Tabel 4.5 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian KEK di Puskesmas Gekbrong
Asupan Gizi
Kejadian KEK
Risiko KEK Normal Pvalue Total
F % f % F %
Cukup 24 63,2 14 36,8
0,012 38 100
Berdasarkan hasil uji Chi Square menunjukkan nilai sign atau p- value sebesar 0,012 < α 0,05 maka H0 ditolak sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejaidan KEK di Puskesmas Gekbrong.
B. Pembahasan
1. Tingkat Pendidikan Ibu Hamil Di Puskesmas Gekbrong
Hasil penelitian didapatkan Pendidikan ibu yang paling banyak yaitu pada pendidikan rendah merupakan ibu yang tidak sekolah/tidak lulus SD/ tamat SD yaitu sebanyak 43 ibu hamil (52,4%). Pendidikan ibu yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi resiko KEK, pendidikan ibu merupakan salah satu indikator derajat kesehatan dalam suatu wilayah hal ini karena ibu hamil dengan pendidikan tinggi lebih baik dalam pola asuh, pemilihan jenis makanan dan berpeluang memiliki akses kesehatan yang memadai sehingga resiko KEK pada anak seperti anak BBLR dan stunting dapat terhindarkan.19
Latar belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi status kesehatan dan gizi, karena seringkali masalah kesehatan dan gizi timbul karena ketidaktahuan atau kurang informasi tentang kesehatan dan gizi yang memadai. Faktor penyebab ibu hamil yang kurang energi kronis mayoritas berpendidikan rendah dan minoritas adalah yang berpendidikan tinggi.
Akibat dari rendahnya pengetahuan dari ibu hamil tidak jarang kehamilan banyak menimbulkan adanya kematian baik pada ibu maupun pada bayi yang dilahirkan atau bahkan kedua-duanya. Penyebab kematian maternal dapat di bagi dalam beberapa masalah, yang antara lain adalah masalah reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosial ekonomi dsb. Tingkat pendidikan dari ibu yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan termasuk di dalamnya tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan (Ida Bagus G, 2002). Salah satu faktor yang banyak memberi pengetahuan pada manusia adalah pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Tidak adanya pendidikan pada seseorang dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan. Demikian juga dengan ibu hamil yang tidak mengalami atau memperoleh pendidikan tentu saja akan berakibat pada kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilannya tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukan mayoritas tingkat pendidikan ibu pada tingkat Pendidikan rendah sehingga pengetahuan dan pengalaman
ibu untuk mendaptkan informasi tentunya sangat kurang. Hasil ini sejalan dengan penelitian Lia (2021) bahwa terdapat hubungan antara Pendidikan ibu dengan kejadian KEK. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Harismayanti yang dimana Pendidikan rendah didapatkan paling banyak yaitu 38 (20,0%) hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara Pendidikan dengan kejadian KEK pada ibu hamil.20,21
Menurut asumsi peneliti apabila semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah juga mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikanya rendah, makan akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai nilai yang baru diperkenalkan.
2. Asupan Gizi Ibu Hamil Di Puskesmas Gekbrong
Hasil penelitian didapatkan hasil bahwa status gizi ibu hamil paling banyak dalam status gizi kurang yaitu sebanyak 44 (53,7%). Status kesehatan gizi dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi hingga dapat memperlihatkan keadaan gizi seseorang. Ibu hamil yang merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah gizi diharapkan bahwa nutrisi selama masa kehamilan dapat terpenuhi agar dapat terhindar dari permasalahan gizi kehamilan yaitu Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan Anemia.
Asupan energi yang kurang dari hasil penelitian akan berdampak pada kurangnya ketersediaan zat gizi lainya seperti lemak dan protein
yang merupakan sumber energi alternatif. Apabila tubuh kekurangan kandungan energi, maka protein dan lemak akan mengalami perubahan untuk menjadi sumber energi, sehingga kedua zat ini akan menurun fungsinya. Apabila ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka akan terjadi perubahan berat badan dan kerusakan jaringan tubuh. Energi dalam tubuh manusia dapat timbul karena adanya pembakaran karbohidrat, protein, dan lemak, sehingga manusia membutuhkan zat-zat makanan yang cukup untuk memenuhi kecukupan energinya. Apabila asupan energi tidak adekuat, maka cadangan lemak dalam tubuh akan digunakan.
Bila cadangan lemak digunakan secara terus menerus, maka protein yang terdapat pada hati dan otot akandiubah menjadi energi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya deplesi masa otot yang ditandai dengan pengukuran lingkar lengan atas <23,5cm sehingga KEK dapat terjadi apabila asupan energi rendah secara terus menerus.22
Dalam sebuah Permenkes Nomor 75 Tahun 2013 disebutkan tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia memberi panduan tentang angka kebutuhan gizi berdasarkan jenis kelamin dan umur. Kebutuhan zat gizi yang akan meningkat selama kehamilan di antaranya adalah kebutuhan energi. Pertambahan kebutuhan energi utamanya terjadi pada trimester II dan III. Penambahan konsumsi energi pada trimester II diperlukan untuk pertumbuhan jaringan ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara,
serta penumpukan lemak. Adapun penambahan konsumsi energi sepanjang trimester III digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.
Oleh karena itu, jika kebutuhan gizi ibu hamil tidak terpenuhi, maka dapat terjadi masalah gizi pada ibu hamil. Masalah gizi yang dialami ibu hamil dapat mengganggu kesehatan ibu dan janin, sehingga pemenuhan gizi pada ibu hamil menjadi penting. Masalah gizi yang timbul pada ibu hamil saat ini masih banyak ibu hamil di Indonesia yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronik (KEK) dan anemia. Selain itu masalah gizi pada ibu hamil yang lain adalah gangguan akibat kekurangan yodium.
Ibu hamil membutuhkan tambahan energi, protein, vitamin, dan mineral untuk mendukung pertumbuhan janin dan proses metabolisme tubuh. Sebuah kajian penelitian menyampaikan masalah yang sering terjadi pada ibu hamil yaitu tidak menyadari adanya peningkatan kebutuhan gizi selama kehamilan. Ibu bisa mengkonsumsi roti gandum, kacang-kacangan, sayuran, buah, daging sapi tanpa lemak, ikan, daging ayam, daging domba, tahu, dan hati sapi.
Berdasarkan hasil penelitian Ahmad (2020) dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi ibu hamil pada asupan energi dan protein dengan kejadian KEK. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Ernawati dan Rahayu (2013) di Tanjung Pinang yang menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara status gizi dengan KEK.22,23,24
Menurut asumsi peneliti bahwa asupan energi yang kurang tentunya akan berdampak pada kurangnya ketersediaan zat gizi lainya seperti protein yang merupakan sumber energi alternatif sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya KEK.
3. Kejadian KEK Ibu Hamil Di Puskesmas Gekbrong
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kejadian KEK paling banyak mengalami risiko KEK sebanyak 38 responden (58,5%). Kurang Energi Kronis (KEK) merupakan keadaan ibu menderita kekurangan gizi yang berlangsung menahun (kronis) mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan sehingga kebutuhan zat gizi yang semakin meningkat tidak terpenuhi. World Health Organization menyatakan bawa prevalensi KEK sebesar 35-75%, yang didominasi oleh negara berkembang.25,36
KEK pada ibu hamil meningkatkan mortalitas dan morbiditas dengan hasil yang merugikan seperti anak dengan berat lahir rendah dan anak lahir premature, dampak jangka panjang anak akan mengalami stunting yang mampu mempengaruhi kualitas dan produktivitas individu dimasa mendatang pada suatu wilayah, dengan mengatasi KEK maka dapat memutuskan salah satu dari masalah gizi antar generasi.27
Kurang energi kronis (KEK) merupakan masalah yang belum terpecahkan saat ini. Banyak faktor yang sulit di atasi pada masalah KEK.
Apabila masalah ini tidak cepat ditangani, KEK akan berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih lanjut dapat berakibat kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan
kecerdasan, menurunkan produktivitas serta meningkatkan angka kematian ibu, angka kesakitan dan bayi berat lahir rendah (BBLR).28
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian KEK pada ibu hamil, diantaranya: paritas, umur, jarak dengan kehamilan sebelumnya, frekuensi Antenatal Care (ANC), pendidikan, dan status sosial ekonomi. Penelitian yang dilakukan oleh RS Renjani (2017) menunjukkan bahwa kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil dipengaruhi oleh Pendidikan yang rendah. Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian KEK, yang dilakukan oleh Teguh, dkk (2019) diketahui bahwa faktor terjadinya KEK pada ibu hamil adalah sosial ekonomi, umur, dan jarak kehamilan. Sedangkan faktor-faktor yangmempengaruhi status gizi ibu hamil, diantaranya: keadaan sosial ekonomi pada saat hamil, derajat atau berat ringannya pekerjaan yang bersifat fisik, dan asupan makanan, serta pernah tidaknya menderita penyakit infeksi atau menular.29,30
4. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian KEK di Puskesmas Gekbrong
Berdasarkan hasil penelitian dari 82 responden didapatkan sebanyak 43 responden (52,4%) dengan Pendidikan rendah. Hasil Uji chi square didapatkan hasil bahwa 27 (62,8%) ibu dengan Pendidikan rendah berisiko mengalami KEK. Pada hasil uji SPSS dengan analisis Chi square didapatkan hasil p-value sebesar 0,016<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara Pendidikan ibu dengan kejadian KEK. Hal ini sejalan
dengan penelitian Rini dalam penelitianya menyakatan ada hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan kejadian KEK pada Ibu Hamil di Puskesmas Talang Banjar Kota Jambi.23
Tingkat Pendidikan seseorang dapat mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan yaitu semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pengetahuan seseorang karena pendidikan yang tinggi mempermudah ibu menerima informasi baru sehingga tidak akan acuh terhadap informasi Kesehatan. Berdasarkan Notoadmodjo (2013) bahwa faktor penyebab dari ibu hamil yang kurang energi kronis mayoritas berpendidikan rendah dan minoritas adalah yang berpendidikan tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerim informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikanya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai nilai yang baru diperkenalkan. Pendidikan paling banyak sekolah menengah pertama sehingga pengetahuan dan pengalaman kurang.31,32
Hasil ini juga sejalan dengan rafii hanafi (2022) dalam hasil penelitianya menyebutkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian KEK (p<0,05). Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lia Idealistiana (2021) yang menyatakan bahwa ada faktor antara pendidikan ibu (0,002) dengan kekurangan energy kronik pada ibu hamil di Puskesmas Danau indah dengan nilai
p<0,05. Hasil penelitian juga sejalan dengan Harismayanti (2021) dengan nilai ρ value sebesar 0,003 sehingga terbukti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Pendidikan dengan kejadian KEK pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto. Hasil penelitian Gumiarti (2022), tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingkat penerimaan dan pemahaman terhadap suatu objek ataumateri yang dimanifestasikan dalam bentuk pengetahuan. Semakin tinggi jenjang tingkat tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingkat penguasaan terhadap materi yang harus dikuasai sesuai dengan tujuan dan sasaran.
Pengetahuan yang adekuat, akan membuat seseorang mampu mengambil keputusan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan.33
Berdasarkan asumsi peneliti bahwa pendidikan rendah merupakan suatu faktor resiko terjadinya KEK karna jika seseorang dengan Pendidikan yang rendah, maka menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai nilai yang baru diperkenalkan seperti KEK karena melalui proses pembelajaran selama menempuh Pendidikan formal, ibu menjadi terbiasa untuk mencari referensi yang baik dan terlatih berfikir rasional dan realistis. Asumsi ini sejalan dengan penelitian Serbesa et al. yang menjelaskan bahwa tingkat pendidikan merupakan salah satu sumber daya terpenting yang memungkinkan ibu dan keluarga untuk memberikan perawatan yang tepat untuk ibu hamil. Pendidikan selain untuk memberikan perawatan dan
pencegahan penyakit, pendidikan merupakan faktor penting dalam promosi Kesehatan.34,35
5. Hubungan Asupan Gizi Ibu dengan Kejadian KEK di Puskesmas Gekbrong
Berdasarkan hasil penelitian dari 82 responden didapatkan sebanyak 44 (53,7%) dengan status gizi kurang. Hasil analisis didapatkan bahwa 24 (54,5%) ibu dengan status gizi kurang berisiko mengalami KEK. Pada hasil uji SPSS dengan analisis Chi square didapatkan hasil p- value sebesar 0,012<0,05 yang berarti terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian KEK.
Hal ini sejalan dengan penelitian Juraida (2019) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan makanan terhadap ibu yang mengalami KEK dengan hasil (P-Value 0,002). Dalam hal ini, asupan makanan berupa energi mempengaruhi kejadian KEK pada ibu hamil, asupan makanan seharihari dari ibu hamil dapat dipengaruhi juga dengan pengetahuan ibu terhadap gizi dan permasalahannya sangat berpengaruh terhadap status gizi keluarga, ibu hamil yang memiliki pengetahuan yang baik akan mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan janinnya baik dari segi kualitas dan kuantitas. Selain itu, pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu upaya preventif dalam kejadian patologi pada kehamilan yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap Kesehatan.36,37
Patofisiologi penyakit gizi kurang terjadi melalui lima tahapan yaitu: pertama, ketidakcukupan zat gizi. Apabila ketidakcukupan zat gizi ini 10 berlangsung lama maka persediaan/ cadangan jaringan akan digunakan untuk memenuhi ketidakcukupan itu. Kedua, apabila ini berlangsung lama, maka akan terjadi kemerosotan jaringan, yang ditandai dengan penurunan berat badan. Ketiga, terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Keempat, terjadi perubahan fungsi yang ditandai dengan tanda yang khas. Kelima, terjadi perubahan anatomi yang dapat dilihat dari munculnya tanda klasik. Proses terjadinya KEK merupakan akibat dari faktor lingkungan dan faktor manusia yang didukung oleh kekurangan asupan zat-zat gizi, maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Apabila keadaan ini berlangsung lama maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya terjadi kemerosotan jaringan
Ibu yang asupan makanannya kurang dapat diindikasikan bahwa tidak tercukupi kebutuhan nutrisinya sehingga berpeluang memiliki status gizi kurang. Secara umum, kurang gizi pada ibu dikaitkan dengan kemiskinan, ketidakadilan gender, serta hambatan terhadap akses terhadap berbagai kesempatan dan pendidikan. Kurang gizi juga banyak dikaitkan dengan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang adekuat, tingginya fertilitas dan beban kerja yang tinggi.
Penelitian ini sejalan dengan Penelitian yang telah dilakukan oleh Erma Adhiyati (2013) tentang Hubungan Pengetahuan dan Asupan Gizi
Terhadap Kejadian KEK Pada Ibu Hamil di Kecamatan Terbanggi Besar yang menyatakan bahwa ada hubungan antara asupan energi (p = 0,005) dengan kejadian KEK pada ibu hamil. Sedangkan hasil penelitian dari Gotri Marsedi S, dkk (2016) dapat diketahui bahwa dari 74 orang ibu hamil yang diteliti diperoleh asupan energi yang kurang (<80% AKE) pada responden sebanyak 71,6% sedangkan pada kategori asupan energi yang baik ( 80-100% AKE) adalah 28,4%. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irani (2021) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan kejadian KEK pada ibu hamil diTalise Palu.38,39,40,41
Dalam penelitian ini terdapat 63,2% (24 orang) ibu hamil dengan status gizi cukup namun berisiko KEK kemudian tidak mengalami KEK tetapi memiliki asupan makanan yang kurang sebesar 45,5 (20 orang). Hal ini dapat terjadi karena ibu hamil tidak mengetahui angka kecukupan gizi yang dibutuhkan selama kehamilan. Selain itu, ibu juga masih memiliki kebiasaan makan yang sama seperti kondisi sebelum hamil, padahal kebutuhan makanan ibu hamil 3 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.
Jika kebiasaan ini berlangsung lama maka ibu hamil akan berisiko mengalami KEK.
Hal ini sejalan dengan Kemenkes (2017) yang mengatakan bahwa keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil sangat berpengaruh terhadap status gizi ibu dan calon bayi. Perkembangan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh asupan gizi ibu, karena kebutuhan gizi janin berasal dari
ibu. Ibu hamil dengan status gizi buruk atau mengalami KEK cenderung melahirkan bayi BBLR dan dihadapkan pada risiko kematian yang lebih besar dibanding dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan berat badan yang normal. Berbagai risiko bisa terjadi jika ibu mengalami gizi kurang, diantaranya adalah perdarahan, abortus, bayi lahir mati, bayi lahir dengan berat rendah, kelainan kongenital, retardasi mental, dan lain sebagainya.