• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 jurnal indonesia unila

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "5 jurnal indonesia unila"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

* Corresponding Author

Email : [email protected]

© 2022 Author(s), Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan (13) 1 2022 Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan

Volume 13 (1) 2022: 63-80 P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977

DOI: 10.23960/administratio.v13i1.297 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)

ARTICLE

Middle-income Trap: Upaya Pembangunan Manusia dan Peran Pemerintah

Tasya Pramasela1*, Subagio2

1,2 Politeknik Keuangan Negara STAN, Jl. Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten.

How to cite: Pramasela, T.Subagio, S. (2022). Middle-income Trap: Upaya Pembangunan Manusia dan Peran Pemerintah. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(1)

Article History Received: 6 April 2022 Accepted: 12 Mei 2022

Keywords:

Human development, foreign direct investment, household consumption expenditure, government expenditure, corruption, government intervention

Kata Kunci:

pembangunan manusia, foreign direct investment, pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, korupsi, peran pemerintah

ABSTRACT

The most important reason why the middle-income countries, including Indonesia, can't reach the level of economic growth in high-income countries is that their level of productivity is lower than high-income countries. In order to increase their productivity levels, they must primarily increase human development. The study aims to test determinants that influence human development and the importance of government intervention. The research object is middle-income countries in the period 2015--2019. Data panel is used and tested using fixed effect model approach. The results showed household consumption and government expenditure had positive effect on human development. Meanwhile, foreign direct investment and corruption have no effect on human development. The results of this study are expected to be inputs and considerations for the Indonesian government in order to create strategies and public policies that support national development that focuses on improving the capabilities and competitiveness of their people through human development.

ABSTRAK

Salah satu penyebab utama negara berpendapatan menengah (middle-income countries-MICs), termasuk Indonesia, tidak dapat mencapai pesatnya pertumbuhan ekonomi di negara berpendapatan tinggi adalah tingkat produktivitas dan pembangunan ekonomi yang lebih rendah. Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan pembangunan ekonomi, MICs tersebut harus meningkatkan pembangunan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji determinan yang mempengaruhi pembangunan manusia serta pentingnya campur tangan pemerintah.

Objek penelitian meliputi negara berpendapatan menengah dalam kurun waktu 2015--2019. Data yang digunakan merupakan data panel yang diuji menggunakan pendekatan fixed effect model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia. Sementara itu, foreign direct investment dan korupsi tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah Indonesia dalam rangka menciptakan strategi dan kebijakan publik yang mendukung pembangunan nasional yang fokus pada peningkatan kemampuan dan daya saing masyarakat melalui pembangunan manusia.

(2)

64 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

A. PENDAHULUAN

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh rata-rata negara berpendapatan menengah, termasuk Indonesia, adalah jebakan pendapatan menengah atau Middle Income Trap (MIT). MIT adalah kondisi suatu negara yang telah mengalami perkembangan ekonomi hingga berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi stuck dan tertahan untuk keluar menjadi negara berpendapatan tinggi (ADB, 2018). MIT bukanlah merupakan suatu tantangan baru. Studi oleh World Bank menyatakan bahwa hanya ada 13 negara dari 101 ekonomi berpendapatan menengah pada tahun 1960 telah menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2008 (Larson et al., 2016). Fenomena ini sangat jelas terlihat pada negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang dalam kurun waktu 20 tahun terakhir tidak ada satupun negara berpendapatan menengah yang berhasil keluar menjadi negara berpendapatan tinggi.

Sejarah mencatat Indonesia telah dikategorikan sebagai negara dengan pendapatan menengah sejak tahun 1985. Namun, hingga tahun 2018 Indonesia masih tetap berada pada kategori pendapatan yang sama. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan ekonomi yang telah dilakukan selama 33 tahun masih belum mampu untuk mendorong ekonomi Indonesia ke kelompok negara pendapatan tinggi. Dalam Laporan World Bank tahun 2020, Indonesia untuk pertama kalinya Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas sejak pertama kali ditetapkan menjadi negara berkembang pada tahun 1960. Presiden Joko Widodo menanggapi fakta tersebut dengan optimisme bahwa Indonesia dapat menjadi negara maju yang berpendapatan tinggi pada tahun 2045 apabila dapat memanfaatkan secara maksimal seluruh potensi yang ada (Ihsannudin, 2020).

Kementerian Keuangan (2020) menyatakan untuk bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah diperlukan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen per tahun mulai dari tahun 2020 s.d. 2030. Salah satu potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah bonus demografi pada tahun 2030 – 2040, yaitu jumlah penduduk dengan usia produktif (15 – 64 tahun) melebihi penduduk yang berusia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Walaupun secara demografi mendukung, kualitas tenaga kerja dan iklim usaha di Indonesia hingga saat ini masih belum baik dan perlu dilakukan banyak perbaikan.

Human Development Index (HDI) Indonesia saat ini masih berada pada peringkat 107 dari 189 negara di dunia, tertinggal jauh dari Thailand atau Malaysia yang masing-masing berada di peringkat 79 dan 69 dari 189 negara. Selain itu, kondisi ini dapat terlihat dari rendahnya rata-rata kontribusi total factor productivity (TFP) dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2010 hingga 2017 yang hanya sekitar 0,6% dari rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,3%

(Muhammad, 2020). Badan Kebijakan Fiskal menyatakan rendahnya TFP tersebut mencerminkan rendahnya produktivitas dan inefisiensi produksi. Selain tantangan tersebut, BPS (2021) menyatakan bahwa profil tenaga kerja Indonesia saat ini masih didominasi oleh lulusan SD yaitu sebesar 37%. Sementara itu, tenaga kerja yang berpendidikan tinggi yaitu Diploma dan Universitas hanya sebesar 12,92%. Hal ini tentunya merupakan tantangan Indonesia untuk memiliki tenaga kerja yang reaktif, produktif, dan berdaya saing utamanya di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini.

Masalah rendahnya kualitas SDM ini harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah Indonesia. Hal ini agar bonus demografi yang ada tidak berbalik menjadi negatif demografi yang akan mengancam kesejahteraan masyarakat. Dengan ini, penulis bertujuan untuk melakukan penelitian dalam rangka menguji pengaruh faktor-faktor yang berpotensi akan mempengaruhi pembangunan manusia di negara berpendapatan menengah pada tahun observasi yaitu 2015 s.d.

2019.

(3)

B. TINJAUANPUSTAKA

Pentingnya pembangunan manusia didasari oleh teori pertumbuhan ekonomi endogen yang dipelopori oleh Romer (1986). Teori tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi didukung oleh knowledge externality. Suatu negara akan lebih pesat pembangunan ekonominya dari negara lain karena negara tersebut memiliki rata-rata stock knowledge yang lebih tinggi yang menyebabkan meningkatnya produktivitas produksi. Teori ini didukung oleh teori human capital yang diutarakan oleh Lucas (1988) yaitu kapasitas sumber daya manusia memiliki nilai yang sebanding dengan sumber daya lain yang terlibat dalam produksi barang dan jasa bahkan akan memberikan positive spillover bagi pembangunan ekonomi.

Pembangunan manusia didefinisikan oleh UNDP (1990) sebagai proses untuk memperbesar pilihan bagi manusia, di antaranya untuk menikmati hidup layak, untuk berpendidikan, terjaminnya hak asasi manusia, dan pilihan-pilihan lainnya. Pada semua tingkat perkembangan, tiga pilihan penting dalam kehidupan manusia adalah dapat memperkaya pengetahuan, memiliki kehidupan yang panjang dan sehat, serta perluasan akses terhadap sumber daya dalam upaya perbaikan standar kehidupan yang laiak. Jika ketiga pilihan tersebut tidak dapat terpenuhi, maka pilihan-pilihan lainnya cenderung tidak dapat diakses oleh masyarakat.

Anand & Ravallion (1993) menyatakan bahwa tujuan akhir dan utama dari pembangunan ekonomi adalah apa yang bisa dan dapat dilakukan atau kapabilitas manusia di dalamnya. Tiga korelasi pembangunan manusia dikaitkan dengan kesejahteraan atau kemakmuran agregat, yaitu:

1) peningkatan kapabilitas melalui pertumbuhan ekonomi; 2) peningkatan kapabilitas melalui menurunnya kemiskinan; dan 3) peningkatan kapabilitas dengan layanan publik. Pertama, peningkatan kapabilitas dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dinilai dapat meningkatkan kapasitas SDM baik secara langsung ataupun tidak langsung. Misalnya, saat pendapatan per kapita meningkat, masyarakat akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mendapatkan makanan, perawatan kesehatan, layanan medis, pendidikan dasar, dan kebutuhan lainnya yang akan menyebabkan standar hidup dan harapan hidup yang lebih tinggi. Kedua, peningkatan kapabilitas melalui menurunnya kemiskinan. Pernyataan ini didukung oleh fakta rendahnya kemampuan SDM di negara-negara miskin. Terakhir, peningkatan kapabilitas dengan layanan publik. Penyediaan barang dan jasa publik oleh pemerintah seperti layanan air bersih, sanitasi, perawatan kesehatan, perlindungan epidemiologi, pendidikan dasar, dan sebagainya mengarah pada peningkatan social outcomes. Korelasi ini akan menjadi kerangka dasar pemilihan variabel bebas yang akan mempengaruhi pembangunan manusia dalam penelitian ini.

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pembangunan manusia melalui pertumbuhan ekonomi adalah foreign direct investment (FDI). Ozturk (2007) menggunakan model pertumbuhan endogen menunjukkan bahwa FDI dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dengan dua cara. Pertama, FDI diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pembentukan modal dan transfer teknologi (Borensztein et al., 1998) dan meningkatkan knowledge stock ekonomi host country melalui pelatihan tenaga kerja dan akuisisi keterampilan produktivitas tenaga kerja (De Mello, 1999). Temuan ini didukung Sharma & Gani (2004) serta Assadzadeh & Pourqoly (2013). Pengaruh ini berasal dari peran FDI dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan pekerjaan, pelatihan tenaga kerja, peningkatan fasilitas kesehatan, dan pendidikan melalui pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, pengaruh positif FDI terhadap pertumbuhan ekonomi tidak selalu mendukung pembangunan manusia. Aitken & Harrison (1999), Firdauzi (2020), dan Korle et al.

(2020) menemukan bukti empiris bahwa FDI tidak berpengaruh signifikan terhadap HDI, bahkan

(4)

66 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

dapat berdampak negatif. Hal ini disebabkan oleh potensi dominasi MNC terhadap perusahaan domestik. Dengan demikian, hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H1: Foreign direct investment berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia Selanjutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi pembangunan manusia melalui penanggulangan kemiskinan adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga. Pengeluaran konsumsi rumah tangga biasanya digunakan untuk mengukur aspek moneter dari dimensi kemiskinan (Yankson, 2019). Dalam hal ini, individu atau rumah tangga yang pendapatan atau konsumsinya berada di bawah ambang batas pendapatan untuk kelangsungan hidup sehari-hari dikategorikan sebagai miskin. Konsumsi rumah tangga dinilai lebih menggambarkan bagaimana standar hidup masyarakat sehari-hari dibandingkan dengan pendapatan (Lewis, 2014). Sejalan dengan itu, Kira (2013) dan Afiftah et al. (2018) menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembangunan manusia. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu yang telah disebutkan sebelumnya, maka hipotesis kedua penelitian ini adalah sebagai berikut.

H2: Konsumsi rumah tangga berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia Faktor selanjutnya yang mempengaruhi pembangunan manusia melalui layanan publik yaitu pengeluaran pemerintah yang tidak dapat dipisahkan dari tantangan korupsi. Menurut Keynes (1936) menyatakan bahwa dalam rangka mencapai kesejahteraan, dibutuhkan peran besar dari pemerintah. Pengujian atas pengaruh pengeluaran publik terhadap pembangunan manusia telah dilakukan beberapa kali, namun masih terdapat research gap sebagaimana dalam Baldacci et al.

(2008), Subandoro (2017), Omoredo (2019), serta Maharda dan Aulia (2020) menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif signifikan terhadap pembangunan manusia sedangkan hasil berbeda diungkapkan oleh Kim & Kim (2011) dan Ali et al. (2012) yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah belum efektif dan efisien dalam meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sistem berjalan yang belum efisien, pengeluaran yang tidak tepat sasaran, dan layanan publik yang masih belum merata dalam sektor tersebut. Dari hasil penelitian tersebut, dapat diartikan bahwa pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pembangunan manusia tidak mutlak dan terdapat faktor lainnya yang menentukan efektivitas pengeluaran pemerintah dalam meningkatkan pembangunan manusia. Dengan demikian, hipotesis ketiga penelitian ini adalah sebagai berikut.

H3: Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia Peningkatan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan hanya akan menghasilkan peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan di negara-negara dengan tata kelola yang baik (Rajkumar & Swaroop, 2008). Chetwynd et al. (2003) dan Hysa (2011) mengklaim bahwa korupsi menghambat pembangunan manusia melalui rendahnya pertumbuhan ekonomi, menghambat investasi pada sektor pendidikan dan kesehatan, tingginya angka kematian bayi dan anak, serta mendorong ketimpangan pendapatan.

Kaufmann et al. (1999) menyatakan bahwa korupsi dapat menurunkan kapabilitas pemerintah yang akan berdampak pada rendahnya peran pemerintah di dalam masyarakat dan terancamnya kesejahteraan sosial. Menurunnya kapabilitas pemerintah ini disebabkan oleh distorsi dalam pengambilan kebijakan publik, program sosial yang tidak tepat sasaran, dan aturan

(5)

hukum yang tidak ditegakan. Hal ini kemudian akan mengikis kepercayaan masyarakat dan mengurangi modal sosial. Akhirnya, ketidakberdayaan pemerintah akan melemahkan perannya dalam melayani dan mensejahterakan masyarakat. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu yang telah disebutkan sebelumnya, maka hipotesis terakhir penelitian ini adalah sebagai berikut.

H4: Korupsi berpengaruh negatif terhadap pembangunan manusia C. METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan model regresi data panel. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang mengacu pada informasi yang telah ada (Sugiyono, 2016). Proses pengujian dan analisis data akan dilakukan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.

Analisis akan ditujukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas berupa pengeluaran pemerintah, FDI, dan korupsi terhadap pembangunan manusia sebagai variabel terikat. Dengan demikian, pengujian hipotesis akan dengan melakukan analisis koefisien determinasi, uji signifikansi simultan (uji-f), dan uji signifikansi parsial (uji-t). Namun sebelumnya, perlu dilakukan pemilihan model regresi terbaik antara model common effect, fixed effect, atau random effect menggunakan uji Chow, uji Breusch-Pagan Langrange Multiplier (LM), dan uji Hausman.

Di samping itu, uji asumsi klasik tetap dilakukan agar hasil yang didapatkan ketika meregresikan variabel bebas terhadap variabel terikat menjadi tidak bias (Gujarati dan Porter, 2012).

Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh negara berkategori berpendapatan menengah menurut klasifikasi World Bank yang meliputi 104 negara. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016). Penelitian ini menggunakan purposive sampling karena memerlukan sampel dengan kriteria yang dibutuhkan untuk setiap variabel yang akan diuji. Oleh karena itu, perusahaan yang dijadikan sampel penelitian dengan teknik purposive sampling adalah perusahaan yang memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1) Negara yang berkategori berpendapatan menengah sesuai kategori Bank Dunia per Desember 2019.

2) Negara dengan data lengkap untuk semua variabel penelitian selama periode 2015 s.d.

2019.

3) Negara yang memiliki data FDI positif selama periode 2015 s.d. 2019.

4) Negara dengan Z-Score absolut kurang dari ± 2,5.

Analisis regresi data panel dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari FDI, konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan korupsi serta variabel kontrol lainnya terhadap pembangunan manusia. Variabel kontrol yang dipilih pada penelitian ini adalah keterbukaan perdagangan. Menurut Ibrahim & Sare (2018) dan Hamdi & Hakimi (2021), keterbukaan perdagangan akan menguntungkan masyarakat melalui peningkatan standar hidup. Dengan adanya perdagangan yang bebas maka masyarakat akan mendapatkan harga terbaik di pasar yang akan mempermudah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Operasionalisasi dari tiap variabel penelitian terdapat pada Tabel 1.

(6)

68 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Penelitian

Nama Sumber Data Operasionalisasi Variabel Pembangunan Manusia

(HDI) UNDP

Foreign direct investment

(FDI)

World Bank

FDI adalah aliran ekuitas investasi langsung pada akhir periode pelaporan yang merupakan jumlah modal ekuitas, reinvestasi pendapatan, dan modal lainnya dari perusahaan atau negara asing ke negara tuan rumah tujuan yang diukur menggunakan satuan dolar AS saat ini. Penelitian ini menggunakan Logaritma natural (Ln) dari total FDI.

Konsumsi Akhir Rumah Tangga per

Kapita (CON)

World Bank

CON adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa, termasuk produk jangka panjang seperti mobil, mesin cuci, ataupun alat elektronik dibeli oleh rumah tangga yang diukur dalam dolar AS harga konstan 2010.

Total ini kemudian dibagi oleh jumlah penduduk menghasilkan konsumsi akhir rumah tangga per kapita yang digunakan sebagai pengukuran CON dalam penelitian ini.

Pengeluaran Konsumsi Akhir Pemerintah

(GOVEXP)

World Bank

GOVEXP mencakup nilai barang dan jasa yang dibeli atau diproduksi oleh pemerintah dan diserahkan kepada masyarakat untuk keperluan konsumsi dalam satuan dolar AS saat ini. Penelitian ini menggunakan Logaritma natural (Ln) dari total GOVEXP.

Corruption perception index

(CPI)

Transparency International

CPI adalah indeks gabungan, kombinasi dari berbagai survey internasional dan penilaian korupsi yang dikumpulkan dari masyarakat, ekonom, pejabat publik, dan elemen masyarakat lainnya dan diolah hasilnya oleh lembaga independen. CPI memiliki skala 0—

100. Semakin mendekati 100, maka negara tersebut semakin bersih dari praktik korupsi.

Keterbukaan Perdagangan (TRADE)

World Bank

Sumber: Diolah penulis (2021)

Berdasarkan variabel-variabel yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya serta masalah penelitian yang telah dirumuskan, terdapat satu model dalam penelitian ini. Model pertama untuk

(7)

menguji pengaruh FDI, konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan korupsi terhadap pembangunan manusia sebagaimana model regresi penelitian berikut:

HDIit = β0It + β1FDIit + β2CONit + β3GOVEXPit + β4CPIit + β5TRADEit + ε Keterangan:

HDIit : Pembangunan Manusia FDIit : Foreign Direct Investment CONit : Konsumsi Rumah Tangga GOVEXPit : Pengeluaran Pemerintah CPIit : Korupsi

TRADEit : Keterbukaan Perdagangan

β0it : konstanta

ε : error

D. HASILDANPEMBAHASAN

Gambaran Umum dan Hasil Pengujian

Dari 104 negara berpendapatan menengah yang dijadikan populasi penelitian, 48 negara berpendapatan menengah dipilih menjadi sampel penelitian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dari 48 negara berpendapatan menengah tersebut, sebanyak 15 negara berada di benua Asia, 9 negara di benua Eropa, 13 negara di benua Amerika, dan 11 negara di benua Afrika dengan 25 negara berkategori berpendapatan menengah atas dan 23 berkategori negara berpendapatan menengah bawah. Gambaran umum dan hasil statistic deskriptif data sampel penelitian disajikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Gambaran Umum Sampel Penelitian

Sumber: Diolah penulis (2021)

Sebelum dilakukan pengujian statistik inferensial model penelitian menggunakan regresi data panel, pemilihan model regresi terbaik dan pengujian asumsi klasik telah dilakukan.

Hasilnya adalah fixed effect model dipilih menjadi model regresi penelitian dan data penelitian terkena masalah heterokedastisitas. Hoechle (2007) menyatakan bahwa ketika eror hanya mengalami masalah heteroskedastisitas, maka perlakuan yang tepat adalah dengan

Benua Jumlah Negara

Rata- Rata HDI

Rata- Rata FDI

Rata- Rata CON

Rata-Rata GOVEXP

Rata-Rata CPI

Rata-Rata TRADE

Afrika 11 0,60 20,94 1766,33 22,82 35,87 0,63

Amerika 13 0,73 21,79 4167,72 23,40 32,98 0,58

Asia 15 0,69 21,78 2370,49 23,41 34,23 0,83

Eropa 9 0,80 21,07 4823,95 22,64 39,20 0,96

(8)

70 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

menambahkan opsi robust pada regresi melalui perintah xtreg, fe vce(robust). Oleh karena itu, pengujian regresi penelitian ini akan menggunakan fixed effect model dengan opsi robust.

Pada Tabel 3 disajikan nilai r-squared untuk model penelitian adalah sebesar 0,3799. Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa variasi nilai pembangunan manusia dapat dijelaskan oleh variabel bebas dalam model penelitian ini sebesar 37,99 %. Sisa persentase sebesar 62,01%

dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar dari model penelitian. Hasil uji f pada penelitian ini berdasarkan hasil regresi Tabel 3 menunjukan bahwa nilai probabilitas F-statistik yang kurang dari tingkat signifikansi α (0,05) yaitu sebesar 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa H0 ditolak yang berarti bahwa seluruh variabel bebas dalam penelitian secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel terikat.

Tabel 3. Hasil Regresi Model Penelitian

HDI Coef. Robust

St.Err. t-value p-

value [95% Conf Interval] Sig FDI 0,0014284 0,0024918 0,57 0,569 -0,003584 0,006441

CON 0,00013 0,000049 2,90 0,006 0,000003 0,000022 ***

GOVEXP 0,0396218 0,0111233 3,56 0,001 0,017244 0,061999 ***

CPI 0,0003402 0,0004665 0,73 0,469 -0,000598 0,001278

TRADE 0,0576301 0,0124375 4,63 0,000 0,032609 0,082651 ***

Constant -

0,3430424

0,2464779 -1,39 0,171 -0,838891 0,152807

Mean dependent var 0,700 SD dependent var 0,092

R-squared 0,379 Number of obs 240

F-test 20,396 Prob > F 0,000

Akaike crit. (AIC) -1585,872 Bayesian crit. -1568,469

*** p<.01, ** p<.05, * p<.1

Sumber: Hasil Output Stata 16.0

Hasil uji signifikansi parsial (uji-t) dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi Stata 16.0 untuk memperoleh nilai probabilitas p-value masing-masing variabel bebas.

Pada stata, nilai p-value yang dihasilkan masih merupakan hipotesis dua arah (two-tailed).

Hipotesis dua arah digunakan pada hipotesis yang arah hubungan dari variabel bebas dan terikatnya belum ditentukan. Perumusan hipotesis dalam penelitian ini telah menentukan arah hubungan antara variabel bebas dan variabel kontrol terhadap variabel terikat sehingga nilai p- value harus dibagi dua agar hipotesis menjadi one-tailed (Field, 2009). Adapun Hasil uji t untuk model penelitian yang digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel 4.

(9)

Tabel 4. Hasil uji-t model penelitian Variabel Dugaan Coefficient Two-tailed

Prob.

One-tailed

Prob. Keterangan

FDI + 0,0014284 0,569 0,2845 H1 ditolak

CON + 0,000013 0,006 0,0030 H2 diterima

GOVEXP + 0,0396218 0,001 0,0005 H3 diterima

CPI + 0,0003402 0,469 0,2345 H4 ditolak

TRADE + 0,0576301 0,000 0,0000

Sumber: Diolah penulis dari Aplikasi Stata 16.0

Hasil uji-t berdasarkan Tabel 4 pada model penelitian menunjukkan bahwa hipotesis kedua dan ketiga diterima karena miliki One-tailed Prob. kurang dari tingkat signifikansi α (0,05).

Namun, hipotesis satu dan keempat penelitian ini ditolak karena memiliki nilai One-tailed Prob.

lebih besar dari tingkat signifikansi α (0,05). Hal ini berarti konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia, sedangkan foreign direct investment, dan korupsi tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia di negara berpendapatan menengah.

Pembahasan

Pengaruh FDI terhadap Pembangunan Manusia

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diketahui bahwa foreign direct investment tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia. Hasil penelitian ini sejalan beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Firdauzi (2020) dan Korle et al. (2020). Walaupun demikian, hasil ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sharma & Gani (2004) dan Assadzadeh & Pourqoly (2013) yang menyatakan bahwa meningkatnya FDI di suatu negara akan meningkatkan pembangunan manusia di negara tersebut.

Menurut OECD (2002), FDI dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara tuan rumah melalui saluran-saluran berikut ini, yaitu: 1) transfer dan adopsi teknologi baru; 2) peningkatan modal manusia; 3) mendorong keterbukaan ekonomi; 4) meningkatkan kompetisi pasar; dan 5) pembangunan dan restrukturisasi perusahaan domestik. Namun demikian, pengaruh tersebut tidak secara otomatis dirasakan oleh negara tuan rumah. Semua tergantung pada kondisi domestik negara tuan rumah, seperti human capital, tingkat keterbukaan ekonominya, kondisi ekonomi dan teknologi, tingkat persaingan, dan kerangka peraturan. Karenanya, FDI dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar di negara maju dengan kesiapan ekonomi yang lebih besar daripada di negara miskin dan berkembang.

Pernyataan tersebut mendukung analisis lebih lanjut dari hasil penelitian ini. Pada Gambar 1 terlihat perbedaan tren FDI dan HDI yang cukup signifikan di antara 3 negara berpendapatan menengah dengan PDB tertinggi pada sampel penelitian yaitu Argentina, India, dan Indonesia dan 3 negara berpendapatan menengah dengan PDB terendah pada sampel penelitian yaitu Nikaragua, Cambodia, dan Nepal. PDB suatu negara disepakati dapat menggambarkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di negara tersebut (Anand dan Ravallion, 1993).

(10)

72 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

Gambar 1. Tren FDI dan HDI pada MICs

Sumber: Diolah penulis dari World Bank (2021) dan UNDP (2020)

Pada negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, nampak bahwa penurunan dan peningkatan pembangunan manusia memiliki hubungan yang searah dengan arus FDI yang masuk ke negara tersebut. Sedangkan pada negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lemah, hubungan antara tingkat pembangunan manusia dan arus FDI yang masuk ke negaranya tidak dapat didefinisikan. Pengaruh FDI yang tidak signifikan terhadap pembangunan manusia dalam penelitian ini diduga disebabkan oleh digunakannya 23 negara berpendapatan menengah bawah dari 48 negara sampel penelitian.

Adanya transfer dan adopsi teknologi, peningkatan sumber daya manusia, tambahan modal, serta keterbukaan ekonomi yang dihasil oleh FDI dinilai dapat mendorong percepatan ekonomi di negara berpendapatan menengah dalam bentuk produktivitas ekonomi yang lebih tinggi sehingga negara tersebut dapat terbebas dari middle income trap, dan keluar menjadi negara maju berpenghasilan tinggi. Tetapi, dampak tersebut belum tentu berakhir positif bagi negara tuan rumah. Berdasarkan analisis dan penelitian terdahulu yang telah dilakukan di atas, dibutuhkan kesiapan ekonomi dari negara tuan rumah dalam bentuk pertumbuhan ekonomi dan tingkat teknologi, pembangunan infrastruktur yang menyeluruh, tingkat persaingan perusahaan lokal (Aitken & Harrison, 1999), upaya pembangunan manusia yang merata (Wang et al., 2021), hingga kerangka peraturan yang jelas (OECD, 2002) agar negara tersebut dapat terus menarik investor untuk menanamkan modalnya dan mendapatkan manfaat besar dari FDI terhadap pembangunan manusia dalam bentuk upah, keterampilan dan skill, serta lapangan pekerjaan.

Dengan ini, maka pemerintah harus mengambil peran yang besar dalam memberikan fasilitas dan kebijakan yang memberikan kemudahan investasi. Khususnya bagi pemerintah Indonesia, penting untuk memberikan perhatian pada implementasi dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK). Dengan adanya kemudahan investasi ini, diharapkan investasi asing ini akan turut serta membangun proyek strategis nasional serta bermitra dengan koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka memulihkan dan membangun perekonomian Indonesia sehingga dapat menjadi negara maju berpenghasilan tinggi pada tahun 2045.

Pengaruh Konsumsi Rumah Tangga terhadap Pembangunan Manusia

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diamati bahwa konsumsi rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembangunan manusia. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kira (2013) dan Afiftah et al. (2018) yang menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga

(11)

memiliki pengaruh positif signifikan terhadap tingkat pembangunan manusia. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Keynes (1936) yang menyatakan bahwa prestasi tertinggi dari pembangunan ekonomi suatu negara dilihat dari tingkat pengeluaran agregat di masyarakat. Sebagaimana tujuan akhir pembangunan ekonomi negara adalah kesejahteraan masyarakat (Anand dan Ravallion, 1993), maka tingkat pengeluaran masyarakat akan mempengaruhi terpenuhinya kesejahteraan masyarakat di suatu negara.

Teori absolut income hypothesis yang dinyatakan oleh Keynes (1936) menyatakan bahwa konsumsi masyarakat adalah fungsi dari pendapatan disposable yang dimiliki. Pendapatan disposable didapatkan dari usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam mempertahankan kehidupannya. Hasil penelitian Kira (2013) menyatakan tugas utama pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat adalah memastikan keseimbangan antara pengeluaran agregat dan penawaran agregat. Hal ini karena apabila permintaan agregat lebih besar daripada penawaran agregat maka kebutuhan masyarakat tidak akan terpenuhi yang menyebabkan kondisi sosial ekonomi tidak kondusif. Sebaliknya, apabila permintaan agregat kurang dari penawaran agregat maka produktivitas ekonomi tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Keadaan under demand ini jika dibiarkan maka output negara akan menurun yang diiringi dengan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi under demand dapat dilihat jelas pada masa pandemi COVID-19. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh European Central Bank pada awal tahun 2020, konsumsi rumah tangga turun lebih dari 10% rata-rata pada kuartal kedua 2020 dibandingkan kuartal kedua 2019 (Christelis et al., 2020). Dominasi konsumsi yang sekitar 50-70% dari PDB di negara berkembang menyebabkan hampir semua negara mengalami pertumbuhan ekonomi negatif yang signifikan. Hasil survei World Bank (2020) turut menunjukkan 24 persen dari kepala keluarga (KK) yang dijadikan responden mengalami pemberhentian kerja, 64 persen KK pendapatannya berkurang, dan sekitar 30 persen rumah tangga dilaporkan kekurangan bahan makanan.

Pemerintah merespon keadaan ini dengan mengeluarkan paket-paket kebijakan strategis dalam rangka memberikan stimulus bagi perekonomian agar dampak pandemi tidak semakin dalam dan melebar. Upaya ini dapat dilihat dari Program Strategis untuk Memberdayakan Rakyat dan Ekonomi (Pemerkasa) sebesar RM40 miliar atau Rp138 triliun (asumsi Rp3.400/RM) yang diluncurkan oleh pemerintah Malaysia (Primadhya, 2021), Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan total anggaran sebesar Rp695,2 triliun oleh pemerintah Indonesia (Kementerian Keuangan, 2020), dan Program Auxilio Emergencial yang memberikan bantuan tunai kepada lebih dari 1,2 juta jiwa kepala keluarga yang dikeluarkan oleh pemerintah Brazil (World Bank, 2020). Semua program perlindungan sosial tersebut baik berupa cash transfer secara langsung ataupun tidak langsung dinilai efektif dan menjadi harapan untuk dapat menjaga daya beli masyarakat, membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat, dan perlahan memulihkan ekonomi.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap Pembangunan Manusia

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diamati bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembangunan manusia. Hasil penelitian ini sejalan dengan Baldacci et al. (2008), Subandoro (2017), Omoredo (2019), serta Maharda dan Aulia (2020) yang menyatakan pengeluaran pemerintah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pembangunan manusia Hasil ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Ali et al. (2012) dan Kim & Kim (2011) yang nyatakan bahwa pengeluaran pemerintah tidak berpengaruh signifikan terhadap pembangunan manusia.

(12)

74 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

Hasil penelitian mendukung pendapat Keynes (1936) dalam General Theory of Employment Interest and Money yang menyatakan bahwa campur tangan pemerintah melalui kebijakan fiskal dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Campur tangan pemerintah ini dapat dalam bentuk kebijakan pemerintah. Karenanya, jika pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk melakukan pembangunan, maka pengeluaran pemerintah akan meliputi semua biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan tersebut (Mangkoesoebroto, 2002). Untuk itu, diperlukan upaya serius dari pemerintah untuk melakukan tindakan-tindakan agar pengeluaran negara dapat lebih efektif dan efisien dalam mempercepat pembangunan manusia. Sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya, pengaruh positif dari pengeluaran pemerintah terhadap pembangunan manusia ini disebabkan oleh pengeluaran pemerintah pada sektor pendidikan dan kesehatan.

Pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan menurut teori pertumbuhan endogen Romer (1986) diyakini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui keterampilan dan kemampuan dari angkatan kerja. Pendidikan memiliki dua eksternalitas positif (Shen et al., 2018), yaitu: i) pendidikan menambah pengetahuan dan keterampilan pekerja sehingga produktivitasnya ikut meningkat, dan ii) pendidikan memberikan multiplier effect terhadap konsumsi dan saving yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Adanya eksternalitas positif yang dihasilkan oleh pendidikan biasanya menyebabkan permintaan individu (private) atas layanan pendidikan berada di bawah permintaan sosial. Dengan ini, intervensi pemerintah dibutuhkan dalam rangka meningkatkan permintaan individu.

Selain pendidikan, pengeluaran pemerintah pada sektor kesehatan memegang peran yang sama pentingnya dalam pembangunan manusia, hal ini dapat dilihat dengan sangat jelas pada masa pandemi COVID-19. Mulai dari melalui subsidi kepada produsen, ataupun bantuan langsung kepada masyarakat. Sebagai contoh adalah Pemerintah Indonesia yang merespon keadaan tidak terduga ini melalui bantuan langsung pemberian 35 juta masker kepada masyarakat melalui TNI dan Polri (Kemenko Perekonomian, 2021), sementara itu pemerintah Hongkong menanggulangi ini dengan memberikan subsidi kepada produsen melalui program Local Mask Production Subsidy Scheme agar dapat meningkatkan kapasitas produksinya (CEDB HK, 2020). Apabila langkah ini tidak dilakukan, maka masyarakat akan diharapkan dengan keadaan yang merugikan seperti berpotensi terpapar virus ataupun banyaknya penimbun masker yang menjual dengan harga yang sangat tinggi.

Dengan adanya intervensi pemerintah pada sektor kesehatan, masyarakat akan lebih mudah untuk mengakses fasilitas kesehatan dan tingkat rata-rata kesehatan masyarakat akan meningkat.

Kemampuan fisik yang lebih baik tersebut merupakan salah satu modal penting bagi masyarakat dalam berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. Kondisi fisik yang mendukung disertai dengan pengetahuan dan keterampilan akan meningkatkan daya saing mereka dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih layak dan kompensasi yang lebih tinggi. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk melihat perbedaan tingkat pengeluaran kesehatan pemerintah per kapita di antara Malaysia, Thailand, Indonesia, dan rata-rata negara LMICs dan UMICs pada Gambar 2 berikut.

(13)

Gambar 2. Pengeluaran Kesehatan Pemerintah per Kapita

Sumber: Diolah penulis dari World Bank (2021)

Sampai dengan tahun 2019, HDI Indonesia masih berada di peringkat 107 dari 189 negara di dunia. Indonesia tertinggal cukup jauh dari HDI Thailand atau Malaysia yang berada di peringkat 79 dan 69 dari 189 negara. Pada Gambar 2 terlihat jelas komitmen Thailand dan Malaysia dalam menunjang kesehatan masyarakatnya. Hasil analisis ini sesuai dengan hasil penelitian Baldacci et al. (2008) yang menyatakan intervensi pemerintah dalam sektor kesehatan akan meningkatkan pendapatan individu dan status kesehatan penduduk adalah salah satu alat prediksi utama suksesnya pembangunan ekonomi. Pendapat ini diasosiasikan dengan angka harapan hidup meningkat sebesar 0,6 persen menyebabkan kenaikan PDB per kapita sebesar 0,5 persen per tahun.

Pengaruh Korupsi Terhadap Pembangunan Manusia

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diamati bahwa korupsi tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Huang (2016), Cabaravdic & Nilsson (2017) dan Asra (2020) yang menyatakan bahwa korupsi tidak berpengaruh terhadap tingkat pembangunan manusia. Hasil ini tidak sepakat dengan beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Akcay (2006), Subandoro (2017), dan Hysa (2011) yang menyatakan bahwa ada pengaruh negatif antara tingkat korupsi dan pembangunan manusia, semakin tinggi tingkat korupsi maka negara tersebut cenderung memiliki tingkat pembangunan manusia yang lebih rendah.

World Bank (2000) menyatakan bahwa korupsi tidak secara langsung menyebabkan kemiskinan, tetapi korupsi menghambat pembangunan dengan mendistorsi landasan institusional dan aturan hukum di mana pertumbuhan ekonomi bergantung. Perbedaan hasil dalam penelitian ini diduga karena adanya hubungan moderasi korupsi terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan pembangunan manusia. Hubungan moderasi tersebut berkaitan dengan tiga jenis korupsi sesuai definisi Transparency International yaitu grand corruption, petty corruption, dan political corruption. Ketiga definisi tersebut mendukung adanya pengaruh korupsi terhadap efektivitas pemerintah baik dari sisi kebijakan ataupun kualitas layanan yang diberikan dalam melayani masyarakat.

(14)

76 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

Gambar 3. Korupsi berdasarkan institusi

Sumber: Diolah penulis dari Transparency International (2020)

Alasan ini didukung oleh survei The Global Corruption Barometer Asia 2020 yang dipublikasikan oleh Transparency Internasional (2020). Hasil dari survei terhadap lebih dari 20.000 responden di negara-negara Asia selama 12 bulan terakhir tersebut menyatakan bahwa pemerintahan adalah lahan basah untuk praktik korupsi sesuai dengan Gambar 3. Praktik yang paling umum ditemukan adalah suap untuk mendapatkan layanan publik, 1 dari 5 orang yang mendapatkan akses layanan publik melakukan suap. Dengan demikian, korupsi perlu dijadikan perhatian utama oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

E. SIMPULAN

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh foreign direct investment, konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan korupsi terhadap pembangunan manusia. Objek penelitian meliputi negara berpendapatan menengah menurut kategori World Bank yang terdiri dari negara berpendapatan menengah atas dan negara berpendapatan menengah bawah dalam kurun waktu 2015 s.d. 2019. Hasil estimasi regresi menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pembangunan manusia, sedangkan foreign direct investment, dan korupsi tidak berpengaruh terhadap pembangunan manusia di negara berpendapatan menengah. Walaupun demikian, peran besar pemerintah sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kelayakan iklim investasi serta upaya pemberantasan korupsi di negaranya.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, implikasi kebijakan yang penulis sarankan kepada pemerintah Indonesia, di antaranya adalah:

a. Bagi BKPM, agar lebih memperhatikan ketentuan terkait dengan investasi asing yang masuk ke dalam negeri agar berjalan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Memonitoring dan mengevaluasi proses yang sedang berjalan agar dapat mengutamakan tenaga kerja domestik dan adanya transfer teknologi kepada perusahaan dan tenaga kerja lokal. Selain itu, agar lebih memberikan perhatian pada implementasi dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK). Dengan adanya kemudahan investasi ini, diharapkan investasi asing ini akan turut serta membangun proyek strategis nasional serta bermitra dengan koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka memulihkan dan membangun perekonomian Indonesia sehingga dapat menjadi negara maju berpenghasilan tinggi pada tahun 2045.

b. Bagi Kementerian Keuangan, agar lebih mengkaji alokasi pengeluaran pemerintah melalui mekanisme APBN agar lebih tepat sasaran dalam menyejahterakan masyarakat. Di masa

(15)

pandemi ini, sektor kesehatan dan bantuan sosial sangat krusial bagi kelangsungan hidup masyarakat. Walaupun demikian, pendidikan tidak dapat diabaikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang mendukung dalam rangka pemulihan ekonomi di masa yang akan datang. Untuk itu, evaluasi dan perbaikan kebijakan harus selalu dilakukan akan dapat menciptakan formulasi kebijakan yang optimal seperti bantuan sosial, bantuan kuota pendidikan, dan jaminan kesehatan agar masyarakat tidak terpuruk dan dapat segera bangkit dari masa sulit pandemi COVID-19.

c. Bagi KPK, BPK, dan penegak hukum lainnya, sebagai masukan dalam evaluasi kebijakan oleh regulator dalam rangka pengawasan dan upaya pemberantasan korupsi mengingat besarnya dampak korupsi terhadap pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Walaupun tidak berpengaruh langsung terhadap pembangunan manusia, korupsi diduga dapat mengikis peran pemerintah dalam menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat. Korupsi bantuan sosial oleh Julian Peter Batubara saat menjabat sebagai menteri sosial di akhir 2020 lalu dapat dijadikan contoh besarnya dampak korupsi terhadap peran pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat.

Lebih lanjut, saran bagi penelitian selanjutnya adalah agar dapat dilakukan penelitian yang lebih komprehensif baik dalam lingkup waktu ataupun data dapat dilakukan untuk mengidentifikasi secara lengkap mengenai semua faktor yang mempengaruhi pembangunan manusia. Selain itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel predictor serta memasukan negara berpendapatan rendah dan berpendapatan tinggi dalam sampel penelitian.

REFERENSI

Afiftah, A. T., Juliprijanto, W., & Destiningsih, R. (2019). Analisis pengaruh pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1988-2017. DINAMIC: Directory Journal of Economic, 1(1), 11-22.

Aitken, B. J., & Harrison, A. E. (1999). Do domestic firms benefit from direct foreign investment? Evidence from Venezuela. American Economic Review, 89(3), 605–618.

https://doi.org/10.1257/aer.89.3.605

Akçay, S. (2006). Corruption and human development. Cato J., 26, 29.

Ali, S. A., Raza, H., & Yousuf, M. U. (2012). The role of fiscal policy in human development:

the Pakistan's perspective. The Pakistan Development Review, 381-394.

https://doi.org/10.30541/v51i4iipp.381-396

Anand, S., & Ravallion, M. (1993). Human Development in Poor Countries: On the Role of Private Incomes and Public Services. Journal of Economic Perspectives, 7(1), 133–150.

https://doi.org/10.1257/jep.7.1.133

Asian Development Bank. (2018). Avoiding the middle-income trap in Asia : the role of trade,

manufacturing, and finance. Diakses dari

https://www.adb.org/sites/default/files/publication/469276/adbi-avoiding-middle-income- trap-asia.pdf

Asra, T. P. (2020). Analisis Pengaruh Gross Domestic Product (GDP), Human Development Index (HDI), Corruption Perception Index (CPI) Dan Tingkat Pengangguran Terhadap

Ketimpangan Pendapatan Di Asean. Diakses dari

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/54516

Assadzadeh, A., & Pourqoly, J. (2013). The Relationship between Foreign Direct Investment, Institutional Quality and Poverty: Case of MENA Countries. Journal of Economics,

(16)

78 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

Business and Management, 1(2), 161–165. https://doi.org/10.7763/joebm.2013.v1.35 Baldacci, E., Clements, B., Gupta, S., & Cui, Q. (2008). Social spending, human capital, and

growth in developing countries. World development, 36(8), 1317-1341.

10.1016/j.worlddev.2007.08.003.

BPS. (2021). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2021. Diakses dari https://www.bps.go.id/publication/2021/06/08/b547a5642aeb04d071cb83d4/keadaan- angkatan-kerja-di-indonesia-februari-2021.html

Borensztein, E., De Gregorio, J., & Lee, J.-W. (1998). How does foreign direct investment affect economic growth?. Journal of International Economics, 45(1), 115–135

Cabaravdic, A., & Nilsson, M. (2017). The Effect of Corruption on Economic Growth.

Chetwynd, E., Chetwynd, F., & Spector, B. (2003). Corruption and poverty: A review of recent literature. Management System International, 600, 5–16.

Christelis, D, D Georgarakos, T Jappelli and G Kenny. (2020). The COVID-19 Crisis and Consumption: Survey Evidence from Six EU Countries. ECB Working Paper 2507.

Commerce and Economic Development Bureau. (2020). LCQ10: Locally produced face masks.

https://www.cedb.gov.hk/en/legco-

business/questions/2021/pr27012021a.html#:~:text=(1)%20and%20(2),American%20Soc iety%20for%20Testing%20and

De Mello, L (1999). Foreign direct investment-led growth: Evidence from time series and panel data. Oxford Economic Papers, 51, 133–151.

Field, Andy. (2009) Discovering Statistics Using SPSS. 3rd Edition, Sage Publications Ltd., London.

Firdauzi, A. (2020). Pengaruh Indikator Inklusi Keuangan, GDPPC, TIK, Pengangguran, Dan

FDI Terhadap IPM Pada Negara OKI Tahun 2004-2018.

http://repository.unair.ac.id/id/eprint/104300

Gujarati, Damodar N. dan Dawn C. Porter. (2009). Basic econometrics (edisi ke-5). New York:

The McGraw-Hill Companies.

Hamdi, H., & Hakimi, A. (2021). Trade Openness, Foreign Direct Investment, and Human Development: A Panel Cointegration Analysis for MENA Countries. The International Trade Journal, 1-20. https://doi.org/10.1080/08853908.2021.1905115

Huang, C. (2016). North American Journal of Economics and Finance Is corruption bad for economic growth ? Evidence from Asia-Pacific countries. North American Journal of Economics and Finance, 35(100), 247–256. https://doi.org/10.1016/j.najef.2015.10.013 Hoechle, Daniel. (2007). Robust Standard Errors for Panel Regressions with Cross-Sectional

Dependence. The Stata Journal,7(3): 281–312

Hysa, E. (2011). Corruption and human development: Albania and EU-27. Social Studies Journal, 5(2), 43-52.

Ibrahim M., Sare Y.A. (2018). Determinants of financial development in Africa: How robust is the interactive effect of trade openness and human capital?. Economic Analysis and Policy, https://doi.org/10.1016/j.eap.2018.09.002

Ihsannudin. (2020). Presiden Jokowi: Kita Punya Peluang Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi.

Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2020/07/04/11513221/presiden-jokowi- kita-punya-peluang-jadi-negara-berpenghasilan-tinggi

Kaufmann, Daniel, Aart Kraay and Pablo Zoido- Lobaton. (1999). Governance Matters. World Bank Policy Research Working Paper No. 2196.

Kementerian Keuangan. (2020). KEM PPKF 2020 Update DPR. Diakses dari https://fiskal.kemenkeu.go.id/data/document/kem/2020/kemppkfupdateDPR.pdf

(17)

Kementerian Koordinator Perekonomian. (2021). Pemerintah Memberikan Bantuan 35 Juta Masker untuk Masyarakat Dalam Rangka Pelaksanaan PPKM Mikro.

https://ekon.go.id/publikasi/detail/1781/pemerintah-memberikan-bantuan-35-juta- masker-untuk-masyarakat-dalam-rangka-pelaksanaan-ppkm-mikro

Keynes, John Maynard. (1936). The General Theory of Employment, Interest and Money.

Kim, Seoyong & Kim, Donggeun. (2011). Does Government Make People Happy? Exploring New Research Direction for Government’s Roles in Happiness. Journal of Happiness Studies An Interdisciplinary Forum on Subjective Well-Being, 7(2), 1389-4978.

Kira, A. R. (2013). The Factors Affecting Gross Domestic Product (GDP) in Developing Countries : The Case of Tanzania. 5(4), 148–158.

Korle, K., Amoah, A., Hughes, G., Pomeyie, P., & Ahiabor, G. (2020). Investigating the role of disaggregated economic freedom measures and FDI on human development in Africa.

Journal of Economic and Administrative Sciences, 36(4), 303–321.

https://doi.org/10.1108/jeas-02-2019-0017

Larson, G., Loayza, N., & Woolcock, M. (2016). The Middle-Income Trap: Myth or Reality?

World Bank Research and Policy Briefs, 104230.

Lewis J .(2014). Income, Expenditure and Personal Well-being, 2011/12. Research Report, UK Office for National Statistics. Newport, South Wales. Diakses dari www.ons.gov.uk/ons/dcp171766_365207.pdf

Lucas, Robert Jr. (1988). On the mechanics of economic development. Journal of Monetary Economics, Elsevier, vol. 22(1), 3-42.

Maharda, J. B., & Aulia, B. Z. (2020). Government Expenditure and Human Development in Indonesia. Jambura Equilibrium Journal, 2(2), 81–94.

https://doi.org/10.37479/jej.v2i2.6901

Mangkoesoebroto, Guritno. (2002). Ekonomi Publik. Yogyakarta : PBFE.

Omodero, C. O. (2019). Government General Spending and Human Development: A Case Study of Nigeria. Academic Journal of Interdisciplinary Studies, 8(1), 51–59.

https://doi.org/10.2478/ajis-2019-0005

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2002). Foreign Direct Investment For Development: Maximising Benefits, Minimising Costs. OECD: Paris.

Ozturk, I. (2007). Foreign direct investment-growth nexus: A review of the recent literature.

International Journal of Applied Econometrics and Quantitative Studies, 4(2), 79–98.

Primadhya, S. (2021). Diakses 1 Agustus 2021. Li Jianquan, Jadi Konglomerat Berkat Masker dan APD. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/2021042713345

Rajkumar, A. S., & Swaroop, V. (2008). Public spending and outcomes: Does governance matter? Journal of Development Economics, 86(1), 96–111.

https://doi.org/10.1016/j.jdeveco.2007.08.003

Romer, P. M. (1986). Increasing returns and long run growth. Journal of Political Economic. 94:

1002 – 37.

Sharma, B., & Gani, A. (2004). The Effects of Foreign Direct Investment on Human Development. Global Economy Journal, 4(2), 1850025. https://doi.org/10.2202/1524- 5861.1049

Shen, J. F., Ye, C. D., & Zhu, Y. X. (2018). Research on externality economic evaluation of China’s education and training industry based on cognitive perspective. Cognitive Systems Research, 52, 571–578.https://doi.org/10.1016/j.cogsys.2018.08.004

Subandoro, Y. K. (2017). Pengaruh Korupsi Terhadap Peranan Pengeluaran Negara Dalam Meningkatkan Pembangunan Manusia. Kajian Ekonomi Dan Keuangan, 1(3), 258–272.

(18)

80 | Administratio, Vol. 13 (1) 2022: 63-80

https://doi.org/10.31685/kek.v1i3.305

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alvabeta.

Transparency International. (2020). Corruption Perception Index Full Data Set. Diakses dari https://www.transparency.org/en/cpi/2020/index/nzl

Transparency International. (2020). The Global Corruption Barometer Asia 2020. Diakses dari https://www.transparency.org/en/publications/gcb-asia-2020

United Nations Development Programme. (1990). Human Development Report 1990. Diakses dari http://hdr.undp.org/en/reports/global/hdr1990

United Nations Development Programme. (2021). Human Development Data Center. Diakses dari http://hdr.undp.org/en/content/human-development-index-hdi

Wang, Wenxiao, C. Frindlay, S. Thangavelu. (2021). Trade, technology, and the labour market:

impacts on wage inequality within countries. Asian-Pasific Economic Literature.

https://doi.org/10.1111/apel.12313

Wildan, Muhammad. (2020). Keluar dari Middle Income Trap, BKF: Produktivitas SDM Perlu Dibenahi. Diakses dari https://news.ddtc.co.id/keluar-dari-middle-income-trap-bkf- produktivitas-sdm-perlu-dibenahi-21633?page_y=2709.60009765625

World Bank. (2000). Anti-Corruption in Transition: A Contribution to the Policy Debate (No.

20925, pp. 1-0).

World Bank. (2020). Dampak Sosial Transformasi Ekonomi. Diakses dari http://documents1.worldbank.org/curated/en/132131468051887925/pdf/889290REVISE D00y0review020140bahasa.pdf

World Bank. (2021). World Bank Open Data. Diakses dari https://data.worldbank.org/

Yankson, E. D. (2019). Impact of Foreign Direct Investment on Household Consumption Expenditure (Doctoral dissertation, University of Ghana). Annals of Tropical Paediatrics, 7(3), 154–15.

Referensi

Dokumen terkait

1) Terindikasinya ketidakseimbangan hubungan kekuasaan antara negara asal wisatawan (negara maju) dan negara berkembang sebagai tuan rumah. Ketidakpuasan wisatawan

Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi guna menurunkan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan adalah saling berkaitan, sehingga dibutuhkan suatu metode statistika yang dapat

Dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diketahui bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara maka tingkat kemiskinan semakin menurun itu

Dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diketahui bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara maka tingkat kemiskinan semakin menurun itu

Jumlah Lokasi wisata berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Sabang. Jumlah kamar hotel / tingkat hunian kamar berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan salah satu indikasi yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan negara tersebut.. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat

Dalam analisis makro, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu Negara diukur dari perkembangan pendapatan nasional riil yang dicapai suatu negara

Industrialisasi dipandang sebagai proses pertumbuhan ekonomi dalam bentuk percepatan investasi dan tabungan. Jika tingkat tabungan cukup tinggi dan kapasitas investasi