• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipologi Pondok Pesantren ......................................................... 3 5

Dalam dokumen Program Studi: Pendidikan Agama Islam (Halaman 51-63)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Modernisasi Sistem Pendidikan

3. Tipologi Pondok Pesantren ......................................................... 3 5

surut. Tetapi perkembangan yang paling akhir, dunia pesantren menampakkan trend lain.

Di samping masih ada yang mempertahankan sistem

"tradisionalnya"31 dan sebagian yang lainnya membuka sistem madrasah, sekolah umum bahkan ada diantaranya yang membuka semacam lembaga pendidikan kejuruan. 32 Tetapi tidak terlepas dari penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moralitas sebagai pedoman hidup untuk berdialektika dengan masyarakat.

menggunakan Bahasa arab. Pola pengajarannya dengan menerapkan sistem halaqoh yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekatnya dari sistem pengajaran halagoh adalah penghapalan yang titik akhirnya dari metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki Ilmu.35Dalam pondok pesantren tradisional sistem pendidikanya salaf (weton dan Sorogan) dan sistem klasikal salaf.36

Jadi ilmu tidak berkembang kearah paripurna ilmu itu melainkan hanya terbatas pada apa yang diberikan oleh kyai. Kurikulumya tergantung sepenuhnya kepada para kyai pengasuh pondoknya. Santrinya ada yang menetap didalam pondok ( santri mukim) dan samtri yang tidak menetap didalam pondok (santri kalong).

b. Pondok Pesantren Modern

Pondok Pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem pembelajaran secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nampak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah.37Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional.

Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar disekitar desa itu. Kedudukan para kyai sebagai koordinator pelaksana belajar mengajar dan sebagai pengajar langsung dikelas. Perbedaanya dengan sekolah dan madrasah

35 Mastuhu, Dinamika Sistem Pondok Pesantren : Suatu kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren ( Jakarta : INIS, 1994) h.157

36 Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format...h.87

37 Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan...h.14

terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

c. Pondok Pesantren Komprehensip

Pondok pesantren ini disebut komprehensip karena merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan yang modern. Artinya didalam diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan, namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilanpun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua. 38 Lebih jauh dari pada itu pendidikan masyarakatpun menjadi garapanya. Dalam arti yang sedemikian rupa dapat dikatan bahwa pondok pesantren telah berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.

Ketiga tipe pondok pesantren diatas memberikan gambaran bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan sekolah, luar sekolah dan masyarakat yang secara langsung dikelola oleh masyarakat dan bahkan merupakan milik masyarakat karena tumbuh dari dan oleh masyarakat.

Lembaga pendidikan sekolah sesuai dengan pengertian sekolah pada umumnya. Sebagai lembaga pendidikan luar sekolah nampak dari adanya kegiatan kependidikan baik dalam bentuk keterampilan tangan, bahasa maupun pendalaman pendidikan agama islam yang dilaksanakan melalui kegiatan sorogan, wetonan dan bandongan bahkan kegiatan pengajian yang

38Marwan Saridjo dkk, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Dharma Bakti, 1980) h.9-10

dilaksanakan oleh paraa kiyai dalam pondoknya. Sedangkan sebagai lembaga pendidikan masyarakat terlihat dari kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan masyarakat lingkungannya.

Dimensi kegiatan sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pesantren itu bermuara pada suatu sasaran utama yakni perubahan, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karena itu pondok pesantren dapat juga dikatakan sebagai agen perubahan artinya pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang mampu melakukan perubahan terhadap masyarakat. Sedangkan menurut Ridlwan ada lima klasifikasi pondok pesantren yaitu :

1) Pondok pesantren Salaf/Kalaf yaitu pondok pesantren yang didalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (weton dan sorogan) dan sistem klasikal (madrasah) salaf.

2) Pondok pesantren semi berkembang yaitu pondok pesantren yang didalamya terdapat sistem pendidikan salaf (weton dan sorogan) dan sistem klasikal (madrasah) swasta dengan perbandingan kurikulum 90%

agama dan 10% umum.

3) Pondok pesantren berkembang yaitu pondok pesantren yang semi berkembang, hanya saja sudah lebih bervariasi dalam bidang kurikulumya yakni 70% agama dan 30% umum.

4) Pondok pesantren khalaf/ modern yaitu seperti pondok pesantren berkembang hanya saja sudah lebih lengkap lembaga pendidikan yang ada didalamnya, antara lain diselenggarakan sistem sekolah umum dengan penambahan diniyah ( praktek mermbaca kitab salaf), perguruan tinggi baik umum maupun agama), bentuk koperasi dan dilengkapi takhasus (bahasa Arab dan bahasa Inggris)

5) Pondok pesantren ideal yaitu sebagaimana bentuk pondok pesantren modern hanya saja lembaga pendidikan yang ada lebih lengkap, terutama bidang keterampilan meliputi pertanian, teknik, perikanan, perbankan, dan benar-benar memperhatikan kualitasnya dengan tidak menggeser ciri khusus kepesantrenan yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat/perkembangan zaman.

4. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

Sistem pendidikan di pesantren salafiyah berbeda dengan sistem pendidikan madrasah maupun ponpes modern pada umumnya. Pesantren salafiyah tumbuh sebagai pusat belajar pendidikan agama yang unik, seperti pengantar pengajarannya menggunakan kitab kuning dijelaskan dengan bahasa lokal, memegang teguh tradisi adat istiadat, norma serta nilai khas pesantren.

Dengan demikian bahasa lokal memiliki pengaruh kuatnya nilai pesantren.

Peran kiai dengan karisma keilmuan yang dimiliki sekaligus pewaris para nabi merupakan bagian integral dalam pendidikan pesantren. Karena kiai merupakan penentu dalam pendidikan di dalam pondok pesantren salafiyah.39

Adapun metode pembelajaran yang lazim digunakan dalam pondok pesantren salaf adalah metode sorogan dan weton. Metode sorogan adalah metode pengajaran individual, dimana setiap santri menghadap secara bergiliran kepada kyai atau pembantu kyai untuk membaca, menjelaskan dan menghafal pelajaran yang diberikan sebelumnya. Dengan metode ini, kyai mengetahui betul kemampuan santrinya. Metode sorogan ini biasanya diperuntukkan untuk santri yang cukup maju, khususnya yang berminat menjadi kiai dan ulama.

Sedangkan weton adalah pembelajaran berkelompok, dimana kyai membaca, menjelaskan. Pada saat proses pembelajaran santri bergerombol duduk mengelilingi sang kyai atau duduk agak jauh dari sang kyai agar suara sang kyai dapat terdengar. Pada umumnya pondok pesantren salafiyah lebih

39 Rohinah, KH. Hasyim Asy’ari memodernisasi NU dan Pendidikan Islam, (Jakarta:

Grafindo Khazanah Ilmu, 2010), hlm.89

condong menganut faham Syafi’iyah Asy’ariyah. Dilihat dari kitab dan ajaran fikih tauhid yang diajarkan para kyai kepada santri.

Pola pendidikan akhlak dan kedisplinan yang diterapkan di pesantren berpengaruh kuat pada tingkah laku para santri ketika sudah selesai proses belajarnya. Rasa persaudaraan maupun silaturahmi anata santri dan kiai terbangun sangat baik meskipun para santri sudah lulus dari pondok pesantren.

Meskipun sang kiai sudah wafat. Hal itu dibuktikan saat diadakan haul maupun acara akhirusannah. Karena karomah dan barokah sang kiai bagi santri salaf adalah suatu bakti bagi santri.

Tradisi pesantren salafiyah mengenal dua kelompok santri, yaitu kelompok santri muqim dan santri kalong. Dikatakan santri muqim karena snatri menetap di pesantren selama masa belajar sedangkan santri kalong tidak menetap di pondok. Santri kalong biasanya berasal dari desa-desa sekitar pondok.

Dikalangan santri salafiyah masih berlaku budaya tawadhu’ dan mohon restu terhadap kyai. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari identitas budaya santri yang ikhlas, tawadhu’, zuhud dan wara’. Demgan begitu mereka menempatkan kyai pada posisi yang dihormati. Karena berkeyakinan sepenuhnya bahwa seorang kyai memiliki kecendekiawanan tinggi, intelektual yang memadai dan akhlak yang mulia.

c. Manajemen Pondok Pesantren Salafiyah

Menghadapi masa depan yang masih penuh tantangan dan persaingan maka setiap organisasi pendidikan khususnya pendidikan pesantren, perlu

mempersiapkan diri dengan menata organisasi, administrasi dan manajemen sebagai salah satu perangkat untuk memperkuat daya saing kedepan.40

Manajemen adalah seni dan kemampuan memperoleh hasil, melalui kegiatan orang lain untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.41Sedangkan menurut Soemitro Djoyokusuma, manajemen adalah usaha memgatur dan memimpin.42 dari pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa orientasi manajemen adalah memperoleh hasil dengan melalui kegiatan operasional.

Manajemen kepemimpinan di pesantren selama ini padaumumnya bercorak alami. Baik pengembangan pesantren maupun proses pembinaancalon pimpinan yang akan menggantikan pimpinan yang ada, belum memiliki bentukyang teratur dan menetap.43Banyak hal yang dapat ditunjuk sebagai sebab belum menetapnya pola kepemimpinan di pondok pesantren selama ini. Sebab yang paling utama adalah watak kharismatik yang dimilikinya.

Pada tahap-tahap pertama berkembangnya sebuah pondok pesantren memang diperlukan kepemimpinan dengan sifat-sifat sedemikian itu, tetapi pada tahap selanjutnya banyak kerugian yang ditimbulkan. Yaitu;

40 A. Kube Dauda "Pembinaan Organisasi, Administrasi, dan Manajemen Madrasa/Pesantren" Makalah Musyawarah Kerja PB. As'adiyah , ( Sengkang: Gedung Yusbar, 2002),h.10

41 Kube Dauda "Pembinaan Organisasi, Administrasi, dan..., h. 3

42 Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000), h. 15

43 Mappanganro, Eksistensi Madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional (Makassar: CV Berka Utami, 1996), h. 11

pertama, munculnya ketidakpastian dalam perkembangan pesantren yang bersangkutan, karena semua hal bergantung pada keputusan pribadi sang pemimpin.

Kedua, pola pergantian pimpinan berlangsung secara tiba-tiba dan tidak direncanakan, sehingga lebih banyak ditandai oleh sebab-sebab alami seperti meninggalnya sang pemimpin secara mendadak. Ketiga, terjadinya pembaharuan dalam tingkat-tingkat kepemimpinan di pondok pesantren, antara tingkat lokal, regional, dan nasional.44

Sebelum sampai kepada persoalan kepemimpinan dalam pengembangan pondok pesantren, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa hal sebagai latar belakang kebutuhan akan pengembangan itu sendiri, dan perlunya perumusan tentang integrasi pondok pesantren ke dalam pendidikan nasional beserta proyek-proyek rintisannya.

Kenyataan seperti ini menunjukan bahwa hingga saat ini masalah porsi agama semakin lama semakin menurun dengan membawa akibat mentahnya lulusan yang dihasilkan oleh pondok pesantren, tidak menjadi agamawan yang bepengetahuan agama yang mendalam, dan juga tidak menjadi ilmuan nonagama yang cukup tinggi kualitasnya. Yang terjadi adalah pembaharuan (akulturasi) yang tidak memperlihatkan identitas yang jelas. Mungkin menghadapi kenyataan seperti itu, sebagian pemimpin pondok pesantren cenderung untuk kembali pada "cara salaf",

44 Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi., h. 135

dimana porsi pelayanan pada komponen nonagama dalam kurikulumnya hampir tidak ada.

Tujuan pengembangan pesantren adalah integrasi antara pengetahuan agama dan nonagama, sehingga lulusan yang dihasilkan akan memiliki kepribadian yang utuh dan bulat, yang menggabungkan dalam dirinya unsur-unsur keimanan yang kuat dan penguasaan atas pengetahuan secara berimbang.45 Manusia seperti itu memiliki cakrawala pemikiran yang luas, pandangan hidup yang matang, dan pendekatan yang peraktis dan berwatak multi sektoral dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.

(mampu memandang jauh ke depan sekaligus memiliki keterampilan praktis untuk menyelesaikan persoalan). Program pengembangan pesantren yang sedang dijalankan, baik oleh kalangan pesantren sendiri secara intern maupun oleh kalangan luar yang bekerja sama dengan pesantren tertentu, dapat dilihat dalam pointer sebagai berikut:

1) Program percampuran antara komponen-komponen agama dan non agama dalam kurikulun formal di pesantren. Program ini bertujuan mematangkan kurikulum campuran yang telah ada, dengan meningkatkan mutu dan menghadapkan kurikulum itu secara berjenjang pada tingkatan yang lebih tinggi.

2) Program keterampilan, yang sebagian besar masih ditangani oleh Departemen Agama. Meliputi banyak komponen keterampilan teknis, program ini bermaksud mengembangkan keterampilan teknis yang mampu membawa orientasi baru dalam pandangan hidup para santri.

Seperti kebiasaan bekerja dengan teratur dan dengan persiapan yang cukup.

3) Program pengembangan masyarakat, yang dimaksudkan untuk menciptakan tenaga-tenaga pengembang masyarakat dengan kemampuan mengenalkan masyarakat pada kebutuhan kebutuhan mereka dan pada sumber-sumber daya yang ada untuk memenuhinya.46

45 Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi., h. 137

46 Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi., h. 40

Adapun pengembangan kepemimpinan pondok pesantren merupakan tuntutan untuk memahami dan besedia mengikuti program-program pengembagan di atas, pimpinan pesantren yang memiliki kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan sekarang dan masa depan harus pula mampu memahami kebutuhan akan integrasi pesantren ke dalam pendidikan nasion

Bagaimanapun juga harus diakui bahwa saat ini pesantren sebagai suatu sistem pendidikan masih berada diluar area pendidikan nasional yang ada. Secara potensial ia merupakan salah satu dari lembaga pendidikan yang ideal bagi bangsa kita karena kemampuannya mengembangkan watak mandiri dalam diri para lulusannya selama ini.47 Kepemimpinan yang dinamis di pondok pesantren harus mampu mengadakan proyek-proyek rintisan yang akan menonjolkan sumbangan positif pesantren bagi pendidikan nasional, baik dalam program pendidikannya, sistem pendidikannya, maupun metode pengajarannya.

Pada taraf regional, kepemimpinan pondok pesantren yang dinamis haruslah mampu menciptakan dukungan dan topangan bagi proyek-proyek rintisan itu, lebih-lebih lagi dalam bentuk pengayoman semua pihak yang berkepentingan terhadap perkembangan pendidikan. Pada taraf nasional, kepemimpinan pondok pesantren yang dinamis akan mampu menyuguhkan kerangka-kerangka teoritis dan filosofis bagi pembentukan

47Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi., h. 141

pendidikan nasional yang relevan dengan kebutuhan bangsa kita di masa depan.48

Kepemimpinan dalam bentuk penerangan pesantren yang dinamis dan memiliki pandangan yang jauh ke masa depan.49Kepemimpinan pesantren hendaknya jangan hanya sibuk dengan fungsi kemasyarakatan yang sempit (pelayanan individual kepada wali murid) belaka, dan juga hanya disempitkan oleh pelayanan teknis pada pesantren sendiri saja (seperti pengawasan administratif dan pembinaan calon pengganti secara teratur).

Kepemimpinan yang sempit seperti itu dalam jangka panjang hanya akan tercecer oleh perkembangan di luar pesantren. Yang diperlukan adalah pendayagunaan kepemimpinan yang sudah memiliki keterampilan praktis yang sempit di bidang pengawasan, administrasi, dan perencanaan itu guna tujuan yang lebih besar: bagaimana mengintegrasikan pesantren ke dalam pendidikan nasional.

d. Tujuan Modernisasi Pondok Pesantren Salafiyah

Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir- akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan.

Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern termasuk:

mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di

48 Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam ( t.tp: Pustaka Pirdaus, 1996), h. 5

49 Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi..., h. 143

pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.50

Pondok Pesantren pada dalam proses pendidikannya lebih menitikberatkan pada ajaran Agama, tetapi pada perkembangannya sekarang pendapat ini sedikit berubah mengingat beberapa pesantren telah mencoba menerapkan sistem sekolah baik madrasah maupun diniyah yang juga mengajarkan ilmu umum. Serta telah dilengkapinya pendidikan dengan peralatan laiknya sekolah modern seperti adanya laboratorium, komputerisasi, dll sehingga lulusan pesantren diharapkan memiliki kualitas yang sama dengan lulusan sekolah biasa. Jenis pesantren ini disebut dengan pesantren modern yang beberapa kalangan menilai sebagai pesantren ideal.

Hanya saja, perkembangan pesantren kearah yang modern ini seringkali melupakan khittahnya sebagai basis Agama sehingga tak jarang pesantren yang telah menerapkan system modern (barat) ini seperti kehilangan ruh, nilai dan jiwa. Sehingga tak jarang lulusan dari pesantren masih berkepribadian dengan moral yang jauh dari harapan.

Hal ini bisa disebabkan barangkali karena banyak santri yang masuk berasal dari golongan kaya yang notabene selalu bersikap mewah, tidak mandiri, dan individualis. Kumpulan santri yang mempunyai sifat sama ini kemudian sedikit banyak menggerus jiwa kesederhanaan, dan kemandirian pondok. Disamping berkurangnya charisma kyai/ pemimpin pesantren

50 Hasbullah,Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia:Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009, h.155

dimata santri dan masyarakat seperti karena keterlibatan beberapa kyai dengan dunia politik, dll.

Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir- akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan.

Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern yakni mulai akrabnya dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.51

C. Modernisasi di Pondok Pesantren Salafiyah

Dalam dokumen Program Studi: Pendidikan Agama Islam (Halaman 51-63)

Dokumen terkait