* Corresponding Author
Email : [email protected]
© 2022 Author(s), Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan (13) 2 2022
P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977 DOI: 10.23960/administratio.v13i2.324 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)
ARTICLE
Perbandingan Kebijakan Aktor Subnasional dalam Penanganan Pandemi Covid-19 oleh Negara ASEAN-5
Ari Darmastuti1*,Khairunnusa Simbolon2, Astiwi Inayah3
1,2,3 Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Lampung,Bandar Lampung, Indonesia
How to cite: Darmastuti, A., Simbolon, K., Inayah, A. (2022) Perbandingan Kebijakan Aktor Subnasional dalam Penanganan Pandemi Covid-19 oleh Negara ASEAN-5. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(2)
Article History
Received: 24 Agustus 2022 Accepted: 14 Oktober 2022 Keywords:
Subnationl Actor Pandemic Countermeasurer ASEAN-5
Kata Kunci:
Aktor Subnasional Penanganan Pandemi ASEAN-5
ABSTRACT
The COVID-19 pandemic that broke out at the end of 2019 caused all elements of countries in the world to take quick and appropriate responses so the impact could be minimized. Due to the different spread of the virus in each region, as well as differences in resources, each subnational region has different handling and development of the pandemic, including in ASEAN-5 countries. This research was conducted qualitatively by studying COVID-19 data in ASEAN-5 countries, both official government data, international institutions, and news from official channels.
By using an analysis of subnational actors, this study finds that the subnational actors who are the object of the study apply different policies, according to the resources they have, the support of the actors, and the conditions for the spread of the COVID-19 virus. What ASEAN-5 member countries have in common in their handling of the pandemic are centralized and generalized policies, where policy making is in the hands of the national government. The results of the analysis show that the policy can be successful in a country with a small population and outsiders such as Vietnam. However, in big countries such as Malaysia, Indonesia, Thailand and the Philippines, the policies issued by sub-national actors are actually more effective in dealing with the pandemic, due to the ease of accessibility and understanding of the problems of their local communities.
ABSTRAK
Pandemi COVID-19 yang merebak pada akhir tahun 2019 menyebabkan seluruh elemen negara di dunia harus melakukan langkah cepat dan tepat agar dampaknya dapat diminimalisir. Akibat penyebaran virus yang berbeda di tiap daerah, serta perbedaan sumber daya masing-masing wilayah subnasional memiliki penanganan dan perkembangan pandemi yang berbeda satu sama lain, termasuk di negara-negara ASEAN-5. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan mempelajari data-data COVID-19 di negara ASEAN-5, baik data resmi pemerintah, Lembaga internasional, dan berita dari kanal resmi. Dengan menggunakan analisis pada aktor subnasional, penelitian ini menemukan bahwa aktor subnasional yang menjadi objek kajian menerapkan kebijakan yang berbeda-beda, sesuai dengan sumber daya yang dimiliki, dukungan aktor-aktor, dan kondisi penyebaran virus covid-19. Kesamaan yang dimiliki oleh negara anggota ASEAN-5 dalam penanganan pandeminya adalah
160 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
kebijakan yang tersentralisir dan digeneralisir, dimana pengambilan kebijakan berada di pemerintah nasional. Hasil analisis menunjukkan, kebijakan tersebut bisa berhasil di negara dengan populasi dan luar kecil seperti Vietnam. Namun, negara besar seperti Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina, kebijakan yang dikeluarkan oleh aktor subnasional justru lebih efektif dalam menangani pandemi, karena kemudahan aksesibilitas dan pemahaman terhadap permasalahan masyarakat daerahnya
A. PENDAHULUAN
Pandemi global yang merebak akhir tahun 2019 lalu berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali hubungan antar Negara. Hubungan antar Negara yang didominasi dengan kerja sama dalam berbagai bidang tiba-tiba harus terhenti total, akibat kebijakan lock down yang dilaksanakan di hampir seluruh dunia. Pasca ditemukannya kasus- kasus awal virus, beberapa Negara langsung mengambil kebijakan radikal dengan menutup akses masuk keluar dan dalam negaranya. Beberapa Negara seperti Indonesia baru melakukan kebijakan tersebut setelah kemunculan beberapa kasus pada pertengahan maret tahun 2020.
Sampai saat ini, tercatat sebanyak 2.462.911 juta korban jiwa, dengan total kasus terkonfirmasi sebanyak 111.102.016 kasus (John Hopkins University and Medicine, 2021).
Perekonomian beberapa Negara mengalami perlambatan, bahkan mengalami kontraksi secara signifikan. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat bahwa pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) global hanya berada di angka 0.7%. Sementara secara keseluruhan GDP global mengalami kontraksi sebanyak 4,9% yang merupakan penurunan terbesar sejak tahun 1962. Kondisi ini memang tidak bisa disamakan dengan kondisi perang dunia I dan II, perang dingin, atau pasca perang dingin, tetapi kondisi ketakutan dan anarkisnya sama saja. Bahkan kondisi saat ini lebih chaos apabila kita membandingkan dengan perang-perang besar sebelumnya. Saat perang dunia I dan II, daratan Eropa mengalami kelumpuhan ekonomi parah, begitu pun saat ini mengalami perlambatan pertumbuhan GDP hingga -0,4% selama kurun waktu 2020 (OECD, 2021).
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Indonesia misalnya mengalami dampak besar karena harus melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mengakibatkan lumpuhnya perekonomian nasional. Insentif-insetif diberikan secara massive oleh pemerintah dengan harapan dapat menggerakkan ekonomi dan daya beli masyarakat. Negara lain seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam juga melakukan pembatasan sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 yang sangat cepat. Negara-negara ASEAN-5 tersebut jika dilihat dari angka penderita COVID-19 juga merupakan yang tertinggi dibandingkan Negara ASEAN lainnya (lihat grafik 1).
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 161 Grafik 1. Tren COVID-19 Negara Asia Tenggara
Sumber: (WHO, 2021b)
Angka kematian yang disebabkan oleh COVID-19 di lima Negara ASEAN tersebut juga sangat tinggi, terutama Indonesia, Filipina, Malaysia dengan pengecualian Thailand dan Vietnam yang angka kematian disebabkan virus ini cukup rendah (lihat grafik 2). Pada kasus Indonesia, wilayah dengan kasus tertinggi adalah DKI Jakarta dengan total 25,4% dari total keseluruhan kasus di Indonesia, diikuti Jawa Barat 16,3%, Jawa Tengah 11,4%, dan Jawa Timur 9,5% (Covid-19, 2021).
Grafik 2. Tingkat Kematian disebabkan COVID-19 ASEAN
Sumber: (WHO, 2021a)
Malaysia mencatat wilayah dengan total kasus COVID-19 terbanyak adalah Wilayah Selangor 108.419 kasus, Sabah 53.864 kasus, Johor 38.965 kasus, Kuala Lumpur 36.364 kasus dan Negeri Sembilan 16.689 (Covid-19 Malaysia 2021, 2021) . Filipina mencatat lima daerah dengan kasus terbanyak, yaitu Quezon City, City of Manila, Cavite, Aguna dan Rizal (Doh.gov.ph, n.d.). Sementara wilayah Vietnam yang memiliki kasus tertinggi adalah wilayah resor Da Nang, walaupun memang kasusnya tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan Negara ASEAN-5 lainnya. Begitu juga dengan Thailand yang dianggap cukup efektif menangani Pandemi, tercatat daerah yang banyak terkena virus ini adalah Samut Sakhon 29,7%, dan 3,1% (elevenmyanmar.com, 2021).
Jika dilihat sekilas dari data yang sudah disebutkan bahwa daerah-daerah dengan penyebaran tertinggi tersebut merupakan daerah vital bagi masing-masing negara bahkan merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi berada, tidak heran apabila ekonomi dan pemerintahan carut marut di masa pandemi ini. Selain pusat pemerintahan dan ekonomi, daerah
162 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
yang menjadi tempat penyebaran virus ini adalah daerah dengan tingkat pergerakan manusia yang tinggi seperti daerah wisata (pada kasus Vietnam yaitu daerah Da Nang).
Pada beberapa penelitian awal tentang penanganan pandemi ditemukan fakta bahwa pemerintah sebuah negara memiliki peranan besar menekan angka penyebaran. Berbagai penelitian awal dilakukan untuk melihat bagaimana bentuk, level, system dan kordinasi pemerintah bekerja dalam situasi pandemi. Seperti hasil studi yang dilakukan oleh Adeel, dkk, yang meneliti bagaimana pemerintahan sub-nasional berperan penting dalam merespon kasus- kasus awal COVID-19 (Adeel et al., 2020). Dimana menurut penelitian mereka, respon Amerika Serikat dan Kanada dalam penanganan COVID-19 sangat dipengaruhi kebijakan- kebijakan yang diambil negara bagian atau aktor sub-nasional.
Kebijakan yang dikeluarkan Negara terkait pandemi pasti akan mempengaruhi bagaimana virus tersebut dapat dikendalikan. Meskipun pemerintah pusat yang memiliki legalitas dalam mengeluarkan kebijakan penanganan COVID-19 tetapi berdasarkan data persebaran covid di atas bisa melihat bahwa tentu saja masing-masing wilayah seharusnya mendapatkan perlakuan yang berbeda. Karena penyebaran virus yang tidak merata pada seluruh wilayah bagian, ada daerah yang sangat massive penyebarannya, namun ada juga yang tidak tertular virus ini. Aktor sub-nasional menjadi aktor penting dalam penanganan pandemi karena kemudahan akses yang dimiliki untuk menyentuh permasalahan (masyarakat) langsung. Pemerintah pada level sub- nasional juga memiliki pengetahuan, kapabilitas serta jangkauan yang lebih dekat dengan masyarakat di daerahnya. Oleh karena itu peneliti ingin melihat upaya-upaya yang dilakukan aktor sub-nasional tersebut untuk mengatasi pandemi di masing-masing wilayahnya, terutama wilayah dengan paparan COVID-19 tertinggi di daerah ASEAN-5 dengan membandingkan kebijakan-kebijakan masing-masing aktor subnasional.
B. TINJAUAN PUSTAKA Aktor Subnasional
Globalisasi dan perkembangan dunia banyak merubah pola interaksi dalam politik internasional. Aktifitas aktor menjadi semakin beragam, begitupun dengan aktor yang terlibat (Hans J. Michelmaan, 1990). Aktor-aktor non negara muncul menjadi aspek penting dalam politik internasional dan sekaligus memunculkan pola-pola hubungan yang baru dan lebih beragam. Aktifitas internasional yang dilakukan oleh aktor selain negara inilah yang kemudian dikenal dengan paradiplomasi. Paradiplomasi sendiri merujuk pada aktifitas-aktifitas aktor sub nasional dam aktor non-negara, yang secara kewenangan memiliki batasan dalam hal sumberdaya dan hukum, dalam lingkup politik internasional (Sergunin & Joenniemi, 2014).
Aktor Sub nasional merupakan salah satu aktor dalam dunia internasional yang mempunyai keterikatan kedaulatan dengan pemerintah pusat dimana aktor ini memiliki kedaulatan parsial atas wilayah mereka dengan kata lain sistem ini dinamakan yaitu desentralisasi Dengan kedaulatan tersebut, aktor ini dapat ikut berpartisipasi dalam dinamika dunia internasional dengan mengikuti berabagai kerjasama dalam berbagai bidang seperti ekonomi, politik, lingkungan dan lainnya dengan aktor internasional lainnya (Kuznetsov, 2014). Tujuan utama dari aktivitas diplomasi yang dilakukan oleh aktor sub nasional ini yaitu untuk memperkuat dan membangun bangsa mereka dalam lingkup multinasional. Aktor sub nasional juga dapat didefenisikan sebagai pemerintah daerah yang ada di bawah tingkatan negara seperti provinsi, kabupaten dan kota (Garesché, 2007)
Dalam perjalanannya, aktivitas yang dilakukan oleh aktor sub nasional membantu memperkuat kekuatan pemerintah nasional. Ini dikarenakan aktor sub nasional bergerak hanya sebatas dengan hak preogratif yang dimilikinya dan tidak melanggar hukum-hukum nasional yang berlaku. Pembagian kerja yang jelas antara aktor sub nasional dengan pemerintah nasional diperlukan untuk menjadikan aktivitas yangdilakukan sub nasional memberikan dampak yang
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 163 baik dan bukan hal sebaliknya seperti isu separatism. Setiap negara memiliki peraturan yang berbeda untuk mengatur dan mengawasi pergerakan dari aktivitas aktor sub nasional tersebut.
Pandemi Covid-19
Virus Covid-19 dideklarasikan oleh WHO pada 11 Maret 2020 sebagai pandemi global, beberapa bulan setelah kemunculan pertama virus tersebut di Wuhan akhir 2019. Setelah sebelumnya pada 30 Januari WHO juga sudah mendeklarasikan penyebaran virus ini di Tiongkok sebagai kedaruratan terhadap kesehatan global. Sejak saat itu dunia seperti dihadapkan pada kondisi yang cukup chaotic, karena cepatnya penyebaran virus, tingginya korban jiwa, serta minimnya panduan untuk menangani virus ini. Pada awal-awal pandemi misalnya bermunculan banyak sekali argument, mitos bahkan hoax yang membuat masyarakat semakin kebingungan karena tidak adanya sumber informasi yang jelas.
Secara medis virus ini bernama coronavirus SARS-CoV-2. Coronavirus adalah sebuah keluarga virus yang memiliki banyak jenis dan menyebabkan masalah pernafasan pada manusia, mulai dari flue biasa sampai kepada penyakit yang lebih parah seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS). SARS dan MERS sendiri memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, dan dideteksi pertama kali pada 2003 dan 2012, begitu juga dengan Covid-19 (Daniel R. Lucey, MD, MPH, 2021) . Virus jenis ini bisa ditularkan dari manusia ke manusia, ataupun hewan ke manusia (zoonotic virus) dengan tingkat penyebaran yang sangat tinggi. Dengan tingginya tingkat penyebaran virus ini, maka perlu ada regulasi dan tata laksana medis untuk dapat memutus rantai penyebaran dengan efisien.
Penelitian Terdahulu
Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan tim penelitian menemukan beberapa data terkait upaya sub-nasional di masing-masing Negara ASEAN-5 dalam menangani pandemi COVID- 19. Pertama, ditulis oleh Sri Mastuti dan kawan-kawan membahas mengenai kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di Surabaya sebagai salah satu upaya untuk melakukan pencegahan penyebaran COVID-19. Jurnal ini membahas mengenai kebijakan serta pengimplementasian dan juga hasil yang didapatkan setelah Surabaya menetapkan PSBB.
Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Perda Surabaya adalah mendistribusikan minuman herbal dan telur kepada warga, komunikasi mensterilkan 1.262 sekolah, dan mengalihkan pelayanan publik menjadi daring. Jurnal ini juga membahas tentang meningkatnya kasus positif bahkan di saat PSBB telah dilaksanakan. Oleh karena itu, pemerintah Surabaya memperpanjang masa PSBB dari 12 Mei 2020 – 25 Mei 2020 (Mastuti et al., 2020).
Evan A. Laksamana dan Rage Taufika membahas bagaimana penanganan COVID-19 Indonesia yang cenderung dimiliterisasi karena melibatkan banyaknya anggota militer. Pada Maret 2020, Presiden Joko Widodo mendirikan Gugus Tugas COVID-19 Nasional yang dipimpin oleh Kepala BNPB dan mantan Komandan Pasukan Khusus Angkatan Darat Letnan Jenderal Doni Munardo, kemudian dengan dua Dewan Eksekutif Satgas yang terdiri dari anggota aktif TNI. Selain itu, Presiden Joko Widodo juga mengirim ribuan anggota TNI untuk membangun beberapa rumah sakit darurat dan menyediakan evakuasi medis dan patroli saat karantina (Laksmana & Taufika, 2020).
Penelitian Suyatno Ladiqi membahas mengenai kapasitas penanganan COVID-19 di Malaysia di level nasional dan lokal. Pemerintah mengeluarkan kebijakan Perintah Pergerakan Kawalan (PKP) Malaysia 2020 untuk mencegah masyarakat terjangkit COVID-19 dan berisikan berbagai larangan seperti pembatasan mobilitas dan perjalanan di dalam negeri maupun ke luar negeri. Kemudian, pemerintah mengeluarkan Perintah Kawalan Pergerakan Diperketatkan (PKPD) untuk wilayah-wilayah yang memiliki angka penyebaran tinggi seperti
164 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
Kuala Lumpur, Selangor, dan Johor yang mengharuskan seluruh masyarakat tetap dirumah dan menutup seluruh kegiatan usaha apapun, dan memberikan bantuan sembako selama 14 hari (Ladiqi, 2020). Data mengenai aktifitas aktor sub-nasional di Malaysia masih sangat terbatas, kalaupun ada masih berupa berita-berita. Penanganan COVID-19 di Malaysia sempat diselingi dengan peristiwa politik pengunduran diri Perdana Menteri dan isu politik lain.
Pada kasus Thailand, penelitian yang dilakukan oleh Marome dan Shaw meneliti mengenai respon Thailand dalam menghadapi COVID-19 yang terdapat pada Integrated Plan for Multilateral Cooperation for Safety and Mitigation of COVID-19”yang bertujuan untuk Mengurangi kemungkinan penularan virus ke Thailand, dan mengharuskan setiap orang di Thailand dan masyarakat Thailand di luar negeri aman dari COVID-19, serta mengurangi dampak kesehatan, ekonomi, sosial, dan meningkatkan keamanan nasional. Pemerintah Thailand memberikan informasi terbaru setiap hari tentang infeksi COVID-19 di Thailand melalui televisi dan menggunakan media untuk memberi tahu warga tentang pembatasan baru, tindakan pencegahan keamanan, dan berita resmi lainnya tentang pandemic (Marome & Shaw, 2021). Pada akhir gelombang pertama, Thailand sudah membuka sebagian destinasi wisatanya, tentu saja ini berkat semakin rendahnya kasus harian baru di Negara tersebut.
Penanganan pandemi Vietnam diteliti jurnal yang ditulis oleh Ha dan kawan-kawan membahas mengenai keberhasilan Vietnam dalam pencegahan dan kontrol virus COVID-19.
Pada seminggu pertama setelah kasus positif pertama dikonfirmasi, pemerintah Vietnam membentuk Gugus Tugas COVID-19 dan melarang seluruh penerbangan dari dan menuju China dan daerah lainnya, juga membatasi mobilitas dan keramaian penduduk seperti acara festival. Kemudian, pada jurnal ini juga disebutkan bahwa peran yang cukup besar dipegang oleh Menteri Kesehatan yang memberikan informasi yang transparan mengenai COVID-19 melalui berbagai media seperti website, TV nasional, dan bahkan SMS ke seluruh masyarakat.
Kemudian Vietnam juga melakukan multi-sector approach dalam penanganan COVID-19 seluruh menteri terlibat dalam kebijakan Party and Government National COVID-19 Committee dimana setiap kementrian memiliki perannya masing-masing dalam menangani COVID-19 (Ha et al., 2020).
Sementara itu, pada penelitian Vallejo dan kawan-kawan menemukan beberapa respon Pemerintah Filipina dalam menangani COVID-19. Pada 12 Maret 2020 Filipina mendeklarasikan national emergency dan melaksanakan Enhanced Community Quarantine (ECQ) dan juga menghentikan berbagai penerbangan. Presiden Duterte juga menerapkan rekomendasi WHO untuk Ini memberikan kewenangan khusus kepada departemen eksekutif untuk menyediakan dukungan tambahan bagi rumah sakit umum dan swasta seperti pengadaan peralatan tambahan dan untuk menggunakan sumber daya manusia sementara seperti dokter dan staf tambahan (Vallejo et al., 2020).
Riset-riset terdahulu mengenai peran aktor dalam penanganan pandemi diteliti melalui level nasional atau negara. Fokus penelitian-penelitian tentang penanganan covid-19 di awal berada pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara-negara. Ada kekosongan yang dapat dikaji yakni peran aktor non-negara dalam penanganan covid-19. Selain itu, secara teoritis, penelitian ini juga menggunakan teori yang relative baru dalam kajian hubungan internasional, yaitu paradiplomasi. Penelitian mengenai peran aktor non negara seperti aktor subnasional penting untuk dikaji, selain mengisi kekosongan diskursus juga untuk mengeksplorasi peran aktor non-negara dalam menangani pandemi.
C. METODE
Penelitian ini menggunakan metode perbandingan dengan membandingkan beberapa negara (few country studies) (Landman, 2003). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penanganan yang dilakukan oleh aktor sub-nasional terhadap COVID-19 di Negara-negara ASEAN-5, dengan cara membandingkan kebijakan yang dikeluarkan. Objek dalam penelitian
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 165 ini adalah Negara-negara yang dikenal dengan ASEAN-5 yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, dengan memilih beberapa kota dari setiap Negara tersebut yang mencatatkan kasus covid tertinggi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan tema penelitian seperti data-data statistik covid-19 yang didapatkan dari kanal-kanal resmi pemerintah Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam; kanal-kanal resmi pemerintah daerah; laporan- laporan lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO), John Hopkins University and Medicine, CSIS, OECS Economic Outlook, kanal-kanal berita online, seperti Daily Express, The Sun Daily, dan lain-lain. Data-data yang didapatkan akan dianalisis dengan berdasarkan proses kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Lalu kemudian disajikan dan dianalisis dengan membandingkan data-data dari kelima negara yang menjadi objek penelitian.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kebijakan Penanganan Pandemi Aktor Subnasional Negara Asean-5
Hampir seluruh dunia merasakan dampak pandemi COVID-19. Namun tiap negara memiliki permasalahan sendiri dan dampak yang berbeda-beda. Beberapa negara berhasil menekan angka penyebaran virus sehingga lebih cepat memulihkan kondisi perekonomiannya.
Sedangkan beberapa negara lain memiliki permasalahan yang lebih kompleks, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat menangani permasalahan yang ditimbulkan oleh virus ini. Penelitian ini akan mendeskripsikan kondisi pandemi di lima negara yang tergabung dalam ASEAN-5, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Perlu diketahui bahwa penelitian ini dilakukan sebelum gelombang kedua varian delta, dan gelombang ketiga (omicron) menyerang secara global, dikarenakan batasan waktu penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya pada proposal penelitian. Sehingga data yang tersaji dalam penelitian ini mungkin saja berbeda dengan data terkini.
Tujuan utama dari penelitian ini juga ingin melihat upaya yang dilakukan aktor sub- nasional negara ASEAN-5 dalam penanganan pandemi COVID-19. Kelima negara ASEAN-5 sama-sama terdampak sangat parah oleh pandemi ini, mulai dari lumpuhnya perekonomian, terhentinya aktifitas pariwisata (yang menjadi sektor penting dalam perekonomian kelima negara), jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Pemerintah pusat masing-masing negara mengeluarkan paket-paket kebijakan yang tujuan utamanya adalah menghentikan penyebaran virus agar kondisi bisa kembali pada sedia kala. Berikut adalah beberapa upaya penanganan yang dilakukan oleh aktor sub-nasional negara ASEAN-5. Perlu diingat bahwa saat penelitian ini berlangsung, pandemi COVID-19 masih berlangsung di seluruh dunia, termasuk negara- negara ASEAN-5.
Aktor subnasional yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini dipilih berdasarkan angka penyebaran virus, dimana seluruh objek dalam penelitian ini mengalami penyebaran virus yang tergolong tertinggi di negara masing-masing. Selain itu, alasan pemilihan juga didasarkan pada ketersediaan data dan keterbukaan informasi yang dimiliki. Oleh karena itu, aktor subnasional yang dipilih adalah:
166 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
Tabel 1. Aktor Subnasional yang Menjadi Objek Kajian Indonesia Filipina Malaysia Thailand Vietnam
DKI. Jakarta Manila Sabah Bankok Hanoi
Jawa Timur Pasig Sarawak Ciang Mai Nha Trang City
Jawa Barat Marikina Melaka
Quezon Selangor
Indonesia Jakarta
Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada tahun 2019 mulai melakukan berbagai kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan kewaspadaan terhadap virus COVID-19. Untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan, Gubernur Anies Baswedan membentuk Tim Tanggap COVID-19 DKI Jakarta yang bermarkas di Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Pada kesempatan yang sama, Anies juga berkomitmen terhadap keterbukaan pemerintah dalam setiap langkah pencegahan wabah Corona (Hanggara, 2021).
Beberapa upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Jakarta setelah COVID-19 secara resmi telah terkonfirmasi di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Memberlakukan PSBB tanggal 10 April 2020 selama tiga periode, dengan masing- masing periode berdurasi 14 hari. Sempat diberikan kelonggaran pada bulan Juni, kemudian PSBB kembali diperketat pada bulan September.
2. Gubernur Anies mengumumkan pada 2 September 2020 bahwa Pemerintah Jakarta akan mengharuskan pasien COVID-19 untuk dikarantina di rumah sakit pusat rujukan virus corona daripada meminta individu untuk melakukan karantina sendiri.CSIS,
“Previous Southeast Asia COVID-19 Tracker Updates.”
3. PSBB kembali diperpanjang dari 21 September 2020 hingga 3 Januari 2021.
4. Gubernur Anies kemudian mengeluarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 796 Tahun 2021 yang berisi perpanjangan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro yang akan berjalan selama dua minggu yang berlaku sejak 22 Juni sampai dengan 5 Juli 2021 dengan kebijakan yang mewajibkan work from home sebanyak 75% dan ibadah kembali dilakukan di kediaman masing-masing.
5. Akibat meningkat kembalinya angka COVID-19 di Jakarta, PPKM Darurat akan diberlakukan mulai tanggal 3 Juli hingga 20 Juli 2021 dengan beberapa aturan seperti :
a. 100% Work from Home untuk sektor non-esensial, 50% work from office untuk sektor esensial, 100 % work from office untuk sektor kritikal;
b. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring;
c. Supermarket, pasar, dan toko sembako beroperasi sampai pukul 20.00;
d. Pusat perbelanjaan ditutup;
e. Restoran tidak diperkenankan melayani dine-in;
f. Tempat ibadah dan fasilitas umum seperti taman dan wisata ditutup sementara.
Jawa Timur
Pemerintah Jawa Timur dalam website resminya menawarkan banyak sekali fitur yang mempermudah masyarakat untuk mendapatkan akses penanganan COVID-19, seperti:
1. Isi ulang oksigen gratis untuk masyarakat Jawa Timur
2. Meluncurkan one gate referral system yang menyatukan 99 rumah sakit di Jawa Timur dalam satu sistem yang sama yang memuat data ketersediaan fasilitas
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 167 pelayanan pasien COVID-19 secara real time untuk memperbaiki distribusi pasien COVID-19.
Sementara itu, Kota Surabaya yang merupakan wilayah dengan penduduk terpadat dan paparan COVID-19 terbanyak di Jawa Timur juga mengeluarkan kebijakan melalui aktor sub- nasional. Melalui Surat Keputusan Walikota Surabaya Nomor: 188.45/94/436.1.2/2020, Pemerintah Surabaya melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan membentuk gugus tugas yang terdiri dari 6 sektor yaitu pemerintahan, Kesehatan, Komunikasi Publik, Pengendalian Perbatasan, Pendidikan dan Area Umum serta Perhubungan yang bekerja berdasarkan tugas pokok dan fungsinya serta protokol yang berlaku. Dalam menjalankan tugasnya, gugus tugas tersebut melakukan berbagai kolaborasi seperti (Megawati et al., 2020).
1. Penanganan pasien terpajan COVID-19 secara kromatografi (pemisahan);
2. Pembuatan bilik sterilisasi, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan IT Telkom menyediakan bilik sterilisasi yang akan ditempatkan di tempat-tempat strategis;
3. Penyediaan situs atau halaman khusus. Situs berisi informasi atau petunjuk tentang cara mengantisipasi dan memerangi penyebaran COVID-19;
4. Posko pengaduan dan dapur umum yang terletak di balai kota tempat pos pengaduan digunakan untuk mengkoordinasikan penyemprotan desinfektan dan dapur umum sebagai penyedia bumbu dan telur rebus;
5. Pembuatan ratusan wastafel, sebanyak 539 wastafel telah dibuat di lokasi-lokasi publik yang tersebar dan strategis;
6. Penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum, sterilisasi tempat-tempat umum di tempat-tempat yang kemungkinan banyak dikunjungi orang seperti masjid;
7. Kampanye sosial, baik yang dilakukan secara langsung oleh aparat kepolisian maupun secara tidak langsung melalui website lawanCOVID 19.surabaya.go.id;
8. APD dan masker yang diberikan kepada masyarakat dan RSUA untuk digunakan sebagai alat pelindung diri;
9. Penyediaan dan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat kecil;
10. Penyediaan dan pendistribusian kebutuhan warga ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan).
Jawa Barat
Jawa Barat sendiri merupakan salah satu provinsi yang dinilai memiliki penanganan COVID-19 yang cukup baik karena mampu menekan laju penyebaran COVID-19. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemprov Jawa Barat pada tahun pertama penanganan COVID-19 adalah dengan memantau mobilitas para penduduk Jawa Barat terutama di zona merah seperti Depok. Selain itu, Pemprov Jawa Barat juga senantiasa melakukan sinergi dengan Pemerintah Pusat untuk mencari solusi penanganan COVID-19. Selain itu, Pemprov Jawa Barat mengatakan bahwa adanya perubahan fokus yang dilakukan di berbagai puskesmas di Jawa Barat, yang awalnya berfokus pada beberapa hal seperti stunting, menjadi lebih berfokus juga menangani COVID-19. Pemerintah Kota Bandung juga memanfaatkan kerja sama sister city yang terjalin dengan beberapa kota seperti Suwon, Korea Selatan; Melbourne, Australia, dan Liuzhou, China. Dari Kota Suwon, Kota Bandung mendapatkan 20.000 masker, Melaksankan virtual courtesy dengan Kota Melbourne, dan memerima bantuan 10.000 masker dari Liuzhou (Kerjasama.bandung.go.id, 2021).
Selain itu, adapun beberapa upaya yang dilakukan di Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut:
168 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
1. Menjadikan Hotel Grand Asrilia di Bandung sebagai Pusat Pemulihan Pasien COVID- 19 di Jawa Barat karena melonjaknya angka penyebaran dan juga rumah sakit yang semakin penuh akan pasien;
2. Melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang telah diperpanjang sebanyak 10 kali dan bersinergi dengan pemerintah pusat dalam menerapkan PPKM;
3. Menyediakan website resmi untuk memberikan informasi bagi para masyarakat mengenai penanganan, ciri-ciri, hingga data pasien COVID-19 dan persebarannya di Jawa Barat yang dapat diakses melalui https://pikobar.jabarprov.go.id/.
Malaysia Sabah
Virus COVID-19 mencapai Malaysia pada awal bulan Maret 2020. Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, mengumumkan adanya nationwide lockdown per tanggal 1 Juni hingga 15 Juni 2020 melihat adanya lonjakan kasus positif virus COVID-19 (CSIS, 2021).
Wabah pandemi COVID-19 dikonfirmasi mencapai Sabah, Malaysia, pada bulan Maret 2020.
Pasien pertama yang juga menjadi kasus pertama bagi Sabah berasal dari Distrik Tawau lalu dilanjutkan dengan kasus kedua yang berasal dari Distrik Papar Benoni. Seiring dengan bertambahnya kasus yang semakin cepat, Sabah menjadi negara bagian ke-3 yang paling terkena dampak dari COVID-19 di Malaysia setelah Selangor dan Kuala Lumpur pada Maret 2020 (dailyexpress.com, 2021).
Penyebaran virus COVID-19 ini sangat memberikan pengaruh terhadap segala sektor pemerintahan pada negara bagian dalam sektor ketahanan pangan hingga terjadinya panic buying dalam masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah Sabah menyiapkan pedoman dalam penanganan dan pencegahan penularan virus. Beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Sabah guna menanggulangi peredaran virus COVID-19 ini antara lain:
1. Pemerintah Sabah menyiapkan total 10.000 hektar tanah di Sapi Canal Kabupaten Sandakan dan 200 hektar lagi di Long Pasia Kabupaten Sipitang dan satu lagi di Membakut Kabupaten Beaufort yang diubah menjadi daerah budidaya padi untuk memotong ketergantungan pasokan beras dari Thailand (Olivia Miwil, 2021);
2. Pemerintah negara bagian Sabah melakukan ekspor kelebihan buah dan sayur ke negara Brunei Darussalam dan juga mendistribusikannya ke pasar-pasar lain di Malaysia agar tidak terjadi penumpukkan sampah akibat kelebihan produksi (Muguntan Vanar, 2021).
3. Melakukan pembelian 15 juta masker wajah dan pembersih tangan untuk masyarakat Sabah yang juga dibagikan ke 200 sekolah yang melakukan pembukaan pada 24 juni (The Sun Daily, 2021);
4. Pemerintah Sabah menyiapkan tempat karantina dan juga perawatan terhadap pasien COVID-19. Terdapat sembilan gedung dalam Program Perumahan Rakyat (PPR) Batu Putih di Distrik Sandakan, tiga di antaranya blok H, I dan G akan berfungsi sebagai pusat isolasi. Pemerintah Sabah juga menyiapkan total RM 2 Juta dari RM 200 Juta dana pembangunan infrastruktur Sabah untuk pengelolaan fasilitas medis darurat dengan membangun kembali Kompleks Olahraga Likas sebagai cabang Rumah Sakit Queen Elizabeth yang mulai dioperasikan sejak 27 April 2020 (Olivia Miwil, 2021);
5. Sejak 7 Februari 2020, Pemerintah negara bagian Sabah mengeluarkan larangan untuk melakukan perjalanan dan imigrasi dimana semua penerbangan langsung antara negara bagian dengan daratan China telah dihentikan tanpa batas waktu. Lalu adapun larangan bagi warga non-Sabahan dilarang memasuki negara bagian sesuai dengan peraturan MCO (movement control order) yang dikeluarkan oleh pemerintah negara federal Malaysia (Mei Ching et al., 2021);
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 169 6. Pada 27 April 2021, Sabah melarang warga negara dari India, Prancis, Amerika Serikat,
Afrika, dan Brasil memasuki negara itu karena varian COVID-19 yang dikatakan berasal dari India. Mulai 28 April, hanya Sabah, pasangan dan anak-anak mereka yang diizinkan memasuki Sabah setelah karantina 14 hari (Lee, 2021).
Sarawak
Sarawak mengkonfirmasi kasus pertamanya pada bulan Maret 2020 dimana pasien tersebut terinfeksi di Distrik Kuching. Sarawak bersama dengan negara bagian lainnya mengikuti peraturan MCO (Movement Control Order) yang diterapkan oleh Pemerintah Negara Federal Malaysia. Semakin meningkatnya penyebaran virus COVID-19 membuat Ketua Menteri Sarawak, Datuk Patinggi Abang Johari Tun Openg, mengumumkan untuk meningkatkan penerapan MCO perpanjangan libur sekolah dan kegiatan perkantoran hingga akhir bulan Maret hingga pengetatan untuk masyarakat yang melakukan perjalanan atau yang datang ke Sarawak. Setiap orang disarankan untuk mempraktikkan standar kebersihan pribadi tertinggi dan mempraktikkan jarak sosial secara ketat (Adib Povera, 2021).
Pemerintah Sarawak menutup perjalanan lintas negara mulai maret 2020. Pembatasan ini dilakukan karena semakin tinggi peningkatan kasus yang terkonfirmasi. Dalam menangani penurunan ekonomi yang terdampak pandemi, Pemerintah Sarawak memperkenalkan inisiatif untuk memberikan bantuan tambahan. Dalam memerangi misinformasi selama pandemi, Pemerintah Sarawak menciptakan i-Alerts untuk terus memperbaharui situasi COVID-19 di Sarawak kepada warga Sarawak. i-Alerts menyatukan semua lembaga dan unit terkait bencana untuk memastikan pembaruan situasi yang selalu akurat dan terkini untuk memastikan warga Sarawak selalu mendapat informasi dan mengetahui berita dan video (Natasha Jee, 2021).
Melaka dan Selangor
Melaka melakukan berbagai upaya untuk menangani COVID-19, antara lain:
1. Menurunkan 3.617 orang, termasuk sukarelawan serta 10.000 tentara untuk menertibkan masyarakat mengenai protokol kesehatan di tempat umum;
2. Membuat empat rumah sakit swasta menjadi rumah sakit yang dapat melayani pasien COVID-19 agar tidak terjadi penumpukan pasien.
Sementara di wilayah Selangor, mengalami peningkatan yang tinggi selama masa pandemi tahun 2021 ini. Tercatat saat ini Selangor memiliki kasus positif sebanyak 6.049 per Juli 2021 sehingga hingga saat ini Selangor memiliki jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 343.946 pasien. Hal ini mendorong adanya peningkatan MCO oleh otoritas di sebagian besar wilayah Selangor dari 3 Juli hingga 16 Juli (Hussin, 2021).
Pemerintah Selangor diketahui kurang tegas dalam penertiban kerumunan pekerja pabrik dimana Pemerintah Selangor memiliki wewenang untuk menutup pabrik sementara demi mencegah penyebaran virus. Dalam proses vaksinasi pun dianggap pemerintah negara bagian gagal menindaklanjuti vaksinasi secara komprehensif. Hal ini mengakibatkan vaksinasi di Selangor menjadi terhambat dibanding dengan negara lain (The Sun Daily, 2021).
Filipina Manila
Pada 8 Maret, Presiden Duterte mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat di seluruh negeri setelah penularan lokal pertama dari penyakit virus corona baru dikonfirmasi oleh pejabat kesehatan. Di bawah Proklamasi No. 922, semua lembaga pemerintah dan LGU (local government units) diperintahkan untuk “memberikan bantuan dan kerja sama penuh dan memobilisasi langkah-langkah yang diperlukan pada waktu yang tepat untuk mengurangi dan menghilangkan ancaman COVID-19.”
170 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
Metro Manila, ibukota dari Filipina melakukan lockdown ketat mengikuti perintah yang dikeluarkan oleh Presiden Duterte, selain itu, Durtete juga memberikan kebebasan untuk para LGU untuk memberlakukan peraturan di wilayahnya masing-masing. Manila merupakan salah satu kota paling terdampak COVID-19 dan juga merupakan kasus pertama yang terkonfirmasi di Filipina (Kathleen de Villa, 2021).
1. Pemerintah kota Manila meluncurkan “Code-COVID-19,” yang bertujuan untuk
“menahan dan menunda” virus corona melalui berbagai tindakan, termasuk penerbitan buletin medis setiap tiga jam dan akuisisi 135 mesin kabut. Pada tanggal 10 dan 11 Maret 2020, operasi kabut dilakukan oleh Manila Disaster Risk and Reduction Office (MDRRO) di sepanjang jalur universitas serta di sekolah umum, pasar umum, kantor pemerintah, pusat kesehatan, pengadilan dan fasilitas lainnya;
2. Walikota Manila Francisco “Isko Moreno” Domagoso juga membuat rencana yang cukup luas dan matang untuk melawan dampak COVID-19 di ibu kota Filipina. Diantaranya adalah ketersediaan stok makanan kaleng, air minum kemasan dan beras yang cukup, serta penyisihan anggaran yang dapat digunakan untuk memberi makan sekitar 350.000 keluarga selama tiga hari, menyediakan vitamin untuk lansia, menyebarluaskan informasi yang akurat dan bermanfaat tentang COVID-19, dan untuk membeli obat-obatan, peralatan medis, desinfektan dan barang-barang serupa lainnya.
Pasig; Marikina; Quezon
Di Pasig, tindakan pencegahan COVID-19 diterapkan dengan cara seperti pelacakan kontrak, desinfeksi tempat-tempat umum, termasuk semua 45 sekolah umum, dan pembatalan acara-acara publik. Setelah konfirmasi lima penduduk positif COVID-19, Walikota Marikina Marcy Teodoro mengumumkan bahwa Marikina akan membeli 3.000 alat uji yang dikembangkan oleh para ilmuwan Universitas Filipina. Kit pengujian telah disetujui oleh Food and Drug Administration. Sementara itu, Rumah Sakit Umum Kota Quezon telah mendirikan fasilitas kesehatan darurat, termasuk tenda tempat pemeriksaan orang dalam pemeriksaan (PUI) dan ruang isolasi di mana PUI akan dikurung. Sebuah mesin pemadam kebakaran tak berawak juga digunakan untuk mendesinfeksi sekolah dan ruang publik.
Thailand Bangkok
Thailand merupakan negara pertama yang melaporkan adanya kasus positif COVID-19 diluar China yang tercatat pada Januari 2020. Dalam penanganan awal, Thailand berhasil mengatasi penyebaran virus hingga pada bulan April penyebaran semakin tak terkendali.
Wabah semakin menyebar ke berbagai provinsi di Thailand. Gelombang infeksi baru terindikasi berasal dari tempat hiburan malam di area Thong Lo, Bangkok, yang menyebabkan penyebaran yang cepat di Bangkok hingga seluruh negeri (CSIS, 2021).
Bangkok yang merupakan pusat negara Thailand sendiri menjadi tempat yang memiliki tingkat penyebaran virus COVID-19 yang cepat. Untuk menekan laju pertumbuhan kasus, Bangkok Metropolitan Administration (BMA) mengumumkan adanya langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencegahan. Salah satu hal pertama yang dilakukan oleh pemerintah Bangkok yaitu melakukan pemeriksaan kepada pekerja migran yang dicurigai terinfeksi. Setiap orang juga diharuskan untuk memakai masker di tempat umum serta melacak pergerakannya menggunakan aplikasi Thai Chana sehingga memudahkan petugas kesehatan untuk mendeteksi dan menyelidiki kasus jika terdeteksi infeksi di daerah tersebut (elevenmyanmar.com, 2021).
Gubernur Bangkok, Asawin Kwanmuang, pada bulan Desember tahun 2020 mensosialisasikan adanya 10 Langkah yang harus dipatuhi untuk menekan pertumbuhan kasus positif di Bangkok (elevenmyanmar.com, 2021).
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 171 1. Semua sekolah dan prasekolah di daerah yang dekat dengan Samut Sakhon seperti
Distrik Bang Khun Tien, Bang Bon dan Nong Khaem akan ditutup selama 14 hari (21 Desember hingga 4 Januari) dengan kelas diadakan secara online;
2. Pejabat pemerintah atau personel BMA yang pulang pergi dari Samut Sakhon perlu mengisolasi diri dan bekerja dari rumah;
3. Tidak ada pertemuan yang diperbolehkan untuk perayaan Tahun Baru. Jika acara perlu diadakan, penyelenggara harus menyerahkan rencana pengendalian penyakit untuk mendapatkan izin dari departemen kesehatan BMA;
4. Pos pemeriksaan penyaringan telah didirikan di jalan Petchkasem, Rama II, Borommaratchachonnani dan Liap Khlong Phitthayalongkon untuk memantau pekerja migran yang memasuki Bangkok;
5. Taman dapat digunakan untuk berolahraga, tetapi tidak untuk berkumpul;
6. Semua pekerja migran di lokasi konstruksi akan diperiksa untuk COVID-19;
7. Semua 472 pasar segar di Bangkok akan diperiksa untuk kasus COVID-19 aktif, dengan fokus khusus pada personel pengiriman dan perantara yang menangani makanan laut dari Provinsi Samut Sakhon;
8. Tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat keagamaan di Bangkok telah diminta untuk menahan diri dari kegiatan sampai situasi teratasi;
9. Sekolah akan membantu mencari orang tua pekerja migran untuk menjalani tes virus;
10. Tempat hiburan, restoran, hotel, pusat perbelanjaan serta pub dan bar karaoke perlu secara ketat menyaring klien, memastikan masker dipakai, meja dipisah, pelanggan menahan diri untuk tidak menari dan area dibersihkan secara teratur sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan Masyarakat.
Chiang Mai
Chiang Mai merupakan salah satu Provinsi di Utara Thailand dengan tingkat resiko penyebaran tinggi karena memiliki banyak pengunjung dari Tiongkok. Selama wabah COVID- 19, Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Kementerian Kesehatan Masyarakat melaporkan jumlah kumulatif kasus menular untuk Thailand pada 3310 dengan 41 kasus dari provinsi Chiang Mai. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Chiang Mai mengembangkan sejumlah teknologi aplikasi untuk mendukung kegiatan pencegahan dan pengendalian di Chiang Mai dan Thailand termasuk Skrining Mandiri untuk COVID-19, Pemeriksaan Kesehatan Mandiri untuk COVID-19 dan sistem informasi rumah sakit Chiang Mai COVID-19 (CMC-19). Chiang Mai adalah satu-satunya provinsi yang mengelola data pasien dalam satu platform menggunakan aplikasi CMC-19. Tujuan keseluruhan dari teknologi aplikasi ini adalah untuk membantu tidak hanya provinsi Chiang Mai, negara Thailand, tetapi juga secara global untuk menahan, membasmi, dan menjadi bebas dari virus secepat mungkin (Intawong et al., 2020).
Saat ini Chiang Mai mengalami peningkatan kasus tinggi sebesar lebih kurang 200 kasus setiap harinya. Meskipun situasi Chiang Mai menjadi perhatian terus-menerus bersama dengan provinsi lain di Thailand yang juga dianggap "berisiko tinggi", Departemen Pengendalian Penyakit (DDC) menegaskan tidak ada penguncian nasional yang akan diberlakukan karena provinsi lain tidak terpengaruh. Diketahui bahwa saat ini rumah sakit di Chiang Mai mengalami pembludakan pasien sehingga dirasa tidak dapat mencukupi kebutuhan penanganan pasien.
Gubernur Chiang Mai, Charoenrit Sa-nguansat, mengatakan sektor swasta telah menyumbangkan 500 tempat tidur kardus dan dia mendesak masyarakat untuk menyumbangkan kasur melalui Pusat Pameran dan Konvensi Internasional Chiang Mai (Panumet Tanraksa, n.d.).
172 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
Vietnam
Vietnam berhasil mengatasi pandemi di negaranya dengan adanya pembatasan perjalanan dari China lebih awal dan menggerakan pengontrol epidemi untuk melakukan uji dan pelacakan besar-besaran di negara tersebut. Masyarakat Vietnam kebanyakan telah melakukan aktifitas sehari-harinya secara normal sampai adanya gelombang COVID-19 kedua pada akhir Juli 2021. Namun, Pemerintah Hanoi melalukan pengendalian virus secara cepat dan segara melakukan lockdown karena kenaikan kasus yang pesat pada Januari 2021. National Institute of Hygiene and Epidemiology (NIHE) Vietnam, menandatangani perjanjian dengan Medigen Vaccine untuk pengamanan vaksin hingga 10 Juta dosis vaksin COVID-19 pada tahun 2021.
Vietnam juga memproduksi vaksinnya sendiri dengan Institute of Vaccines and Medical Biologicals (IVAC) di Nha Trang City, dengan harapan vaksin nasional dapat didistribusikan ke masyarakat umum pada Oktober 2021. Saat ini, Vietnam memiliki total kasus positif sebanyak 2,526 kasus dimana 2,004 diantaranya terkonfirmasi sembuh. Total kematian di Vietnam akibat COVID-19 hanya mencapai total 35 Jiwa. Selama pandemi ini, Ekonomi Vietnam ternyata sangat tangguh; Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia Tenggara yang masih diproyeksikan memiliki pertumbuhan ekonomi positif pada tahun 2020. Namun pertumbuhan itu akan dibatasi hingga 1,6 persen. Ini akan menjadi pertama kalinya pertumbuhan PDB Vietnam turun di bawah 5 persen dalam setidaknya 20 tahun (CSIS, 2021).
Analisis Kebijakan Aktor Subnasional dalam Penangan Covid-19
Pandemi COVID-19 menyebar dengan begitu cepat dan massive, dan tuntutan akan repson cepat dan tepat pemerintah diperlukan agar bisa menekan angka penyebaran. Penyelenggara pemerintah di tingkat daerah adalah pelaksana dari segala bentuk kebijakan yg dikeluarkan, oleh karena itu perlu adanya kordinasi antar level pemerintah. Negara ASEAN-5 saat ini sedang mengalami gelombang kedua serangan pandemi, bahkan Indonesia menjadi sorotan dan memecahkan rekor kasus harian dunia mengalahkan India. Malaysia, Filipina dan Thailand juga mencatatkan kasus harian yg tinggi. Penelitian awal menunjukkan bahwa respon cepat dari pemerintah mampu menekan penyebaran virus, dan aktor sub-nasional adalah pelaksana kebijakan yang bisa memberikan respon yg paling sesuai dengan kebutuhan daerahnya.
Berdasarkan deskripsi tentang penanganan COVID-19 yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya, kita bisa melihat kesamaan yang dimiliki kelima negara, yakni sentralisasi kebijakan oleh pemerintah pusat. Segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat tersentralisasi dan digeneralisasi, oleh pemerintah pusat. Pada kasus Indonesia misalnya, seluruh kebijakan penanganan pandemi di kontrol oleh Presiden dan menteri-menterinya.
Adapun pembentukan gugus tugas di daerah yang dibentuk kemudian, namun segala peraturan masih merujuk pada aturan yang dikeluarkan pemerintah pusat. Kebijakan pemerintah daerah harus seiring sejalan dengan aturan gugus tugas pusat.
Hal yang sama juga terjadi pada empat negara ASEAN-5 lainnya. Perdana Menteri Malaysia, Singapura dan Thailand memegang kendali penuh pada setiap kebijakan terkait COVID-19. Sementara di Filipina, Presiden Duterte melakukan hal yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo di Indonesia. Sementara Vietnam, yang berhasil menekan angka penyebaran juga memiliki arah kebijakan yang sentralistik, bahkan melibatkan militer. Kebijakan yang bersifat sentralistik mungkin bisa berhasil pada negara dengan populasi kecil, wilayah yang tidak terlalu luas dan masyarakat yang homogen seperti Singapura. Hal ini dimungkinkan terjadi karena control penuh pemerintah pusat dapat menjangkau keseluruh pelosok (didukung wilayah yang kecil). Vietnam yang memiliki populasi sedikit juga berhasil dengan pola kebijakan sentralistik ini.
Namun, apabila kita melihat pada kasus Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand yang memiliki populasi besar, wilayah luas dan masyarakat yang cenderung heterogen, hal ini menjadi kurang efektif. Berdasarkan deskripsi yang sudah dilakukan di atas, peneliti
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 173 berpendapat bahwa aktor subnasional lebih memahami kondisi wilayahnya dibandingkan pemerintah pusat. Peraturan yang berlaku secara nasional memang diperlukan agar kordinasi pada level daerah sinergis dengan pemerintah pusat. Namun, peranan aktor pada level sub- nasional bisa lebih diperkuat agar penanganan yang dilakukan oleh pemerintah pusat bisa dilakukan secara maksimal.
E. SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat kebijakan aktor subnasional dalam menangani pandemi covid-19 di negara ASEAN-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan aktor subnasional berbeda-beda di daerahnya masing-masing, meski seluruh kebijakan terkait pandemi bersifat sentralistik. Peran dari aktor sub-nasional perlu dan bisa lebih dimaksimalkan lagi terkait penanganan pandemi agar ketika kasus-kasus baru muncul, penanganan dapat dilaksanakan dengan cepat. Perbedaan daerah yang beragam mulai dari geografis, kondisi penduduk dan kekhasan lainnya hanya dapat dipahami oleh aktor sub-nasional daerah tersebut.
Negara-negara ASEAN-5 perlu memaksimalkan peran aktor sub-nasional agar tujuan tersebut dapat tercapai. Kerja sama luar negeri pada level sub-nasional sayangnya belum banyak terjadi terkait pandemic ini. Padahal sudah ada beberapa kerja sama pada level sub-nasional seperti Sister City namun belum maksimal. Padahal bisa kita lihat bahwa kerja sama sister city dapat membantu pemerintah di level sub-nasional yang memiliki kasus tinggi dan penanganan tidak maksimal, belajar dari kota-kota yang berhasil menangani pandemic COVID-19. Hal ini sesuai dengan tujuan dari aktivitas yang dilakukan oleh aktor sub nasional yang semestinya dapat membantu memperkuat kekuatan pemerintah nasional, dengan memberikan dukungan dari level subnasional.
Saran bagi penelitian selanjutnya adalah agar dapat melakukan penelitian yang lebih luas dengan aktor yang lebih banyak, sehingga temuan-temuan penelitian ini dapat diuji kebenarannya. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas kebijakan yang dikeluarkan aktor subnasional selama penanganan pandemic dengan pendekatan kuantitatif agar lebih terukur.
REFERENSI
Adeel, A. B., Catalano, M., Catalano, O., Gibson, G., Muftuoglu, E., Riggs, T., Sezgin, M. H., Shvetsova, O., Tahir, N., Vandusky-Allen, J., Zhao, T., & Zhirnov, A. (2020). COVID- 19 policy response and the rise of the sub-national governments. Canadian Public Policy, 46(4), 565–584. https://doi.org/10.3138/CPP.2020-101
Adib Povera. (2021). Covid-19: Sarawak schools to shut, or have holidays extended. New Strait Times.
Covid-19 Malaysia 2021. (2021). Covid019 Malaysia. Moh.Gov.My.
Covid-19, S. T. P. (2021). Peta Sebaran. Covid19.Go.Id.
CSIS. (2021). Previous Southeast Asia Covid-19 Tracker Updates. CSIS.
dailyexpress.com. (2021). 25 new cases in Sabah make it 82. Dailyexpress.Com.
Daniel R. Lucey, MD, MPH, F. (2021). Will the next “WHO-convened Global Study of the origins of SARS-CoV-2” be in SE Asia, Europe, or the Americas?
https://www.idsociety.org/science-speaks-blog/2021/will-the-next-who-convened- global-study-of-the-origins-of-sars-cov-2-be-in-se-asia-europe-or-the-
americas/#/+/0/publishedDate_na_dt/desc/
Doh.gov.ph. (n.d.). Covid-19 Tracker. 2021.
DR RAIS HUSSIN, D. M. P. and A. K. (2021). Emergency Covid Response for KL and Selangor. The Star.
174 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175
elevenmyanmar.com. (2021). Bangkok announces 10 measures to control Covid-19 transmission. Elevenmyanmar.Com.
Garesché, E. D. Z. (2007). Guidelines for the international relations of local governments and decentralised cooperation between the European Union and Latin America. Practical Manual for the Internationalisation of Cities, 1.
Ha, B. T. T., Quang, L. N., Mirzoev, T., Tai, N. T., Thai, P. Q., & Dinh, P. C. (2020).
Combating the COVID-19 epidemic: Experiences from Vietnam. International Journal of
Environmental Research and Public Health, 17(9).
https://doi.org/10.3390/ijerph17093125
Hanggara, A. G. (2021). Jakarta Response to COVID-19 Outbreak: A Timeline. PPID DKI Jakarta.
Hans J. Michelmaan, P. S. (1990). Federalism and International Relations: The Role of Subnational Units. In Clarendon Press. Clarendon Press. https://doi.org/10.2307/3330727 Intawong, K., Olson, D., & Chariyalertsak, S. (2020). Since January 2020 Elsevier has created a COVID-19 resource centre with free information in English and Mandarin on the novel coronavirus COVID- 19 . The COVID-19 resource centre is hosted on Elsevier Connect , the company ’ s public news and information . January.
John Hopkins University and Medicine. (2021). Coronavirus Report.
https://coronavirus.jhu.edu/region/indonesia
Kathleen de Villa. (2021). LGUs step up efforts to contain, combat COVID-19.
Business.Inquirer.Net.
Kerjasama.bandung.go.id. (2021). Serah Terima Bantuan 20.000 masker dari Mitra Sister City Suwon, Korea Selatan di Ruang Kenegaraan Wali Kota Bandung.
Kuznetsov, A. (2014). Theory and Practice of Paradiplomacy. In Theory and Practice of Paradiplomacy. https://doi.org/10.4324/9781315817088
Ladiqi, S. (2020). State Capacity and Public Trust in Handling the COVID-19 Outbreak in Malaysia Kapasitas Negara dan Kepercayaan Publik dalam Penanganan Wabah Covid-19 di Amerika Tengah serta Eropa Timur dan Asia Timur menandai. Global and Strategis, 14(2), 257–274.
Laksmana, E. A., & Taufika, R. (2020). How “militarized” is Indonesia’s COVID-19 management? Preliminary assessment and findings. CSIS Commentaries, April, 1–7.
Landman, T. (2003). Issues and methods in comparative politics: An introduction. In Issues and Methods in Comparative Politics: An Introduction.
https://doi.org/10.4324/9780203428252
Lee, S. (2021). Covid-19: Sabah bans visitors from five nations. The Star.
Marome, W., & Shaw, R. (2021). COVID-19 response in Thailand and its implications on future preparedness. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(3), 1–11. https://doi.org/10.3390/ijerph18031089
Mastuti, S., Aji, T. N., Liana, C., & Nasution. (2020). Covid-19 Disaster Mitigation Policy in Surabaya in Pressing Positive Increasing Numbers. 473(Icss), 365–370.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.201014.078
Megawati, S., Niswah, F., & Oktariyanda, T. A. (2020). Collaborative Governance as Handling Efforts of Pandemic Covid-19 in Surabaya City. 473(April), 312–316.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.201014.067
Mei Ching, L., Syed Sharizman Bin Syed Abdul, R., Mohammad Saffree, J., Nelbon Bin, G.,
& Naing Oo, T. (2021). Changing New Normal Lifestyle in COVID-19 Pandemic: Sabah, Malaysia. Annals of Public Health Reports, 5(1), 146–151.
https://doi.org/10.36959/856/511
Muguntan Vanar. (2021). Minister: Fresh greens from Kundasang on their way to main markets throughout Malaysia, Brunei. The Star.
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175 | 175 Natasha Jee. (2021). State govt sets up i-Alert app. New Sarawak Tribune.
OECD. (2021). OECD Economic Outlook. https://doi.org/https://doi.org/10.1787/edfbca02-en Olivia Miwil. (2021). Sabah to turn Likas Sports Complex into makeshift Covid-19 medical
facility. New Strait Times.
Panumet Tanraksa, C. S. (n.d.). Chiang Mai on high alert.
Sergunin, A., & Joenniemi, P. (2014). Paradiplomacy as a Sustainable Development Strategy:
The Case of Russia’s Arctic Subnational Actors. Eurasia Border Review, 5(2), 1–17.
http://src-
h.slav.hokudai.ac.jp/publictn/eurasia_border_review/ebr_v5n2/EBR_v5n2_01.pdf%5Cn http://133.50.171.227/publictn/eurasia_border_review/ebr_v5n2/EBR_v5n2_01.pdf%5C nhttp://hdl.handle.net/2115/57854
The Sun Daily. (2021). Sabah buys nearly 15 million face masks for people. Thesundaily.
Vallejo, B. M., Angelo, R., & Ong, C. (2020). Policy responses and government science advice for the COVID 19 pandemic in the Philippines : January to April 2020. January.
WHO. (2021a). COVID-19 Weekly Epidemiological Update 27 July 2021. World Health Organization, December, 1–3. https://www.who.int/docs/default- source/coronaviruse/situation-reports/weekly_epidemiological_update_22.pdf
WHO. (2021b). COVID-19 Weekly Epidemiological Update 27 July 2021. World Health Organization, December, 1–3.
176 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 159-175