ANALISIS DAN KOMUNIKASI RISIKO
VI. Komunikasi risiko
3. Transparansi
Petugas atau Juru Bicara harus memberikan informasi sejujur mungkin mengenai keadaan yang sedangterjadi. Tidak perlu ragu untuk menjelas kan hal yang sudah diketahui dan hal yang belum
diketahui atau belum jelas pada saat itu. Petugas juga harus menjelaskan hal-hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk membantu mengendalikan keadaan.
4. Pendapat dan Sikap Masyarakat.
Pada situasi krisis sangat penting untuk mengetahui apa yang menjadi pendapat dan concern masyarakat. Secara khusus perlu ditanyakan dan ditelusuri apa kata masyarakat, termasuk sikap, kepercayaan, kebiasaan dana perilaku yang lain. Hal ini tentunya akan menjadi pertimbangan yang berguna dalam menyusun pesan kunci maupun strategi komunikasi.
2. Perencanaan.
Perencanaan, atau persiapan, betapapun krisis situasinya merupakan hal yang harus dilakukan.
Perlu disusun rencana komunikasi krisis, yang antara lain mencakup penetapan juru bicara, penetapan waktu pemberitahuan pertama, pesan kunci, hubungan dengan pihak lain, dsb.
Perencanaan ini juga akan menempatkan kegiatan komunikasi sebagai bagian integral dari manajemen resiko dan kegiatan pengendalian penyakit secara keseluruhan.
a. Komunikasi dalam keadaan krisis kepada masyarakat
Apa saja yang harus dilakukan untuk dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dalam komunikasi risiko?
Langkah awalnya adalah mempersiapkan diri kita sendiri dlm hal; kita harus tahu dengan jelas apa tujuan kita, harus tahu target masyarakat kita, harus tahu Skill yang dibutuhkan, harus tahu konsep dasar mobilisasi
Kemudian membina hubungan dengan tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri;
Menjumpai/ silaturrahmi dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti; kepala desa, tuha peut, tuha lapan, tokoh pemuda dll dan bersilaturrahmi dengan masyarakat baik dirumahnya atau ditempat-tempat keramaian masyarakat seperti di pos jaga, pasar, warung, dilapangan anak muda yang sedang berolahraga, di meunasah atau surau dsb.
Berupaya hidup dan tinggal bersama di dalam desa sehingga lebih menyatu dan memahami keseharian mereka tsb.
Mengetahui kebiasaan atau tradisi mayarakat tersebut sehingga jangan sampai terjadi benturan dengan masyarakat tsb.
Hadir dalam kegiatan kemasyarakatan yang bersifat umum dan keagamaan seperti Shalat berjamaah di mesjid, acara tahlilan, kegiatan gotong royong bersama, menghadiri undangan hajatan dsb.
Bangun pola hubungan kemitraan bukan pola hubungan antara subjek dan objek.
Tunjukkan sikap ramah, sopan santun dan beraklak yang baik dalam keseharian bersama masyarakat.
Upayakan dan tanamkan pemahaman pada diri kita sebagai fasilitator bahwa program penanganan bencana pada dasarnya merupakan program milik masyarakat dan kebutuhan masyarakat, maka masyarakat harus dilibatkan secara total, mulai dari tahap perencanaan program hingga implementasi dan pengembangannya
b. Komunikasi dalam keadaan krisis kepada Pengambil Keputusan
Upayakan masyarakat merasa penting/ tergugah untuk secara bersama berupaya mengurangi dampak bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan cara;
Paparkan kondisi potret desa mereka berdasarkan data dan fakta, terutama tentang bencana yang pernah terjadi di desa mereka, kondisi kerentanan dan resiko bahaya yang dapat terjadi didesa mereka yang aktual.
Jelaskan bahwa dampak dari KLB dan atau wabah jika terjadi, yang akan menerimanya adalah mereka, keluarga mereka, shabat mereka dan orang-orang yang disayangi dan dicintai oleh mereka.
Tanamkan pemahaman bahwa KLB dan atau wabah dapat dikurangi dampak resikonya dan berikhtiar atau berusaha mengurangi musibah adalah wajib.
Jelaskan kepada mereka bahwa merekalah yang lebih tahu dengan baik tentang desa mereka sehingga merekalah yang betul-betul tahu apa yang sebaiknya dilakukan sehingga di harapkan merekalah yang harus berpartisipasi aktif
Tunjukkan kesunguhan kita, kejelasan visi dan misi kita dan pengalaman kita dalam upaya bersama membantu masyarakat untuk mengurangi risiko dampak KLB dan atau wabah dengan cara;
Jelaskan dengan jelas tentang visi dan misi kita baik pada pertemuan informal maupun formal dengan masyarakat.
Berikan contoh nyata program atau kegiatan atau informasi tentang keberhasilan suatu desa yang telah menerapkannya.
Tepati janji bila sudah berjanji dengan masyarakat misalnya tepat waktu datang sesuai dengan janji yang telah dibuat.
c. Komunikasi dengan media
Dalam komunikasi, media massa memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media massa akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap
penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media massa diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat
Media massa, cetak maupun elektronik, merupakan saluran yang sangat efektif dalam penyebar-luasan informasi, selain juga saluran utama yang menyuarakan pendapat dan situasi publik. Jadi dalam komunikasi resiko, komunikasi dengan media massa mutlak dilakukan. Pada dasarnya komunikasi dengan media massa akan lebih efektif jika hubungan dengan media massa sudah terjalin baik. Tim dapat menggunakan struktur kehumasan yang sudah ada untuk mendukung proses komunikasi dengan media massa.
Yang perlu disiapkan adalah : 1. Penyiapan Media Center 2. Surveilans komunikasi
Merupakan suatu kegiatan mendokumentasikan dan mencermati berita dari berbagai media massa, informasi dari situs, sedas desus serta informasi formal dan informal dari berbagai sumber. Analisa terhadap hasil dokumentasi tersebut menjadi dasar pembuatan pesan yang akan dikomunikasikan ke masyarakat dan memungkinkan untuk pambuatan keputusan
3. Jumpa Pers
Merupakan salah satu pertemuan dengan pers untuk menyampaikan informasi penting dari institusi secara luas ke masyarakat melali media massa. Berbagai bentuk pertemuan dengan pers dapat dilakukan diantaranya wawancara, door stop, press briefing, talk show, press tour. Dalam Jumpa Pers perlu memperhatikan ketetapan yang ada. Delam SK Menkes No. 342/ Tahun 2007 tentang Pejabat yang Berwenang Memberi Keterangan kepada Pers.
4. Fact sheet, latar belakang , data-data lain, dsb
Lembar fakta dan data-data lain diperlukan sebagai sarana memperdalam pengetahuan bagi pers agar dapat menyuguhkan berita secara lebih profesiona, proporsional, akurat dan terkini.
Berikut ini uraian beberapa tip yang dapat digunakan dalam melakukan komunikasi dengan media/pers :
Terus menerus mengembangkan materi atau bahan untuk media massa.
Menggunakan berbagai media yang ada untuk menyampaikan pesan kepada publik.
Membangun dan memelihara kontak dengan media massa.
Memposisikan organisasi sebagai sumber informasi handal untuk media massa untuk bidang tertentu (kesehatan).
Selalu berhubungan dengan bagian lain untuk memperoleh informasi mutakhir.
Perhatikan tenggat waktu penayangan berita.
Jangan pernah berbohong. Bicara benar, atau diam.
Jangan membuka pertengkaran yang tak perlu.
Dalam situasi krisis, sering seorang petugas atau juru bicara harus berbicara dengan media atau dengan publik sesegera mungkin. Betapapun krisis situasinya, seorang juru bicara tetap harus mempersiapkan diri. Kejelasan informasi dan citra organisasi akan sangat dipengaruhi oleh penampilan juru bicara
g. Teknik komunikasi dalam penyebarluasan informasi
Peter Sandman, ahli Komunikasi Resiko dari Amerika, menyimpulkan terdapat empat jenis komunikasi yang didasarkan pada situasi kekuatiran masyarakat dan tingkat bahaya yang sesungguhnya.
Formulanya dikenal dengan ”Risk = Hazard + Outrage”.
1. Situasi pertama adalah dimana bahaya tinggi, namun masyarakat tidak terlalu peduli;
2. Situasi Kedua bahaya sedang dan perhatian masyarakat juga sedang;
3. Situasi ketiga, bahaya rendah, namun menimbulkan kepanikan atau kemarahan di masyarakat;
4. Situasi keempat, keadaan dimana bahaya tinggi dan masyarakat sangat kuatir (situasi ini banyak dihadapi oleh PETUGAS).
Pemahaman terhadap situasi ini diperlukan sebagai pertimbangan dalam mengambil bentuk komunikasi yang paling sesuai.
HA B A H A Y A /
Z A R
D Adaptasi dari: Peter Sandaman, Four Kinds of Risk Communication, 2003
Pada bagian berikut diuraikan mengenai bentuk komunikasi yang disarankan untuk setiap situasi. Untuk setiap situasi, diuraikan pengenalan terhadap ciri-ciri audiens, type tugas apa yang secara spesifik perlu dilakukan oleh komunikator/PETUGAS, dan jenis media atau saluran komunikasi yang cocok. Juga diuraikan tantangan atau kendala yang harus dipertimbangkan, serta sebaliknya, situasi yang mendukung dan dapat mempermudah komunikasi.