ISSN:2655-1586
JURNAL ILMIAH MAHASISWA ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN VOLUME 5, No.4, November 2021, hal 60-63
60
Penerapan Arsitektur Organik pada Perancangan Pusat Penelitian dan Rekreasi Edukatif Kurma di Aceh Besar
Putroe Balkis Taufik1 Mirza Irwansyah2 Zulhadi Sahputra2
1Mahasiswa Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
2Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Email: [email protected]
Abstract
The high demand for dates in Indonesia as well as favorable climatic and soil conditions should be a potential for Indonesia to start producing its own dates. However, the lack of research and understanding of the population about dates is an obstacle for this plant to continue to grow to the industrial stage. The government should provide a platform for researchers to continue cultivating date palm nurseries that can grow well in Indonesia.
In this case, the Dates Educational Research and Recreation Center comes with a design with the theme of Organic Architecture which makes the design blend with the environment around the land, making research activities on dates more effective so that they can continue to develop better knowledge about dates in the future and educational recreational activities can feels more fun so that people become more familiar with the existence of date palms in Indonesia, especially Aceh Besar.
Keywords: Indonesia, Aceh Besar, Research, Date Palm, Recreation Center
Abstrak
Tingginya peminat kurma di Indonesia serta kondisi iklim dan tanah yang mendukung seharusnya menjadi potensi bagi Indonesia untuk memulai produksi kurmanya sendiri. Namun kurangnya penelitian serta pemahaman penduduk tentang kurma menjadi hambatan untuk tanaman ini dapat terus berkembang hingga tahap industri. Pemerintah seharusnya menyediakan wadah bagi peneliti untuk terus membudidayakan pembibitan kurma yang dapat tumbuh dengan baik di Indonesia.
Dalam hal ini, Pusat Penelitian dan Rekreasi Edukatif Kurma hadir dengan desain bertemakan Arsitektur Organik yang membuat rancangan menyatu dengan lingkungan sekitar lahan, membuat kegiatan penelitian mengenai kurma lebih efektif sehingga dapat terus mengembangkan pengetahuan tentang kurma yang lebih baik lagi ke depannya dan kegiatan rekreasi edukatif dapat terasa lebih menyenangkan sehingga masyarakat menjadi lebih familiar dengan adanya tanaman kurma di Indonesia, khususnya Aceh Besar.
Kata kunci: Indonesia, Aceh Besar, Penelitian, Kurma, Rekreasi Edukatif
1. Pendahuluan
Kurma (Phoenix dactylifera) merupakan tanaman berjenis palma yang berasal dari kawasan Irak. [1] Kurma mengandung vitamin yang dapat membantu menguatkan saraf, melancarkan peredaran darah, membersihkan usus serta memelihara dari radang dan infeksi yang disebabkan oleh infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Karena banyaknya khasiat yang dimiliki, kurma menjadi salah satu tanaman tertua dan banyak ditanam di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dari 100 juta pohon kurma yang terdapat di dunia, 62 juta pohon di antaranya terdapat di daerah Arab.
Namun dewasa ini, diketahui pula sudah terdapat 2000 pohon kurma yang telah dibudidayakan dan dapat tumbuh di berbagai tempat di dunia. [2]
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah impor kurma yang tinggi yaitu dengan angka tota impor sebesar 34.662.485 kg di tahun 2017 dan terus meningkat hingga angka 40.060.456 kg di tahun 2018, hingga memasuki bulan Agustus tahun 2019 impor kurma mmasih tinggi yaitu mencapai
29.191.577 kg. Indonesia melakukan impor dari berbagai negara di dunia untuk memenuhi permintaan kurma yang tinggi. Beberapa di antaranya adalah Saudi Arabia, Iran dan Libya. [3]
Hal ini sebenarnya sangat disayangkan, sebab sebenarnya Indonesia mampu untuk memproduksi kurmanya sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Anas Miftah Fauzi, Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB dalam Simposium Pohon Kurma Tropis pda 9 Mei 2017, keberhasilan Thailand dan Malaysia dalam membudidayakan kurma tropis di daerahnya dapat menjadi bahan pertimbangan utama bagi Indonesia yang juga memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman kurma tropis sebab memiliki kondisi iklim dan tanah yang sama dengan kedua negara tersebut.[4]
1.1 Latar belakang
Dari data yang telah disebutkan, dijadikan latar belakang perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif kurma yaitu sebagai berikut:
a. Indonesia melakukan impor dari berbagai negara di dunia untuk memenuhi permintaan
ISSN:2655-1586
JURNAL ILMIAH MAHASISWA ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN VOLUME 5, No.4, November 2021, hal 60-63
61 kurma yang tinggi. Beberapa di antaranya
adalah Saudi Arabia, Iran dan Libya. Hal ini sangat disayangkan sebab sebenarnya Indonesia mampu untuk memproduksi kurmanya sendiri.
b. Banyaknya potensi kurma apabila diproduksi di Indonesia (memandirikan petani, tanaman penyempurna, harga pasaran kurma yang tinggi, peluang terciptanya industri baru) banyak yang sudah memulai pembudidayaan kurma di Indonesia namun belum sepenuhnya berhasil.
c. Tingginya minat masyarakat untuk berwisata ke Aceh.
1. 2 Perumusan masalah
Berikut beberapa masalah yang dapat dirumuskan berdasarkan latar belakang diatas a. Belum adanya pusat riset yang mengkhususkan
penelitiannya tentang kurma di Indonesia.
b. Masih kurangnya fasilitas rekreasi berbasis edukasi di Aceh.
c. Tersedianya lahan yang dapat digunakan sebagai pusat riset dan tempat rekreasi, namun belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemilik lahan untuk menarik lebih banyak pengunjung dari berbagai kalangan.
1. 3 Tujuan perancangan
Tujuan dari perencanaan dan perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif ini yaitu :
a. Menyediakan tempat bagi para peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pembudidayaan kurma.
b. Menyediakan tempat rekreasi yang fungsional, edukatif dan nyaman bagi masyarakat kabupaten Aceh Besar dan sekitarnya.
1.4 Ruang lingkup perancangan a. Ruang Lingkup Substansial
Ruang lingkup substansial yang akan dibahas pada perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif kurma ini adalah sebuah pusat penelitian yang menjadi wadah khusus untuk mengkaji tentang pengembangan budidaya kurma di Aceh Besar, serta memberi fasilitas tempat wisata rekreasi edukatif bagi masyarakat Aceh Besar dan sekitarnya.
b. Ruang Lingkup Spasial
Ruang lingkup spasial yang akan dibahas pada perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif kurma di Aceh Besar ini adalah kawasan yang secara administratif menjadi tapak perencanaan pusat riset dan rekreasi edukatif kurma di Aceh Besar yaitu di kawasan Desa Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang.
2. Tinjauan Kepustakaan 2.1 Definisi objek
Objek rancangan terdiri atas dua fungsi utama yaitu sebagai pusat penelitian dan sarana rekreasi edukatif. Pusat penelitian dalam hal ini mencakup fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan penelitian seperti laboratorium, rumah kaca, perpustakaan dan auditorium. Sementara sarana rekreasi edukatif mencakup wahana seperti taman bermain edukatif, nurseri, kebun edukatif dan fasilitas lainnya yang mendukung kegiatan pengunjung untuk berekreasi sekaligus mempelajari tentang tanaman kurma pada objek rancangan.
2.2 Studi Banding Objek Sejenis 2.2.1 Kebun raya Bogor
Kebun Raya Bogor adalah sebuah taman yang terletak di Bogor yang menjadi tempat dari beragam jenis tanaman dan menjadi taman botani terbesar di Kota Bogor. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas wisata, beberapa di antaranya adalah Rumah Anggrek, Museum Zoologi, Taman Teisjmanndan dan Taman Lebak Sudjana Kassan.
Gambar 1 Pembagian Zona di Kebun Raya Bogor Dapat dilihat dari gambar diatas bahwa zonasi yang ada pada data eksisting Kebun Raya Bogor kurang tertata dengan baik. Banyak bangunan yang mempunyai fungsi yang sama akan tetapi tidak pada ruang lingkup yang sama juga. Perlu diadakan perbaikan di mana zona disesuaikan dan diatur bedasarkan pengelompokkan fungsi bangunan yang sejenis lalu ditata kembali berdasarkan jenis zonasi yaitu zona private, dan zona publik. Dengan dikelompokkan kembali zonasinya maka akan mempermudah pengunjung yang mempunyai tujuan tertentu mencapai beberapa lokasi dengan fungsi yang sama. Namun untuk pola sirkulasi sudah diterapkan dengan baik yaitu dengan adanya jalur- jalur khusus dua arah ataupun satu arah dimana hal ini sangat membantu lancarnya seluruh sirkulasi termasuk di antaranya sirkulasi manusia dan kendaraan.
ISSN:2655-1586
JURNAL ILMIAH MAHASISWA ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN VOLUME 5, No.4, November 2021, hal 60-63
62
3. Tinjauan Tema
3.1. Pengertian arsitektur organik
Berdasarkan ulasan oleh Song Prasetya dkk.
dalam jurnal mereka yang berjudul Penerapan Teori Arsitektur Organik dalam Strategi Perancangan Pusat Pengembangan Industri Kreatif di Bandung, arsitektur organik merupakan konsep rancangan yang terinspirasi sepenuhnya dari alam. [5]
Sementara menurut Fleming, Honour & Pevsner, terdapat dua pengertian arsitektur organik. Pertama, menurut mereka arsitektur organik adalah sebuah istilah yang diaplikasikan pada bangunan atau bagian bangunan yang dirancang berdasarkan analogi biologi atau yang menyerupai bentuk natural. Arsitektur yang mengacu pada bentuk biomorfik adalah salah satu contohnya. Pengertian kedua, arsitektur organik adalah arsitektur yang banyak dipakai oleh Frank Lloyd Wright, Hugo Haring dan arsitek lainnya pada desainnya yang secara visual terlihat begitu harmonis dengan alam sekitarnya, mencerminkan kepedulian para arsitek pada keaslian bentuk alami dari lahan yang tengah mereka olah. [6]
3.2. Prinsip Arsitektur Organik
Menurut Pearson, terdapat beberapa prinsip dasar untuk sebuah desain dapat disebut sebagai arsitektur organik [7], yaitu adalah sebagai berikut:
a. Continous Present
Desain selalu dinamis dengan orisinalitas yang membuatnya tak lekang oleh zaman.
b. Building as Nature
Rancangan mencerminkan lingkungan sekitarnya, atau terinspirasi dari bentuk organisme yang ada di sekitarnya.
c. Youthful & Unexpected
Desain yang tidak membosankan, biasanya dapat ditemukan pada perubahan ritme bentuk pada komponen-komponen bangunan, perbedaan level lantai, ruang terbuka yang bervariasi, dan lain-lain.
d. Of the People
Desain dipengaruhi oleh aktivitas dan kebutuhan manusia yang menjadi penggunanya. Tujuan bangunan adalah untuk mewadahi segala kegiatan dan kebutuhan pengguna agar tercipta kenyamanan ketika pengguna berada di dalamnya.
e. Form Follows Flow
Selain manusia, desain bentuk bangunan juga mengikuti aliran energi alam.
f. Of the Materials
Material yang dipakai pada desain adalah material alami dan ramah lingkungan.
g. Of the Hills
Maksud dari of the hills adalah bangunan bukan sekedar ditempatkan di atas sebuah lahan, mellainkan menjadi bagian dari lahan tersebut.
Seperti yang disampaikan Frank Lloyd Wright, bahwa bangunan bertemakan arsitektur organik
akan lebih baik berhubungan ‘of the hill’ dengan lahannya, dibandingkan ‘on the hill’.
4. Aplikasi Tema dalam Rancangan 4.1 Continous present
Pada prinsip ini, diterapkan pemakaian elemen bambu yang sudah diawetkan, sehingga bangunan terjaga ketahanannya hingga rentang waktu yang lama dan desain tetap dinamis.
Gambar 2 Penerapan Prinsip Continous Present
4.2 Building as nature
Penerapan prinsip ini ditunjukkan oleh bentuk atap pada bangunan yang lengkung menyerupai bentuk pegunungan dan perbukitan yang ada di sekitar site.
Gambar 3 Penerapan Prinsip Building as Nature
4.3 Youthful & unexpected
Prinsip ini diterapkan pada pola ruang luar yang beragam, fluktuasi pada level lantai pada bangunan menyesuaikan kontur lahan, dan ornamen unik pada bangunan.
Gambar 4 Pola Ruang Luar yang Beragam
ISSN:2655-1586
JURNAL ILMIAH MAHASISWA ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN VOLUME 5, No.4, November 2021, hal 60-63
63 Gambar 5 Fluktuasi pada Level Lantai pada Bangunan
Menyesuaikan Kontur Lahan
4.4 Of the people
Penerapan prinsip ini terlihat pada disediakannya jalur pesepeda sebab banyak pesepeda yang menempuh jalur di sekitar site, kemudian disediakan nya parkir khusus peneliti, sebab jam kerja peneliti berbeda dengan pengguna lainnya pada bangunan rancangan.
Gambar 6 Jalur Pesepeda
Gambar 7 Parkiran Khusus Peneliti
4.5 Form follows flow
Penerapan prinsip ini terlihat pada pola pada site yang didominasi oleh bentuk lingkaran, dengan bangunan green house sebagai porosnya.
Gambar 8 Green House
4.6 Of the materials
Pada bangunan rancangan, akan dipakai material yang sesuai dengan prinsip ini, di antaranya yaitu batu alam sebagai material penutup kolom, bambu sebagai material struktur atap, kusen dan tiang penyangga, serta bitumen sebagai penutup atap.
Gambar 9 Penggunaan Batu Alam dan Bambu Pada Bangunan Hasil Rancangan
5. Kesimpulan
Diharapkan dengan menerapkan tema arsitektur organik pada perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif ini dapat mewujudkan terciptanya kenyamanan bagi kegiatan penelitian serta pengalaman rekreasi yang menyatu dengan alam yang tak terlupakan bagi tiap-tiap pengunjungnya.
Perancangan pusat penelitian dan rekreasi edukatif ini nantinya menjadi salah satu wahana rekreasi yang edukatif bagi masyarakat sekitar Aceh Besar, sehingga bukan hanya menghibur pengunjung dengan semua wahana yang ada pada rancangan tetapi juga membuat pengunjung jadi teredukasi akan hadirnya kurma di Aceh dengan banyaknya fasilitas yang menginformasikan tentang kurma di dalamnya.
Hal ini diharapkan dapat membuat kurma tak lagi asing bagi penduduk setempat sehingga ekosistem kurma dapat meningkat di bumi Aceh Besar dan ikut berperan dalam melonjakkan perekonomian daerah.
Daftar Pustaka
[1] Rostita. 2009. Khasiat dan Keajaiban Kebun Kurma. Qanita, Bandung.
[2] Manickavasagan, A. Essa, M. Sukumar. 2012.
Dates Production, Processing, Food, and Medical Value. CRC, United States of America.
[3] Data Perkembangan Impor Kurma di Indonesia.
Badan Pusat Statistik.
[4] Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Institut Pertanian Bandung. 2017.
IPB: Indonesia Mampu Produksi Kurma Sendiri.
[5] Sujanra, S.P. Mustaqimmah, U. Wahyu, A.K.
2017. Penerapan Teori Arsitektur Organik dalam Strategi Perancangan Pusat Pengembangan Industri kreatif di Bandung.
Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan. Vol 15, No 2 (2017).
[6] Fleming, J. Honour, H. Pevsner, N. 1972. The Penguin dictionary of architecture.
Harmondsworth, Middlesex: Penguin.
[7] Pearson, David. 2001. New Organic Architecture: The Breaking Wave. University of California Press.