* Corresponding Author
Email : [email protected]
© 2022 Author(s), Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan (13) 2 2022
P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977 DOI: 10.23960/administratio.v13i2.313 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)
ARTICLE
Keberlanjutan Program CSR Pengelolaan Sampah Organik dengan Black Soldier Fly (BSF) oleh PT. Pertamina Gas di Desa Penatarsewu
Nadiah Nur Hana1 and Arimurti Kriswibowo2*
1,2 Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Indonesia
How to cite: Hana, N.N., Kriswibowo, A., R. (2022) Keberlanjutan Program CSR Pengelolaan Sampah Organik dengan Black Soldier Fly (BSF) oleh PT. Pertamina Gas di Desa Penatarsewu. Administratio:
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(2)
Article History Received: 9 Juli 2022 Accepted: 11 September 2022
Keywords:
Waste Management Sustainability
Black Soldier Fly (BSF) CSR Program
Kata Kunci:
Pengelolaan Sampah Keberlanjutan
Black Soldier Fly (BSF) Program CSR
ABSTRACT
Population growth can be problematic not only for sociial and economic reasons, but also for for the environment. The environmental impact of an increasing population causes an increase in waste. Organic waste generation has a higher percentage than other types of waste both nationally and specifically in Sidoarjo Regency. Black Soldier Fly (BSF) larvae is one of the innovations in reducing organic waste. In order to address waste issues, not only the government but also the community and the private ector must work together. PT. Pertamina Gas is one of the BUMN initiated the innovation of the Corporate Social Responsibility (CSR) program for organic waste management using BSF to empower the community in Penatarsewu Village, Sidoarjo Regency. This study aims to analyze the sustainability of the CSR program of PT. Pertamina Gas manages organic waste using BSF in Penatarsewu Village. The research method used in this research is a qualitative research method. The data in this study was collected through observation, interviews, and documentation. The research results showed that the four of the six aspects of sustainability waste management PT. Pertamina Gas CSR Program organic waste management with BSF are showing good results: the technical aspects, the institutional that play a role in program activities, the existence of regulation and a clean village environment. Nevertheless, it is necessary to review and improve other aspects so that the program can have implications for the community and the environment in the Penatarsewu Village area.
ABSTRAK
Pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat dapat menjadi masalah tidak hanya baik dari segi sosial dan ekonomi tetapi juga lingkungan. Dampak dari bertambahnya penduduk pada lingkungan salah satunya menyebabkan bertambahnya jumlah sampah. Timbulan sampah organik mempunyai jumlah persentase lebih tinggi dibanding jenis sampah lainnya baik secara nasional maupun secara spesifik di Kabupaten Sidoarjo. Salah satu inovasi dalam mengurangi sampah organik yaitu dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Dalam menangani permasalahan sampah tidak hanya pemerintah tetapi juga diperlukan
142 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
partisipasi aktif dari masyarakat dan swasta. PT. Pertamina Gas merupakan salah satu BUMN yang menginisiasi inovasi program Corporate Social Responsibility (CSR) pengelolaan sampah organik dengan menggunakan BSF di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan program CSR PT. Pertamina Gas pengelolaan sampah organik dengan penggunaan BSF di Desa Penatarsewu, Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program CSR PT. Pertamina Gas pengelolaan sampah organik dengan BSF dari enam aspek keberlanjutan pengelolaan sampah terdapat tiga aspek menunjukkan hasil yang cukup baik diantaranya aspek teknis pengelolaan, aspek kelembagaan terdapat lembaga yang berperan dalam kegiatan program, dan lingkungan desa yang bersih. Meskipun begitu, diperlukan peninjauan dan pembenahan kembali terhadap aspek-aspek lainnya agar program dapat berimplikasi kepada masyarakat dan lingkungan di wilayah Desa Penatarsewu.
A. PENDAHULUAN
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan yang bekerja sama secara aktif dan dinamis dengan masyarakat untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan memperhatikan dan meningkatkan kualitas perusahaan, masyarakat setempat, dan publik (Marnelly, 2012). Tanggung jawab sosial harus dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan yang dicapai dalam masyarakat di mana perusahaan bekerja, agar tidak merugikan masyarakat setempat dan menimbulkan dampak lingkungan maupun limbah dari perusahaan. CSR juga harus mampu mengurangi dampak negatif yang timbul dari kegiatan operasional perusahaan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat (Asri & Insari, 2020).
Negara Indonesia merupakan negara berkembang dan negara terpadat peringkat ke-4 di dunia setelah Amerika (Worldometers, 2020). Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa sedangkan di tahun 2019 jumlah penduduk sebanyak 268,1 juta jiwa. Pertambahan jumlah penduduk membuat dinamika kehidupan masyarakat semakin tinggi dan dapat mempengaruhi sifat, karakteristik, sosial, dan budaya serta perilaku konsumtif masyarakat. Perilaku yang konsumtif tersebut tidak hanya mempengaruhi ekonomi namun juga mempengaruhi masalah lingkungan (Darmawan & Tahyudin, 2019).
Permasalahan sampah di Indonesia menjadi polemik yang hingga saat ini belum ada persoalan yang tepat dalam menanganinya. Berdasarkan data dari The Asean Post (2018) Indonesia menjadi negara yang menduduki peringkat kedua sebagai penghasil sampah ke lautan di dunia setelah China. Selain itu, data dari United Nations Environment Programme di tahun 2021 juga menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara pertama penghasil sampah di Asia Tenggara yang didominasi oleh limbah makanan berasal dari rumah tangga. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) di tahun 2020, timbunan sampah secara nasional mencapai 32,73 juta ton per tahun sedangkan di tahun 2019 sekitar 31,96 juta ton per tahun yang artinya dari tahun ke tahun timbunan sampah di Indonesia bertambah.
Sehingga benar seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia maka tingkat gaya hidup dan konsumsi masyarakat menjadikan masalah lingkungan dengan semakin bertambahnya volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat meningkat dari tahun ke tahun (Anggraini, 2015).
Sampah juga menjadi masalah serius di Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) di tahun 2020, Kabupaten Sidoarjo
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 143 merupakan kabupaten ke-4 setelah Kota Surabaya, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Pasuruan dengan timbulan sampah tertinggi di Jawa Timur. Hal ini dapat di lihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1 Rekapitulasi Timbulan Sampah di Jawa Timur Tahun 2020
Tahun Provinsi Kabupaten/Kota Timbulan Sampah Harian
(ton)
Timbulan Sampah Tahunan (ton) 2020 Jawa Timur Kota Surabaya 2,222.62 811,255.10 2020 Jawa Timur Kab. Banyuwangi 1,246.41 454,940.49 2020 Jawa Timur Kab. Pasuruan 1,163.11 424,534.20 2020 Jawa Timur Kab. Sidoarjo 1,086.24 396,476.90
Sumber : https://sipsn.menlhk.go.id
Berdasar tabel di atas, Kabupaten Sidoarjo di tahun 2020 menghasilkan sampah sebanyak 1.086 ton/hari. Data pada Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo cukup padat penduduknya dengan jumlah sebanyak 2,28 juta jiwa di tahun 2020. Tidak dipungkiri, dengan banyaknya penduduk di Kabupaten Sidoarjo jumlah produksi sampah setiap harinya terus bertambah dan hingga kini masih terdapat sampah yang belum terkelola dengan baik.
Komposisi sampah di Kabupaten Sidoarjo berdasar pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), paling banyak bersumber dari aktivitas rumah tangga. Kemudian berdasarkan jenisnya, sampah di Kabupaten Sidoarjo didominasi oleh sampah organik (sisa makanan) sekitar 70,3%. Hanya 29,7% yang berasal dari sampah non makanan seperti kayu/ranting, kertas/karton, plastik, logam, kain, karet/kulit, kaca, dan lainnya. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sampah organik menjadi urgensi permasalahan sampah yang harus segera diatasi agar tidak menimbulkan dampak buruk berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan mendasar dalam pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan oleh masyarakat yang masih berdasar pada pendekatan akhir, yaitu kumpul-angkut-buang ke tempat pemrosesan akhir sampah (TPA). Pengelolaan sampah seperti itu merupakan kebiasaan lama yang menjadikan masyarakat tidak berkelanjutan, sampah yang diangkut juga tidak semuanya terkelola dengan baik dan pada akhirnya akan menumpuk di TPA. Maka dari itu, diperlukannya strategi pengurangan dan pengelolaan sampah yang tepat untuk menangani sampah secara berkelanjutan khususnya sampah organik yang komposisinya paling banyak diproduksi oleh masyarakat. Salah satu inovasi dalam mengurangi sampah organik dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF).
Larva BSF atau yang biasa disebut dengan maggot berasal dari lalat BSF yaitu lalat tentara hitam dengan sayap berwarna kecoklatan dan antena di kepala. BSF merupakan metode pengelolaan sampah berkelanjutan yang menarik dan mempunyai potensi serta solusi yang tepat dalam mengubah limbah sampah organik seperti sayuran, buah-buahan, sampah rumah tangga, sisa-sisa hewan, dan kotoran hewan menjadi makanan larva yang dapat mengurangi beban di tempat pembuangan sampah sekaligus bernilai ekonomis (Nguyen et al., 2015). Larva BSF dinyatakan lebih efisien dan ramah lingkungan dalam mengubah limbah sampah organik karena terdapat perbedaan fisiologis dan biologis yang artinya mereka mengeluarkan jumlah emisi gas rumah kaca lebih rendah (Halloran (2018); Salam et al. (2021)).
Menyelesaikan permasalahan sampah merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan, sebagaimana sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) mengurangi timbulan sampah dengan pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan
144 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
kembali. Untuk menangani permasalahan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah setempat, namun perlu juga adanya partisipasi dari masyarakat, organisasi, dan pihak swasta untuk saling berupaya dan berkontribusi dalam menangani masalah sampah (Sekarningrum et al., 2021). Salah satu bentuk partisipasi perusahaan adalah dalam bentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR).
PT. Pertamina Gas Operation East Java Area (Pertagas OEJA) sebagai bentuk kewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Di tahun 2020, PT Pertamina Gas mulai menginisiasi program CSR yaitu pengelolaan sampah dengan budidaya BSF di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Hal yang membuat PT.
Pertamina Gas mengadakan program tersebut dikarenakan Desa Penatarsewu merupakan desa yang berada pada ring 1 PT. Pertamina Gas OEJA yang menjadi wilayah terdampak bagi keberadaan perusahaan. Desa tersebut kemudian dibina oleh PT. Pertamina Gas melalui program-program yang diadakan dan memberikan hasil yang membawa perubahan bagi desa tersebut. Akan tetapi, dengan keberhasilan program-program CSR yang terlebih dahulu dijalankan terdapat masalah sampah di desa tersebut yang masih belum teratasi dengan baik, ketidakpahaman warga dalam mengelola dan memanfaatkan sampah yang baik membuat masalah lingkungan bagi desa tersebut.
Sebagai bentuk kepedulian PT. Pertamina Gas OEJA untuk mengatasi masalah sampah rumah tangga dibuatlah program CSR pengelolaan sampah organik dengan BSF di Desa Penatarsewu dan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai media untuk mengatasi masalah sampah di desa. Dalam pelaksanaannya pengelolaan sampah organik dengan BSF ini dilakukan oleh lembaga masyarakat yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pengelola Sampah Desa Penatarsewu. PT. Pertamina Gas secara berkelanjutan melakukan pemberdayaan serta pembinaan kepada KSM melalui program tersebut. Hal ini guna menciptakan kesadaran masyarakat terhadap sampah dan mereka dapat berdaya dalam mengelola sampah serta untuk menciptakan masyarakat mandiri secara ekonomi melalui program-program yang diberikan oleh CSR PT. Pertamina Gas, salah satunya yakni dengan memberdayakan KSM Pengelola Sampah Penatarsewu untuk membudidayakan larva lalat BSF sebagai media pengentasan sampah dan dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.
Pembangunan yang berorientasi mewujudkan kemandirian masyarakat akan menjadi dasar untuk mewujudkan keberlanjutan suatu program (Asful, 2019). Tentunya, program pengelolaan sampah dengan budidaya BSF yang dilakukan oleh CSR PT. Pertamina Gas diharapkan dapat berkelanjutan. Hal tersebut dikarenakan pengelolan sampah dengan budidaya BSF ini dapat memberikan banyak manfaat bagi warga, selain mengurangi sampah juga dapat menjadikan lingkungan yang bersih serta meningkatkan perekonomian masyarakat.
Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana keberlanjutan program CSR PT. Pertamina Gas pengelolaan sampah organik dengan BSF di Desa Penatarsewu dan mendorong kemandirian masyarakat dalam mengatasi permasalahan sampah khususnya sampah organik. Urgensi keberlanjutan program juga perlu diperhatikan agar program yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat bagi penerima program dan mereka dapat mandiri untuk melanjutkan program dalam jangka panjang meskipun keterikatan dengan perusahaan dalam program berakhir. Dalam penelitian ini penulis mengkaji keberlanjutan program berdasarkan kajian teori Klundert and Anschutz (2001) dalam Wilson et al. (2013) mengenai keberlanjutan pengelolaan sampah yang terdapat enam aspek yaitu meliputi teknis pengelolaan, kelembagaan, ekonomi, peraturan/kebijakan, lingkungan dan sosial budaya.
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 145 B. TINJAUAN PUSTAKA
Pengelolaan Sampah
Sampah menurut Suyoto (2008) dalam Riswan et al. (2012) merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dari proses alam yang berbentuk padat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyebutkan bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehari- hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat dan sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus. Sedangkan menurut Sejati (2009) dalam Kahfi (2017), sampah merupakan bahan yang terdistorsi dari hasil kegiatan manusia atau alam yang tidak digunakan kembali karena fungsinya sudah diambil. Berbagai definisi dari para ahli, dapat disimpulkan bahwa sampah merupakan suatu materi atau bahan yang sudah tidak memiliki manfaat, tidak bernilai, tidak berharga dan tidak memiliki fungsi sebagai akibat dari aktivitas manusia maupun alam yang akhirnya terbuang.
Gelbert et al. (1996) menyebutkan sumber sampah terdiri dari 5 sumber yang berasal dari:
1) Sampah dari pemukiman penduduk; 2) Sampah dari tempat-tempat umum dan perdagangan;
3) Sampah dari saranan pelayanan masyarakat milik pemerintah; 4) Sampah dari industri; 5) Sampah dari pertanian. Menurut Sejati (2009) dalam Prasojo (2013), jenis sampah secara garis besar dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya.
Pengelolaan sampah berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 Pasal 4 menyebutkan bahwa tujuan dari pengelolaan sampah yaitu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Sampah harus dikelola dengan baik agar tidak menyebabkan risiko yang serius tidak hanya bagi lingkungan yang mencemari udara, air dan tanah tetapi juga bagi kesehatan makhluk hidup. Selain dapat menciptakan lingkungan yang bersih, pengelolaan sampah juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat (Abadi, 2013). Kegiatan pengelolaan sampah umumnya yaitu pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pendauran ulang atau pembuangan dan pemantauan akhir limbah.
Black Soldier Fly (BSF)
Black Soldier Fly (BSF) atau dalam bahasa latin disebut Hermetia illucens L. (Diptera:
Stratiomyidae) merupakan serangga yang berasal dari Amerika dan kemudian tersebar luas di daerah beriklim tropis, subtropis dan hangat di seluruh dunia (Diener et al., 2011). Black Soldier Fly (BSF) merupakan lalat tentara hitam dengan sayap berwarna kecoklatan dan antena di kepala. Antena terdiri dari 8 flagellomer dan flagellomer terakhir sepanjang antena, perut terdiri dari 5 segmen dengan bintik-bintik putih di perut. Betina umumnya lebih pendek dari jantan tetapi memiliki terminalia dan sayap yang lebih besar dari jantan. Lalat ini berukuran lebih besar dibanding lalat pada umumnya sekitar 13-20 mm (Singh & Kumari, 2019).
Dalam rangka mengurangi volume sampah organik, larva BSF saat ini menjadi banyak perhatian dalam pengelolaan sampah organik karena larvanya dapat mengelola limbah organik dengan mudah dan merupakan biokonverter yang ramah lingkungan. Mengelola sampah organik dengan menggunakan BSF dapat membantu mengurangi sekitar 53% hingga 80%
jumlah limbah organik (Nana et al., 2019). Selain itu, larva BSF cukup aman bagi kesehatan tidak menyebabkan penyakit, mengurangi biaya pengangkutan sampah, mengurangi penggunaan lahan TPA, serta dapat dimanfaatkan pada sektor pertanian, perternakan dan perikanan (Ranncak et al., 2017). Karena larva BSF memiliki sumber protein sebesar 45,2%
dan lemak sebesar 31,4% sehingga cocok sebagai sumber pakan ternak dan ikan dibandingkan dengan insekta lainnya yang dibudidaya sebagai pakan (Nguyen et al., 2015).
146 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Black Soldier Fly (BSF) pada dasarnya terdiri dari lima tahap siklus hidup sama seperti siklus hidup lalat pada umumnya yaitu: telur, larva, pupa, prapupa, dan dewasa. Lalat ini memiliki rentang hidup yang singkat dari telur ke dewasa dan tergantung dengan kondisi lingkungan sekitar.
Sumber : Surendra et al. (2020) dan dimodifikasi oleh penulis
Gambar 1 Siklus Hidup Black Soldier Fly
Dalam siklus hidupnya, lalat ini hanya kawin sekali selama hidup mereka karena mereka hanya hidup sekitar 5-8 hari di mana mereka harus kawin dan bertelur. Karena siklus hidupnya yang singkat, satu lalat betina dewasa dapat menghasilkan jumlah besar telur sekitar 500 – 900 telur (Singh & Kumari, 2019). Biasanya dua hari setelah kawin lalat betina akan bertelur setelah itu lalat betina mati, sedangkan untuk lalat jantan dewasa mati setelah mereka kawin.
Dalam waktu empat hari, telur yang dihasilkan akan menetas menjadi larva dengan rata-rata 13-18 hari. Pada awal menetas larva berukuran kurang lebih sekitar 2 mm, kemudian berkembang menjadi 5 mm, setelah itu terjadi pergantian kulit dan berkembang lebih besar hingga 20 – 55 mm (Wardhana, 2017). Pada tahap ini, larva makan sampah organik dua kali lipat dari beratnya, karena setelah mereka menjadi lalat dewasa mereka berhenti makan dan hanya mengandalkan lemak di tubuh mereka (Singh & Kumari, 2019). Diener (2009) dalam Alvarez (2012) mengatakan bahwa jenis makanan yaitu jenis sampah organik yang dikonsumsi sangat mempengaruhi ukuran larva BSF. Tahap larva merupakan tahap utama BSF yang berkaitan dengan pengelolaan sampah karena di tahap ini merupakan kemampuan larva yang dapat mereduksi sampah organik (Mutafela, 2015).
Kemudian pada tahap prapupa, mereka akan bermigrasi jauh dari sumber pakannya menuju tempat-tempat kering dan terlindungi untuk berubah menjadi pupa atau kepompong.
Prepupa BSF mencapai ukuran maksimum yang terdiri dari 36-48% protein dan 33% lemak (Singh & Kumari, 2019). Tahap terakhir dari siklus hidup larva BSF yaitu pupa, pupa biasanya berlangsung sekitar dua minggu untuk menjadi lalat dewasa dan akhirnya metamorfosis selesai ketika pupa telah menjadi lalat dewasa.
Corporate Social Responsiility (CSR)
Corporate Social Responsiility (CSR) berdasarkan definisi oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) merupakan sebuah komitmen usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang bekerja sama secara aktif dan dinamis antara perusahaan dengan
Siklus Hidup Black Soldier Fly
BSF
Life Cycle
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 147 masyarakat setempat untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan memperhatikan dan meningkatkan kualitas perusahaan, masyarakat setempat, dan publik (Marnelly, 2012). Widjaja (2008) juga mendefinisikan CSR sebagai komitmen dari perusahaan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan. Lebih lanjut lagi Kotler
& Nancy (2005) mengatakan dalam menjalankan sebuah komitmen perusahaan yang bertujuan untuk mensejahterahkan kelompok masyarakat melalui kegiatan bisnis harus berkontribusi terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Di Indonesia CSR atau tanggung jawab sosial diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan tujuan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat setempat dan masyarakat luas. David Crowther (2010) dalam Nayenggita et al. (2019) menjelaskan bahwa kegiatan CSR terdapat 3 prisip utama yaitu:
Pertama, sustainability (keberlanjutan) berkaitan dengan tindakan yang dilakukan saat ini dapat memberikan pengaruh atau dampak di masa depan. Kedua, accountability (pertanggung jawaban), perusahaan harus bertanggung jawab atas segala dampak dari tindakan yang diambil.
Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui dampak apa saja yang timbul dari tindakan yang dibuat. Ketiga, transparency (keterbukaan), prinsip dimana dampak yang ditimbulkan dari tindakan yang dibuat harus dilaporkan secara terbuka.
Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan menurut definisi dari Bruntland (1987) dalam Islami (2020) menyatakan pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan bagi generasi sekarang tanpa mempertaruhkan pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Sejalan dengan definisi dari Bruntland (1987), Yorisca (2020) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah proses perubahan segala kegiatan seperti pemanfaatan sumber daya, investasi, perkembangan teknologi, dan transformasi kelembagaan yang berada dalam kondisi seimbang serta dapat melengkapi kebutuhan saat ini dan masa depan. Islami (2020) melihat bahwa konsep pembangunan keberlanjutan membutuhkan pendekatan yang berkesinambungan dalam tiga aspek kehidupan, yakni lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Keberlanjutan Dalam Program Pengelolaan Sampah Organik dengan Black Soldier Fly (BSF)
Keberlanjutan sebuah program dipengaruhi oleh sejauh mana pelaksanaan program dapat mempengaruhi masyarakat dan memberikan dampak perubahan pada masyarakat untuk bersikap mandiri guna meningkatan kualitas kehidupan (Asful, 2019). Berbagai ahli telah menjelaskan mengenai pengelolaan sampah harus berkelanjutan. Menurut Klundert and Anschutz (2001) konsep keberlanjutan pengelolaan sampah sebagai sarana untuk mengartikulasikan visi pengelolaan sampah yang berfokus pada semua aspek, menjadi solusi yang tepat secara teknis, layak secara ekonomi dan dapat diterima secara sosial serta tidak merusak lingkungan karena masalah pengelolaan sampah. Untuk memperhatikan keberlanjutan pengelolaan sampah, Klundert and Anschutz (2001) dalam Wilson et al. (2013) menyebutkan terdapat tiga dimensi utama dalam pengelolaan sampah yaitu stakeholder, elemen sistem sampah dan aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan. Aspek-aspek dalam menilai keberlanjutan pengelolaan sampah mencakup enam elemen keberlanjutan yaitu meliputi teknis pengelolaan, kelembagaan, ekonomi, peraturan/kebijakan, lingkungan dan sosial budaya.
148 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Teknis pengelolaan, mengenai tahapan pengelolaan sampah terdiri dari pewadahan, pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, pemilahan, pengelolaan dan pembuangan akhir sampah. Kelembagaan, ketersediaan lembaga yang mengkoordinir kegiatan pengelolaan sampah. Ekonomi, dukungan biaya operasional dari pemerintah/swasta dan peluang ekonomi bagi masyarakat dari pelaksanaan pengelolaan sampah. Peraturan atau kebijakan, peraturan mengenai pelaksanaan pengelolaan sampah. Lingkungan, kualitas lingkungan yang dirasakan dari adanya pengelolaan sampah. Sosial budaya, mengacu pada partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Aspek-aspek tersebut dijadikan sebagai analisis terhadap keberlanjutan kegiatan program CSR pengelolaan sampah organik dengan BSF di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.
Penelitian Terdahulu
Dari penelitian sebelumnya, penelitian pertama yakni Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Domestik di Kampung Menoreh, Kelurahan Sampangan, Semarang oleh Abadi (2013) menunjukkan kegiatan pengelolaan sampah di Kampung Manoreh tidak berkelanjutan karena terdapat beberapa kendala yang kurang mendukung keberlanjutan program dengan kurangnya dari partisipasi masyarakat, lembaga yang terlibat dalam pengelolaan sampah tidak sepenuhnya menjalankan peran masing-masing, dan teknis pelaksanaan pengelolaan sampah mengenai sarana dan prasarana yang kurang memadahi. Relevansi pada penelitian ini adalah sama-sama menjelaskan mengenai keberlanjutan dalam pengelolaan sampah, namun perbedaan pada penelitian ini adalah metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut metode kualitatif dan kuantitatif sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan metode penelitian kualitatif, kemudian lokasi penelitian, dan jenis sampah yang dikelola juga berbeda.
Pada penelitian kedua yaitu Keberlanjutan Program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kota Pekanbaru oleh Islami (2020). Hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan program terus dilanjutkan. Namun dalam pelaksanaannnya partisipasi masyarakat menjadi faktor yang menghambat keberlanjutan program. Relevansi pada penelitian ini adalah fokus penelitian yang sama-sama menjelaskan keberlanjutan dari sebuah program. Perbedaannya adalah obyek penelitian, dalam penelitian ini obyeknya adalah program KOTAKU merupakan program pemberdayaan masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan sedangkan penelitian penulis mengenai program pengelolaan sampah organik dengan BSF.
Selanjutnya penelitian Asful (2019) yaitu tentang Keberlanjutan Program CSR untuk Pemberdayaan Komunitas Salingka Kampus di Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang. Hasil penelitian memperlihatkan pengelolaan program CSR PT. Semen Padang di Kelurahan Lambung bukit, Kecamatan Kota Padang sudah mengedepankan prinsip-rinsip pemberdayaan komunitas namun pada prinsip partisipasi, integrasi dan kolaborasi masih belum optimal.
Kemudian pada aspek keberlanjutan dalam aspek kelembagaan, finansial dan sosial budaya sudah sesuai harapan sedangan aspek lingkungan masih diperlukan optimalisasi. Relevansi dalam penelitian ini adalah menjelaskan mengenai pentingnya keberlanjutan program CSR untuk memberdayakan masyarakat dan mewujudkan kemandirian masyarakat sedangkan perbedaannya adalah obyek penelitian yang digunakan.
Berdasar pada interpretasi penelitian sebelumnya dan sepanjang pengetahuan penulis, bahwa belum adanya penelitian yang membahas mengenai keberlanjutan pengelolaan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF). Maka dari itu penelitian ini, diharapkan mampu menjadi pengetahuan baru mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan khususnya sampah organik.
C. METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 149 memahami peristiwa secara holistik dan deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan (Moleong, 2016). Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis keberlanjutan program CSR pengelolaan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF) oleh PT. Pertamina di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Fokus dalam penelitian ini yaitu mengenai keberlanjutan dari program pengelolaan sampah organik dengan menggunakan Black Soldier Fly (BSF) dengan menganalisis menggunakan indikator Klundert dan Anschutz (2001) dalam Wilson et al. (2013) yang terdiri dari enam aspek, diantaranya teknis pengelolaan, kelembagaan, ekonomi, peraturan atau kebijakan, lingkungan, dan sosial budaya.
Teknik perolehan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk informan dalam penelitian ini dilakukan oleh Ketua BUMDes, kelompok masyarakat KSM Pengelola Sampah sebagai pelaksana kegiatan sekaligus penerima manfaat program, dan Staff Community Development Officer (CDO) PT. Pertamina Gas. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan model interaktif menurut Miles et al. (2014) yang terdiri dengan empat cara: data collection (pengumpulan data), data condensation, data display, conclusions drawing/verification.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberlanjutan Program CSR Pengelolaan Sampah Organik dengan Black Soldier Fly (BSF)
Analisis keberlanjutan program CSR pengelolaan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF) dilakukan dengan enam aspek keberlanjutan diantaranya teknis pengelolaan, kelembagaan, ekonomi, peraturan dan kebijakan, lingkungan, dan sosial budaya. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan-temuan yang didapatkan di lapangan dapat digambarkan menjadi sebuah gambar sebagai berikut:
Sumber: Diolah oleh peneliti dari data primer (2022) mengadopsi teori Klundert dan Anschutz (2001) dalam Wilson et al. (2013).
Gambar 2 Sustainability CSR Program Organic Waste Management
Sustainability CSR Program Organic Waste
Management Ekonomi a. Dana Operasional b. Infrastruktur c. Peluang Ekonomi Teknis Pengelolaan
a. Dilakukan oleh KSM b. Distribusi sampah c. Pemilahan sampah d. Budidaya BSF e. Produksi output BSF
Kelembagaan a. KSM unit BUMDes b. Pendampingan dan
pelatihan c. Keterlibatan
lembaga dan instansi
Sosial Budaya a. Partisipasi masyarakat b. Perubahan perilaku
masyarakat c. Sosialisasi PT.
Pertamina Gas dan KSM
Peraturan dan Kebijakan a. Landasan hukum b. Sumber Operasional
Perusahaan (SOP)
Linkungan a. Kualitas lingkungan b. Kesehatan c. Timbulan sampah
150 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Teknis Pengelolaan
Teknis pengelolaan merupakan tata cara/alur yang dilakukan dalam mengelola sampah.
Mekanisme pengelolaan sampah merupakan salah satu aspek penunjang keberlanjutan pengelolaan sampah. Pada umumnya alur pengelolaan sampah dimulai dari pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan. Pengelolaan sampah budidaya BSF ini praktiknya sebagian besar dilakukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pengelola Sampah Desa Penatarsewu.
Teknis pengelolaan sampah dengan budidaya BSF dimulai dari pewadahan. Pada tahap ini pewadahan dilakukan oleh warga, mereka menyediakan dan mengumpulkan sampah ke wadah sementara yang diletakkan di depan rumah. Kemudian pengumpulan sampah dilakukan oleh KSM yang diambil dari setiap rumah warga. Tidak hanya sampah rumah tangga, KSM juga menggandeng pedagang-pedagang sayur keliling, pedagang makanan dan juga pedagang roti untuk mengumpulkan sisa-sisa makanan yang tidak terjual. Setelah mengumpulkan sampah dari setiap rumah warga dan diangkut ke TPS oleh KSM. Tahap selanjutnya adalah pemilahan sampah menjadi 2 jenis, sampah organik dan sampah non organik. Setelah dilakukan pemilahan sampah, hal yang dilakukan selanjutnya adalah tahap pengolahan sampah organik dengan BSF. Adapun alur pengelolaan sampah dapat dilihat dari gambar di bawah ini:
Sumber: Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pengelola Sampah BUMDes Sewu Barokah (2021)
Gambar 3 Alur Pengelolaan Sampah Organik Budidaya Black Soldier Fly (BSF) Berdasarkan gambar di atas setelah pemilahan, tahap selanjutnya biokonversi sampah organik menggunakan larva BSF. Sampah organik dicacah/dihaluskan dengan mesin pencacah.
Pencacahan ini dilakukan untuk mempermudah fermentasi dan memberi pakan untuk larva BSF. Pada tahap ini adalah tahapan utama yang menunjukkan kemampuan larva BSF dalam mereduksi sampah organik (Mutafela, 2015). Sekali pakan untuk larva BSF membutuhkan 50kg/meja olahan sampah organik dan dalam 1 hari 3 meja larva BSF dapat membutuhkan 450kg sampah organik. Kemudian tahap selanjutnya adalah pembudidayaan, larva BSF dibudidaya sampai usia kurang lebih 28 hari dan ketika siap dipanen larva akan diproses menjadi produk pakan ternak. Jenis-jenis produk BSF ini ada 3 macam jenis yaitu maggot kering, maggot segar, dan tepung maggot. Biasanya oleh KSM larva BSF diolah menjadi tepung maggot untuk jadi bahan campuran pelet.
Untuk proses produksi pakan ternak ini, larva BSF yang sudah dipanen digiling menjadi tepung kemudian dicampur dengan campuran bahan-bahan lain seperti tepung sisik ikan, tepung jagung, dan tepung tapioka. Bahan-bahan tersebut telah disarankan dan memiliki sumber protein yang dapat dijadikan bahan campuran sebagai pakan ternak. Sekali produksi pelet BSF ini rata-rata 5 hingga 10 kilogram dalam 1 bulan bisa mencapai kurang lebih 100
Sampah organik Pencacahan
sampah organik
Budidaya Larva Black Soldier Fly
Pemanenan larva untuk dijadikan produk pakan
ternak Proses produksi
1. Larva BSF 2. Tepung sisik
ikan
3. Tepung jagung 4. Tepung
tapioka Pemasaran produk
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 151 kilogram. Hasil produk pelet dari BSF ini dijual dengan harga sekitar Rp. 6.000,- hingga Rp.
8.000,- per 1 kilogramnya. Setelah proses produksi pelet BSF selesai, tahap akhir adalah pemasaran produk. Untuk pemasaran produk pelet BSF lebih banyak dilakukan penjualan dalam desa ke pengusaha-pengusaha tambak yang ada di desa belum sampai ke luar desa dikarenakan hasil produk dari pengelolaan sampah BSF ini dimanfaatkan untuk warga desa yang nantinya juga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Desa Penatarsewu (PADes).
Pada aspek teknis pengelolaan, sampah organik budidaya BSF sudah teratur dan sesuai dengan prosedur yang dibuat. Akan tetapi secara luas perlu dukungan dari warga untuk mengelola sampah terutama pada proses pemilahan sampah. Hal ini bertujuan untuk efisiensi waktu, KSM tidak perlu memilah lagi di TPS dan tentunya mempermudah KSM dalam mengelola sampah organik dengan BSF. Sesuai dengan pendapat Wulandini & Sembiring (2019) pemilahan sampah dapat mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke TPS dan dapat menghemat waktu.
Kelembagaan
Aspek kelembagaan mengenai adanya keterlibatan lembaga-lembaga atau organisasi dalam mengkoordinir kegiatan pengelolaan sampah baik dalam pelaksanaan kegiatan langsung maupun tidak langsung. Diketahui dalam pelaksanaan program pengelolaan sampah organik dengan BSF terdapat beberapa lembaga yang ikut terlibat dalam pelaksanannya. Pertama, lembaga kemasyarakatan yaitu KSM Pengelola Sampah. KSM Pengelola Sampah dibentuk atas Surat Keputusan BUMDes melalui Unit Pengelola Sampah yang beranggotakan 7 orang yang terdiri dari penanggung jawab, ketua BUMDes, Ketua KSM, dan 4 Anggota KSM.
Setyoadi (2018) mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah sangat bertopang penuh pada peran dari tokoh masyarakat yang mempunyai komitmen dalam mengelola sampah lingkungan. Peran dari KSM dalam program ini adalah mereka bergerak aktif dalam menjalankan kegiatan operasional program pengelolaan sampah organik budidaya BSF mulai dari pengangkutan sampah dari rumah ke rumah warga, memilah sampah sesuai jenisnya, mengelola sampah organik dengan BSF hingga penjualan hasil produk BSF.
Kedua, PT. Pertamina Gas berperan sebagai fasilitator, pendampingan dan pembinaan selama berjalannya program. Sebagai fasilitator, peran PT. Pertamina Gas memberikan fasilitas berupa pelatihan dan infrastruktur seperti rumah budidaya BSF, rumah produksi pakan organik, mesin pencacah sampah organik, mesin penggiling dan mesin produksi. Ketiga, PT. Pertamina Gas dalam memberikan fasilitas pelatihan program pengelolaan sampah organik budidaya BSF bekerja sama dengan Koloni BSF Jambangan Surabaya dan konsultan untuk memberikan pelatihan keterampilan dalam pengelolaan sampah organik budidaya BSF kepada KSM Pengelola Sampah. Dalam pelatihan ini, KSM diberikan pengetahuan terkait sampah, jenis- jenis sampah, nilai manfaat dari pengelolaan sampah, bagaimana mekanisme pengelolaan, dan bagaimana pemasaran hasil produk pengelolaan sampah dengan larva BSF. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas, pengetahuan, dan keterampilan KSM dalam menjalankan program. Pelatihan ini hanya dilakukan beberapa hari hingga dirasa KSM mampu mengoperasikan pengelolaan sampah dengan mandiri.
Keempat, PT. Pertamina Gas juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi ini sifatnya hanya menginformasikan bila ada kegiatan pengelolaan sampah dari DLHK maka KSM Pengelola Sampah Desa Penatarsewu dilibatkan sebagai narasumber yang dapat memberikan percontohan dalam mengelola sampah organik dengan memanfaatkan larva BSF di Kabupaten Sidoarjo.
Tujuannya agar pengelolaan sampah tersebut dapat diterapkan diberbagai wilayah dan dapat menjadi inovasi dalam pengurangan sampah di Kabupaten Sidoarjo. Keterlibatan dari berbagai lembaga dalam program CSR pengelolaan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF)
152 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
tersebut dapat memaksimalkan fungsi dan tujuan pengelolaan sampah serta dapat mengoptimalkan kegiatan pengelolaan sampah (Anastasia & Arif, 2022).
Ekonomi
Pada sapek ekonomi diketahui bawah sumber operasional dalam kegiatan pengelolaan sampah organik dengan BSF berasal dari iuran warga atau retribusi. Iuran warga ini disesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga, ada yang dikenakan Rp. 10.000,- dan ada yang Rp. 15.000,- per bulannya. Iuran warga ini digunakan untuk mendanai seluruh pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah, untuk mendanai gaji pelaksana, pengolahan BSF, dan pemeliharaan peralatan yang digunakan dalam program. Selain itu, sumber operasional yang didapatkan dari PT. Pertamia Gas untuk program tersebut dalam bentuk fasilitas. Fasilitas yang diberikan adalah penyediaan fasilitas kandang pembudidayaan BSF, bibit larva BSF dan mesin-mesin produksi. Selain fasilitas berupa infrastruktur, PT. Pertamina Gas juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan skill kelompok masyarakat. Output dari pembinaan dan pelatihan yang dilakukan di PT. Pertamina kepada KSM membentuk pemahaman dan kemampuan kelompok mengenai kegiatan pengelolaan sampah. Pada penelitian Aditya (2019) juga diketahui bahwa pelatihan mampu membentuk inisiatif dan inovatif kelompok dalam mengelola sampah.
Kemudian untuk manfaat ekonomi yang dirasakan dari program, pada awalnya program ini menghasilkan keuntungan karena produk yang dihasilkan dari pengelolaan sampah cukup terbilang banyak dan memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp. 500.000,- bagi KSM sebagai pengelola dan penerima manfaat. Akan tetapi, seiring berjalannya kegiatan pengelolaan sampah tersebut tidak memberikan tambahan pendapatan kembali sehingga tidak memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut adalah pemasaran hasil produk yang terhenti karena masih banyak pengusaha tambak dan peternak di desa belum mengetahui dan meyakini manfaat serta kandungan dari BSF untuk dijadikan pakan ternak. Menurut para peternak hasil produk BSF yang dijual lebih mahal dibandingkan dengan yang di pabrik sehingga membuat mereka lebih memilih pakan dari pabrik. Padahal studi mengatakan larva BSF memiliki sumber protein yang tinggi dan cocok sebagai sumber pakan ternak dan ikan dibandingkan dengan insekta lainnya yang dibudidaya sebagai pakan (Nguyen et al., 2015). Selain itu, kurang kooperatif dan solidaritasnya pengurus KSM dalam menjalankan pengelolaan sampah, memasarkan produk dan mengembangkan program pengelolaan sampah menjadi penyebab pengelolaan sampah tidak memberikan manfaat ekonomi. Kurang kooperatif dan solidaritas pengurus KSM ini dikarenakan tidak ada pembagian tugas yang benar untuk masing-masing anggota dalam mengelola sampah organik, pengelolaan hanya dilakukan oleh satu orang pegawai. Kurangnya pegawai artinya kekurangan tenaga dalam mengelola sampah sehingga kegiatan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tanda kurang kooperatifnya pengurus KSM tidak hanya terjadi pada KSM Pengelola Sampah di Desa Penatarsewu. Hal ini dapat diketahui juga dari penelitian Nugraheni & Widjonarko (2019) bahwa pengurus KSM kurang memberikan pemikiran kreatif untuk mengembangkan pengelolaan sampah yang menjadikan kegiatan tidak berlangsung sebenarnya.
Peraturan dan Kebijakan
Konsep dasar PT. Pertamina Gas dalam mendirikan program pengelolaan sampah organik dengan BSF ini adalah dilatarbelakangi oleh bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai wujud untuk memajukan desa dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur kebijakan yang mewajibkan perusahaan melakukan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 153 masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 yang menyebutkan bahwa setiap orang wajib menangani dan mengurangi sampah.
Menurut Kahfi (2017) kepastian hukum diperlukan dalam pengelolaan sampah agar pengelolaan dapat dilaksanakan secara proporsional. Peraturan pengelolaan sampah secara luas di Desa Penatarsewu ini diatur dalam Peraturan Desa Penatarsewu tentang pengelolaan sampah dan Peraturan Desa Penatarsewu Nomor 9 Tahun 2018 tentang Badan Usaha Milik Desa.
Sedangkan untuk kebijakan yang mengatur secara khusus mengenai kegiatan pengelolaan sampah organik dengan budidaya BSF ini belum ada. Seharusnya diperlukan peraturan yang dapat memperjelas kegiatan pelaksanaan pengelolaan sampah organik dengan BSF dan dengan adanya peraturan dapat membantu masyarakat menyadari pentingnya mengelola sampah mulai dari sumbernya (Wulandini & Sembiring, 2019). Akan tetapi program ini memiliki Standar Operasional Perusahaan (SOP) mengenai prosedur pemeliharaan, pembiakan dan manfaat larva BSF yang terpasang di kandang budidaya BSF. Menurut Anastasia & Arif (2022) adanya SOP secara tidak langsung meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan.
Namun, untuk prosedur teknis pengolahan larva menjadi pakan ternak tidak dijelaskan lebih lanjut dalam SOP yang tertera. Padahal dengan dimuatnya penjelasan tentang teknis pengolahan larva menjadi pakan ternak dapat memberikan informasi yang lebih detail bagi pengelola dan pengunjung tentang bagaimana tahapa pengelolaan sampah organik dengan budidaya larva dari awal hingga akhir.
Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud dalam hal ini adalah kualitas lingkungan yang dirasakan dari adanya program pengelolaan sampah dengan BSF. Berdasarkan hasil penelitian adanya pengelolaan sampah organik budidaya BSF ini kualitas lingkungan desa cukup terjaga kebersihannya dan mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah. Hal ini dikarenakan sampah di lingkungan desa sudah terkoordinir pengelolaannya secara individual dan komunal sehingga tidak terlihat sampah yang berserakan di lingkungan desa, di sepanjang jalan desa maupun di sungai-sungai.
Mahyudin (2014) mengatakan pengelolaan sampah dapat gagal jika jumlah sampah terlalu banyak dan akan mengakibatkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Dengan adanya program pengelolaan sampah ini, cukup mengurangi timbulan sampah yang ada di TPS.
Dalam sehari sampah yang terkumpul di TPS rata-rata sekitar 0,8 ton/hari, jika diakumulasikan dalam 1 bulan rata-rata berkisar 24 ton/bulan sampah bertambah di TPS. Dengan adanya larva BSF yang mampu mengurai sampah dalam jumlah banyak yang sekali pakan 1 meja budidaya larva membutuhkan 50kg, untuk 3 meja budidaya larva yang ada di kandang BSF membutuhkan 450kg/hari sampah organik. Sehingga volume sampah di TPS kira-kira dapat berkurang berkisar 13,5 ton sampah/bulan (KSM Pengelola Sampah Desa Penatarsewu, 2022).
Keberadaan program pengelolaan sampah tersebut juga tidak mengganggu lingkungan.
Bagi para pengelola, larva BSF ini tidak menimbulkan bau yang menyengat dan tidak terdapat keluhan bau, keluhan kesehatan maupun kebisingan dari mesin-mesin produksi yang dirasakan dari para pengelola maupun masyarakat. Menurut Ranncak et al. (2017) larva BSF cukup aman bagi kesehatan tidak menimbulkan penyakit. Selain itu juga, suara mesin yang dikeluarkan dari proses produksi larva BSF tidak mengganggu aktivitas masyarakat dikarenakan terdapat ruangan khusus untuk produksi dan lokasi kandang BSF berada di TPS yang jauh dari pemukiman warga yang artinya keberadaan pengelolaan sampah budidaya BSF tidak mengganggu masyarakat.
154 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Sosial Budaya
Kahfi (2017) mengatakan bahwa partisipasi dari masyarakat diperlukan dalam pengelolaan sampah agar dapat dilakukan secara komprehensif, efektif, dan efisien. Amelinda
& Kriswibowo (2021) juga mengatakan partisipasi masyarakat mampu mengurangi jumlah timbulan sampah dan melakukan pengelolaan sampah yang efektif. Maka dari itu, keterlibatan masyarakat melalui tindakan-tindakan penanganan sampah merupakan kunci dalam keberlanjutan pengelolaan sampah.
Dari hasil penelitian di lapangan, partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan sampah organik budidaya BSF terdapat kelompok masyarakat yakni KSM Pengelola Sampah yang menjalankan aktivitas program sampah. Adanya KSM yang menangani dan mengelola sampah maka artinya ada keterlibatan masyarakat dalam menjalankan kegiatan program.
Perubahan perilaku juga terlihat dari cara masyarakat menangani sampah dengan menjaga lingkungan desa terbebas dari sampah yang mana sebeumnya masyarakat Desa Penatarsewu masih membuang sampah sembarangan di sungai-sungai, di halaman kosong ataupun di jalanan sekarang mereka sudah menyediakan wadah sampah di depan rumah mereka.
Pembayaran iuran sampah yang dibebankan kepada warga setiap bulannya sudah rutin dilakukan meskipun terdapat perbedaan nominal yang disesuaikan dengan status ekonomi warga.
Sedangkan untuk pemilahan sampah, masyarakat masih belum memiliki kesadaran untuk melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Hal ini disebabkan sosialisasi tentang adanya program oleh PT. Pertamina Gas dan KSM Pengelola Sampah belum menyeluruh kepada masyarakat yang membuat banyak warga belum mengetahui keberadaan program tersebut. Akibatnya, membuat tidak adanya partisipasi masyarakat secara langsung pada kegiatan program terutama dalam pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, sampah organik dan non organik. Hal ini juga membuat mereka merasa belum memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan program. Saputro et al. (2015) mengatakan bahwa permasalahan utama dari pemilahan sampah adalah bagaimana meningkatkan kesadaran dalam memilah sampah.
Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi program dan strategi untuk mengajak masyarakat terlibat pada kegiatan program dan menjadikan masyarakat mandiri berinisiatif mengelola sampah secara individual terutama dalam memilah sampah mana yang sampah organik dan non organik.
E. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan di atas, maka kesimpulan dan temuan penting yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. PT. Pertamina Gas OEJA mendirikan program pengelolaan sampah organik dengan BSF dikarenakan Desa Penatarsewu merupakan desa binaan PT. Pertamina Gas OEJA melalui program-program CSR yang diadakan oleh perusahaan salah satunya adalah program pengelolaan sampah organik dengan BSF. Program ini didirikan untuk mengatasi masalah sampah rumah tangga khususnya sampah organik. Program ini bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai media untuk mengatasi masalah sampah di desa dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh lembaga masyarakat KSM Pengelola Sampah. Bersamaan dengan itu, program ini juga dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam mengelola sampah yang berkelanjutan.
b. Inovasi pengelolaan sampah khususnya sampah organik dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) merupakan alternatif degredasi sampah yang cukup terjangkau karena selain mereduksi sampah organik dalam jumlah besar, mengurangi jumlah sampah di TPS, larva BSF dapat dijadikan pakan ternak karena kandungan
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 155 protein larva lebih tinggi dibandingan dengan insekta lainnya sekaligus memiliki nilai ekonomis.
c. Berdasarkan analisis 6 aspek keberlanjutan pengelolaan sampah menurut Klundert dan Anschutz (2001) dalam Wilson et al. (2013). Pada aspek teknis pengelolaan telah sesuai dengan prosedur yang telah dibuat mulai dari pewadahan, pengumpulan, pemilahan, pengolahan, pembudidayaan larva BSF hingga pemrosesan larva BSF menjadi produk. Pada aspek kelembagaan, terdapat lembaga-lembaga yang berperan dalam pelaksanaan program pengelolaan sampah seperti lembaga masyarakat, PT.
Pertamina Gas OEJA yang berperan dalam penyediaan infrastruktur dan pelatihan kepada kelompok masyarakat. Pelatihan ini meningkatkan pemahaman kelompok masyarakat KSM Pengelola Sampah mengenai permasalahan sampah, jenis sampah, dan bagaimana mengelola sampah. Kemudian aspek peraturan dan kebijakan, terdapat SOP yang mendukung efisiensi pelaksanaan program. Aspek lingkungan adanya program cukup berdampak pada lingkungan desa dan TPS. Lingkungan terjaga kebersihannya dari sampah dan timbulan sampah yang ada di TPS berkurang.
Sedangkan aspek ekonomi dan sosial budaya dirasa kurang memiliiki peluang keberlanjutan program. Tidak kooperatifnya KSM dalam menjalankan program, penjualan produk, kurangnya pengetahuan dari petambak dan peternak terkait manfaat dari produk pakan ternak BSF menjadikan program pengelolaan sampah tidak memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kemudian tidak ada partisipasi masyarakat dalam program terutama dalam berinisiatif melakukan pemilahan sampah.
Program CSR yang baik merupakan program yang dapat berkelanjutan meskipun sudah tidak ada campur tangan atau keterikatan perusahaan lagi. Program CSR pengelolaan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF) dapat dikatakan dapat berkelanjutan terlihat dari enam aspek terdapat empat aspek yakni teknis pengelolaan, kelembagaan, peraturan dan kebijakan, dan lingkungan menunjukkan potensi keberlanjutan. Sedangkan dua aspek lainnya kurang menunjukkan potensi keberlanjutan program dan masih harus diperhatikan kembali.
REFERENSI
Abadi, R. S. (2013). Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Domestik di Kampung Menoreh, Kelurahan Sampangan, Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 9(1), 87.
https://doi.org/10.14710/pwk.v9i1.6529
Aditya, R. (2019). Analisis Penta Helix dalam Melihat Keberlanjutan Program CSR Patratura pada Tahun 2017. Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 4(2), 149.
https://doi.org/10.24235/empower.v4i2.5320
Alvarez. (2012). The Role of Black Soldier Fly, Hermetia illucens (L.) (Diptera: Stratiomyidae) in Sustainable Management in Northern Climates. University of Windsor. Ontario.
Amelinda, A. D., & Kriswibowo, A. (2021). Collaborative Governance in Waste Management (Study In The Integrated Waste Management Site Of Tambakrejo Area, Sidoarjo Regency). Dia, 19(1), 29–40. https://doi.org/10.30996/dia.v15i2.4842
Anastasia, B. W., & Arif, L. (2022). Strategi Pengelolaan Sampah di Kota Mojokerto dalam Perspektif Analisis Strengths, Opportunities, Aspirations, Results. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 4(4), 2623–2633.
https://doi.org/10.34007/jehss.v4i4.1129
Anggraini, A. (2015). Strategi Inovatif Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Perkotaan (Studi Pada Bank Sampah “Sri Wilis” Perum Wilis II Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Jurnal Administrasi Publik Mahasiswa Universitas Brawijaya, 3(11), 1837–
1843.
156 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Asful, F. (2019). Keberlanjutan Program CSR untuk Pemberdayaan Komunitas Salingka Kampus di Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang. Prosiding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 10–18. http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/snk/article/view/3573 Asri, T. M., & Insari, F. F. (2020). Evaluasi Program Corporate Social Responsibility (Csr)
Program Bank Sampah Delima Pada Pt Pertamina Ep Asset 4 Field Cepu. Profetik: Jurnal Komunikasi, 12(2), 309. https://doi.org/10.14421/pjk.v12i2.1709
BPS. (2020). Jumlah Penduduk Hasil SP2020 menurut Wilayah dan Jenis Kelamin (Orang).
Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Darmawan, B., & Tahyudin, D. (2019). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Bank Sampah Sakura Kelurahan Talang Kelapa Palembang. Jurnal Empirika, 4(1), 1410–
8364.
Diener, S., Zurbrügg, C., Gutiérrez, F. R., Nguyen, D. H., Morel, A., Koottatep, T., & Tockner, K. (2011). Black Soldier Fly Larvae for Organic Waste Treatment – Prospect and Constraints. International Conference on Solid Waste Management in the Developing Countries, 2.
Gelbert, M. Al, Prihanto, D., & Suprihatin, A. (1996). Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup dan ”Wall Chart”. Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup, PPPGT/VEDC.
Malang.
Halloran, A. (2018). The Social Impacts of Using Black Soldier Flies for Bioconversion: A Preliminary Assessment from South Africa. GREEiNSECT: Insects for Green Economy, University of Copenhagen, Denmark. https://greeinsect.ku.dk/publications/more- presentations/The_social_impact_of_using_black_soldier_flies_for_bioconversion.pdf Islami, M. E. (2020). Keberlanjutan Program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kota
Pekanbaru. JOM Fisip Unri, 7(1), 1–15.
https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/27640
Kahfi, A. (2017). Tinjauan Terhadap Pengelolaan Sampah. Jurisprudentie : Jurusan Ilmu
Hukum Fakultas Syariah Dan Hukum, 4(1), 12.
https://doi.org/10.24252/jurisprudentie.v4i1.3661
Kotler, P., & Nancy, L. (2005). Corporate Social Responsibility. Doing The Most Good for Your Company and Your Cause. New Jersey: Jan Wiley & Sons.
Mahyudin, R. P. (2014). Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan. EnviroScienteae, 10(1), 33–40.
Marnelly, T. R. (2012). Corporate Social Responsibility (CSR): Tinjauan Teori dan Praktek di Indonesia. Jurnal Aplikasi Bisnis, 2(2), 49–59.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A methods Sourcebook. California: SAGE Publications Inc.
Moleong, L. J. (2016). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mutafela, R. N. (2015). High Value Organic Waste Treatment via Black Soldier Fly Bioconversion. Royal Institute of Technology.
Nana, P., Kimpara, J. M., Tiambo, C. K., Tiogue, C. T., Youmbi, J., Choundong, B., & Fonkou, T. (2019). Black Soldier Flies (Hermetia illucens Linnaeus) as Recyclers of Organic Waste and Possible Livestock Feed. International Journal of Biological and Chemical Sciences, 12(5). https://doi.org/10.4314/ijbcs.v12i5.4
Nayenggita, G. B., Raharjo, S. T., & Resnawaty, R. (2019). Praktik Corporate Social Responsibility (CSR) Di Indonesia. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial, 2(1), 61.
https://doi.org/10.24198/focus.v2i1.23119
Nguyen, T. T. X., Tomberlin, J. K., & Vanlaerhoven, S. (2015). Ability of Black Soldier Fly (Diptera: Stratiomyidae) Larvae to Recycle Food Waste. Environmental Entomology, 44(2), 406–410. https://doi.org/10.1093/ee/nvv002
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158 | 157 Nugraheni, A. . P., & Widjonarko, W. (2019). Keberlanjutan Tempat Pengolahan Sampah
Terpadu di Desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali. Jurnal Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Dan Kota), 8(4), 209–216.
Prasojo, R. (2013). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat Di Dusun Badegan Desa Bantul Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul. Skripi. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta.
Ranncak, G. T., Alawiyah, T., & Hadi, T. (2017). Kajian Pengolahan Sampah Organik dengan BSF (Black Soldier Fly) di TPA Kebon Kongok. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 1(1), 1–15. Sampah, TPA, BSF, Daur Ulang
Riswan, Sunoko, H. R., & Hadiyanto, A. (2012). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kecamatan Daha Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 9(1), 31–39.
Salam, M., Alam, F., Dezhi, S., Nabi, G., Shahzadi, A., Hassan, S. U., Ali, M., Saeed, M. A., Hassan, J., Ali, N., & Bilal, M. (2021). Exploring the Role of Black Soldier Fly Larva Technology for Sustainable Management of Municipal Solid Waste in Developing Countries. Environmental Technology & Innovation, 24, 101934.
https://doi.org/10.1016/j.eti.2021.101934
Saputro, Y. E., Kismartini, & Syafrudin. (2015). Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Melalui Bank Sampah. Indonesian Journal of Conservation, 4(1), 83–94.
Sekarningrum, B., Sugandi, Y. S., & Yunita, D. (2021). Penerapan Model Pengelolaan Sampah
“Pojok Kangpisman.” Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(3), 548.
https://doi.org/10.24198/kumawula.v3i3.29740
Setyoadi, N. H. (2018). Faktor Pendorong Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat Di Kota Balikpapan Dan Bogor. Jurnal Sains &Teknologi Lingkungan, 10(1), 51–66. https://doi.org/10.20885/jstl.vol10.iss1.art5
Singh, A., & Kumari, K. (2019). An Inclusive Approach for Organic Waste Treatment and Valorisation Using Black Soldier Fly larvae: A Review. Journal of Environmental Management, 251(September), 109569. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2019.109569 SIPSN. (2020). Timbulan Sampah di Indonesia. Jakarta: Sistem Informasi Pengelolaan
Sampah.
Surendra, K. C., Tomberlin, J. K., van Huis, A., Cammack, J. A., Heckmann, L. H. L., &
Khanal, S. K. (2020). Rethinking Organic Wastes Bioconversion: Evaluating The Potential of The Black Soldier Fly (Hermetia Illucens (L.)) (Diptera: Stratiomyidae) (BSF). Waste Management, 117, 58–80. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2020.07.050 The Asean Post, T. (2018, 19 November). Indonesia’s Plastic Waste Problem.
https://theaseanpost.com/article/indonesias-plastic-waste-problem
United Nations Environment Programme. (2021). Food Waste Index Report 2021. In Unep.
Wardhana, A. H. (2017). Black Soldier Fly (Hermetia illucens) as an Alternative Protein Source for Animal Feed. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences, 26(2), 069. https://doi.org/10.14334/wartazoa.v26i2.1327
Widjaja, G. (2008). 150 Pertanyaan tentang Perseroan Terbatas: Membahas Secara Lengkap
& Tuntas Berdasarkan UU No. 40 Th. 2007 & Peraturan Pelaksanaannya Tentang Pendirian, AD/ART PT, Modal & Saham PT, RUPS, Peran Direksi & Komisaris, Corporate Social Responsibility (CSR), P.
Wilson, D. C., Velis, C. a., & Rodic, L. (2013). Integrated sustainable waste management in developing countries. Proceedings of Institution of Civil Engineers: Waste and Resource Management, 166(2), 52–68. https://doi.org/10.1680/warm.12.00005
Worldometers. (2020). World Population. https://www.worldometers.info/world-population/
158 | Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 141-158
Wulandini, A., & Sembiring, E. (2019). Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Mandiri Di RW 09 Kelurahan Cigereleng, Kota Bandung. Jurnal Permukiman, 14(2), 92.
https://doi.org/10.31815/jp.2019.14.92-103
Yorisca, Y. (2020). Pembangunan Hukum Yang Berkelanjutan: Langkah Penjaminan Hukum Dalam Mencapai Pembangunan Nasional Yang Berkelanjutan. Journal of Chemical Information and Modeling, 17(1), 100.