BAB X ... 64
PENDIDIKAN INKLUSIF ... 64
A. Pengertian Pendidikan Inklusif ... 64
B. Konsep Pendidikan Inklusif ... 65
C. Tujuan Pendidikan Inklusi ... 67
D. Implementasi Pendidikan Inklusif... 68
E. Perkembangan pendidikan inklusif di Indonesia ... 71
BAB XI ... 73
LANDASAN PENDIDIKAN INKLUSIF ... 73
A. Landasan Filosofis ... 73
B. Landasan Yuridis ... 73
C. Landasan Empiris ... 75
BAB XII... 78
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS... 78
A. Definisi Anak Berkebutuhan khusus(ABK)... 78
B. Etiologi Anak Berkebutuhan Khusus ... 80
C. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus ... 82
1. Kelainan Fisik ... 82
2. Kelainan Mental ... 85
3. Kelainan Perilaku Sosial... 87
D. Dampak Kelainan ... 88
E. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus ... 89
F. Jenis anak berkebutuhan khusus ... 91
vi
BAB XIII ... 93
STRATEGI PEMBELAJARAN ANAK BEREKBUTUHAN KHUSUS ... 93
A. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra ... 94
B. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat... 95
C. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita ... 95
D. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa ... 95
E. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras ... 96
F. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar ... 96
G. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu ... 96
INDEKS ... 97
GLOSARIUM ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 101
RIWAYAT HIDUP ... 107
1
BAB I
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan Negara (UU No.20 tahun 2003). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003).
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkanperubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah laku. (G. Thompson; 1957, Dalam Hera L,dkk; 2009). Sejalan dengan pandangan tersebut, Crowand Crow (1960) mengemukakan: harus diyakini bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Pendidikan adalah usaha yang secara sengaja dari orang tua yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya. (Muhibbin, syah.
2007)
Pendidikan adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuaan umum seseorang termasuk di dalam peningkatan penguasaan teori dan keterampilan, memutuskan dan mencari solusi atas persoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan di dalam mencapai tujuannya, baik itu persoalan dalam
2
dunia pendidikan ataupun kehidupan sehari-hari (Heidjrachman dan Husnah;
1997). Para masyarakat mengartikan pendidikan adalah pengajaran yang di lakukan disekolah yang mana sekolah tersebut sebagai tempat terjadinya pengajaran atau pendidikan formal. Jadi pendidikan tidak seluruhnya terjadi disekolah tetapi pendidikan bisa jadi di rumah yang mana orang tua yang menjadi gurunya. (Ivan sujatmoko, 2011)
B. Pengertian Sekolah Dasar
Pendidikan Sekolah Dasar merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan dan mencentak kehidupan bangsa yang bertaqwa, cinta dan bangga terhadap bangsa dan negara, terampil, kreatif, berbudi pekerti, dan santun serta mampu menyelesaikan permasalahan dilingkungannya. Pendidikan sekolah dasar adalah pendidikan anak yang berusia 7 sampai 13 tahun sebagai pendidikan di tingkat dasar yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan sosial budaya. Disekolah dasar inilah siswa dituntut untuk menguasai kesemua bidang studi, bagaimana cara menyelesaikan masalah. Akan tetapi, pembelajaran tidak hanya dilakukan di sekolah saja, diluar sekolahpun sama saja itu merupakan suatu pembelajaran. (UUD 1945).
Pendidikan dasar yang lebih dikenal dengan sebutan basic education pada hakikatnya adalah pendidikan yang lamanya 9 tahun yang diselenggarakan selama 6 tahun di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 3 tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau satuan pendidikan yang sederajat (Basrowi, 1998). Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan dasar adalah pendidikan yang lamanya 9 tahun yang pelaksanaannya 6 tahun di SD, dan 3 tahun di SMP.
Hal ini berarti, pendidikan minimal yang harus diikuti atau dijalani oleh setiap warga negara Indonesia adalah sampai dengan tingkat SMP atau sederajat.
Pendidikan dasar 9 tahun tidak berarti bahwa SD dan SLTP menjadi bentuk satuan pendidikan yang bersatu atau berada dalam satu atap tetapi tetap terpisah, meskipun keduanya merupakan pendidikan dasar (Basrowi, 1998).
3
Sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah (Ml) adalah pendidikan dasar awal sebelum memasuki pendidikan dasar menengah, yaitu SMP/MTs. Pendidikan di sekolah dasar ataupun madrasah ibtidaiyah memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian siswa, baik yang bersifat internal (bagaimana mempersepsi dirinya), eksternal (bagaimana mempersepsi lingkungannya), dan suprainternal (bagaimana mempersepsi dan menyikapi Tuhannya sebagai ciptaan- Nya. (A. Malik Fadjar, 1999). Pendidikan dasar merupakan fondasi dasar dari semua jenjang sekolah selanjutnya. (Andi Prastowo; 2013).
C. Manfaat Sekolah
Dampak kumulatif dari manfaat pendidikan yaitu membantu individu untuk memiliki lebih banyak pilihan dan mampu membuat keputusan yang lebih baik bagi kehidupan mereka. Pilihan dan pengambilan keputusan yang ditingkatkan mencakup berbagai macam bidang, yaitu pekerjaan, penilaian tentang resiko perilaku menyimpang atau kriminal, dan pilihan kesehatan pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, perolehan kognitif-intelektual yang dihasilkan oleh anak-anak dan remaja di sekolah berkontribusi pada manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh dari pendidikan untuk semua anggota masyarakat. (Dana Mitra Ph.D. ―Pennsylvania‘s BestInvestment: The Social and Economic Benefits of Public Education‖,(2009-2010))
Setelah penjelasan diatas dapat disimpulkan, Pendidikan Sekolah Dasar sebagai suatu proses yang bukan hanya memberi bekal kemampuan intelektual dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga sebagai prosesmengembangkan kemampuan dasar peserta didiksecara optimaldalam aspek intelektual, sosial, dan personal, untuk dapat melanjutkan pendidikan di SMP atau yang sederajat. Maka dari itu pendidikan itu merupakan modal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan di lingkungan masyarakat. Dalam pembahasan pendidikan diatas juga kita dapat memperoleh banyak pengetahuan seperti pengetahuan tentang moral, agama, kedisiplinan dan masih banyak lagi yang lainnya.
4
BAB II
KARAKTERISTIK ANAK SEKOLAH DASAR
A. Pengertian Karakteristik
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak, kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti bersikap jujur, berani bertindak, dapat dipercaya dan hormat kepada orang lain (Puskur balitbang, 2010). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:445) menyebutkan karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. (Ma‗mur, 2011).
Karakter merupakan watak, sifat atau hal-hal lain yang sangat mendasar yang ada pada setiap diri seseorang, yang sering disebut dengan tabiat atau perangai, karakter ini sifatnya batin yang memengaruhi pikiran dan perbuataan.
Disini karakter memiliki tiga unsur pokok yang mengontruksi definisinya yakni:
Pertama, mengetahui kebaikan. Kedua, mencintai kebaikan. Ketiga, melakukan kebaikan, Apapun sebutannya karakter ini adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatannya. (Ryan dan Bohlin. Dalam Majid dan Andayani 2012).
Karakteristik siswa merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh masing- masing siswa baik sebagai individu atau kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran. Winkel mengaitkan karak– teristik siswa dengan penyebutan keadaan awal, dimana keadaan awal itu bukan hanya meliputi kenyataan pada masing-masing siswa melainkan pula kenyataan pada masing- masing guru. (W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran. 2014)
Pembentukan karakter siswa SD harus dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak. Pembentukan karakter dapat dilakukan dengan menggunakan keteladanan. Keteladanan berawal dari suatu peniruan antar manusia. Keteladanan
5
dalam dunia pendidikan sering melekat pada seorang guru sebagai pendidik.
Keteladanan dalam dunia pendidikan dapat diartikan sebagai perilaku dan sikap guru dan tenaga pendidik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah yang dijadikan contoh oleh para siswanya (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010).
Pendidikan karakter merupakan misi utama para rasul, Islam hadir sebagai gerakan untuk menyempurnakan karakter. Sejak abad ke-7 secara tegas Rasulullah Muhammad SAW. Menyatakan bahwa tugas utama dirinya adalah untuk menyempurnakan akhlak/karakter. (Achmad Sunarto & Syamsudin Nor (2005)). Manifesto kerasulan Muhammad ini, mengindikasikan bahwa pembentukan karakter merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat menciptakan peradaban (Bambang Q-Anees dan Adang Hambali, 2008).
Sifat orang yang memiliki karakter yang Islami sering disebut religious, religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam konteks sekolah, karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral.
siswa diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang didasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. (Suparlan; 2010)
Karakteristik siswa merupakan ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing siswa dalam berperilaku sehari-hari maupun saat belajar di sekolah. Pentingnya mengetahui karakteristik siswa bagi guru adalah sebagai pertimbangan untuk pemberian treatment yang sesuai dan memperoleh hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran. Pemberian treatment tersebut misalnya pertimbangan memilih strategi, metode, model, maupun media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Proses evaluasi yang diberikan juga disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa dan materi ajar. Karakteristik yang dijadikan sebagai acuan dalam pemetaan melalui platform offline adalah gaya belajar dan perilaku siswa. Gaya belajar merupakan metode yang dimiliki individu untuk
6
mendapatkan informasi serta berperan dalam siklus belajar aktif (Bire, Geradus, &
Bire; 2014)
B. Pengertian Anak
Anak merupakan seorang individu dengan ciri khusus yang dalam perkembangan pribadi dan sosialnya memerlukan bimbingan dan tuntutan.
Untuk itu masa sekolah merupakan periode yang paling baik untuk meletakan dasar dalam jiwa anak untuk kehidupan sosialnya (Pakasi, 1981). Dalam proses belajar mengajar kita sering menemukan anak dengan gaya belajar, bakat, karakteristik unik yang memerlukan pembelajaran dengan pendekatan individual. (Suryadi, 2006)
Anak sekolah dasar adalah mereka yang berusia antara 6 – 12 tahun atau biasa disebut dengan periode intelektual. Pengetahuan anak akan bertambah pesat seiring dengan bertambahnya usia, keterampilan yang dikuasaipun semakin beragam. Minat anak pada periode ini terutama terfokus pada segala sesuatu yang bersifat dinamis bergerak. Implikasinya adalah anak cenderung untuk melakukan beragam aktivitas yang akan berguna pada proses perkembangannya kelak (Jatmika, 2005).
Usia sekolah dasar disebut juga periode intelektualitas, atau periode keserasian bersekolah. Pada umur 6 – 7 tahun seorang anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Periode sekolah dasar terdiri dari periode kelas rendah dan periode kelas tinggi. Karakteristik siswa kelas rendah sekolah dasar adalah sebagai berikut: (1) adanya kolerasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah, (2) adanya kecenderungan memuji diri sendiri, (3) suka membanding-bandingkan10 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dirinya dengan anak lain, (4) pada masa ini (terutama pada umur 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak, (5) tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang ada di dalam dunianya, (6)
7
apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting. (Notoatmodjo, 2012)
Memahami siswa dengan baik, diharapkan kita dapat memberikan layanan pendidikan yang tepat dan bermanfaat bagi masing-masing anak.
(Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad. 2011).
C. Karakteristik Perkembangan Anak
Karakteristik perkembangan anak pada usia SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan. Mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan matanya untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD, antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri (Madjid, 2014).
Pada usia sekolah dasar ini anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Syamsu juga mengatakan bahwa karakteristik emosi yang stabil (sehat) ditandai dengan menunjukkan wafah yang ceria, bergaul dengan teman secara baik, dapat berkonsentrasi dalam belajar, bersifat respek (menghargai) terhadap diri sendiri dan orang lain. Adapun perkembangan moral pada anak usia SD/MIyaitumereka sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntutan dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini (usia 11 atau 12 tahun), anak bahkan sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar salah atau baik buruk. (Syamsu Yusuf dalam Ahmad Susanto ; 2013)
8
D. Pengertian Karakteristik Menurut Beberapa Tokoh
karateristik anak pertumbuhan fisik dan psikologisnya anak mengalami pertumbuhan jasmaniah maupun kejiwaannya. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak berlangsung secara teratur dan terus menerus kearah kemajuan. ―Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik‖
(Sugiyanto, 2010).
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkrit. Pada tahap operasi konkrit ini anak sudah mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak. Dalam tahap ini anak mulai berkurang egosentrisnya dan lebih 21 sosiosentris (mulai membentuk peer group). Akhirnya pada tahap operasi formal anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk yang lebih kompleks. (Jean Piaget. Crain, 2004)
―Beberapa karakteristik siswa SD antara lain: senang bermain; (2) senang bergerak; (3) senang bekerja dalam kelompok; dan (4) senang merasakan atau melakukan atau memperagakan sesuatu secara langsung‖
(Nursidik. 2011).
Karakteristik anak usia sekolah umur 6-12 tahun terbagi menjadi empat bagian terdiri dari (Supariasa; 2013):
1) Fisik/Jasmani
a) Pertumbuhan lambat dan teratur.
b) Anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat dibanding laki-laki dengan usia yang sama.
c) Anggota-anggota badan memanjang sampai akhir masa ini.
d) Peningkatan koordinasi besar dan otot-otot halus.
e) Pertumbuhan tulang, tulang sangat sensitif terhadap kecelakaan.
9
f) Pertumbuhan gigi tetap, gigi susu tanggal, nafsu makan besar, senang makan dan aktif.
g) Fungsi penglihatan normal, timbul haid pada akhir masa ini.
2) Emosi
a) Suka berteman, ingin sukses, ingin tahu, bertanggung jawab terhadap tingkah laku dan diri sendiri, mudah cemas jika ada kemalangan di dalam keluarga.
b) Tidak terlalu ingin tahu terhadap lawan jenis.
3) Sosial
a) Senang berada di dalam kelompok, berminat di dalam permainan yang bersaing, mulai menunjukkan sikap kepemimpinan, mulai menunjukkan penampilan diri, jujur, sering punya kelompok teman- teman tertentu.
b) Sangat erat dengan teman-teman sejenis, laki-laki dan wanita bermain sendiri-sendiri.
4) Intelektual
a) Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat minat besardalam belajar dan keterampilan, ingin coba-coba, selalu ingin tahu sesuatu.
b) Perhatian terhadap sesuatu sangat singkat.
E. Karakteristik Kesulitan Belajar Membaca Anak
Kompleksitas belajar membaca dikarenakan kegiatan membaca berkaitan dan melibatkan berbagai kemampuan dalam mengingat simbol- simbol grafis yang berbentuk huruf, dan mengingat bunyi dari simbol- simbol huruf dalam rangkaian kata dan kalimat yang mengandung makna (Jamaris, 2009). Dalam konteks implementasi kurikulum di sekolah, kemampuan membaca menjadi unsur utama penentu keberhasilan dalam hal penguasaan sumber belajar atau literatur, dan penguasaan beragam
10
ilmu pengetahuan (Morris, Tyner, & Perney, 2000). menunjukkan bahwa kemampuan membaca menjadi fondasi dasar dalam penguasaan berbagai bidang studi. (Morris, Tyner, & Perney (2000)
Dalam proses pendidikan di lembaga pendidikan formal, anak berkesulitan belajar membaca banyak ditemui di SD reguler dengan hasil belajar rendah sehingga keberadaannya sering dianggap sebagai siswa yang berprestasi rendah (underachievers), terutama di kelas 1, 2, dan 3 yang disebut kelas rendah, dengan jumlah diperkirakan kisaran antara 2 - 10% (Somad, 2002). Terdapat sekitar 85% siswa kelas awal SD yang diidentifikasi mengalami kesulitan belajar, memiliki masalah utama yang berhubungan dengan membaca dan kemampuan bahasa (Jamaris, 2009).
Siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca diidentifikasi mengalami kesulitan belajar membaca huruf, kata atau kalimat yang bukan diakibatkan oleh kasus-kasus utama seperti terbelakang mental, rendahnya visual dan pendengaran, kelainan gerak serta gangguan emosional.
Kesulitan membaca itu berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) gejala serbaneka (Mercer dalam Abdurrahman, 2003). Karakteristik kesulitan belajar membaca yang berkaitan dengan kebiasaan membaca yang tidak wajar berupa gerakan yang penuh ketegangan, seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Di samping itu, juga memperlihatkan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru. Karakteristik lainnya berupa pengulangan atau ada baris yang terlompati tidak terbaca, gerakan kepala ke kiri atau ke kanan, kadang-kadang meletakkan kepala pada buku, dan jarak membaca yang kurang dari 37,5 cm (Abdurrahman, 2003).
F. Karakteristik Perkembangan Akademik
Karakteristik perkembangan akademik ini dijelaskan dengan menggunakan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget. (Yatim
11
Riyanto, 2013). Kemampuan akademik berkaitan dengan cara kerja otak.
Adapun perkembangan kognitif itu meliputi:
1. Tingkat sensori motor pada umur 0-2 tahun Bayi lahir dengan refleks bawaan, dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang telah lebih kompleks. Pada masa ini anak belum mempunyai konsepsi tentang objek tetap. Ia hanya mengetahui hal- hal yang ditangkap oleh inderanya.
2. Tingkat pra operasional pada umur 2-7 tahun Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun ke-2 anak telah mengenal simbol dan nama:
a) Anak dapat mengaitkan pengalaman yang telah ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois.
b) Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang membutuhkan berikir "yang dapat di balik"
(reversible). Pikiran mereka bersifat ireversible.
c) Anak belum mampu melihat dua aspek dan i satu objek atau situasi sekaligus dan belum mampu bernalar (reasoning) secara induktif dan deduktif. 4) Anak ber-nalar secara tranduktif (dan i khusus ke khusus), juga belum mampu membedakan antara fakta dan fantasi
d) Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi)
e) Menjelang tahap akhir ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat meng klasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya memiliki saw sifat tertentu dan telah mu lai mengerti konseo yang konkrit.
12
3. Tingkat operasional konkrit pada umur 7-11 tahun Anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak, kecakapan kognitif anak adalah :
a) Kombinasivitas/klasifikasi b) Reversibelitas
c) Asosiativitas d) Identitas
e) Seriasi Selanjutnya Brunner mengatakan bahwa perkembangan kognisi seseorang bisa dimajukan dengan jalan mengatur bahan pelajaran. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kognitif ada 4 faktor:
1) Lingkungan fisik; kontak dengan lingkungan fisik perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru.
2) Kematangan, artinya membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi kognitif
3) Pengaruh sosial, artinya termasuk penanaman bahasa dan pendidi kan pentingnya lingkungan sosial adalah pengalaman seperti itu seperti pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif;
4) Proses pengaturan dini yang disebut equilibrasi, Proses pengaturan bukannya "penambah" pada ketiga faktor yang lain. alih-alih ekuilibrasi mengatur interaksi spesifik dan i individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial, dan per kembangan jasmani. Ekuilibrasi
13
menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun dengan baik.
Analisis sederhana yang dilakukan oleh guru di sekolah dasar sebelum memulai program pembelajaran sering kali membawa dampak yang positif. Cara sederhana untuk mengetahui karakteristik siswa sekolah dasar dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, dan pretes. Cara ini telah terbukti efektif untuk digunakan dalam mengetahui profil siswa yang akan menempuh pembelajaran. Percakapan secara informal, observasi, dan pre-tes misalnya dapat digunakan untuk memperoleh informasi tentang karakteristik siswa. Seorang guru sekolah dasar dapat ikut serta dalam pembicaraan informal dengan memahami dunia anakanak untuk mendapatkan informasi tentang etnis dan latar belakang budaya individu, sosial ekonomi, sikap terhadap materi pelajaran; dan juga usia siswa. Jika hasil analisis sederhana mengungkapkan bahwa siswa memiliki sikap yang apatis terhadap program dan isi pembelajaran, maka guru sekolah dasar dapat menggunakan kombinasi antara media dan metode pembelajaran yang tepat untuk memotivasi dan menarik minat siswa agar terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Siswa yang di tingkat sekolah dasar cenderung memiliki tingkat berpikir konkret. Untuk itu guru perlu memanfaatkan media yang dapat memberikan pengalaman belajar yang bersifat nyata kepada siswa. Untuk menghadapi kelas dengan siswa yang sangat variatif, maka cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah melakukan aktiyitas pembelajaran yang bersifat umum yang dapat diterima oleh semua siswa yang terdapat dikelas. Perhatian yang seksama tentang karakteristik umum siswa pada dasarnya dapat membantu guru untuk menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Pemahaman tentang karakteristik siswa juga akan memudahkan guru untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang siswa yang akan menempuh program pembelajaran. Kemampuan Awal Sedangkan kompetensi dan kemampuan awal menggambarkan tentang pe ngetahuan dan keterampilan yang sudah
14
dan belum dimiliki oleh seseorang sebelum mengikuti program pembelajaran.
Kemampuan awal siswa adalah kemampuan aktual yang dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti proses belajar mengajar. Analisis kemampuan awal siswa kegiatan yang dilakukan untuk mencari dan menemukan informasi atau data tentang kemampuan yang dimiliki siswa sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Kegiatan ini sangat berguna untuk mencapai hasil akhir yang dimiliki siswa (kemampuan akhir siswa sesuai dengan tujuan instruksional khusus dan umum). Proses belajar mengajar harus menjembatani antara kemampuan awal siswa dengan kemampuan akhir siswa tersebut. Contoh: Siswa kelas 1 di sekolah dasar sudah mampu menyebutkan bilangan 0-9 tapi belum tentu mereka dapat menjumlahkan, mengurangi atau mengalikan. (Benny A. Pribadi:2011 ).
Setiap anak dan kelompok memiliki karakter yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula. Oleh karenanya salah satu tahap dalam proses perencanaan pembelajaran yang penting adalah melakukan analisis karakteristik siswa. Karakteristik siswa di tingkat sekolah dasar itu berbeda dengan mereka yang berada pada tingkat sekolah menengah. Mengapa? Karena, Pola pikir, persepsi dan cara mengatasi masalah yang mereka tempuh sangat berbeda. Pada masa anak-anak kecenderungan untuk melakukan imitasi kepada seseorang yang diidolakan sangat besar. Masa kanak-kanak adalah masa bermain dan belajar.
Beban yang berat pada sekolah terkadang mengurangi hak-hak mereka untuk bermain. Sehingga yang terjadi mereka cenderung malas dan bosan pada saat belajar di dalam kelas, karena mereka menghadapi situasi pembelajaran yang nyaris sama.
15
BAB III
TUNUAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
Setelah membaca definisi yang ada diatas dan di pahami dengan baik, kini akan dilanjutkan untuk mengetahui tujuan dari pendidikan SD.
A. Tujuan Pendidikan Secara umum
Tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsadan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang baik dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi kepada masyarakatan. (Undang Undang No. 2 Tahun 1985).
Tujuan pendidikan adalah membentuk peserta didik memiliki rasa dari nilai pancasilai sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. (MPRS No. 2 Tahun 1960).
Tujuan pokok pendidikan adalah membentuk anggota masyarakat menjadi orang-orang yang berpribadi, berperikemanusiaan maupun menjadi anggota masyarakat yang dapat mendidik dirinya sesuai dengan watak masyarakat itu sendiri, mengurangi beberapa kesulitan atau hambatan perkembangan hidupnya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun mengatasi problematikanya (Nazili Shaleh Ahmad, 2011).
B. Tujuan Pendidikan Dasar
Pendidikan Dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupan pribadi dan anggota masyarakat (Depdikbud,1995). Pendidikan dasar yang diselenggarakan di sekolah dasar bertujuan memberikan bekal kemampuan "baca-tulis- hitung" dan mempersiapkan mereka mengikuti pendidikan SMP.
Sedangkan pendidikan dasar yang diselenggarakan di tingkat SMP
16
bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di SD dan mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah (Depdikbud, 1995).
C. Tujuan Pendidikan Nasional
Di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah menumbuh-kembangkan pribadi-pribadi yang :
(1) beriman dan bertakwaterhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia,
(3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani,
(5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta
(6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif atau mengharuskan semua tingkat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. (UUD No.20 thn 2003)
D. Tujuan Pendidikan Menurut Beberapa Tokoh
Pembangunan sumber daya manusia berarti perlunya peningkatan pengetahuan, keterampilan dari kemampuan semua orang dalam suatu masyarakat‖. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Melalui pendidikan selain dapat diberikan bekal berbagai pengetahuan, kemampuan dan sikap juga dapat dikembangkan berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh setiap anggota masyarakat sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan. (Herbison dan Myers (Panpan Achmad Fadjri, 2000).
17
Tujuan penyelenggaraan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) adalah menyiapkan siswa agar menjadi manusia yang bermoral, menjadi warga negara yang mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, dan menjadi orang dewasa yang mampu memperoleh pekerjaan. Dan, secara operasional, tujuan pokok pendidikan dasar adalah membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan intelektual dan mentalnya, proses perkembangan sebagai individu yang mandiri, proses perkembangan sebagai makhluk sosial, belajar hidup menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, dan meningkatkan kreativitas (Ali, 2009).
Tujuan pendidikan sekolah dasar sebagai berikut: 1) Menuntun pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, bakat dan minat siswa. 2) Meberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang bermanfaat bagi siswa. 3) Membentuk warga negara yang baik 4) Melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan di SLTP 5) Memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar bekerja di masyarakat. 6) Terampil untuk hidup di masyarakat dan dapat mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. (Suharjo; 2006)
Tujuan pendidikan merupakan gambaran kondisi akhir atau nilai- nilai yang ingin dicapai dari suatu proses pendidikan, tujuan pemahaman pendidikan sd ini amat penting karena akan memberi kemudahan kepada kita untuk memahami aspek-aspek lainnya dari pendidikan SD sebagai suatu konsep atau sistem, dan memberi arah yang semakin jelas tentang peningkatan kinerja profesional.
18
BAB IV
FUNGSI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
A. Fungsi Pendidikan Nasional
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3). Fungsi pendidikan pada umumnya sengai pembentukan dan pengembangan dasar kepribadian anak, untuk membentuk warga masyarakat dan warga Negara RI yang baik, mempertahankan dan mengubah nilai-nilai tertentu atau mengembangkan nilai-nilai baru yang dipandang lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat. (Agus Taufiq, Puji Lestari P, Hera Lestari M, 2010)
B. Fungsi Pendidikan Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sula Fungsi pendidikan sebagai berikut;
1. Transformasi budaya, pendidikan dalam hal ini berfungsi untuk mewariskan budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, bagaimana suatu masyarakat melestarikan adat istiadat, nilai atau kebiasaan-kebiasaan yang dianggap baik kepada anak dan generasi penerusnya. Fungsi ini juga berkenaan dengan bagaimana pendidikan mengubah nilai-nilai tertentu atau mengembangkan nilai-nilai baru yang dipandang sesuai dengan perkembangan masyarakat.
19
2. Pembentukan pribadi, pendidikan merupakan upaya yang sistematis untuk membentuk dan meningkatkan kualitas kepribadian individu.
Karakteristik kepribadian yang kreatif, mandiri, tanggung jawab, ulet dan tekun merupakan sifat-sifat yang dituju dari fungsi ini.
3. Penyiapan warga masyarakat dan warga negara, pendidikan berupaya untuk membentuk siswa agar menjadi warga masyarakat dan warga negara yang baik, sesuai dengan tujuan dan falsafah Bangsa, mengetahui dan mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan warga Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan perundang-undangan dan hukum yang berlaku.
4. Penyiapan tenaga kerja, pendidikan berupaya memberi berbagai kemampuan, sikap serta keterampilan kepada siswa untuk menjadi manusia yang produktif bagi kehidupan dirinya, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Apalah artinya jika pada akhirnya manusia yang telah di didik tidak dapat mencari penghidupannya secara mandiri melalui bekerja yang mendatangkan penghasilan tertentu. (Umar Tirtarahardja dan La Sula; 1995)
C. Fungsi Pendidikan Menurut Muhammad Ali
Fungsi dari pendidikan dasar sebagai acuan sebelum melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya, karena jika pada tingkat pendidikan dasarnya saja kurang diperhatikan, maka tentu untuk ke tingkat selanjutnya juga akan sulit dan menjadi kurang baik. Adapun fungsi dari pendidikan dasar menurut Muhammad Ali dalam bukunya (2009:33) adalah sebagai berikut:
1. Dengan melalui pendidikan dasar maka peserta didik akan dibekali kemampuan dasar yang terkait dengan kemampuan berpikir secara kritis, membaca, menulis, berhitung dan penguasaan – penguasaan dasar untuk mempelajari sainstek serta kemampuan dalam
20
berkomunikasi yang merupakan suatu tuntutan kemampuan minimal dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Dengan pendidikan dasar dapat memberikan dasar – dasar untuk dapat mengikuti pendidikan pada tingkat selanjutnya. Karena pada hakikatnya keberhasilan mengikuti pendidikan di sekolah menengah serta perguruan tinggi banyak dipengaruhi oleh keberhasilan dalam mengikuti pendidikan dasar.
D. Fungsi dan Peran Guru SD
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, menga-jar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, (Undang- undang No. 14 tahun 2005). Guru adalah subjek paling penting dalam keberlangsungan pendidikan. Tanpa guru, sulit dibayangkan bagaimana pendidikan dapat berjalan. Bahkan meskipun ada teori yang mengatakan bahwa keberadaan orang/manusia sebagai guru akan berpotensi menghambat perkembangan peserta didik, tetapi keberadaan orang sebagai guru tetap tidak mungkin dinafikan sama sekali dari proses pendidikan, (Dja‟far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2006)
Secara institusional, guru memegang peranan yang cukup penting, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Dengan demikian, guru juga berperan melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum. (E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Cet. Ke-9 (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2010). Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Guru dituntut untuk memahami komponen-komponen dasar dalam
21
melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, guru dituntut untuk paham tentang filosofi dari mengajar dan belajar itu sendiri. Mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sejumlah yang akan menjadi kepemilikan siswa. (Aliyyah, R.
R., & Abdurakhman, O.2016).
Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut.
2. Guru Sebagai Pengajar
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu.
22 4. 4.Guru sebagai Pemimpin
Guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan.Guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya. Ia akan menjadi imam.
5. 5.Guru sebagai pengelola pembelajaran
Guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran.
Selain itu ,guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman.
6. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak.
7. Sebagai anggota masyarakat
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat.
Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan.
8. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
Kita semua tahu bahwasanya pendidikan dasar sangatlah penting dan sangat berpengaruh bagi perkembangan bangsa dan negara kedepan. Oleh karena itu marilah kita semua untuk mulai membenahi masalah – masalah yang mungkin masih banyak sekali muncul, salah satunya membenahi sarana dan prasana yang baik untuk anak didik. (Muhammad Ali, 2009)
23
Fungsi dan tujuan pendidikan telah jelas terlihat bahwa pendidikan di indonesia berupaya untuk menciptakan bangsa yang cakap, beriman, bertaqwa kepada Tuhan serta memilki pengetahuan yang baik dan wawasan kebangsaan.
Pendidikan di Indonesi sangat berperan penting dalam membangu masyarakat.
Lalu, Peran dan fungsi guru adalah sebagai pendidik, pengajar, fasilitator, pembimbing, pelayan, perancang, pengelola, inovator, dan penilai. Peran dan fungsi guru tersebut membutuhkan keahlian khusus yang biasanya diperoleh oleh calon guru. Guru yang baik dan ideal tidak hanya fokus pada penguasaan materi yang diajarkan. Seorang guru harus mampu men- jalin komunikasi atau mempunyai hubungan sosial yang tidak hanya interaksi dengan siswa di kelas saja.
24
BAB V
CIRI-CIRI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
A. Ciri-ciri Pendidikan SD Secara Umum
Pendidikan SD mempunyai ciri khas yang membedakannya dari satuan pendidikan lainnya. Paling tidak ada empat sasaran utama dalam pendidikan SD, yaitu sebagai berikut (Dikjen Dikti,2006)
Kemelekwacanaan (literacy). Pendidikan SD diarahkan pada pembentukan kemelekwacanaan, bukan pada pembentukan kemampuan akademik. Kemelekwacanaan merujuk kepada pemahaman siswa tentang berbagai fenomena / gagasan dilingkungannya dalam rangka menyesuaikan perilaku dengan kehidupan.
Kemampuan berkomunikasi. Pendidikan SD diarahkan untuk membentuk kemampuan berkomunikasi, yaitu mampu mengkomunikasikan sesuatu, baik buah pikiran sendiri maupun informasi yang didapat dari berbagai sumber, kepada orang lain dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Informasi yang akan dikomunikasikan mungkin di dapat melalui mendengar dari seorang teman, membaca dari koran, atau menyaksikan sendiri, baik secara langsung maupun melalui siaran televisi
Kemampuan memecahkan masalah (probelm solving) yang mencakup merasakan adanya masalah, mengidentifikasi masalah, mencari
25
informasi untuk memecahkan masalah, mengeksplorasi alternatif pemecahan masalah, dan memilih alternatif yang paling layak
Kemampuan bernalar (reasoning) yaitu menggunakan logika dan bukti – bukti secara sistematis dan konsisten untuk sampai pada kesimpulan.
Pendidikan SD diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa berpikir logis sehingga kemampuan bernalarnya berkembang. Siswa yang terlatih daya nalarnya, tidak akan cepat percaya pada suatu yang tidak masuk akal.
B. Ciri-ciri Pendidikan SD Secara Khusus
Ciri khusus pendidikan SD meliputi : (Dikjen Dikti,2006)
a) Guru SD. Yang bertugas sebagai guru kelas dan memiliki kewaajiban mengerjakan lima mata pelajaran wajib. yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
b) Siswa/Murid SD. Anak-anak yang belajar mulai dari usia 6-12 tahun yang berbeda dengan usia siswa pada satuan pendidikan lainnya.
c) Kurikulum. Kurikulum Sekolah Dasar mempunyai tujuan khusus yaitu untuk mengembangkan kemampuan dasar anak SD.
d) Pembelajaran. Pembelajaran disini meliputi banyak hal, mulai dari cara pandang anak, membantu anak dalam berkembangnya kemampuan bernalaar. Membantu dalam mendapatkan materi dan sebagainya.
e) Tempat/Gedung dan peralatan. Sebagai fasilitas khusus, tempat bernaung yang digunakan untuk belajar.
Ciri dari penidikan sekolah dasar terbagi menjadi dua; ciri-ciri secara umum dan khususnya. Dalam ciri umum dapat kita ketahui kalau ciri ini memiliki empat sasaran utama, meliputi; kemelekwancanaan (Merujuk pada pemahaman siswa). Kemampuan berkomunikasi (Dapat mengngomunikasikan sesuatu dengan
26
baik, benar dan sopan). Kemampuan memecahakan masalah (Dapat mengidentifikasi masalah dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah).
Kemampuan bernalar (Dapat menggunakan logika dan bukti yang sistematis untuk sampai kesimpulan). Dan selanjutnya ciri khusus yang meliputi; siswa, guru, kurikulum, pembelajaran,serta fasilitas dan gedung sekolah.
BAB VI
BENTUK-BENTUK PENYELENGGARAAN PEDNDIDIKAN SEKOLAH DASAR
A. Penyelenggaraan Pendidikan Menurut Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan dilakukan melalui tiga jalur, yaitu: pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal dilakukan di sekolah, pendidikan non formal dilaksanakan di masyarakat, dan pendidikan informal utamanya dilaksanakan di keluarga. Oleh karena itu, pendidikan non formal dan informal sering diasosiasikan sebagai pendidikan di luar sistem persekolahan, atau secara singkat disebut. (Undang-undang No.20 Tahun 2003). Pendidikan luar sekolah.
Terlepas dari beberapa perbedaan pandangan yang ada di kalangan masyarakat (khususnya akademisi), dapat dipahami jika dalam undang-undang sebelumnya, yakni UU Sisdiknas No.2/1989 ditegaskan bahwa pendidikan nasional dilaksanakan melalui jalur persekolahan dan jalur pendidikan luar sekolah.
B. Penyelenggaraan Pendidikan Formal
Dalam UU yang membahas tentang pengelolaan serta penyelenggaraan pendidikan formal, jalur pendidikan tersebut memiliki jenjang pendidikan dari dasar, menengah, sampai perguruan tinggi. Sebagai jalur pendidikan paling umum di Indonesia, sifatnya adalah formal dan lulusannya sudah diakui baik secara
27
nasional atau internasional. (Pasal 1 ayat 6 sesuai Peraturan Pemerintah No.17 tahun 2010). Kalau pendidikan formal dalam suatu organisasi merupakan suatu proses pengembangan kemampuan kearah yang diinginkan oleh organisasi yangbersangkutan. (Notoadmodjo; 2003). Pendidikan formal adalah kegiatan belajar yang disengaja, baik oleh warga belajar maupun pembelajarannya di dalam suatu latar yang distruktur sekolah. (Axin (Suprijanto,2009). pendidikan formal adalah pendidikan sistem persekolahaan. Disamping itu, ia juga mencoba memberi ciri-ciri pendidikan formal secara lebih rinci yaitu:
1) terstandarisasi legalitas formalnya, 2) jenjangnya,
3) lama belajarnya, 4) paket kurikulumnya,
5) persyaratan pengelolaannya,
6) persyaratan usia dan tingkat pengetahuan peserta didiknya, 7) pemerolehan dan keberatian ijazahnya,
8) prosedur evaluasi belajarnya,
9) sekuensi penyajian materi dan latihan-latihannya, 10) persyaratan presensinya,
11) waktu liburannya,
12) serta sumbangan pendidikannya.
Dengan kata lain pendidikan formal adalah pendidikan yang berada di sekolah.
(Suprijanto, 2009).
Dapat disimpulkan kalau pendidikan formal itu merupakan yang dilakukan secara formal dan banyak ditempuh oleh sebagian orang karena pendidikan formal lebih resmi dan dapat dipertanggung jawabkan. Yang contohnya seperti sekolah SD, SMP, SMA, Sekolah luar biasa dan lainnya.
C. Penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal
Pendidikan Nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. (Pasal 1 ayat 12
28
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pasal 1 ayat 3). Philip H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan non formal adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. (Soelaman Joesoef. Jakarta:
1992). Pendidikan non formal adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan tingkat usia dan kebutuhan hidup, dengan jutuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efesien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya (Soelaman Joesoef, 1992)
Pendidikan nonformal mempunyai ciri sebagai berikut: 1) berjangka pendek pendidikannya, 2) program pendidikannya merupakan paket yang sangat khusus, 3) persyaratan pendaftaran lebih fleksibel, 4) sekuensi materi lebih luwes, tidak berjenjang kronologis, 5) perolehan dan keberadaan ijazah tidak seberapa terstandarisasi. (Suprijanto, 2009)
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal adalah pendidikan yang berjenjang, sistematis, yang dilakukan oleh sebagian orang secara sengaja yang terjadi di luar program/sistem persekolah. Contohnya seperti : Home scholling atau les dan sebagainya.
D. Penyelenggaraan Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). Pendidikan informal adalah pendidikan dimana warga belajar tidak sengaja belajar dan pembelajaran tidak sengaja untuk membantu warga belajar.
(Suprijanto, 2009).
29
Pendidikan informal adalah setiap aktifitas yang melibatkan pursuit pemahaman, pengetahuan, atau kecakapan yang terjadi diluar kurikulum lembaga yang disediakan oleh program pendidikan, kursus atau lokakarya.
Pembelajaran informal bisa terjadi di setiap konteks diluar kurikulum lembaga. Hal ini dibedakan dari persepsi harian dan sosialisasi umum dengan identifikasi kesadaran diri individu tentang aktifitas sebagai pembelajaran bermakna. Hal mendasar dari pendidikan informal (tujuan, isi, cara dan proses pemerolehan, lamanya, evaluasi hasil dan aplikasi) ditentukan oleh individu dan kelompok yang memilih terlibat didalamnya, tanpa kehadiran seorang instruktur yang memiliki otoritas secara melembaga. (Livingstone 1998).
Dapat simpulkan bahwa pendidikan informal adalah suatu jalur pendidikan yang dapat ditempuh dikeluarga atau lingkungan yang berupa kegiatan belajar yang dilakukan secara mandiri dan dikerjakan secara sadar dan bertanggung jawab.
Ada enam alasan utama yang melatarbelakangi diterapkannya pendidikan dasar sebagai pendidikan wajib bagi semua anak usia 7 sampai dengan 15 tahun (Diknas, 2002).
1. Lebih dari 80% tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan sekolah dasar dan bahkan kurang, yaitu mereka yang putus sekolah dan buta aksara.
2. Pendidikan dasar merupakan jalan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang dapat memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi.
3. Terdapat bukti-bukti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar peluang mereka untuk lebih mampu berperanserta dalam kehidupan masyarakat dan negara serta lebih memiliki kesadaran sebagai warga negara akan hak dan kewajibannya.
4. Peningkatan usia wajib belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kemampuan dan keterampilan
30
mereka (peserta didik), sehingga pada gilirannya akan memperbesar peluang mereka untuk meningkatkan martabat, kesejahteraan, dan makna hidupnya.
5. Pengalaman perkembangan di negara-negara industri baru di Asia seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Korea Selatan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat akan berjalan seiring dengan meningkatnya pendidikan di negara tersebut.
6. Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam menghadapi zaman ekonomi terbuka dan persaingan bebas, yaitu dimulainya pasar bebas AFTA (ASEAN Free Trade Area) pada tahun 2003 dan dimulainya APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) pada tahun 2010.
31
BAB VII
TEORI BELAJAR dan PEMBELAJARAN
A. Teori Belajar
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan hasil belajar dapat berupa perubahan pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan, kebiasaan, dan perubahan aspek-aspek yang ada pada diri individu yang sedang belajar. (Aisyah (2008: 9-18). Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen, dan terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan tingkah laku itu dapat diamati dan berlaku dalam waktu lama, disertai usaha dari individu yang belajar sehingga dari tidak mampu menjadi mampu mengerjakannya. Kegiatan dan usaha merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar. Maka belajar akan menyangkut proses belajar dan hasil belajar.
(Aisyah; 2008).
Belajar dapat diartikan sebagaiterjadinya perubahan pada diri individu yang belajar, dan yang dimaksudkan dengan perubahan dalam konteks belajaritu dapat bersifat fungsional atau struktural,material dan perilaku serta keseluruhan pribadi yang bersifat multi dimensi. (Abin Syamsuddin Makmun; 1983). Perubahan tingkah laku ini, mengandung perubahan segi jasmani (struktural) dan rohani (fungsional), yang keduanya saling berinterkasi. Pola tingkah laku yang semacam ini terdiri atasaspek pengetahuan, pengertian, sikap, keterampilan, kebiasaan, emosi, budi pekerti, apresiasi, jasmani, hubungan sosial,dan lain-lain. (Oemar Hamalik; 1978)
32 B. Teori Pembelajaran
Teori pembelajaran yang diuraikan di sini berbeda dengan teori belajar yang telah diuraikan di atas. Perbedaan yang prinsip antara teori belajar dan teori pembelajaran adalah bahwa teori belajar tujuan utamanya adalah memeriksa proses belajar, sedangkan teori pembelajaran tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal (Bruner dalam Degeng, 1989 dalam Budiningsih, 2005 dalam Gede Putra Adnyana: 2011). Teori pembelajaran merupakan implementasi prinsip-prinsip teori belajar, dan berfungsi memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran. Teori pembelajaran menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar dan bagaimana pula menilai dan memperbaiki metode serta teknik yang tepat, (Achmad Sugandi, dkk; 2004).
Beberapa teori belajar mendeskripsikan pembelajaran sebagai berikut:
a. Usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku si belajar (behavioristik).
b. Cara guru memberikan kesempatan kepada si belajar untuk berpikir agar memahami apa yang dipelajari (kognitif)
c. Memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya (humanistik). (Achmad Sugandi, dkk; 2004)
C. Teori Behavorisme 1) Pengertian Behavoristik
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku manusia., Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus- stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya,manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrolstimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan,
33
1997). Behavorisme merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dalam pandangan Slavin seseorang dianggap telah belajar sesuatujika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya, (Allyn &Bacon.Wadsworth; 1989).
Hanya pada hal-hal yang dapat diobservasi secara kasat mata, maka teori ini memandang proses belajar yang dialami oleh manusia ditentukan oleh kondisi stimulus (S) dan respon (R) (Braungart, 2007). Teori behaviorisme ini mengasumsikan bahwa tingkah laku siswa pada hakikatnya merupakan suatu responsterhadap lingkungan yang lalu dan sekarang, dan semua tingkah laku yang dipelajari (Sri Esti Wuryani Djiwandono, 1989).
Teori belajar behaviorisme meruapan teori belajar yang menekankan pada perubahan tingkah laku dengan unsur utama stimulus respons. Namun demikian teori ini telah memberaikan landasan bagi lahirnya desain pembelajaran, setidaknya ada area yang mendemonstrasikan damapak teori behaviorisme terhadap pembelajaran (Seattler dalam Smith, 2009). Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain, mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut (Desmita; 2009)
2) Implikasi Teori Behavoristik
Teori behavioristik yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar (Budiningsih:2005). Dalam hal ini, guru harus banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif. Apalagi jika diikuti dengan adanya reaward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang
34
telah ditunjukkan). Oleh karena teori ini berawal dari adanya percobaan sang tokoh behavioristik terhadap binatang, maka dalam konteks pembelajaran ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan. Prinsip tersebut adalah : a. Teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku.
Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu. b. Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respons. c.
Reinforcement , yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respons , merupakan faktor penting dalam belajar. Respons akan semakin kuat apabila reinforcement (baik positif maupun negatif) ditambah. (Iskandarwasid; 2011).
Teori belajar behavioristik menekankan terbentuknya perilaku terlihat sebagai hasil belajar.Teori belajar behavioristik dengan model hubungan stimulus respons, menekankan siswa yang belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku siswa yang kuat apabila diberikan penguatan dan akanmenghilang jika dikenai hukuman (Nasution, 2006). Penerapan teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa komponen seperti: tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik siswa, media, fasilitas pembelajaran, lingkungan, dan penguatan (Sugandi, 2007)
3) Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan Teori Belajar Behavioristik Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behaviourisme terdapat beberapa kelebihan di antaranya : a.
Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
b. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur- unsur seperti:
kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya. c. Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.
Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan. d.
Teori ini cocok diterapkan untuk melatih e. anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka
35
meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Kekurangan Teori Belajar Behavioristik adalah;
a. Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalu gejalanya.
b. Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga, dengan kemampuan ini, manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
c. Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit diterima, mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antara hewan dan manusia.
4) Ciri-Ciri Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik melihat semua tingkah laku manusia dapat ditelusuri dari bentuk refleks. Dalam psikologi teori belajar behavioristik disebut juga dengan teori pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisian lingkungan. Pengkondisian terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Hal ini dilihat secara sistematis dapat diamati dengan tidak mempertimbangkan keseluruhan keadaan mental.
Teori belajar behavioristik mempunyai ciri-ciri, yaitu. Pertama, aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman pengalaman batin di kesampingkan serta gerak-gerak pada badan yang dipelajari. Oleh sebab itu, behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa. Kedua, segala perbuatan dikembalikan kepada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan refleks.
36
Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu pengarang. Manusia dianggap sesuatu yang kompleks refleks atau suatu mesin. Ketiga, behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi reflek keinginan hati (Ahmadi; 2003).
5) Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behavioristik 1. John B. Watson
behavioristik adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson (1878- 1958), seorang ahli psikologi Amerika pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif behavioristik berfokus pada peran dari belajar dan menjelaskan tingkah laku manusia.Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan yang diramalkan dan dikendalikan.Menurut Watson dan para ahli lainnya meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional.
Tingkah laku dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak rasional.Hal ini didasari dari hasil pengaruh lingkungan yang membentuk dan memanipulasi tingkah laku (Desmita; 2009), 2. Ivan P. Pavlov
Paradigma kondisioning klasik merupakan karya besar Ivan P. Pavlov (1849-1936), ilmuan Rusia yang mengembangkan teori perilaku melalui percobaan tentang anjing dan air liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov, karena perangsang yang asli dan netral atau rangsangan biasanya secara berulang-ulang dipasangkan dengan unsur penguat yang menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral disebut perangsang bersyarat atau terkondisionir, yang disingkat dengan CS (conditioned stimulus). Penguatnya adalah