BAB III TEORI KEPEMIMPINAN
C. Teori Perilaku (Behavior Theories)
Teori sifat dalam perkembangannya mendapat banyak tantangan, karena dalam kehidupan tidak mungkin ada seorang pemimpin yang memiliki keseluruhan sifat baik manusia, kecuali para Nabi.
Ada 2 kelemahan pokok teori sifat:
1. Tidak selalu ada relevansi antara sifat-sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan.
2. Situasi dan kondisi tertentu yang ternyata memerlukan sifat tertentu pula berbeda dari yang lain.
Dari kelemahan tersebut, muncullah teori baru yakni: Teori Perilaku (Behavior Theories)
C. TEORI PERILAKU (BEHAVIOR THEORIES)
mempengaruhi perilaku dan tindakannya. Pendapat McGregor ini banyak dihubungkan dengan teori motivasi.
Teori X berasumsi:
1. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang berpendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan berusaha dihindarinya. Asumsi ini melihat bawahan sebagai manusia yang memiliki perilaku malas.
2. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang lebih suka diperintah dan sering kali harus dipaksa untuk melakukan pekerjaannya dengan hukuman dan hadiah (akibat asumsi pertama di atas).
3. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang tidak ambisius, tidak ingin maju, dan tidak menginginakn serta menhhindari tanggung jawab.
4. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang harus dimotivasi terutama oleh kebutuhan pokok, seperti uang dan kebutuhan akan rasa aman.
5. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang harus dikendalikan dengan ketat dan menganggap bawahan tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya di dalam organisasi tanpa bantuan pemimpin.
Akibat dari asumsi ini adalah pemimpin tidak memiliki kepercayaan terhadap abwahan sehingga pemimpin lebih banyak memberikan perintah, bertindak otoriter, menginginkan kepatuhan tinggi dari abwahan dan menganggap bawahan sebagai orang yang tidak bisa diberi tanggung jawab.
Teori Y berasumsi:
1. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang memiliki pendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang menyenangkan dan alamiah seperti bermain.
2. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang mempunyai pengendalian diri dan pengawasan diri jika mereka terlibat pada pekerjaannya.
3. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang memiliki ambisi, ingin maju, dan menginginkan tanggung jawab secara baik.
4. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang dimotivasi terutama oleh kebutuhan yang lebih tinggi seperti kebutuhan ntuk berprestasi, mendapatkan pengakuan, dan mengaktualisasikan dirinya secara maksimal.
5. Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah dalam organisasi secara mandiri, bertanggung jawab dan kreatif sehingga tidak terlalu membutuhkan pengawasan yang ketat.
Pemimpin yang memegang teori Y ini beranggapan bawahan merupakan individu yang bisa berkembang baik, mampu mengendalikan diri, dan bertanggung ajwab pada pekerjaannya. Akibatnya, pemimpim lebih banyak memebri dorongan, kesempatan untuk maju, dan tanggung jawab melalui pendelegasian tugas. Gaya kepemimpinan ini cenderung demokratis, bukan otoriter.
1. Manusia memiliki perilaku bertanggung jawab 2. Motivasi kerja
3. Kreativitas dan inisiatif
4. Mampu mengawasi pekerjaan dan hidupnya sendiri
Dalam hubungannya dengan kepemimpinan, Teori X ber- pendapat bahwa gaya kepemimpinan otoriter yang paling efektif untuk mencapai tujuan.
Teori Y berpendapat bahwa gaya kepemimpinan demokratis paling efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasar 2 bentuk perilaku manusia tersebut, kepemimpinana ini berbaur dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada
tugas dan pada anggota organisasi.
2. Studi Kepemimpinan Universitas IOWA
Dilakukan oleh Lippit dan White (dalamGreenberg dan Baron, 2000) yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dibedakan atas 3 gaya: authoritarian atau autocratic / dictatorial, democratic dan laissez-faire / free-rein.
a. Gaya Otoriter: pemimpin menuntut semua bawahan dengan bekerjasama dan semua kegiatan di bawah satu komando dari dirinya/pimpinan itu sendiri. Peran aktif dilakukan oleh satu orang/pemimpin. Bawahan tidak boleh salah.
b. Gaya demokratis: perilaku pemimpin berusaha mempenga- ruhi bawahan agar bawahan bersedia bekerjasama dengan- nya.
c. Gaya laissez-faire / free-rein / bebas kendali: gaya kepemim- pinan untuk mempengaruhi orang lain dengan menyerahkan semua wewenang pada anggotanya. Peran aktif dilakukan oleh anggota saja.
3. Studi Kepemimpinan Universitas OHIO
Univ. OHIO dalam penelitian mengenai kepemimpinan yang efekftif (Stephen P. Robbins, 2001) menyimpulkan ada
2 dimensi perilaku kepemimpinan efektif yakni: (1) dimensi struktur tugas/prakarsa struktur (initiating structure) dan (2) dimensi peetimbangan tenggang rasa (consideration).
Perilaku initiating structure: mengutamakan tercapainya tujuan, produktivitas tinggi, dan penyelesaian tugas sesuai jadwal.
Perilaku consideration: memperhatikan kebutuhan bawahan, menciptakan suasanan saling percaya dan menghargai, simpati pada ide dan perasaan bawahan.
Kedua perilaku kepemimpinan tersebut menurut penelitian OHIO tidak saling mempengaruhi/ tidak saling tergantung, berdiri sendiri.
Gambar 3.1.
Perilaku/Gaya Kepemimpinan Hasil Riset Universitas OHIO
C o n s i d e r a t i o n
Initiating Structure
Sumber: James A.F Stoner dan R. Edward Freeman Wilhelmus W.
Bakowatun dan Benyamin Molan (Intermedia, 1994: 61 4. Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
Stephen P. Robbins (2001) menyatakan bahwa Univ.
Michigan dalam penelitiannya mengenai perilaku kepemimpinan menemukan 2 jenis perilaku: (1) orientasi pada bawahan/pegawai/
employee oriented, dan (2) orientasi pada produktivitas / production oriented. Kedua perilaku kepemimpinan ini saling berhubungan sebagai suatu kontinum. Apabila pemimpin berorientasi pada produktivitas dengan kadar tinggi, maka perilaku berpusat pada karyawan akan rendah kadarnya, dan sebaliknya.
Perilaku kepemimpinan berorientasi pada karyawan akan dapat meningkatkan produktivitas kelompok dan kepuasan kerja dalam jangka panjang, sedang perilaku berorientasi produktivitas/hasil kerja dapat meningkatkan produktivitas kelompok dalam jangka pendek, namun berdampak kepuasan kerja menjadi rendah. Jadi, 3 penelitian dari 3 universitas yang
Tinggi Rendah
Initiating Structure Rendah dan Consi- deration Tinggi
Initiating Structure dan Consideration Tinggi
Initiating Structure Rendah dan Consi- deration Tinggi
Initiating Structure Tinggi dan Consideration Rendah
Tinggi
berbeda, ternyata menemukan perilaku kepemimpinan yang cenderung sama.
5. Managerial Grid
Blake dan Mountan (Greenberg dan Baron, 2002) meng- identifikasi gaya kepemimpinan yang disebutnya Managerial Grid. Pendekatan ini memiliki 2 dimensi: (1) dimensi mengutamakan produktivitas (concern for production) dan (2) dimensi mengutamakan karyawan (concern for people). Tinggi rendahnya kedua dimensi tersebut dinyatakan dengan angka 1 (perhatian minimum) sampai 9 (perhatian maksimum).
Dimensi perhatian terhadap produksi dan karyawan dapat dikombinasikan menjadi 81 kemungkinan perilaku/gaya kepemimpinan. Namun teori ini memberi penekanan dengan dibatasi pada 5 macam gaya, terdiri dari 4 gaya berada di sudut dan 1 gaya di tengah. Gaya kepemimpinan Managerial Grid dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.2 Managerial Grid
Tinggi
K a r y a w a n
Rendah Tinggi
Sumber: Jerald Greenberg dan Robert A. Baron (2000); Behavior in Organization: Understanding and Manging the Human Side of Work (New Jersey, Prentice Hall, Inc:
455).
Namun teori ini memberi penekanan dengan dibatasi pada 5 macam gaya, terdiri dari 4 gaya berada di sudut dan 1 gaya di tengah.
Gaya kepemimpinan Managerial Grid dapat dilihat pada gambar berikut:
Pada Grid 1.1:
Pemimpin sangat sedikit memikirkan karyawan dan produksi yang dihasilkan. Kepemimpinan djalankan hanya dengan menyampaikan informasi dari pimpinan sebagai atasan kepada anggotanya. Blake dan Mounton menyebut gaya/perilaku kepemimpinan ini adalah manajemen miskin (improverished management).
Pada Grid 9.9:
Pemimpin memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam memikirkan anggota dan mewujudkan produktivitas yang tinggi.
Pemimpin merencanakan semua kegiatan yang dihubungkan dengan kondisi anggota untuk mewujudkan dedikasinya pada produktivitas organisasi. Pemimpin memiliki kemampuan memadukan kebutuhan produksi dengan kebutuhan anggota organisasi. Blake dan Mounton menyebut gaya ini disebut tim manajemen (management team).
Pada Grid 1.9:
Gaya kepemimpinan menunjukkan tanggung jawab yang tinggi dalam memikirkan dan mengikutsertakan anggota organisasi, sedang pemikiran terhadap produktivitas rendah.
Pemimpin ini disebut pimpinan klub berakhir pekan (week end) bagi para manajer yang berlokasi di desa (country club manage- ment). Pemimpin menunjukkan perilaku dengan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi semua anggota organisasi, sehingga dapat bekerja dengan santai, bersahabat, berbahagia. Produktivitas organisasi kurang diperhatikan.
Pada Grid 9.1:
Perilaku/gaya kepemimpinan ditampilkan dengan mem- berikan perhatian besar pada produktivitas, sedang perhatian pada anggota rendah. Kepemimpinan ini disebut manajemen tugas atau otoriter (task or authoritarian management). Tuntutan pemimpin sangat tinggi pada efisiensi dan efektivitas kerja untuk mewujudkan produktivitas yang tinggi.
Pada grid 5.5:
Pemimpin memikirkan secara berimbang baik anggota organisasi maupun produktivitas. Pemimpin tidak menetapkan target ang terlalu tinggi yang tidak dapat dicapai, tetapi tetap mendorong anggota agar bekerja secara produktif.
Dari ketiga penelitian (Universitas OHIO, Michigan, Managerial Grid) orientasi pemimpin dapat diringkas dalam tabel berikut:
Tabel 3.1
Fokus Studi Orientasi Pemimpin Studi Orientasi pada
Orang Orientasi pada Tugas OHIO State
University
Consideration (pertimbangan)
Initiating Structure (Inisiasi Struktur) University of
Michigan
Employee-Centered (Terpusat pada Bawahan)
Job-Centered
(Terpusat pada Tugas)
Managerial Grid (Oleh Blake dan Mountan)
Concern for People (Perhatian pada orang)
Concern for Production (Perhatian pada Produksi)
Sumber: Greenberg dan Baron, 2000
Empat Sistem Manajemen Likert
Rensis Likert dalam Fred Luthans (1995: 377) membagi gaya kepemimpinan menjadi 4 sistem:
Sistem I : Exploitative Autocratic
Gaya kepemimpinan ditunjukkan oleh pemimpin sebagai pihak yang berhak menyelesaikan masalah-masalah organisasi, dengan berperilaku sebagai satu-satunya pengambil keputusan dan memberikan perintah yang harus dilaksanakan oleh anggota. Pimpinan tidak melimpahkan sedikitpun wewenang pada anggota. Bawahan tidak bebas dalam berdiskusi dengan atasan karena sebagai pimpinan tidak boleh dikritik, jarang sekali menerima gagasan maupun kreativitas dari anggota.
Sistem II: Benovolent Autocratic
Gayai ni ditunjukkan mulai memberikan kesempatan pada anggota untuk menyampaikan komentar terhadap keputusan/
perintah atasan. Wewenang berada sepenuhnya pada atasan, sehingga gagasan kadang diterima dan sering kali ditolak.Kondisi ini terjadi karena diskusi bebas dengan pimpinan sebagai atasan dalam menyelesaikan masalah pekerjaan / organisasi tidak dapat dilaksanakan.
Sistem III: Participative
Gaya ini ditunjukkan dengan memberikan kesempatan pada anggota ikut serta dalam menetapkan tujuan, membuat keputusan dan mendiskusikan perintah-perintah. Pemimpin bersedia menerima kritik dan masukan, anggota berkesempatan untuk berkonsultasi. Pimpinan memberikan kepercayaan pada anggota dengan melimpahakan sebagian wewenang dan tanggung jawab di bidang kerja anggota masing-masing.
Sistem IV: Democratic
Gaya ini ditunjukkan dengan melakukan pemecahan masalah pekerjaan/organisasi antara pemimpin dengan anggota.
Pemimpin selalu mempercayai anggota, sehingga sebelum membuat keputusan selalu didahului dengan menghimpun dan mempertimbangkan pendapat anggota. Pemimpin berusaha
keras mencapai suasana yang saling mendukung, menghormati, dan menetapkan masalah organisasi sebagai masalah bersama dan harus diselesaikan bersama pula.
D. TEORI KONTINGENSI (CONTINGENCY THEORIES) ATAU