B. Kajian Teori
4. Tumbuhan Paku (Pteridophyta)
adalah melindungi isi booklet. Agar lebih menarik kulit booklet didesain dengan menarik seperti pemberian ilustrasi yang sesuai dengan isi buku dan menggunakan nama mata pelajaran.
2) Bagian depan, yang memuat halaman judul, halaman judul utama, halaman daftar isi dan kata pengantar, setiap nomor halaman dalam bagian depan buku teks menggunakan angka Romawi kecil.
3) Bagian teks, yang memuat bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, terdiri atas judul bab, dan subjudul, setiap bagian dan bab baru dibuat pada halaman berikutnya dan diberi nomor halaman yang diawali dengan angka 1.
4) Bagian belakang booklet, yang terdiri atas daftar pustaka, glosarium dan indeks, dalam buku hanya jika buku tersebut banyak menggunakan istilah atau frase yang mempunyai arti khusus dan sering digunakan dalam booklet tersebut.
pucuknya yang melingkar. Disamping itu pada permukaan bawah daunnya ada bintik-bintik yang kadang-kadang tumbuh teratur dalam barisannya, menggerombol dan tersebar. Bintik-bintik itu adalah kotak spora yang dikenal dengan istilah sporangium.
Akar tumbuhan paku umumnya mempunyai akar adventif.
Akarnya tumbuh secara horizontal di permukaan tanah atau di bawah tanah. Paku epifit rimpang memanjat pada cabang atau batang pohon. Akar yang keluar pertama tidak dominan melainkan disusul oleh akar lain yang semuanya muncul dari batang (Tjitrosoepomo, 2016: 208). Batang tumbuhan paku dapat berbentuk panjang, pendek, merambat atau memanjat.
Batang tumbuhan paku bercabang-cabang menggarpu (dikotom) atau jika membentuk cabang-cabang ke samping, cabang- cabang baru ini tidak pernah keluar dari ketiak daun. Pada batang tumbuhan paku terdapat banyak daun, yang dapat tumbuh terus sampai lama. Batang tumbuhan paku tumbuh dari tahun ke tahun dan membentuk sepeangkat daun baru pada setiap masa tumbuh. Maka dari itu, paku-pakuan termasuk tumbuhan tahunan. Di daerah beriklim sedang, daunnya biasanya mati pada musim gugur, walaupun spesies tertentu ada yang bersifat evergreen atau hijau sepanjang tahun (Tjitrosoepomo, 2016: 209). Daun tumbuhan paku terdiri dari dua bagian, yaitu tangkai dan helaian daun. Helaian daun ini dapat tunggal, tetapi lebih umum majemuk bersirip. Daun
tumbuhan paku memiliki klorofil untuk fotosintesis. Pada tumbuhan paku yang berdaun, sporangiumnya terletak pada daun yang fertile (sporofil), sedangkan daun yang tidak punya sporangium disebut daun steril atau tropofil (Tjitrosoepomo, 2016: 209).
Gambar 2.1 Tropofil dan sporofil
(Panji, 2021)
Sporofil ada yang berupa helaian dan berupa strobilus.
Strobilus adalah gabungan beberapa sporofil yang membentuk struktur seperti kerucut pada ujung cabang. Pada sporofil yang membentuk helaian, sporangium berkelompok membentuk sorus di ujung permukaan atau di tepi daun. Sorus dilindungi oleh suatu selaput yang disebut indusium yang umumnya berbentuk ginjal.
Susunan bentuk sorus berbeda-beda tergantung dari masing- masing spesies. Letak sorus terhadap tulang daun merupakan sifat yang sangat penting dalam klasifikasi tumbuhan paku (Tjitrosoepomo, 2009: 209).
Gambar 2.2 Crozier (Fatmajid, 2012)
Selama pertumbuhan, perpanjangan yang lebih cepat pada sel-sel bagian dalam daun menyebabkan ujung tersebut lambat membuka gulungannya. Pada banyak paku-pakuan dijumpai juga banyak sel sklerenkim yang terletak dibawah lapisan epidermis atau bergabung denganjaringan pembuluh. Sel-sel ini mendukung kekuatan batang, sebagian mengimbangi tidak adanya jaringan- jaringan sekunder (Tjitrosoepomo, 2009: 209).
b. Siklus Hidup dan Reproduksi Tumbuhan Paku
Siklus hidup tumbuhan paku meliputi dua fase yaitu fase gametofit dan fase sporofit. Tumbuhan paku mengalami pergilirn keturunan (metagenesis) antara dua generasi tersebut. Fase gametofit pada tumbuhan paku berupa protalium sedangkan fase sporofitnya merupakan tumbuhan paku itu sendiri. Pada siklus hidup tumbuhan paku, fase yang paling dominan adalah fase sporofit dibandingkan dengan fase gametofit.
1) Fase Gametofit
Fase gametofit pada tumbuhan paku diperankan oleh protalium.
Fase ini merupakan fase seksual pada tumbuhan paku dan berlangsung sangat singkat. Protalium bersifat haploid karena berkembang melalui pembelahan mitosis dari spora. Protalium akan menghasilkan sel gamet jantan dan betina. Spora yang jatuh ditempat yang lembab berkembang menjadi protalium yang berbentuk seperti tumbuhan talus. Protalium memiliki masa hidup yang sangat singkat dan berukuran kecil, sehingga kita hamper tidak pernah melihat bentuk dari protalium tumbuhan paku. Seperti yang telah diuraikan, protalium akan membentuk sel gamet untuk reproduksi seksual. Hasil dari pembuahan sel gamet akan menghasilkan zigot diploid (2n) yang akan berkembang menjadi tumbuhan paku (2n). Dan selanjutnya tumbuhan paku akan berkembang menjadi tumbuhan sporofit (Waeyami, 2018:
16).
2) Fase Sporofit
Fase sporofit merupakan fase yang dominan pada tumbuhan paku. Spora yang dihasilkan oleh tumbuhan paku sangat beragam, hal ini didasarkan pada jenis dari tumbuhan paku. Tumbuhan paku homospora (contoh paku kawat) ialah tumbuhan paku yang menghasilkan spora yang sama dalam hal ukuran dan jenisnya.
Sementara tumbuhan paku heterospora (contoh paku rane) menghasilkan spora yang berbeda ukuran dan jenisnya. Spora yang
jatuh ditempat yang lembab (habitat tumbuhan paku) akan berkembang menjadi protalium yang akan menghasilkan sel gamet dan bersifat haploid (n) (Waeyami, 2018: 16).
c. Klasifikasi Tumbuhan Paku
Menurut Khisnul Faiz (2018: 25) Tumbuhan paku dimasukkan kedalam kelompok divisi Pteridophyta. Pteridophyta dapat dibagi menjadi empat kelas yaitu Psilophytinae, Lycopodiinae, Equisetinae, dan Filicinae.
1) Kelas Psilophytinae (Paku Purba)
Menurut Khisnul Faiz (2018: 23) psilophytinae (paku purba) merupakan paku tidak berdaun atau mempunyai daun-daun kecil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi dan terdapat pula yang tidak mempunyai akar. Kelas Psilophytinae terdiri dari 2 ordo, yaitu:
a) Ordo Psilophytales (paku telanjang).
b) Ordo Psilotales
2) Kelas Lycopodinae (Paku Rambut atau Paku Kawat)
Menurut Khisnul Faiz (2018: 23) ciri tumbuhan ini yaitu batang dan akar-akarnya bercabang menggarpu, daun mikrofil, tidak bertangkai dan daun tersusun rapat menurut garis spiral. Kelas Lycopodinae terdiri dari 4 ordo, yaitu:
a) Ordo Lycopodiales
b) Ordo Selaginellales (Paku Rane, Paku Lumut) c) Ordo Lepidodendrales
3) Kelas Equisetinae (Paku Ekor Kuda)
Menurut Khisnul Faiz (2018: 24) kelas Equisetinae memiliki ciri yaitu bercabang berkarang dan berbuku-buku dan beruas-ruas, daun kecil seperti selaput dan tersusun berkarang. Kelas Equisetinae terdiri dari 3 ordo, yaitu:
a) Ordo Equisetales b) Ordo Sphenophyllales c) Ordo Protoarticulatales 4) Kelas Filicinae (Paku Sejati)
Menurut Khisnul Faiz (2018: 25) kelas Filicinae lebih umumnya dikenal dengan tumbuhan paku atau pakis yang sebenarnya.
Tumbuhan ini termasuk higrofit, banyak hidup di tempat teduh dan lembab. Semua anggota Filicinae mempunyai daun-daun yang besar (makrofil), bertangkai, tumbuhan muda paku ini daunnya menggulung pada ujungnya dan pada sisi bawah mempunyai banyak sporangium.
Contohnya yaitu Adiantum farleyense (paku ekor merak), Platycerium bifurcatum (paku tanduk rusa). Kelas Filicinae terdiri dari 3 Anak Kelas, yaitu:
a) Anak kelas Eusporangiatae, terdiri atas 2 ordo yaitu:
(1) Ordo Ophoglossales (2) Ordo Marattiales
b) Anak kelas Leptosporangiatae terdiri atas 10 Ordo yaitu: Ordo Osmundales, Ordo Schizales, Ordo Gleicheniales, Ordo
Matoniales, Ordo Laxomales, Ordo Hymenophyllales, Ordo Dicksoniales, Ordo Thyrsopteridales, Ordo Chyatheales, Ordo Polipodiales.
c) Anak kelas Hydropterides (Paku Air)
Tumbuhan paku paku air dibedakan menjadi 5 kelas yaitu Lycopsida, Equisetopsida, Marrattiopsida, Psilotopsida, dan Polypodiopsida.