PERAWATAN PASCA HENTI JANTUNG
B. URAIAN MATERI
Tindak Lanjut Pasca Henti Jantung
Resusitasi terhadap pasien tetap berlangsung selama fase pasca henti jantung. Tindakan-tindakan berikut dapat dilakukan secara bersamaan, namun jika diperlukan penentuan prioritas maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
Fase stabilisasi awal terdiri dari manajemen jalan napas, pengelolaan parameter napas kemudian pengelolaan parameter hemodinamika.
1. Manajemen jalan napas (airway)
Pada pasien pasca henti jantung, pastikan jalan napas aman. Bila belum dipasang intubasi endotrakeal, lakukan jika memang diindikasikan pada pasien dengan koma. Pada pasien yang sudah terintubasi, cari apakah terdapat tanda- tanda sumbatan airway (suara gurgling). Lakukan suction bila perlu. Pemasangan kapnografi dapat dilakukan untuk mengonfirmasi dan memantau penempatan pipa endotrakeal.
2. Pengelolaan parameter napas (breathing)
Hipoksia-hiperoksia dan hipoksemia harus diatasi. Untuk menghindari hipoksia pada pasien pasca henti jantung, gunakan konsentrasi oksigen yang paling tinggi yang bisa dicapai sampai saturasi darah atau tekanan oksigen darah dapat diukur. Jika ventilator mekanik sudah tersedia dan titrasi FiO2 sampai batas yang diperlukan untuk mencapai target saturasi oksihemoglobin (SpO2) 92-98%.
Fraksi oksigen yang terlalu tinggi justru dapat mengakibatkan efek toksisitas yang berbahaya bagi pasien. Berikan volume tidal 6-8 ml/kgBB. Pertahankan laju napas mulai dari 10/menit, titrasi ventilasi per menit untuk mencapai target
penurunan curah jantung (akibat peningkatan tekanan intratorakal) dan berpotensi menyebabkan iskemia ke otak (akibat penurunan kadar
PaCO2). Lakukan pemeriksaan rontgen thorax untuk memastikan posisi pipa Endotrakeal serta mengidentifikasi penyebab atau komplikasi dari henti jantung seperti adanya edema paru, pneumothorax, pneumonia atau pneumonitis.
3. Pengelolaan parameter hemodinamik (sirkulasi) dan kardiovaskular
Perlu dilakukan monitoring irama jantung dan tekanan darah secara kontinyu.
Kecukupan tekanan darah sangat diperlukan untuk perfusi jaringan. Hipotensi pasca resusitasi memperburuk keluaran dan meningkatkan mortalitas. Bukti ilmiah merekomendasikan untuk menjaga tekanan darah pasca resusitasi pada level tekanan darah sistolik diatas 90 mmHg dan tekanan arteri rata-rata (mean arterial pressure/MAP) diatas 65 mmHg. Hipotensi biasanya disebabkan oleh 3 masalah, yaitu masalah rate (dan atau irama), volume, dan pompa. Bila terdapat masalah rate (baik bradikardia ekstrim <50x/menit ataupun takiaritmia ekstrim >150x/menit dengan irama yang bukan sinus), atasi takikardia dan bradikardia ini sesuai dengan algoritme takikardia atau bradikardia.
Terapi utama lain yang diperlukan pada pasca resusitasi adalah memastikan kecukupan cairan intravaskular. Penurunan tonus pembuluh darah dapat disebabkan oleh penurunan tonus simpatis maupun akibat dari asidosis metabolik. Usaha korektif pertama pada sebagian besar kasus adalah dengan meningkatkan volume intravaskular (kecuali bila hipotensi disebabkan oleh dekompensasi jantung kiri). Sebagai dosis uji cairan dapat diberikan 2-4 cc/kgBB dalam 10 menit larutan NaCl 0.9% atau ringer laktat secara intravena atau intraosseus sampai batas yang bisa ditoleransi pasien.
Obat-obat vasoaktif dapat dipertimbangkan pasca henti jantung untuk memperbaiki curah jantung, terutama aliran darah ke jantung dan otak.
Proses iskemia/reperfusi pasca henti jantung dan defibrilasi elektrik dapat menyebabkan disfungsi/stunning dari miokard yang bisa berlangsung selama beberapa jam. Pemeriksaan ekokardiografi bermanfaat untuk mendeteksi hal tersebut. Berbagai obat dapat dipilih dengan tujuan memperbaiki laju jantung (efek kronotropik), kontraktilitas miokardium (efek inotropik), meningkatkan tekanan arteri (efek vasokonstriksi) atau mengurangi afterload (efek vasodilator). Hati-hati dalam penggunaan obat-obatan inotropik atau
kemungkinan aritmia dan memperburuk iskemia miokardium sebagai akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen miokardium.
Penyebab terbanyak kasus henti jantung adalah penyakit jantung dan iskemia/infark miokard. EKG 12 sadapan harus dilakukan segera pasca henti jantung untuk menentukan adanya elevasi segmen ST akut (kasus IMA EST) atau tidak. Sindroma koroner akut adalah penyebab umum henti jantung di luar rumah sakit pada pasien yang tidak memiliki penyebab ekstrakardiak yang jelas.
Tindakan intervensi jantung dan angiografi koroner perlu dipertimbangkan bila didapati kecurigaan henti jantung yang disebabkan oleh masalah jantung dan terdapat elevasi segmen ST pada EKG, pasien dengan instabilitas hemodinamik (syok kardiogenik) atau pasien yang membutuhkan bantuan sirkulasi mekanik.
Pendekatan invasif dini direkomendasikan pada pasien sindroma koroner akut baik dengan ataupun tanpa elevasi segmen ST yang selamat dari henti jantung.
Manajemen berkelanjutan terdiri dari evaluasi penyebab reversibel dari henti jantung, evaluasi fungsi neurologis pasien, serta manajemen perawatan kritis lanjutan.
4. Evaluasi fungsi neurologis
Lakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk mengevaluasi fungsi neurologis.
Pada pasien yang koma atau tidak dapat mengikuti perintah perlu dilakukan Targeted Temperature Management (TTM) sesegera mungkin. Pasien dibuat hipotermi (suhu 32-36oC) selama 24 jam menggunakan perangkat pendingin.
Konsultasikan dengan dokter spesialis saraf. Pantau suhu inti (esofageal, kemih) secara kontinyu.
Pertahankan saturasi O2 normal, normocapnea dan kadar glukosa darah normal
Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG) secara kontinyu atau berkala mungkin diperlukan pada pasien yang koma
5. Evaluasi fungsi metabolik dan tangani etiologi henti jantung yang dapat
berkelanjutan. Pemberian sedasi seringkali diperlukan pada pasien dengan ventilasi mekanik.
Lakukan pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan pasca henti jantung
Pemeriksaan rontgen thorax jantung
Rontgen thorax diperlukan untuk memastikan airway (ETT) aman dan mendeteksi penyebab atau komplikasi dari henti jantung, misalnya edema paru, pneumonia, tension pneumothorax
Pemeriksaan analisa gas darah
Deteksi hipoksia dan kelainan gas darah (hydrogen ion/asidosis) sebagai penyebab henti jantung. Koreksi asidosis metabolik dengan memperbaiki hemodinamik serta perfusi jaringan, bila asidosis metabolik berat dapat dipertimbangkan pemberian infus sodium bikarbonat.
Pemeriksaan elektrolit
Cari dan atasi gangguan elektrolit (hipokalemia/hiperkalemia) sebagai faktor risiko aritmia. Target K 3.5-5.0 mEq/L
REFERENSI
1. Peberdy, M. A., Callaway, C. W., Neumar, R. W., Geocadin, R. G., Zimmerman, J. L., Donnino, M., ... & Vanden Hoek, T. L. (2010). Part 9:
post–cardiac arrest care: 2010 American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care.
Circulation, 122(18_suppl_3), S768-S786.
2. Callaway, C. W., Donnino, M. W., Fink, E. L., Geocadin, R. G., Golan, E., Kern, K.
B.,
... & Zimmerman, J. L. (2015). Part 8: post–cardiac arrest care: 2015 American Heart Association guidelines update for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. circulation, 132(18_suppl_2), S465-S482.
3. Nolan, J. P., Soar, J., Cariou, A., Cronberg, T., Moulaert, V. R., Deakin, C.
D., ... & Sandroni, C. (2015). European resuscitation council and European society of intensive care medicine 2015 guidelines for post-resuscitation care. Intensive care medicine, 41(12), 2039-2056.
4. Nolan, J. P., Soar, J., Zideman, D. A., Biarent, D., Bossaert, L. L., Deakin, C., ... & Böttiger, B. (2010). European resuscitation council guidelines for resuscitation 2010 section 1. Executive summary. Resuscitation, 81(10), 1219-1276.
5. Neumar, R. W., Otto, C. W., Link, M. S., Kronick, S. L., Shuster, M., Callaway, C.
W.,
... & Passman, R. S. (2010). Part 8: adult advanced cardiovascular life support: 2010 American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. Circulation, 122(18_suppl_3), S729-S767.
6. Link, M. S., Berkow, L. C., Kudenchuk, P. J., Halperin, H. R., Hess, E. P., Moitra, V. K., ... & White, R. D. (2015). Part 7: adult advanced cardiovascular life support: 2015 American Heart Association guidelines update for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care.
Circulation, 132(18_suppl_2), S444-S464.
7. Soar, J., Nolan, J. P., Böttiger, B. W., Perkins, G. D., Lott, C., Carli, P., ... &
Sunde, K. (2015). European resuscitation council guidelines for resuscitation
3. Adult advanced life support. Resuscitation, 95, 100-147.
8. Morrison, L. J., Deakin, C. D., Morley, P. T., Callaway, C. W., Kerber, R. E., Kronick,
S. L., ... & Parr, M. (2010). Part 8: advanced life support: 2010 international consensus on cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care
science with treatment recommendations. Circulation, 122(16_suppl_2), S345- S421.
9. Nielsen, N., Wetterslev, J., Cronberg, T., Erlinge, D., Gasche, Y., Hassager, C., ... & Pellis, T. (2013). Targeted temperature management at 33 C versus 36 C after cardiac arrest. New England Journal of Medicine, 369(23), 2197- 2206.
10. Rittenberger, J. C., & Callaway, C. W. (2013). Temperature management and modern post-cardiac arrest care. N Engl J Med, 369(23), 2262-2263.
11. Panchal, A. R., Bartos, J. A., Cabañas, J. G., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Hirsch,
K. G., ... & Berg, K. M. (2020). Part 3: Adult Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation, 142(16_Suppl_2), S366-S468.
———»»»œ«««———