ANALISIS HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DAN
KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DEWASA FASE INTENSIF DI RSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK
Alfina Rahmania1, Ressi Susanti1, Nera Umilia Purwanti1
1Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Jalan Prof. Hadari Nawawi, Pontianak 78124
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang perlu diterapi dengan tepat dan dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu faktor keberhasilan terapi adalah adanya kepatuhan penggunaan obat oleh pasien.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru dewasa fase intensif di RSUD dr. Soedarso Pontianak. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional secara retrospektif dengan studi potong-lintang yang bersifat analitik. Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah data rekam medis pasien yang terdiagnosa tuberkulosis paru BTA positif dan menggunakan instrument MMAS-8 untuk mengukur tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru dewasa fase intensif. Hubungan skor kepatuhan dengan keberhasilan pengobatan menggunakan analisis uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Hasil analisis rekam medis dari 24 pasien yang memenuhi kriteria inklusi diperoleh hasil hubungan berdasarkan nilai signifikansi dari uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan hasil p<0,005, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis paru dewasa fase intensif.
Kata kunci : Tuberkulosis, Kepatuhan Pengobatan, BTA, Keberhasilan Pengobatan
ABSTRACT
Background: Tuberculosis is an infectious disease that need to be treated properly and in the long term. One of the therapeutic outcome’s factor is medication adherence by patients. Aimed : This aims of study to determine the relationship of adherence to therapeutic outcome in the RSUD dr. Soedarso Pontianak. Method : The type design of this research used observasional retrospective with cross-sectional analysis. The tools used in this research are medical records and the MMAS-8 questionnaires to measure the level of medication adherence in intensive phase of pulmonary tuberculosis patients.
Correlation between scores adherence and therapeutic outcome were analyzed by Kolmogorov-Smirnov test. The subject in this research are patients diagnosed positive acid-fast bacillus. Result : The result from 24 pulmonary tuberculosis patients that conform the inclution criteria, there is a significant correlation (p<0,05) between medication adherence of patients and intensive phase of therapeutic outcome in patients with pulmonary tuberculosis.
Keywords: Tuberculosis, medication adherence, acid-fast bacillus, Therapeutic Outcome
PENDAHULUAN
Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui udara, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.(1) Penularan bakteri Mycobacterium tuberculosis terjadi melalui udara yang mengandung suatu droplet nuclei (gelembung cairan) yang didapat dari seseorang penderita TB aktif.(2)
Berdasarkan data dari Global Tuberculosis Report 2017, pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta orang didunia menderita Tuberkulosis dengan jumlah pasien yang meninggal sebanyak 1,7 juta.(3) Pada tahun 2017 Indonesia menempati peringkat ketiga dengan jumlah penderita tuberkulosis tertinggi di dunia yakni terdapat 420.994 kasus baru.(4) Secara khusus angka penemuan penderita TB paru di kota
Pontianak pada tahun 2017 terdapat 950 kasus, dengan angka insiden sebesar 70,21 per 100.000 penduduk di Kalimantan Barat.(5)
Kepatuhan dalam pengobatan tuberkulosis paru pada fase intensif merupakan hal penting untuk dianalisis yang merupakan pengendalian penyakit ini. Pada fase intensif pasien yang menular dalam waktu dua minggu menjadi tidak menular dengan pengobatan yang teratur.(6) RSUD dr. Soedarso telah menjalankan program Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dan memiliki poli TB DOTS khusus yang merupakan program pemerintah dalam upaya pengendalian penyakit tuberkulosis sehingga peneliti tertarik untuk meneliti hal tersebut.
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop yang dilengkapi dengan program komputer Microsoft Excel dan aplikasi SPSS, formulir pengumpulan data pasien serta kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) untuk melihat tingkat kepatuhan pasien.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari rekam medik yang terdiri data karakteristik pasien, data diagnosa medis dan data pengobatan pada penderita tuberkulosis paru di RSUD dr. Soedarso Pontianak.
Metode
Pengumpulan data dilakukan di RSUD dr. Soedarso Pontianak.
Data berasal dari rekam medik pasien tuberkulosis paru yang
menerima terapi OAT dan hasil dari pengisian kuesioner MMAS-8 oleh pasien. Data yang diperoleh dari rekam medik pasien disalin pada lembar pengumpulan data. Kriteria inklusi yaitu pasien terdiagnosa tuberkulosis paru BTA positif dengan kasus baru dan kasus kambuh (relaps) pada bulan Januari 2018 – Juli 2019, pasien berusia 18-60 tahun, Minimal sudah menjalani terapi OAT 3 bulan (sudah menjalani fase intensif) baik menggunakan KDT atau kombipak, dan bersedia menjadi responden serta mengikuti prosedur penelitian. Penentuan sampel menggunakan teknik Total Sampling.
HASIL DAN PEMBAHASAN Data Karakteristik Pasien
Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian
No. Karakteristik Pasien N=24
Jumlah Persentase (%)
1 Jenis Kelamin
a. Laki-Laki 13 54,17
b. Perempuan 11 45,83
2 Usia
a. 18-30 tahun 8 33,33
b. 31-40 tahun 4 16,67
c. 41-50 tahun 7 29,17
d. 51-60 tahun 5 20,83
3 Berat Badan
a. 30-37 kg 3 12,50
b. 38-54 kg 16 66,67
c. 55-70 kg 5 20,83
d. >70 kg 0 0
4 Penyakit Penyerta
a. Diabetes Melitus 7 28
b. Dislipidemia 1 4
c. Hipertensi 2 8
d. Aritmia (Ventrikel Ekstra Sistol
(VES)) 1 4
e. Gastritis 1 4
f. Soft Tissue Tumor (STT) 1 4
Pasien tuberkulosis paru berjenis kelamin laki-laki memiliki persentase lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Dari total jumlah sampel yang diambil sebanyak 24 pasien, terdapat 13 pasien (54,17%) berjenis kelamin laki-laki dan 11
pasien (45,83%) berjenis kelamin perempuan. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan Panjaitan di lokasi yang sama pada tahun 2012, yaitu pasien tuberkulosis paling banyak diderita oleh laki-laki sebesar 60%. (7) Demikian juga hasil
yang diperoleh Septiawan pada tahun 2019 di UPT Pelayanan Kesehatan Paru Pontianak dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 54,65%.(8) Jenis kelamin laki-laki memiliki faktor resiko yang lebih tinggi untuk terkena infeksi bakteri tuberkulosis dikarenakan kebiasaan merokok dan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol yang lebih besar yang dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. (9)) Disamping hal tersebut, itu kebanyakan laki-laki juga kurang memperhatikan kesehatan dan kebiasaan hidupnya yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah karena bekerja sehingga menimbulkan faktor pemicu untuk terjadinya penyakit tuberkulosis paru.(10)
Usia responden dalam penelitian ini yaitu 18-60 tahun. Data hasil penelitian persentase tertinggi
pada penyakit tuberkulosis paru berdasarkan karateristik usia pada rentang 18-30 (33,33%) tahun.
Berdasarkan pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis Kemenkes RI, sekitar 75% pasien tuberkulosis berada pada kelompok usia 15-50 tahun yakni usia paling produktif secara ekonomis.
Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Tandella pada tahun 2017 menunjukkan hsil pasien tuberkulosis paru banyak terjadi pada masa lansia awal (46-55 tahun) yaitu sebesar 37,5%.(11)
Hasil berat badan terbanyak yang diperoleh yaitu pada rentang 38-54 kg merupakan rentang yaitu sebanyak 16 responden dengan persentase 66,67%. Hasil ini menunjukkan bahwa pasien tuberkulosis paru di RSUD dr.
Soedarso cenderung memiliki berat
badan yang rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Sahal yang menyatakan bahwa status pada penderita TB berat badan kurang 49% (20 orang), berat badan normal 49% (20 orang), dan berat badan berlebih 2% (1 orang).(12) Penyakit tuberkulosis dapat menyebabkan perubahan metabolisme dengan menurunkan asupan energi yang akibat penurunan nafsu makan.(13)
Penyakit penyerta yang diderita terbanyak pada pasien tuberkulosis paru di RSUD dr.
Soedarso yaitu Diabetes Melitus (DM) sebesar 28% (7 orang). Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Septiawan pada tahun 2019 yaitu DM sebagai komorbid tersering pasien tuberkulosis paru yaitu sebesar 52%.(8) Tuberkulosis paru pada DM dapat disebabkan oleh gangguan hantaran sel-sel imunitas yang menuju ke jaringan paru yang terkena infeksi akibat kerusakan jaringan vaskuler paru yang diakibatkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam sel endotel.(14)
Gambaran Jenis Pengobatan Responden Penelitian
Tabel 2. Jenis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Jenis OAT Jumlah Persentase (%) KDT/FDC kategori 1 13 54,17 Kombipak kategori 1 5 20,83
KDT/FDC kategori 2 6 25
Kombipak kategori 2 0 0
Penggunaan OAT di RSUD dr. Soedarso Pontianak sebagian besar menggunakan Paket OAT KDT/FDC. Berdasarkan hasil penelitian, persentase penggunaan OAT KDT/FDC sebesar 54,17% (19 responden) dibandingkan dengan OAT jenis kombipak yaitu sebesar 20,83% (5 responden). Pengobatan tuberkulosis paru dilakukan dalam 2
tahap, fase pertama yaitu tahap intensif dan fase kedua yaitu tahap lanjutan. Tujuan dari pengobatan tuberkulosis paru adalah untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutus rantai penularan, dan mencegah terjadinya resistensi kuman. (6)
Tabel 3. Tabel Penggunaan Non OAT
No Kelas Terapi
Golongan Obat Nama Obat Jumlah Persentase (%)
1 Antibiotik Quinolone
Sefalosporin
Levofloksasin Ciprofloxacin Cefadroxil
2 1 1
5,40 2,70 2,70 2 Obat Batuk
dan Mukolitik
Ekspektoran Mukolitik Antitusif
GG Ambroxol Kodein
3 4 1
8,10 10,81
2,70 3 Obat
Diabetes Melitus
Insulin Sulfonilurea
Thiazolidinedione
Insulin Aspart Glibenclamid Glimepiride Pioglitazone HCl
1 1 1 1
2,70 2,70 2,70 2,70 4 Obat
Golongan Lain
Analgetik Antiemetik ARB Beta Blocker
Paracetamol Ondansentron Candesartan Bisoprolol
2 1 1 1
3.54 2,70 2,70 2,70
Nitrat Bronkodilator
Statin
Vitamin
Tetes Mata
ISDN Salbutamol Ventolin inhaler Amlodipine Simvastatin B6
B kompleks Curcuma K
NaCl+KCl
1 1 1 1 1 3 1 5 1 1
2,70 2,70 2,70 2,70 2,70 8,10 2,70 13,51
0.27 2,70
Total 37
Hasil pada penelitian ini diketahui bahwa obat yang banyak digunakan untuk mengobati penyakit penyerta pasien adalah golongan vitamin terutama pada suplemen curcuma sebesar 13,51%.
Tuberkulosis menyebabkan terjadinya penurunan nafsu makan sehingga terjadi malnutrisi dalam bentuk makronutrisi maupun mikronutrisi. Malnutrisi yang terjadi pada pasien tuberkulosis mempengaruhi sistem imun
penderita serta mempengaruhi hasil akhir pengobatan. Vitamin dan suplemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi penderita tuberkulosis. Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2014, Isoniazid sebagai OAT memiliki efek samping berupa kesemutan hingga rasa terbakar di telapak kaki maupun tangan.
Tatalaksana terapi untuk mengatasi efek saping tersebut dengan menggunakan vitamin B6. (15)
Dalam mengatasi komplikasi penyakit akibat penurunan sistem imun, penderita tuberkulosis juga diresepkan obat antibiotik lain selain antibiotik OAT. (7) Dalam penelitian ini antibiotik selain antibiotik OAT yang digunakan yaitu cefadroxil,
diberikan kepada pasien yang menderita tumor. Antibiotik OAT yang digunakan untuk pasien Tuberkulosis paru MDR (Multi Drug Resistance) yaitu golongan quinolone yakni Levofloksasin dan Siprofloksasin.
Kepatuhan dan Keberhasilan Pengobatan
Tabel 4. Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru BTA Positif Fase Intensif
Tingkat Kepatuhan Jumlah Persentase
Rendah 5 20,83
Sedang 5 20,83
Tinggi 14 58,34
Total 24 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan yang tinggi sebanyak 58,34%, kepatuhan sedang sebanyak 20,83% dan kepatuhan rendah sebanyak 20,83%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar pasien penderita
tuberkulosis paru di instalasi rawat jalan RSUD dr. Soedarso Pontianak memiliki tingkat kepatuhan pengobatan yang tinggi di tahap intensif pengobatan (skor tingkat kepatuhan 8). Beberapa responden dinyatakan kepatuhannya sedang
(skor tingkat kepatuhan 6-7), namun tetap masuk kedalam kategori patuh.
Namun responden dengan tingkat kepatuhan yang rendah dinyatakan tidak patuh (skor tingkat kepatuhan
<6). Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Syakira pada tahun 2012 yang disitasi oleh Maulidia pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa lebih dari 50%
pasien penderita tuberkulosis patuh terhadap pengobatan. (16)
Tabel 5. Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru BTA Positif Fase Intensif
No. Keberhasilan Pengobatan N=25
Jumlah Persentase (%)
1. Berhasil 19 79,17
2. Tidak Berhasil 5 20,83
Data hasil penelitian terlihat bahwa hanya sebagian besar pasien tuberkulosis paru mengalami konversi BTA positif menjadi BTA negatif setelah menjalani terapi tahap intensif yaitu sebanyak 19 pasien (79,17%), sedangkan sisanya yaitu sebanyak 5 pasien (20,83%) menerima terapi lebih dari lamanya waktu fase intensif tidak berubah menjadi BTA negatif. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Imamala pada tahun 2016 didapatkan hasil tingkat keberhasilan terapi responden sebesar 91% dan ketidakberhasilan terapi sebesar 9%.
Ketidakberhasilan terapi dilihat pada data rekam medik responden yang menunjukkan tidak adanya konversi BTA positif menjadi negatif pada akhir pengobatan fase intensif responden. (17)
Hubungan Tingkat Kepatuhan dan Keberhasilan Pengobatan
Tabel 6. Hubungan Tingkat Kepatuhan dan Keberhasilan Pengobatan Kolmogorov-Smirnov Test
Tingkat Kepatuhan
N=24
Berhasil % Tidak
Berhasil % P value
Tinggi 14 14 58,34 0 0
0,000
Sedang 5 5 20,83 0 0
Rendah 5 0 0 5 20,83
Analisis data pengujian hipotesis dalam penelitiaan ini menggunakan analisis Chi-Square.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan dengan keberhasilan konversi pasien tuberkulosis. Pada hasil uji Chi-square didapatkan hasil frekuensi harapan (expected count) yang kurang dari 5 sebesar 83,3%
sehingga tidak memenuhi syarat uji chi-square. Uji alternatif yang dilakukan yaitu menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test dan
didapatkan hasil p<0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru dewasa fase intensif di RSUD dr. Soedarso Pontianak.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan yaitu Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara
tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengobatan, sehingga disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kepatuhan pengobatan terhadap keberhasilan
pengobatan pada pasien tuberkulosis paru dewasa fase intensif di RSUD dr. Soedarso Pontianak. dr. Soedarso Pontianak.
DAFTAR PUSTAKA
1. McLafferty E, Johnstone C, Hendry C, Farley A.
Respiratory system part 1:
pulmonary ventilation. Nurs Stand. 2013;27(22):40–7.
2. CDC. Transmission and Pathogenesis of Tuberculosis [Internet]. 2016. Available from:
https://www.cdc.gov/tb/public ations/slidesets/selfstudy/pdf/
Module1-TextOnly.pdf
3. World Health Organization.
Global Tuberculosis Report 2017. Geneva; 2017.
4. World Health Organization.
Global Tuberculosis Report 2018. Pharmacological Report; 2018.
5. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat. Profil Kesehatan Kalimantan Barat. Profil Kesehatan Kalimantan Barat Tahun 2017 [Internet]. 2017;
Available from:
https://dinkes.kalbarprov.go.id /wp-
content/uploads/2018/08/PRO FIL-KESEHATAN-PROV- KALBAR-TH-2017.pdf 6. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011.
7. Panjaitan F. Karakteristik Penderita Tuberkulosis Paru Dewasa Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Dr.
Soedarso Pontianak Periode September - November 2010.
Naskah Publ FKIK Univ Tanjungpura; 2012.
8. Septiawan R. Hubungan Kejadian Interaksi Obat Terhadap Keberhasilan Terapi Pasien Tuberkulosis Paru di UPT Pelayanan Kesehatan Paru Pontianak. Skripsi.
Universitas Tanjungpura;
2019.
9. Naga S. Ilmu Penyakit Dalam.
Yoyjakarta: DIVA press;
2012.
10. Iskandar. Hubungan karakteristik penderita, lingkungan fisik, rumah dan wilayah dengan kejadian tuberkulosis paru di Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2009. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara;
2009.
11. Tandella C. Hubungan
kepatuhan dengan
keberhasilan terapi pasien
dewasa tuberkulosis di Unit Pengobatan Penyakit Paru- Paru (UP4) Pontianak. J Univ Tanjungpura. 2017;
12. Sahal YP, Afghani A RN.
Hubungan Jumlah Sel Limfosit dengan Usia dan Status Nutrisi pada Penderita Tuberkulosis. GMHC.
2014;2(2).
13. Mehta M. Impact of Nutrition Education on Pulmonary Tuberculosis Patients. Glob J Res Anal. 2016;5(6):317–20.
14. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2006.
15. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkolosis. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2014.
16. Maulidia D.F. Hubungan Antara Dukungan Keluarga dan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Tuberkulosis Di wilayah Ciputat Tahun 2014. Skripsi. Jakarta: : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah;
2014.
17. Imamala B. Hubungan Kepatuhan dan Keberhasilan Terapi pada Pasien Tuberkulosis Paru Fase Intensif di Instalasi Rawat Jalan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.
Skripsi. Surakarta: Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta;
2016.