• Tidak ada hasil yang ditemukan

1A Hilsa Aulia 061 Daya Kecambah

N/A
N/A
HILSA AULIA

Academic year: 2024

Membagikan "1A Hilsa Aulia 061 Daya Kecambah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

Tugas ini disusun untuk memenuhi penilaian tugas mata kuliah Praktikum Fisiologi Tumbuhan

DAYA KECAMBAH

Disusun oleh Hilsa Aulia

140410220061 Kelompok 1A Asisten Laboratorium

Teh Dinda Ayunda

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM STUDI BIOLOGI

JATINANGOR 2024

(2)

BAB I

DAYA KECAMBAH

Praktikum Fisiologi Tumbuhan telah dilaksanakan pada Kamis, 14 Maret 2024 pukul 08.00 WIB. Praktikum pertemuan pertama ini berjudul Daya Kecambah dan memiliki tujuan untuk menentukan daya kecambah benih padi sehingga viabilitas (daya hidup) benih dapat diketahui dari tanaman tersebut.

Daya berkecambahnya benih dapat diartikan sebagai berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian, pengujian daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, beberapa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (Murtiwulandari & Pudjihartati, 2022).

Pelaksanaan praktikum dimulai dengan disiapkannya alat dan bahan. Alat dan bahan yang digunakan diantaranya wadah plastik, kertas saring, pinset, gunting atau cutter, 100 benih padi dan aquades. Prosedur kerja praktikum kali ini diawali dengan dipilihnya benih yang homogen dan sehat. Benih yang sehat memiliki arti bahwa benih harus bebas dari kontaminasi penyakit (Rahayu, 2018). Benih yang tidak sehat dapat menganggu proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman (Winarni, 2013). Kriteria benih yang sehat adalah adalah benih yang memiliki embrio tahap dormasi, dikelilingi oleh jaringan penyimpan makanan (kotiledon dan/atau endosperm) serta jaringan pelindung dengan kondisi yang normal (Urry et al., 2021).

Setelah itu benih padi direndam dalam air selama satu jam lalu setiap 15 menit air diganti. Menurut Asra (2014) tujuan direndamnya benih padi adalah untuk meningkatkan daya serap air yang mengakibatkan persentase pertumbuhan kecambah menjadi meningkat.

Perendaman dilakukan juga untuk mempengaruhi proses permeabilitas kulit benih sehingga menyebabkan perbedaan potensial air di dalam dan diluar benih. Hal ini akan meningkatkan proses absorbsi air oleh sel tanaman dan mengakibatkan proses imbibisi air oleh benih padi tersebut. Imbibisi merupakan proses penyerapan air melalui pori-pori tanaman. Imbibisi menyebabkan benih mengembang dan memecahkan kulitnya dan memicu perubahan pada embrio yang memungkinkannya untuk melanjutkan pertumbuhan (Urry et al., 2016). Lama waktu perendaman yang dilakukan selama satu jam berkaitan dengan proses respirasi dalam perkecambahan. Ketika benih yang direndam terlalu lama dapat menyebabkan proses perkecambahan lambat. Karena perendaman yang terlalu lama mengakibatkan benih kehilangan oksigen sehingga proses respirasi tanaman menjadi terbatas dan perkecambahan

(3)

menjadi terhambat (Yasin & Sari, 2018). Selama proses perendaman, dilakukan pergantian air setiap selang waktu 15 menit. Menurut (Widya & Faisal, 2017) pergantian air dilakukan untuk sterilisasi benih agar zat penghambat (inhibitor) dari benih tersebut terlepas dari permukaan benih tanaman uji.

Langkah selanjutnya disediakan wadah plastik yang telah dilapisi kertas saring. Kertas saring merupakan kertas yang paling ideal untuk mengecambahkan benih. Oleh sebab itu, wadah plastik dilapisi terlebih dahulu dengan kertas saring. Kertas saring adalah kertas yang menunjukkan kemampuan menyerap air, mempertahankan air dan kecepatan penyerapan air yang baik (Wibowo, 2020). Wadah plastik yang telah dilapisi dengan kertas saring kemudian dibasahi dengan aquades secukupnya dengan tujuan untuk menjaga kelembaban media tanam sehingga ketersediaan air bagi benih tetap terjaga (Sudartini et al., 2020).

Dimana ketersediaan air ini sangat menjadi faktor yang sangat mempengaruhi proses perkecambahan (Smith et al., 2013). Kemudian benih disusun dalam cup gelas plastik dan diinkubasi pada tempat gelap selama 48 jam. Penyimpanan di tempat gelap berpengaruh terhadap laju pertumbuhan kecambah sehingga cenderung lebih cepat (Liat, 2016). Hal ini berkaitan dengan pengaruh hormon dalam proses perkecambahan terutama hormon auksin.

Dimana pada saat disimpan di tempat yang gelap, proses perkecambahan akan menjadi cepat karena tidak ada penguraian auksin oleh cahaya yang menyebabkan rangsang tumbuh dari perkecambahan lebih meningkat. Dikarenakan di dalam hormon auksin terdapat senyawa yang mampu meningkatkan pembelahan sel dan mempercepat proses metabolisme dan biokimia dalam benih (Adnan et al., 2017).

Setelah diinkubasi selama 48 jam, biji diamati kemudian persentase perkecambahan dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Tabel 1.1 Daya Kecambah Benih Padi Kelompok 1A

Nama Anggota Kelompok Daya Kecambah Benih Padi (%)

Azfa Aulia 90%

Dwiena Anggrekdhita Egidya Samori 92%

Dzakira Khansa Tsabita 95%

(4)

Elena Fitria 90%

Fadel Muhammad Najibullah 90%

Felice Olivia Lengkey 92%

Hilsa Aulia 92%

Malvin Albert 90%

Muhammad Haikal Alghifari 44%

Nazwa Dwi Safira 95%

Shamira Ainaiya Fitria 91%

Stevani Kusuma 96%

Tiara Purnamasari 94%

Rata-rata daya kecambah padi: 88,5%

Praktikum kali ini didapatkan hasil perhitungan rata-rata daya kecambah sebesar 88,5%

dari 1300 jumlah benih yang diuji dengan masing-masing 100 benih individu perkelompok.

Rata-rata daya kecambah dapat dikatakan baik karena mencapai standar daya kecambah sebesar 80%. Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia yaitu nilai daya kecambah yang baik berada diatas 80% (Murtiwulandari & Pudjihartati, 2022). Kriteria daya kecambah pribadi termasuk normal lemah, karena tinggi kecambah kurang dari 4 cm. Tipe kriteria kecambah lainnya adalah normal kuat, yaitu akar primer berkembang dengan baik, kotiledon sudah membuka dan tinggi kecambah lebih dari 4 cm.

Sedangkan kecambah abnormal memiliki ciri hipokotil membentuk spiral, perakaran baik, hipokotil lurus tetapi kotiledon masih tertutup oleh testa, hipokotil membentuk spiral dan kotiledon masih tertutup oleh testa (Susanti et al., 2019).

Rata-rata hasil daya kecambah berbeda tiap individu hal ini dikareakan faktor internal maupun eksternal benih. Faktor internal yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya faktor gen, kandungan persediaan cadangan makanan pada benih, ukuran dari benih dan tekstur kekerasan biji (Imansari & Haryanti, 2017). Temperatur yang merupakan faktor eksternal perkecambahan merupakan hal yang paling menguntungkan bagi berlangungnya perkecambahan biji. Temperatur optimum bagi kebanyakan biji yaitu 80oF – 95oF (Murinah, 2020). Dimana tiap individu menginkubasi benih pada temperatur yang berbeda-beda. Selain itu, ketersediaan oksigen pula menyebabkan hasil daya kecambah tiap individu berbeda.

Oksigen diperlukan benih untuk proses respirasi. Proses respirasi akan meningkat disertai pula dengan menigkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida, air dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen akan menghambat perkecambahan benih (Murinah,

(5)

2020). Cahaya juga mempengaruhi proses metabolisme pada benih. Cahaya yang diperoleh benih berbeda-beda tiap individu. Kadar air yang tinggi menurunkan viabilitas dan vigor benih padi selama penyimpanan. Perombakan cadangan makanan terjadi karena kadar air benih yang tinggi, sehingga terjadi degradasi karbohidrat, benih yang kekurangan karbohidrat akan kehilangan energi untuk berkecambah (Tefa, 2017).

Dari praktikum daya kecambah dapat disimpulkan bahwa didapatkan hasil perhitungan persentase rata-rata daya kecambah benih padi sebesar 88,5%, diketahui nilai daya kecambah memenuhi Standar Nasional Indonesia yaitu >80%, diketahui benih padi yang diuji memiliki viabilitas yang sangat baik.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Asra, R. (2014). Pengaruh Hormon Giberelin (GA3) terhadap Daya Kecambah dan Vigoritas Calopogonium caeruleum. Biospecies, 7(1). Retrieved from https://online- journal.unja.ac.id/index.php/biospecies/article/view/1507.

Imansari, F., & Haryanti, S. (2017). Pengaruh Konsentrasi HCl terhadap Laju Perkecambahan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.). Buletin Anatomi Dan Fisiologi, 2(2): 187.

https://doi.org/10.14710/baf.2.2.2017.187-192.

Liat, H. E. K. (2016). Pengaruh Model Pemeraman dan Kondisi Cahaya terhadap Perkecambahan Benih Pinang (Areca catechu L.). Savana Cendana, 1(02): 74–76.

https://doi.org/10.32938/sc.v1i02.15.

Murtiwulandari, & Pudjihartati, E. (2022). Optimalisasi Metode Uji Perkecambahan dan Media Tanam pada Perkecambahan Biji Anuma (Artemisia annua L.). Jurnal Ilmiah Pertanian, 19(3). https://doi.org/10.31849/jip.v19i3.10514

Murinah. (2020). Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah Bidara (Ziziphus mauritiana Lam.) Secara In Vitro Dan Ex Vitro pada Kondisi Gelap dan Terang. Skripsi, Universitas Negeri Semarang.

Rahayu, M. (2018). Patologi dan Teknis Pengujian Kesehatan Benih Tanaman Aneka Kacang.

Buletin Palawija, 14(2) : 78.

Smith, A. J. J., Growth, S., & Smith, J. J. (2013). Perkecambahan dan Pertumbuhan Beni Semai Artocarpus altissimus J.J. Smith. Buletin Kebun Raya, 16(1): 1–11.

Sudartini, T., Zumani, D., & Diantini, D. (2020). Pengaruh Sungkup dan Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Dendrobium saat Aklimatisasi. Media Pertanian, 5(1).

Susanti, N. D., Widajati, E., & Guntoro, D. (2019). Studi Perkecambahan Benih Ciplukan (Physalis peruviana L.) Pada Beberapa Tingkat Masak Buah. Buletin Agrohorti, &(3) : 263-269.

Tefa, A. (2017). Uji Viabilitas dan Vigor Benih Padi (Oryza sativa, L.) selama Penyimpanan pada Tingkat Kadar Air yang Berbeda. Savana cendana. 2(3): 48-50.

Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., Reece, J. B., & Campbell, N. A.

(2016). Campbell biology (11th ed.). New York, Ny: Pearson Education, Inc.

Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., & Orr, R. (2021). Campbell Biology (12th ed.). London: Pearson Education.

Wibowo, N. I. (2020). Efektifitas Daya Berkecambah Benih Padi Pandanwangi Dengan Menggunakan Metode Kertas. Agroscience, 10(1): 38–47.

(7)

https://doi.org/10.35194/agsci.v10i1.968.

Winarni, I. (2013). Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Patogen pada Benih Padi dan Kedelai.

Jurnal Matematika Sains Dan Teknologi, 14(2): 135–141.

https://doi.org/10.33830/jmst.v14i2.391.2013.

Yasin, M. Y., & Sari, W. (2018). Respon Pertumbuhan Bibit Padi Pandanwangi (Oryza sativa L. Aromatic) terhadap Lama Perendaman dan Konsentrasi Rizobakteria Pemacu Pertumbuhan Tanaman (RPPT). Agroscience (AGSCI), 8(2): 146.

(8)

LAMPIRAN

Hari Ke- Lampiran Foto

0

1

2

Hasil Perhitungan

𝐷𝑎𝑦𝑎 𝐾𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ (%) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 × 100% = 92 : 100 × 100% = 92%

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum perlakuan pematahan dormansi biji berpengaruh nyata terhadap persentase daya kecambah dan pertumbuhan vegetatif tanaman Mucuna yaitu panjang sulur, jumlah tangkai

Tujuan dari penelitan ini adalah (1) Mengetahui tingkat kerapatan tanaman terbaik untuk keragaan daun, pertumbuhan biji dan daya kecambah benih sorgum pada sistem tumpangsari

Perlakuan perendaman dengan suhu air panas memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah benih berkecambah dan menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap daya kecambah,

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, diketahui rata-rata daya tahan sebelum diberi latihan fisik menggunakan bola pada pemain sepakbola usia 15-18 tahun sebesar

5.1.4 Analisis Daya Terima Rasa Keripik Kulit Kecambah Kacang Hijau Uji daya terima yang dilakukan penelliti menghasilkan data persentase kesukaan panelis terhadap rasa

Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian abu sekam padi 5-10 g/100 benih mampu mempertahankan daya hantar listrik air rendaman benih tetap rendah, persentase daya