• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian dan Pembahasan

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bagian i|ni akan disajikan has|il pe|nelit|ian dan pembahasan berdasarkan has|il pe|nelit|ian yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada kantor DPRD Kabupate|n Luwu T|imur, de|ngan me|nggunakan metode pe|nelit|ian deskript|if kualitat|if serta teknik pe|ngumpulan data berupa observas|i, wawancara dan studi kepustakaan yang berhubungan de|ngan judul pe|nelit|i yaitu Proses Fas|ilitas|i Ranperda di DPRD Kabupate|n Luwu T|imur (Studi Pembe|ntukan Ranperda Pe|ncegahan Perkawi|nan Us|ia Anak di Kabupate|n Luwu T|imur).

Has|il pe|nelit|ian i|ni digunakan untuk me|njawab rumusan masalah pe|nelit|ian sebagaimana dimaksud pada Bab 1, yaitu Bagaimana proses Fas|ilitas|i Rancangan Peraturan Daerah Kabupate|n Luwu T|imur?. de|ngan melibatkan 5 (lima) orang i|nforman maka, diperoleh has|il bahwa i|ndikator yang dimaksud pada rumusan masalah pertama adalah sebagai berikut:

1. Proses fas|ilitas|i rancangan peraturan daerah kabupate|n Luwu T|imur

Fas|ilitas|i bersal dari kata lat|i|n “Fas|ilis” yang art|i|nya “mempermudah”.

Berikut beberapa pe|njelasan yang tercantum di dalam kamus diantaranya:

“membebaskan kesulitan serta hambatan, membuatnya me|njadi mudah, me|ngurangi pekerjaan, dan membantu”. Proses fas|ilitas|i pembe|ntukan rancangan peraturan daerah i|ni me|ncakup te|ntang proses fas|ilitas|i seluruh kegiatan DPRD.

Me|nurut Peraturan Me|nteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 Fas|ilitas|i adalah t|i|ndakan pembi|naan berupa pemberian pedoman dan petunjuk teknis, arahan, bimbi|ngan teknis, supervise, as|iste|ns|i dan kerja sama serta monitori|ng dan evaluas|i yang dilakukan oleh Me|ntri Dalam Negeri dan/atau gubernur kepala kabupate|n terhadap materi muatan rancangan produk hukum daerah berbe|ntuk peraturan sebelum ditetapkan guna me|nghi|ndari dilakukannya pembatalan.

Gambar. 4

Alur Proses Fas|ilitas|i Ranperda Kabupate|n/Kota

Sumber: s|ibi|nwasprokumda.go.id

Berdasrakan gambar diatas alur fas|ilitas|i rancangan peraturan daerah Kabupate|n/Kota yaitu setelah pembahasan Ranperda selesai maka Pemda me|nyerahkan permohonan kabuapate|n/kota de|ngan me|nyertakan dokume|n kele|ngkapan sepert|i surat permohonan, berita acara pembicaraan t|i|ngkat 1 khusus rancangan perda dan peraturan DPRD. jika permohonan tersebut telah le|ngkap dan sesuai de|ngan fis|ik maka akan dilanjutkan ke gubernur dan biro hukum, biro hukum dalam melakukan fas|ilitas|i yang pertama, melakukan koordi|nas|i de|ngan perangkat daerah terkait dan pemda kabupate|n/kota, pe|njadwalan rapat apabila

diperlukan, pembahasan fas|ilitas|i dan pe|nyusunan konsep has|il fas|ilitas|i. Setelah fas|ilitas|i ranperda selesai maka biro hukum memberikan has|il fas|ilitas|i kepada kabupate|n/kota unutk dilanjutkan. Apabila permohonan di|nyatakan t|idak le|ngkap maka provi|ns|i me|ngembalikan pe|ngajuan permohonan fas|ilitas|i de|ngan memberi catatan untuk mele|ngkapi data dukung.

gambar. 5

Alur proses pemberian Nomor Registras|i (Noreg) Ranperda

Sumber: s|ibi|nwasprokumda.go.id

Berdasrakan gambar diatas maka alur proses pemberian nomor registras|i (Noreg) Ranperda yaitu pemda me|nyerahkan permohonan kabupate|n/kota de|ngan

me|nyertakan dokume|n kele|ngkapan sepert|i; surat permohonan, has|il fas|ilitas|i (surat sekertaris daerah atau gubernur beserta lampirannya), rancangan perda yang telah disesuaikan berdasarkan has|il fas|ilitas|i serta keputusan DPRD te|ntang persetujuan bersama. Jika jika dokume|n telah le|ngkap maka akan dilanjutkan ke biro hukum jika dokume|n di|nyatakan t|idak le|ngkap maka provi|ns|i me|ngi|nformas|ikan terkait kekurangan dokume|n kele|ngkapan untuk selanjutnya dile|ngkapi oleh kabupate|n/kota. Setelah biro hukum me|nerima pe|ngajuan Noreg maka t|im biro hukum memberikan Noreg melakukan verifikas|i apakah ranperda telah disempurnakan sesuai de|ngan has|il fas|ilitas|i, jika t|idak biro hukum me|ngi|nformas|ikan terkait adanya ket|idaksesuaian de|ngan has|il fas|ilitas|i sehi|ngga belum dapat diberikan Noreg. Jika ya maka biro hukum me|ngi|nformas|ikan Noreg kepemda kabupate|n. Pemda kabupate|n/kota dalam waktu pali|ng lama 30 hari untuk me|nandatangani dan me|ngundangkan setelah diberikan Noreg. Setelah diundangkan pemda kabupate|n/kota wajib me|nyampaikan perda yang sedang diundangkan (sooftcopy dan hardcopy) kepada gubernur melalui biro hukum.

Dasar hukum kewe|nangan fas|ilitas|i gubernur terhadap rancangan perda di ataur dalam peraturan Me|nteri DalamNagari Nomor 80 Tahun 2015 te|ntang pembe|ntukan produk hukum daerah khususnya pasal 87, 88, 89, dan pasal 90.

Mekanisme fas|ilitas|i rancangan perda yakni sebagai berikut:

a. Pembahasan rancangan Perda Kabupate|n/Kota oleh Gubernur.

Setelah rancanga peraturan daerah kabupate|n/kota diterima oleh gubernur dalam waktu pali|ng lama 15 (lima belas) hari gubernur harus memberikan

Je|nis-je|nis rancangan perda kabupate|n/kota yang di fas|ilitas|i yaitu : 1) Rancangan Perkada;

2) Rancangan BP KDH, dan 3) Rancangan Peraturan DPRD.

b. Pembuatan Surat Sekretaris Daerah te|ntang Fas|ilitas|i

Sekretaris daerah atas nama gubernur membuat surat te|ntang fas|ilitas|i rancangan perda kabupate|n/kota, rancangan peraturan bupat|i/walikota rancangan peraturan bersama bupat|i/walikota atau rancangan peraturan DPRD kabupate|n kota.

c. Pe|nyempurnaan Rancangan Perda Kabupate|n/Kota

Pemeri|ntah kabupate|n/kota me|ni|ndaklanjut|i surat has|il fas|ilitas|i tersebut diatas de|ngan melakukan pe|nyempurnaan terhadap rancangan perda kabupate|n/kota guna me|nghi|ndari dilakukannya pembatalan.

Adapun tujuan dilaksanakannya proses fas|ilitas|i rancangan perda kabupate|n/kota me|nurut bapak Wahyuddi|n, SH. selaku biro hukum DPRD Kabupate|n Luwu T|imur:

“Tujuan dilakukannya proses fas|ilitas|i rancangan perda itu untuk me|ngkaji dan memperbaiki materi muatan rancangan perda agar perda t|idak dibatalkan. Setelah surat permi|ntaan jadwal fas|ilitas|i disetujui maka dikeluarkanlah jadwal untuk dilakukan tahapan pembahasan bersama oleh t|im provi|ns|i dan dari t|im utusan Pemkab”. (5 Agustus 2022)

Berdasarkan has|il wawancara yang disampaikan oleh i|nforman dapat dis|impulkan bahwa tujuan dalam proses fas|ilitas|i rancangan perda adalah me|ngkaji dan memperbaiki guna me|ncegah dilakukannya pembatalan. Proses fas|ilitas|i i|ni me|ncakup seluruh kegiatan pembe|ntukan ranperda. Dimana pemeri|ntah me|ni|ndaklanjut|i surat has|il fas|ilitas|i untuk melakukan pe|nyempurnaan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh bapak Wahyuddi|n, SH:

“Ranperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah disampaikan oleh pimpi|nan DPRD kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan me|njadi Perda. Selai|n dari itu, pe|nyusunan Ranperda dapat juga dilakukan di li|ngkungan DPRD. Ranperda yang berasal dari DPRD yang diajukan oleh anggota komis|i, gabungan komis|i atau Balegda. Kemudian Ranperda yang berasal dari DPRD atau Kepala Daerah dibahas oleh DPRD dan Kepala Daerah untuk me|ndapatkan persetujuan bersama.”. (5 Agustus 2022).

Dari has|il wawancara yang dilakukan kepada i|nforman bahwa ranperda yang telah difas|ilitas|i dan disetujui akan dibahas kembali oleh DPRD untuk me|ndapatkan persetujuan bersama kemudian disampaikan kepada kepala daerah untuk ditetapkan me|njadi peraturan daerah. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti menemukan bahwa setiap rancangan perda yang dibentuk oleh kepala daerah bersama anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur diserahkan ke provinsi guna dilakukan fasilitasi oleh gubernur dan biro hukum untuk diperiksa dan dikaji kembali supaya tidak bertentagan dengan peraturan lain. Hal ini sesuai dengan

Peraturan Me|nteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 Fas|ilitas|i merupakan t|i|ndakan pembi|naan berupa pemberian pedoman dan petunjuk teknis, arahan, bimbi|ngan teknis, supervise, as|iste|ns|i dan kerja sama serta monitori|ng dan evaluas|i yang dilakukan oleh Me|ntri Dalam Negeri dan/atau gubernur kepala kabupate|n terhadap materi muatan rancangan produk hukum daerah berbe|ntuk peraturan sebelum ditetapkan guna me|nghi|ndari dilakukannya pembatalan.

Pada dasranya semua ranperda kabupaten/kota wajib dilakukan fasilitasi kecuali yang telah dievaluasi. Meski demikian sebelum putusan MK tahun 2015 dan 2016 serta Permendagri belum dilakukan perubahan. Bentuk fasilitasi dari gubernur tidak bersifat wajib karena gubernur masih dapat melakukan pembatalan terhadap perda kabupaten/kota sebagai bentuk pengawasannya. Hal itu dapat dilihat pada ketentuan Pasal 89 ayat (2) huruf a Permendagri PHD sebelum perubahan yang menentukan bahwa apabila dalam tenggat waktu 15 hari gubernur tidak memberikan fasilitasi maka terhadap rancangan perda dilanjutkan pada tahapan persetujuan antara kepala daerah dan DPRD. ketentuan tersebut pada intinya bahwa fasilitasi gubernur tidak bersifat wajib, akan tetapi setelah dilakukan perubahan terhadap Permendagri PHD, gubernur wajib melakukan fasilitasi terhadap semua ranperda kabupaten/kota kecuali telah dilakukan evaluasi.

Terkait dengan implikasi hukum, apabila ranperda kabupaten/kota tidak difasilitasi oleh gubernur kemudian ditetapkan menjadi perda, maka harus dilihat ketentuan yang mendasarinya terlebih dahulu. Menurut Biro Hukum Provinsi Sulawesi Selatan, bahwa nomor registrasi rancangan perda kabupaten/kota tidak

akan diberikan apabila belum dilakukan fasilitasi oleh gubernur. Dengan demikian suatu rancangan perda kabupaten/kota tidak mungkin dilanjutkan pembahasannya jika tidak diberikan nomor registrasi, sementara nomor registrasi diberikan setelah proses fasilitasi. sebagaimana dalam ketentuan Pasal 88 Permendagri PHD bahwa fasilitasi bersifat wajib. Dengan adanya ketentuan tersebut sebagai hasil perubahan Permendagri PHD yang lama, maka apabila ada rancangan perda yang belum difasilitasi sebagai implikasi hukumnya rancangan perda tersebut tidak dapat ditetapkan menjadi perda kabupaten/kota, jikapun ada maka perda tersebut tidak sah secara hukum karena terdapat cacat formil dalam proses pembentukannya.

Sebelumnya, pemeri|ntah hanya me|ngatur batas us|ia mi|nimal perempuan untuk me|nikah yakni 16 tahun. Aturan tersebut tertuang dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 te|ntang Perkawi|nan. Kemudian dua tahun lalu UU tersebut direvis|i de|ngan UU Nomor 16 Tahun 2019 yang berlaku sejak 15 Oktober 2019. Adapun dalam aturan tersebut me|nyebut bahwa us|ia mi|nimal untuk me|nikah adalah 19 tahun baik untuk perempuan maupun laki-laki. Apabila mas|ih di bawah umur tersebut, maka di|namakan pernikahan di|ni. Pernikahan dibawah umur yang belum meme|nuhi batas us|ia pernikahan, pada hakikatnya di sebut mas|ih berus|ia muda atau anak-anak yang ditegaskan dalam Pasal 81 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berus|ia 18 tahun dikategorikan mas|ih anak-anak, juga termasuk anak yang mas|ih dalam kandungan, apabila melangsungkan pernikahan tegas dikatakan adalah pernikahan dibawah umur.

Berdasrakan data dari Pe|ngadilan Agama Kabupate|n Luwu T|imur di tahun 2022 i|ni sudah ada lebih dari 150 permohonan dispe|nsas|i. Hal i|ni me|nandakan kasus pernikahan di|ni me|ngalami ke|naikan yang s|ignifikan sejak tahun 2020 yang dimana kasus dispe|nsas|i ada sekitar 90 kasus. Dan rata-rata pe|ngakuan permohon adalah kare|na hamil diluar nikah dan pemicu utamanya adalah medsos. Hal i|ni yang me|njadi standarisas|i DPRD Luwu T|imur untuk me|nert|ibkan perikahan di|ni agar t|idak me|ngalami pe|ni|ngkatan dimasa yang akan datang melalui Undang- Undang Perkawi|nan Us|ia Anak. Disampaikan oleh ibu dr. Ramna Mi|nggus, S.Ked. anggota DPRD Kabupate|n Luwu T|imur dan anggota Pansus Ranperda.

“Tanpa kita sadari, perkawi|nan anak cukup marak terjadi dili|ngkungan kita, te|ntu i|ni sangat memprihat|i|nkan berdasarkan data dari pe|ngadilan agama Kabupate|n Luwu T|imur pada tahun 2022 per Mei, tercatat ada 23 perkara permohonan perkawi|nan anak dibawah umur. Padahal pernikahan anak merupakan pelanggaran terhadap hak-hak dasar anak perempuan, kare|na praktek i|ni membatas|i pe|ndidikan, kesehatan, pe|ndapatan masa depan, keamanan dan kemampuan anak perempuan” (1 Agustus 2022)

Berdasarkan dari has|il wawancara yang dilakukan kepada i|nforman dapat dis|impulkan bahwa pernikahan us|ia anak pada Kabupate|n Luwu T|imur me|ngalami pe|nigkatan dan anak-anak yang melakukan pernikahan di|ni terutama perempuan banyak yang me|ngalami putus sekolah.

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti menemukan bahwa pernikahan usia dini di Kabupaten Luwu Timur mengalami peningkatan setiap

tahunnya dimana, pada tahun 2022 angka dispensasi nikah meningkat menjadi 150 permohonan dan rata-rata mereka yang mengajukan perohonan adalah anak dibawah umur dan kebanyakan masalahnya adalah karena hamil diluar nikah.

Pernikahan dini menimbulkan problematika, baik dari segi perspektif kompilasi hukum Islam maupun dalam Undang-Undang Perkawinan. Mengenai batasan usia perkawinan, dalam UU Perkawinan mengacu pada pasal 7 ayat 1 tahun 1974 yang kemudian di revisi dan menjadi UU Perkawinan Nomor 16 tahun 2019 pernikahan dini atau perkawinan di bawah umur adalah perkawinan yang dilakukan sebelum laki-laki dan perempuan calon mempelai mencapai usia 19 tahun.

Berdasarkan dari has|il observas|i dan wawancara yang dilakukan kepada i|nforman dapat dis|impulkan bahwa, perkawi|nan anak memiliki peluang besar untuk me|ngalami kekerasan fis|ik, ps|ikis, seksual, dan pe|nelantaran. Bayi yang dilahirkan dari has|il pernikahan anak memiliki kemungki|nan yang lebih t|i|nggi untuk lahir prematur. Oleh kare|na itu, pe|ncegahan perkawi|nan anak harus dimulai dari akarnya. Mulai dari desa harus bisa memiliki pemahaman terkait perkawi|nan yang baik. Pe|ncegahan perkawi|nan anak bisa dilakukan de|ngan komitme|n seluruh pihak, t|idak hanya pemeri|ntah, tetapi unsur masyarakat juga sangat dibutuhkan.

Pernikahan di us|ia anak banyak memberikan dampak yang kurang baik.

Diantaranya anak kehilangan akan haknya sepert|i pe|ndidikan. Saat me|nikah anak akan putus sekolah, selai|n itu me|nikah di us|ia anak juga membuat rantai kemiski|nan. Ket|ika anak memiliki pe|ndidikan yang t|idak layak, sulit untuk me|ncari pekerjaan sehi|ngga akan me|njadi pegangguran i|ni kemudian me|njadi

dan pe|ngangguran maka akan mempe|ngaruhi re|ndahnya t|i|ngkat I|ndex Pembangunan Manus|ia (IPM). Me|nikah dibawah umur berdampak s|ignifikan terhadap perempuan, anak perempuan beres|iko lima kali lebih besar me|ngalami kemat|ian saat masa kehamilan hal i|ni dikare|nakan alat reproduks|i pada perempuan belum begitu matang sedangkan untuk bayi|nya juga re|ntan akan res|iko kemat|ian.

Adapun Rancangan Peraturan Daerah Perkawi|nan Us|ia Anak Kabupate|n Luwu T|imur membahas te|ntang :

1. Batasan us|ia anak

2. Upaya pe|ncegahan perkawi|nan pada us|ia anak 3. Kewe|nangan pe|ncegahan perkawi|nan pada us|ia anak 4. Pemantauan,evaluas|i dan pembiayaan.

Pe|ncegahan perkawi|nan pada us|ia anak bertujuan untuk :

1. Mewujudkan perli|ndungan dan me|njami|n peme|nuhan hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, dan berkembang secara opt|imal sesuai de|ngan harkat dan martabat kemanus|iaan

2. Me|ni|ngkatkan kualitas sumber daya manus|ia, kualitas hidup, kesejahteraan, dan kesehatan ibu dan anak

3. Me|nurunkan angka perkawi|nan pada us|ia anak demi me|nge|ntaskan kemiski|nan.

Dispe|nsas|i kawi|n adalah pe|netapan yang diberikan oleh hakim pe|ngadilan untuk memberikan izi|n bagi pria dan wanita yang belum berus|ia 19 tahun untuk melangsungkan perkawi|nan.

Permohonan Dispe|nsas|i Kawi|n Kabupate|n Luwu T|imur 2018-2022

2018 10 Perkara

2019 64 Perkara

2020 128 Perkara

2021 107 Perkara

2022 per Mei 23 Perkara

Dalam kurun lima tahun terakhir, total perkara dispe|nsas|i kawi|n tercatat sebanyak 332 perkara hi|ngga Mei 2022. Itu sesuai data perkara dispe|nsas|i kawi|n di Pe|ngadilan Agama (PA) Malili. Data yang disajikaan merupakan keseluruhan jumlah perkara yang diregistras|i, seme|ntara mas|i banyak data perkara yang t|idak tercatat oleh Pe|ngadilan Agama Malili.

a. Kesesuaian Kewe|nangan

Pe|nyerahan sebagian besar kewe|nangan pemeri|ntahan kepada pemeri|ntah daerah, telah me|nempatkan pemeri|ntahan daerah sebagai ujung tombak pembangunan nas|ional, dalam rangka me|nciptakan kemakmuran rakyat secara adil dan merata. Dalam kaitan i|ni peran dan dukungan daerah dalam rangka pelaksanaan perundang-undangan sangat strategis, khususnya dalam membuat peraturan daerah (Perda).

Pada pasal 18 ayat (6) UUD 1945 me|nyatakan bahwa pemeri|ntah daerah berhak me|netapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lai|n untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan. S|istem hukum nas|ional memberikan kewe|nangan kepada daerah untuk me|netapkan perda dan peraturan

daerah lai|nnya, dan perda diharapkan dapat me|ndukung secara s|i|nergis program- program pemeri|ntah di daerah.

Disampaikan oleh bapak Alpian. A. Ma.Pd. anggota DPRD Kabupate|n Luwu T|imur dan Ketua Bapemperda.

“Soal wewe|nang itu sudah di atur bahwa pemeri|ntah daerah diberikan kewe|nangan untuk me|ngatur urusan daerahnya mas|i|ng-mas|i|ng, dimana kepala daerah diberikan kewe|nangan untuk me|ngambil kebijakan dalam memajukan daerahnya, me|ngelola anggarannya, me|ngelola sumber daya alamnya dan sumber daya manus|ianya. Sepert|i yang diatur dalam Undang- Undang pemeri|ntah pusat dan daerah memiliki hubungan yang pe|nt|i|ng, yaitu, kewe|nangan, kelembagaan, keuangan dan pe|ngawasan. pembagian kewe|nangan dan pembagian kewe|nangan untuk me|nyele|nggarakan urusan-urusan pemeri|ntahan”. (5 Agustus 2022).

Berdasarakan dari has|il wawancara yang dilakukan kepada i|nforman dapat dis|impulkan bahwa pemeri|ntah daerah berhak me|netapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lai|n untuk melaksanakan otonomi daerah dimana kepala daerah diberikan kewe|nagan untuk me|ngambil kebijakan dalam memajukan daerahnya, me|ngelola anggarannya, dan me|ngelola sumber daya alamnya untuk me|nciptakan kemajuan daerah dan kemakmuran rakyat.

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti menemukan bahwa pada proses pemebentukan Rancangan Peraturan Daerah anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur membentuk peraturan daerah sesuai dengan kewenangan yang diberikan

oleh undang-undang dan pemerintah pusat. Sesuai dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 Pasal 154 ayat (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang membentuk Perda kabupaten/kota bersama bupati/walikota, membahas dan memberikan persetujuan rancangan Perda.

Keberadaan peraturan daerah merupakan perwujudan dari pemberian kewe|nangan kepada daerah dalam me|ngurus dan me|ngatur rumah tangganya se|ndiri. Kare|na, ada bagian dari urusan-urusan daerah selai|n diatur dalam undang- undang juga harus diatur lebih lanjut de|ngan Perda. Berkaitan de|ngan kewe|nangan membe|ntuk peraturan daerah (Perda) telah dipertegas dalam : UU No. 17 Tahun 2014 Pasal 366 ayat (1) huruf a, b, DPRD kabupate|n/kota mempunyai tugas dan wewe|nang membe|ntuk Perda kabupate|n/kota bersama bupat|i/walikota, membahas dan memberikan persetujuan rancangan Peraturan daerah kabupate|n/kota yang diajukan oleh bupat|i/walikota. Selanjutnya dipertegas lagi de|ngan UU No. 23 Tahun 2014 Pasal 154 ayat (1) DPRD kabupate|n/kota mempunyai tugas dan wewe|nang membe|ntuk Perda kabupate|n/kota bersama bupat|i/walikota, membahas dan memberikan persetujuan rancangan Perda.

Disampaikan oleh bapak Wahyuddi|n, SH. bagian Biro Hukum Kabupate|n Luwu T|imur.

pemeri|ntah daerah diberikan hak, wewe|nang, dan kewajiban untuk me|ngatur dan me|ngurus se|ndiri urusan pemeri|ntahan dan kepe|nt|i|ngan masyarakatnya. Sepert|i membuat peraturan daerah te|ntang perkawi|nan us|ia anak, peraturan i|ni dibe|ntuk untuk me|ncegah semaki|n banyaknya pernikahan dibawah umur

yang dapat me|nyebabkan angka putus sekolah t|i|nggi hi|ngga pe|ngangguran. (5 Agustus 2022)

Berdasarakan dari has|il wawancara yang dilakukan kepada i|nforman yang ada di DPRD Kabupate|n Luwu T|imur bahwa pada proses pemebe|ntukan Rancangan Peraturan Daerah anggota DPRD Kabupate|n Luwu T|imur membe|ntuk peraturan daerah sesuai de|ngan kewe|nangan yang diberikan oleh undang-undang dan pemeri|ntah pusat.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti menemukan bahwa dengan adanya kewenangan yang diberikan kepada daerah untuk membentuk daerahnya masing-masing, maka pemerintah Kabupaten Luwu Timur menggunakan kewenangan tersebut untuk membentuk peraturan daerah tentang pernikahan usia anak guna mencegah menigkatnya pernikahan dini yang ada di Kabupaten Luwu Timur. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 Pasal 154 ayat (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang membentuk Perda kabupaten/kota bersama bupati/walikota, membahas dan memberikan persetujuan rancangan Perda.

Dari has|il observas|i serta wawancara de|ngan i|nforman di atas dapat ditarik kes|impulan bahwa DPRD Kabupate|n Luwu T|imur diberikan hak dan kewe|nangan untuk me|ngatur urusan pemeri|ntahannya se|ndiri, dimana pemeri|ntah daerah diberikan hak untuk me|ngatur dan me|ngurus se|ndiri urusan pemeri|ntahannya dan kepe|nt|i|ngan masyarakat. Pemeri|ntah daerah juga diberikan kewe|nangan untuk membe|ntuk peraturan daerah guna memajukan daerahnya.

Pe|ngujian perda serta pembatalannya dapat dilakukan oleh gubernur. Dimana

Dokumen terkait