• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 jurnal indonesia unila

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "1 jurnal indonesia unila"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

* Corresponding Author

Email : [email protected]

Volume 13 (1) 2022: 1-14 P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977

DOI: 10.23960/administratio.v13i1.260 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)

ARTICLE

Dampak Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Terhadap Komunitas Ojek Online di Palembang

Nevsia Carlina1*, Alamsyah Alamsyah2, Zailani Surya Marpaung3

1,2,3

Jurusan Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

How to cite: Carlina, N. Alamsyah, A. Marpaung, Z.S (2022). Dampak Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Terhadap Komunitas Ojek Online Di Palembang. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(1)

Article History

Received: 25 November 2021

Accepted: 1 Maret 2022

Keywords:

Analyze of Policy Impact, COVID-19,

PSBB Policies, Social Capital,

Online Motorcycle Taxi

Kata Kunci:

Analisis Dampak, COVID-19, Kebijakan PSBB, Modal Sosial, Ojek Online

ABSTRACT

This research was trying to analyze how the Impact of Large-scale Social Restriction Policies on the Social Capital of Online Taxi Community at the West Musiraya Intersection (SIMBAT) in Palembang City. This research method is interpretative qualitative. The research data was from key informants who chosen by purposive, archives, books, documentation, regulations, social media, and websites. The research data was collected with an in-depth interview, observation, documentation, and analyzed using ATLAS.ti 9 software. The research results showing that PSBB policy causes a drop in income drivers makes powering the social capital of the Community of SIMBAT. The authors recommend to before making a policy to resolve COVID-19, the government must be considered impact and risk will soon for target groups. The Government must be prepared a solution if occur what undesirable impact.

ABSTRAK

Artikel ini bertujuan menganalisis dampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terhadap modal sosial komunitas ojek online Simpang Musiraya Barat (SIMBAT) Kota Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif. Sumber data penelitian berasal dari key informan yang dipilih secara purposif, arsip, buku, dokumentasi, peraturan perundang-undangan, media sosial, dan koran daring. Data penelitian dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan model interaktif menggunakan perangkat lunak ATLAS.ti 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan PSBB yang menyebabkan penurunan pendapatan komunitas pengemudi ojek online (ojol) telah memperkuat modal sosial pengemudi ojol yang tergabung dalam Komunitas SIMBAT. Peneliti merekomendasikan agar sebelum membuat kebijakan dalam mengatasi pencegahan COVID-19, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak dan resiko yang akan diterima pihak kelompok sasaran. Pemerintah juga perlu mempersiapkan solusi apabila terjadi dampak negatif yang tidak diinginkan.

(2)

2 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

A. PENDAHULUAN

Seluruh dunia sedang menghadapi tantangan yang sama. Sebuah virus mematikan yang bernama 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) menjadi tantangan bagi setiap negara selama hampir dua tahun yang tercatat sejak Bulan Desember 2019. Pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) merilis nama baru virus ini menjadi Coronavirus Disease 2019 (COVID–19) yang disebabkan oleh Virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) (WHO, 2020b). Pasar ikan Wuhan, Provinsi Hubei, dikaitkan dengan kasus corona pertama (Rothan & Byrareddy, 2020). Kurang dari satu bulan, penyakit ini menyebar ke beberapa provinsi lain di China dan negara lain, seperti Korea Selatan, Thailand, dan Jepang (Hwang et al., 2020; Susilo et al., 2020). Hal ini menjadi bukti bahwa COVID-19 adalah virus yang sangat mudah dalam penyebarannya dari manusia ke manusia lain.

WHO menyatakan bahwa COVID-19 sebagai pandemi pada tanggal 12 Maret 2020 (WHO, 2020c). Pada penghujung Maret 2020, tercatat kasus positif COVID-19 berjumlah 634.835 dan kasus kematian di seluruh dunia berjumlah 33.106 (WHO, 2020a). Pada saat itu, Indonesia sudah memiliki 1.528 kasus positif dan 136 kasus kematian (Susilo et al., 2020). Melihat penyebaran virus yang sangat cepat dan mudah, negara–negara di dunia membuat kebijakan di setiap wilayahnya untuk mencegah peningkatan kasus COVID-19 ini, seperti kebijakan lockdown, social distancing, dan physical distancing, atau yang biasa dikenal di Indonesia sebagai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

PSBB adalah kegiatan yang membatasi aktivitas masyarakat pada suatu wilayah guna mencegah penyebaran COVID-19. Indonesia merupakan salah satu negara yang menerapkan pembatasan secara besar-besaran sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19. Inti dari kebijakan ini adalah pemerintah membatasi aktivitas masyarakat di berbagai bidang pada tempat umum, seperti meliburkan tempat kerja dan sekolah, membatasi kegiatan di tempat umum pada bidang agama, sosial budaya, moda transportasi, keamanan, dan pertahanan. Namun tidak semua wilayah di Indonesia menerapkan kebijakan PSBB. Adapun suatu wilayah (provinsi/kabupaten/kota) harus memiliki beberapa kriteria, seperti adanya peningkatan jumlah kasus atau kematian akibat penyakit yang menyebar dengan cepat secara signifikan ke beberapa wilayah dan adanya hubungan epidemiologis dengan kejadian yang sama di negara atau wilayah lain.

Salah satu pemberlakuan kebijakan PSBB yang dilakukan pada suatu wilayah yaitu di bidang moda transportasi yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19. Dalam Permenhub Nomor 18 Tahun 2020 pasal 11 Ayat 1 huruf (c) menjelaskan bahwa “Sepeda motor berbasis aplikasi dibatasi penggunaannya hanya untuk pengangkutan barang”. Pengendalian moda transportasi online ini dilakukan karena diperkirakan ojek online (ojol) bisa menjadi pengaruh besar dalam penyebaran COVID-19 karena berkontak langsung dengan banyak orang. Untuk itu, pemerintah melakukan pembatasan jumlah penumpang bagi pengemudi ojol roda dua maupun roda empat. Pada faktanya, kebijakan ini menimbulkan kontradiksi terhadap perekonomian pengemudi ojol dikarenakan mode layanan ride dinonaktifkan oleh pihak operator yang bekerja sama dengan pemerintah. Padahal, sebagian besar penghasilan pengemudi ojol bersumber dari mode layanan ride. Setelah pandemi membuat penghasilan pengemudi ojol menjadi turun karena sepinya pelanggan, penerapan kebijakan PSBB turut memperkeruh keadaan sosial dan ekonomi pengemudi ojol.

Setiap wilayah memiliki peraturannya masing–masing dalam mengendalikan moda transportasi di masa pandemi namun tetap di bawah aturan Kementerian. Kota Palembang menjadi salah satu wilayah yang menjalankan kebijakan PSBB. Hal ini turut dipertegas oleh Agus Rizal, selaku Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, yang mengatakan bahwa moda transportasi selama PSBB Kota Palembang diatur sesuai dengan Permenhub Nomor 18 tahun

(3)

2020 tentang Pengendalian Transportasi Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19, Peraturan Walikota (Perwali) Palembang Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB Dalam Penanganan COVID-19 di Kota Palembang, dan Surat Keputusan (SK) Walikota Palembang Nomor 122/KPTS/Dinkes/2020 tentang PSBB (Mediaindonesia.com, 2020).

Pelaksanaan PSBB terhadap moda transportasi online di Kota Palembang diatur dalam Perwali Palembang Nomor 14 Tahun 2020 pasal 18 ayat 5. PSBB di Kota Palembang telah berlangsung sejak tanggal 21 Mei 2020 hingga tanggal 2 Juni 2020. Pemerintah Kota Palembang kemudian memperpanjang PSBB selama 14 hari dikarenakan pada saat itu Ilmu Kesehatan Masyarakat memprediksi bahwa pada tanggal 8 Juni 2020 akan terjadi puncak COVID-19 di Kota Palembang (Newsdetik.com, 2020).

Pada pelaksanaan kebijakan ini, layanan ojol ride tidak diperbolehkan mengangkut penumpang sedangkan layanan Go Car tetap tersedia namun hanya dapat mengangkut 50% dari total keseluruhan penumpang per unit kendaraan. Untuk melakukan aktivitas lain seperti melayani pengantaran makanan dan barang, pengemudi ojol wajib menerapkan protokol kesehatan, menyemprotkan disinfektan pada kendaraan, dan dilarang berkendara apabila kondisi sedang sakit. Pelaksanaan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Kota Palembang.

Ketika Palembang memasuki zona oranye, Ketua Paguyuban Ojol Kota Palembang, Bari Toni Kuswoyo berharap diberikan kelonggaran dari pemerintah atau Peraturan Walikota Nomor 14 Tahun 2020 ini segera dicabut karena pendapatan pengemudi ojol menjadi turun drastis dengan menonaktifkan penumpang. Selain itu, ketika kebijakan PSBB diberlakukan, ada salah satu aplikasi lainnya yang melanggar peraturan namun tidak dikenakan sanksi oleh pemerintah (Liputan6.com, 2020). Hal ini membuktikan bahwa ternyata pelaksanaan peraturan ini melemahkan kehidupan pengemudi ojol di Kota Palembang, baik dari segi ekonomi maupun sosial.

Setelah PSSB di Kota Palembang berakhir, pengemudi ojol roda dua masih mengalami hal yang sama, yakni belum bisa mengangkut penumpang. Layanan ride pada aplikasi tersebut masih dinonaktifkan. Tentunya hal ini membuat para pengemudi ojol menjadi berlarut–larut terkena dampaknya. Dengan begitu, penelitian ini dilakukan untuk berupaya menganalisis bagaimana dampak kebijakan PSBB terhadap pengemudi ojol di Kota Palembang.

Pengemudi ojol memang menjadi salah satu pihak yang terkena imbas besar selama masa pandemi. Contohnya pada saat pelaksanaan PSBB di Kota Medan. Penghasilan pengemudi Gojek meningkat sebelum masa pandemi dan penghasilannya menurun saat masa pandemi.

Rata–rata penghasilan bulanan pengemudi Gojek lebih tinggi dari rata–rata Upah Minimum Kerja (UMK). Setelah survei dilakukan, 90% pengemudi Gojek merasa kualitas hidupnya jauh lebih baik dan merasa puas dengan penghasilan sebelum masa pandemi (Iswari et al., 2020).

Dilihat dari beberapa fakta di atas, ternyata kebijakan PSBB sangat melemahkan perekonomian pengemudi ojol. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat dari persoalan lain yang lebih mengarah pada dampak sosial kebijakan PSBB terhadap pengemudi ojol di Kota Palembang yang berfokus pada modal sosial komunitas pengemudi ojol Simpang Musiraya Barat (SIMBAT). Peneliti ingin melihat apakah kebijakan PSBB justru memperkuat atau melemahkan modal sosial komunitas ojol SIMBAT. Untuk itu, peneliti menggunakan kerangka teori Social Impact Assessment (SIA) (Slootweg et al., 2001), teori proses perubahan sosial (Leibo, 1995), dan teori modal sosial (Putnam, 2002).

Sejak COVID-19 melanda Indonesia, efek COVID-19 sudah menarik minat beberapa peneliti di tanah air. Para peneliti ini lebih banyak menaruh perhatian ke persoalan ekonomi (Amri & Laming, 2020; Iswari et al., 2020; Ramadhan & Bukhari, 2020; Tanjung, 2020;

Walandouw et al., 2020), dukungan sosial (Firdausi, 2020; Walandouw et al., 2020), psikologi (Hapsari et al., 2021; Slamet, 2020), hukum (Hartanto & Tajsgoani, 2020), dan kualitas

(4)

4 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

pelayanan (Adjat et al., 2020). Sebaliknya, perhatian peneliti Indonesia yang memberikan perhatian dampak sosial COVID-19 masih terlalu sedikit, kecuali riset mengenai dukungan sosial (Firdausi, 2020; Walandouw et al., 2020). Sepanjang pengetahuan penulis, riset ini akan menjadi riset pertama di Indonesia yang memetakan dampak kebijakan PSBB terhadap modal sosial di kalangan komunitas pengemudi ojol, terkhusus di Kota Palembang, sehingga mampu menghasilkan pengetahuan baru tentang relasi pengemudi ojol, kebijakan PSBB, dan COVID- 19.

B. TINJAUANPUSTAKA

Secara teoritis, dampak adalah hasil keluaran kebijakan yang berupa perubahan nyata pada sikap atau tingkah laku masyarakat (Hosio, 2007). Menurut Soemarwoto (1998), dampak kebijakan diartikan sebagai suatu perubahan yang terjadi karena kegiatan yang bersifat alamiah (biologi, fisik, kimia) dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan menurut Dye (1976), dampak kebijakan mengacu pada perubahan dalam masyarakat yang disebabkan karena kegiatan pemerintah.

Penelitian ini juga meminjam konsep eksternalitas ilmu ekonomi yang membahas tentang kegagalan pemasaran, dengan pendekatan analisis peran pemerintah yang berfungsi untuk menyajikan bukti dan argumentasi tentang kegagalan pemasaran, kemudian mengusulkan intervensi pemerintah sebagai rekomendasi solusi terhadap masalah yang terjadi (Bellinger, 2016). Sama halnya dengan analisis dampak kebijakan pada penelitian ini, proses analisis yang dilakukan mengarah pada bagaimana kegagalan kebijakan PSBB terhadap perekonomian ojol berdampak pada bidang sosial komunitas ojol. Apakah kegagalan kebijakan PSBB dalam bidang ekonomi semakin menguat atau justru melemahkan modal sosial komunitas ojol.

Dalam menganalisis dampak sosial kebijakan PSBB terhadap komunitas ojol di Kota Palembang, peneliti mengintegrasikan tiga teori: Social Impact Assessment (SIA) (Slootweg et al., 2001), perubahan sosial (Leibo, 1995), dan modal sosial (Putnam, 2002). SIA adalah proses menganalisis, memperhatikan, dan mengatur konsekuensi sosial yang diharapkan maupun yang bukan diharapkan, berupa konsekuensi negatif maupun positif akibat direncanakannya suatu intervensi (program, kebijakan, proyek, rencana), dan terjadinya proses perubahan sosial akibat dari intervensi itu sendiri (Vanclay, 2003). Perubahan sosial merupakan perubahan pola perilaku masyarakat akibat dari adanya suatu intervensi. Penjabaran proses perubahan sosial menggunakan teori perubahan sosial Leibo (1995) yang mengungkapkan bahwa ada tiga tahap proses perubahan sosial, yaitu invensi, difusi, dan konsekuensi. Sedangkan modal sosial adalah pola interaksi sosial antar masyarakat dalam level komunitas. Putnam (2002) mengungkapkan bahwa ada tiga elemen modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan sosial, dan norma sosial.

Penelitian ini berusaha menganalisis dampak sosial kebijakan PSBB terhadap komunitas ojol SIMBAT dengan menggunakan kerangka berpikir SIA (Slootweg et al., 2001), yang menegaskan bahwa untuk melihat dampak dari suatu intervensi (kebijakan), terlebih dahulu perlu melihat bagaimana perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat yang menjadi konteks intervensi. Untuk menjelaskan proses perubahan sosial di Kota Palembang, peneliti meminjam argumentasi Leibo (1995) yang mengidentifikasi tiga tahapan proses perubahan sosial: Invensi, difusi, dan konsekuensi. Invensi adalah proses perubahan ketika ide baru diciptakan dan dikembangkan dalam masyarakat. Difusi adalah proses perubahan ketika ide baru disampaikan melalui beberapa sistem hubungan sosial tertentu. Sedangkan konsekuensi adalah proses perubahan yang terjadi pada sistem masyarakat sebagai hasil dari penerimaan (adoptive) maupun dari penolakan (rejection) terhadap suatu ide baru. Ide/gagasan baru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebijakan PSBB. Setelah berhasil menggambarkan bagaimana perubahan sosial masyarakat Kota Palembang, peneliti mampu menjelaskan dampak kebijakan PSBB terhadap modal sosial komunitas ojol SIMBAT yang dibantu dengan teori modal sosial (Putnam, 2002).

(5)

Putnam (2002) menjelaskan ada tiga elemen modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan sosial, dan norma sosial. Elemen kepercayaan adalah faktor pendukung agar kerja sama menjadi terarah. Elemen jaringan sosial adalah relasi yang dapat dibangun dengan rasa simpati (persahabatan). Sedangkan elemen norma sosial Putnam (2002) mengacu pada konsep Coleman yang menyamakan norma sosial dengan pengalihan hak pengendalian tindakan dari satu aktor ke aktor lainnya serta didukung oleh sosialisasi dan sanksi. Jadi, peneliti menganalisis bagaimana kebijakan PSBB berdampak pada ketiga elemen ini.

Secara garis besar, teori SIA (Slootweg et al., 2001), teori perubahan sosial (Leibo, 1995), dan teori modal sosial (Putnam, 2002) akan dikombinasikan untuk menjawab rumusan masalah penelitian, yaitu bagaimana dampak kebijakan PSBB terhadap modal sosial komunitas ojol SIMBAT Kota Palembang.

C. METODE

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif yang bertujuan meneliti secara mendalam suatu kejadian dan bagaimana informan menanggapi kejadian tersebut (Daymon &

Holloway, 2010). Data-data penelitian dikumpulkan dengan tiga cara, yaitu wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi data sekunder. Wawancara dilakukan dengan key informan yang dipilih secara purposif, seperti komunitas ojol SIMBAT dan masyarakat Kota Palembang. Data dianalisis dengan model interaktif yang terdiri atas tiga tahapan: (1) Kondensasi data (data condensation); (2) penyajian data (display data); dan (3) penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1994).

Dalam melakukan analisis data, peneliti menggunakan perangkat lunak ATLAS.ti 9 (ATLAS.ti Scientific Software Development GmbH., 2020) yang dapat mempermudah proses analisis data kualitatif. Sebelum data diolah, hasil wawancara ditranskrip dan disimpan dalam bentuk PDF. Transkrip wawancara dan foto secara bersamaan dimasukkan ke dalam ATLAS.ti 9 untuk memudahkan proses pengolahan data, termasuk proses triangulasi data. Ada tiga tahapan yang dilakukan dalam proses analisis data menggunakan ATLAS.ti 9, yaitu open coding, axial coding, dan selective coding. Open coding adalah pengkodean yang dilakukan dengan menentukan kata–kata kunci yang relevan dan menentukan kategori yang mewadahi kata–kata kunci tersebut. Axial coding adalah pengkodean yang dilakukan dengan menentukan hubungan antara kategori-kategori yang telah ditentukan pada saat open coding. Sedangkan selective coding adalah pengkodean yang dilakukan dengan merumuskan suatu pernyataan yang lebih abstrak, lebih umum, dan mampu mewadahi semua konsep inti yang sudah terkumpul dari tahap penghubungan antara beberapa kategori dalam axial coding.

Setelah analisis data dilakukan, peneliti melakukan pengabsahan data dengan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber yaitu melakukan perbandingan dan pemeriksaan ulang taraf kepercayaan data yang diperoleh melalui instrumen dan latar waktu yang berbeda dalam riset kualitatif. Dalam melakukan teknik triangulasi ini, peneliti melakukan perbandingan hasil wawancara setiap key informan untuk mengecek kebenaran informasi yang diperoleh. Sedangkan teknik triangulasi metode yaitu teknik pengabsahan data yang memiliki dua cara, yaitu memeriksa taraf kepercayaan temuan hasil penelitian dari teknik pengumpulan data yang dilakukan dan memeriksa taraf kepercayaan sumber data dengan metode yang sama (Patton, 1987). Dalam melakukan teknik triangulasi ini, peneliti mengecek hasil penelitian melalui teknik pengumpulan data yang berbeda, yaitu observasi. wawancara mendalam, dan dokumentasi.

(6)

6 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

D. HASILDANPEMBAHASAN

Gambaran Umum Penelitian

Kota Palembang merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang saat ini berumur kurang lebih 1339 tahun. Kota Palembang adalah suatu daerah yang berupa kesatuan masyarakat hukum dengan memiliki batas wilayah tertentu serta mempunyai wewenang, hak, dan kewajiban untuk mengatur rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 1974. Wilayah administrasi Kota Palembang terbagi menjadi 18 kecamatan dan 107 kelurahan. Pada bagian timur, barat, dan utara, Kota Palembang berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin. Sedangkan pada bagian selatan, Kota Palembang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muara Enim (BPS Kota Palembang, 2021).

Berdasarkan hasil sensus penduduk Bulan September 2020, jumlah penduduk Kota Palembang yaitu 1.668.848 jiwa, yang dimana penduduk laki-laki berjumlah 837.031 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 831.817 jiwa (BPS Kota Palembang, 2021). Kota Palembang dapat dikatakan sebagai kota yang penduduknya sering menggunakan transportasi umum, salah satunya adalah ojol. Banyaknya peminat dalam menggunakan transportasi ojol membuat banyak pihak menerapkan usaha transportasi online di Kota Palembang, seperti aplikasi Gojek, Grab, Maxim, OKEjek, PALjek, Mangjek, dan aplikasi transportasi online lainnya.

Komunitas Simpang Musiraya Barat (SIMBAT) merupakan salah satu komunitas pengemudi ojol Kota Palembang yang tergabung dengan beberapa mitra aplikasi ojol, seperti Gojek, Grab, dan Maxim. Berdirinya komunitas SIMBAT diawali dengan para pengemudi ojol yang sering menunggu orderan di tempat yang sama. Setelah itu, para pengemudi ojol sepakat untuk membentuk komunitas yang diberi nama Gojek Grab Teh Kito (GGTK). Seiring berjalannya waktu, melihat keseriusan para anggota dalam berkomunitas, anggota GGTK sepakat untuk mengubah nama menjadi komunitas ojol SIMBAT yang disahkan pada tanggal 01 Mei 2020, dengan memiliki titik kumpul di Jalan Musiraya Barat Kota Palembang. Memiliki slogan “Silaturahmi Tanpa Batas”, komunitas SIMBAT tidak hanya beranggotakan mitra Gojek dan Grab saja, tetapi dari mitra aplikasi ojol manapun bisa bergabung dalam komunitas.

Komunitas SIMBAT dipimpin Muhammad Yusuf (39), seorang pengemudi ojol mitra Gojek. Yusuf mengarahkan komunitas untuk lebih menjaga solidaritas dan menjaga silaturahmi terhadap sesama pengemudi ojol. Saat ini, anggota komunitas SIMBAT berjumlah 16 orang yang terdiri dari mitra aplikasi Gojek, Grab, dan Maxim. Adapun nama-nama anggota Komunitas SIMBAT dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.

Anggota Komunitas Ojek Online Simpang Musiraya Barat (SIMBAT) 2021

Nama Anggota Mitra

Muhammad Yusuf Gojek

Riski Romadhon Gojek

Wawan Maxim

Arif Gojek dan Grab

Dapik Pajri Gojek

Irwansyah Gojek dan Maxim

Riansyah Gojek

Muhammad Adimas Gojek dan Grab

Ari Rahman Grab

Risdayani Grab

Wandi Gojek

Khaidir Gojek

Syahid Samawi Gojek dan Grab

Agus Masli Grab

(7)

Ibrahim Gojek dan Grab

Yudi Grab

Sumber: Komunitas SIMBAT (2021)

Deskripsi Informan Penelitian

Dalam proses pengambilan data primer, peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap dua pihak, yaitu masyarakat Kota Palembang dan komunitas SIMBAT. Untuk melihat bagaimana proses perubahan sosial yang terjadi di Kota Palembang, peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap masyarakat Kota Palembang yang sering menggunakan jasa transportasi ojol. Informan masyarakat terdiri dari tiga orang pelajar di Kota Palembang dan tiga pelaku usaha di Kambang Iwak Kota Palembang. Sedangkan untuk melihat bagaimana dampak kebijakan PSBB terhadap modal sosial pengemudi ojol, peneliti melakukan wawancara secara mendalam terhadap satu ketua dan sembilan anggota komunitas SIMBAT.

Peneliti menggunakan inisial nama dalam melakukan analisis data informan. Informan pedagang terdiri dari informan YU (35), IW (40), dan OG (32). Informan pelajar terdiri dari SN (21), DP (21), dan MA (21). Sedangkan informan komunitas SIMBAT terdiri dari ketua komunitas, MY (39), serta sembilan informan anggota komunitas SIMBAT, yaitu: RI (26), IR (31), DM (21), SS (21), AR (31), YD (32), MK (26), AG (46), dan RD (49).

Proses Perubahan Sosial Masyarakat di Kota Palembang Pasca Kebijakan PSBB Pelaksanaan kebijakan PSBB di Kota Palembang diatur dalam Perwali Palembang Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB Dalam Penanganan COVID-19 di Kota Palembang, yang dimana pemerintah membatasi aktivitas masyarakat di berbagai bidang pada tempat umum, seperti meliburkan tempat kerja dan sekolah, membatasi kegiatan di tempat umum pada bidang agama, sosial budaya, moda transportasi, keamanan, dan pertahanan. Dalam pemberlakuan kebijakan ini, masyarakat yang awalnya banyak melakukan aktivitas di luar rumah, kini diwajibkan untuk melakukan aktivitas di rumah melalui daring, seperti Work From Home (WFH), aktivitas belajar daring, berdagang, serta pemerintah membatasi penumpang dalam moda transportasi maksimal 50% dari total jumlah penumpang per kendaraan.

Proses perubahan sosial Leibo (1995) dapat dijelaskan melalui tiga aspek, yaitu aspek invensi, difusi, dan konsekuensi. Dari aspek invensi, peneliti melihat bagaimana respon masyarakat Kota Palembang terhadap COVID-19 yang baru menyebar saat itu. Hasil analisis data menunjukkan bahwa masyarakat lebih menonjolkan emosi sedih dan emosi takut terhadap COVID-19. Sedangkan ketika kebijakan PSBB baru dijalankan, sebagian masyarakat tergolong sudah memahami apa saja yang harus dilakukan saat PSBB. Melihat respon terhadap awal kebijakan PSBB dilakukan, masyarakat turut memunculkan emosi positif, seperti memberikan dukungan dan mematuhi aturan yang diberlakukan. Namun hal ini juga memunculkan emosi negatif yang lebih dirasakan oleh informan pedagang, seperti merasa semakin merugi dan berprasangka buruk terhadap penjualan karena adanya pembatasan dalam aktivitas berdagang.

Mengenai kebijakan PSBB terhadap ojol, informan pelajar mengganti transportasi ketika melakukan aktivitas luar rumah, yaitu menggunakan angkutan umum. Dalam hal ini, informan DP dan MA justru merasa lebih takut apabila menggunakan angkutan umum yang tentunya mencakup lebih banyak orang dalam satu transportasi yang sempit ketimbang menggunakan jasa transportasi ojol roda dua yang hanya terdiri dari satu pengemudi dan satu penumpang.

Sedangkan informan SN lebih menaruh prihatin terhadap pengemudi ojol roda dua yang tidak bisa mengangkut penumpang dan tentunya berdampak pada perekonomian pengemudi ojol.

Dalam aspek difusi, peneliti melihat bagaimana perubahan aktivitas masyarakat, baik dari sebelum dan sesudah PSBB. Hasil analisis data menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan aktivitas sangat drastis, yang awalnya aktif melakukan aktivitas di luar rumah, seperti

(8)

8 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

pulang-pergi kuliah, berdagang, dan bersosialisasi tanpa jarak. Namun setelah diberlakukan PSBB, masyarakat lebih dominan melakukan aktivitas dari rumah dan serba virtual, seperti jualan online, kuliah online, dan bersosialisasi secara online. Pelayanan birokrasi juga dilakukan secara online yang ternyata hal ini menjadi kendala bagi masyarakat yang kurang mengikuti perkembangan teknologi. Sedangkan apabila ingin mengadakan pertemuan dengan teman atau keluarga, masyarakat wajib berjaga jarak, menerapkan protokol kesehatan, dan sangat terbatas.

Jarangnya melakukan kegiatan di luar rumah selama PSBB membuat masyarakat menjadi sangat jarang pula dalam menggunakan transportasi umum. Pengemudi ojol roda dua yang turut dilarang mengangkut penumpang. Tentunya hal ini membuat informan DP dan MA merasa lebih takut apabila menggunakan transportasi umum, seperti angkutan umum (angkot) karena dalam satu transportasi tersebut mencakup lebih banyak orang dan sempit ketimbang naik ojol roda dua yang hanya berdekatan antara penumpang dan pengemudi. Selain itu, menggunakan transportasi umum alternatif ini menjadi penghambat masyarakat yang tidak bisa menerobos macet dan biaya ongkos yang lebih mahal.

Aktivitas yang dilakukan selama diberlakukan kebijakan PSBB membuahkan konsekuensi atau dampak yang terjadi pada masyarakat. Peneliti melihat ada beberapa dampak yang lebih menonjol, seperti dampak ekonomi, sosial, dan psikologis. Menurut informan YU, dampak positif ekonomi lebih dirasakan oleh jasa kurir. Informan MA yang memiliki bisnis kado wisuda secara online juga meraup keuntungan selama pandemi dan kebijakan PSBB. Sedangkan dampak negatif ekonomi hampir dirasakan oleh seluruh pihak, terutama pedagang dan pengemudi ojol roda dua. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena masyarakat yang lebih banyak melakukan aktivitas di rumah dan transportasi yang dibatasi. Walaupun kebijakan membuat masyarakat jarang bersosialisasi secara langsung, tetapi hal ini turut berdampak positif dalam bidang sosial, seperti saling peduli, pola hidup sehat, dan banyaknya waktu untuk keluarga.

Dampak negatif juga terjadi dalam bidang sosial, seperti keterbatasan komunikasi, putusnya silaturahmi, overthinking terhadap rekan sendiri, dan mengalami keterhambatan dalam urusan birokrasi. Perkembangan COVID-19 terhadap psikologis masyarakat ternyata berdampak negatif, seperti masyarakat menjadi takut, was-was, serta masih ada yang meremehkan COVID- 19.

Modal Sosial Komunitas Ojek Online Simpang Musiraya Barat (SIMBAT)

Peneliti mengadopsi pendekatan Putnam (2002) yang menjelaskan konsep modal sosial dengan tiga indikator, yaitu kepercayaan, jaringan sosial, dan norma sosial. Dalam komunitas SIMBAT, kepercayaan sudah terjalin dengan baik dari sebelum dan sesudah kebijakan PSBB diberlakukan. Anggota sangat menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap ketua komunitas serta memiliki WAKA yang amanah dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Dalam memelihara kepercayaan agar tetap terjalin baik, perangkat komunitas SIMBAT sangat teliti dalam memilih anggota yang amanah. Anggota SIMBAT juga turut menjaga komunikasi, memelihara solidaritas, silaturahim, dan membuat anggota nyaman berada dalam komunitas.

Ketidakpercayaan memang sempat terjadi dikarenakan aplikasi yang eror sehingga menimbulkan kesalahpahaman antar pihak. Setelah itu, penyelesaian masalah dilakukan dengan komunikasi, musyawarah, dan kepo (mencari tahu terlebih dahulu akar permasalahan lalu diselesaikan secara kekeluargaan)

Sementara itu, jaringan sosial dalam komunitas SIMBAT terjalin secara vertikal (pemerintah, operator, dan pelanggan) dan horizontal (sesama anggota SIMBAT dan antar komunitas). Jalinan hubungan secara vertikal memang lebih menonjol setelah diberlakukannya kebijakan PSBB, seperti: (1) Pelanggan menjadi lebih ramah kepada pengemudi ojol dengan memberikan perhatian-perhatian kecil mengingat masa pandemi sedang meradang, serta meningkatkan kepedulian dengan membelikan makanan dan memberikan tip; (2) pemerintah meningkatkan kepedulian dengan memberikan bantuan; dan (3) Operator meningkatkan

(9)

kepedulian dengan memberikan voucher untuk kebutuhan mitra sehari-hari, memberikan perlengkapan protokol kesehatan untuk keamanan dan kenyamanan dalam bekerja, serta pemberian vaksin yang turut bekerja sama dengan pemerintah. Sedangkan dalam memelihara jaringan sosial horizontal, sesama anggota SIMBAT tetap menjadi anggota yang patuh dan amanah, menjaga silaturahmi, komunikasi, dan menciptakan kenyamanan. Selain itu, dengan antar komunitas juga turut memelihara hubungan dengan cara komitmen, komunikasi, silaturahim, dan bekerja sama.

Selanjutnya, norma sosial dalam komunitas SIMBAT terbagi dalam dua, yaitu norma tertulis dan tidak tertulis. Norma tertulis berbentuk dokumen yang berisi peraturan internal komunitas yang dibuat semenjak komunitas didirikan. Sedangkan aturan tidak tertulis dibuat dengan ucapan atau komitmen yang telah dijanjikan tanpa ditulis. Apabila dilihat dari kekuatan daya ikatnya, norma sosial dibagi menjadi empat, yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom). Norma sosial komunitas SIMBAT dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.

Norma Sosial

Norma Menurut Daya

Ikat Aturan Tertulis Aturan Tidak Tertulis

Cara (Usage)

WAKA sebagai perantara amanat/informasi, WAKA: tangan kanan ketua, Aktif group chat, saling mengenal, pembayaran uang kas, penggunaan atribut ojol

Keterbukaan komunikasi, aktif group chat

Kebiasaan (Folkways) Paham keadaan: Saling menghargai, tolong menolong, etika berbicara

Good service terhadap customer dan masyarakat, escorting

Tata Kelakuan (Mores)

Musyawarah, ketransparansian bendahara, bertanggung jawab, share lokasi, keadilan ketua, kopi darat

Saling pantau, larangan dualisme komunitas

Adat Istiadat (Custom) Patuh, join group chat, penerapan visi misi

komunitas Menjaga marwah SIMBAT

Sumber: Hasil Analisis Data Menggunakan ATLAS.ti (2021)

Dampak Kebijakan PSBB terhadap Komunitas Sopir Ojol SIMBAT

Kebijakan PSBB memperkuat modal sosial komunitas SIMBAT. Pada elemen kepercayaan, komunitas SIMBAT semakin terjalin dengan baik, saling mempercayai satu sama lain karena jaringan sosial komunitas SIMBAT yang ikut menguat semenjak diberlakukannya PSBB.

Semakin menguatnya jaringan sosial (kerja sama), maka semakin menguat pula kepercayaan yang terjalin. Salah satu kegiatannya adalah dengan adanya saling berbagi informasi. Berbagi informasi ini lebih sering dilakukan dibandingkan sebelum PSBB. Informasi yang diberikan semakin bertambah dan tentunya terpercaya. Contohnya informasi mengenai COVID-19, kebijakan PSBB, kesehatan, dan bantuan sosial dari beberapa pihak.

Kebijakan PSBB memperkuat jejaring sosial komunitas SIMBAT, baik jaringan sosial vertikal (dengan pemerintah, operator, dan pelanggan) maupun horizontal (dengan antar komunitas ojol dan sesama anggota SIMBAT). PSBB memperkuat jaringan sosial vertikal antara komunitas SIMBAT dan operator, yang dimana operator justru meningkatkan kepedulian semenjak PSBB diberlakukan. Operator memberikan banyak bantuan terhadap pengemudi ojol, seperti penyemprotan disinfektan, pemberian voucher belanja, voucher makan, voucher sembako, vitamin, masker, dan hand sanitizer. Bahkan bantuan-bantuan itu hingga sekarang masih ada yang berjalan walaupun tidak seluruhnya. Hal ini memang dilakukan operator sebagai bentuk tanggung jawab karena telah menonaktifkan layanan ride saat PSBB. Namun di sisi lain, tanggung jawab ini dielaborasikan dengan kepedulian terhadap nasib ojol di masa PSBB, sehingga membuat kedua belah pihak antara operator dan komunitas terjalin hubungan yang

(10)

10 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

lebih erat dibandingkan sebelum diberlakukannya PSBB. Jalinan hubungan antara keduanya semakin terlihat jelas dan berjalan dengan baik.

Kebijakan PSBB juga memperkuat jaringan sosial vertikal antara komunitas SIMBAT dan pemerintah. Sebelum PSBB, hubungan keduanya sama seperti operator dan komunitas, sama- sama kurang menonjol. Namun semenjak diberlakukannya PSBB, hubungan keduanya terlihat lebih jelas. Pemerintah turut meningkatkan kepedulian terhadap pengemudi ojol yang terkena dampak. Informan RD menceritakan bahwa ia pernah bekerja sama dengan deretan POLDA dan POLTABES untuk membagikan masker. Mengenai bantuan, informan RI mendapat bantuan dari BRI sedangkan informan IR mendapatkan pelatihan dan uang senilai Rp 2.000.000 di awal pandemi menyerang. Pada tahun ini, pemerintah yang bekerja sama dengan operator membagikan vaksin kepada pengemudi ojol.

Hubungan pelanggan dan komunitas SIMBAT juga semakin menguat semenjak diberlakukannya PSBB. Pelanggan lebih meningkatkan kepedulian dan bersikap lebih ramah dari sebelum PSBB. Sebelum PSBB, beberapa pelanggan juga sempat memberikan tip kepada pengemudi ojol. Namun semenjak diberlakukannya PSBB, pelanggan semakin sering memberikan tip, mengingat kondisi perekonomian pengemudi ojol yang semakin menurun.

Selain itu, pelanggan juga semakin aktif berkomentar, seperti yang dirasakan oleh informan IR, bahwasanya pelanggan sempat memberikan komentar mengenai penggunaan masker.

Kepedulian lain juga dilakukan pelanggan dengan membelikan makanan untuk pengemudi ojol.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa hubungan pelanggan dan komunitas SIMBAT (pengemudi ojol) terjalin semakin baik dan tentunya pelaksanaan kebijakan PSBB ini memperkuat jaringan sosial vertikal pelanggan dan komunitas SIMBAT.

Jaringan sosial horizontal komunitas SIMBAT yaitu antar komunitas dan sesama anggota SIMBAT. Berdasarkan hasil analisis data, kebijakan PSBB memperkuat jaringan sosial horizontal komunitas SIMBAT. Semenjak diberlakukannya kebijakan PSBB, perekonomian anggota SIMBAT yang semakin menurun membuat seluruh anggota memiliki nasib yang sepenanggungan. Seluruh anggota terdampak, orderan yang sepi, hingga terpaksa bekerja sampingan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sebagai komunitas yang solid, sesama anggota pun saling menguatkan satu sama lain sehingga berpengaruh baik ke dampak psikologis anggota SIMBAT, yaitu menjadi lebih bersyukur terhadap apa yang terjadi pada saat itu. MY, sebagai ketua komunitas SIMBAT juga selalu menguatkan anggota-anggotanya untuk tetap semangat dalam mencari rezeki.

Hubungan komunitas SIMBAT dengan komunitas lain juga semakin menguat semenjak diberlakukannya kebijakan PSBB. Hal ini dapat dilihat dari solidaritas yang dibangun oleh antar komunitas. Menurut Lawang (1985), solidaritas sosial adalah berpegang teguh dalam kesatuan, persahabatan, kepercayaan yang timbul dari tanggung jawab dan kepentingan bersama setiap anggota. Seperti yang ditegaskan oleh informan SS, bahwasanya beberapa anggota komunitas SIMBAT dengan komunitas lain bekerja sama dengan mengadakan sumbangan untuk berbagi masker ke masyarakat. Selain itu, dampak dari pelaksanaan kebijakan PSBB ini adalah memperkuat komunikasi antar komunitas. Antar komunitas lebih sering berbagi informasi, baik dari segi keamanan, kesehatan, dan lainnya. Secara tidak langsung, antar komunitas ini menunjukkan kepedulian satu sama lain.

Adanya bantuan alat-alat untuk melaksanakan protokol kesehatan, peningkatan komunikasi dan informasi mengenai COVID-19, membuat komunitas SIMBAT justru tidak lalai dalam melaksanakan protokol kesehatan. Pelemahan ekonomi yang terjadi tidak mempengaruhi pengemudi ojol dalam melaksanakan protokol kesehatan. Justru dengan adanya dukungan- dukungan yang kuat dari jejaring sosial yang terjalin mempermudah pengemudi ojol dalam menjalankan aturan dari pemerintah dan memahami bagaimana situasi dan kondisi di masa pandemi.

(11)

Kebijakan PSBB turut memperkuat elemen norma sosial komunitas SIMBAT karena norma sosial tolong menolong dalam komunitas yang semakin menguat. Tolong menolong merupakan salah satu norma sosial yang wajib dijalankan dalam komunitas SIMBAT. Dalam hal ini, tolong menolong dilakukan sesama anggota, seperti saling menguatkan dan kerja sama. Aturan yang diberlakukan dalam komunitas SIMBAT masih menggunakan aturan yang lama dan tidak ada perubahan. Namun aturan lama inilah yang semakin menguat. Informan RD menegaskan bahwa setiap pertemuan yang dilakukan, aturan dalam komunitas justru lebih mengarah pada pembenahan. Misalnya pengantaran jenazah (escorting). Pembenahannya adalah mengenai partisipasi dalam kegiatan escorting antar komunitas yang harus lebih ditingkatkan lagi, dari yang berawal hanya perangkat komunitas yang berpartisipasi, kini dibenahi menjadi lima sampai sepuluh orang perwakilan dari komunitas SIMBAT. Pembenahan ini termasuk dalam tolong menolong karena kegiatan escorting yang tergolong dalam kegiatan kerja sama sesama pengemudi ojol.

E. PENUTUP

Penelitian menyimpulkan bahwa kebijakan PSBB memperkuat modal sosial komunitas SIMBAT, dalam artian kebijakan PSBB berdampak positif terhadap modal sosial komunitas SIMBAT. Elemen kepercayaan komunitas semakin menguat semenjak diberlakukannya PSBB karena komunikasi yang semakin menguat. Kepercayaan bisa terbentuk karena adanya kegiatan yang sering dilakukan bersama-sama dan komunikasi satu sama lain. Semenjak PSBB diberlakukan, komunikasi semakin menguat karena semakin banyaknya informasi yang dibagikan dalam antar relasi, seperti info kesehatan dan bantuan dari beberapa pihak.

Elemen jaringan sosial ikut menguat karena sesama anggota SIMBAT terkena dampak yang sama, yaitu penurunan pendapatan. Penurunan pendapatan ini membuat pihak operator, pemerintah, dan pelanggan semakin meningkatkan kepedulian dengan memberikan beberapa bantuan untuk pengemudi ojol. Selain itu, dilihat pada jaringan sosial sesama anggota SIMBAT dan antar komunitas juga semakin menguat karena adanya aktivitas komunikasi. Kerja sama dan tolong menolong komunitas SIMBAT juga semakin menguat dengan adanya beberapa aktivitas yang dilakukan semenjak kebijakan PSBB diberlakukan. Sedangkan elemen norma sosial dalam komunitas SIMBAT semakin menguat karena norma sosial tolong menolong yang semakin sering dan banyak dilakukan semenjak PSBB dijalankan. Hal ini terlihat secara jelas pada jaringan sosial yang terjalin dalam komunitas SIMBAT.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan PSBB memperkuat modal sosial komunitas ojol SIMBAT Kota Palembang. Kesimpulan ini menguatkan hasil riset sebelumnya yang membahas persoalan ekonomi (Amri & Laming, 2020; Iswari et al., 2020; Ramadhan & Bukhari, 2020; Tanjung, 2020; Walandouw et al., 2020) dukungan sosial (Firdausi, 2020; Walandouw et al., 2020), dan psikologi (Hapsari et al., 2021; Slamet, 2020). Tetapi, temuan peneliti bertolak belakang dengan riset (Wardani et al., 2020) yang menyatakan bahwa pengemudi ojek memiliki pengetahuan dan kesadaran yang minim terhadap bahaya COVID-19 serta penurunan pendapatan yang dialami membuat pengemudi ojek tidak menggunakan masker.

Penelitian Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Modal Sosial Komunitas Ojol SIMBAT Kota Palembang ternyata mampu mengisi kekosongan penelitian terdahulu yang lebih banyak menaruh perhatian pada persoalan ekonomi (Amri & Laming, 2020; Iswari et al., 2020;

Ramadhan & Bukhari, 2020; Tanjung, 2020; Walandouw et al., 2020), dukungan sosial (Firdausi, 2020; Walandouw et al., 2020), psikologi (Hapsari et al., 2021; Slamet, 2020), hukum (Hartanto & Tajsgoani, 2020), dan kualitas pelayanan (Adjat et al., 2020). Penelitian terdahulu ini juga sangat membantu dan dapat diterima peneliti karena berkesinambungan dengan penelitian ini, terutama penelitian terdahulu yang mengarah pada dampak ekonomi, dukungan sosial, dan psikologi.

(12)

12 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

Hasil penelitian terdahulu yang membahas persoalan ekonomi (Amri & Laming, 2020;

Iswari et al., 2020; Ramadhan & Bukhari, 2020; Tanjung, 2020; Walandouw et al., 2020) adalah pandemi COVID-19 maupun kebijakan PSBB ternyata sangat melemahkan perekonomian pengemudi ojol. Namun, ekonomi yang melemah ini justru memperkuat modal sosial komunitas ojol, yang dimana sesama pengemudi ojol memiliki nasib yang sepenanggungan sehingga sesama pengemudi ojol saling menguatkan satu sama lain.

Pada hasil penelitian terdahulu yang mengarah pada dukungan sosial (Firdausi, 2020;

Walandouw et al., 2020) berkesinambungan dengan penelitian ini. Secara empiris, riset ini menunjukkan bahwa dukungan sosial menjadi salah satu faktor pendukung yang memperkuat modal sosial pengemudi ojol dalam hal penyaluran bantuan yang dilakukan antara pemerintah dan operator terhadap pengemudi ojol. Hubungan komunitas dengan pihak operator dan pemerintah yang terlihat lebih jelas dan nyata dibandingkan sebelum pandemi menyerang dan sebelum diberlakukannya kebijakan PSBB.

Riset ini menguatkan temuan penelitian sebelumnya perihal persoalan psikologi pengemudi ojol (Hapsari et al., 2021; Slamet, 2020). Selama masa pandemi COVID-19, persoalan psikologi ini juga dialami pengemudi ojol komunitas SIMBAT. Walaupun sesama anggota mengalami keterpurukan dalam perekonomian, namun hal ini justru membuat satu sama lain saling menguatkan. Secara tidak langsung, di kala proses pengumpulan data dengan wawancara dilakukan, peneliti menilai dari curahan hati anggota komunitas SIMBAT bahwa mereka selalu berusaha untuk bertahan hidup di saat sepinya orderan, dengan cara mencari pekerjaan sampingan dan dualisme akun ojol. Keterpurukan memang sempat dialami pada masa awal pandemi dan pemberlakuan kebijakan PSBB. Namun, anggota komunitas SIMBAT tetap menunjukkan kebersyukuran dengan cara bersabar terhadap apa yang terjadi.

Melihat adanya penurunan pendapatan pada pengemudi ojol, peneliti merekomendasikan bahwa sebelum pemberlakuan kebijakan, pemerintah perlu mempertimbangkan bagaimana dampak dan resiko yang terjadi terhadap kelompok sasaran. Apabila memang akan terjadi dampak yang buruk terhadap perekonomian, pemerintah perlu mencari solusi untuk mengatasi dampak buruk tersebut, seperti rutin memberikan bantuan sosial untuk pengemudi ojol.

Terutama dalam pencegahan penyebaran COVID-19, pemerintah harus lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat karena di masa pandemi ini sangat menekan perekonomian semua lapisan masyarakat.

Meskipun penelitian ini berhasil menggambarkan dampak PSBB terhadap modal sosial komunitas ojol SIMBAT, tetapi penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu pada narasi hasil penelitian elemen jaringan sosial, peneliti hanya membahas dari sudut pandang komunitas SIMBAT dan pelanggan, tidak dari sudut pandang pemerintah, operator, dan antar komunitas.

Oleh karena itu, di masa mendatang, peneliti menyarankan agar penelitian dilakukan dengan melakukan teknik pengumpulan data terhadap setiap relasi yang terhubung dengan komunitas ojol. Selain itu, pada penelitian dampak kebijakan PSBB terhadap pengemudi ojol ini juga perlu dilengkapi dengan topik penelitian yang lebih mengarah pada bagaimana dampak kebijakan PSBB terhadap tingkat kebahagiaan pengemudi ojol. Sebab, sejauh ini, belum ada penelitian yang berusaha mengelaborasi tingkat kebahagiaan para pengemudi ojol.

UCAPANTERIMAKASIH

Peneliti mengakui dan sangat mengapresiasi adanya dukungan yang besar dari beberapa pihak yang membantu dalam berjalannya penelitian ini dengan baik, terutama dari pihak Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Sriwijaya, Komunitas Ojol SIMBAT, dan masyarakat Kota Palembang.

REFERENSI

Adjat, N. P., R, A. D., Suryobuwono, A. A., & Prasidi, A. (2020). The Impact of PSBB Policy

(13)

on Online Transportation Services in Jabodetabek. GROSTLOG: Global Research on

Sustainable Transports & Logistics, 3, 258.

https://proceedings.itltrisakti.ac.id/index.php/ATLR/article/view/282/312

Amri, N. F., & Laming, R. F. (2020). Praktisi Akuntansi Di Kota Makassar: Pendapatan Driver Transportasi Berbasis Online. Mirai Management, 5(2).

https://journal.stieamkop.ac.id/index.php/mirai/article/view/712/419

ATLAS.ti Scientific Software Development GmbH. (2020). ATLAS.ti v.9. In Berlin: Scientific Software Development. www.atlasti.com

Bellinger, W. K. (2016). The Economic Analysis of Public Policy. In The Economic Analysis of Public Policy (Second). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315757940

BPS. (2021). Kota Palembang Dalam Angka 2021 (Badan Pusat Statistik Kota Palembang (ed.)).

CV. Rafa Cipta Media.

Daymon, C., & Holloway, I. (2010). Qualitative research methods in public relations and marketing communications: Second edition. In Qualitative Research Methods in Public Relations and Marketing Communications (Second). Routledge.

https://doi.org/10.4324/9780203846544

Dye, T. R. (1976). Policy Analysis: What Government do, Why They Do It, and What Difference It Makes. The University of Alabama Press.

Firdausi, F. (2020). Dukungan Sosial Terhadap Driver Ojek Online Di Kota Bandung Pada Masa Pandemi COVID-19 [Pendidikan Indonesia]. http://repository.upi.edu/55852/

Hapsari, V. C., Sovitrina, R., & Santosa, A. D. (2021). Stress Pada Pengemudi Ojek Online Di Pandemic COVID-19 Masa New Normal Di Jakarta. IKRA-ITH Humaniora, 5(1).

https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/ikraith-humaniora/article/download/851/641

Hartanto, & Tajsgoani, N. (2020). Dualisme Pengaturan Ojek Online Angkut Penumpang Dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Jakarta. IAIN Kendari, 13(2).

https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/al-adl/article/view/1860/pdf Hosio, J. (2007). Kebijakan Publik dan Desentralisasi. Laksbang.

Hwang, C., Wang, Y., Li, X., Ren, L., Zhao, J., Hu, Y., Zhang, L., Fan, G., Xu, J., Gu, X., Cheng, Z., Yu, T., Xia, J., Wei, Y., Wu, W., Xie, X., Yin, L., Li, H., Liu, M., … Cao, B.

(2020). Clinical Features of Patients Infected With 2019 Novel Coronavirus in Wuhan, China. Lancet, 395(10223), 497–506. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30183-5 Iswari, I., Saragih, R. A., Sirait, R. R., & Putra, W. (2020). Analisis Perbedaan Pendapatan

Driver GO-JEK Sebelum Dan Saat Terjadi Pandemi COVID-19 Di Kota Medan. Ekonomi Islam, 1(1). http://ejurnalilmiah.com/index.php/Mudharib/article/view/42

Lawang, R. M. Z. (1985). Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi. Karunika, Universitas Terbuka.

Leibo, J. (1995). Sosiologi Pedesaan Mencari Suatu Strategi Pembangunan Masyarakat Desa Berparadigma Ganda. Andi Offset.

Liputan6.com. (2020, July 21). Masuk Zona Orange, Izin Operasional Ojol Angkut Penumpang Di Palembang Dicabut. www.Liputan6.com. Retrieved on 22 December 2020, from https://www.liputan6.com/regional/read/4310543/masuk-zona-orange-izin-operasional-ojol- angkut-penumpang-di-palembang-dicabut

Mediaindonesia.com. (2020, May 21). PSBB di Palembang, Ojek Online Dilarang Bawa Penumpang. www.mediaindonesia.com. Retrieved on 17 September 2020, from https://mediaindonesia.com/nusantara/314963/psbb-di-palembang-ojek-online-dilarang- bawa-penumpang#:~:text=Kota-Palembang-sudah-menerapkan-Pembatasan,PSBB selesai pada 2 Juni

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook (2nd ed.). Thousand Oaks.

(14)

14 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 1-14

Newsdetik.com. (2020, June 02). PSBB Palembang Diperpanjang 14 Hari.

www.newsdetik.com. Retrieved on 21 December 2020, from https://news.detik.com/berita/d-5037062/psbb-palembang-diperpanjang-14-hari

Patton, M. Q. (1987). How To Use Qualitative Methods in Evaluation. Sage.

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=0co1ESOVJHkC&oi=fnd&pg=PA5&dq=p df+patton+1987&ots=wIt5HBc6Ba&sig=dsNBqRb6lgkkwFV60RHOv2ZDeWU&redir_esc

=y#v=onepage&q&f=false

Putnam, D. R. (2002). The Role of Social Capital in Development (C. Grootaert & T. Van Bastealler (eds.)). Cambridge University Press.

Ramadhan, A., & Bukhari, E. (2020). Analisis Komparasi Penghasilan Driver Go-Jek dan Grab Terhadap Standar Upah Minimum Regional Kota Bekasi pada saat Pandemi COVID-19.

Ilmiah Akuntansi Dan Manajemen, 16(2).

https://ejurnal.ubharajaya.ac.id/index.php/JIAM/article/view/293/292

Rothan, H. A., & Byrareddy, S. N. (2020). The Epidemiology and Pathogenesis of Coronavirus Disease (COVID-19) Outbreak. Autoimmun. https://doi.org/10.1016/j.jaut.2020.102433 Slamet, E. D. (2020). Kebersyukuran Pada Tukang Ojek Di Masa Pandemi COVID-19

[Muhammadiyah Surakarta]. http://eprints.ums.ac.id/86182/11/NASKAH PUBLIKASI.pdf Slootweg, R., Vanclay, F., & Van Schooten, M. (2001). Function Evaluation As a Framework

for the Integration of Social and Environmental Impact Assessment. Impact Assessment and Project Appraisal, 19(1), 19–28. https://doi.org/10.3152/147154601781767186

Soemarwoto, O. (1998). Analisis Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press.

Susilo, A., Rumende, C. M., Pitoyo, C. W., Santoso, W. D., Yulianti, M., Sinto, R., Singh, G., Nainggolan, L., Nelwan, E. J., Khie, L., Widhani, A., Wijaya, E., Wicaksana, B., Maksum, M., Annisa, F., Jasirwan, O. M., Yunihastuti, E., Penanganan, T., New, I., … Cipto, R.

(2020). Coronavirus Disease 2019 : Tinjauan Literatur Terkini Coronavirus Disease 2019 : Review of Current Literatures. Penyakit Dalam Indonesia, 7(1), 45–67.

Tanjung, A. (2020). Analisis Kesejahteraan Mitra Pengemudi Jasa Transportasi Online Berdasarkan Konsep Sharing Economy di Masa Pandemi COVID-19. Ilmiah Mahasiswa

FEB Universitas Brawijaya, 9(1).

https://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/6893/5951

Vanclay, F. (2003). International Principles For Social Impact Assessment. Impact Assessment and Project Appraisal, 21(1). https://doi.org/10.3152/147154603781766491

Walandouw, P., Karma, I. D. G., & Primaldhi, A. (2020). Laporan Penelitian Survei Pengalaman Mitra Driver Gojek Selama Pandemi Covid-19. https://ldfebui.org/wp- content/uploads/2020/06/Laporan-Penelitian-Survei-Pengalaman-Mitra-Driver-Gojek- Selama-Pandemi-Covid19.pdf

Wardani, A. K., Qiyaam, N., Rahmawati, C., Nopitasari, B. L., Nurbaety, B., Ittiqo, D. H., &

Wahid, A. R. (2020). Waspada COVID-19: Pembagian Handsanitizer dan Masker Kain Gratis Kepada Pengemudi Ojek. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 4(1). https://doi.org/10.31764/jpmb.v4i1.2759

WHO. (2020a). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Situation Report.

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200211-sitrep- 22- ncov.pdf?sfvrsn=fb6d49b1_2

WHO. (2020b). Naming The Coronavirus Disease (COVID-19) and The Virus That Causes it.

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200312-sitrep- 52-covid-19.pdf?sfvrsn=e2bfc9c0_4

WHO. (2020c). WHO Director-General’s Opening Remarks at the Media Briefing on COVID-19 - 11 March 2020. https://www.who.int/director-general/speeches/detail/who-director- general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---11-march-2020

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melihat aspek modal sosial mana yang lebih dipengaruhi oleh kharisma kiai, dan aspek modal sosial mana yang dominan mempengaruhi kinerja aktivitas ekonomi maupun kinerja

puan dalam bersosialisasi yang mengarah pada akses terhadap modal sosial. Jika melihat frekwensi hubungan kemitraan Pelaku UMKM Kota Pasuruan dengan mitranya, dalam

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam penanggulangan wabah Covid 19 di Kota Denpasar berdasarkan

puan dalam bersosialisasi yang mengarah pada akses terhadap modal sosial. Jika melihat frekwensi hubungan kemitraan Pelaku UMKM Kota Pasuruan dengan mitranya, dalam

Namun, negara besar seperti Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina, kebijakan yang dikeluarkan oleh aktor subnasional justru lebih efektif dalam menangani pandemi, karena

menunjukkan bahwa kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru PPDB online di Kota Medan dari indikator komunikasi, proses penyampaian informasi masih perlu diperbaiki seperti kejelasan

Berdasarkan pernyataan dari Ibu Ernawati dapat diketahui bahwa memang masih lemahnya koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial dalam menangani anak putus sekolah, karena Dinas

ABSTRAK Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengimplementasikan kebijakan mengenai penataan kawasan sempadan rel kereta api khususnya permukiman yang berada di Kecamatan