VISI TEOLOGIS ISLAM DAN PROBLEM PERADABAN MODERN1
Kuntowijoyo2
Dalam bab ini, kita akan membicarakan suatu topik penting, yaitu tentang situasi kemanusiaan dalam dunia modern. Dengan merenungkan masalah-masalah besar yang dihadapi oleh umat manusia pada masa sekarang ini, dengan melakukan refleksi terhadap kenyataan-kenyataan empiris yang sangat mempengaruhi kesadaran manusia di dunia modern dewasa ini, kita akan dapat lebih memahami bagaimana masa depan kemanusiaan kita: apakah kita masih dapat mempertahankan martabat kemanusiaan kita ataukah kita akan larut dalam arus besar peradaban industri.
Tema tentang situasi kemanusiaan di zaman modern menjadi penting dibicarakan mengingat dewasa ini manusia menghadapi bermacam- macam persoalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Kadang-kadang kita merasa bahwa situasi yang penuh problem di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri. Di balik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri;
tetapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil-hasil ciptaannya itu. Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu sejak manusia mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu pemikiran mitis yang irasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia. Tetapi ternyata di dunia modern ini manusia tak dapat melepaskan dirinya dari jenis belenggu lain, yaitu penyembahan kepada dirinya sendiri.
1 Ceramah Ramadhan di Masjid Syuhada, Yogyakarta, 6 Mei 1987.
2 Tulisan ini merupakan bagian dari buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2017), hlm. 169-175.
Cita-Cita Renaisans dan Munculnya Sekularisme
Dengan melihat sejarah kebudayaan Barat, kita mungkin dapat melihat betapa pemikiran Barat berkembang dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Pada zaman
Pertengahan, alam pikiran Barat pada dasarnya adalah alam pikiran mitologis.
Berakar pada mitologi Yunani, waktu itu dunia Barat benar-benar terkungkung di dalam paham keagamaan bahwa seolah-olah Tuhan itu membelenggu manusia.
Menurut paham tersebut, manusia adalah saingan Tuhan. Kadang-kadang Tuhan dianggap iri hati kepada manusia sehingga manusia selalu terancam dendam.
Singkatnya, Tuhan itu dianggap seperti manusia. Dalam mitologi Barat-Yunani, seperti halnya dalam mitologi wayang, ada banyak Tuhan, banyak dewa.
Dewadewa ini juga mengatur urusan manusia sehingga sering menimbulkan bentrokan. Tetapi meskipun manusia memiliki keberanian untuk melawan dewa- dewa, para dewalah yang tetap memegang dominasi sehingga manusia terus berada di bawah pengawasan dewa, di bawah belenggu dewa.
Tetapi rupanya pandangan keagamaan semacam ini semakin ditinggalkan ketika muncul pemikiran bahwa manusia adalah pusat segala sesuatu. Dewa-dewa hanya dianggap sebagai mitos karena sesungguhnya memang tidak ada. Pandangan antroposentrisme muncul sebagai pendobrak pandangan keagamaan mitologis secara revolusioner. Pandangan antroposentrisme, atau yang juga sering disebut humanisme, beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan, pada dewadewa, tetapi pada manusia. Manusialah yang menjadi penguasa realitas, oleh karena itu manusialah yang menentukan nasibnya sendiri, bukan para dewa.
Manusia bahkan dianggap dapat menentukan kebenaran; dianggap sebagai penentu kebenaran. Itu sebabnya dewa-dewa dan kitab-kitab suci tidak diperlukan lagi.
Sesungguhnya antroposentrisme atau humanisme muncul dengan datangnya rasionalisme yang tidak lagi percaya bahwa hukum alam ber- sifat mutlak.
Rasionalisme inilah yang melahirkan Renaisans, yaitu suatu gerakan kebangunankembali manusia dari kungkungan mitologi dan dogma-dogma. Cita- cita Renaisans adalah mengembalikan lagi kedaulatan manusia, yang selama berabad-abad telah dirampas oleh para dewa dan oleh mitologi, untuk menguasai nasibnya. Kehidupan ini berpusat pada manusia, bukan pada Tuhan, demikian anggapan Renaisans. Manusia harus menguasai alam semesta.
Demikianlah, Renaisans sesungguhnya merupakan suatu gerakan yang ingin membebaskan manusia dari mitos-mitos, dari pemikiran bahwa manusia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri karena nasibnya mutlak dikuasai oleh para dewa. Melalui filsafat rasionalisme, gerakan ini telah melahirkan revolusi paham keagamaan bahwa pada dasarnya manusia itu merdeka; juga sekaligus melahirkan revolusi pemikiran yang pada akhirnya menimbulkan revolusi ilmu pengetahuan.
Tetapi meskipun demikian, revolusi ilmu pengetahuan itu ternyata juga menimbulkan masalah-masalah baru. Semangat untuk membebaskan diri dari mitologi ternyata menyebabkan agnostisisme terhadap agama, dan pada gilirannya menimbulkan sekularisme. Sementara itu revolusi ilmu pengetahuan dalam semangat non-agama dan bahkan anti-agama, menghasilkan paham bahwa ilmu pengetahuan secara inheren bersifat bebas-nilai.
Refleksi dari budaya dan cita-cita Barat ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Melalui pendidikan Barat yang sampai ke Indonesia misalnya, semangat itu juga tertanam dalam benak para pemikir kita. Mereka ini percaya bahwa kemajuan kebudayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan hanya dapat terjadi jika kita mampu membebaskan diri dari kungkungan agama.
Problem Manusia Modern
Sebelum kita membicarakan bagaimana pandangan Islam mengenai manusia, kita akan membicarakan lebih dulu apa dan bagaimana problem-problem yang dihadapi oleh manusia dalam kebudayaan modern, suatu kebudayaan yang dominan pada saat ini, yang semangatnya berasal dari cita-cita Barat untuk melepaskan diri dari agama. Di dalam masyarakat modern yang berteknologi tinggi, manusia menghadapi mekanisasi kerja. Alat-alat produksi baru yang dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi, otomatisasi, dan standarisasinya, ternyata menyebabkan manusia cenderung menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Teknologi modern yang sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja ternyata telah menjadi alat perbudakan baru. Fungsi teknologi modern telah berubah menjadi alat kepentingan pribadi atau golongan yang dipaksakan kepada massa. Sebagai alat untuk mempertinggi tingkat keuntungan dari perusahaan-perusahaan, teknologi modern menciptakan tuntutan-tuntutan agar ia tetap berproduksi dan oleh karena itu menuntut peningkatan waktu kerja bagi manusia. Di samping itu, teknologi modern juga telah menciptakan kebutuhan- kebutuhan baru yang sesungguhnya bersifat semu bagi masyarakat. Singkatnya ia
telah memperbudak manusia sekadar menjadi otomat dari proses produksi, memperbudak masyarakat untuk mengkonsumsi kebutuhan-kebutuhan semu yang diproduksi olehnya.
Manusia yang semula merdeka, yang merasa menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajatnya menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin, mesin raksasa teknologi modern. Karena proses inilah, maka pandangan tentang manusia menjadi tereduksi. Nilai manusia kini terdegradasi oleh proses bekerjanya teknologi. Ketika manusia masih bekerja dengan tangan, dengan alat-alat yang masih sederhana, manusia menjadi penguasa; artinya manusia masih menguasai kerjanya sendiri. Tetapi kini, ketika manusia menjadi bagian dari logika produksi teknologi modern, ia hanya menjadi elemen mekanisasi dan elemen otomatisasi teknologi. Ia berubah menjadi sekadar sebuah faktor dari mesin, tak lain sebagai bagian dan mesin itu. Karena itulah manusia di zaman modern ini menjadi terbelenggu oleh proses teknologi. Ia teralienasi dari kerjanya sendiri, hasil kerjanya, sesamanya, dan dari masyarakatnya.
Di dalam masyarakat yang kapitalistik, manusia hanya menjadi elemen dari pasar.
Dalam masyarakat seperti itu, kualitas kerja manusia, dan bahkan kualitas kemanusiaan sendiri, ditentukan oleh pasar. Jika mereka ingin bekerja, maka mereka harus menjual dan menawarkan jasanya ke pasar. Dalam masyarakat kapitalis, dengan demikian, manusia hanya menjadi bulan-bulanan dari kekuatan pasar. Malapetaka kemanusiaan dalam sistem kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan dari malapetaka yang dihadapi manusia di dalam sistem komunis. Dalam masyarakat komunis, manusia tidak menjadi elemen dari pasar, tetapi menjadi elemen birokrasi. Demikianlah, di dalam kedua sistem sosial masyarakat modern itu, fungsi manusia turun sekadar menjadi elemen.
Dalam konteks demikian, maka kedudukan manusia mengalami degradasi.
Manusia yang tadinya dianggap sebagai pusat alam semesta, kini telah berubah sekadar sebagai unsur suatu sistem ekonomi atau sistem politik. Dalam beberapa aliran filsafat Barat, kedudukan manusia digambarkan secara absurd sekali. Banyak filosof Barat kontemporer melihat manusia dalam kedudukan dan fungsinya yang absurd itu. Manusia digambarkan sebagai menderita kesepian yang amat sangat, menderita Angst kata Kierkegaard, mengalami kesendirian, kebosanan, dan kesia- siaan. Gambaran seperti ini jelas merupakan gambaran yang pesimis.
Dari gambaran di atas, agaknya kita dapat menyimpulkan bahwa di Barat kini telah terjadi pergeseran konsepsi tentang manusia. Manusia yang pada zaman Renaisans digambarkan sebagai pusat segala sesuatu, pada zaman modern ini telah tereduksi hanya sebagai unsur kecil di dalam sistem raksasa, bahkan telah terbelenggu oleh mekanisme-mekanisme sistem itu. Posisi manusia yang semacam ini, celakanya, justru dijustifikasi oleh banyak aliran filsafat kontemporer Barat.
Konsepsi Islam tentang Manusia
Sesungguhnya gambaran tentang manusia modern dalam filsafat Barat seperti itu sangat jauh berbeda dari konsepsi Islam. Di dalam Islam, manusia digambarkan sebagai makhluk yang merdeka, dan karena hakikat kemerdekaannya itulah manusia menduduki tempat yang sangat terhormat. Dalam banyak sekali ayat Al- Qur'an diserukan agar manusia menemukan esensi dirinya, memikirkan kedudukannya dalam struktur realitas, dan dengan demikian mampu menempatkan dirinya sesuai dengan keberadaan kemanusiaannya. Sesungguhnyalah dalam konsepsi Al-Qur'an, posisi manusia itu sangat penting. Begitu pentingnya posisi itu dapat dilihat dalam predikat yang diberikan Tuhan sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Predikat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa seolah-olah Tuhan mempercayakan kekuasaan-Nya kepada manusia untuk mengatur dunia ini, sebuah tugas mahaberat yang makhluk-makhluk lain enggan memikulnya. Konsepsi seperti ini sebenarnya merupakan konsepsi yang sangat revolusioner jika diingat bahwa pada konteks lahirnya Islam sekitar abad ke-6/ke- 7, dunia, terutama di belahan Barat, didominasi oleh pandangan filsafat Romawi dan Yunani serta juga pandangan Kristen yang melihat manusia secara muram, secara sangat pesimis.
Di dalam filsafat Yunani dan Romawi misalnya, manusia dipandang sebagai makhluk yang rendah. Sebagai contoh, mitologi Yunani melihat manusia sebagai makhluk yang sama sekali tidak memiliki kecerdasan sehingga diperlukan seorang dewa untuk menuntun manusia berpikir. Lebih mengerikan lagi, di dalam filsafat Kristen manusia dilihat sebagai makhluk yang pada hakikatnya busuk: manusia digambarkan sebagai pendosa hakiki sejak lahir sehingga diperlukan seorang penebus dosa. Dan penebus dosa itu tak lain adalah Tuhan sendiri. Jelaslah bahwa paham seperti itu merupakan paham yang fatalistik.
Dengan datangnya Islam, paham-paham seperti itu dirombak secara keseluruhan.
Oleh Islam, manusia yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai makhluk
rendah dan dungu, dan yang oleh Kristen dipandang sebagai pendosa azali, direkonstruksi sedemikian rupa sehingga memperoleh kedudukan yang sangat terhormat sebagai wakil Tuhan: derajat manusia diangkat sampai sedemikian tinggi hingga mencapai kedudukan yang sangat mulia. Penekanan pada kemuliaan manusia inilah sesungguhnya yang sangat revolusioner dari konsepsi Islam. Dalam konsepsi mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan, Islam justru mengajarkan pembebasan, bukan pengekangan. Menurut Islam, aktualisasi diri manusia hanya dapat terwujud dengan sempurna dalam pengabdian kepada Penciptanya. Dan ini jelas merupakan pembebasan yang sejati. Sebagai makhluk, manusia hanya dibolehkan mempunyai hubungan pengabdian kepada Allah, kepada Sang Khaliq. Konsepsi ini menghendaki agar manusia hanya melakukan penyembahan kepada Penciptanya, bukan kepada sesembahan-sesembahan palsu seperti yang kita kenal dalam folklore dan mitologi-mitologi.
Dalam sebuah ayat diceritakan bagaimana Tuhan mengadakan perjanjian agar manusia hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan agar ia hanya mengorientasikan hidupnya kepada Penciptanya. Ayat ini menggambarkan betapa manusia itu adalah abdi Tuhan. Penempatan manusia sebagai abdi Tuhan ini sungguh-sungguh merupakan suatu rekonstruksi teologis yang sangat revolusioner.
Ia telah menjungkirbalikkan konsepsi animisme yang menganggap manusia sebagai abdi dari alam semesta atau unsur-unsur alam semesta. Dalam konsepsi animistik, manusia sungguh-sungguh tak berdaya: ia menyembah gunung, menyembah matahari, menyembah angin, menyembah arca, dan berhala-berhala lainnya. Dengan datangnya Islam yang membawa konsep yang tegas bahwa manusia adalah hamba Tuhan, timbullah suatu perombakan radikal yaitu pembebasan dari ketakutanketakutan terhadap gejala-gejala alam. Manusia tidak lagi menyembah matahari, gunung, api, angin, dan sebagainya, tetapi hanya menyembah Allah.
Singkatnya, Islam kemudian mengangkat posisi manusia pada derajat yang tinggi sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Tetapi untuk mencapai kualitas ini, manusia dituntut untuk senantiasa mematuhi-Nya, dan untuk itu oleh Tuhan manusia diberi peluang dan potensi untuk selalu meningkatkan diri. Di dalam Al-Qur'an misalnya, disebutkan bahwa manusia dapat mencapai kemajuan, kemuliaan, dan kejayaan jika ia mau membersihkan dirinya sendiri secara terus-menerus. Jadi, bukan saja manusia itu pada esensinya bersifat mulia tetapi juga bahwa ia dapat mencapai kemuliaan yang lebih tinggi apabila ia membersihkan dirinya secara terus-menerus.
Kita mengenal berbagai cara untuk mencapai kemajuan dengan jalan pembersihan itu, misalnya dengan cara untuk senantiasa bersyukur dan bersabar. Dengan cara itulah maka kemajuan material yang kita capai, misalnya, tidak akan menjadikan kita gelisah, khawatir, teralienasi, atau menjadikan kita ingkar. Ini karena cita-cita AlQur'an mengenai kemajuan manusia sesungguhnya bersifat spiritual, yaitu untuk mencapai ridha Allah. Apapun usaha kita di dunia selalu harus dikaitkan dengan tugas sebagai khalifah Allah untuk menguasai dan mengatur dunia ini agar sesuai dengan kehendak-Nya.
Misi Pembebasan
Gambaran mengenai manusia dan cita-cita kemanusiaan yang terdapat di dalam Islam seperti yang dilukiskan dengan amat sederhana di atas, sungguh-sungguh berbeda dengan gambaran dan cita-cita Barat. Di dalam filsafat Barat, hampir selalu kita temukan bahwa kemajuan dapat dicapai hanya jika kita membebaskan diri dari alam pikiran agama. Itulah sebabnya mereka kemudian meninggalkan kitab suci. Dan karena pada dasarnya mereka mengesampingkan referensi transendentalnya itu, mereka lalu kehilangan petunjuk. Kita melihat bahwa ternyata mereka kemudian jatuh ke dalam bermacam-macam aliran pikiran dan filsafat yang dengan itu mereka justru menjadi terbelenggu. Lihat saja misalnya di kalangan Marxisme. Mereka terpuruk dalam belenggu yang disebut determinisme. Menurut pandangan ini, manusia dianggap tidak dapat merdeka: karena kesadarannya, keberadaan sosialnya, dan bahkan keberadaan eksistensialnya, ditentukan oleh posisi ekonomi, oleh cara produksinya. Manusia dianggap tidak mempunyai orientasi transendental. la dianggap semata-mata sebagai produk masyarakatnya.
Formasi sosial masyarakatnyalah yang menentukan kesadarannya.
Sesungguhnya misi Islam yang paling besar adalah pembebasan. Dalam konteks dunia modern, ini berarti Islam harus membebaskan manusia dari kungkungan aliran pikiran dan filsafat yang menganggap manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan hidup dalam absurditas. Tapi karena dunia modern juga telah menciptakan sistemsistem yang membelenggu manusia, baik itu berupa sistem- sistem produksi teknologi modern, sistem-sistem sosial dan ekonomi, maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia, maka Islam sekali lagi harus melakukan revolusi untuk merombak semuanya itu, suatu revolusi untuk pembebasan. Dengan visi teologis semacam ini, Islam sesungguhnya menyediakan
basis filsafat untuk mengisi kehampaan spiritual yang merupakan produk dunia modern industrial. Sungguh, sudah saatnya kini Islam harus tampil kembali untuk memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari belenggu dunia modern.