BAB IV GAMBARAN UMUM INSTANSI
D. Uraian Tugas
3. Konservasi dan pengelolaan plasma nutfah spesifik lokasi, suaka perikanan, serta kawasan perlindungan budidaya lintas kabupaten/kota dan wilayah laut kewenangan provinsi
4. Pelayanan izin usaha budidaya dan penangkapan ikan pada perairan laut wilayah laut kewenangan provinsi
5. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya hayati dan non hayati di wilayah laut kewenangan provinsi
6. Peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan di bidang kelautan dan perikanan
7. Penelitian dan pengkajian teknologi di bidang kelautan dan perikanan;
8. Pelayanan dan pengembangan prasarana kelautan dan perikanan lintas kabupaten/kota atau dalam kewenangan provinsi
9. Pengendalian terhadap pelaksanaaan pemberantasan hama dan penyakit ikan
10. Pengaturan dan pengawasan penggunaan benih ikan dan sarana produksi perikanan
11. Pengaturan penggunaan air irigasi perikanan.
Berikut uraian tugas dari masing-masing jabatan : 1. Kepala Dinas
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan Dinas dalam melaksanakan tugas dan fungsi, serta memimpin dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan staf pelaksana Dinas Kelautan dan Perikanan.
2. Sekertariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan urusan surat menyurat, perencanaan program, pendistribusian perlengkapan kantor, kepegawaian, keuangan dan urusan umum. Untuk melaksanakan tugas, sekretariat mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan pengelolaan surat menyurat, perlengkapan rumah tangga dan pemeliharaan kantor Dinas Kelautan dan Perikanan.
b. Pelaksanaan pengelolaan administrasi kepegawaian.
c. Pengumpulan hasil penyusunan rencana, program kerja dan pelaporan serta pembinaan organisasi dan tata laksana.
3. Fungsional, Penyuluh Kelautan dan Perikanan, Pengawas Perikanan Fungsional mempunyai tugas menyusun rencana operasional dan pemeliharaan kantor serta pembiayaan kantor, menyusun data dan informasi organisasi dan tata laksana dinas, rencana pelatihan pegawai dan pengembangan SDM di lingkungan dinas, menyusun program kerja strategis dan laporan pelaksanaan kinerja dinas. Untuk melaksanakan tugas, sub bagian perencanaan mempunyai fungsi : a. Penyusunan rencana operasional dan pemeliharaan kantor serta
pembiayaan kantor
b. Penyusunan data informasi organisasi dan tata laksana dinas
c. Penyusunan rencana pelatihan pegawai dan pengembangan SDM di lingkungan dinas
d. Penyusunan program kerja strategi pelaksanaan kinerja dinas.
4. Penyuluh Kelautan dan Perikanan
Seksi Pembinaan Kelembagaan dan Penyuluhan mempunyai tugas melakukan investarisasi, identifikasi, analisa dan pembinaan kelembagaan pembudidayaan ikan, pengolah hasil perikanan dan nelayan serta menyelenggarakan penyuluhan kelautan dan perikanan.
Untuk melaksanakan tugas, seksi pembinaan kelembagaan dan penyuluhan mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan bimbingan teknis dan administrasi dalam pembinaan dan pengembangan kelembagaan nelayan pengolah dan pembudidaya ikan
b. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga penyuluh, penggunaan sarana penyuluhan dan perumusan serta penyiapan materi penyuluhan
c. Memfasilitasi pembinaan kelembagaan, pengolah hasil perikanan dan pembudidayaan ikan
d. Mengkoordinasikan penyelenggaraan penyuluhan kelautan dan perikanan
e. Pelaksanaan sistem informasi dan bimbingan penerapan teknologi perikanan.
5. Pengawas Perikanan
Bidang Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan mempunyai tugas melakukan pembinaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan.
Untuk melaksanakan tugas, Bidang Pengawasan dan Pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Pelaksanaan sosialisasi dan monitoring terpadu serta pengawasan dan pengamanan sumberdaya ikan dan lingkungan (SISWASMAS) b. Pengindentifikasian biota laut, pelestarian sumberdaya ikan
(Searching, restoking, pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan)
c. Peningkatan kapasitas PPNS dan Sarana Pengawasan.
6. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan
Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja dinas, pembukuan anggaran dan verifikasi serta pengurusan perbendaharaan.
Untuk melaksanakan tugas, sub bagian Keuangan mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana anggaran dinas b. Pengelolaaan administrasi keuangan dinas
c. Pembuatan laporan penggunaan keuangan Dinas
d. Pelaksanaan evaluasi anggaran dan penggunaan keuangan dinas e. Pemberian usulan untuk perbaikan anggaran dan pengelolaan
keuangan dinas
f. Pelaksanaan kegiatan bidang administrasi keuangan.
7. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Umum mempunyai tugas mengelola kegiatan administrasi perkantoran kegiatan surat menyurat, tatausaha perjalanan Dinas, melakukan penginvestasian, pembelian, pendistribusian dan pemeliharaan barang-barang inventaris kantor, menyusun rencana penempatan dan mutasi pegawai di lingkungan dinas, pengelolaan administrasi kepegawaian dan pengembangan kepegawaian.
Untuk melaksanakan tugas, sub bagian umum mempunyai fungsi : d. Pengelolaan kegiatan surat menyurat yang meliputi pengetikan,
penggandaan, dan pengarsipan
e. Pengurusan tata usaha perjalanan dinas
f. Pelaksanaan investasi, pembelian, pendistribusian, dan pemeliharaan barang – barang inventaris kantor
g. Penyusunan rencana penempatan dan mutasi pegawai lingkungan dinas
h. Pelaksanaan administrasi kepegawaian dan pengembangan kepegawaian.
8. Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya
Bidang Perikanan Budidaya mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan budidaya perikanan. Untuk melaksanakan tugas, bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya mempunyai fungsi :
a. Pemberian fasilitas transformasi teknologi budidaya laut payau dan air tawar
b. Pengembangan dan pengendalian budidaya perikanan c. Pembinaan dan pengaturan sarana dan prasarana budidaya
d. Pelaksanaan analisis data statistik dan informasi budidaya perikanan e. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan program pelaksanaan
penelitian dan pengembangan teknologi perikanan budidaya f. Perencanaan pembangunan perikanan budidaya
g. Pembinaan dan bimbingan penerapan teknologi perikanan budidaya h. Pelaksanaan pengendalian lingkungan dan kesehatan ikan
i. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya. 9. Bidang Kelautan, Pesisir dan PPK
Bidang Kelautan, Pesisir mempunyai tugas melakukan pembinaan di bidang kelautan dan pesisir. Untuk melaksanakan tugas pokok, bidang kelautan dan pesisir mempunyai fungsi :
a. Pembinaan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan, sarana dan prasarana pesisir, perikanan tangkap serta penataan ruang laut di wilayah kewenangan kabupaten
b. Pembinaan masyarakat pesisir
c. Pembinaan dan koordinasi pengelolaan terpadu dan pemamfaatan sumberdaya laut dan wilayah pesisir
d. Analisis data dan informasi kelautan, wilayah pesisir dan Perikanan tangkap
e. Pembinaan dan pengembangan teknologi penangkapan ikan spesifik daerah
f. Koordinasi kaji terap dan transformasi teknologi perikanan tangkap g. Pelaksanaan analisis stock sumberdaya diwilayah laut kabupaten h. Pelaksanaan analisis data sarana dan prasarana perikanan tangkap i. Pembuatan dan penyebarluasan peta migrasi dan penyebaran ikan.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Deskriptif Rencana Strategik (RENSTRA) Penyusunan Anggaran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten TaKalar
Sesuai dengan kondisi usaha perikanan di Indonesia baik dari skala kecil dan dinamika lingkungan strategis di dalam negeri maupun skala global, maka Garis-Garis Besar haluan Negara (GBHN) tahun 1999 telah memberikan acuan yang sangat kondusif dalam pembangunan sektor perikanan. Dalam rangka memenuhi amanat tersebut pemerintah juga merumuskan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan telah menetapkan langkah- langkah operasional kebijakan pokok tersebut.
Perencanaan strategik dalam rangka keperintahan yang baik telah dirumuskan pokok-pokok kebijaksanaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar dalam pembangunan perikanan adalah pemantapan ketahanan ekonomi wilayah. Program strategik ditetapkan untuk mendukung kebijakan pemerintah Kabupaten Takalar dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah Kabupaten yang memperhatikan paradigma baru pembangunan perikanan berbasis agribisnis berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralistis dengan pendekatan kemandirian lokal. Selain itu mengacu padagrandstrategis pembangunan perikanan nasional.
Sesuai Rencana Strategik (RENSTRA) Dinas Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, maka kegiatan strategik yang akan
59
dilaksanakan untuk mendukung program dan kebijakan, adalah sebagai berikut:
1. Program peningkatan ketahanan pangan :
a. Pembinaan pengembangan perbenihan rumput laut b. Pembinaan pengembangan pembibitan rumput laut c. Pembinaan pengembangan rumput laut
d. Pembinaan pengembangan sarana pembibitan rumput laut
e. Pengembangan pemanfaatan alat dan mesin pembibitan pra panen f. Pembinaan pengendalian Operasional Perangkat Tambahan (OPT)
pembibitan rumput laut
g. Pembinaan kelembagaan dan penyuluhan h. Penyebaran informasi produksi rumput laut i. Pemantauan penyebaran distribusi rumput laut j. Pembinaan pengembangan permodalan
k. Pembinaan pengembangan penerapan tekhnologi 2. Program pengembangan sistem dan usaha pembibitan
a. Pengembangan penanganan pascapanen dan pengolahan hasil b. Pembinaan pengembangan pemasaran dan kemitraan usaha c. Pengembangan kawasan agrowisata
d. Pembinaan pengembangan kelembagaan tani
e. Pengembangan penerapan dan penyebaran teknologi
3. Program peningkatan perencanaan pengembangan SDM pertanian rumput laut adalah :
a. Perencanaan monitoring dan evaluasi pengembangan bibit b. Peningkatan kualitas data statistik
c. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pembibitan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah suatu anggaran daerah. Definisi ini menunjukkan bahwa suatu anggaran daerah, termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
3. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci
4. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk menutupi biaya terkait aktivitas tersebut, dan adanya biaya yang merupakan batas maksimal pengeluaran yang akan dilaksanakan 5. Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka 6. Periode anggaran, biasanya satu tahun.
Penganggaran sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter. Proses penganggaran organisasi sektor publik dimulai ketika perumusan strategi dan perencanaan strategik telah selesai dilakukan.
Anggaran merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi dan perencanaan strategik yang telah dibuat. Tahap penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat menggagalkan perencanaan yang sudah disusun. Anggaran merupakan managerial plan for action untuk memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi.
Pembuatan anggaran dalam organisasi sektor publik, terutama pemerintahan, merupakan sebuah proses yang rumit dan mengandung muatan politis yang cukup signifikan. Berbeda dengan penyusunan anggaran di perusahaan swasta yang muatan politisnya relatif lebih kecil.
Bagi organisasi sektor publik seperti pemerintah, anggaran tidak hanya sebuah rencana tahunan tetapi juga merupakan bentuk akuntabilitas atas pengelolaan dana publik yang dibebankan kepadanya.
Melalui proses anggaran kinerja, pemerintah kota/kabupaten menetapkan keluaran dan hasil dari masing-masing program dan pelayanan. Kemudian pemerintah daerah membuat target pencapaiannya.
Secara umum prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja didasarkan pada konsep Value for Money (Ekonomis, Efisiensi, dan Efektifitas) dan prinsip tata pemerintahan yang baik termasuk adanya pertanggungjawaban para pengambil keputusan atas penggunaan uang yang dianggarkan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan indikator yang telah ditetapkan.
Pemerintah daerah diharuskan menetapkan anggaran kinerja karena memudahkan pengambilan keputusan dalam menentukan prioritas tujuan, sasaran, program, kegiatan dan belanja, memudahkan dalam mengkomunikasikan prioritas Pemerintah Daerah kepada masyarakat, meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan anggaran, dan mematuhi peraturan perundangan yang berlaku.
Pada era reformasi, bentuk dan susunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) telah mengalami dua kali perubahan. Pada
awalnya, susunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1975) terdiri atas anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Anggaran Rutin dibagi lebih lanjut menjadi pendapatan dan belanja rutin, demikian pula anggaran pembangunan dibagi lebih lanjut menjadi pendapatan dan belanja pembangunan.
Susunan demikian kemudian mengalami perubahan dengan dikeluarkannya beberapa peraturan pada kurun waktu tahun 1984-1988.
Karakteristik Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada era reformasi adalah :
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama-sama dengan kepala daerah.
2. Pendekatan yang dipakai dalam menyusun anggaran adalah pendekatan line item atau pendekatan tradisional. Dalam pendekatan ini, anggaran disusun berdasarkan jenis penerimaan dan pengeluaran.
Jadi, setiap baris dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menunjukkan jenis penerimaan dan pengeluaran. Penggunaan pendekatan bertujuan mengendalikan setiap pengeluaran yang dilakukan. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling tradisional (tertua) di antara berbagai pendekatan anggaran. Beberapa jenis pendekatan yang lebih maju adalah :
a) Program budgeting b) Performance budgeting
c) Planning, programming, and budgeting system (PPBS) d) Zero based budgeting
3. Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemeriksaan, serta penyusunan dan penetapan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penyusunan dan penetapan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan pertanggung jawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pertanggungjawaban tersebut dilakukan dengan menyampaikan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kepada menteri dalam negeri untuk Pemerintah Daerah (Pemda) tingkat I dan kepada Gubernur untuk Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat II, jadi, pertanggungjawaban ini bersifat vertikal.
4. Dalam tahap pengawasan dan pemeriksaan serta penyusunan dan penetapan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pengendalian dan pemeriksaan/audit terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bersifat keuangan. Hal ini tampak pada pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berdasarkan objek yang meliputi pengawasan pendapatan dan pengeluaran daerah. Pengawasan tersebut tidak memperhitungkan pertanggungjawaban dari aspek lain seperti aspek kinerja.
5. Pengawasan terhadap pengeluaran daerah dilakukan berdasarkan ketaatan terhadap tiga unsur utama, yaitu unsur ketaatan pada
peraturan perundangan yang berlaku, unsur kehematan dan efisiensi, dan hasil program (untuk proyek-proyek daerah).
6. Sistem akuntansi keuangan daerah menggunakan stelsel kameral (tata buku anggaran). Menurut sistem buku ini, penyusunan anggaran dan pembukuan saling berhubungan dan mempengaruhi. Dasar pemilihan tata buku, yaitu stelsel kameral dan bukannya stelsel komersiil (tata buku kembar/berpasangan), merupakan tujuan pembukuan.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sekarang didasari pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (PDKD).
Peraturan-peraturan di era reformasi keuangan daerah mengisyaratkan agar laporan keuangan semakin informatif. Untuk itu, dalam bentuk yang baru, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terdiri atas tiga bagian yaitu pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Pembiayaan merupakan kategori baru yang belum ada pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di era pra reformasi. Adanya pos pembiayaan merupakan upaya agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) semakin informatif, yaitu memisahkan pinjaman dari pendapatan daerah. Hal ini sesuai dengan definisi pendapatan sebagai hak Pemerintah Daerah (Pemda), sedangkan pinjaman belum tentu menjadi hak Pemerintah Daerah (Pemda).
Setiap perangkat daerah yang mempunyai tugas memungut atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi
pemungutan pendapatan tersebut. Dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), semua manfaat yang bernilai uang berupa komisi, rabat, potongan, bunga atau nama lain sebagai akibat dari penjualan dan atau pengadaan barang dan atau jasa dan dari penyimpanan dan atau penempatan uang daerah merupakan pendapatan daerah dan dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Pendapatan daerah disetor sepenuhnya tepat pada waktunya ke kas daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak dapat dilakukan sebelum ditetapkan dalam peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan ditempatkan dalam lembaran daerah. Tindakan dimaksud tidak termasuk penerbitan surat keputusan yang berkaitan dengan kepegawaian yang formasinya sudah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan anggaran apabila rancangan belum disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Untuk setiap pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) diterbitkan Surat Keputusan Otorisasi (SKO) atau surat keputusan lainnya yang disamakan dengan itu oleh pejabat yang berwenang. Surat Keputusan Otorisasi (SKO) merupakan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menjadi dasar pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD). Pembebanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut harus didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1994, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang berbunyi : “Tahap mengurangi wewenang atau tanggung jawab Atasan langsung/Pemimpin Proyek, selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulan.
Bendaharawan mengirimkan Surat Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Rutin (SPJR) dan Surat Pertanggungjawaban Pembangunan (SPJP) tentang pengurusan uang untuk dipertanggungjawabkan (UUDP) yang lalu kepada Kepala Daerah”.
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, menerangkan bahwa Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yaitu :
1. Semua penerimaan daerah wajib disetor seluruhnya ke Rekening Kas Umum Daerah.
2. Pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam satu tahun anggaran hanya dapat dilaksanakan setelah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran yang bersangkutan ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
3. Dalam hal peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam poin 2 tidak disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), untuk membiayai keperluan setiap bulan pemerintah daerah dapat melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran sebelumnya.
4. Kepala Seksi Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) menyusun dokumen pelaksanaan anggaran untuk Seksi Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang dipimpin berdasarkan alokasi anggaran yang ditetapkan oleh kepala daerah.
5. Pengguna anggaran melaksanakan kegiatan sebagaimana tersebut dalam dokumen pelaksanaan anggaran yang telah disahkan.
6. Pengguna anggaran berhak menguji, membebankan pada mata anggaran yang disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
7. Pembayaran atas tagihan yang dibebankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dilakukan oleh bagian bendahara umum daerah.
8. Pembayaran atas tagihan yang dibebankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima.
9. Daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kebutuhan yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
10. Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada poin 8 dapat bersumber dari penyisihan atau penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kecuali dari Dana Alokasi Khusus (DAK), pinjaman daerah dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu.
11. Penggunaan dana cadangan dalam satu tahun anggaran menjadi penerimaan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam tahun anggaran yang bersangkutan.
12. Dana cadangan ditempatkan dalam rekening tersendiri dalam Rekening Kas Umum Daerah.
13. Dalam hal dana cadangan yang belum digunakan sesuai dengan peruntukkannya, dana tersebut dapat ditempatkan dalam fortopolio yang memberikan hasil tetap dengan resiko rendah.
14. Pemerintah Daerah dapat melakukan kerjasama dengan pihak lain atas dasar prinsip saling menguntungkan.
15. Kerjasama dengan pihak lain ditetapkan dengan peraturan daerah.
16. Anggaran yang timbul akibat dari kerjasama tersebut dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
17. Dalam keadaan darurat, pemerintah daerah dapat melakukan belanja dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang belum tersedia anggarannya.
18. Belanja tersebut selanjutnya diusulkan dalam rencana perubahan dan/atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran.
19. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditetapkan selambat-lambatnya tiga bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran.
20. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hanya dapat dilakukan satu kali dalam satu tahun anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa.
Untuk tercapainya sasaran, target, tujuan dan disiplin pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam rangka desentralisasi dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dikelola sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah yang berlaku
2. Semua transaksi keuangan daerah baik penerimaan daerah maupun pengeluaran daerah harus disertai dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan dilaksanakan melalui Kas Daerah
3. Setiap orang yang diberi wewenang menandatangani dan atau mengesahkan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), bertanggung jawab atas kebenaran dan akibat dari penggunaan bukti tersebut
4. Walaupun anggaran belanja yang disediakan merupakan batas tertinggi pengeluaran, tanpa mengurangi pencapaian target dan sasaran yang
ditetapkan, didalam realisasi keuangannya diupayakan agar tidak seluruhnya dihabiskan
5. Tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tidak dapat dilakukan sebelum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditetapkan dalam Peraturan Daerah dan ditempatkan dalam Lembaga Daerah.
Tindakan tersebut dikecualikan terhadap biaya-biaya tetap seperti gaji pegawai, tunjangan, ongkos listrik, telepon, gas dan air minum;
6. Pemerintah Daerah dapat menunjuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Badan Non-Pemerintah Daerah untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dan proyek tertentu.
Setiap pengeluaran belanja atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Bukti tersebut harus mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. Pengeluaran kas tersebut tidak termasuk untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.
Dasar pengeluaran anggaran belanja tidak terduga yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
untuk mendanai tanggap darurat, penanggulangan bencana alam dan/atau bencana sosial, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak keputusan dimaksud ditetapkan. Pengeluaran belanja untuk tanggap darurat berdasarkan kebutuhan yang diusulkan dari instansi/lembaga berkenaan setelah mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas serta menghindari adanya tumpang tindih pendanaan terhadap kegiatan- kegiatan yang telah didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Pimpinan instansi/lembaga penerima dana tanggap darurat harus bertanggung jawab atas penggunaan dana tersebut dan wajib menyampaikan penggunaan kepada kepala daerah.
Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
B. Analisis Efektifitas Penggunaan Anggaran Dalam Meningkatkan Pembibitan Rumput Laut Pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar dalam melaksanakan kegiatannya dapat mengklasifikasi biaya dalam