• Tidak ada hasil yang ditemukan

12-Energi Terbarukan di Perdesaan

N/A
N/A
nadhira ahnafiani

Academic year: 2024

Membagikan "12-Energi Terbarukan di Perdesaan"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

TSTET

Oleh:

Ropiudin

ENERGI TERBARUKAN DI PERDESAAN (Pengembangan Desa Mandiri Energi)

Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan

(2)

TSTET

(3)

TSTET

(4)

TSTET

(5)

TSTET

(6)

TSTET

(7)

TSTET

(8)

TSTET

(9)

TSTET

(10)

TSTET

(11)

TSTET

(12)

TSTET

(13)

TSTET

Program Desa Mandiri Energi (DME)

‰ DME adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60% kebutuhan listrik dan bahan bakar dari sumber energi terbarukan yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumber daya setempat.

‰ DME dikembangkan dengan konsep pemanfaatan energi setempat khususnya energi terbarukan untuk pemenuhan kebutuhan energi dan kegiatan yang bersifat produktif.

Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas, kesempatan kerja dan kesejahteraan masyakat pada umumnya melalui penyediaan energi terbarukan yang terjangkau dan berkelanjutan.

‰ Pengembangan DME dimaksudkan untuk menjadikan kegiatan penyediaan energi sebagai entry point dalam pengembangan kegiatan ekonomi perdesaan.

‰ Menggunakan semua sumber daya dari Pemerintah Pusat,

Pemerintah Daerah, BUMN dan Swasta.

(14)

TSTET

KRITERIA DME

‰ Pembangunan fasilitas

pembangkitan dari sumber energi setempat (energi baru terbarukan)

‰ Pengelolaan dari fasilitas pembangkitan energi

‰ Pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif

‰ Diversifikasi energi perdesaan

‰ Peningkatan perekonomian perdesaan

(15)

TSTET TARGET PENGEMBANGAN DME (KUMULATIF)

Program 2007 2008 2009

Berbasis Energi non BBN 100 500 1000

Berbasis BBN 100 500 1000

Realisasi (total) 230 Dalam pelaksanaan -

(16)

TSTET

Sumber Energi Terbarukan Untuk DME

Sumber energi Pemanfaatan Teknologi

Biomassa Memasak

Listrik

Tungku biomass, kompor biooil

Gasifikasi, PLT Biooil

Surya Listrik

Thermal

SHS, Solar hybrid, PATS Pengering surya,

pemanas air Mikrohidro Listrik

Mekanik

PLTMH

Penggilingan padi, dll Energi angin Listrik

Mekanik

SKEA

Pompa energi angin

(17)

TSTET

PROGRAM (1)

1. Pemanfaatan sumber energi setempat

a. Untuk menghasilkan energi/listrik

Pengembangan listrik perdesaan yang merupakan proyek pemerintah untuk memanfaatkan energi setempat non BBN dapat dijadikan ”pembuka” untuk pengembangan DME. Penyediaan listrik dapat dilakukan dengan sistem off- grid atau on-grid.

b. Untuk menghasilkan bahan bakar

Pengembangan tanaman penghasil BBN dapat menjadi entry point untuk pertumbuhan ekonomi desa.

2. Pengembangan kegiatan produktif

Pengembangan kegiatan produktif dilakukan dengan (i) menggantikan energi konvensional yang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, (ii) memperluas kegiatan produktif yang sudah berjalan dengan adanya tambahan energi, (iii) penciptaan kegiatan produktif baru.

Untuk mewujudkan DME harus dilaksanakan

beberapa program yang saling mendukung yaitu:

(18)

TSTET

PROGRAM (2)

3. Pemanfaatan teknologi tepat guna dalam memenuhi

kebutuhan energi (pompa air tenaga surya/angin, pengering tenaga surya/biomassa, telekomunikasi berbasis tenaga surya, dll )

Pengembangan teknologi tepat guna dilakukan untuk mengembangkan juga produksi dalam negeri atau lokal . 4. Pengembangan kelembagaan dan partisipasi masyarakat.

Kelembagaan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat dibentuk untuk menjamin keberlanjutan

program (koperasi, paguyuban, badan usaha).

Perencanaan dilakukan secara terbuka, selektif dan objektif; Lembaga masyarakat tersebut diharapkan

mampu mengidentifikasi permasalahan, memilih sumber energi, membuat perencanaan dan mengelola proyek

DME

(19)

TSTET

Komponen Pengembangan DME

Komponen Instansi pelaksana/

yang terlibat Keterangan

(pembiayaan awal dan selanjutnya)

1 Survei,

penyusunan FS Pemda, LSM APBD 2. Pembangunan

fasilitas

pembangkit energi

Pemerintah, Pemda,

masyarakat APBN/APBD PNM

3. Pendampingan dan Pembentukan kelembagaan

Pemda, LSM APBD,

Masyarakat 4. Pemanfaatan

energi untuk

kegiatan produktif

Pemerintah, Pemda APBD PNM

5. Monitoring Pemerintah, Pemda APBN/APBD

(20)

TSTET Jumlah Desa Mandiri Energi (DME) Berbasis Non BBN

Tahun 2007

NAD 4 desa Sumbar 13

desa Riau 1 desa

Kalbar 2 desa Kaltim 3 desa

Sulut 3 desa

Sulsel 4 desa Sulbar 3 desa

Bali 1 desa

NTB 5 desa Banten 2 desa

Jabar 9 desa

Bengkulu 4 desa Jambi 2 desa Lampung 9 desa

Malut 3 desa

(21)

TSTET

Jumlah Desa Mandiri Energi (DME) Berbasis BBN Tahun 2007

Sumut 1 desa Sumbar 4 desa B. Belitung 1 desa

Kalteng1 desa Kalbar 4 desa Kaltim 4 desa Kalsel 6 desa

Sulut 4 desa Gorontalo 3 desa

Sultengah 2 desa Sulbar 7 desa

NTB 5 desa NTT 8 desa Banten 6 desa

Jabar 13 desa Bengkulu 6 desa

Jambi 3 desa Lampung 4 desa

Maluku1 desa Irjabar 1 desa Papua 2 desa

Sulsel 9 desa Sultengara 2 desa

Malut 1 desa

(22)

TSTET

Contoh kegiatan produktif

No Teknologi/peralatan Lokasi

pengembangan

Penyerapan tenaga kerja per mesin 1. Mesin penggiling padi Pada setiap lokasi

PLTMH 2-3 orang

2. Mesin penggiling kopi/produk

pertanian lainnya

Lokasi perkebunan

rakyat 2-3 orang

3. Pengering Pengeringan produk pertanian seperti kakao, kopi, ikan

2 orang

4. Pendingin Sentra produksi

ikan 2 orang

5. Mesin lainnya yang digerakkan oleh

motor listrik seperti mesin bordir, dll

Perumahan 1 orang

(23)

TSTET

Pengembangan DME oleh DJLPE

Pembangunan pembangkit energi

listrik dari energi terbarukan Pembangunan pembangkit energi

listrik dari energi terbarukan

Pengelolaan unit pembangkit

energi Pengelolaan

unit pembangkit

energi

Pemanfaatan energi untuk

kegiatan produktif Pemanfaatan

energi untuk kegiatan produktif

• Pendanaan melalui APBN

• Program listrik perdesaan melalui energi terbarukan

• PLTMH, PLTB dan PLTS

• Pembentukan

lembaga pengelola

• Pendanaan melalui APBN , APBD, 

hibah

• Tahapan yang  memerlukan partisipasi dan komitmen masyarakat

• Pengadaan peralatan kegiatan produktif untuk meningkatkan load factor

• Sudah dilakukan pada PLTMH

• Peralatan produktif

antara lain pengering

surya, RMU dan mesin

perkakas

(24)

TSTET

Program Listrik Perdesaan

™ Bertujuan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi;

™ Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional

mentargetkan 93% rumah tangga sudah dilistriki pada tahun 2025; 100% desa sudah dilistriki pada tahun

2010.

™ Mendorong pemanfaatan energi setempat dengan

prioritas pada pemanfaatan energi terbarukan; energi terbarukan merupakan salah satu sumber energi yang umumnya tersedia di seluruh wilayah Indonesia;

™ Menghindarkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar BBM;

™ Diarahkan sebagai entry point bagi penciptaan kegiatan

produktif dalam rangka pembentukan DME

(25)

TSTET

PROGRAM LISTRIK PERDESAAN

Program Listrik Perdesaan

Pengembangan listrik di desa

terpencil ( off-grid ) Perluasan jaringan

( on-grid )

terpusat tersebar

PLN & DJLPE

DJLPE

(26)

TSTET

Jenis Energi

Tahun

2005 2006 2007 2008

PLT Bayu 80 kW (1 unit)

240 kW

(3 unit) 735 kW

(9 unit) 80 kW (1 unit)

Solar Home

System (SHS) 119.5 kWp

(2.390 unit) 1.574 kWp

(31.488 unit) 2.029 kWp

(40.598 unit) 2.000 kWp (40.000 unit) PLTS Terpusat 18 kWp

(5 unit)

- 102.4 kWp

(5 unit)

150 kWp (9 unit)

PLTMH 155 kW

(4 unit)

702 kW

(12 unit) 1.169 kW

(7 unit) 782 kW (7 unit)

Pikohidro 50 kW (25 unit)

30 kW

(15 unit) 45 kW

(18 unit) --

Implementasi

Implementasi Program Program Pemanfaatan Pemanfaatan EBT EBT untuk untuk Listrik Listrik Perdesaan

Perdesaan

(27)

TSTET

Penyiapan Kelembagaan

oleh MHPP dan Masyarakat

Listrik Untuk : - Penerangan - Kegiatan konsumtif

Kegiatan Produktif

Pengembangan kegiatan Produktif

(percontohan dilakukan oleh MHPP) Proposal

DME

PLTMH Sipil

Pendanaan

MHPP

PNPM

Komunitas Masyarakat

Penyusunan Proposal oleh masyarakat Desa Difasilitasi oleh fasilitator PNPM

Pengembangan DME PLTMH

Skema Pengengembangan DME

Kerjasama MHPP (Kerjasama Indonesia-Jerman) - PNPM

Elektro Mekanikal

Transmisi dan Distribusi

(28)

TSTET

Pelaksanaan Pembangunan PLTMH

(29)

TSTET

Pengelolaan

Pengelolaan PLTMH PLTMH

Pembayaran

Pembayaran Iuran Iuran Bulanan Bulanan Listrik Listrik

(30)

TSTET

Mikrohidro untuk penerangan

Church School

Mosque

Illumination

(31)

TSTET

Education Sector Education Sector

1 Anak 1 Anak -anak - anak dapat dapat belajar belajar lebih lebih efektif efektif karena karena adanya adanya penerangan

penerangan

2. Akses 2. Akses terhadap terhadap informasi informasi lebih lebih mudah mudah

Before After Before After

End Users/ Pemanfaat akhir

(32)

TSTET

Pemanfaatan energi mikrohidro

Langsung Tidak Langsung

(33)

TSTET

Pemanfaatan listrik dari PLTMH

(34)

TSTET

End Users/ Pengguna Akhir

Pengolahan hasil pertanian

(35)

TSTET

Penggilingan padi

(36)

TSTET

Mikrohidro untuk Perbengkelan

(37)

TSTET

MESIN YANG DIGERAKKAN TURBINE

(38)

TSTET

ENERGY TURBINE

MESIN PENGGILINGAN PADI NASI DARI BERAS MERAH

(39)

TSTET

Pengelolaan oleh komunitas

(40)

TSTET

Penggunaan oleh pengusaha

(41)

TSTET

No. Propinsi Kabupaten Kecamatan Desa Kegiatan Produktif Harga

1 Sulawesi

Barat Mamasa Pana Panura Penepung kopi dan beras 2-3 -5jt

Pana Massewe Parut Kelapa Mini 600 – 900

ribu Sumarorong Minanga Penggilingan biji kopi 3,6 - 5 jt

Messawa Sipai Pembuatan pupuk

organik kompos 5,5 – 7,5 jt Messawa Rippung Mesin pengepakan bubuk

kopi 10 – 80 jt

Sesenapadang Rante Tangga Pelet pakan ikan 4,5 – 7,5 jt Sesenapadang Kariango Penggilingan padi 10 – 12,5 jt Sesenapadang Lisuanada

Tapango Kurrak

Messawa Pasapa

Mambu

Messawa Sepang

Messawa Tanete Batu Sumarorong Kollong Lau Sumarorong Salu Kemba Sumarorong Sasakan Tawalian Malangkena

Padang

Kegiatan Pengembangan PLTMH

(42)

TSTET

No. Propinsi Kabupaten Kecamatan Desa Kegiatan Produktif

2 Sulawesi

Barat Mamasa Tawalian Malimbong

Tawalian Satanetean

Camba Patanyamang

3 Jawa Barat Pekalongan Petungkriyono Curug Muncar Penggilingan padi

Pekalongan Lebak Barang Depok Pembuatan krupuk

4 Sumatra

Barat Solok Hiliran Gumanti Jorong Talaok Pertukangan

Solok Selatan Koto Parik Sapan Salak Pengilingan padi Pesisir Selatan Bayang Utara Limau-Limau Mesin jahit Pasaman Barat Kinali Durian Tibarau Pabrik tahu

Pesisir Selatan Langgai Jorong Langgai Servise Elektronik

5 Aceh-NAD Aceh Tengah Celala Tanoh Depet Penggilingan kopi

6 NTB Lombok Barat Bayan Teras Genit Penggilingan kopi

Lombok Tengah Batukliang Utara Lantan

7 Jawa Barat Cianjur Naringgul Wangunsari/Cidalung Mesin jahit

Garut Cibalong Sagara/Lengkong Mesin petukangan

Sukabumi Cidadap Hegarmulya/Cikalapa

Kegiatan Pengembangan PLTMH

(43)

TSTET

Contoh PLTMH yang dikelola secara komersial

™ PLTMH Seloliman

™ PLTMH Mekar Sari

™ PLTMH Melong

™ PLTMH Wanganaji

Penerimaan dari penjualan listrik ke PLN dapat dikelola dan

dikembangkan untuk kegiatan produktif selanjutnya untuk

masyarakat perdesaan.

(44)

TSTET

Teknologi Pemanfaatan Minyak Jarak

™ Khusus untuk DME, produk utama pemrosesan biji jarak adalah:

ƒ Minyak jarak CJO, sebagai bahan bakar alternatif Minyak Tanah

ƒ Minyak Jarak PJO, sebagai bahan bakar pengganti minyak Solar untuk mesin Diesel stasioner

ƒ Briket Jarak Pagar, pengganti minyak tanah seperti penggunaan kayu bakar

ƒ Banyak pemanfaatan lain, seperti obat, pupuk, sabun dll

™ Kompor yang sudah

dikembangkan (ada di pasaran):

Kompor Tekan Minyak Jarak,

Kompor Sumbu Minyak Jarak, dan Kompor Briket

™ Perlu sosialisasi berbagai

pemanfaatan produk utama atau produk samping pengolahan biji jarak kepada masyarakat DME

Kompor Tekan Minyak Jarak

Kompor Sumbu Minyak Jarak

(45)

TSTET

Teknologi Pengolahan Biji Jarak

™ Dari sisi teknologi proses mulai dari proses pengupasan buah segar, ekstraksi melalui

pengepresan, pemisahan (filtrasi), pemurnian

(purifikasi) minyak jarak

sudah dikuasai SDM Indonesia

™ Teknologi pembuatan mesin sudah dikuasai, mulai dari Mesin Pengupas buah, Mesin Press, Mesin Filter, Mesin

Pemurnian Minyak Jarak, sampai Mesin Pembuatan Briket sudah diproduksi di Indonesia

Buah Kuning Siap Panen

Mesin Press

Mesin Pemecah Buah

(46)

TSTET

Instalasi Mesin Pengolah dan Pelatihan

Mesin Pengolah PPO

Mesin Press Biji Jarak

(47)

TSTET

Perbandingan pengusahaan singkong untuk beberapa varietas

No Varietas

Singkong Biaya Rp/ha

Produks i (T/ha

)

Biaya Rp/kg

Harg a jual

Pendapata n

( Rp/kg)

Pendapatan bersih ( Rp / ha )

1 Kasersat 3.475.00

0 40 87 300 213 6.390.000

2 Singkong

Mukibat 7.775.00

0 80 97 300 203 16.240.000

3 Cicurug 7.575.00

0 80 94 300 206 16.480.000

(48)

TSTET

Plant Bioetanol Skala Kecil Terintegrasi

PERKEBUNAN

SINGKONG MUKIBAT 5-100 HA

PABRIK ETANOL

PETERNAKAN SAPI POTONG

25 – 500 ekor

Limbah cair Daun

Limbah padat LAGOON

Pupuk cair, Pupuk organik

Singkong

Etanol 90- 95%

200 – 4.000 L/Hari Pupuk tambahan

Pakan tambahan

Sapi potong

25-500 ekor/4 bulan

(49)

TSTET

Pabrik Etanol Kap. 200 Lt / hari dg bahan baku

Singkong di Cicurug Sukabumi dan Cilegon

(50)

TSTET

DME BERBASIS TANAMAN SINGKONG

™ Petani singkong sebagai pemasok singkong (bahan baku bioetanol) pada tingkat harga yang menguntungkan

™ Perlu dikembangkan bioetanol bentuk gel untuk keamanan pemakaiannya sebagai

Petani singkong (1-5 Ha)

Kolektif (3000 Ha)

Transportasi

Plasma Inti Pasar

Pabrik Bioethanol Kapasitas 30

KL/hari

Pertamina (blending

station)

Untuk Campuran BBM

(51)

TSTET

Investasi pabrik skala mikro

NO Uraian Kapasitas Pabrik

1 Plant Capacity / hari 0,2 KL/hari 0,5 KL/hari

2 Plant Capacity / th (300 hari /th ) 60 KL /th 150 KL/th

2 Jenis Etanol Etanol 95 % v/v Etanol 95 % v/v

3 Raw Material Singkong / Gaplek Singkong

4 Kadar Pati / Gula 28,5 %. 28,5 %.

5 Ratio Singkong ( kg ) : Etanol ( Lt ) 6,70 : 1 6,70 : 1

6 Kebutuhan Singkong per hari 1,3 Ton 3,35 Ton

7 Kebutuhan Singkong per tahun 390 T 1000 T

9 Produksi ( T / ha )

( Singkong Unggul ) 80 T / ha 80T / ha

10 Kebutuhan Lahan 5 Ha 12,5 Ha

12 Tenaga kerja Pabrik ( diluar Budi daya ) 12 Orng 18 Orng

13 Investasi 100 Juta 250 Juta

14 Modal Kerja 10 Juta 20 Jt

(52)

TSTET

PENERAPAN BIOGAS UNTUK SUBSTITUSI

KEROSIN

(53)

TSTET

‰ 1 UNIT REAKTOR BIOGAS DAPAT MENGHASILKAN 2-3 LITER SETARA MINYAK TANAH

> NILAI PRODUKSI : Rp. 9.000,- / hari

Rp. 270.000,- / bulan Rp. 3.300.000,- / tahun

> INVESTASI : Rp. 2.250.000 s/d Rp.

3.000.000/unit

> PAY BACK PERIODE : KURANG 1 TAHUN

‰ PENGHASILAN TAMBAHAN

PUPUK ORGANIK (AMPAS DIGESTER) SENILAI Rp. 250.000,- s/d Rp.350.000,-/Tahun.

POTENSI KEEKONOMIAN BIOGAS

(54)

TSTET

P E N U T U P

‰ Pengembangan DME dilakukan secara bertahap dengan melibatkan partisipasi masyarakat sejak awal

‰ Sinergi pelaksanaan program perlu dilakukan untuk mempercepat pengembangan DME

‰ Mengoptimalkan PNPM Mandiri untuk penyediaan fasilitas energi dan pengembangan kegiatan produktif

‰ Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara

teratur

(55)

TSTET

Bidang Kajian: Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan Program Studi Teknik Pertanian Unsoed

Jl. Dr. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Email: [email protected]

http://faperta.unsoed.ac.id/halaman/S1-teknik-pertanian

Referensi

Dokumen terkait

C Dalam hal harga listrik yang bersumber dari Energi Terbarukan dalam rangka penugasan lebih tinggi dari biaya pokok penyediaan pembangkit listrik perusahaan listrik milik

5) Teknisi perbaikan sistem SCADA pada pembangkit listrik energi terbarukan. 6) Teknisi pemeliharaan instalasi PLTS-Fotovoltaik. 7) Teknisi perbaikan sistem kontrol, inverter

Kelemahan energi terbarukan adalah bahwa sulit untuk menghasilkan listrik dalam jumlah yang besar seperti yang dihasilkan oleh pembangkit bahan bakar fosil, nuklir dan tenaga

Dengan kebijakan yang tidak melulu pada pemenuhan energi listrik, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan menggali sumber energi baru terbarukan, keberhasilan yang

Salah satu informasi yang sangat diperlukan oleh calon investor dalam keputusan berinvestasi pada proyek pembangkit listrik energi baru terbarukan adalah masalah biaya

Tabel 1 Perbandingan Insentif Pembangkit Listrik EBT dan Non EBT Jenis Insentif Pepajakan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan Pembangkit Listrik Energi Nonterbarukan

Pasal 24 Dalam hal pembelian Tenaga Listrik dari pembangkit Tenaga Listrik yang memanfaatkan sumber Energi Terbarukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 21 oleh PT PLN Persero

Sosialisasi Perpres 112/2022 tentang percepatan pengembangan energi terbarukan untuk listrik di