• Tidak ada hasil yang ditemukan

1-8

N/A
N/A
Gala Karone

Academic year: 2024

Membagikan "1-8"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Ben Matthew Parasian Sitompul

Kelas/NIM : 5B/22.3815

Mata Kuliah : Hermen PL II

Dosen Pengampu : Dr.Pahala J. Simanjuntak

TUNAS KEADILAN TUHAN

(Tafsir Historis Kritis Kitab Yeremia 23 : 1-8)

I. Pendahuluan

Metafora "tunas" dalam Alkitab seringkali menjadi simbol yang kuat untuk menggambarkan harapan, pembaruan, dan kehidupan baru. Ketika digabungkan dengan konsep keadilan Tuhan, metafora ini membentuk suatu gambaran yang mendalam tentang rencana pemulihan ilahi bagi umat-Nya. "TUNAS KEADILAN TUHAN" menjadi sebuah tema sentral yang muncul dalam nubuat Yeremia, khususnya dalam pasal 23:1-8, yang menggambarkan janji Tuhan akan datangnya seorang pemimpin yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran.

Istilah "TUNAS" dalam konteks ini tidak sekadar merujuk pada pertumbuhan biologis, melainkan mengandung makna teologis yang dalam tentang kemunculan kepemimpinan baru yang berakar pada garis keturunan Daud. Sementara itu, "KEADILAN TUHAN"

menunjukkan standar moral dan etika ilahi yang menjadi dasar dari kepemimpinan yang dijanjikan tersebut. Gabungan kedua konsep ini membentuk suatu visi profetis tentang pemulihan yang tidak hanya bersifat politis, tetapi juga spiritual dan moral.

Kitab Yeremia merupakan salah satu kitab nubuat terpenting dalam Perjanjian Lama yang memberikan perspektif mendalam tentang hubungan antara keadilan Tuhan dan kepemimpinan umat. Dalam perikop Yeremia 23:1-8, kita menemukan suatu nubuat yang kaya akan makna teologis dan historis, khususnya mengenai konsep "Tunas Keadilan Tuhan"

yang menjadi simbol pengharapan di tengah masa-masa kelam bangsa Israel.

Pada masa pelayanan Nabi Yeremia (sekitar 626-586 SM), kerajaan Yehuda mengalami krisis kepemimpinan yang akut. Para pemimpin yang seharusnya menjadi gembala bagi umat justru menjadi penyebab kehancuran dan pembuangan. Di tengah situasi yang mencekam ini,

(2)

Tuhan menyampaikan pesan pengharapan melalui metafora "Tunas" yang akan membawa pembaruan dan keadilan sejati.

II. Landasan teori

2.1 Etimologi dan terminology 2.1.1 ח 9מַ ;צֶ (Tunas)

Kata "tunas" dalam bahasa Ibrani yang digunakan dalam Yeremia 23:5 adalah ח 9מַ ;צֶ

(tsemach). Kata ini memiliki arti dasar sebagai tunas atau cabang yang baru tumbuh, yang melambangkan kehidupan baru atau kelanjutan kehidupan dari sesuatu yang mati atau rusak.

Dalam konteks ini, tunas mengacu pada keturunan yang akan bangkit dari garis keturunan Daud, yang dijanjikan Tuhan sebagai raja yang adil dan bijaksana.

Dalam Alkitab, tunas sering digunakan sebagai simbol mesianis, terutama untuk menggambarkan kedatangan Raja yang adil yang akan memulihkan umat Allah. Dalam Yesaya 11:1, misalnya, disebutkan bahwa "suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai" sebagai nubuat akan datangnya Mesias dari keturunan Isai, ayah Daud. Demikian pula, dalam Zakharia 6:12, tunas melambangkan pemimpin yang akan membangun bait suci Tuhan.

Maka, "tunas" menjadi gambaran harapan akan pemulihan, di mana Tuhan sendiri menumbuhkan seorang Raja yang sejati yang akan membawa keadilan dan keselamatan bagi umat-Nya.

2.1.2 ה *קָ *דָ -צְ (Keadilan)

Kata "keadilan" berasal dari bahasa Ibrani ה @קָ @דָ Cצֶ (tsedaqah), yang dalam Alkitab berarti keadilan, kebenaran, dan kelurusan. Keadilan ini bukan hanya tentang pemberian hukuman atau ganjaran, tetapi juga melibatkan relasi yang benar, moralitas yang tinggi, dan kesetiaan kepada perjanjian Allah.

Keadilan dalam pemahaman Alkitab tidak terbatas pada aturan hukum, tetapi juga mencakup kepedulian sosial, kemurahan hati, dan pengampunan. Dalam Yeremia 23:5-6, keadilan adalah karakteristik utama dari Tunas yang dijanjikan Tuhan, yakni Raja yang akan memerintah dengan adil dan benar. Keadilan ini bertentangan dengan kepemimpinan raja-raja Israel yang menyimpang dari perintah Tuhan. Di seluruh Alkitab, Tuhan sendiri digambarkan

(3)

sebagai sumber dan teladan keadilan yang sejati, seperti dalam Mazmur 89:15: “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu.”

2.2 Studi tentang kitab

Kitab Yeremia adalah salah satu kitab yang terdapat dalam kumpulan Kitab Nabi- Nabi Besar dalam Perjanjian Lama. Kitab ini ditulis oleh Nabi Yeremia, yang menjalankan pelayanannya di Kerajaan Yehuda selama periode krisis yang meliputi masa pemerintahan raja-raja terakhir Yehuda, yaitu antara tahun 627 hingga 586 SM, menjelang dan sesudah kehancuran Yerusalem oleh Babel. Yeremia dipanggil untuk menjadi nabi pada masa pemerintahan Raja Yosia dan bertugas menyampaikan pesan-pesan Tuhan yang keras mengenai pertobatan dan peringatan kepada bangsa Israel agar mereka kembali kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala serta kejahatan moral yang merajalela pada saat itu.1 Kitab ini dibagi menjadi beberapa bagian utama: pengenalan panggilan Yeremia sebagai nabi, nubuat-nubuat penghakiman terhadap Yehuda dan bangsa-bangsa lain, serta janji pemulihan Israel di masa depan. Dalam karyanya, Yeremia dikenal karena keterusterangannya dan keengganannya, bahkan mengekspresikan penderitaan emosional karena penolakan yang dia hadapi dari bangsanya sendiri.2

Yeremia sering disebut sebagai "nabi yang menangis" karena penderitaan yang dia alami seiring dengan kehancuran yang akan datang atas bangsanya. Penderitaan Yeremia adalah cerminan dari hati Allah yang merasakan sakit atas dosa-dosa umat-Nya. Yeremia adalah satu dari sedikit nabi yang menyampaikan pesan Tuhan dengan mengorbankan popularitas dan kenyamanannya sendiri, yang sering kali membuatnya dicemooh dan dipenjarakan.3

Menurut beberapa penafsir Alkitab, Kitab Yeremia memiliki tema utama tentang penghakiman dan pemulihan. Pesan penghakiman mencerminkan keadilan Allah terhadap dosa, sedangkan pesan pemulihan menggambarkan kasih dan kesetiaan Allah yang memulihkan bangsa Israel meskipun mereka telah meninggalkan perjanjian-Nya. Ini terlihat dalam janji perjanjian baru yang Allah berikan, yang tercatat dalam Yeremia 31:31-34, di

1 John Bright dan John Bright, Jeremiah, 2. ed., 22. print, The Anchor Bible 21 (New York, N.Y: Doubleday, 1990), 9–12.

2 J. A. Thompson, The book of Jeremiah, The New international commentary on the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1980), 17–21.

3 Bright dan Bright, Jeremiah, 18–22.

(4)

mana Allah berjanji akan menuliskan hukum-Nya di dalam hati umat-Nya sebagai bagian dari perjanjian kekal.4

2.3 Tinjauan pustaka 2.3.1. J.A. Thompson

Yeremia 23:1-8 mencakup nubuat Allah mengenai pemimpin yang setia serta teguran keras bagi para pemimpin yang lalai dalam tanggung jawabnya. Dalam bagian ini, Nabi Yeremia berbicara atas nama Tuhan, mengkritik "gembala-gembala" (yaitu para raja dan pemimpin Israel) yang telah menyesatkan umat-Nya, sembari menyatakan janji Allah tentang Tunas yang benar dan keadilan yang akan datang di bawah seorang Raja dari keturunan Daud. Menurut J.A. Thompson dalam bukunya “The book of Jeremiah”, istilah "tunas"

(tsemach) dalam ayat ini menandakan simbolisme mesianik yang penting, yang mengacu kepada seorang keturunan Daud yang akan memerintah dengan adil dan membawa kesejahteraan bagi umat Israel. Thompson mencatat bahwa penggunaan istilah ini bukan sekadar kebetulan tetapi menekankan harapan eskatologis yang terwujud dalam sosok seorang pemimpin yang ideal. Ia menghubungkan ayat ini dengan nubuat serupa dalam Yesaya 11 dan Zakharia 3:8, yang juga menggunakan istilah "tunas" sebagai simbol Mesias.5

2.3.2. John Bright

John Bright dalam bukunya “Jeremiah” menginterpretasikan bagian ini sebagai penghakiman Allah yang tegas terhadap pemimpin yang gagal menjalankan tugas mereka. Ia menegaskan bahwa "gembala-gembala" dalam konteks ini bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga pemimpin rohani yang telah mengabaikan dan mengkhianati umat, menyebabkan mereka tercerai-berai dan tanpa bimbingan yang benar. Yeremia menyampaikan bahwa kegagalan para pemimpin ini adalah penyebab utama jatuhnya bangsa Israel, dan Bright melihat ini sebagai peringatan penting bagi para pemimpin di segala zaman.6

2.3.3. Christopher Wright

Christopher Wright sebagaimana dalam bukunya “Old Testament Ethics for the People of God” menyatakan bahwa nubuat dalam Yeremia 23 ini tidak hanya berbicara tentang seorang pemimpin secara spesifik tetapi juga tentang model kepemimpinan yang bertanggung

4 Thompson, The book of Jeremiah, 492–493.

5 Thompson, 493.

6 Bright dan Bright, Jeremiah, 158–59.

(5)

jawab sesuai dengan kehendak Allah. Wright berargumen bahwa ini adalah proklamasi Tuhan tentang standar moral dan rohani bagi pemimpin-pemimpin masa depan, yang harus memimpin dengan keadilan, memperhatikan kesejahteraan rakyat, dan hidup dalam ketaatan penuh kepada Allah.7

III. Metodologi

Penafsiran kali ini menggunakan metode historis kritis, yang dimana historis kritis sebagai salah satu usaha untuk mendekati pengertian PL. Disebut salah satu usaha karena untuk mendekati dunia PL dari sistem-sistem, seperti pendekatan antropologi, religio-historis, kesusastraan, sosiologi, arkeologi dan teologi8. Metode historis kritis yang akan digunakan kali ini diantaranya:

3.1 Kritik Nats

Analisis ini berfokus pada pengkajian teks Perjanjian Lama (PL) yang telah disalin dan diteruskan dalam berbagai bentuk dan tradisi. Kritik ini bertujuan untuk menemukan variasi-variasi teks, serta membandingkan teks yang ada untuk mendekati naskah asli atau memahami perubahan yang terjadi. Misalnya, teks Masoret dan LXX sering kali memiliki perbedaan kecil yang dapat memberikan pandangan tambahan tentang perkembangan penafsiran atau pengubahan teks selama bertahun-tahun.9 3.2 Kritik Sejarah Peredaksian

Kritik peredaksian mencoba untuk melihat sejarah di balik komposisi dan penyusunan naskah atau teks. Proses ini melibatkan tahap-tahap dari awal penulisan sampai menjadi bentuk akhir yang dikenal saat ini. Tahap-tahap ini melibatkan pengumpulan, penyusunan, dan penambahan informasi atau interpretasi baru oleh para redaktor (penyunting akhir). Kritik sejarah peredaksian meneliti bagaimana berbagai sumber atau bahan tradisional disusun dan diedit, serta melihat peranan lembaga keagamaan dalam mempertahankan dan mengembangkan teks tersebut dalam konteks sejarah yang lebih luas.10

7 Christopher J. H. Wright, Old Testament Ethics for the People of God (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2004), 213–214.

8 A.A. Sitompul, Metode Penafsiran Alkitab (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 2016), 31.

9 Sitompul, 33.

10 Sitompul, 116.

(6)

3.3 Kritik Bentuk (Form-Critical Method)

Kritik bentuk mempelajari berbagai jenis sastra dalam Alkitab, serta bagaimana setiap jenis itu berfungsi dalam konteks budaya dan sosial tertentu. Setiap jenis sastra, seperti hymne, nyanyian syukur, dan mazmur ratapan, memiliki ciri khas dan tujuan yang berbeda dalam liturgi atau kehidupan keagamaan masyarakat Israel. Kritik ini bertujuan untuk memahami struktur, formula khas, dan fungsi dari setiap bentuk dalam situasi aslinya, serta bagaimana pesan atau pernyataan tersebut disampaikan.

Misalnya, "demikianlah Allah berfirman" adalah formula yang menunjukkan penyampaian pesan langsung dari Allah dalam konteks kenabian.11

IV. Tafsiran Teks 4.1 Kritik Nats

Dalam Yeremia 23:1-8, aparatus kritik nats menunjukkan adanya beberapa variasi bacaan yang berasal dari berbagai sumber manuskrip kuno, termasuk Masoretic Text (MT), Septuaginta (LXX), Vulgata (Vg), dan beberapa manuskrip Qumran (seperti 4QJer). Pada ayat 1-2, terdapat variasi dalam istilah "gembala" yang muncul dalam Masoretic Text, yang mungkin berbeda dengan bacaan dalam Septuaginta (LXX).

Beberapa kodeks seperti Kodeks Sinaiticus (א) dan Kodeks Alexandrinus (A) juga mungkin memiliki perbedaan frasa atau penekanan dalam teks Yunani untuk bagian ini.

Di ayat 3, yang berbicara mengenai pengumpulan kembali Israel dari pembuangan, Septuaginta (LXX) menunjukkan variasi dalam kata yang digunakan untuk

"mengumpulkan kembali," dan Vulgata (Vg) mungkin memiliki kata Latin yang berbeda yang memberikan nuansa lain dalam memahami ayat ini. Selain itu, beberapa fragmen dari Qumran, seperti 4QJer, juga dapat menunjukkan variasi yang mungkin memengaruhi interpretasi teks ini. Pada ayat 4, istilah "pemimpin/gembala" yang digunakan untuk menggambarkan para pemimpin yang akan diangkat Tuhan juga memiliki variasi antara manuskrip MT, LXX (misalnya, Kodeks Vaticanus [B] atau Alexandrinus [A]), dan Vg, yang bisa menghasilkan perbedaan interpretasi teologis mengenai peran kepemimpinan dalam ayat ini.

11 Sitompul, 126.

(7)

Di ayat 5-6, janji kedatangan seorang raja yang akan memerintah dengan keadilan menghadirkan variasi dalam istilah “keadilan” dan nama raja tersebut. Masoretic Text menggunakan kata tertentu, sementara LXX dan Vg mungkin memiliki kata yang berbeda. Vulgata, misalnya, memiliki terjemahan Latin yang mungkin memengaruhi pemahaman tentang karakter raja dalam nubuatan ini. Manuskrip Targum, versi Aram yang juga memuat interpretasi, dapat memberi perspektif berbeda dalam bacaan ayat ini.

Pada ayat 7-8, yang menegaskan janji pemulihan umat Israel, Masoretic Text memiliki susunan yang berbeda dibandingkan LXX atau Vg, sementara manuskrip Qumran seperti 4QJer menunjukkan variasi dalam frasa atau kata yang berkaitan dengan pemulihan Israel.

Secara keseluruhan, variasi-variasi ini melibatkan manuskrip utama seperti MT, kodeks penting LXX (Vaticanus, Sinaiticus, Alexandrinus), Vg, dan manuskrip Qumran.

Variasi bacaan ini memiliki signifikansi besar dalam kritik teks karena menunjukkan beragam tradisi teks yang berkembang di berbagai tempat dan waktu, serta memengaruhi interpretasi teologis tentang janji pemulihan dan kedatangan raja masa depan yang adil bagi Israel.

4.2 Kritik Sejarah Peredaksian (Redaction Criticism)

Kritik sejarah peredaksian membantu menjelaskan proses komposisi dan perkembangan teks Yeremia 23:1-8, khususnya tentang nubuat terhadap para pemimpin Israel dan janji tentang seorang pemimpin mesianik yang adil. Menurut John Bright, kemungkinan besar bagian ini mengalami penyusunan ulang oleh para redaktor setelah Yeremia. Nubuat tentang "Tunas Daud" (Yeremia 23:5) mungkin telah ditambahkan dalam masa pembuangan atau pasca-pembuangan sebagai penegasan harapan akan Mesias dari garis keturunan Daud yang akan memulihkan Israel. Bright mencatat bahwa konsep “Tuhan Keadilan kita” (YHWH Tzidkenu) juga menunjukkan unsur redaksional yang memuat keyakinan eskatologis akan pemulihan Israel, yang menjadi bagian penting dalam teologi pasca-pembuangan.12

4.3 Kritik Bentuk (Form Criticism)

Kritik bentuk pada Yeremia 23:1-8 berfokus pada struktur sastra dan formula yang terdapat dalam bagian ini, yang berfungsi sebagai orakel penghakiman terhadap

12 Bright dan Bright, Jeremiah, 158–160.

(8)

pemimpin yang jahat dan janji pemulihan melalui seorang pemimpin baru. Christopher Wright mengidentifikasi bahwa gaya sastra Yeremia 23:1-8 memiliki dua bentuk utama:

peringatan kenabian dan janji keselamatan. Bagian ayat 1-4 berfungsi sebagai “oratium peringatan” yang khas dari nubuatan penghakiman, di mana para pemimpin digambarkan sebagai gembala yang tidak bertanggung jawab. Ayat 5-8 berubah menjadi “oratium janji” dengan struktur eskatologis, yang memperkenalkan seorang pemimpin baru dari keturunan Daud sebagai bentuk harapan mesianis.13

Ungkapan “demikianlah firman Tuhan” (Yeremia 23:1) adalah formula kenabian khas yang menunjukkan bahwa pesan ini datang langsung dari Tuhan, memberikan bobot otoritas ilahi kepada kritik terhadap pemimpin yang gagal dan menguatkan janji akan pemulihan di masa depan. Dengan demikian, penggunaan bentuk-bentuk sastra ini dalam Yeremia 23:1-8 menunjukkan bahwa nubuatan ini tidak hanya relevan untuk konteks Yeremia, tetapi juga berfungsi sebagai ajaran tentang tanggung jawab kepemimpinan dalam tradisi Israel.

4.4 Tafsir Ayat per Ayat Ayat 1-2

Dalam bagian pembuka ini, TUHAN mengucapkan celaka kepada para gembala yang telah mengabaikan tanggung jawab mereka. "Gembala" di sini adalah metafora untuk para pemimpin Yehuda, termasuk raja-raja dan pemimpin agama yang telah gagal dalam kepemimpinan mereka14. Penggunaan kata Ibrani דָבא ('abad') untuk "membiarkan"

sebenarnya mengandung makna yang lebih aktif, menunjukkan bahwa para pemimpin ini tidak sekadar lalai, tetapi secara aktif berkontribusi pada kehancuran umat15. Para pemimpin ini dituduh melakukan tiga kesalahan besar: menceraiberaikan, mengusir, dan tidak memelihara domba-domba Allah. Feinberg dalam bukunya Jeremiah: A Commentary menekankan bahwa ketiga tuduhan ini menunjukkan kegagalan total dalam kepemimpinan mereka16.

13 Christopher J. H. Wright, Old Testament Ethics for the People of God, 217–219.

14 John F. Walvoord dan Roy B. Zuck, The Bible Knowledge Commentary. Old: Old Testament, 7. print (Wheaton, Ill: Victor Books, 1989), 1160.

15 The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon: With an Appendix Containing the Biblical Aramaic;

Coded with the Numbering System from Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible = The Hebrew and English Lexicon, 13. Dr., reprinted from the 1906 ed (Peabody, Mass: Hendrickson Publishers, 2010), 1.

16 Charles L. Feinberg, Jeremiah: A Commentary, 2nd print (Grand Rapids, Mich: Zondervan, 1983), 518.

(9)

Ayat 3-4

Setelah penghakiman, TUHAN memberikan janji pemulihan yang penuh pengharapan. Allah sendiri berjanji untuk mengumpulkan sisa-sisa domba-Nya dari tempat-tempat mereka tercerai-berai. Huey dalam Jeremiah, Lamentations mengidentifikasi empat elemen penting dalam janji pemulihan ini: pengumpulan, pemulangan, pertumbuhan, dan perlindungan17. Konsep "sisa-sisa" (תי Zרִ \א Cשְׁ/she'erit) memiliki signifikansi teologis yang mendalam, merujuk pada umat yang setia yang akan Allah pulihkan18. Allah juga berjanji akan mengangkat gembala-gembala baru yang akan memimpin dengan setia, berbeda dengan para pemimpin sebelumnya yang gagal19.

Ayat 5-6

Bagian ini memuat nubuat mesianik yang sangat penting. TUHAN berjanji akan menumbuhkan "Tunas adil" (קָי Zדִּ 9צֶ ח 9מַ ;צֶ/tsemach tsaddiq) dari keturunan Daud. Kaiser dalam The Messiah in the Old Testament menegaskan bahwa ini adalah gelar mesianik yang jelas20. Carson sebagaimana dalam New Bible Commentary menunjukkan bagaimana nubuat ini akhirnya digenapi dalam kedatangan Kristus21. Nama "TUHAN- Keadilan kita" (ונקָדָצֶ הוהי/YHWH tsidkenu) adalah permainan kata yang cerdas dari nama Zedekia, raja yang memerintah saat itu.

Ayat 7-8

Perikop ini ditutup dengan pernyataan yang dramatis tentang pemulihan yang akan datang. Craigie dalam Jeremiah 1- 25 menunjukkan bahwa pembandingan antara Exodus dan pemulihan dari pembuangan menekankan besarnya signifikansi peristiwa yang akan

17 F. B. Huey, Jeremiah, Lamentations, The New American commentary, v. 16 (Nashville, Tenn: Broadman Press, 1993), 209.

18 Bright dan Bright, Jeremiah, 143.

19 Gerald Keown, Jeremiah 26-52, Volume 27, Word Biblical Commentary Ser (Grand Rapids: HarperCollins Christian Publishing, 2016), 73.

20 Walter C. Kaiser, The Messiah in the Old Testament, Studies in Old Testament Biblical theology (Grand Rapids, Mich: Zondervan Pub, 1995), 175.

21 D. A. Carson, ed., New Bible Commentary: 21st Century Edition, 4. ed (Leicester: Inter-Varsity Press, 1994), 671.

(10)

datang ini22. "Tanah utara" yang disebutkan merujuk pada Babilonia23. McKane dalam komentarnya menekankan bahwa formula sumpah baru ini menandai era baru dalam sejarah penyelamatan Allah24. Perubahan formula sumpah dari "Allah yang membawa keluar dari Mesir" menjadi "Allah yang memulangkan dari pembuangan" menunjukkan bahwa tindakan penyelamatan Allah yang baru ini akan melebihi bahkan peristiwa Exodus dalam signifikansinya.

V. Kesimpulan

Teks Yeremia 23:1-8 menyampaikan pesan teologis yang kuat tentang tanggung jawab kepemimpinan di bawah Tuhan serta janji Tuhan akan pemulihan umat-Nya melalui kedatangan seorang Pemimpin yang adil. Secara teologis, teks ini menegaskan bahwa Tuhan adalah pemilik dan gembala umat-Nya, dan kegagalan para pemimpin dalam memenuhi tanggung jawabnya akan dihukum oleh Tuhan. Namun, Tuhan berjanji untuk mengangkat seorang "Tunas Keadilan" dari keturunan Daud, yang akan memulihkan dan memerintah umat-Nya dengan keadilan dan kebenaran. Konsep "Tunas Keadilan Tuhan" ini memiliki makna mesianis yang kemudian digenapi dalam diri Yesus Kristus, Raja yang adil dari garis keturunan Daud.

Implikasi teologis lainnya adalah janji Tuhan untuk memulihkan sisa-sisa umat-Nya dan membawa mereka kembali dari pembuangan, yang dilihat sebagai tindakan penyelamatan yang melebihi peristiwa Exodus. Perjanjian baru yang Tuhan berikan, di mana hukum-Nya akan dituliskan di dalam hati umat-Nya, juga mendapatkan penegasan di sini. Pesan Yeremia 23:1-8 tetap relevan bagi para pemimpin di segala zaman, yang dipanggil untuk memimpin dengan adil, penuh kasih, dan setia kepada Tuhan. Umat Tuhan juga harus terus berharap akan kedatangan Kerajaan Allah yang sempurna di bawah pemerintahan Raja yang adil, sebagai sumber pengharapan di tengah tantangan zaman.

22 Peter C. Craigie dkk., Jeremiah 1 - 25, ed. oleh David A. Hubbard dan Glenn W. Barker, Nachdr., Word Biblical Commentary / [General Ed.: David A. Hubbard; Glenn W. Barker. Old Testament Ed.: John D. W.

Watts. New Testament Ed.: Ralph P. Martin], Vol. 26 (Waco, Tex: Word Books, Publ, 2000), 329.

23 Derek Kidner, The message of Jeremiah: against wind and tide, The Bible speaks today (Leicester, England ; Downers Grove, Ill., U.S.A: Inter-Varsity Press, 1987), 89.

24 William McKane, A Critical and Exegetical Commentary on Jeremiah, International Critical Commentary on the Holy Scriptures of the Old and New Testaments (Edinburgh: T&T Clark, 2001), 560,

https://doi.org/10.5040/9781472556172.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Bright, John, dan John Bright. Jeremiah. 2. ed., 22. print. The Anchor Bible 21. New York, N.Y: Doubleday, 1990.

Carson, D. A., ed. New Bible Commentary: 21st Century Edition. 4. ed. Leicester: Inter- Varsity Press, 1994.

Christopher J. H. Wright. Old Testament Ethics for the People of God. Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2004.

Craigie, Peter C., Page H. Kelley, Joel F. Drinkard, dan Bruce Manning Metzger. Jeremiah 1 - 25. Disunting oleh David A. Hubbard dan Glenn W. Barker. Nachdr. Word Biblical Commentary / [General Ed.: David A. Hubbard; Glenn W. Barker. Old Testament Ed.: John D. W. Watts. New Testament Ed.: Ralph P. Martin], Vol. 26. Waco, Tex:

Word Books, Publ, 2000.

Feinberg, Charles L. Jeremiah: A Commentary. 2nd print. Grand Rapids, Mich: Zondervan, 1983.

Huey, F. B. Jeremiah, Lamentations. The New American commentary, v. 16. Nashville, Tenn: Broadman Press, 1993.

John F. Walvoord dan Roy B. Zuck. The Bible Knowledge Commentary. Old: Old Testament.

7. print. Wheaton, Ill: Victor Books, 1989.

Kaiser, Walter C. The Messiah in the Old Testament. Studies in Old Testament Biblical theology. Grand Rapids, Mich: Zondervan Pub, 1995.

Keown, Gerald. Jeremiah 26-52, Volume 27. Word Biblical Commentary Ser. Grand Rapids:

HarperCollins Christian Publishing, 2016.

Kidner, Derek. The message of Jeremiah: against wind and tide. The Bible speaks today.

Leicester, England ; Downers Grove, Ill., U.S.A: Inter-Varsity Press, 1987.

McKane, William. A Critical and Exegetical Commentary on Jeremiah. International Critical Commentary on the Holy Scriptures of the Old and New Testaments. Edinburgh:

T&T Clark, 2001. https://doi.org/10.5040/9781472556172.

Sitompul, A.A. Metode Penafsiran Alkitab. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 2016.

The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon: With an Appendix Containing the Biblical Aramaic; Coded with the Numbering System from Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible = The Hebrew and English Lexicon. 13. Dr., Reprinted from the 1906 ed. Peabody, Mass: Hendrickson Publishers, 2010.

Thompson, J. A. The book of Jeremiah. The New international commentary on the Old Testament. Grand Rapids: Eerdmans, 1980.

Tov, Emanuel. Textual Criticism of the Hebrew Bible. 3rd ed., rev.Expanded. Minneapolis, MN: Fortress, 2012.

Referensi

Dokumen terkait

PEMANFAATAN ROTI AFKIR DALAM RANSUM TERHADAP KARKAS ITIK PEKING UMUR 1-8

Materi Pokok/Penggalan Materi : Teknik bermain trumpet/teknik pernafasan, ambasir, produksi nada, dan membaca etude 83. Kegiatan Perkuliahan : Praktek/minggu ke 1

fleksibilitas ambasir, fingering, tone colour , double tounging Tu, Ku, membaca etude, dan lagu solo3. Kegiatan Perkuliahan : Praktek/minggu ke 1

Pembagian Kelas 8 Baru SMPN 1 Tambun Selatan Tahun Pelajaran 2020/2021.. Nama Siswa

Hasil analisis eksposisi terhadap konsep murtad menurut Ibrani 6:1-8 adalah sebagai berikut. Maksudnya tidak membahas lebih lanjut mengenai asas pengajaran itu bukan

Modul Ajar Prakarya Rekayasa Kelas 7 SMP/MTs Fase D Unit 1 - 7 8 Kurikulum Merdeka -

Program semester untuk mata pelajaran Seni Budaya kelas 8 semester 1 di SMP Madinatul Hadid tahun ajaran

PEMERINTAH KABUPATEN BEKASI DINAS PENDIDIKAN SMP NEGERI 1 SUKATANI SOAL PENILAIAN TENGAH SEMESTER GANJIL MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS 8 TAHUN PELAJARAN 2024-2025 A.. Berikut