• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel 7 205 219 jurnal indonesia unila

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "Artikel 7 205 219 jurnal indonesia unila"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

* Corresponding Author

Email : [email protected]

© 2022 Author(s), Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan (13) 2 2022

Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan Volume 13 (2) 2022: 205-219

P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977 DOI: 10.23960/administratio.v13i2.332 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)

ARTICLE

Analisis Personalisasi Partai Politik di Era Reformasi

Definitif Endrina Kartini Mendrofa1, Efriza2

1,2 Program Studi Ilmu Politik, Universitas Kristen Indonesia

1,2 Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Sutomo

How to cite: Mendrofa, D.E., Efriza (2022) Analisis Personalisasi Partai Politik di Era Reformasi.

Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(2)

Article History

Received: 4 Oktober 2022 Accepted: 30 November 2022

Keywords:

Political parties, Personalization,

Reformation

Kata Kunci:

Partai Politik, Personalisasi, Reformasi

ABSTRACT

Political parties must become should be accountable democratic institutions, but many parties are mired in personalized management. Party personalization in the reform era has had a negative impact on political party institutions. It is hoped that the methods and objectives of this research will contribute to understanding the negative effect of party personalization institutionally. The research is used qualitatively. Data collection is carried out using interviews and literature studies.

From the results of this research, the reality is found, political parties in Indonesia tend to be in a personalization situation, in the form of a very central figure who becomes a determinant for the party. Therefore, the existence of this figure will lead to a very strong dependence of the party on the central figure.

ABSTRAK

Partai politik semestinya menjadi lembaga demokrasi yang akuntabel, namun banyak partai yang terperosok pada pengelolaan bersifat personalisasi. Personalisasi partai di era reformasi telah memberi dampak buruk bagi kelembagaan partai politik.

Metode dan tujuan penelitian ini, diharapkan memberikan kontribusi pemahaman terhadap dampak buruk dari personalisasi partai secara kelembagaan, penelitian yang digunakan dengan cara kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan studi pustaka. Dari hasil penelitian ini, realitasnya ditemukan, partai-partai politik di Indonesia cenderung dalam situasi personalisasi, dalam bentuknya tokoh amat sentral menjadi penentu bagi partai. Oleh sebab itu, keberadaan figur ini akan menimbulkan ketergantungan yang sangat kuat dari partai terhadap sosok sentral tersebut.

A. PENDAHULUAN

Fitur penting dari politik modern adalah Partai Politik (Parpol). Parpol juga bagian tak terpisahkan dari sistem politik, baik yang demokratis ataupun otokratis. Parpol berperan penting menyelenggarakan partisipasi politik, oleh sebab itu jenis sistem kepartaian akan berdampak signifikan terhadap sejauhmana partisipasi tersebut diperluas (Anggara, 2013).

Sejak Reformasi, sistem kepartaian yang diterapkan adalah sistem multipartai. Parpol telah memainkan peranan penting di berbagai lini kehidupan politik dalam upaya memperoleh

(2)

206 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

jabatan pemerintahan pada level nasional dan daerah melalui pemilihan umum (pemilu).

Pemilu diterapkan untuk memilih eksekutif dan legislatif di level nasional dan daerah. Parpol tak sekadar kendaraan politik, tetapi turut memainkan peran penting dalam penyelenggaraan fungsinya seperti artikulasi dan agregasi kepentingan, komunikasi politik, pendidikan politik dan pengendali konflik. Meski begitu, era reformasi ini, parpol masih belum menunjukkan pengelolaannya dilakukan profesional dan terlembaga. (Budiatri, 2018, p. xiii)

Parpol pada era reformasi juga terjebak dalam bentuk oligarkis dalam proses pengambilan keputusan strategis. Kecenderungan selama ini menunjukkan pengambilan keputusan partai bersifat tertutup dan hanya ditentukan oleh sekelompok kecil elit partai.

Keputusan tertinggi biasanya berada pada seseorang atau sekelompok kecil elit partai saja.

Persoalan mekanisme internal dalam pembuatan keputusan dicirikan dengan sentralisasi dalam pengambilan keputusan. Peran pengurus pusat masih dominan, dan terkadang berbeda dengan aspirasi daerah (Romli, 2011).

Dalam proses berdemokrasi di Indonesia, khususnya untuk sistem pemilu, oligarki parpol dapat dilihat dari dua hal: Pertama, manajemen internal parpol. Selama ini hampir semua parpol peserta pemilu menggunakan manajerial top-down. Kemauan elit (pimpinan parpol) telah menjadi sebuah kemutlakan untuk dilaksanakan oleh segenap jajaran pengurus parpol.

Dominasi pimpinan parpol (one man show) dalam mengatur setiap ritme kebijakan parpol mengkondisikan macetnya roda koordinasi organisasi. Kedua, pola rekrutmen. Besarnya otoritas elit parpol menjadi aspek utama tidak sehatnya pola rekrutmen, karena masing-masing pihak tak lagi menonjolkan kualitas dan kapabilitas politik. Sebaliknya hanya melakukan pendekatan personal dan emosional. Tak jarang bahkan dengan pendekatan finansial (Musa, 2017).

Permasalahan personalisasi parpol, tak hanya tercatat dalam pembentukan dan kepengurusan partai semata. Namun telah menjadi fenomena yang dianggap lumrah.

Keputusan kelembagaan dari partai yang amat krusial acapkali ditentukan oleh peran sentral seorang tokoh semata, dibandingkan pengambilan keputusan secara bersama-sama. Misalnya, dalam pembentukan berkoalisi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 silam. Peran ketua umum parpol amat dominan dalam memutuskan segala sesuatu tentang sebuah partai, termasuk dalam membangun koalisi maupun penentuan pasangan calon presiden dan wakil presiden tersebut.

Sehingga, struktur kepartaian dibangunkembangkan bukan berdasarkan visi bersama tentang masa depan yang lebih baik bagi Indonesia. Melainkan terjebak kepada kepentingan segelintir kelompok saja yang mengikuti maunya tokoh sentral tersebut. Dasar membangun kepartaian berdasarkan bagian dari pemikiran bersama dengan disertai kesepakatan bersama, cenderung terabaikan. Ideologi partai akhirnya mengikuti keputusan dan kepentingan ketua umum partai semata. Para elite partai lebih banyak memperebutkan kekuasaan daripada membangun kepemimpinan transformatif yang berjuang mengubah nasib rakyat. Paradigma kekuasaan dan kekayaan, lebih sering dikedepankan sebagai basis legitimasi politik daripada paradigma akuntabilitas. Akhirnya, parpol terjebak kepada persoalan “merebut dan mempertahankan kekuasaan” semata setiap waktunya. (Mariana, 2009, p. 5)

Pengertian kekuasaan terbagi menjadi dua jenis, yaitu kekuasaan implisit, yaitu pengaruh yang tidak kasat mata tetapi terasa; selanjutnya adalah kekuasaan eksplisit terkait dengan bahwa terlihat dan dirasakan dengan jelas pengaruhnya. Keberadaan kekuasaan implisit ini menarik perhatian pada aspek kompleks dari hubungan kekuasaan. (Surbakti, 1992, p. 63)

Ditinjau dari perspektif partai, semestinya diposisikan sebagai organisasi milik bersama seluruh anggotanya. Sehingga, keputusan-keputusan penting tidak boleh dihegemoni dan di- monopoli seorang ketua umum, meski ia adalah sosok yang memiliki ide awal dalam membangun partai. Semestinya, harus dibicarakan dan diputuskan oleh seluruh anggotanya sesuai dengan nilai-nilai perjuangan yang ada dalam partai tersebut. Sayangnya, anggota

(3)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 207 internal partai tidak memiliki peran penting penentuan kebijakan partai atau arah kebijakan partai karena lebih banyak ditentukan dari atas (Subagyo, 2011).

Personalisasi partai politik semestinya tidaklah muncul di era Reformasi ini. Sebab, adanya upaya reinstitusionalisasi, salah satunya melibatkan pergantian pimpinan partai, telah menjadi salah satu program penting reformasi hukum kepartaian. Sejak disahkannya Undang- Undang Partai Politik Nomor 2 Tahun 2011, telah mengatur mengenai perubahan kepengurusan partai, dengan adanya mekanisme yang lebih detail diserahkan kepada internal partai-partai politik. Realitasnya tidak berjalan dengan baik, penentuan arah kebijakan partai seperti koalisi menjadi bersifat pragmatis semata. Koalisi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan perebutan kekuasaan, mendasari elektabilitas semata, tanpa mempertimbangkan aspek ideologi-ideologi partai dalam membangun kesepakatan koalisi, yang seharusnya menjadi pertanyaan yang sangat mendasar namun prinsipil. Tanpa tuntunan nilai-nilai ideologis, partai akan pasti adanya penyimpangan dalam menerjemahkan nilai-nilai perjuangan.

Penjelasan di atas menekankan akan suatu saran bahwa personalisasi partai harus dihindari, karena dapat berdampak negatif tidak hanya pada partai, tetapi juga upaya Indonesia untuk menjaga demokrasi dalam jangka panjang. Asumsi ini menimbulkan pertanyaan besar dalam penelitian ini, Mengapa kepemimpinan partai politik di Indonesia cenderung terperangkap dalam fenomena personalisasi politik? Bagaimana dampak personalisasi politik terhadap sistem kepartaian di Indonesia?

B. TINJAUAN PUSTAKA

Personalisasi Partai Politik dalam Konsep

Secara garis besar bahwa parpol dapat dianggap sebagai kelompok terorganisir yang anggotanya memiliki orientasi, nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok tersebut menekankan upaya untuk memperoleh kekuasaan politik dan mengambil posisi politik - (biasanya) secara konstitusional - dalam rangka melaksanakan kebijakannya dengan tujuan untuk kepentingan masyarakat (Budiarjo, 2022).

Perspektif ini menunjukkan bahwa parpol adalah lembaga yang dianggap penting dan perlu dalam sistem modern, bahkan fundamental dan institusi kunci bagi pengembangan demokrasi. Parpol memainkan peran sentral dalam menjaga pluralisme ekspresi politik, memastikan kehadiran partisipasi politik dan terbukanya persaingan politik, yang menunjukkan representasi politik rakyat dan pembangunan kepemerintahan (Firmanzah, 2011).

Selain itu, parpol merupakan sarana bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam proses penyelenggaraan negara. Sebagai lembaga politik, parpol bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Mempunyai sejarah yang cukup panjang, tapi belum cukup tua. Bisa dikatakan parpol ialah organisasi baru dalam kehidupan manusia, jauh lebih muda dari organisasi negara.

Namun, parpol telah menjadi syarat utama dari demokrasi itu (Rohaniah, 2015).

Selanjutnya, karakter parpol yang tidak kalah pentingnya adalah berdasarkan sifat dan orientasinya, parpol dapat dibagi ke dalam kategori berikut: Pertama, partai ideologi/partai azas, biasanya memiliki visi hidup yang kuat dan mengikat, sebagaimana tertuang dalam kebijakan dan pedoman kepemimpinan. Terhadap calon anggota diadakan saringan, sedangkan untuk menjadi anggota pimpinan disyaratkan lulus melalui beberapa tahap percobaan. Untuk memperkuat ikatan batin dan kemurniaan ideologi, maka dipungut iuran secara teratur dan disebarkan organ-organ partai yang memuat ajaran-ajaran serta keputusan-keputusan yang telah dicapai oleh pimpinan. Dan, kedua, perkembangan parpol pada perilaku catch all party.

Parpol dalam pergerakan orientasi politiknya tidak pernah mengedepankan ketetapan dan konsistensi pada tingkat keyakinan dan ideologi partai. Ini tentu saja berbeda dengan parpol

(4)

208 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

berdasarkan ideologi. Bagi partai-partai politik saat ini, keyakinan dan ideologi hanya sebuah alat, yang lebih utama adalah memperoleh seluas-luasnya pemilih, sehingga hal wajar parpol mengubah citra, lambang, maupun ideologi, hal-hal tersebut dapat dipertukarkan dengan sebuah kemenangan dan/atau jabatan semata (Amal, 1996).

Namun dalam perkembangannya, sangat disayangkan, bahwa kebanyakan parpol modern menurut Andrew Heywood (2014), masuk dalam kategori apa yang oleh Otto Kirchheimer (Kirchheimer, 1996) diistilahkan sebagai ‘catch all party’ atau ‘partai tangkap semua’. Istilah ‘catch all party’ ini menunjukkan bahwa partai-partai politik yang secara drastis mengurangi muatan ideologis mereka dalam rangka untuk memenuhi sebanyak mungkin jumlah pemilih dan kemenangan dalam pemilu dan lagi tak mendasarkan pada satu ideologi atau platfrom dalam menentukan sikap politik, maka spektrum legitimasi parpol ini adalah pada pertimbangan rasional partai.

Personalisasi politik adalah hal yang menjadi fenomena umum dan menggejala pada mayoritas parpol di Indonesia. Walaupun begitu, perlu dipahami bahwa derajat personalisasi ini berbeda-beda antar partai dan antar masa. Misalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di bawah kepemimpinan Gus Dur lebih kuat kadar personalisasinya dibandingkan saat ini.

Sementara itu, tingkat personalisasi PKB saat ini pun dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terpesonalisasikan oleh Megawati sejak partai didirikan hingga saat ini (Budiatri, 2018).

Seperti apa yang disampaikan Scott Pruysers, William P. Cross and Richard S. Katz (Scott Pruysers, 2018, p. 4) As we will see, the very definition of personalization sets it up as something that occurs at the expense of the party and therefore is a phenomenon that weakens the party.

It may also mean that what the party stands for can change, perhaps dramatically, depending on who is steering the ship. All of this suggests that high levels of personalism and processes of personalizationmay represent an important challenge to political parties as they are conventionally conceived. Pernyataan Cross dan Katz menjelaskan bahwa personalisasi menetapkannya sebagai sesuatu yang terjadi atas biaya partai dan karenanya merupakan fenomena yang melemahkan partai. Ini juga bisa berarti bahwa apa yang diperjuangkan partai bisa berubah, mungkin secara dramatis, tergantung siapa yang memimpin organisasi tersebut.

Semua ini menunjukkan bahwa tingkat tinggi personalisme dan proses personalisasi mungkin merupakan tantangan penting bagi partai politik karena mereka dipahami secara konvensional (tradisional).

Personalisai politik diartikan Karvonen sebagai sebuah situasi dengan mana aktor individu politik menjadi lebih utama dan penting perannya dibandingkan partai politik atau identitas kolektif lainnya. Selanjutnya, Clarke dkk, menyampaikan bahwa aktor politik ini dapat dimaknai secara spesifik sebagai pemimpin politik/partai atau politisi pada umumnya.

Jadi, dalam studi tentang personalisasi perilaku memilih, beberapa analis memeriksa sejauhmana persepsi pemimpin partai memotivasi keputusan pemungutan suara (Pilet, 2016).

Demokratisasi terkait Rekruitmen Partai Politik

Parpol sebagai organisasi sosial politik (Orsospol), menunjukkan kesukarelaan orang menjadi anggota/simpatisan partai dikarenakan ia menganggap parpol dapat menjadi wahana penyalur aspirasi sekaligus pengabdiannya kepada masyarakat. Kepengurusannya harus dipilih secara sukarela (demokratis), seyogianya terdiri dari orang-orang yang mampu mengaktualisasikan aspirasi konstituennya secara tulus, penuh tanggung jawab, dan aspirasi masyarakat ini diproses menjadi kebijakan publik yang nyata. Langkah-langkah ini terkait dengan ideologi, yang diturunkan dalam visi-misi hingga pada program kerja parpol tersebut.

Partai sebagai orsospol yang sukarela tersebut, turut menunjukkan parpol bukan lembaga karir layaknya perusahaan, sehingga tak perlu terjadinya sikut-menyikut untuk menjadi pengurus parpol tersebut. Figur-figur terbaik yang dianggap mampu menjadikan partai sebagai

(5)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 209 wahana perjuangan aspirasi rakyat atau demokrasi, yang menyediakan waktu, tenaga, dan bahkan “hartanya,” untuk kepentingan perjuangan, memiliki otoritas, semestinya kriteria ini yang dipilih menjadi pemimpin-pemimpin partai.

Secara garis besar, peran dan fungsi parpol dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, peran dan tugas internal organisasi, artinya parpol berperan penting dalam propaganda, pendidikan, pelaporan, kerangka dan kelanjutan ideologi politik yang menjadi dasar berdirinya partai. Kedua, partai juga berada di luar organisasi, yang mana peran dan fungsi organisasi parpol relevan dengan masyarakat luas, bangsa dan negara. Parpol juga memiliki tanggung jawab konstitusional, moral dan etika untuk memperbaiki kondisi sosial.

Dalam negara demokratis, parpol menyelenggarakan beberapa fungsi, sebagai berikut:

1) Parpol sebagai sarana komunikasi;

2) Partai ialah sarana sosialisasi politik;

3) Parpol merupakan sarana rekruitment politik;

4) Sarana pengatur konflik. (Budiardjo, 2002)

Kadang sering dilupakan bahwa parpol turut menimbulkan terjadinya krisis. Unsur-unsur krisis dalam partai-partai politik demokratis dapat dilihat dengan baik dari timbulnya gerakan- gerakan yang bersifat diktatorial. Pada hakekatnya, organisasi diktatorial sering tumbuh dalam sistem partai demokratis itu sendiri. Ia diandaikan merupakan negara dalam negara, terpisah dari prinsip-prinsip dasarnya. Tetapi munculnya organisasi-organisasi seperti ini mencerminkan adanya suatu kekurangan pokok di dalam masyarakat. Ia dapat mengumpulkan pengikut karena terdapat orang-orang yang tidak menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang dominan, yang kelihatannya tidak lagi dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka yang pokok. Dapat dipastikan bahwa setiap kelompok yang berfungsi mempunyai beberapa orang yang merasa “asing” (outsiders) di kalangannya dan kelompok itu dapat menerima kenyataan seperti itu. Selama jumlah orang seperti itu tidak terlalu banyak, maka mereka tidak merupakan ancaman bagi orde yang ada. Jika mereka dapat mengumpulkan pengikut yang cukup banyak, maka proses demokratis telah memasuki suatu tahapan yang gawat. Munculnya partai-partai diktatorial dalam negara-negara modern merupakan tanda bahaya bagi sistem partai yang demokratis. Mulai saat itu perdebatan antara partai-partai adalah berkenaan dengan hal-hal yang fundamental dan pertengkaran mengenai masalah-masalah yang pokok. Untuk kelompok-kelompok politik yang terintegrasi ini, kompromi menjadi semakin sukar, dan semakin sukar pulalah mengadakan koalisi dengan suatu partai lain misalnya.

Dalam menjalankan fungsi tersebut, parpol dalam sistem demokrasi melakukan tiga kegiatan meliputi pemilihan calon, kampanye dan pelaksanaan fungsi pemerintahan (legislatif dan/atau eksekutif) serta berperan sebagai pengambil kebijakan jika memiliki kekuasaan untuk memerintah. Dalam sistem politik totaliter, bagaimanapun dilakukan pemilu lebih dari sekadar mengukuhkan calon tunggal yang telah ditentukan oleh satu partai politik. Namun, parpol baik dalam sistem politik demokrasi maupun sistem politik totaliter, juga melaksanakan sejumlah fungsi lain, yaitu: Sosialisasi politik, Rekrutmen politik, Partisipasi politik, Komunikasi politik, Pengendalian konflik, dan mengendalikan politik.

C. METODE

Penelitian ini merupakan kajian yang bertujuan untuk memahami dampak personalisasi parpol di era reformasi. Dalam memperoleh jawaban atas pertanyaan dalam penelitian ini, dengan pendekatan kualitatif yang mana menggunakan metode wawancara dan studi pustaka (library research). Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka dilakukan dengan mengadakan studi penelaahan melalui buku, literatur, surat kabar, majalah, dan laporan yang ada hubungannya dengan artikel ini (Nazir, 2003). Selain itu, data ini ialah hasil yang dikumpulkan langsung di lapangan oleh peneliti, yang didapat dari sumber informan misalnya

(6)

210 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

hasil wawancara mengenai yang diteliti (Hasan, 2002). Untuk mendapatkan data dan informasi yang di perlukan dalam penelitian, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan Metode Wawancara disamping studi pustaka tersebut. Menurut Moleong bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh pewawancara dengan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moloeng, 2009).

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Munculnya Personalisasi Politik pada Partai

Membahas personalisasi partai, terdapat beberapa karakteristik yang umumnya muncul pada kasus-kasus partai. Karakteristik pertama, yakni adanya kondisi ketika pemimpin partai menjadi identitas yang melekat kepada partai. Pemimpin ini bukan hanya berperan sebagai ikon partai melainkan memainkan fungsi kepartaian secara kelembagaan, ini menunjukkan peran kelembagaan tergantikan oleh tokoh politik sentral tersebut. Masyarakat pemilihnya juga mengetahui partai itu sebagai bagian tak terlepaskan dari individu pemimpin partainya. Dengan kondisi ini, pemimpin partai kemudian menjadi titik kekuasaan sentral partai, yang mengalahkan elemen struktur kepengurusan partai lainnya. Karakteristik kedua, adalah penempatan individu pemimpin partai sebagai cara memperoleh dukungan bagi partai tersebut, khususnya pada saat pelaksanaan pemilu (Sandri, 2015). Karakteristik lainnya, adalah tentang lamanya pengaruh individu pemimpin elite itu terhadap partai tersebut. Bagi partai yang mengalami personalisasi politik, individu elite partai itu memiliki pengaruh terhadap partai dalam jangka waktu yang lama. Hal ini memberikan kemungkinan bagi pemimpin partai untuk mendominasi berbagai kebijakan dan keputusan partai, serta menimbulkan ketergantungan dari partai terhadap pemimpin berpengaruh tersebut. Sehingga, mengesankan partai politik dapat berkembang hanya karena figur tokoh sentral tersebut (Sandri, 2015). Beberapa karakteristik tersebut melekat pada partai-partai politik yang mengalami persoalan personalisasi politik.

Pada era reformasi, berbagai partai nasionalis muncul lekat dengan imej kepada para elit yang mendirikan atau menggagas kehadiran partai tersebut. Hal ini seperti terlihat pada partai yang dikategorikan personalisasi kuat adalah PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Gerindra.

Sementara, Partai Nasdem memiliki kecenderungan personalisasi kuat tetapi belum dapat disimpulkan secara utuh karena usia partai yang masih sangat muda. Meski begitu, peran pendirinya Surya Paloh sangat memengaruhi semua keputusan partai tersebut. Sementara, Partai Hanura terkategori sedang, meski pada perkembangan terakhirnya belum bisa diprediksikan karena ada suksesi kepemimpinan dari Wiranto ke Oesman Sapta Odang (OSO), dalam dinamika saat ini Oesman Sapta Odang telah mengambil kendali partai meski kecil kemungkinannya tanpa “direstui” oleh Wiranto, juga dalam keterpilihan OSO untuk kedua kalinya memimpin tersebut. Partai Golkar terkategori personalisasi lemah karena kecenderungan yang terjadi pada Partai Golkar bukanlah personalisasi melainkan oligarki. Di sisi lain, Partai Golkar juga menunjukkan dinamika internal di tingkat partai yang teramat tinggi sehingga menghadirkan beragam faksi. Hal yang menjadi catatan penting dalam kasus personalisasi partai nasionalis adalah pola personalisasi yang cenderung bersifat stagnan. Masa kepemimpinan dari tokoh sentral yang memainkan peran personalisasi politik ini terkesan tak tergoyahkan.

Pada tahun 2009 silam, telah terjadinya perubahan kategorisasi Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengalami keterbukaan, sehingga lebih mengidentifikasi partai sebagai partai nasionalis dibandingkan sebagai partai identitas Islam. Tujuannya memperoleh pemilih sebanyaknya sehingga memperluas identitas kepartaiannya, meski PAN masih dengan dukungan konstituen dari Muhammadiyah. Dalam perkembangannya personalisasi Amien Rais pada menuju Pemilu Serentak 2024 ini tersingkirkan, tetapi pergeseran ini tidak

(7)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 211 melepaskan persepsi Zulkifli Hasan ini menjadi tokoh baru (imej) PAN setelah tidak lagi bersama Amien Rais. Meski baru dua periode, kecenderungan ini sudah kentara dalam pengambilan keputusan/kebijakan partai tersebut. Sehingga akhirnya, sosok Amien Rais memilih mendirikan Partai Ummat.

Selanjutnya, PKB, awalnya mengalami personalisasi partai melalui KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tetapi personalisasi tersebut mulai melemah ketika digantikan oleh personalisasi yang dibangun oleh Muhaimin Iskandar, meski personalisasi terhadap sosok Muhaimin cenderung melemah jika menganalisisnya dari konstituennya yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU). Namun, dengan kepemimpinan selama 17 tahun, M. Iskandar menunjukkan PKB mengalami personalisasi partai.

Pada tabel di bawah ini, tergambarkan ada tujuh partai yang dinilai menggejala personalisasi politik dari sembilan parpol yang memperoleh kursi di parlemen pada periode 2019-2024 ini. Setiap partai tersebut memiliki seorang individu yang identik dan berpengaruh kuat terhadap partai, sebagai berikut.

Tabel 1. Peta Personalisasi Partai Politik Di Era Reformasi No Partai Politik Tokoh Partai

Politik Posisi Di Dalam

Partai Posisi Pencalonan

Pilpres

1 PDIP Megawati

Sukarnoputri Pendiri PDIP

Ketua Umum Partai (1999-Sekarang)

Capres Pilpres 1999, 2004, 2009

Terpilih Wapres (1999)

Dilantik jadi Presiden (2001)

2 Partai Demokrat Susilo Bambang

Yudhoyono Penggagas Partai

Ketua Umum Partai

Ketua Majelis Tnggi Partai

Capres Pilpres 2004 &

2009 (Terpilih 2 Periode)

3 PAN Amien Rais • Pendiri PAN

• Ketua Umum Partai

• Ketua Majelis Pertimbangan Pusat

• Ketua Dewan Kehormatan Partai

• Capres Pilpres 2004

Zulkifli Hasan • Ketua Umum Partai

dua periode • Ditetapkan sebagai capres dari PAN

• Penentu Capres yang didukung oleh partai

4 PKB Abdurrahman

Wahid (Gus Dur) Pendiri PKB (1998)

Ketua Dewan Syuro

Capres Pilpres 1999 (Terpilih)

Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai

tiga periode Ditetapkan sebagai capres dari PKB 5 Gerindra Prabowo Subianto Pendiri Partai Gerindra

(2008)

Ketua Dewan Pembina

Cawapres Pilpres (2009)

Capres 2014 & Capres 20019

Capres yang kembali diusung oleh Gerindra menuju Pemilu Serentak 2024

6 Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)

Wiranto • Pendiri Partai Hanura (2006)

• Ketua Umum (2006- 2016)

Capres Pilpres 2009

(8)

212 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 7 Partai Nasional

Demokrat (Nasdem)

Surya Paloh • Pendiri Partai Nasdem (2011)

• Ketua Majelis Tinggi Partai (2011-2013)

• Ketua Umum Partai (2013- sekarang)

• Penentu dari pemilihan koalisi dan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung oleh partai nasdem Sumber: Diolah berbagai sumber

Sebagian besar nama-nama pendiri partai juga sekaligus menjadi ketua umum partai dan bahkan pengurus partai. Menariknya, selain menjadi pendiri partai, ketua umum dan/atau dewan pertimbangan/pembina/penasihat, mereka juga menjadi calon presiden dalam pemilu, biasanya dipilih secara aklamasi partai. Memang, partai tersebut didirikan oleh para elit politik ini sebagai wahana partisipasi mereka dalam pemilu. Realitanya, pasca terselenggaranya pemilihan presiden secara langsung, fenomena personalisasi semakin marak, terutama personalisasi partai. Karena pemilu ditentukan oleh rakyat, maka setiap elite politik merasa memiliki peluang menjadi presiden. Spesial tiket seakan menjadi miliknya pribadi. Akibatnya, setiap partai terdorong untuk mencalonkan tokoh sentralnya ini yang dianggap populer dan berkarisma dalam pemilu. Mereka tidak lagi merekrut dan menimang untuk memilih calon lain, juga sudah meninggalkan mekanisme pemilihan yang demokratis di tingkat internal seperti Konvensi yang dulu diselenggarakan oleh Partai Golkar maupun Partai Demokrat. Sebab, dalam pemikiran mereka bahwa mereka menganggap dengan popularitas tokoh sentral dan kerja keras partai, akan dapat memenangkan pemilu. Inilah yang terjadi sebuah realitas bahwa ketua umum partai kecenderungan terbesar menjadi calon presiden meski berelektabilitas rendah sekalipun, itulah tidaklah penting.

Jika dianalisis latar belakang pembentukan partai untuk mengusung satu elite tertentu menjadi calon presiden sesungguhnya merupakan salah satu faktor internal utama yang menginisiasi personalisasi. Partai politik seperti Demokrat, Gerindra, dan PDIP, tidak dapat mengelakkan diri menjadi personal maupun menjalankan personalisasi politik karena memang sejarah pembentukan partainya mengandung unsur ketokohan. Partai bukan didirikan sebagai wadah penyaluran aspirasi kelompok masyarakat tertentu atau ideologi tertentu, tetapi karena dukungan terhadap tokoh tertentu. Tidak hanya karena merupakan pendiri partai, namun tokoh menjadi sangat sentral posisinya, di dalam partai juga dipengaruhi oleh dua hal antara lain:

pertama, elit merupakan sumber dana terbesar untuk partai. Ia mendirikan dan membesarkan partai dengan pembiayaan secara mayoritas bersumber dari kantongnya sendiri. Situasi ini tentu saja menjadikan partai seperti milik pribadi sehingga tokoh itu berhak bertindak apapun untuk mengendalikan partainya. Ini yang disinyalir terjadi pada Partai Nasdem, meski tidak mengambil dengan “serakah” tetapi sejatinya keputusan/kebijakan sentral dan kekuasaan penting tetap digenggam erat oleh Surya Paloh sebagai tokoh personalisasi. Sehingga, pola pemilihan nama calon presiden untuk Pemilu Serentak 2024 melalui rapat kerja nasional (rakernas) saja, dapat saja bisa menggelar kembali rakernas untuk tercapai kesepakatan dengan partai yang akan berkoalisi dengannya. Situasi ini mengesankan pilihan dalam rakernas bisa dipertimbangkan sesuka hati personal partai tersebut dengan dasar kesepakatan partai-partai politik koalisinya. Meski pada akhirnya, tindakan itu tidaklah sampai dilakukannya.

Kedua, elite partai di yakini memiliki karisma yang kuat dan penting bagi perjuangan partai. Hal ini tampak terlihat contohnya pada sosok Megawati di PDIP. Megawati diyakini memiliki karisma yang kuat sebagai anak dari Soekarno, Bapak Proklamasi Indonesia dan Presiden pertama Indonesia. Selain itu, Megawati dinilai sebagai tokoh perlawanan kesewenang-wenangan Orde Baru terhadap PDI di masa lampau. Dua hal ini menjadikan ia sebagai tokoh berkarisma yang dapat menyatukan kader partai sekaligus memimpin partai.

Selain itu, dianggap sebagai pemimpin partai yang tak tergantikan. Oleh karenanya, sampai sekarang Megawati tetap menjadi ketua umum. Segala keputusan partai, termasuk menentukan

(9)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 213 calon anggota legislatif, calon presiden-wakil presiden, hingga calon kepala daerah hanya dilakukan oleh persetujuan dari Megawati, bahkan PDIP tidak mengkhawatirkan dianggap keputusan penting partai diambil model demokrasi terpimpin melalui Megawati Soekarnoputri seorang. Sehingga, wajar akhirnya pembahasan koalisi maupun pasangan calon presiden dan wakil presiden semua menunggu keputusan tunggal yang diberikan kepada Megawati Soekarnoputri.

Personalisasi partai juga turut menunjukkan perkembangan demokrasi dari suatu negara- bangsa dan problematika yang akan mendera dari personalisasi terhadap partai-partai tersebut, seperti I Made Leo Wiratma (Direktur Eksekutif Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), pada 10 November 2022.) menjelaskan:

Personalisasi partai sangat tergantung pada sejauhmana tingkat demokrasi suatu negara/bangsa. Di negara-negara yang sudah mapan demokrasinya, personalisasi mungkin tidak terlalu berpengaruh pada kehidupan partai. Sebab partai-partai pada umumnya sudah memiliki sistem yang baku dan kuat untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Jadi siapapun menjadi pemimpin sudah mengetahui apa tugasnya dan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang harus dijalankan. Selain itu, biasanya secara internal mereka sudah solid.

Berbeda dengan Negara-negara yang baru membangun demokrasi, personalisasi memegang peran penting dan sentral. Pemimpin sering harus atau terpaksa bertindak melampaui sistem yang berlaku di partai. Biasanya partai-partai belum solid secara internal, sehingga seringkali pemimpin menjadi pemersatu partai, tanpa pemimpin itu maka partai akan goyah bahkan bubar”.

Indonesia meski dalam penyelenggaraan pemilu acap menjadi percontohan bagi penyelenggara pemilu di beberapa negara, namun Indonesia termasuk dalam kategori kedua ini, hal mana banyak partai secara kelembagaan sangat tergantung pada personal pemimpinnya.

Lihat misalnya, PDIP dengan Megawati, Gerindra dengan Prabowo, Nasdem dengan Surya Paloh, dan Partai Demokrat identik dengan SBY. Bahkan, Partai Golkar sepeninggal Soeharto terus terpecah-pecah menjadi banyak partai. Sehingga dapat dikatakan, jika para pemimpin partai itu sudah pergi, maka kemungkinan besar partai tersebut juga akan terpecah, bahkan bubar, kecuali mendapatkan pengganti yang sepadan dengan pemimpin lama.

Personalisasi partai ini juga tentu saja tidak hanya terjadi pada partai-partai besar yang lolos di parlemen tetapi juga terhadap partai-partai non-parlemen, meski begitu kelembagaan partai antara partai yang lolos parlemen dengan non-parlemen berbeda, seperti dijelaskan oleh Wasisto Raharjo Jati (Staf Peneliti di Pusat Riset Politik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), 10 November 2022.), menyatakan:

Kalau figur yang bersangkutan adalah tokoh populer maka akan menguntungkan partai pengusungnya. Hal ini dikarenakan ada efek ekor jas yang diinginkan oleh partai, hal mana popularitas tinggi figur tersebut bisa menjadi alat katrol suara bagi partainya. Secara umum, kelembagaan partai ini di Indonesia masih timpang antara partai parlemen dengan partai non parlemen. Institusionalisasi partai parlemen didukung akses sumber daya negara, patronase elit, maupun juga jejaring di akar rumput. Sementara, institusionalisasi partai non parlemen sendiri masih perlu proses, karena mereka mengandalkan sumber daya mandiri.

Sehingga demikian, kelembagaan partai ini di Indonesia memang masih timpang antara partai parlemen dengan partai non parlemen, meski sama-sama partai-partai tersebut dalam cengkraman personalisasi partai. Institusionalisasi partai parlemen didukung akses sumber daya negara, patronase elit, maupun juga jejaring di akar rumput. Sementara institusionalisasi partai non parlemen sendiri masih perlu proses karena mereka mengandalkan sumber daya mandiri.

(10)

214 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

Aisah Putri Budiarti, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan personalisasi menjadi salah satu masalah yang dihadapi partai saat ini. Pasca Orde Baru bahwa personalisasi partai telah menjadi salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan. Reformasi saat ini, identitas elit individu secara inheren kuat di partai-partai tersebut, sehingga Partai dipandang sebagai korporasi karena orang-orang melihat mereka sebagai pemegang saham penting dalam pembentukan partai (Antaranews).

Akibat individualisasi politik, parpol tidak hanya dikuasai oleh elit, tetapi juga diperluas menjadi platform politik bagi keluarga elit. Dalam konteks demokrasi, aspek eksternal terkait sistem pemilu telah berubah, terutama dalam hal proses yang mereka lalui. Menyebabkan terkikisnya legitimasi peran sentral partai secara kelembagaan. Kandidat yang muncul di kancah politik penuh dengan wajah baru. Indikator utamanya adalah popularitas dan opsionalitas. Pemilu menjadi medan pertempuran bagi para pemimpin partai yang hanya kuat secara organisasi dan lemah secara sosial di depan publik. Namun, tokoh-tokoh sentral partai tetap karismatik dan bahkan bisa menjadi pendukung dalam jumlah terbatas. Di sinilah letak inti masalahnya: tokoh-tokoh yang disebutkan selama proses pemilihan bukanlah tokoh kunci partai, tetapi seringkali merupakan tokoh baru yang dicari karena popularitasnya yang semakin meningkat. Dengan begitu, mudah dipahami bila pemilu langsung mampu mengorbitkan tokoh baru dengan kekuatan branding yang besar, termasuk kemampuan mengelola diri untuk piawai di depan sorot media. Dengan bantuan media, kemudian menjadi sosok yang dicermati oleh petinggi partai untuk dikontestasikan, meski demikian kehadiran mereka tidak diputuskan berdasarkan kesepakatan bersama, acapkali pengambilan keputusan sekadar kesepakatan bersama tetapi dibalik makna itu telah disosialisasikan untuk dipilih oleh figur personalisasi partai tersebut.

Saat ini, partai-partai politik tengah melalui tahapan krusial, yakni mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Diprediksi jumlah peserta Pemilu 2024 yang akan mendaftar lebih banyak ketimbang pemilu sebelumnya. Namun, pengelolaan partai saat ini adalah sumber persoalan karena pada akhirnya memosisikan tokoh-tokoh utama partai demikian berkuasa dan menentukan, yang kemudian menyebabkan demokrasi internal dibeberapa partai menjadi terganggu. Dampaknya bahwa adanya watak demokrasi tidak benar-benar kokoh mewujud didalam partai. Sikap permisif dalam berpolitik yang mereduksi esensi demokrasi pun kerap terjadi dalam kehidupan politik kita. Kaderisasi yang seadanya juga akar persoalan lain, terutama terkait dengan bagaimana kader-kader memaknai politik dengan segenap kompleksitas di dalamnya. Kondisi ini menyebabkan ideologisasi dan penanaman nilai-nilai idealisme seadanya, yang akhirnya berkontribusi dalam terbangunnya pemahaman kader yang melenceng dalam menjalankan perannya dalam kehidupan politik, termasuk dalam ajang pemilu (Firman Noor).

Analisa Dampak Personalisasi Pada Parta Politik

Berdasarkan konsep di atas, personalisasi partai dapat berdampak pada parpol, sistem kepartaian, dan politik nasional, seperti yang ditunjukkan di bawah ini (Evandio).

a. Sejak reformasi 1999, Indonesia menerapkan sistem multipartai, atau secara teoritis disebut sistem pluralis, dengan lebih dari lima parpol dalam sistem kepartaian dan jumlah partai di Indonesia saat itu tidak dibatasi. Hal ini sangat berbeda dengan Orde Baru yang membatasi jumlah sistem multipartainya menjadi tiga partai. Kepemimpinan partai yang kuat akan berdampak pada kondisi parpol yang lemah karena segala kegiatan partai ditujukan bukan untuk kepentingan publik, melainkan kepentingan elite pimpinannya.

b. Lingkup kekuasaan elit atas partai berimplikasi pada melemahnya peran dan status negara. Memang partai berperan penting dalam perumusan kebijakan nasional dan individualisasi partai berujung pada melemahnya kekuasaan negara. Sebaliknya, negara

(11)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 215 justru akan dimanfaatkan untuk mengelola kekuasaan satu orang elite saja.

Kecenderungan ini terlihat Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDIP yang merupakan partainya Presiden Jokowi memberikan dua jabatan sekaligus kepada Megawati yakni menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN dan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Parpol di Indonesia kecenderungan terbesar terperangkap pada situasi personalisasi.

Personalisasi partai ini mengindikasikan kondisi dengan aktor individu politik menjadi lebih utama dibandingkan partai ataupun identitas kolektif lainnya. Ini menunjukkan adanya proses individualisasi yang mempengaruhi seluruh proses kerja di dalam partai. Selain itu, ketika personalisasi partai terjadi, keadaan yang dihadirkan bahwa pemimpin yang kuat menghasilkan partai yang lemah, sekaligus kondisi yang mengintai adalah memperlemah negara sebagai dampak personalisasi pada partai (Efriza). Inilah yang menunjukkan Indonesia masih dianggap melaksanakan demokrasi prosedural semata dan di sisi lain dikategorikan sebagai negara yang baru melaksanakan demokrasi yang semestinya kita masuk dalam kategori demokrasi terkonsolidasikan.

Partai saat ini menganut tipe individualistis, cenderung oligarki. Tipe kepartaian di Indonesia saat ini (bahkan menuju pemilu 2024 nanti terkait Partai Lolos Tahap Verifikasi Calon Peserta Pemilu 2024) masih terbagi menjadi tipe programmatik yang menitikberatkan pada aktivitas program-program yang dibawa oleh kandidatnya seperti: Partai Golkar, PKS, PPP, PRIMA, Partai Buruh, Partai Republik, Partai Republik Indonesia, dan PSI. Sedangkan tipe personalistik yakni partai yang bertumpu pada patronase yang kuat dengan adanya pemimpin yang dianggap kharismatik, seperti: PDI Perjuangan, Partai Ummat, Partai Republik Satu, Parsindo, PAN, PKB, Gerindra, Hanura, Partai Demokrat, Partai Nasdem, Partai Garuda, PKPI, Partai Perindo, Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), dan Partai Gelora. Meski begitu, umumnya partai bertahan pada karakter kepemimpinan dan organisasi yang oligarkis. Sehingga demikian, fungsi parpol berada di tangan segelintir partai, ini sebuah realitas dari oligarkis partai.

I Made Leo Wiratma (Wawancara, 10 November 2022) menjelaskan bahwa Dampak Personalisasi di dalam parpol, memberi pengaruh negatif terhadap sistem kepartaian di Indonesia. Sebab pemimpin seolah-olah berada di atas sistem partai, bahkan apa kata Ketua Umumnya. Ini mirip dengan raja: the king can do no wrong. Akibatnya tidak ada demokrasi, bahkan semua takut pada pemimpinnya. Padahal kedaulatan partai seharusnya berada di tangan anggota. Keadaan inilah yang menyebabkan demokrasi tidak maju-maju di Indonesia karena kedaulatan hanya di satu tangan.

Di sisi lain, dampak personalisasi politik terhadap sistem kepartaian yang paling utama adalah stagnasi kaderisasi. Hal ini dikarenakan adanya pola pikir pragmatis partai yang lebih berorientasi instan pada kekuasaan lewat nominasi figur populer yang notabene adalah orang eksternal partai itu. Adanya kecenderungan jalan pintas kekuasaan lewat nominasi tokoh populer itu yang membuat partai abai terhadap proses kaderisasi untuk menemukan kader internal yang potensial. Selain itu, kepemimpinan partai politik di Indonesia cenderung terperangkap dalam fenomena personalisasi politik. Hal ini, dikarenakan utamanya adalah absennya spektrum ideologi dalam kepemimpinan maupun institusionalisasi partai. Kondisi tersebut yang membuat partai pada akhirnya minim ide yang diperjuangkan dalam merebut suara pemilih. Pada akhirnya, mereka lebih cenderung memasang calon populer (Wasisto, 10 November 2022).

Reformasi sebenarnya menawarkan peluang bagi partai puntuk tumbuh dan mempertahankan pemilihnya. Namun nyatanya ini hanya contoh kecil, pemilih yang menjadi anggota partai sebenarnya bergantung pada sifat keanggotaan partainya. Dengan kata lain, komposisi partai sangat ditentukan oleh hal-hal di atas. Oleh karena itu, dukungan pemilih

(12)

216 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

terhadap partai dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung pada kepentingan sesaat pemilih, volatilitas pemilu, atau pergeseran suara pemilih dari satu partai ke partai yang lain, dan dipengaruhi oleh masalah praktis yang ada di antara masyarakat dan pemilih.

Di antara dampak dari sikap partai dan politisi sebagai pencari kekuasaan adalah meningkatnya keengganan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu, yang umumnya berkurang di tingkat nasional dan lokal. Misalnya, di tingkat nasional, pada Pemilu 1999, partisipasi pemilih mencapai lebih dari 90%, kemudian pada Pemilu 2004 turun menjadi 76%, dan pada Pemilu 2009 dan 2014, partisipasi pemilih turun menjadi 70,0%. Pada Pemilu Serentak 2019, ajakan untuk tidak memilih melalui surat suara mulai banyak diekspresikan di media sosial, dan ancaman keengganan publik yang kuat dalam memilih jelas dipicu karena frustrasi masyarakat terhadap partai dan politisi yang bisa mengakibatkan rendahnya partisipasi pemilih. Fenomena Pemilu Serentak 2019 bukan tidak mungkin untuk kembali menguat pada Pemilu serentak maupun pemilihan kepala daerah serentak tahun 2024 yang semakin dekat.

(Apinino)

Efek internal dari personalisasi parpol dapat saja dianggap berdampak menguntungkan meliputi: pertama, menghindari konflik internal partai; kedua, stabilitas di dalam partai; ketiga, memperpendek rentang kendali partai; keempat, memperpanjang usia partai, dengan hadirnya tokoh-tokoh berpengaruh, maka partai dapat meraih dukungan politik melalui pemilu; dan kelima, pada tahap akhirnya akan tercipta kohesi partai. Tetapi, dampak-dampak positif ini hanya bersifat semu atau sementara. Jika dikaitkan dengan perkembangkan parpol, maka pada tahap awal perkembangan partai, membutuhkan figur yang kuat dan kokoh. Oleh karena hadirnya tokoh sentral membawa dampak positif sebagai pembeda antar partai dan penting bagi perkembangan partai. Sekali lagi, hal ini terjadi pada tahap awal perkembangan partai.

Namun, harus ditegaskan kembali bahwa hanya bersifat semu dan sementara saja. Pada akhirnya, keberadaan karakter ini akan menyebabkan ketergantungan yang sangat kuat dari partai terhadap tokoh sentral tersebut. Pada parpol yang proses pendiriannya bergantung pada sesosok tokoh/individu dan keluarga, disertai juga dengan adanya ketergantungan pendaanan partai, maka kepemilikan partai menjadi mengarah pada individu, keluarga atau korporasi.

Ketergantungan ini berdampak negatif, karena partai tidak hanya “dibina”, efektifitas organisasi partai juga bergantung pada soliditas ekonomi dan keuangan yang menuntunnya.

Model kepemimpinan partai yang mengedepankan tokoh elit akan merugikan partai karena mengarah pada de-institusionalisasi partai. Kelembagaan partai tergerus karena hampir pasti organisasi dan manajemen partai tak berjalan baik.

Pembuatan kebijakan partai cenderung dipengaruhi sangat kuat oleh kepentingan elite tertentu artinya bahwa mekanisme demokrasi tidak dijalankan sesuai fungsi parpol.

Personalisasi parpol jelas akan menjadi penghambat demokratisasi internal partai. Jika demokrasi internal partai saja telah dirusak oleh kehadiran personalisasi partai, maka tentunya demokrasi dalam konteks luas pun terhambat oleh adanya jeratan personalisasi ini, sehingga dalam penalaran sederhana personalisasi juga mengambat pembangunan demokrasi di Indonesia.

Kehadiran Parpol baru pada Pemilu selalu ditopang oleh kekuatan dan popularitas dari tokoh tertentu. Jika demokrasi internal partai dikompromikan hanya dengan adanya individuasi partai, maka demokrasi pada umumnya terhambat oleh jebakan individuasi ini, jadi sederhananya, individulisasi juga menghambat perkembangan demokrasi di Indonesia.

Sayangnya, partai hanya berperan sebagai mesin politik bagi oknum tertentu untuk memenuhi peran politik presiden. Karena dalam jangka panjang, jika peran itu telah hadir dalam otoritas politik dalam demokrasi internal partai, maka hanya akan membuat partai tidak sesuai dengan peran dan fungsinya. Di sisi lain, demokratisasi partai sebagai sarana menyampaikan aspirasi dan memastikan partai dapat mendengar aspirasinya dan memastikan partai akan mendengar dan mengakomodasi aspirasi tersebut justru terhambat. Namun, dalam

(13)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 217 sistem politik yang demokratis, partai merupakan sarana dan aktor utama kekuasaan politik, dan jika personalisasi politik tetap dipertahankan, wajah partai politik bukan lagi sistem demokrasi yang substansial, kecuali prosedural semata.

Semua aktivitas politik, mulai dari pencarian kekuasaan hingga penggunaannya, melibatkan partai sebagai aktor. Oleh karena itu, partai harus demokratis secara internal, karena proses politik dalam membentuk dan menyelenggarakan pemerintahan akan dapat demokratis hanya apabila partai sebagai aktor secara internal dikelola secara demokratis. Tidak dapat dipungkiri bahwa partai politik merupakan alat yang sangat diperlukan dari demokrasi itu sendiri

Hanya mengandalkan pengambilan keputusan terus menerus oleh tokoh-tokoh sentral dan munculnya dinasti politik di dalam partai jelas merupakan kabar buruk bagi demokrasi.

Dalam jangka panjang, personalisasi politik pasti akan merugikan demokrasi Indonesia secara lebih luas dalam jangka panjang, karena jika partai hanya dijalankan oleh individu elit, maka negara tidak lagi menjalankan fungsinya untuk melindungi masyarakat luas, dan memperjuangkan kepentingan masyarakatnya melainkan untuk kepentingan kelompoknya.

Tidak hanya itu, pengelolaan yang monopolistik oleh satu individu elit, secara pasti akan menghambat proses pelembagaan partai dan sistem kepartaian karena partai tidak dikelola secara sistematis, demokratis, profesional dan transparan. Dengan demikian, rekrutmen politik dari partai politik mengikuti keinginan tokoh partai yang dipersonalisasikan tersebut.

E. SIMPULAN

Dampak personalisasi politik terhadap sistem kepartaian di Indonesia menghambat regenerasi kader partai maupun rekrutmen politik. Personalisasi partai juga menunjukkan kelemahan parpol secara kelembagaan. Kepengurusan partai saat ini menjadi akar permasalahan, karena pada akhirnya para tokoh utama memiliki kekuasaan dan kekuasaan pengambilan keputusan yang sedemikian rupa, sehingga keputusan dan kebijakan partai ditentukan oleh tokoh politik sentral tersebut. Kondisi ini menyebabkan ideologisasi dan penanaman nilai-nilai idealisme menjadi seadanya. Perjalanan partai secara kelembagaan tak bisa dilepaskan dari kepentingan tokoh politik itu saja. Selain itu, ketergantungan partai pada tokoh sentral dapat menyebabkan partai terseret pada kepentingan pribadi ketimbang kepentingan umum yang seharusnya diprioritaskan oleh partai. Ini juga mencerminkan erosi sistem kepartaian dan kegagalan sistem kepartaian.

Kepemimpinan partai politik di Indonesia cenderung terperangkap dalam fenomena personalisasi politik dikarenakan utamanya adalah absennya spektrum ideologi dalam kepemimpinan maupun institusionalisasi partai. Kondisi tersebut yang membuat partai politik pada akhirnya minim ide yang diperjuangkan dalam merebut suara pemilih. Pada akhirnya, mereka lebih cenderung memasang calon populer. Faktor penyebab dan yang memfasilitasi terbentuknya personalisasi partai ini tidaklah tunggal, melainkan banyak faktor yang saling berkelit. Personalisasi partai telah merebut kesempatan dan persamaan hak untuk dipilih dalam kancah sistem pemilu legislatif dan sistem pemilu presiden maupun sistem pemilihan kepala daerah, ini adalah bagian dari konsekuensi sistem kepartaian dengan sistem multipartai yang berlaku di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan rekomendasi dalam upaya perbaikan pelembagaan partai ke depannya adalah sebagai berikut. Pertama, kepemimpinan tertinggi parpol ialah ketua umum, untuk menata terbentuknya kepemimpinan parpol yang demokratis.

Oleh karena itu, perlu memasukkan aturan pembatasan masa jabatan ketua umum parpol dalam undang-undang agar tercipta kepastian hukum bagi seluruh parpol; Kedua, aturan yang juga turut mendorong partai-partai politik agar dalam pengambilan keputusan melibatkan konstituennya dan juga hirarki berjenjang dari struktur di tingkat partai; dan Ketiga, memperkuat peran mahkamah partai politik untuk menjadi lembaga peradilan yang

(14)

218 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

independen. Mahkamah partai juga didorong untuk mengawal proses pengambilan keputusan dari kelembagaan partai menjadi lebih baik, sehingga peran penting dari personalisasi politik di dalam partai politik dapat merosot drastis.

REFERENSI

Amal, Ichlasul. (1996). Teori-Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Anggara, Sahya. (2013). Sistem Politik Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi).

Jakarta: Rineka Cipta.

Budiatri, A dkk. (2018) Personalisasi Partai Politik Di Indoensia Era Reformasi, Jurnal Penelitian Politik, Volume 15 No. 2

Cross, William, dan Pilet, Jean-Benoit (Ed). (2015). The Politics of Party Leadership: A Cross National Perspective. Oxford: UK: Oxford University Press.

Budiardjo, Miriam. (2002). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Budiatri, Aisyah Putri (Ed). (2018). Pesonalisasi Partai Politik di Indonesia Era Reformasi.

Jakarta: Pustaka Obor.

Ellwein, Warsito, dan Subagyo, Hari. (2011). Konstituen Pilar Utama Partai Politik, Modul Pendidikan Politik: Manajemen Konstituen, Jakarta: Friedrich Naumann Stiftung.

Firmanzah. (2011). Mengelola Partai Politik – Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Hasan, M. Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Metodelogi Penelitian dan Aplikasinya. Bogor:

Ghalia Indonesia.

Heywood, Andrew. Politik (Edisi Keempat). (2014). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mariana, Dede. (2009). Dinamika Demokrasi dan Perpolitikan Lokal Di Indonesia. Bandung:

AIPI.

Musa, A.M (2017). Merancang Sistem Multipartai Sederhana Dan Penguatan Sistem Presidensial, Jurnal Ketatanegaraan, Volume 005.

Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Pilet, Jean-Benoit, dan Cross, William, (Ed). (2015). Uncovering The Politics of Party

Leadership. Dalam The Politics of Party Leadership: A Cross National Perspective, UK:

Oxford University Press.

Renwick, Alan, dan Jean-Benoit Pilet. (2016). Faces on the Ballot: The Personalization of Electoral Systems in Europe. Oxford, UK: Oxford University Press.

Rohaniah, Yoyoh. Efriza. (2015). Pengantar Ilmu Politik. Malang: Intrans Publishing Romli, L. (2011). Reformasi Partai Politik Dan Sistem Kepartaian Di Indonesia, Jurnal

Politica, Vol. 2, No. 2

Scott Pruysers, William P. Cross and Richard S. Katz. (2018). Personalism, Personalization and Party Politics. ECPR Press. Published by Rowman & Littlefield International Ltd.

Sandri, Seddone, dan Venturino. (2015). Understanding Leadership. Profile Renewal: A Cross - National Perspective.

Surbakti, Ramlan. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo.

Undang-Undang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.

(15)

Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219 | 219 Internet

Efriza, Perjuangan (Bosan) Prabowo Subianto, Sumber Telisik.id

Firman Noor, Pemilu Sebagai Ajang Mengembalikan Marwah Partai, Riset Politik BRIN, Sumber: www.Kompas.id.

Akbar Evandio, Pegang Banyak Jabatan, Megawati ke Jokowi: Saya Sudah Berumur Pak Malu Lah, Sumber: www.kabar24.bisnis.com

Rio Apinino, “Membedah Potensi Golput di Pilpres 2019,” Tirto.id, 12 Agustus 2018, https://tirto.id/membedah-potensi-gelombang-golput-di-pilpres-2019,cRYi, diakses 10 November 2022, Pukul 18.00 WIB

Personalisasi salah satu masalah partai politik saat ini,

https://www.antaranews.com/berita/2089874/peneliti-personalisasi-salah-satu-masalah- partai-politik-saat-ini, diakses Kamis, 11 Agustus 2022, Pukul 20.00 WIB.

Hasil Wawancara

Wawancara, I Made Leo Wiratma, Direktur Eksekutif Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), pada 10 November 2022.

Wawancara, Wasisto Raharjo Jati, Staf Peneliti di Pusat Riset Politik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada 10 November 2022.

(16)

220 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 205-219

Referensi

Dokumen terkait

13 2 2022: 177-190 | 183 Memperbaiki infrastruktur yang rusak; memulihkan fasilitas sosial masyarakat yang rusak; menghidupkan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat; memanfaatkan

Dengan adanya tren adopsi media sosial yang muncul di organisasi pemerintah, Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan memiliki akun sosial media Instagram yang menyajikan berbagai

Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 141 Article History Received: 3 Januari 2023 Accepted: 24 Mei 2023 Keywords: Public Participation;

Hal ini mendorong peneliti untuk mengkaji apakah pertumbuhan ekonomi di negara ASEAN dapat dipengaruhi oleh Goverment tata kelola pemerintah seperti penelitian yang dilakukan oleh Alam

Berdasarkan pernyataan dari Ibu Ernawati dapat diketahui bahwa memang masih lemahnya koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial dalam menangani anak putus sekolah, karena Dinas

In addition, collaborative governance also can expand and strengthen relationships, build trust among stakeholders by sharing health data and information, as well as establishing a

ABSTRAK Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengimplementasikan kebijakan mengenai penataan kawasan sempadan rel kereta api khususnya permukiman yang berada di Kecamatan

Conceptual Framework In this case, the co-production implemented at Pasardesa.id includes Co-planning by village-level institutions, especially PTC-19, which designs a data collection