• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Uji Organoleptik

Penelitian ini adalah penilaian mutu tepung jagung (Zea Mays L) secara organoleptic (aroma, warna dan tekstur) yang dihasilkan melalui proses pengeringan dengan oven pada suhu 60oC,70oC dan suhu 80oC dijelaskan sebagai berikut:

Aroma adalah bau yang ditimbulkan oleh rangsangan kimia yang tercium oleh syaraf-syaraf olfaktori yang berada dalam rongga hidung,

Berat Basah Berat Kering Berat Setelah Ayak

275 265 250 260 240

225

260 250

225 60 C 70 C 80 C

Tepung jagung

Rendemen

33

Aroma makanan banyak menentukan kelezatan bahan makanan tersebut.

Pada umumnya aroma yang diterimah oleh hidung dan otak lebih banyak merupakan aroma utama yaitu harum, asam, tengik, dan hangus.

Penentuan aroma berhubungan denga indra penghidung, dengan indra penciumannya, seseorang dapat mengenali enak tidaknya makanan dari kejauhan tanpa mencicipi secara langsung. Pada umumnya bau yang diterimah oleh indra pencium lebih banyak merupakan campuran empat bau utama yaiyu aroma, asam, tengik dan hangus ( Winarno. 1997).

Sampel mutu tepung jagung (Zea Mays L) secara organoleptik aroma yang dihasilkan melalui pengeringan dengan oven pada suhu 60oC,70oC dan suhu 80oC.

gambar 4.3 Diagram batang parameter kesukaan aroma tepung jagung bahwa ada tiga responden yang suka terhadap aroma tepung jagung yaitu percobaan 3,4,6 dan percobaan 7. Sedangkan responden

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

60° 70° 80°

3.7 3.7 4.1

Aroma

Suhu Pengeringan

34

yang agak suka terhadap aroma tepung sebanyak 4 percobaan yakni terdapat pada percobaan 1,2,5 dan 6.

4.3.2 Warna

Warna merupakan sensori pertama yang d a p a t dilihat langsung oleh panelis. penentuan mutu bahan makanan umumnya bergantung pada warna yang dimilikinya, warna yang tidak menyimpang dari warna yang seharusnya akan memberi kesan penilaian tersendiri oleh panelis.

Warna merupakan salah satu segi dalam uji kesukaan yang utama dalam menentukan apakah suatu bahan pangan akan dikonsumsi atau tidak sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan. Secara visual faktor warna akan tampil terlebih dahulu.

Warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan makanan. Warna yang menarik dan tampak alamiah dapat meningkatkan cita rasa. Oleh sebab itu dalam penyelenggaraan makanan harus mengetahui prinsip-prinsip dasar untuk mempertahankan warna makanan yang alami, baik dalam bentuk teknik memasak maupun dalam penanganan makanan yang dapat mempengaruhi warna makanan (Arifiati, 2000)

Sampel mutu tepung jagung (Zea Mays L) secara organoleptic warna yang dihasilkan melalui pengeringan dengan oven pada suhu 60oC,70oC dan suhu 80oC.

35

gambar 4.4 Diagram batang parameter kesukaan warna tepung jagung bahwa ada empat responden yang suka terhadap aroma tepung jagung yaitu percobaan 3, 4,5 dan 7. Sedangkan responden yang agak suka terhadap aroma tepung jagung hanya sebanyak 3 percobaan yakni percobaan 1,2 dan 7.

4.3.3 Tekstur

Tekstur merupakan sifat yang sangat penting, baik dalam makanan segar maupun hasil olahan. Tekstur merupakan salah satu yang sering mengalami perubahan selama penyimpanan. Pengujian tekstur makanan merupakan upaya penemuan parameter tekstur yang tepat yang harus menjadi atribut mutu makanan yang bersangkutan, kemudian menentukan istialah popler yang paling sesuai dalam kategori parameter tersebut disertai dengan tambahan keterangan untuk menyatakan tingkatannya (Hardiman,1991).

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

60° 70° 80°

3.7 3.7 3.8

Warna

Suhu Pengeringan

36

Perubahan tekstur dan viskositas bahan dapat mengubah rasa dan bau yang timbul, karena dapat mempengaruhi kecepatan timbulnya rasa terhadap sel reseptor alfaktori dan kelenjar air liur. Semakin kental suatu bahan penerimaan terhadap intensitas rasa, bau dan rasa semakin berkurang (Sofiah dan Achyar,2008).

Sampel mutu tepung jagung (Zea Mays L) secara organoleptik tekstur yang dihasilkan melalui pengeringan dengan oven pada suhu 60oC,70oC dan suhu 80oC.

Gambar 4.5 Diagram batang parameter kesukaan tekstur tepung jagung, bahwa responden yang suka terhadap tektur tepung jagung ada 4 orang, yaitu terdapat percobaan 3, 5, 6 dan 7. Sedangkan yang sangat suka hanya 1 orang dan yang agak suka terdapat pada dua percobaan yaitu 1 dan 2

0 1 2 3 4 5

60° 70° 80°

2.8

3.7 Tekstur 4.8

Suhu Pengeringan

37 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, kadar air tepung jagung yang terbaik ialah dengan suhu 70°C, dengan nilai kadar air 9,54%, lama pengeringan kurang lebih 3 jam.

Hasil uji rendemen yang di tinjau dari hasil akhir pengayakan tepung jagung terbaik adalah dapat disimpulkan bahwa, suhu 70°C, yang menghasilkan 225 gm.

Berdasarkan dari SNI (01-3727-1995) kadar air maksimal 10%, sedangkan untuk warna, tidak boleh putih pucat beraroma khas jagung, sedang tekstur yang melalui saringan 60 mesh harus dibawa 70%.

5.2. Saran

Perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap mutu tepung jagung secara organleptik dengan percobaan lebih banyak dan diberi waktu pengujian agar dapat menghasilkan yang lebih akurat.

38

DAFTAR PUSTAKA.

Abriana, A. 2018. Analisis Pangan, Teori dan Metode. Cetakan I.

Penerbit. CU. Sah Media, Makassar.

Apriyantono,D. F A. 1989. Petunjuk laboratorium Analisi Pangan.

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi IPB. Bogor.

Badan Pusat Statistis Provinsi Lampung. 2016. Data Produksi Padi, Jagung dan Kedelai tahun 2015. Berita Resmi Statiska. Lampung.

Barnito,N.2009.Budidaya Tanaman Jagung.Suka Abadi.Yogjakarta.

Badan Standarisasi Nasional (1995). Standar Nasional Indonesia. SNI 01- 3727-1995 Tepung Jagung. Badan Standarlisasi Nasional, Jakarta.

Budiman, H.20,10. Sukses Bertanam Jagung Komoditas Yang Menjanjikan. Bandung Pustaka baru Press.

Buckle, K. A., Edwards, R. A,. Fleet, G. H,. And Watton, M. 1987 Ilmu Pangan. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Gaspersz, Vincent,. (1995), Teknik Analisa Dalam Penelitian Percobaan, Edisi Pertama, Penerbit Tarsito, Bandung.

Juniawati. 2003. Optimasi Proses Pengolahan Mie Jagung Instan Berdasarkan Preferensi Konsumen. (Skripsi). IPB. Bogor. 34-67 Muarif. 2013. Rancang Alat Pengering. Politeknik Negeri Sriwijaya

Palembang.

Ramadhani, N. F. 2011. Model Pengeringan Lapis Tipis Pada Cabai Merah Besar Varietas Tombok. Universitas Hasanuddin.

Rukmana, R. 2007. Bertanam Petsai Dan Sawi. Kanisius. Yogyakarta.

Suprapto. 2005. Botani Tanaman Jagung. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara Press.

Taib, G., Said, G., dan Wiraatmadja, S. 1988. Operasi Pengeringan Pada Pengolahan Hasil Pertanian. PT Mediyatama Sarana Perkasa.

Jakarta.

39

Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Berkarya Jagung. CV Nuansa Aulia Bandung.

Watson SA. 2003. Description, Development, Structure, and Composition of the cord Kernel. Di dalam: Lopulalan 2008. Corn: Chemistry and Technology. USA: American Association of Cereal Chemists Inc, (St, Paul, Mi ).

Wirakartakusumah A. 1989. Prinsip Teknik Pangan, PAU pangan dan gizi.

IPB, Bogor.

Winarno, F.G., 1997. Naskah Akademis Keamanan Pangan. Institut Pertanian Bogor.

40 Lampiran 1. Rekaputilasi

Uji Organoleptik Suhu Pengeringan

Suhu 60° Suhu 70° Suhu 80°

Aroma 3.7 3.7 4.1

Tekstur 2.8 3.7 4.8

Warna 3.8 3.7 3.7

Lampiran 2. Tabel Uji RAL mutu tepung jagung secara organoleptic aroma yang dihasilkan melalui proses pengeringan dengan oven.

Sumber varians

Db

Jumlah kuadrat

Rata-rata jumlah kuadrat

F hitung

F tabel

P value

Aroma 12 4.571 0.762 1.778 2.6 0.187

Suhu 8 0.857 0.857 0.429 3.10 0.397

Total 20 5.429 Sumber : Data Diolah 2019

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: hasil

Source Type III Sum of Squares

Df Mean Square F Sig.

Corrected Model 5.429a 8 .679 1.583 .228

Intercept 312.429 1 312.429 729.000 .000

Aroma 4.571 6 .762 1.778 .187

Suhu .857 2 .429 1.000 .397

Error 5.143 12 .429

Total 323.000 21

Corrected Total 10.571 20

a. R Squared = .514 (Adjusted R Squared = .189)

41

Hasil Duncan

Arom N Subset

1 2

aroma 1 3 3.3333

aroma 5 3 3.3333

aroma 2 3 3.6667 3.6667

aroma 6 3 3.6667 3.6667

aroma 7 3 4.0000 4.0000

aroma 3 3 4.3333 4.3333

aroma4 3 4.6667

Sig. .117 .113

Lampiran 3. Uji RAL mutu tepung jagung secara organoleptic warna yang dihasilkan melalui proses pengeringan dengan oven.

Sumber

varians Db Jumlah kuadrat

Rata-rata jumlah kuadrat

F

hitung F tabel P value

Warna 12 7.143 1.190 3.125 2.6 0.044

Suhu 8 .095 0.048 0.125 3.10 0.884

Total 20 7.238a Sumber : Data Diolah 2019

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: hasil

Source Type III Sum of Squares

Df Mean Square F Sig.

Corrected Model 7.238a 8 .905 2.375 .086

Intercept 297.190 1 297.190 780.125 .000

Warna 7.143 6 1.190 3.125 .044

Suhu .095 2 .048 .125 .884

Error 4.571 12 .381

Total 309.000 21

Corrected Total 11.810 20

a. R Squared = .613 (Adjusted R Squared = .355) Hasil

Duncan

Suhu N Subset

1

suhu 70 7 3.7143

suhu 80 7 3.7143

suhu 60 7 3.8571

Sig. .688

42

Lampiran 4. Uji ral pada tepung jagung Pengaruh Formulasi Tepung Terhadap Karakteristik Organoleptik Tekstur.

Sumber

varians Db Jumlah kuadrat

Rata-rata jumlah kuadrat

F hitung F table P value Tekstur 12 9.238 1.540 4.732 2.6 0.011

Suhu 8 14.095 7.048 21.659 3.10 0.000

Total 20 23.333a

Dependent Variable: hasil

Source Type III Sum of Squares

Df Mean Square F Sig.

Corrected Model 23.333a 8 2.917 8.963 .000

Intercept 304.762 1 304.762 936.585 .000

tekstur 9.238 6 1.540 4.732 .011

suhu 14.095 2 7.048 21.659 .000

Error 3.905 12 .325

Total 332.000 21

Corrected Total 27.238 20

a. R Squared = .857 (Adjusted R Squared = .761)

tekstur

Hasil Duncan

tekstur N Subset

1 2 3

percobaan 2 3 2.6667

percobaan 1 3 3.0000 3.0000

percobaan 5 3 4.0000 4.0000

percobaan 6 3 4.0000 4.0000

percobaan 7 3 4.0000 4.0000

percobaan 3 3 4.3333

percobaan 4 3 4.6667

Sig. .488 .069 .215

43 Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian

Gambar 1. Biji Jagung yang sudah digiling kasar

Gambar 2. Pengovenan atau Pengeringan

44

Gambar 3. Alat penepungan

Gambar 4. Penggilingan

Dokumen terkait