BAB I PENDAHULUAN
H. Metode Penelitian
2. Waktu dan Tempat Penelitian
H. Metode Penelitian
4. Rancangan Penelitian
Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan data atau sampel yaitu dengan teknik area sampling (pengambilan sampel pada wilayah atau daerah). Teknik area sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan wakil-wakil dari daerah geografis yang ada.36 Pada penelitian ini, daerah pengambilan sampel dibagi menjadi tiga stasiun yaitu tumbuh pada ekosistem terumbu karang (I), ekosistem lamun (II) dan ekosistem mangrove (III).
Pengambilan data dilakukan dengan cara menyelam sampai kedalaman maksimum 3 m dibantu dengan peralatan snorkeling.
Pengumpulan data fisika oseanografi meliputi salinitas, suhu, dan PH.
Pemasangan garis transek dilakukan pada masing-masing titik pengamatan (stasiun) ditarik transek (roll meter) sepanjang 50 meter dengan kedalaman maksimum 3 meter di atas terumbu karang, lamun dan sekitaran mangrove. Proses pengamatan dilakukan 3 kali ulangan transek pada setiap stasiun, visual lebar transek 2,5 ke kanan dan ke kiri. Jarak antara setiap ulangan transek dengan transek ulangan yang lain sepanjang 10-15 meter. Selanjutnya, pengamatan dilakukan 15 β 20 menit setelah garis transek terpasang untuk memberikan kesempatan ikan hias kembali ke keadaan semula. Ikan yang berada di dalam daerah yang diamati dihitung jumlahnya. Data hasil pengamatan secara visual ditulis pada lembar kertas sensus yang telah disediakan sebelumnya.
36 Melati Febrianita Fachrul, Metode Sampling Biokologi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007)h.13
Gambar 1.1 Gambaran lokasi pengambilan sampel di Gili Kondo, Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur.
Keterangan :
: Gili Kondo
: Stasiun I (Terumbu Karang) : Stasiun II (Lamun)
: Stasiun III (Mangrove) : Transect Line
5. Alat Penelitian
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Perlengkapan snorkeling (masker) untuk proses pengamatan langsung.
b. kamera under water digunakan untuk dokumentasi kegiatan penelitian.
c. Meteran (roll meter) digunakan untuk mengukur areal stasiun dan plot di kawasan perairan.
d. Tali rapia digunakan untuk membuat simpul atau garis tiap plot.
e. Alat tulis dan tabel data untuk menulis semua data yang diperoleh.
f. Alat untuk mengukur kualitas air ( pH, suhu, salinitas, kekeruhan)
Ekosistem Lamun U 20 m
D A R
A 100 m
T Ekositem Terumbu Karang A
N 50 m
Ekosistem Mangrove
100 m
50 m
6. Pelaksanaan Penelitian Tabel 1.1 Tahap persiapan
No Tahap pertama
1 Menentukan lokasi pengambilan sampel di Gili Kondo dengan metode purposive random sampling.
2 Membentuk stasiun sesuai dengan wilayah penelitian yang sudah ditentukan (terumbu karang, lamun dan mangrove) masing-masing stasiun terdapat 3 transek pengamatan.
3 Menentukan transek-transek yang dijadikan sampel.
4 Melakukan pengukuran terhadap kualitas air pada lokasi pengambilan sampel.
5 Mengidentifikasi setiap wilayah pada masing-masing stasiun tempat pengambilan sampel.
Tabel 1.2 Tahap pelaksanaan
No Tahap pelaksanaan
1 Data ikan hias didapat dengan menyelam pada kedalan 3-4 meter menggunakan peralatan snorkeling.
2 Pengambilan sampel dilakukan dengan metode pengamatan visual sensus dan foto.
3 Menggambarkan langsung ciri-ciri khusus ikan yang sudah diamati.
4 Mengambil gambar menggunakan kamera under water sepanjang garis transek sebanyak 20 X foto per-transek.
5 Mengidentifikasi jenis-jenis ikan hias yang didapatkan dari hasil pengamatan menggunakan petunjuk buku yang relevan.
7. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian. Observasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Observasi merupakan proses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis dan psikologis. Dari pengertian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap objek penelitian.
Dalam melakukan observasi atau pengamatan secara langsung di lapangan, peneliti menggunakan beberapa tehnik yaitu transek atau stasiun, klasifikasi atau identifikasi terhadap data yang diperoleh.
Observasi ini bertujuan untuk mengamati langsung keadaan tiap stasiun yang terdapat ikan hias dan menulis semua jenis dan jumlah ikan hias yang didapatkan pada saat mengamati jenis sampel ikan hias yang diamati langsung pada beberapa ekosistem yaitu, ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun dan ekosistem mangrove di perairan Gili Kondo, kecamatan Sambelia kabupaten Lombok Timur.
b. Wawancara
Wawancara merupakan alat rechecking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, diimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatife lama..
Dengan teknik ini, kita dapat mekakukan wawancara kepada 2 atau 3 orang warga sekitar yang sudah lama mendiami lokasi penelitian. Kita dapat bertanya bagaimana kondisi perairan tersebut dan bagaimana tingkat keanekaragaman ikan hias di perairan tersebut.
Kita juga dapat bertanya dimana spot snorkeling yg paling baik agar mendapatkan hasil yang maksimal pada saat proses pengambilan data.
Peneliti juga dapat bertanya tentang bagaimana keanekaragaman ikan hias tiap tahunnya, apakah mengalami penurunan atau mengalami peningkatan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan cara membaca teks, pengumpulan data dengan cara menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Jadi metode dokumentasi adalah pengambilan data dengan mencatat data yang sudah ada atau mengambil data yang sudah terkumpul. Teknik dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data- data penelitian, sehingga datanya menjadi valid. Adapun penggunaan
teknik dokumentasi dalam penelitian ini yaitu dengan mengambil gambar (foto) pada setiap jenis ikan hias yang didapatkan.
8. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan satu cara yang dapat dipergunakan untuk pengolahan data yang telah terhimpun dari berbagai kegiatan penelitian sehingga memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Untuk menghitung keanekaragaman jenis ikan hias di perairan Gili Kondo dapat dilakukan dengan menggunakan rumus indeks keanekaragaman (Indeks of Diversity) Shannon Winner berikut:
Hβ= -βPiLnPi atau Hβ = πππ lnπππ Dengan:
Hβ : Indeks diversitas (keanekaragaman) Shannon-Wiener Pi : Kelimpahan jenis ke-I (ni/N)
Ni : Jumlah individu jenis ke-i
N : Jumlah total individu semua jenis dalam komunitas Kriteria:
0<Hβ<2,302 : Menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu stasiun adalah melimpah
2,302β€ Hββ€6,907 : Menunjukkan bahwa keanekaragaman speseis pada suatu stasiun adalah sedang melimpah
Hβ>6,907 : Menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu stasiun adalah sedikit/rendah.37
37 Melati febrianita fachrul, Metode Sampling. h.51
9. Tabel Hasil Pengamatan
Tabel 1.3 Jumlah spesies ikan hias yang ditemukan pada stasiun I (Terumbu Karang)
Spesies
Jumlah (β) Spesies pada Stasiun I
Total Transek I Transek II Transek III
Tabel 1.4 Jumlah spesies yang ditemukan pada stasiun II (Lamun)
Spesies
Jumlah (β) Spesies pada Stasiun II
Total Transek I Transek II Transek III
Tabel 1.5 Jumlah spesies yang ditemukan pada stasiun III (Mangrove) Spesies
Jumlah (β) Spesies pada Stasiun III
Total Transek I Transek II Transek III
BAB II
HASIL PENELITIAN A. Keadaan Lokasi Penelitian
Gili kondo ini adalah sebuah gugusan kepulauan kecil di sebelah timur Pulau Lombok, tepatnya berada pada Selat Alas, selat inilah yang memisahkan Pulau Lombok dan Sumbawa. Gili Kondo merupakan pulau yang berpenghuni namun hal tersebut terjadi pada musim-musim tertentu.
Gili Kondo sebagian besar terdiri dari hamparan pasir putih yang lembut dikelilingi oleh air laut yang bening kehijauan. Gili kondo mempunyai daratan yang paling luas dibandingkan dengan ketiga gili lainnya, meskipun Gili Petagan merupakan gili yang terluas namun dipenuhi dengan hutan mangrove dengan sedikit daratan. Gili Kondo lebih sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara karena tidak hanya dengan lokasinya yang nyaman dan cocok sebagai tempat istirahat.
Untuk menuju Gili ini ada 3 jalur alternatif, jalur pertama wisatawan dapat menyeberang dari Pelabuhan Kayangan, jalur ini kurang diminati oleh para wisatawan karena dianggap cukup jauh dan tidak tersedia perahu transportasi khusus untuk menyeberang. Jalur kedua wisatawan dapat menyeberang dari Desa Padak Guar, jalur ini paling diminati oleh wisatawan karena waktu tempuh dari pesisir pantai sampai Gili Kondo cukup singkat karena lebih dekat dibandingkan tempat penyeberangan yang berada di Pantai Pulau Lampu jika kita berangkat dari
45
arah Mataram. Adapun tarif penyeberangan dari Padak Guar hanya 25.000 pulang pergi untuk setiap orang.
Banyak wisatawan menjuluki pulau ini dengan (Private Island) karena kealamiannya tetap terjaga. Belum ada tempat tinggal permanen di Gili ini hanya ada bangunan seperti toilet umum saja sedangkan untuk peristirahatan hanya ada gazebo atau biasa dikenal dengan brugak sebagai tempat singgah para wisatawan yang sedang berekreasi. Jika kita ingin menginap di tempat ini, kita dapat membawa tenda karena terdapat camping area yang cukup luas dan aman untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana malam di Gili Kondo.
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Oktober 2016 yang dimulai dari pukul 09.00-17.00 Wita. Proses penelitian dilakukan dengan menyewa perahu nelayan sebagai akses menuju Gili Kondo untuk pelaksanaan penelitian tentang keanekaragaman ikan hias pada berbagai ekosistem yaitu ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun dan ekosistem hutan mangrove.
B. Penyajian Data Hasil Penelitian
1. Jenis-jenis Ikan Hias yang Ditemukan.
Dari ketiga stasiun yang menjadi lokasi penelitian atau tempat melakukan studi kasus yaitu di kawasan perairan Gili Kondo Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Lokasi penelitian dibagi atas 3 stasiun, pada setiap stasiun terdapat masing-masing 3 transek. Ekosistem terumbu karang dijadikan sebagai stasiun I, ekosistem padang lamun
dijadikan sebagai stasiun II dan ekosistem hutan mangrove dijadikan sebagai stasiun III. Jenis-jenis ikan hias yang ditemukan pada setiap stasiun jenisnya hampir sama. Keanekaragaman jenis ikan hias yang paling beragam ditemukan pada stasiun I yaitu pada ekosistem terumbu karang. Adapun spesies ikan hias yang ditemukan di kawasan perairan Gili Kondo yaitu:
a. Stasiun I (Ekosistem Terumbu Karang)
Tabel 2.1 Spesies Ikan Hias pada Ekosistem Terumbu Karang
No Spesies Jumlah Total
Transek I Transek II Transek III
1 Chromis atripectoraliis 10 8 11 29
2 Chromis ternatensis 5 6 3 14
3 Chaetodon meyeri 2 3 2 7
4 Chaetodon lunuatus 2 2 2 6
5 Ablyglyphidodon aureus 2 2 4 8
6 Chaetodon trifasciatus 3 2 2 7
7 P.ocellatus 4 3 2 9
8 Pomacentrus moluccensis 70 56 60 186
9 G.aureolineatus 10 7 5 22
10 Dascyllus aureus 8 3 2 13
11 A. trimaculatus 6 3 5 14
12 Pomacentrus auriventris 3 2 4 9
13 Pomacentrus alexanderae 6 5 17 28
14 N. azysron 3 6 9 18
15 P. polytaenia 3 2 4 9
16 Apogonfragilis 7 4 3 14
17 Chormis viridis 18 10 12 40
18 Chrysiptera springeri 10 8 8 26
No Spesies Jumlah Total Transek I Transek II Transek III
19 Abudefduf vaigiensis 23 30 16 69
20 Neoglyphidododon melas 12 7 5 24
21 Scurus niger 8 8 6 22
22 Pygoplites dicanthus 16 10 8 34
23 Cetoscarus bicolor 9 5 8 22
24 Chricyptera rolandi 6 4 9 19
25 Scoplis margaritfera 40 45 35 120
26 Neoglyphidodon nigroris 30 35 27 92
27 Pomacentrus philippinus 8 8 6 22
28 Abudefduf notatus 40 43 50 133
29 Amphirion Clarkii 11 20 12 43
30 Amphiprion ocellaris 6 6 4 16
Total Keseluruhan Jenis (N) 1075
1) Chromis atripectoralis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 12 cm, badan hijau kebiruan, ekor agak dan sangat mirip dengan C. viridis hanya dibedakan dengan spot hitam di pangkal sirip dadanya, habitat di daerah karang dangkal, laguna dan lereng karang. Biasa dijumpai dalam kelompok besar di koloni karang bercabang. Range kedalaman 1-29 meter.38
2) Chromis ternatensis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 10 cm, coklat dengan warna pudar dibagian bawah perut. Garis hitam di bagian ekor merupakan ciri
38 Farizal Setiawan, Identifikasi Ikan Karang Dan Invertebrata Laut ( Mando, 2016) h.194
khasnya, biasanya ditemukan di atas karang bercabang di daerah laguna hingga lereng karang yang jernih. Range kedalaman 3 - 36 meter39.
3) Chaetodon meyeri
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 20 cm, badan berwarna krem kebiruuan dengan garis hitam melengkung di badan, muka, hingga sirip, habitat tinggal di daerah kaya karang di laguan yang jernih dan lereng karang. Juvenil soliter di karang branching, dewasa berpasangan saat memijah40.
4) Chaetodon lunulatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 14 cm, sangat mirip dengan C.trifasciatus, perbedaannya terletak di pangkal ekor yang berwarna biru abu-abu, habitat selalu berpasangan di area terumbu karang. Juvenile bersembunyi di celah karang bercabang. Range kedalaman 3 20 meter41. 5) Gnathodentex aureolineatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 30 cm, berwarna perak abu-abu, 4-5 garis coklat di badan dengan spot kuning di belakang sirip dorsal.
Pangkal sirip dada kuning, hidup di terumbu karang yang dangkal dan laguna, sering terlihat chooling bergabung dengan ikan lain. Range kedalaman 3-30 meter42.
39 Ibid.,h.195
40 Ibid.,h.79
41 Ibid.,h.76
42 Ibid.,h.181
6) Amblyglyphidodon aureus
Ciri-ciri umum :panjang maksimal 13 cm, badan kuning oval, dewasa bagian kepala agak keunguan sedikit, hidup di daerah lereng karang, laguna dan karang terjal berarus, biasa berada dekat dengan gorgonian /kipas laut dimana mereka meletakan telurnya, juvenile biasa ditemukan dalam kelompok kecil di dekat gorgonian atau karang hitam, range kedalaman 3 β 45 meter43.
7) Parachaetodon ocellatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 18 cm, berwarna putih mutiara dengan garis orange, memiliki spot hitam di garis orange ke 3, habitat tinggal berpasangan di dasar dan di area karang yang keruh, dewasa berkelompok di daerah dasar belumpur yang agak dalam. juvenil hidup di area dangkal laguna44.
8) Chaetodon trifasciatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 15 cm, badan atas kebiruan dan bawahnya kekuningan, pangkal sirip ekor kuning serta sirip anal, tinggal pada daerah kaya karang di laguna dan karang semi terlindung, territorial dan agresif terhadap chaetodon lain, juvenile bersembunyi di karang45
43 Ibid.,h.76
44 Ibid.,h.81
45 Ibid.,h.207
9) Pomacentrus moluccensis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 9 cm, badan kuning dengan batas sirip anal berwarna hitam, habitat tinggal laguna, terumbu karang dengan banyak karang bercabang, range kedalaman 1-14 meter46.
10) Dascyllus aruanus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 10 cm, dasar putih dengan 3 garis hitam, depan mata putih, ekor transparan, sisip perut hitam, biasa hidup di laguna dangkal dan karang dangkal, berkelompok diatas karang bercabang, territorial (terutama saat memijah), range kedalaman 0-20 m47. 11) Pomacentrus auriventris
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 7 cm, kepala biru neon dan badan atas juga, kuning di bagian badan bawah, sirip ekor dan anal, habitat di daerah karang, pasir dengan alga, biasa kelompok kecil didasar, range kedalaman 2-15 meter48.
12) Apolemichthys trimaculatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 6 cm, tubuh pendek kuning, mulut biru, garsi hitam disirip anal, spot hitam di atas kepala dan belakang kepala, habitat tinggal di daerah laguna dan karang dangkal, range kedalaman 3-40 meter49.
46 Ibid.,h.129
47 Ibid.,h.198
48 Ibid.,h.171
49 Ibid.,h.196
13) Pomacentrus alexanderae
Ciri- ciri umum: panjang maksimal 9 cm , abu-abu merata dengan spot hitam di pangkal sirip dada/pectoral, habitat di daerah laguna, karang dangkal hingga dalam, soluter/kelompok, range 1-60 meter50.
14) Neopomacentrus azysron
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 8 cm, abu-abu hijau kebiruan dengan sirip belakang dorsal, anal dan sirip ekor kuning, spot hitam di pangkal sirip dada serta di operculum atas, tinggal di daerah lereng karang dan alur karang yang lebih dalam, dalam kelompok kecil di daerah sub- tidal, range kedalaman 1 - 12 meter51.
15) Plectorhinchus polytaenia
Ciri-ciri umum: mempunyai warna kuning terang dengan pola tebal berbingkai, garis hitam dan berwarna biru pucat, belang-belang disekeliling tubuh mulai dari kepala hingga ekor, hidup soliter, habitat pada terumbu karang52.
16) Apogon fragilis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 5,5 cm, berwarna putih perak transparan, memiliki spot hitam di pangkal ekor dan cirri utamanya adalah spot hitam dikedua ujung cagak sirip ekornya, habitat tinggal biasanya dijumpai di laguna dan teluk, di atas karang branching, berkumpul dalam jumlah besar kadang-kadang dengan jenis yang lain, range 1-15 meter53.
50 Ibid.,h.207
51 Ibid.,h.202
52 Ibid.,h.104
53 Ibid.,h.46
17) Chromis viridis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 8 cm, warna hijau pucat hingga biru terang, jantan yang bersarang berwarna kuning, berkelompok di Acropora bercabang, daerah laguna dan karang dangkal, range 0-12 m54. 18) Chrysiptera springeri
Ciri-ciri: panjang masimal 6 cm, dengan bercak hitam di bagian atas kepala, mirip dengan C.cymatilis, habitat di karang yang sehat dan laguna, biasa berada di koloni Acropora bercabang, range kedalaman 2-30 meter55.
19) Abudefduf vaigiensis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 20 cm, abu-abu dengan 5 garis hitam atau biru tua vertikal, daerah kuning di badan atas, habitat tinggal di daerah rataan terumbu hingga lereng karang serta daerah berbatu.
berkelompok, memijah dalam jumlah besar, jantan menjaga telurnya56. 20) Neoglyphidodon melas
Ciri- ciri umum: panjang maksimal 18 cm, juvenil badan biru terang dengan garis kuning besar dari mulut hinggga sirip dorsal serta sirip perut dan anal ujungnya biru kehitaman, dewasa hitam kebiruan, perubahan warna terjadi pada ukuran 5-6 cm, habitat tinggal juvenil di karang bercabang, dewasa lagunaβ lereng karang. soliter/berpasangan, range kedalamanan 1-12 meter57.
54 Ibid.,h.194
55 Ibid.,h.146
56 Ibid.,h.189
57 Ibid.,h.208
21) Scarus niger
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 8 cm, ada perbedaan warna antara Pasifik dan Hindia. Pasifik lebih monokromatik. Hindia cenderung fase kemerahan, juvenile dikenali dari binti-bintik hitam kembar pada ekornya, habitat di daerah kaya karang di laguna, pantai dan lereng karang luar, umumnya soliter, juvenile berkelompok, range kedalaman 0-15 m58. 22) Pygoplites diacanthus
Ciri-ciri morfologi panjang maksimal 25 cm, bagian mata gelap dengan garis kebiruan dekat mata, badan kuning dengan garus lengkung putih dibatasi hitam dari dekat insang hingga pangkal ekor, dari sirip punggung hitam kebiruan, bagian belakang sirip anal garis lengkung kuning dan biru berjalan sejajar dengan kontur tubuh, sirip ekor kuning, juvenil dengan bintik hitam besar pada bagian basal lunak sirip dorsal, habitat tinggalnya biasa terdapat di daerah karang yang sehat di laguna atau lereng karang, soliter, berpasangan atau berkelompok59.
23) Cetoscarus bicolor
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 9 cm, mengalami perubahan warna selama pertumbuhannya, juvenile badan putih dengan bagian kepala antara mata dan insang merah juga di ujung ekor, dorsal terdapat spot hitam dikelilingi merah, dewasa badan hijau dengan banyak spot pink di
58 Ibid.,h.219
59 Ibid.,h.167
wajah, habitat tinggal di laguna dan karang, juvenil soliter, dewasa membentuk harem, territorial, range 1-30 meter60.
24) Chrysiptera rolandi
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 7,5 cm, warna bervariasi, umumnya badan bagian kepala ke bawah hingga belakang dorsal gelap dan bagian bawahnya putih krem, biasa ditemukan di daerah karang, karang dengan rubble, laguna, range kedalaman 2-35 meter61.
25) Scolopsis margaritifera
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 8 cm, abu-abu gelap dari kepala hingga bawah dorsal, juvenil garis hitam sempit sepanjang punggung (hanya pada beberapa spesimen) dan hitam, beberapa dengan perut kekuningan, variasi warna antara populasi di Hindia dan Pasifik, juvenile kurang warna garis kuning di Samudra Hindia dan dewasa menunjukkan bagian belakang yang gelap dibandingkan dengan bentuk Pasifik, hidup di daerah dasar berpasir di area terumbu karang, range kedalaman 1-20 meter62.
26) Neoglyphidodon nigroris
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 13 cm, Juvenil berwarna kuning dengan 2 garis hitam memanjang, dewasa warna kuning diganti hitam dengan 2 garis vertikal di katup insang, hidup di daerah karang yang sehat di laguna dan lereng karang, soliter, range kedalaman 2-23 meter63.
60 Ibid.,h.218
61 Ibid.,h.197
62 Ibid.,h.152
63 Ibid.,h.200
27) Pomacentrus philippinus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 10 cm, badan biru ungu kehitaman dengan warna ekor, ujung dorsal dan anal kuning tua, spot hitam di pangkal sirip dada/ pectoral, biasa hidup di daerah laguna, lereng karang, karang drop-off, biasa sendiri/berkelompok kecil, range kedalaman 1-12 meter64.
28) Abudefduf notatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 7 cm, badan abu-abu dengan 5 garis putih vertikal, sirip ekor berwarna kuning, hidup di daerah karang berbatu serta lereng curam dengan arus dan gelombang sedang, biasa ditemukan dalam schooling namun kadang soliter, range kedalaman 1-12 meter65.
29) Amphiprion clarkii
Ciri-ciri: panjang maksimal 15 cm, sangat bervariasi secara geografis dalam bentuk dan warn, dua garis putih, satu vertikal di belakang mata dan satunya memanjang dari dorsal hingga di depan anal, pangkal sirip ekor putih, dengan bagian berwarna kekuningan. Ovipar dan monogamy, habitat pada daerah laguna karang dangkal dan lereng karang66.
30) Amphiprion ocellaris
Ciri- ciri: panjang maksimal 11 cm, warna badan orange dengan tiga garis putih lebar, bagian yang tengah berbentuk segitiga maju ke dekat
64 Ibid.,h.208
65 Ibid.,h.186
66 Ibid.,h.174
sirip dada, Sirip ekor, habitat tinggal pada daerah karang yang dangkal dan tenang, diurnal, protandrous hermaprodit, berpasangan monogamy, range kedalaman 1-15 meter67.
b. Stasiun II (Ekosistem Padang Lamun)
` Tabel 2.2 Spesies Ikan Hias pada Ekosistem Lamun
No Spesies
Jumlah
Total Transek I Transek II Transek III
1 Chromis atripectoris 2 0 1 3
2 Pomacentrus auriventris 0 2 1 3
3 Abudefduf notatus 5 3 2 10
4 Pomacentrus philippinus 3 5 2 10
5 Neoglyphidodon nigrosis 4 0 0 4
6 S. Margaritfera 2 0 4 6
7 P. moluccensis 7 2 2 11
8 Chromis viridis 0 3 2 5
Total Keseluruhan Jenis (N) 52
1) Chromis atripectoralis
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 12 cm , badan hijau kebiruan, ekor cagak dan sangat mirip dengan C. viridis hanya dibedakan dengan spot hitam dipangkal sirip dadanya, hidup di daerah karang dangkal, laguna dan lereng karang, biasa di jumpai kelompok besar di koloni karang bercabang, range kedalaman 1-29 meter68.
67 Ibid.,h.175
68 Ibid.,h.194
2) Pomacentrus auriventris
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 7 cm, kepala biru neon dan badan atas juga, kuning dibagian badan bawah, sirip ekor dan anal, habitat pada daerah karang, pasir dengan alga, biasa berkelompok kecil di dasar, range kedalaman 2-15 meter69.
3) Abudefduf notatus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 17 cm, badan abu-abu dengan 5 garis putih vertikal, sirip ekor berwarna kuning, biasa ditemukan di daerah karang berbatu berpasir, biasa di temukan dalam schooling namun kadang soliter, range kedalaman 1-12 meter70.
4) Pomacentrus philippinus
Ciri-ciri umum: panjang maksimal 10 cm, badan biru ungu kehitaman dengan warna ekor, ujung dorsal dan anal kuning tua, spot hitam di pangkal sirip dada/ pectoral, biasa hidup di daerah laguna, lereng karang, karang drop-off, biasa sendiri/berkelompok kecil, range kedalaman 1-12 meter71.
5) Neoglyphidodon nigroris
Ciri-ciri: panjang ma 13 cm, juvenil berwarna kuning dengan 2 garis hitam memanjang, dewasa warna kuning diganti hitam dengan 2 garis vertikal di katup insang, habitat tinggal di daerah karang yang sehat di laguna dan lereng karang72.
69 Ibid.,h.196
70 Ibid.,h.186
71 Ibid.,h.208
72 Ibid.,h.200