• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Tinjauan Pustaka 1. Penelitian yang relevan

Kendati perbedaan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, seperti telah diuraikan tidak berarti bahwa penelitian ini bertentangan dengannya. Bahkan, boleh dika tidakan tidak berarti bahwa penelitian ini bersifat melengkapi sekaligus memperkaya khasanah penelitian yang telah ada, khususnya penelitian yang berhubungan nilai pendidikan yang telah dilakukan olh beberapa peneliti sebelumnya.

Peneliti yang perna mengkaji nilai pendidikan antara lain, pertama Ni Kadek Parmini dkk. Dalam penelitian yang berjudul “Nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya Pada Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata”.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa novel Sang Pemimpi terkandung nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya, yaitu nilai pendidikan religius, moral, sosial, dan budaya. Dalam novel ini juga terkandung bentuk penyampaian nilai pendidikan. Nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya yang paling banyak ditemukan adalah nilai pendidikan sosial.

Kedua, Herlianingsih dalam penelitian yang berjudul “Nilai-Nilai Moral Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy”. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Novel Ayat-Ayat Cinta ini menjelaskan bahwa novel

Sang Pemimpi terkandung nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya, yaitu nilai pendidikan Nilai moral religius sosial dan budaya yaitu cara berprilaku dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari agar menjadi jati diri yang baik dan bisa menjadi contoh kepada orang lain dan sifat itu harus tertanam kepada setiap individu agar memiliki kehidupan yang baik.

Ketiga, Sabarani. dalam penelitian yang berjudul “Nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya Karakter Dalam Novel Laskar Pelangi”

Karya Andrea Hirata Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Hasil penelitian menunjukkan nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yakni nilai religius, nilai jujur, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai demokratis, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai komunikatif, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab.

Dari uraian tersebut terdapat persamaan hasil penelitian relevan di atas, yaitu mengkaji nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya dengan judul novel yang berbeda, Penelitian ini bersifat kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu isi. Penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang menjadi masalah, kemudian mengdan menafsirkan data yang ada. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah

yang menjadi sumber data, sedang isi catatan, subjek penelitian atau variabel penelitian. Teknik yang digunakan dalam mengdata yaitu mengalir dengan di awali reduksi data.

Selain itu, perbedaan pada hasil penelitian di atas adalah penggunaan teori, Novel Sang Pemimpi, nilai pendidikan yang digunakan adalah nilai sosial, (Rosyadi, 1995: 80) Nilai sosial yang ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan.

sedangkan dalam Novel Ayat-Ayat Cinta hasil penelitian menemukan adalah nilai religius, (Rosyadi, 1995: 90). Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995: 90), dan novel Laskar Pelangi hasil penelitian menemukan nilai budaya Uzey (2009: 1) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu dalam novel yang berbeda.

2. Nilai Pendidikan a) Definisi Nilai

Suatu nilai dikatakan tidakan memiliki nilai pendidikan apabila mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga menggejala dalam prilaku lahiriahnya. Tarigan (1985:194) menurutnya ada lima nilai dalam menginterpretasi sebuah karya sastra sebagai produk

dari proses pendidikan. Diantaranya : nilai hedonik, nilai artistik, nilai kultural, nilai etis-moral-religius, dan nilai praktis

Nilai merupakan potensi diri menjadi nyata, potensi ini misalnya kemampuan untuk menjadi rasional, bermoral, mencari pencerahan dan penerangan akal budi. Menurut Latif (2009:73) ada beberapa cara dalam memperoleh nilai yaitu pertama, pencarian kebenaran dan keutamaan melalui filsafat, yakni melaui cara berfikir kontemplatif. Filsafat ini mengoptimalkan fungsi nalar untuk dapat menemukan makna yang tidak terjelaskan oleh ilmu pengetahuan. Kedua, nilai dapat diperoleh melalui paradigma berpikir logis-empiris. Nilai yang diperoleh melalui jalan ini banyak mengungkapkan kebenaran teoretik karena ditempuh melalui cara berpikir ilmiah. Ketiga, nilai melalui hati dan fungsi rasa, cara ini tidak lagi menyer tidakan pertimbangan logis (filsafat) atau logis-empiris (ilmu pengetahuan). Model dalam nilai ini dilakukan dengan cara pengembaraan batin pada wilayah supra-logis. Tipe nilai dapat dibedakan menjadi nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai akhir yang menjadi tujuan, sedangkan nilai intrumen adalah sebagai alat untuk mencapai nilai intrinsik. Nilai juga mempunyai suatu kriteria. Maksud kriteria nilai adalah sesuatu yang menjadi ukuran dari nilai tersebut, bagaimana dika tidakan nilai yang baik dan tidak baik (Sadulloh, 2011:37).

Ada beberapa karakteristik yang berkaitan dengan nilai, yaitu:

i. Nilai objektif atau subjektif

Suatu nilai dikatakan tidakan objektif apabila nilai tersebut memiliki kebenarannya tanpa memperhatikan pemilihan dan penilaian manusia.

Nilai benar, baik dan indah merupakan bagian dari sifat yang dimiliki oleh tindakan atau benda tersebut. Nilai dika tidakan subjektif apabila nilai tersebut memiliki preferensi pribadi atau tanggapan dan penilaian dari seseorang. Sesuatu dianggap bernilai baik, benar atau indah bukan karena dalam dirinya melainkan karena penilaiaan dari seseorang.

ii. Nilai absolut atau berubah

Suatu nilai dika tidakan absolut atau abadi apabila nilai tersebut sudah berlaku sejak lama dan akan berlaku sepanjang waktu tanpa memperhatikan latar belakang atau kelas sosial manapun. Contoh dari nilai ini adalah nilai kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Nilai juga dapat berubah apabila nilai menemukan sesuatu yang baru seperti ajaran baru, penemuan baru, kemajuan teknologi dan lain-lain. Hal ini karena nilai dapat diperoleh dari suatu pengalaman dalam masyarakat.

Pendekatan terhadap nilai adalah cara empiris berdasarkan pengalaman manusia khususnya kegiatan sehari-hari. Nilai muncul dari keinginan, dorongan dan perasaan serta kebiasan manusia sesuai dengan wa tidak manusia sebagai kesatuan antar faktor biologis dan faktor sosial dalam diri dan kepribadiannya (Sadulloh, 2011:124). Nilai adalah suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai

suatu wujud dalam perilaku manusia sebagai suatu pengetahuan dan suatu ide. Suatu pengetahuan dan ide dapat dika tidakan benar ketika mengandung kebaikan dan bermanfaat bagi manusia untuk penyesuaian diri dalam suatu lingkungan tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dianggap baik dan tepat berupa pandangan dan keyakinan.

b) Definisi Pendidikan

Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek keperibadian manusia yang mencakup pengetahuannya, nilai dan sikapnya serta keterampilan. Pendidikan mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia menyangkut hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan dan keterampilan. Dengan pendidikan manusia ingin berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan serta memperbaiki nilai, hati nurani, perasaannya, pengetahuan dan keterampilan.

Pendidikan pada hakikatnya mencakup kegiatan mendidik, mengajar dan melatih. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan nilai-nilai. Pendidikan berlangsung seumur hidup.

Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya sampai tutup usia.

Pada hakikatnya pendidikan dianggap sebagai suatu usaha dalam mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Pendidikan adalah bagian dari kebutuhan hidup, hal ini karena pendidikan dianggap sebagai alat yang berfungsi guna pembaharuan hidup. Selama manusia berusaha dalam meningkatkan kehidupannya baik dalam meningkatkan dan mengembangkan kepribadiannya, selama itulah pendidikan masih berjalan terus. Menurut Horne (dalam Danim, 2010:3) pendidikan adalah sebagai proses penyesuaian yang berlangsung secara terus-menerus bagi perkembangan intelektual, emosional dan fisik manusia.

Sementara Frederick J.McDonald (dalam Danim, 2010:4) mendefenisikan pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah perilaku manusia. Pendidikan sebagai suatu proses pengembangan potensi dasar manusia yang berkaitan dengan moral, intelektual, dan jasmaninya untuk mencapai tujuan hidup dalam kerangka sistem sosial (Brubacher dalam Danim, 2010:4). Menutut H.A.R.

Tilaar (dalam Latif, 2009:10) pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan. Berkesinambungan di sini mengasumsikan adanya interaksi dengan lingkungan yang mencakup lingkungan manusia, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan ekologinya. Dari uraian beberapa defenisi pendidikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan dalam membentuk

karakter dan jati diri seseorang dengan memperhatikan pengembangan sikap dan intelektual seseorang.

Pendidikan sebagai bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Tujuan yang ingin dicapai harus dinya tidakan secara jelas, sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai, maka prosesnya akan mengabur. Secara singkat tujuan pendidikan ialah beriman dan ber tidakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan dan keterampilan, menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur.

Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan pendidikan karena dengan memahami pendidikan manusia mampu memikirkan dan mencip tidakan norma untuk mengatur kehidupannya baik kehidupan individu maupun sekitarnya. Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan atau suatu sistem yang terpadu. Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah, pendidikan di mulai sejak seorang manusia lahir dan akan terus hingga manusia meninggal dunia sepanjang ia mampu menerima pengaruh- pengaruh. Proses pendidikan akan selalu berlangsung baik di tengah keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Dengan pendidikan manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya terhadap perbuatan susila dalam perilakunya.

Melalui penjelasan dari uraian defenisi nilai dan pendidikan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya adalah segala sesuatu hal baik maupun buruk yang berguna bagi kehidupan manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap atau perilaku dalam upaya mendewasakan diri melalui proses pengembangan intelektual secara berkesinambungan. Nilai pendidikan harus dihayati dan dipahami manusia sebab mengarah kepada kebaikan dalam berpikir atau bertindak sehingga dapat mengembangkan budi pekerti dan pikiran.

Terdapat ada empat nilai pendidikan sebagai berikut:

a. Nilai Pendidikan Religius

Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995: 90).

Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan religius dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan

yang bersumber pada nilai-nilai religius. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan personal.

Kehadiran unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005: 326). Semi (1993: 21) juga menambahkan, tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila paham akan kepercayaan atau religius yang mengilhaminya. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Nilai religius yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.

b. Nilai Pendidikan Moral

Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Hasbullah (2005:194) menya tidakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu ,masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.Uzey (2009: 2) berpendapat bahwa nilai

moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan sehari-hari.

Dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.

c. Nilai Pendidikan Sosial

Sosial berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat atau kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.

Nilai pendidikan sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang

harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Abram Maslow (2013:280) menyampaikan teorinya tentang kebutuhan bertingkat yakni kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Teori ini digunakan sebagai langkah awal dalam menemukan nilai pendidikan pada novel “Mendayung Impian” dan Novel

Ketika Mas Gagah Pergi” . Dengan mengaspek kebutuhan bertingkat tokoh Matari Anas dari pencapaian kebutuhan fisiologis, pencapaian kebutuhan rasa aman, pencapaian kebutuhan rasa cinta dan kebutuhan dalam mengaktualisasi diri diharapkan dapat membantu mengungkapkan nilai pendidikan dari tingkah laku dan sikap tokoh dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

d. Nilai Pendidikan budaya

Nilai-nilai budaya menurut Rosyadi (1995:74) merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada sutu masyarakat dan kebudayaannya.

Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. Uzey (2009: 1)

berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh- kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan. Sistem nilai budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan menata elemen- elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup.

Karena itu, suatu sisitem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dapat disimpulkan dari pendapat tersebut sistem nilai budaya menempatkan pada posisi sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan hanya dapat diungkapkan atau dinya tidakan melalui pengamatan pada gejala-gejala yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda- benda material sebagai hasil dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola. Adapun nilai-nilai budaya yang terkandung dalam novel dapat diketahui melalui penelaahan terhadap karakteristik dan perilaku tokoh-tokoh dalam cerita.

2. Pengertian Novel

Secara etimologi, novel berasal dari bahasa Latin novellus yang diturunkan dari kata novles yang berarti baru. Sedangkan secara istilah novel adalah sebagai salah satu jenis karya sastra dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahasa yang indah yang menimbulkan rasa seni pada pembaca.

Seperti yang dikemukakan oleh Sumardjo (1984: 3) yang menurutnya bahwa novel (sastra) adalah ungkapan pribadi manusia merupakan pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Pada istilah lain ada yang membelikan pengertian , novel berasal dari Italia. Yaitu Novella “berita”. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebahagian kehidupan pelau utamanya yang terpenting, paling menarik, dan mengandungi konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku.

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang menuliskan secara naratif:

biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel biasanya disebut novelis, novel lebig panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih konfleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan stuktural dan metrikal sandiwara atau sajak.

Umumnya sebuah novel bercerita tokoh-tokoh dan kelakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi yang aneh naratif tersebut.

Viergina Wolf dalam tarigan (1985:164) mengemukan bahwa novel adalah sebuah ekplotasi atau kronik kehidupan; merenung dan melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh, hasil, kehancuran, atau terciptanya gerak gerik manusia, demikian pula Broks dkk.Dalam Tarigan (1985:165) mengemukan bahwa novel harus memenuhi syarat: bergantung pada tokoh,menyajikan lebih dari satu efek, menyajikan lebih dari satu emosi.

Berbeda dengan Sumardjo, Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005: 9) mengungkapkan bahwa secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa novel merupakan cerita berbentuk prosa dalam ukuran luas yang menyajikan lebih dari objek berdasarkan struktur tertentu.

3. Jenis Novel

Dalam arti luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam unsur yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat diartikan cerita dengan plot (alur).

Namun, yang kompleks, suasana yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula. Namun ukuran luas disini juga mutlak demikian, mungkin yang luas hanya saah satu unsur fiksi saja, misalnya sedang karakter dan setting hanya satu saja.

Sumardjo (1984: 16) membagi novel itu atas tiga jenis, yaitu novel percintaan, novel petualangan dan novel fantasi. Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria seimbang, bahkan kadang-kadang peranan wanita lebih dominan pelakunya. Novel petualangan hanya dominasi hanaya kaum pria, karena tokoh didalamnya pria dengan sendirinya melibatkan banyak masalah lelaki yang tidak ada hubungannya dengan wanita. Novel fantasi bercerita tantang hal yang tidak logis yang tidak sesuai dengan keadaan dalam hidup manusia. Jenis novel ini mementingkan ide, konsep dan gagasan sastrawan hanya dapat jelas kalau diutarakan bentuk cerita fantastic, artinya menyalami hukum empiris, hukum pengalaman sehari-hari.

4. Unsur yang Membangun Novel

Novel sebagai karya fiksi, dibangun oleh berbagai unsur yang tidak boleh dipisahkan dari sebuah karya fiksi(novel). Secara garis besarnya novel di bangun oleh dua unsur yaitu; (1) unsur luar (ekstristik) dan (2) unsur dalam (intrestik). Unsur luar fiksi adalah segala macam yang berbeda di luar karya fiksi yang ikut mempengaruhi kehadiran karya tersebut, misalnya faktor sosial, ekonomi, kebudayaan, politik, kereligiusan dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat. Sedangkan struktur dalam fiksi adalah unsur yang membentuk fiksi tersebut seperti perwatakan, tema, plot/alur, pusat penghiasan, latar dan gaya bahasa. Kedua unsur di atas (luar-dalam), merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagai satu

struktur. Oleh karena itu, kedua unsur itu memengaruhi keseluruhan struktur fiksi itu.

Untuk mengkaji karya sastra dikenal dua pendekatan yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekstrinsik dengan mengkaji nilai-nilai religius, nilai moral, nilai sosial dan nilai budaya . Walaupun hakikatnya penelitian ini menitih beratkan pada aspek ekstrinsik tapi tidak ada salahnya kalau sedikit dideskriptifkan unsur intrinsik sebagai unsur internal karya sastra prosa berupa novel. Unsur-unsur intrinsik tersebut antara lain sebagai berikut ini.

a. Tema

Tema adalah karya inti sari atau pokok bahasan karya sastra yang secara keseluruhan sehingga di dalam novel, tema menetukan panjang waktu yang diperlukan untuk mengungkapkan isi cerita, atau tema adalah gagasan utama pokok pikiran.

Menurut Aminuddin (1989: 91) istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti “tempat mele tidakkan sesuatu perangkat”, sedangkan menurut Tarigan (1985: 125) tema merupakan pandangan- pandangan hidup yang terentu atau perasan tertentu mengenai kehidupan yang membentuk gagasan utama dari suatu karya sastra.

Selain itu, Robert stanson (dalam semi,1988:34) memberikan petunjuk atau saran untuk memahami tema suatu karya fiksi, yaitu

dengan jalan menanyakan sendiri mengapa pengarang menulis cerita itu. Apakah yang membuatnya anapak berharga. Tentu pertanyaan ini harus dijawab dengan membaca sendiri atau melihat bagaimana tema tersebut dalam detail cerita.

b. Tokoh dan Penokohan (Karakter) 1. Tokoh

Tokoh cerita adalah pelaku dalam sebuah cerita baik fiksi maupun non fiksi yang dapat dibedakan atas beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan yakni tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceri tidakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

2. Penokohan

Penokohan adalah sifat atau ciri khas pelaku yang diceri tidakan.

Masalah penokohan atau perwatakan merupakan salah satu di antara beberapa unsur dalam karya fiksi yang kehadirannya sangat memegang peranan panting, dika tidakan demikian karena tidak akan mungkin ada cerita tanpa adanya tokoh yang diceri tidakan dan tanpa adanya tokoh yang bergerak dan akhirnya membentuk alur cerita.

Menurut Suroto (1989: 22) penokohah adalah bagaimana pengarang

Dokumen terkait