BAB III TEORI KEPEMIMPINAN
E. Teori dengan Pendekatan Dyadic
Hersey dan Blanchard dalam A. F. Stoner dan Charles Winkel (1986: 63-64) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif berbeda-beda, sesuai dengan kematangan anggota. Keatangan ini bukan dlihat dari sisi usia, atau stabilitas emosional, melainkan keinginan untuk berprestasi, kesadaran utnuk menerima tanggung jawab, dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan.
Selanjutnya dikatakan juga oleh Hersey dan Blanchard bahwa hubungan antara pemimpin dan anggota bergerak melalui 4 tahapan, dimana pemimpin perlu mengubah gaya kepemimpinannya sesuai dengan perkembangan setiap tahap.
menunjukkan fenomena bahwa setiap anggota akan memiliki penilaian berbeda tentang pemimpinnya. Teori ini memunculkan apa yang dinamakan fenomena in-group dan out-group dalam hubungannya dengan pemimpin. Anggota yang menilai pemimpinnya lebih positif, telah mengembangkan hubungan yang dekat dengan pemimpinnya dan menjadi assisten yang memainkan peran kunci bagi fungsi kelompok kerja. Mereka ini termasuk di dalam in-group. Anggota yang masuk kategori out- group tidak mempunyai pera kunci bagi fungsi kelompok kerja.
Karena adanya perbedaan ini, anggota cenderung masuk ke dalam subgrup yang dibagi dalam suporter atau oposisi. Kelompok in- group memiliki akses tinggi pada pemimpin, lebih mengekspresikan pengaruh timbal balik dan memiliki usaha kolaboratif dengan pemimpin. Mereka juga mempunyai esempatan memperoleh hadiah, perhatian, dan status yang lebih banyak, dan perhatianse dangkan kelompok anggota out- group cenderung bersikap pasif dan tidak memiliki bargaining pada pemimpin. Pemimpin cenderung menggunakan wewenag formal dan paksaan untuk mengendalikan perilaku kelompok anggota ini (Fred Danereau, 1995 dalam Riantoro, 2004).
2. Teori Leader-Member Exchange (LMX)
Teori ini berfokus pada hubungan yang lebih dalam antara oemimpin dan anggota yang menekankan bahwa hasil terbaik dicapai melalui proses pertukaan pimpinan dan anggota yang dikembangkan sepanjang waktu. Teori ini menyatakan bawha kualitas pertukaran pemimpin dan anggota lebih substansial pada kelompok in-group. Teori ini menghasilkan tiga (3) tahapan dyadic antara pemimpin - anggota. Tahap pertama: pemimpin dan anggota bertindak seperti orang asing yang saling menguji hubungan keduanya untuk menilai apakah jenis hubungan keduanya cocok dan harmonis. Tahap kedua: hubungan pemimpin -angoota menjadi seperti rekan kerja dengan memainkan peran mereka masing-masing. Tahap ketiga:
hubungan pemimpin - anggota mencapai pola perilaku yang menetap, peran kedua menjadi matang dan pertukaran etrsebut akan menentukan apakah anggota termasuk di dalam kelompok in-group atau out-group (daft, 1999 dalam Riantoro, 2004).
Teori LMX sebelumnya disebut sebagai teori Vertical Dyad Linkage (VDL), karena fokusnya kepada proses timbal balik yang terjadi dalam dyad (dua bagian berupa kesatuan yang berinteraksi). Teori tersebut meneliti hubungan ke bawah maupun ke atas yang dibuat pemimpin dan berimplikasi bagi keefektifan dan kemajuan pemimpin dalam organisasi. Istilah vertical dyad menunjukkan pada hubungan antara pemimpin dan bawahan saja. Dasar pemikiran teori VDL adalah pemimpin biasanya menetapkan hubungan pertukaran yang istimewa dengan sejumlah bawahan yang dipercayainya (in-group) yang befungsi sebagai asisten. Hubungan pertukaran yang dibangun dengan bawahan yang selebihnya (out-group) secara substansial berbeda.
Ada pola hubungan LMX yang berpengaruh terhadap persepsi kualitas hubungan pemimpin-bawahan, yaitu pola hubungan out- group yang berdasarkan pertukaran ekonomi, dan pola hubungan in-group berdasarkan pertukaran social (Mosman, 1991 dalam Yulianto, 2004).
Menurut teori LMX, hubungan in-group atau out-group awalnya dibangun pada hubungan pemimpin-bawahan sebagai dua pihak yang saling membutuhkan. Graen dan Cashman (dalam Yulianto, 2004) menyatakan bahwa seleksi in-group dibuat atas dasar kesesuaian pribadi, kemampuan untuk dapat dipercaya bawahannya. Lebih lanjut, pertukaran out-group lebih pada tingkat saling mempengaruhi yang relatif rendah dan kelompom hanya perlu mematuhi persyaratan yang bersifat formal, seperti kewajiban, peraturan, prosedur standar serta pengarahan oleh pemimpin.
Pertukaran yang bersifat dyadic dengan bawahan pada in-group mengikuti urutan pengembangan yang berbeda
dibandingkan dengan pertukaran atasan-bawahan pada outgroup.
Teori LMX memprediksi bahwa bawahan dalam in-group memiliki kinerja yang tinggi, turnover rendah, dan kepuasan kerja tinggi terhadap atasannya (Robbins, 1998). Teori LMX menjelaskan cara pemimpin mengembangkan hubungan yang berbeda-beda setelah waktu tertentu dengan berbagai bawahannya. Biasanya pemimpin memberi beberapa orang bawahan otonomi, dan manfaat-manfaat sebagai imbalan terhadap kesetiaan mereka, komitmen dan bantuan yang lebih besar dalam menjalankan tugas-tugas administrative. Pengaruh ke atas seorang pemimpin adalah sebuah determinan penting terhadap potensi dalam membangun hubungan pertukaran dengan bawahan.
Menurut Graen (dalam Yulianto, 2004), LMX adalah pertukaran hubungan interpersonal antara atasan dan bawahan.
Liden dan Masylin (dalam Gomez dan Rosen, 2001) menyatakan ada empat dimensi hubungan LMX, yaitu contribution (kinerja tugas melebihi diskripsi pekerjaan yang spesifik), affect (persahabatan dan kesenangan), loyalty (loyalitas dan kesamaan kewajiban), dan professional respect (tanggap terhadap kemampuan profesional). Masylin dan Bien (2001) dalam Gomez dan osen (2001) menunjukkan hasil risetnya bahwa dalam hubungan dyad partner antara atasan dan bawahan, terdapat hubungan yang signifikan positif dengan contribution, professional respect dan loyalty, tetapi tidak ada hubungan signifikan dengan affect. Hasil riset Masylin dan Bien lainnya adalah terdapat hubungan yang kuat antar dyad partner dengan LMX, sehingga hubungan atasan- bawahan secara interaktif mempengaruhi kualitas LMX.
Hubungan antara atasan-bawahan sangat berpengaruh terhadap persepsi keadilan bagi karyawan dalam organisasi.
Perbedaan in-group dan out-group menentukan persepsi keadilan bawahan. Dansereau, Graen, dan Haga, 1975 (dalam Gomez dan Rosen, 2001) menyatakan bahwa bawahan yang tergolong in-group merasakan atasannya lebih adil karena atasan memberi
kebebasan dalam bekerja, memberi dukungan terhadap tindakan bawahan, memberikan keyakinan dan perhatian terhadap bawahan, unsure kepercayaan bawahan terhadap atasan lebih besar dibandingkan out-group. Hal tersebut memiliki implikasi yakni ketika manajer mempercayai secara penuh terhadap bawahannya, ia tidak akan segan-segan memberi perlakuan yang disukai oleh bawahannya, seperti informasi, kebebasan dan keleluasaan bertindak.
F. BEBERAPA TEORI KEPEMIMPINAN YANG LAIN