• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Efficient Market Hypothesis

Dalam dokumen SKRIPSI - IBS Repository (Halaman 30-36)

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Efficient Market Hypothesis

Random walk theory adalah gagasan bahwa harga saham berubah secara acak dan tidak bisa diprediksi (Bodie, Kane, Marcus, dan Jain, 2014:354). Fama (1970) mempelopori munculnya teori efficient market hypothesis. Teori ini telah banyak dijadikan sebagai dasar berbagai penelitian tentang anomali pasar.

Fama (1970) dalam Afriani (2017) mengemukakan bahwa dalam suatu pasar yang efisien, harga akan “sepenuhnya mencerminkan” informasi yang tersedia dan sebagai implikasinya harga akan bereaksi dengan seketika tanpa adanya bias terhadap informasi baru. Bodie et al. (2014:355) mendefinisikan hipotesis pasar efisien adalah hipotesis bahwa harga sekuritas secara penuh mencerminkan informasi tersedia tentang sekuritas. Adapun pasar efisien yaitu pasar dimana harga sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia (Tandelilin, 2010:219).

Lebih jelas lagi didefinisikan oleh McMillan et al. (2011) dalam Sari dan Wibowo (2014) bahwa pasar yang efisien adalah pasar dimana harga secara penuh mencerminkan informasi di masa lalu dan saat ini ; pasar dimana harga merefleksikan informasi baru dengan cepat dan rasional. Jika hipotesis pasar efisien itu benar, maka investor akan bereaksi terhadap

perubahan harga temporer dan membuat perubahan di dalam portofolionya (Rose dan Marquis, 2008 dalam Sari dan Wibowo, 2014)

Fama (1970) dalam Tandelilin (2010:223), mengklasifikasikan bentuk pasar yang efisien ke dalam tiga efficient market hypothesis (EMH), sebagai berikut :

1. Efisiensi dalam Bentuk Lemah (Weak Form)

Pasar efisien dalam bentuk lemah berarti semua informasi di masa lalu (historis) akan tercermin dalam harga yang tebentuk sekarang.

Implikasinya adalah investor tidak akan bisa memprediksi nilai pasar saham di masa datang dengan menggunakan data historis.

2. Efisiensi dalam Bentuk Setengah Kuat (Semi-strong Form)

Pasar dalam bentuk setengah kuat berarti harga pasar saham yang terbentuk sekarang telah mencerminkan informasi historis ditambah dengan semua informasi yang dipublikasikan. Pada pasar efisien setengah kuat, return tak normal hanya terjadi di seputar pengumumam (publikasi) suatu peristiwa sebagai representasi dari respons pasar terhadap pengumumam tersebut.

3. Efisiensi dalam Bentuk Kuat (Strong Form)

Pasar efisien dalam bentuk kuat berarti harga pasar saham yang terbentuk sekarang telah mencerminkan informasi historis ditambah semua informasi yang dipublikasikan ditambah dengan informasi yang tidak dipublikasikan. Pada pasar efisien bentuk kuat tidak aka nada seorang investor pun yang bisa memperoleh return tak normal.

2.1.2 Teori Perilaku Keuangan

Dasar pemikiran perilaku keuangan adalah teori keuangan konvensional yang mengabaikan bagaimana sebenarnya orang-orang membuat keputusan dan orang-orang membuat perbedaan (Bodie et al., 2014:392). Perilaku keuangan yaitu dimana psikologi investor diuji dalam upaya untuk menentukan kenaikan atau penurunan harga saham yang tidak beralasan (irasional) (Brigham, Houston, Chiang, Lee, dan Arrifin, 2010:5).

Bodie et al. (2014:410), menambahkan bahwa fokus perilaku keuangan yaitu pada “systematic irrationalities that characterize investor decision making”.

Dapat dikatakan bahwa perilaku keuangan melihat karakteristik yang irasional dalam pengambilan keputusan.

Perilaku keuangan seringkali dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut antara lain (Bodie et al., 2014:392-393) :

1. Forecasting Errors, orang-orang cenderung mempercayai pengalaman baru dibandingkan apa yang dipercayai sebelumnya saat membuat keputusan dan cenderung membuat perkiraan yang terlalu ekstrim mengingat ketidakpastian yang melekat pada informasi yang didapatkan.

2. Overconfidence, orang-orang cenderung overestimate terhadap ketepatan ramalan dan kemampuan mereka.

3. Conservatism, orang-orang terlalu lambat untuk mengubah keyakinannya dalam merespon bukti baru.

4. Sample Size Neglect and Representativeness, orang-orang umumnya tidak memperhitungkan ukuran sampel, bertindak seolah-olah sampel kecil merupakan gambaran dari populasi secara besar.

2.1.3 Teori Attention

Perhatian adalah proses kognitif untuk secara selektif fokus kepada satu lingkup aspek dan mengabaikan hal lain diluar lingkup aspek tersebut (Anderson, 2015:76-77). Ketika manusia melakukan pencarian, mereka akan menunjukkan perhatian secara intens pada proses pencarian (Anderson, 2015:62). Manusia sebagai investor yang memiliki kemampuan kognitif yang terbatas memerlukan waktu dan usaha untuk mengumpulkan dan menerima informasi, hal ini terjadi karena adanya keterbatasan kapasitas otak manusia sehingga menyebabkan investor hanya fokus terhadap hal yang mendapat perhatiannya dan mengabaikan hal diluar hal tersebut (Kahneman, 1973 dalam Afriani, 2017).

Merton (1987) dalam Aouadi, Arouri, dan Teulon (2013) memperkenalkan konsep perhatian investor dan mengusulkan bahwa perhatian investor mungkin relevan untuk harga saham. Seseorang yang fokus mencari dan mengumpulkan informasi terkait suatu hal, menunjukkan bahwa ia menaruh perhatian terhadap hal tersebut.

2.1.3.1 Google Search Volume

Secara intuitif, ketika seseorang me-googling sesuatu, maka ia menaruh perhatian terhadap hal tersebut (Da et al., 2011 dalam Aouadi et al., 2013). Da et al. (2011) menemukan bahwa Google Search Volume (GSV) sebagai proksi investor attention dapat mengkuantifikasikan ketertarikan investor. GSV disajikan oleh salah satu fitur Google yang disebut dengan Google Trends. Google Trends adalah alat publik yang menyajikan data volume penelusuran yang di normalisasi dan diperkecil untuk pencarian tertentu (Choi & Varian, 2012). Volume pencarian aktual di normalisasi oleh total volume pencarian seluruh kata kunci (Aouadi et al., 2013). Google Trends mengkalkulasi tingkat pencarian berdasarkan setiap kata yang digunakan (Perlin et al., 2016). Setiap poin data pencarian di bagi dengan total pencarian dalam suatu geografi dan jangka waktu tertentu. Hasil pencarian menunjukkan proporsi dari seluruh pencarian pada seluruh topik di Google dalam waktu dan wilayah yang sama.1 Oleh karena itu, penurunan nilai GSV tidak selalu berarti pengurangan dalam jumlah absolut, namun dapat diartikan pula bahwa popularitas terhadap suatu pencarian menurun dari waktu ke waktu (Aouadi et al., 2013). Google Trends mempersilahkan pengguna untuk menyaring volume pencarian (misalnya di suatu negara atau industri) untuk

1Medium.com. “What is Google Trends Data – and What Does It Mean?” , tersedia di https://medium.com/google-news-lab/what-is-google-trends-data-and-what-does-it-mean- b48f07342ee8

memperoleh hasil yang lebih jelas (Bank, Larch & Peter, 2011).

Penyaringan ini mengurangi tingkat kesalahan volume pencarian.

Alasan GSV sebagai proksi Investor Attention yaitu karena popularitas Google sebagai sumber mesin pencari untuk mengumpulkan informasi dan juga kapabilitasnya untuk menangkap perhatian publik yang mana tidak tertangkap oleh berita-berita (Sari dan Wibowo, 2014). Penelitian Da et al. (2011) menunjukkan bahwa GSV lebih efisien dibanding ukuran pasif perhatian yang pernah digunakan sebelumnya (Aouadi et al., 2013).

2.1.4 Teori Signaling

Brigham et al. (2010:473) menyatakan bahwa setiap orang (investor maupun manajer) memiliki informasi yang sama mengenai prospek perusahaan, hal ini disebut symmetric information. Pada kenyataannya, manajer seringkali memiliki informasi yang lebih baik daripada investor, hal ini disebut asymmetric information.

Teori Signaling adalah teori yang menyatakan bahwa laporan keuangan yang baik yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat dijadikan tanda bahwa perusahaan telah beroperasi dengan baik (Sunardi, 2010 dalam Alexander dan Destriana, 2013). Teori signaling menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar yang berupa informasi, dengan demikian pasar diharapkan dapat

membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk (Arista dan Astohar, 2012).

Agar sinyal tersebut efektif, maka harus dapat ditangkap pasar dan dipersepsikan dengan baik, serta tidak mudah ditiru oleh perusahaan yang berkualitas buruk (Megginson, 1987 dalam Ansor, 2009). Sinyal informasi sangat dibutuhkan oleh investor untuk menentukan strategi investasi, dalam hal ini portofolio investasi.

Dalam dokumen SKRIPSI - IBS Repository (Halaman 30-36)

Dokumen terkait